A n E n d l e s s S p a c e    AN ENDLESS SPACE : January 2005

Wednesday, January 26, 2005

Senjata andalan setan

Senjata Andalan Setan
Lefke-Siprus, 7 Juni 2004 – ba’da dzuhur
Mawlana Shaykh Muhammad Nazim Adil an Naqsbandi al Haqqani (Q)

Bismillahirrahmanirrahiim.
Destur Yaa Sayyidul Sulthonul Awliya, Madad.

Ingatlah saat ini kita berada dalam majelisnya Rasulullah, para awliya, serta para shodiqin & sholihin. Tanpa kehadiran Rosul SAW dan awliya dalam sebuah majelis, seorang syaikh hanyalah ‘orang biasa’. Demikian juga dengan majelisnya (asosiasi) tanpa kehadiran Rosul SAW dan awliya, bagaimana bisa dikatakan sebagai sebuah majelis Tuhan?

Rata – rata orang mendapatkan hambatan untuk mencapai target dalam kehidupannya. Kalian datang ke dergah ini barangkali bermodalkan nol-besar, tetapi beriringan dengan waktu berupaya untuk belajar dan mendapatkan sesuatu yang dapat dijadikan bekal dalam mencapai target kehidupan yang digariskan oleh Yang Mahakuasa.

Dalam usaha seseorang untuk memenuhi kebutuhan dunianya (fisik) sebenarnya tidak jauh berbeda dengan ciptaan Allah yang lain, yaitu hewan. Katakanlah ilmunya itu disebut ‘ilmu hewan’. Dalam sebuah komunitas hewan misalnya, mereka tidak bercakap satu sama lain, tetapi tiap dari mereka selalu fokus dan konsentrasi pada targetnya. Sehingga mereka bisa mempertahankan kelangsungan hidupnya (dengan memangsa). Tetapi ingat, fenomena hewan yang seperti itu sebenarnya dikendalikan oleh kekuatan Ilahiah. Aturan Allah atas segala sesuatu di alam semesta ini berjalan secara menerus. Baik disadari atau tidak, disukai ataupun tidak. Allah Mahamengetahui bagaimana semua itu berjalan.

‘Ilmu hewan’ juga melekat dalam setiap diri manusia yang secara alami digunakan untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan speciesnya sebagai manusia. Di zaman modern ini begitu berlimpahnya kita menyaksikan perkembangan ilmu yang ternyata hanya bersifat penampilan saja, tetapi toh kita sebagai manusia rela mengorbankan apapun demi obsesi untuk mendapatkannya. Lantas apa yang sebenarnya ingin diraih? Berbagai tingkat hirarki pendidikan modernpun begitu beragamnya sampai kita bisa bingung. Saya bertanya “mereka itu belajar apa disitu? memangnya sekolah sekolah itu memberikan ilmu apa”? fisika ? matematik? biologi? dunia? uang? dinar? dolar? apa? Apa lagi yang mereka tawarkan? Manfaatnya apa dalam kehidupan ini ?”

Ada juga orang- orang yang menyediakan waktunya untuk belajar kerajinan tangan. Saya menganjurkan kalian untuk mempunyai kemampuan handcrafting karena manfaatnya baik dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tapi ingat ! Ilmu-ilmu itu sebenarnya hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam konteks fisik saja. Apakah ilmu-ilmu itu dapat membekali kita sehingga dapat menjadi perisai dari ‘kerusakan ala setani’? Amiyama, begitulah ilmu umum disebut. Yang berfungsi sebagai gelar saja karena tidak mempunyai kekuatan pelindung yang hakiki.

Allah Ta’ala memuliakan kita (Wa laqad karamna yaa bani adam) untuk berkesempatan menulis, mencatat dan membaca (‘Iqra). Tetapi jangan kita campakkan kemuliaan ini untuk memelihara ego. Setiap dari kita telah diciptakanNya dalam format yang beragam; warna kulit, bentuk&ukuran tubuh, warna rambut, bahasa, sifat, dan lain sebagainya. Kesemua itu adalah kemuliaan yang telah diberikan Allah kepada kita (Bani adam). Tetapi kita lalai dan lupa diri akan hal tersebut ! Bagaimana kita membayangkan ketika Sayyidina Adam as diciptakanNya di Surga? Kita lupa diri ! Kita lupa identitas surgawi kita. Karena apa? Huuuuu....karena kita hanya memikirkan dan mementingkan penampilan fisik saja.

Alhamdullilah kita bersyukur bahwa Allah mengutus Sayyidina Muhammad SAW untuk menjadi pengingat dan penuntun kita untuk kembali mengenal identitas yang sesungguhnya dalam pandangan Allah, dalam pandangan Sayyidina Muhammad SAW, sebagaimana ketika Sayyidina Adam as diciptakan dengan kemuliaan yang begitu tinggi. Sayyidina Muhammad SAW mengajak kita untuk sadar akan hal itu, agar kita mampu mendekatkan diri ke Allah Ta’ala. Dan Allah Ta’ala dekat dengan kita. Syukr yaa Robbi, Dia yang memberi kesempatan pada kita untuk menjadi umat Sayyidina Muhammad SAW. Camkan ini!

