A n E n d l e s s S p a c e    AN ENDLESS SPACE : January 2006

Saturday, January 21, 2006

BAY'AT TARIQAH NAQSHBANDI HAQQANI

BAY'AT TARIQAH NAQSHBANDI HAQQANI
GrandSyaikh Mawlana Syaikh Nazim Adil al Haqqani



Bay'at President SBY di Jakarta tahun 2003

Syaikh Nazhim Adil al Haqqani ketika berada di Damaskus, Syria berkata, "Grandsyaikh Abdullah Faiz Daghestani telah memberi otoritas dari Rasulullah saw kepada saya untuk seluruh cabang Thariqat Naqsybandi di seluruh penjuru Timur & Barat; agar mereka datang
dan memperbaharui ikrar mereka di hadapan kami. Oleh karenanya, ikrar tersebut adalah sebuah deklarasi bagi semua pengikut Naqsybandi, yang jumlahnya mencapai ratusan, bahkan jutaan: orang merasa takut akan jumlahnya.




Bay'at di Masjid Istiqlal setelah Mawlana Syaikh Hisham Kabbani memberikan Kutbah Jum'at

Tetapi mereka salah paham, mengira bahwa kita mengejar Dunya, padahal tidaklah demikian, kita hanya mengharapkan ridha Allah swt semata—mata. Karena satu-satunya jalan yang benar bagi seorang hamba adalah mengharapkan ridha dari Tuhannya. Kita tidak menggunakan kekuatan spiritual untuk kehidupan (di dunia) ini tetapi kita menggunakannya untuk mencapai maqam yang lebih tinggi di Surga. Oleh sebab itu, tidak ada rasa takut pada diri jutaan pengikut Naqsybandi, mereka (orang-orang) harus merasa puas dengan para pengikut Naqsybandi. Kita adalah Muslim Naqshbandi, target kita hanyalah mencapai ridha Allah swt, Tuhan Pemilik Surga—tidak ada yang lain. Siapa yang senang terhadap kita, mereka boleh datang dan selamat datang, siapa yang tidak, mereka boleh pergi sesuka hati mereka.



Bay'at di Daarut Tauhid Bandung, Aa Gym dan Jama'ah Pesantren Daarut Tauhid

Setiap orang di seluruh penjuru di Timur dan Barat harus memperbarui thariqat mereka melalui Grandsyaikh mereka—dan beliau memberi izin kepada saya—atas nama Grandsyaikh, Saya memberi bay’at kepada setiap orang yang mengikuti Thariqat Naqsybandi, bila mereka
menerima, itu adalah untuk kebaikan mereka, siapa yang menolak, mereka boleh tinggal di mana pun mereka berada, mulai sekarang sampai Hari Pembalasan nanti.




Jusuf Kalla dan Arifin Ilham berbay'at di Darmawangsa dan Brawijaya Jakarta

Saya berharap apa yang telah ditanam oleh Grandsyaikh di Damaskus akan segera tumbuh—musimnya telah tiba, musim untuk berkembang di seluruh Timur dan Barat serta Utara dan Selatan—di mana-mana orang akan mencari jalan menuju Allah swt."

Wa min Allah at Taufiq

Posisi Tariqat Naqshbandi
Syaikh Muhammad Nazim al Haqqani an Naqshbandi


Insya Allah kita akan berbicara mengenai suatu hal yang sangat penting. Mengenai aliran Tariqat. Begitu banyak orang datang ke Damaskus dari berbagai negeri asalnya untuk mengunjungi kami. Beberapa di antara mereka sudah terikat dengan seorang Syaikh dan
mengikuti tariqat tertentu. Mereka meminta bay’at yang baru. Salah satu dari mereka, Syaikh Salahuddin mengalami konflik mengenai hal ini dalam batinnya. Kami harus memperjelas hal ini bagi setiap orang di seluruh dunia agar mereka mengetahui apa itu tariqat, apa itu Syaikh, berapa banyak jumlah mereka dan bagaimana hubungan mereka satu sama lain.




Bay'at President Abdurahman Wahid dan President Islam Karimov Uzbekistan

Allah swt akan bertanya kepada setiap orang di Hari Akhir nanti, "Apa yang kamu bawa hari ini, wahai hamba-Ku?" Apakah kamu membawa Qalb-us-Saliim, hati yang murni, hati emas yang mulia?" Allah swt meminta setiap orang agar mempunyai hati yang bersih. Kalian
hanya bisa mendapatkannya melalui tariqat. Mereka yang tidak menjalani tariqat hanya memenuhi hidupnya dengan kehidupan luar, meninggalkan hatinya.




Bay'at Abah Anom di Tasikmalaya April 2001

Ada 41 aliran tariqat, 40 di antaranya diturunkan melalui hati Imam ‘Ali ra dan satu lagi, tariqat Naqshbandi berasal dari Abu Bakar as-Shiddiq ra. Rasulullah mempunyai 124.000 sahabat. Siapa sahabat terdekatnya? Beliau adalah Abu Bakar ra . Rasulullah saw bersabda, "Seluruh hal yang Allah percayakan kepadaku di malam ‘Isra, Aku telah tanamkan dalam hati Abu Bakar ." Sayyidina Ali ra dihubungkan dengan Abu Bakar ra sedemikian rupa sehingga Sayyidina Ali mendapat gelar Kota Pengetahuan.




Bay'at di Masjid Taskent, Rusia

Hal ini dikenal sangat baik di antara para Syaikh pemegang tariqat yang sebenarnya. Mereka semua menhormati tariqat Naqshbandi sebagai yang pertama. Syaikh sejati, bukan mereka yang menyebut dirinya sendiri Syaikh, seluruh Syaikh yang termahsyur, seperti: Abdul Qadir Jailani , Rumi , Darqawi , Rifa’i mereka semua mengetahui posisi sebenarnya dari tariqat
Naqshbandi. Sekarang jika seseorang berada dalam satu aliran tariqat, mereka bisa saja mengambil tariqat Naqshbandi dan tetap bebas menjalankan amalan-amalan seperti biasanya atau menjalankan amalan tariqat Naqshbandi saja.

