Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Robbahu
Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Robbahu
Mawlana Shaykh Sayyid Muhammad Nazim Adil An Naqshbandi (Q)
Dergah Lefke – Siprus
Ba’da Zhuhur , Kamis 17 Juni 2004
Bismillahirrahmanirrahiim – Laa Hawla wa laa quwwata
Destur Yaa Sayyidi, Destur – Madad Yaa Rijalulloh
Seseorang yang melupakan, akan dilupakan....Setiap individu sesungguhnya membutuhkan nasehat. Setiap individu harus berupaya untuk mengetahui dan mempelajari ilmu Alloh Azza Wa Jalla.
Kita semua tidak mengetahui apa-apa; saya tidak lebih berpengetahuan dari kalian. Alloh Al ‘Aliimu, Dia Yang Mahamengetahui, Mahaluas PengetahuanNya. Kita bahkan tidak tahu apa yang sebaiknya kita ketahui, tapi Rosululloh (Saw) mengetahui. Dikarenakan menyadari kita tidak tahu apa-apa maka kita bermohon pada Alloh untuk mendapatkan petunjuk mengenai apa yang selayaknya diketahui. Tiap orang mempunyai kapasitas sendiri-sendiri untuk mendapatkan pengetahuan. Kebutuhan setiap individu tidak mungkin sama. Begitulah Bani Adam diciptakan dalam takarannya, unik, Dia Alloh Mahapencipta –He is The Creator, Al Khaliq.
Berapapun besar ilmu yang dimiliki oleh seluruh yang ada di bumi ini bandingannya bagaikan atom di tengah samudra yang luas, jika dibandingkan dengan ilmu yang dimiliki oleh Rosululloh (Saw). Jangan kita berlagak tahu atau berlagak seperti orang yang telah mengetahui banyak hal. Begitu banyak pengetahuan yang dapat kita raih jika kita merendahkan hati seraya mengakui betapa alpanya kita. Kalian dan saya bersama memohon semoga mendapat tuntunan dan kesempatan untuk mengetahui.
Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi ummat Nabi (Saw); pria dan wanita. Tapi menuntut ilmu apa?ilmu yang bagaimana? Ingat, Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Robbahu” ; dia yang mengetahui jatidirinya, mengetahui Robbnya. Mengapa orang-orang zaman sekarang begitu terobsesinya dan habis-habisan mengejar ilmu dunia yang sangat formal dan kaku, sementara melupakan identitas dirinya?
Mereka lebih senang mengejar gelar dan berbagai sebutan dari orang lain yang belum tentu berkualitas lebih baik dari dirinya, dalam selembar kertas saja. Identitas material dapat dengan mudah menjadi ajang permainan ego dan setan, identitas material dapat dengan mudahnya diperjualbelikan dengan harga yang sangat murah. Kapan mereka menyisihkan waktu untuk mencari identitas Ilahiahnya?
Jelas saja selama ini mereka menjadi ‘hamba gelar’ karena mereka sudah dapatkan gelarnya, seperti sarjana?master?doktor?lawyer or lier?profesor?super-profesor?, dan lalu menjadikannya menjadi tuhan, lalu disembahlah itu. Mereka gila mencari ‘gelar’, mencari identitas dunia semata. Saya melihat seperti tiada habisnya tingkatan pendidikan formal yang ditawarkan dewasa ini.
Saksikan oleh kalian bagaimana akal pikiran manusia dapat merekayasa tingkatan-tingkatan yang begitu bervariasi yang dapat menipu orang lain. Mereka mampu membuat susunan itu. Lantas bagaimana dengan Alloh Azza Wa Jalla?! Tidakkah Alloh Mahamengetahui? Dia Maha Pencipta Dia mampu menciptakan apa saja yang dikehendakiNya.
Alloh.....Alloh dengan sangat mudahnya menyusun horizon ilmu yang tidak terbatas dalam dimensi yang indah yang terbentang dihadapan kita semua. Tetapi sebagian besar dari manusia zaman modern sudah buta untuk dapat menyaksikan itu – mereka berhati keras bagai batu.
Kenapa mereka tidak mengambil pelajaran dari ummat yang terdahulu? They are “no mind people” (lalu Mawlana Shaykh Nazim berbicara dan berdo’a dalam bahasa turki/siprus...)