(Sambil tersenyum) Janganlah kalian menjadi pada umumnya manusia di zaman sekarang ini yang mengabaikan ilmu Allah dan ilmu Rosul SAW.

Kelak dihari perhitungan (Yaumul hisaab) Allah akan menanyakan kita satu-per-satu apa saja yang dilakukan di dunia untuk menambah pengetahuan (‘ilm) tentang Dia (Hu). Apa yang kamu ketahui tentang Aku? Apakah kalian mengambil pengetahuan-pengetahuan itu untuk sujud padaKu? menghampiri hadiratKu? bersyukur atas anugerahKu?jawab!

Yaa ayyuhannaas, janganlah tertipu oleh keindahan semu dunia! Semua akan lenyap. Hanya Satu Yang Mahakekal. Dunia diciptakan sebagai senjata setan untuk menipu kita; senjata ampuh untuk menjerumuskan orang-orang lalai, ragu dan sakit mental menuju jurang kenistaan.

Berhati-hatilah kalian dengan berbagai sebutan dunia! Haq !
(Syaikh Nazim diam sejenak dengan ekspresi wajah yang serius)

Semoga Allah mengampuni saya, dan merahmati kalian semua.
Demi kemuliaan yang tertinggi dari manusia sempurna dan paling terhormat, Sayyidina Muhammad SAW – Al Fatiha

Wa min Allah at Tawfiq

<< Home

Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Robbahu

Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Robbahu
Mawlana Shaykh Sayyid Muhammad Nazim Adil An Naqshbandi (Q)
Dergah Lefke – Siprus
Ba’da Zhuhur , Kamis 17 Juni 2004


Bismillahirrahmanirrahiim – Laa Hawla wa laa quwwata
Destur Yaa Sayyidi, Destur – Madad Yaa Rijalulloh

Seseorang yang melupakan, akan dilupakan....Setiap individu sesungguhnya membutuhkan nasehat. Setiap individu harus berupaya untuk mengetahui dan mempelajari ilmu Alloh Azza Wa Jalla.

Kita semua tidak mengetahui apa-apa; saya tidak lebih berpengetahuan dari kalian. Alloh Al ‘Aliimu, Dia Yang Mahamengetahui, Mahaluas PengetahuanNya. Kita bahkan tidak tahu apa yang sebaiknya kita ketahui, tapi Rosululloh (Saw) mengetahui. Dikarenakan menyadari kita tidak tahu apa-apa maka kita bermohon pada Alloh untuk mendapatkan petunjuk mengenai apa yang selayaknya diketahui. Tiap orang mempunyai kapasitas sendiri-sendiri untuk mendapatkan pengetahuan. Kebutuhan setiap individu tidak mungkin sama. Begitulah Bani Adam diciptakan dalam takarannya, unik, Dia Alloh Mahapencipta –He is The Creator, Al Khaliq.

Berapapun besar ilmu yang dimiliki oleh seluruh yang ada di bumi ini bandingannya bagaikan atom di tengah samudra yang luas, jika dibandingkan dengan ilmu yang dimiliki oleh Rosululloh (Saw). Jangan kita berlagak tahu atau berlagak seperti orang yang telah mengetahui banyak hal. Begitu banyak pengetahuan yang dapat kita raih jika kita merendahkan hati seraya mengakui betapa alpanya kita. Kalian dan saya bersama memohon semoga mendapat tuntunan dan kesempatan untuk mengetahui.

Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi ummat Nabi (Saw); pria dan wanita. Tapi menuntut ilmu apa?ilmu yang bagaimana? Ingat, Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Robbahu” ; dia yang mengetahui jatidirinya, mengetahui Robbnya. Mengapa orang-orang zaman sekarang begitu terobsesinya dan habis-habisan mengejar ilmu dunia yang sangat formal dan kaku, sementara melupakan identitas dirinya?

Mereka lebih senang mengejar gelar dan berbagai sebutan dari orang lain yang belum tentu berkualitas lebih baik dari dirinya, dalam selembar kertas saja. Identitas material dapat dengan mudah menjadi ajang permainan ego dan setan, identitas material dapat dengan mudahnya diperjualbelikan dengan harga yang sangat murah. Kapan mereka menyisihkan waktu untuk mencari identitas Ilahiahnya?

Jelas saja selama ini mereka menjadi ‘hamba gelar’ karena mereka sudah dapatkan gelarnya, seperti sarjana?master?doktor?lawyer or lier?profesor?super-profesor?, dan lalu menjadikannya menjadi tuhan, lalu disembahlah itu. Mereka gila mencari ‘gelar’, mencari identitas dunia semata. Saya melihat seperti tiada habisnya tingkatan pendidikan formal yang ditawarkan dewasa ini.