Jika hanya melakukan amalan tariqat Naqshbandi saja itu sudah cukup. Tidak menjadi masalah apabila kalian berasal dari tariqat lain kemudian mengikuti tariqat Naqshbandi. Beberapa orang merasa takut kalau Syaikhnya mendengar bahwa dia telah menganut tariqat kedua lalu dia akan marah. Jika dia adalah Syaikh sejati bagaimana mungkin dia bisa marah? Seorang Syaikh sejati harus mengetahui apakah muridnya bersama dia di Hari Perjanjian (pada awal penciptaan) atau tidak. Seorang penggembala mengetahui keadaan biri-birinya, satu dalam seribu, bahkan jika mereka semuanya berwarna putih. Dia memiliki cahaya di matanya dan mengenal mereka tanpa membuat kesalahan.

Dalam tariqat tidak ada kepiluan bila seorang murid pergi ke Syaikh yang lainnya. Kami berterima kasih kepada Syaikh pertama yang telah melatihnya sampai dia bertemu Syaikh yang sesungguhnya. Abu Yazid Bistami q berkata, "Selama melakukan pencarian, Aku bertemu 99
Syaikh sebelum Aku bertemu Grandsyaikh Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Shiddiq q ."
Kalian bisa bertemu dengan banyak Syaikh dan melakukan suatu amalan, tetapi tidak akan menemukan kepuasan sampai akhirnya kalian menemui Grandsyaikh kalian, lalu seperti sungai yang bertemu samudra.

Begitu banyak Syaikh yang hanya menjadi pelatih, sampai akhirnya Grandsyaikh memanggilmu. Bukan melalui surat, dari hati ke hati, di sana banyak sekali jalan. Jika seorang Naqshbandi Syaikh memberi tariqat, beliau harus memberitahu muridnya siapa Grandsyaikh di
tariqat Naqshbandi saat itu dan beliau harus mengarahkan kepadanya. Begitu banyak orang dari Barat yang berdatangan sekarang, diundang melalui hatinya untuk menemui Grandsyaikh. Mata rantai Masyaikh berakhir pada satu titik.


Mawlana Syaikh Nazim Adil al Haqqani dan GrandSyaikh Abdullah Faiz Daghestani

Grandsyaikh Mawlana Syaikh Nazim Adil adalah mata rantai terakhir dalam Mata Rantai Emas dan beliau memegang posisi itu, Saya hanyalah hambanya. Untuk Masyaikh Naqshbandi, kita semua menunggu mereka untuk memperbarui bay’at-nya dengan kita, jika tidak mereka hanya menyematkan gelar di diri mereka sendiri. Imam Mahdi as dan ketujuh wazir besarnya, 40 kalifa, 99 termasuk 40 orang yang berada di sisi wazir dan 313 Mursyid besar semua berada di tariqat Naqshbandi. Di masa ini tidak ada kekuatan bagi tariqat lain untuk membawa seluruh orang mencapai tujuan akhirnya. Oleh sebab itu semuanya diundang untuk memperbarui
bay’at-nya dari Grandsyaikh dan semua akan merasakan adanya kemajuan pada dirinya. Di masa kita, ada sekitar 1000 Syaikh Naqshbandi, tetapi hanya satu Grandsyaikh. Membawa mereka semua, siapa yang akan menjadi Imam? Jika 124.000 sahabat dibawa, siapa yang akan menjadi Imam? Abu Bakar ra. Dan Naqshbandi berasal dari silsilahnya.

Setiap Syaikh harus menunjuk satu orang deputi. Maulana Khalid al-Baghdadi menunjuk Syaikh Ismail , tetapi banyak sekali cabang tariqat Naqshbandi yang menghilangkan namanya dari silsilah dan dengan demikian juga kehilangan rahasia Grandsyaikh. Sekarang banyak sekali Syaikh Naqshbandi yang berada di Damaskus, Aleppo, dan Homs tidak dapat menemukan
penerusnya. Kecuali bagi Grandsyaikh kita, tidak ada seorang pun yang ditunjuk sebagai deputi. Hal ini karena kita mempunyai Syaikh Ismail dalam silsilah kita.

Wa min Allah at Tawfiq

<< Home

Monday, January 09, 2006

NEW RELEASE - BIGGER TSUNAMI

Korupsi dan Tsunami
Maulana Shaykh Muhammad Hisham Kabbani
Michigan, USA, Suhbat 01-01-2005

Catatan : Suhbat Mursid umumnya tidak diterjemahkan, karena itu bersumber dari bahasa qalbu. Jadi hanya ditafsir saja. Jika ada kesalahan berasal dari kami, Sutono Joyosuparto dan Dedy H.B. Wicaksono, Delf


Patuhilah Allah patuhilah Nabi (s.a.w.) dan mereka yang memiliki otoritas di antara kalian. Mematuhi Allah menyebabkan mencapai surga. Mematuhi Nabi (s.a.w.) menyebabkan memasuki surgaNYa, Mematuhi mereka yang memiliki otoritas/pemerintahan akan mencegah seseorang dari masuk penjara.

Allah bersabda, Dhahar al-fasaada fil-barri wal-bahr bi ma kasabat aydeen-naas li yudheeqahum ba`da alladhee `amiloo la`allahum yarji`una" Korupsi telah menyebar di daratan dan lautan, karena akibat (perbuatan) tangan manusia, sehingga Allah memberi kesempatan mereka merasakan beberapa dari perbuatan mereka, agar supaya mereka dapat kembali
(tobat) (dari kejahatan). [30:41]

Fasad berarti korupsi atau Fasad dapat juga berarti orang-orang yang meninggalkan shalat , puasa , zakat mereka, dan meninggalkan mengingat Allah, tidak mengingat Nabi (s.a.w.), tidak mengerjakan yang dikehendaki Allah, mengejar zina(, mengejar mabuk-mabukan, mengejar segala hal yang Allah firmankan agar kita hindari. Hal itu adalah satu sisi dan sisi lainnya adalah korupsi di dalam sistem, korupsi antar pemerintah, korupsi di bidang usaha, korupsi dalam arti mengelabui orang lain. Ini semua berada dalam lingkup fasad. Juga
masuk dalam lingkup ini adalah menusuk dari belakang, bergunjing tentang orang lain, mencoba mengedarkan keterangan palsu tentang orang, mencoba mengada-ada cabang pemikiran yang tidak Islami tetapi radical dalam ideology mereka.

"li yudheeqahum ba`da alladhee `amiloo la`allahum yarji`oona", Sehingga ((Allah)) memberi kesempatan mereka merasakan beberapa dari perbuatan mereka, agar supaya mereka dapat kembali (tobat) (dari kejahatan). [30:41]. Korupsi telah muncul di darat dan di laut. Di darat penuh dengan korupsi berbagai macam. Di laut, penuh dengan korupsi dan penuh dengan fasad. Ini terjadi karena apa yang dilakukan oleh mereka terhadap diri sendiri. “Inilah yang telah kamu perbuat wahai manusia!” Allah menyebutkan itu untuk setiap generasi
dari awal hingga akhir. Dan Allah bersabda Dia akan membuat mereka merasakan apa-apa yang telah mereka perbuat, untuk merasakan masa yang penuh kesukaran.