Pria dan wanita dalam Islam wajib mencari pengetahuan – bahkan sampai negeri Shiin (cina) sebagaimana petunjuk dari Sayyidina Muhammad (Saw) – yaitu ilmu dan pengetahuan tentang jatidirinya, tentang identitas surgawinya. Sayyidina Muhammad (Saw) adalah personalitas mulia yang mengetahui jatidirinya hanya beberapa detik saja setelah dilahirkan, ketika bersujud dan mengucapkan ummatiii.. ummatii..”. Beliau (Saw) adalah manusia yang tersempurnakan, kreasi Alloh Azza wa Jalla yang paling sempurna.
Para awliya Alloh adalah juga hamba-hamba pilihanNya yang telah berhasil keluar dan merdeka dari himpitan ego melalui riyadhah (efforts) dan pengorbanan yang tidak sedikit sehingga dapat meraih kembali ‘gelar surgawi’nya didunia ini. Mereka kemudian menjadi cahaya dan pembimbing bagi yang berniat untuk melakukan hal sama. Melalui bimbingan awliya Alloh seseorang dapat secara bertahap berjalan dari horizon ke horizon lainnya untuk mengetahui hakikat identitasnya, yang selanjutnya akan menghantarkannya ke hadirat Rosul (Saw) – dan kemudian akan menyaksikan keagungan Alloh Azza wa Jalla secara utuh. Semua berjalan dalam proses – tidak perlu revolusi, tapi bertahap. Apa yang teraih terlalu cepat, akan sirna dalam waktu tidak kalah cepatnya...
Dalam tradisi Islam, dalam kondisi normal ketika seseorang mencapai usia empat puluh baik pria atau wanita, dia sudah dianggap mapan dan sempurna dalam proses kedewasaannya. Artinya, hal ini adalah untuk memotivasi diri kita untuk berupaya mencapai kesempurnaan diri menuju batas usia tersebut. Alloh telah menentukan batas. Setelah mencapai usia empat-puluh selayaknya mereka mampu berfungsi bagaikan pepohonan yang dapat memberikan manfaat bagi alam sekitarnya, dengan dahan, batang, daun untuk berteduh, atau buah-buah yang sedap disantap.
Berapa tahun Sayyidina Musa (as) dan Harun (as) mendapat ‘lampu hijau’ sejak mereka pertama kali bermunajat kepada Alloh untuk meruntuhkan Fir’aun? Empat puluh tahun. Lihat, mereka adalah anbiya Alloh. Berapa tahun penantian Nuh (as) sejak beliau dan orang-orang beriman mulai mendirikan perahunya itu? sambil menerima cercaan, ledekan dan makian dari orang-orang kafir saat itu? Empat puluh tahun.
Alloh senang dengan hambaNya yang gemar ber-riyadhah dalam mencapai titik kesempurnaan untuk mengetahui dirinya dan Dia. Kesempurnaan pada pandangan Alloh mempunyai jumlah yang tidak terbatas – dari tiap individu kesempurnaan yang bisa dicapai akan berbeda-beda. Kesemuanya saling melengkapi. Yang terpenting adalah bagaimana kita sebagai hamba Alloh dapat mengimplementasikan hikmah dari man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Robbahu.
Alhamdulillah, Shah Bahauddin Naqshband (Q) al Imamul Thariqoh selalu menekankan pentingnya asosiasi (suhbah), karena suhbah bagaikan pondasi yang kokoh untuk menggapai kesempurnaan.
Pendidikan dalam Islam sebagaimana diajarkan dan dicontohkan Sayyidina Muhammad (Saw) adalah sangat penting. Yaitu pendidikan yang membawa seseorang kepada rasa syukur dan rendah hati. Pendidikan mengenai jatidiri kita masing-masing, akan esensi mengapa kita dan semua yang ada di alam semesta diciptakan oleh Alloh Azza wa Jalla.....Sudahkah kalian mendapat jawaban untuk itu? Camkan ini.
Demi kemuliaan yang tertinggi dari manusia sempurna dan paling terhormat, Sayyidina Muhammad SAW – Al Fatiha. Wa min Allah at Tawfiq