Saksikan oleh kalian bagaimana akal pikiran manusia dapat merekayasa tingkatan-tingkatan yang begitu bervariasi yang dapat menipu orang lain. Mereka mampu membuat susunan itu. Lantas bagaimana dengan Alloh Azza Wa Jalla?! Tidakkah Alloh Mahamengetahui? Dia Maha Pencipta Dia mampu menciptakan apa saja yang dikehendakiNya.

Alloh.....Alloh dengan sangat mudahnya menyusun horizon ilmu yang tidak terbatas dalam dimensi yang indah yang terbentang dihadapan kita semua. Tetapi sebagian besar dari manusia zaman modern sudah buta untuk dapat menyaksikan itu – mereka berhati keras bagai batu.

Kenapa mereka tidak mengambil pelajaran dari ummat yang terdahulu? They are “no mind people” (lalu Mawlana Shaykh Nazim berbicara dan berdo’a dalam bahasa turki/siprus...)

Pria dan wanita dalam Islam wajib mencari pengetahuan – bahkan sampai negeri Shiin (cina) sebagaimana petunjuk dari Sayyidina Muhammad (Saw) – yaitu ilmu dan pengetahuan tentang jatidirinya, tentang identitas surgawinya. Sayyidina Muhammad (Saw) adalah personalitas mulia yang mengetahui jatidirinya hanya beberapa detik saja setelah dilahirkan, ketika bersujud dan mengucapkan ummatiii.. ummatii..”. Beliau (Saw) adalah manusia yang tersempurnakan, kreasi Alloh Azza wa Jalla yang paling sempurna.

Para awliya Alloh adalah juga hamba-hamba pilihanNya yang telah berhasil keluar dan merdeka dari himpitan ego melalui riyadhah (efforts) dan pengorbanan yang tidak sedikit sehingga dapat meraih kembali ‘gelar surgawi’nya didunia ini. Mereka kemudian menjadi cahaya dan pembimbing bagi yang berniat untuk melakukan hal sama. Melalui bimbingan awliya Alloh seseorang dapat secara bertahap berjalan dari horizon ke horizon lainnya untuk mengetahui hakikat identitasnya, yang selanjutnya akan menghantarkannya ke hadirat Rosul (Saw) – dan kemudian akan menyaksikan keagungan Alloh Azza wa Jalla secara utuh. Semua berjalan dalam proses – tidak perlu revolusi, tapi bertahap. Apa yang teraih terlalu cepat, akan sirna dalam waktu tidak kalah cepatnya...

Dalam tradisi Islam, dalam kondisi normal ketika seseorang mencapai usia empat puluh baik pria atau wanita, dia sudah dianggap mapan dan sempurna dalam proses kedewasaannya. Artinya, hal ini adalah untuk memotivasi diri kita untuk berupaya mencapai kesempurnaan diri menuju batas usia tersebut. Alloh telah menentukan batas. Setelah mencapai usia empat-puluh selayaknya mereka mampu berfungsi bagaikan pepohonan yang dapat memberikan manfaat bagi alam sekitarnya, dengan dahan, batang, daun untuk berteduh, atau buah-buah yang sedap disantap.

Berapa tahun Sayyidina Musa (as) dan Harun (as) mendapat ‘lampu hijau’ sejak mereka pertama kali bermunajat kepada Alloh untuk meruntuhkan Fir’aun? Empat puluh tahun. Lihat, mereka adalah anbiya Alloh. Berapa tahun penantian Nuh (as) sejak beliau dan orang-orang beriman mulai mendirikan perahunya itu? sambil menerima cercaan, ledekan dan makian dari orang-orang kafir saat itu? Empat puluh tahun.

Alloh senang dengan hambaNya yang gemar ber-riyadhah dalam mencapai titik kesempurnaan untuk mengetahui dirinya dan Dia. Kesempurnaan pada pandangan Alloh mempunyai jumlah yang tidak terbatas – dari tiap individu kesempurnaan yang bisa dicapai akan berbeda-beda. Kesemuanya saling melengkapi. Yang terpenting adalah bagaimana kita sebagai hamba Alloh dapat mengimplementasikan hikmah dari man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Robbahu.

Alhamdulillah, Shah Bahauddin Naqshband (Q) al Imamul Thariqoh selalu menekankan pentingnya asosiasi (suhbah), karena suhbah bagaikan pondasi yang kokoh untuk menggapai kesempurnaan.

Pendidikan dalam Islam sebagaimana diajarkan dan dicontohkan Sayyidina Muhammad (Saw) adalah sangat penting. Yaitu pendidikan yang membawa seseorang kepada rasa syukur dan rendah hati. Pendidikan mengenai jatidiri kita masing-masing, akan esensi mengapa kita dan semua yang ada di alam semesta diciptakan oleh Alloh Azza wa Jalla.....Sudahkah kalian mendapat jawaban untuk itu? Camkan ini.

Demi kemuliaan yang tertinggi dari manusia sempurna dan paling terhormat, Sayyidina Muhammad SAW – Al Fatiha. Wa min Allah at Tawfiq

<< Home