Dan Allah memiliki banyak jalan dan cara untuk membuat manusia merasakan kesukaran akibat apa yang telah mereka lakukan dengan korupsi mereka itu. Namun di dalam hal itu mungkin akan membuat mereka yang tidak berdosa akan terseret juga. Ketika hukuman datang, ia
datang secara keseluruhan. Azab itu menerpa yang melakukannya dan juga mencapai mereka yang tidak melakukannya.

Mereka yang tidak bersalah akan meninggal sebagai syahid. Mereka yang tidak bersih, Allah memberikan mereka kesukaran. Dan Nabi (s.a.w.) berkata, “Ya Aisha kita adalah ummat yang dikaruniai Allah rahmat (ummatun marhuma).” Jadi Allah memberi kita kesukaran di dunia untuk membersihkan diri kita untuk kehidupan berikutnya. Hal ini karena dunya tidaklah seimbang bahkan jika dibandingkan dengan sebelah sayap nyamuk sekalipun. Barangkali sayap nyamuk itupun lebih memiliki nilai dari pada seluruh dunia ini.

Dan Allah memiliki banyak cara untuk melakukan itu. Dia tidak menunggu orang lain. Allah mungkin membuat beberapa orang berkelahi dengan orang lain. Katakan: "Dia memiliki kekuatan untuk mengirim bencana kepada mu, dari atas dan dari bawah, atau untuk
melingkupi kamu dalam kebingungan konflik golongan, membuat kamu merasakan saling dendam, masing-masing dengan yang lain. Lihatlah betapa Kami menjelaskan tanda-tanda dengan berbagai simbol; agar supaya mereka mengerti.” [6:65 ]

Dan Allah memiliki banyak jalan dan cara, bukan hanya banyak, namun tak berhingga. Dan tak seorangpun dapat berbuat apa-apa untuk menolaknya. Mereka mengatakan alam murka.” Allah tidak suka, Allah lah yang murka dengan apa yang terjadi. Satu waktu sayyidina Musa as berkata, “Ya Rabbi, bila Engkau mengirimkan hukuman Mu kepada beberapa orang, mengapa banyak orang tak berdosa juga akan termasuk.”

Sebagai jawaban terhadap pertanyaan ini, Allah swt bersabda, “Ya Musa, pergilah ke hutan itu dan lihat sebuah batu karang dan duduklah pada batu karang itu dan tunggulah jawaban Ku.” Dia (Musa a.s.) adalah kaleemullah, ia yang dapat bercakap dengan Allah tanpa perantara. Hingga pergilah dia ke batu karang itu dan menunggu jawaban itu. Kemudian Musa menemukan batu dimaksud, ia tak menyadari tempat dimana ia duduk terdapat sarang
semut. Allah memerintahkan semut untuk merambati kakinya. Dan Musa a.s. tidak merasakan ketika semut semut itu merambat naik ke pahanya. Kemudian Allah memerintahkan salah satu dari ratusan semut itu untuk mengigitnya.

Maka ketika seekor semut mengigit Sayyidina Musa a.s. dan karena dia kesakitan dia menekan kakinya dan memusnahkan semut itu. Allah bersabda, “Ya Musa, ketika azab hukuman datang, siapapun yang berada di daerah itu akan terkena.” Seperti juga ketika Sayyidina Musa a.s. sakit digigit hanya seekor semut, Nabi Musa as menekan kakinya dan menyebabkan semua
semut mati. Itulah sebabnya mengapa Sayyidina Lut a.s. diperintahkan membawa anak-anaknya dan pergi keluar (daerah itu). Sayyidina Nuh as diperintahkan untuk membawa mereka yang beriman dengannya karena ketika azab datang itu semua akan terkena. Karena ketika saat
azab datang, dia tidak menyisakan siapapun .

Ketika Sayyidina Muhammad s.a.w. datang, dia memohon kepada Allah, ”Janganlah membuat ummatku seperti umat sebelumnya yang ketika Engkau mengambil, semua diambil sekaligus.” Allah menerima du`a itu dan bersabda, Aku tidak akan mengambil mereka sekaligus, namun mereka akan saling berkelahi antara sesamanya.” Kini Allah sedang memberi kita sebuah pelajaran dan Dia memiliki banyak tanda-tanda. Dan segala mahluk didunia patuh kepada Allah. Segala sesuatu sedang menunggu perintah Allah. Ketika perintah Allah datang,
tak seorangpun dapat menghentikan peristiwa itu. Dan perintah Allah ini datang dalam bentuk sebuah inspirasi atau sebuah bentuk pengertian yang mungkin tidak disadari oleh manusia namun itu adalah sebuah cara untuk memerintahkan, yang dengannya perintah
langit turun.

Ketika iradah Allah datang, hal itu bergerak dari Samudera Keinginanan Nya menuju Samudera Ilmu Nya. Ketika RealitasSejati Nya, ketika Dzatullah, Yang Tidak Diketahui, Mutlak Tidak Diketahui, yang bahkan Sayyidina Muhammad s.a.w. hanya diberitahu, "qul hu Allah hu ahad. Hu artinya Mutlak Tidak Diketahui. Ketika kalian mengatakan Allah, itu meliputi 99 Nama
dan Busana AttributNya. Kalian tidak dapat mengetahui lebih dari Nama dan Atribut itu: Maha Pemberi; Maha Menutupi; Maha Pengampun.

Ketika Dia menghendaki sesuatu, maka Atribut al-`Aalim, mengambilnya dan merencanakannya dan kemudian Busana al-Qaadir Nya melaksanakannya . Dan ketika qudrah, melalui nama al-Qaadir, ketika kekuatan muncul melalui qudrah Nya, itulah energi (kekuatan). Setiap saat sebuah ciptaan datang menjadi nyata. Bukan hanya dunia kita ini. Bumi ini bukanlah apa-apa
kecuali seujung jarum dalam alam semesta ini, itu bukan apa-apa. Dan jika seseorang mau saja sedikit berpikir, mereka mengatakan bahwa bumi bergerak sejenak dalam putarannya mengelilingi sumbunya, karena gempa bumi itu, karena itu adalah sebuah gempa yang
besar. Namun mereka tidak mengatakan siapa yang membuat bumi itu berputar mengelilingi sumbunya.

Jika terdapat scientists dan para genius hari ini, dapatkah mereka membalik putaran bumi menjadi searah putaran jam? Atau dapatkah mereka menghentikan putaran itu? Siapa yang membuat bumi berputar? Itu adalah sesuatu yang diluar batas pikiran. Jika orang mau
berpikir sedikit saja, orang akan berada dalam sujud siang dan malam, karena tidak terdapat sesaatpun untuk dibiarkan sia-sia. Jika kamu menyia-nyiakan waktumu bukan dalam sujudmu, maka kamu menyia-nyiakan waktumu. Orang kebanyakan tidak berada dalam keadaan itu.
Awliya para Wali Allah berada dalam keadaan itu . Apakah Izrail datang dengan hukuman atau ampunan. Itulah sebabnya kalian melihat mereka selalu dalam keadaan beribadah, kalau tidak dalam shalat atau menolong orang lain atau mengunjungi orang sakit maka mereka memberi nasehat atau konsultasi bagi Allah.

Mereka Awliya tidak melakukan lainnya. Awliya sibuk dengan segala macam kesibukan yang menyebabkan mereka tidak sempat menyimpang dari kehendak Allah bagi kita. Wa maa khalaqta al-jinn wal-ins ill-liy`abudoon Aku hanya menciptakan Jinns dan manusia, agar supaya
mereka mengabdi kepada Ku. [51:56]. Kami tidak memerlukan benda apapun dari mereka, dan
Aku tidak meminta mereka memberi Ku makan. [51:57]

Barang siapa melakukan ibadah, Allah akan memenuhi kebutuhan mereka. Itu bukanlah untuk orang biasa (normal). Namun mereka yang bekerja untuk dunya dan bekerja keras untuk dunya dan memberi nafkah di jalan Allah, itu dianggap ibadah bagi mereka. Mereka yang bekerja untuk dunya dan menolong si miskin akan seperti jika mereka selalu di jalan Allah, mereka
seperti Awliya, yang selalu dalam keadaan sujud. Tetapi mereka yang mengejar dunya semata-mata Allah akan mempunyai keputusan yang lain bagi mereka. Siapapun yang terkena bencana, khususnya orang-orang tenggelam, Nabi (s.a.w.) berkata, “Barang siapa meninggal tenggelam atau meninggal terpanggang api adalah shuhada (mati shahid).” Karena Allah mengirimkan peringatan Nya kepada abdi Nya.

Ketika Allah membuat bumi berputar seputar sumbunya, tak seorangpun dapat mengatakan apapun kepada Nya, itu adalah Keinginan Nya, Dia dapat membuatnya berputar ke arah sebaliknya atau berhenti berputar atau meniupnya hingga musnah. Segala sesuatu memuji Allah, tetapi kamu tidak mengerti pepujian mereka. Seperti ketika kalian bicara di telepon, kamu mendengar. Suara itu datang dalam sebuah getaran dan memasuki telinga, yang di dalamnya terdapat tiga tulang dan tulang-tulang ini kemudian mengetuk-ketuk pada sebuah tabung keong (spiral) yang berisi banyak sekali syaraf, dan dengan cara ini getaran / gelombang tadi ditangkap oleh syaraf kita. Dan ketika kita berbicara kita menimbulkan getaran maka kita mampu mendengar. Lalu mengapa kita tidak dapat mendengar bumi batu atau benda apapun yang sedang bertasbih?.

Telinga kita tidak dibersihkan atau kita tidak mampu menyelaraskan (tuned). Tidak, mereka tidak diselaraskan (tuned). Itu artinya getaran berbeda yang dikeluarkan oleh mineral dan ciptaan ini. Bumi memiliki tasbih nya sendiri, rembulan memiliki tasbih nya sendiri dan apapun yang ada di bumi juga memiliki tasbih nya sendiri. Kamu melihat walkie talkie ini, yang kamu beli. Masing-masingnya memiliki frequency nya sendiri. Mereka dapat mendengar sesuai dengan frequency yang ditetapkan untuknya. Kemudian Allah menciptakan manusia, dan memberi mereka inspirasi untuk menciptakan alat yang dapat mendengar berbagai aspek
tubuh dan membacanya, mereka dapat membaca jantung dan membuat grafiknya.

Kalian dapat melihat EKG (grafik) itu. Meskipun kalian hanya dapat mendengar sebuah suara menggunakan sebuah stetoskop; tetapi kalian dapat mengatakan secara umum apakah jantung itu dalam keadaan baik. Juga kadang-kadang mereka memasang sebuah alat disana untuk mengamati jantung. Apabila alat tersebut memperlihatkan grafik datar, apakah artinya? "Inna lillah wa inna ilayhi raji`oon"

Kamu tidak dapat mengetahui hal itu sampai garis itu datar (menunjuk angka nol). Itu artinya setiap bintang memuja Allah, dan setiap konstelasi, dalam vibrasi mereka masing-masing. Itulah sebabnya mereka menerima vibrasi ini dari kejauhan. Artinya mereka ada pada
frequency yang berbeda. Ma zaala abdee yataqarabu ilaya bin-nawaafil hatta uhibuh. Fa idha ahbabtahu kuntu sam`aulladhee yasma`u bihi wa basar-ulladhee yubsiroo bihi wa yadah-ulladhee yabtashu bihi wa rijlah-ulladhee yamshee bihi… “Abdi Ku mendekatiKu melalui ibadah-ibadah sunnahnya yang ia kerjakan, sampai Aku menjadi telinganya yang
dengannya dia mendengar ….”

Itu artinya bahwa getaran itu dapat didengar oleh Awliyanya (abdi). Itu yang membedakan awliya dari orang biasa (normal). Getaran dengan jenis berbeda, seperti halnya cahaya ultra violet (yang tak dapat dilihat mata biasa). Dan itu bukan hanya getaran dengan jenis yang berbeda namun itu (juga) bahasa yang berbeda. “Kamu tidak dapat mengerti tasbih mereka” Itu artinya mereka berbicara dengan suatu bentuk bahasa. Lihatlah pada komputer, terdapat berapa macam bahasa di sana? [200, 300] Dimana bahasa itu? Dapatkah kamu
menyebutkan beberapa di antaranya? Dan apa yang dilakukan mereka agar berbagai bahasa itu dapat saling dipergunakan untuk berbicara satu sama lain, mereka menciptakan sebuah perangkat lunak (software) untuk saling berbicara satu sama lain. Mereka semua berbeda
frequencies nya tetapi perangkat lunak itu dapat ber-interaksi dengan semua bahasa yang berbeda itu.

Jika itu dapat dilakukan oleh perangkat lunak, apakah kamu berpikir bahwa Allah tidak dapat memberikan perangkat lunak yang demikian itu kepada Rasul Nya yang melalukan Isra dan Mi`raj. Begitu juga terdapat begitu banyak bahasa yang dapat dilihat dan dimengerti
oleh mereka para Awliya yang mewarisinya dari Nabi (s.a.w.). Itu harus kamu mengerti …
Kadang-kadang kalian melihat pertunjukan di panggung dan disana ada seorang tukang sulap. Tukang sulap itu mengambil dari topinya seekor kelinci. Hingga Berapa banyak? Dia terus saja mengeluarkan kelinci-kelinci itu dari topinya. Atau dia melambaikan tangannya dan
dia membuat seseorang raib.

Mereka mengikuti apa yang diberikan sebagai tiruan yang palsu oleh shaytan melawan kekuatan Sulaiman as. Shaytan, bukanlah Nabi Sulaiman a.s., yang mengajari manusia ilmu sihir, dan hal-hal seperti itu yang turun di Babylonia kepada malaikat Harut dan Marut. Namun tidaklah mereka itu mengajarkan hal-hal seperti itu tanpa mengatakan: "Kami hanya untuk mencoba; jadi janganlah melakukan pelecehan kepada Allah."

Mereka (pesulap) itu belajar dari kedua malaikat itu cara-cara untuk menimbulkan pertengkaran antara suami dan isteri. Namun mereka tidak dapat membahayakan seorang pun kecuali atas izin Allah. Dan mereka mempelajari apa-apa yang yang dapat membahayakan
manusia, bukan yang menguntungkan manusia. Dan mereka tahu bahwa pembeli (sulap) tidak memiliki saham dalam kebahagiaan di Akhirat. Dan buruklah harga yang diterimanya ketika mereka menjual jiwa mereka (kepada ahli sihir itu, jika saja mereka mengetahuinya!
[2:102] Wa labis ma sharaw bihi anfusahum… Allah bersabda bahwa mereka mengajari manusia bagaimana memecah belah manusia satu terhadap yang lain untuk menimbulkan kekacauan dan tidak memberi manfa’at satu kepada lainnya.

Apa yang dikerjakan para pesulap atau ahli sihir itu. Mereka merubah frequency cahaya yang sedang dipancarkan. Sehingga dengan frequency itu ketika mereka menggerakkan tangan mereka, mereka merubah frequency itu. Dan kemudian kamu tidak lagi melihat apa yang berada di panggung. Atau mereka memperlihatkan kepadamu frequency dari kelinci.

Jika demikian keahlian pesulap itu, bagaimana halnya dengan Nabi (s.a.w.)? Bahkan bagaimana pula dengan para sahabat. Sayyidina Umar r.a. dalam sedetik suaranya sudah sampai ke Saariya dari Madinah al-munawwarah ke Sham Damascus. “dan hal hal demikian itu sebagaimana turun di babylon kepada malaikat Harut dan Marut. Namun tidak lah mereka mengajarkan seseorang hal yang demikian tanpa mengatakan: "Kami hanya untuk mencoba; jadi janganlah musyrik." Jika orang dapat mewarisi ilmu dari shaytan bagaimana beberapa orang yang keras kepala bisa mengatakan bahwa tak seorangpun mewarisi ilmu dari Nabi saw? Dari mana para awliya belajar ilmu yang seperti itu yang mampu menangkap getaran, tassawuf.

Tetapi mereka yang tak percaya mereka menjadi begitu congkak sehingga mereka tidak dapat menangkap / melihat frequencies demikian ini. Mereka ahli sihir belajar dari shaytan cara-cara untuk menanamkan konflik antara suami dan isteri. Dan betapa sungguh buruknya mereka telah menjual diri mereka sendiri jika sekiranya mereka tahu. Jika demikianlah halnya, segala sesuatu memiliki bahasanya masing masing, apabila kamu memiliki kalbu yang murni, alaa bi-dhikrillah tatma’in al-quloob. "Mereka yang beriman, dan kalbunya mendapatkan
ketenangan (kepuasan) dalam mengingat Allah. Karena sesungguhnya dalam mengingat Allah kalbu mendapatkan kepuasan. [13:28]

Allah memberikan sebuah bahasa kepada bumi dan memerintahkannya untuk memuja Nya terus dan terus di daerah tertentu, karena telah terjadi terlalu banyak korupsi disana. Ketika pepujian itu dimulai, itu menimbulkan terlalu banyak gelagak seperti mendidihnya air. Kaana tastajeer. Bumi menangis, memohon Allah swt dan mendidih memohon bantuan langit pada hari tsunami itu. Memohon kekuatan langit untuk turun ke bumi. Memohon Allah untuk mengirimkan awliya Nya, untuk mengirimkan azab untuk mengambil segala korupsi itu.

Mereka memanggil Mahdi as untuk datang. Dan suara itu datang dari daerah Aceh itu. Daerah Indonesia itu, terdapat banyak sekali awliya disana, terdapat banyak sekali jinn Muslim disana. Di seluruh daerah-daerah itu, Thailand, India, Sri Lanka, Samudera India.
Mereka memohon dikirimkan kekuatan langit dari atas.

Ketika bulan Haji mendatangi. Dunya…. Kebanyakan hadith (tentang Hari Akhir) telah terjadi. Lihatlah dalam kitab hadith, Sahih Muslim dan Bukhari. Dunya sedang berada dalam masa terakhirnya. Mereka berdoa dan berdoa dan berdoa begitu banyak dan (doa) itu membumbung ke angkasa dari daerah itu. Mereka yang mengetahui bahasa getaran itu, dikaruniai kesucian, mereka tahu apa yang sedang terjadi. Janganlah menganggap gempa bumi datang secara acak seperti itu. Mereka mengatakan terdapat ikatan retakan gempa bumi. Itu adalah ikat pinggang awliya, dan jinn. Itu adalah stations utama para awliya dan jinn.
Mereka adalah yastajeeroona billah.

Kemarin Itu hanyalah sebuah goncangan kecil, tunggulah goncangan yang lebih besar lagi. Ketika seluruh bumi ini bergetar tergoncang serentak. Wahai mu’min cobalah untuk belajar bahasa bumi, bahasa matahari, bahasa bulan. Belajarlah bahasa alam semesta. Maka
kamu akan berkata seperti sabda Nabi (s.a.w.), “Jika kamu tahu apa yang aku tahu, maka kamu akan lebih banyak menangis dan lebih sedikit tertawa.” Kalian diciptakan bukan untuk mengejar keinginan (hasrat) buruk. Semoga Allah melindungi kita dari (bencana) besar yang sedang mendatangi. Nabi (s.a.w.) berkata, “ terlalu banyak gempa bumi terjadi pada hari
akhir.” Empat tahun yang lalu Grandsyaikh Mawlana Syaikh Nazim Adil mengatakan kepada saya, “Anakku, akan datang suatu hari dalam masa mendatang yang sangat dekat ini, dimana kamu akan mendengar bahwa 100,000 orang meninggal, 500,000 meninggal, sebuah kota akan lenyap.”

Muhyiddeen ibn Arabi berkata bahwa akan datang satu waktu dimana orang akan berjalan di atas mayat. Hari ini, kini kalian menyaksikannya. Tetapi hingga saat ini tidak seorang pun percaya kepadanya, bahkan mereka masih bicara buruk tentang dia. Apa yang kamu pikirkan
ketika (bencana) yang besar datang, "idha zulzilat al-ardu zilzalaha".

Kita harus mencoba sebaik-baik yang dapat kita lakukan. Kita bukan Sahabah, kita buka awliya. Karena kalian lemah dan tak berdaya, "inna ma `amaalu bin-niyyaat". Setiap perbuatan adalah dengan niat (tujuan). Kamu hanya harus menetapkan niat kamu. Kita tidak
dapat berbuat apa yang diperbuat Nabi saw. Kita tidak dapat berbuat apa yang diperbuat Sahabah. Kita tidak dapat berbuat seperti yang diperbuat awliya. Kita hanya dapat melakukan hal kecil seperti yang dilakukan semut.

Saat ini Bumi masih memohon berlindung kepada Nya terhadap korupsi yang sedang berlangsung hingga hari ini. Resort pantai lokasi itu adalah lokasi untuk korupsi. Kini mereka tidak lagi berada disana. Mereka melakukan di banyak kejahatan, korupsi, zina di lokasi di Teluk tersebut. Mereka membuat sebuah resort di banyak pulau dan hampir diseluruh bagian bumi. Dan mereka menjual rumah disana, sehingga kamu dapat membeli. Sebagai contoh, di Pulau Somalia, kamu dapat membeli sebuah rumah disana. Dan segala macam pelacuran dan perselingkuhan dan mabuk-mabukan saat ini sedang berlangsung disana.

Makan bencana itu juga akan mendatangi mereka. Allah akan memusnahkan mereka. Siapapun yang melawan Allah, Allah akan melawan mereka. Semoga Allah menyelamatkan kita dan menyelamatkan kita dari orang yang korup.

Wa min Allah at Tawfiq, Bi-hurmatil fatiha.


Tsunami yang Lebih Besar Akan Terjadi
Maulana Shaykh Muhammad Hisham Kabbani
Suhbat 06-01-2005, Zawiyah Michigan, USA


Ba'da dhikr Khatm Khawajagan

A'uudzu billahi minasy syaithanirrajiim Bismillaahirrahmanirrahiim, Nawaytul Arba'in
Nawaytul I'tikaf, Nawaytul Khalwah,Nawaytul 'Uzlah Nawaytur Riyadah,Nawaytus Suluuk, Lillahi ta'alaa Athi'ullaaha wa athi'urrasuula wa ulil amri minkum (QS An Nisa' 4: 59).

Allah SWT memerintahkan pada kita untuk mematuhi-Nya, untuk mematuhi Nabi/Rasul
sall-Allahu ‘alayhi wasallam, dan untuk mematuhi pemimpin kita, atau mereka yang memiliki otoritas (wewenang). Allah SWT tak suka diri kita bila tak patuh.

Allah berfirman: Innaa Nahnu nazzalna dz-dzikraa wa innaa lahuu lahaafizhuun” (QS. Al-Hijr 15:9) Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz Dzikr (Peringatan), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Kami menyimpannya)”. Dzikr (Peringatan) itu diwahyukan hanya pada Nabi suci Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam, tidak kepada siapa pun lainnya. Diwahyukan pada beliau melalui Malaikat Utama Sayyidina Jibril ‘alaihissalam.

Makna umum dari Adz-Dzikr adalah Quran Suci. Itu berarti segala sesuatu yang ada dalam Quran Suci. Itu berarti segala sesuatu yang diciptakan, seluruh makhluq, karena Allah berfirman: “Wa laa rothbin wa laa yaabisin illaa fii kitaabin mubiin” (QS. Al An’aam
6:59) “dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Quran Suci)”. Hidup atau tak-hidup semua ada dalam Al Quran yang Suci.

Al Quran Suci adalah Pengetahuan Ilahiah yang Allah SWT karuniakan dan berikan pada Nabi sall-Allahu alaihi wasallam tentang seluruh makhluk ciptaan, baik yang ada sebelum masa hidup Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam maupun yang hidup setelah masa hidup Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam. Karena itulah, Quran Suci memuat cerita-cerita tentang ummat-ummat
terdahulu, dan juga pengetahuan-pengetahuan ilmiah masa depan. Juga, Hadits Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam adalah pula wahyu. Allah telah menyebutkan dalam Quran Suci: “Wa maa yanthiqu ‘anil hawa’, in huwa illaa wahyuy yuuhaa” (QS. An-Najm 53:3-4) “dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),”.

‘Ulama Sejati (yaitu Awliya-ullah – para kekasih Allah) mampu untuk mengambil makna atau rahasia dari huruf-huruf, kata-kata, dan kalimat-kalimat dalam Quran Suci. Ulama biasa hanya mendapatkan ilmunya dengan belajar ke sana ke mari (untuk mengetahui apa yang sudah dibicarakan atau sudah ditulis dalam buku-buku). Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam
dikaruniai Ilmu oleh Allah, yang kemudian oleh Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam dibagi-bagikan pengetahuan itu pada para Sahabat beliau. Setiap orang dari sahabat beliau adalah bagai sebuah bintang, seorang pembimbing atau pemandu (bagi kemanusiaan) yang membawa Hadits-hadits yang berbeda yang telah diberikan Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam pada
masing-masing dari mereka. Dan para pewaris dari sahabat ini, yaitu Awliya’ullah pun membawa pula Ilmu tersebut.

[Seperti apa yang telah disebutkan dalam suhbat sebelumnya pada tanggal 1 Januari 2005]. Orang-orang tak berdosa turut mati bersama mereka yang berdosa. Kedua golongan ini berada dalam naungan tajalli (manifestasi) dari Nama-Nama Allah. Mereka yang tak berdosa tersebut pergi (mati) bersama mereka yang berdosa. Mengapa? Ingatlah akan kisah Sayyidina Musa
‘alaihissalam (yang diceritakan pada suhbat sebelumnya) ketika beliau bertanya akan Keadilan Allah. Allah kemudian menyuruh beliau menunggu di hutan. Lalu ratusan semut merayap di kaki beliau. Ketika, satu saja dari semut itu menggigit beliau, beliau segera saja memukul seluruh kelompok semut tersebut hingga tewas.

Kita harus belajar dari kisah ini: Kematian datang tanpa pemberitahuan awal, ia datang kapan saja, di mana saja, pada kesempatan apa saja. Saat ‘ajal (kematian) menjelang, tak seorang pun mampu lari darinya. Tapi, jika ‘ajal belum tertulis, bahkan bila seseorang berada di tengah suatu ledakan, di tengah suatu gempa bumi, di tengah suatu samudera, ia pun tetap akan selamat. Allah mengambil siapa yang Ia kehendaki. Kita tak tahu mengapa, dan kita pun tak dapat bertanya mengapa.

Allah berfirman (dalam ayat yang ditulis di atas), “Kami memelihara Kitab Suci itu hingga Hari Penghakiman (Kiyamat), dan (termasuk) rahasia-rahasia di dalamnya, akan tersimpan. Tersimpan’ berarti untuk dituangkan pada wadah seseorang yang mampu menampungnya dan menyimpannya sampai saatnya ketika (rahasia) itu mesti muncul. Seperti di zaman sekarang, ketika kita ingin menyimpan suatu (data) ke dalam komputer-komputer kita, kita menekan suatu tombol ‘save’ (‘simpan’). Jika kita tidak melakukannya, data kita pun akan hilang.
Menyimpan’ di situ berarti untuk menyimpannya sebagai bentuk frekuensi vibrasi (getaran) yang berbeda.

Teknologi yang tersedia di zaman sekarang, sudah pernah disebutkan oleh Quran Suci pada Nabi kita sall-Allahu ‘alaihi wasallam 1400 tahun yang lalu. Tapi, kita tak mampu memahaminya. [Allah berfirman] “Wa in min syai-in illaa yusabbihuu bihamdihi wa
laakin laa tafqahuuna tasbiihahum” (QS Al-Isra’ 17:44), “Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.”
(Pengetahuan Rahasia) itu tersimpan, tapi kita tak mempunyai Teknologi untuk mengambilnya.

Allah SWT berfirman (dalam ayat yang sama, bagian awal): “Tusabbihu lahu s-samaawaatu s-sab’u wa l-ardhu wa man fiihinna” [QS Al-Isra’ 17:44] “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah.” Itu bermakna segala sesuatu memuji-Nya,
tapi kalian tak mampu memahami puji-pujian mereka. Dalam ayat lain (QS. Al-Hijr 15:9): “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz Dzikr (Peringatan), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Kami menyimpannya)”. Ini bermakna setiap makhluq ciptaan
ter’simpan’ dalam Quran Suci. Maknanya, dalam segenap rentang frekuensi dari vibrasi (getaran) yang berbeda-beda. Sebagaimana dalam komputer: kita menyimpan segala sesuatunya (berbagai macam data, ed.) ke dalam komputer sebagai frekuensi (dari bilangan)dari 0 dan 1

Awliya’ullah, apa yang mereka warisi dalam kalbu mereka dari Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam adalah dalam berbagai frekuensi yang berbeda-beda. Mereka mampu untuk men”decode”-nya dengan menekan “tombol” tertentu à yaitu Asmaul Husna (Nama-nama yang indah dari Allah), dan seluruh pengetahuan itu akan keluar ke suatu ‘layar’ di hadapan mereka, seperti saat ini para pembaca berita memiliki teleprompter di hadapan mereka yang bertuliskan apa-apa yang mesti mereka baca. Apa yang tertulis di teleprompter tersebut
berasal dari suatu komputer.

Seluruh bilangan ini adalah dari 0 hingga 1. Bila dirimu menjadi 0, kau pun akan dikaruniai 1, Ilmu atau Pengetahuan itu. (Allah berfirman) “Kami menurunkan nya, dan menyimpannya”. Ini bermakna Kalamullah (Firman-firman Allah) tak akan bisa diubah. Segala
sesuatu dalam Al-Quran akan dikeluarkan pada waktunya. Awliya’ mengetahui tentang hal ini.

Karena itu, ketika mereka (Awliya’ullah) melihat bahwa [sebagaimana firman Allah] “Zhaharal fasaadu fi l-barri wa l-bahri bimaa kasabat aydin naas…” [QS.Ar-Ruum 30:41] Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,” mereka pun memohon kepada Allah, yastajiruuna billaah.

Segala sesuatu mensucikan dan memuji Allah. Tasbih-tasbih itu bergerak demikian banyak dan cepat bagai halilintar hingga tasbih tersebut menggerakkan bumi. Demikian banyak Awliya’ullah di daerah itu, dan mereka semua memuji dan memuji tanpa henti hingga
pepujian mereka mengguncangkan segala sesuatunya. Saat segala sesuatunya berguncang, segala sesuatu pun akan hilang musnah.

Bumi berotasi pada sumbunya. Saat ia berotasi, tercipta suatu medan magnet yang melindungi Bumi dari radiasi dari luar angkasa. (Catatan penerjemah: mungkin yang diacu di sini adalah sabuk van Allen, suatu sabuk magnetik berbentuk torus yang melindungi bumi dari radiasi kosmis). Allah berfirman dalam Quran Suci di Suurah Al-Anbiya’ (Surah nomor 21): “Wa yaquuluuna mataa hadzal wa’du in kuntum saadiqiin” [QS. 21:38, lihat pula 10:48 dan 36:48] “Mereka berkata: "Kapankah janji itu akan datang, jika kamu sekalian adalah orang-orang yang benar?" Mereka berkata, “Kapan itu akan terjadi…?” “Idzaa Zulzilatil Ardhu Zilzaalahaa” [QS. Az-Zalzalah 99:11]. “Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya”

(Tsunami di Asia yang baru saja terjadi) Itu hanyalah suatu permulaan. Muhyiddin Ibn ‘Arabi menyebutkan dalam Futuhat al-Makkiyyah, bahwa akan datang suatu masa ketika rambut seorang anak akan tumbuh dengan warna putih (uban)… karena 6 dari 7 orang akan mati.
Lihatlah sekarang, para pemimpin itu (masih sanggup) pergi ke tempat itu (ke Indonesia untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi KTT tentang Tsunami dan meninjau tempat bencana, penerj.). Apa yang akan terjadi di hadapan kita di masa depan (adalah jauh
lebih besar), tak akan ada lagi pemimpin-pemimpin (yang hidup, penerj.). Setiap orang akan tewas.

Allah berfirman: “Bal ta’tiihim baghtatan fa-tabhatuhum falaa yastathii’uuna raddahaa wa laa hum yunzharuun” [QS. Al-Anbiya’ 21:40] “Sebenarnya (azab) itu akan datang kepada mereka dengan sekonyong-konyong lalu membuat mereka menjadi panik, maka mereka tidak
sanggup menolaknya dan tidak (pula) mereka diberi tangguh.”

Apa yang baru terjadi (Tsunami di Asia) hanyalah suatu pertanda kecil. Tunggu hingga kalian melihat tanda yang besar. Enam dari tujuh orang akan pergi (akan mati, penerj.). Jadi, jika kini Bumi memiliki populasi 6 milliar manusia, hanya 800 juta yang akan tetap
tinggal hidup. Apa yang akan terjadi lebih dari sekedar gempa bumi.

Ada dua macam hukuman:
1. Dari atas, dari berbagai arah (dari luar)
2. Dari dalam.

Allah menyebutkan dalam QS. Al-Anbiya’ 21:44 “Bal matta’naa haa-ulaa-I wa aabaa-ahum hattaa thoola alaihimu l-‘umur” “Sebenarnya Kami telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan (hidup di dunia) hingga panjanglah umur mereka.” Mereka memiliki rencana untuk masa depan mereka, hingga 5 tahun ke depan, untuk 10 tahun ke depan, 20 tahun ke depan, dst. Lihatlah bagaimana kini orang-orang berlomba-lomba menolong korban-korban
Tsunami ini. Tentu saja ini adalah hal yang penting, untuk menolong orang lain (dengan makanan, tempat perlindungan, obat, dll.). Tapi, ingatlah pula untuk menolong orang dalam urusan akhirah mereka. Kini, mereka tidak memikirkan tentang hal ini.

[dalam lanjutan ayat tersebut] “Afalaa yarauna annaa na’til ardha nanqushuhaa min athraafihaa. Afahumu l-ghaalibuun” [QS. 21:44] “Maka apakah mereka tidak melihat bahwasanya Kami mendatangi negeri (lit. ardha = bumi, penerj.) itu, lalu Kami kurangi luasnya dari segala penjurunya/sisinya. Maka apakah mereka yang menang?”

Secara berangsur-angsur, Kami (Allah) mengurangi tanah yang ada dalam kendali mereka. Artinya, mengurangi batas-batasnya. Siapa yang akan menang? Kami atau mereka? Musibah itu mendatangi mereka dari arah yang sama sekali tidak terpikir oleh orang-orang bahwa akan
muncul musibah dari situ. Yaitu, musibah itu datang dari lautan. Dari batas/sisi. (Sebagaimana Allah menyebutkan dalam ayat itu, “nanqushuhaa min athrafihaa”, mengurangi tanah itu dari batas/sisi-nya à dari lautan, pada daerah pantai, penerj.)

Malaikat memohon perlindungan, Awliya’ memohon perlindungan, Sang Bumi pun memohon perlindungan. Jika kalian memegang suatu tali, tali yang panjang, dan kalian menggoyangkannya pada salah satu ujungnya, maka suatu getaran atau gelombang akan tercipta. Maka, apa yang terjadi adalah ketika Malaikat hanya menyentuh, dengan mengambil pepujian dan tasbih (dari Awliya’), menyentuh pada satu ujung saja, dan menimbulkan suatu vibrasi pada jalur itu (jalur gempa )

Para Awliya’ harus memuji siang dan malam agar getaran itu (yang ditimbulkan oleh sentuhan Malaikat pada satu ujung) tidak menghancurkan seluruh dunia. Dan ini barulah suatu tanda kecil!! “Annaa na’til ardha nanqushuhaa min athraafihaa…” Perlahan-lahan mengurangi… maknanya Bumi terkurangi. [di sini Mawlana Syaikh Hisham Kabbani mulai masuk
pada makna ke-2 ayat tersebut, penerj.] Yaitu, lapisan pelindung Bumi (sabuk van Allen yang
disebut sebelum ini, penerj.), Allah SWT akan membaliknya ke dalam, menghancurkan Bumi… hingga 6 dari 7 orang akan mati. Jangan katakan, “Bagaimana hal itu akan terjadi?” Bahkan jika Awliya’ memberitahukan sebelumnya pada kalian bahwa sebuah Tsunami akan terjadi (di Asia, penerj.), kalian tak akan mempercayai mereka. Setelah Tsunami ini (Tsunami Asia)
terjadi, sesuatu yang lebih besar dari Tsunami ini akan terjadi!!

Ini untuk memperingatkan orang-orang akan Akhirah. Hari Pembalasan tengah datang. Dan ia tidak akan membedakan tua atau muda. Lihatlah di TV saat ini: anak-anak kehilangan saudara-saudaranya, ayahnya, ibunya, kakek-neneknya, mereka menjadi yatim. Dan ini barulah akibat dari suatu tsunami yang kecil.

Tsunami yang lebih besar akan terjadi!!

Jangan takut! Jika tsunami yang lebih besar datang dan mengambil kalian, setidaknya kalian telah melakukan suatu kebaikan di dunya ini. Fasad (Korupsi atau kerusakan dalam maknanya yang luas. Lihat Suhbat sebelumnya!, penerj.) harus diakhiri. Pada semua pantai-pantai yang hancur itu, berbagai macam Fasad terjadi. Dan Allah sama sekali tak menyukainya.

Lakukan Salat 5 Waktu kalian, lakukan zakat kalian. Lakukan Puasa Ramadan, lakukan Hajj. Dan ucapkan Syahadat setiap hari. Jika lima pilar ini belum cukup, dan kalian membutuhkan perlindungan yang lebih, lakukan Ihsan, sebagaimana diajarkan oleh Nabi sall-Allahu alaihi wasallam.

Wa min Allah at-Tawfiiq, bi hurmatil habib
Al-FAATIHAH!

<< Home