A n E n d l e s s S p a c e    AN ENDLESS SPACE : August 2004

Tuesday, August 03, 2004

Mercy Oceans ( Samudera Ampunan )

Muslim Sejati
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
dalam Mercy Oceans (Book Two)


Fondasi di atas mana iman dibangun, atau dengan kata lain, ruh dari iman, Ruh-ul Iimaan, adalah untuk memikul apa pun yang tidak kalian senangi, dan untuk bersabar atas apa pun yang tidak kalian suka.Karena, sebagaimana ada demikian banyak manusia di atas muka bumi ini, sedemikian banyak itu pula terdapat berbagai sifat, karakter, dan kemampuan mereka masing-masing, dan kalian mesti memikulnya semua.

Kapan saja kalian memikul beban orang lain, kalian akan memperoleh lebih banyak tenaga, lebih banyak kekuatan bagi iman kalian. Kekuatan sejati dari Iman adalah untuk tetap istiqomah di hadapan berbagai
fitnah dan cobaan.

Pada zaman kita sekarang ini, tanda dari akhlaq yang mulia, derajat tertinggi dari Jihad-ul Akbar, Perjuangan tertinggi, adalah untuk memikul karakter buruk orang lain dan mentoleransi mereka. Kita tidak diperintah untuk menolak orang, tapi, untuk membuat mereka senang dan bahagia. Kita tengah hidup pada suatu zaman saat mana orang dapat mengatakan apa saja dan apa pun; kalian mesti bersabar dengan
mereka, dan memaafkan mereka,selalu tanpa bertengkar atau berkelahi.

Kalian mesti tahu bahwa orang-orang tengah sakit dengan ego mereka. Jika kalian mengklaim diri kalian sebagai dokter, kalian harus memaafkan mereka. Jika kalian berada di jalan para Nabi, kalian mesti
menolong mereka dan toleran terhadap mereka. Ini adalah tingkatan tertinggi dari akhlaq dan adab yang mulia.

Kalian tidak boleh melupakan kebaikan yang telah dilakukan pada diri kalian. Jika seseorang melakukan suatu kebaikan pada diri kalian, dan kemudian karena sesuatu hal yang ia katakan atau ia perbuat, kalian menjadi tidak senang atas dirinya, maka ketidak senangan diri kalian padanya, atau terlupanya diri kalian atas perbuatan baiknya bagi kalian, adalah suatu sifat yang tercela.

Seperti ketika kalian memberikan sekerat daging pada kucing seratus kali tapi ketika kalian membiarkannya (lapar) satu kali saja, kucing itu akan mengeluh dan
protes kepada Allah, berkata, "Ia telah membiarkanku lapar!". Adalah akhlaq yang mulia untuk tidak bertengkar dengan orang lain, bahkan seandainya kalian tahu bahwa kalian berada dalam kebenaran. Bertengkar memadamkan cahaya iman.

Siapakah Muslim sejati? Ia yang tidak menyakiti siapa pun, baik dengan tangannya, maupun dengan lidahnya. Orang-orang selamat dari dirinya. Ini adalah pintu gerbang yang terbuka lebar menuju Islam, dan ia terbuka bagi seluruh orang, seluruh manusia.

Bihurmati habib, al Fatihah
posted by Mevlana as Sufi at 11:07 PM 0 comments

'Bagaimana mengetahui Guru Ruhani Sejati',
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani


Tanda bahwa seseorang adalah Guru/Mursyid Spiritual yang sejati adalah bahwa kalian dapat mempercayainya Kalbu kalian memberikan sinyal akan hal itu, dan kalbu tak pernah salah. Ketika seseorang duduk bersama seorang Mursyid sejati, ia akan merasakan kedamaian, ketenangan dan kepuasan, serta amat bahagia. Inilah tandanya. Orang itu akan melupakan seluruh masalah-masalahnya dalam hadirat Sang Mursyid, dan merasa bagaikan seekor ikan di dalam samudera.

Mengapa orang-orang pergi ke pantai tepi lautan? Karena ketika mereka memasuki air, mereka menemukan ketenangan dan kenikmatan. Ruh pun menginginkan suatu
samudera baginya. Dalam kehidupan kita ini, kita membutuhkan seseorang yang bagai sebuah samudera, sehingga kalbu-kalbu kita dapat merasakan kenikmatan dan puas dengan orang tersebut.

Kita memiliki begitu banyak sifat-sifat tercela.Kita membutuhkan seseorang untuk memberikan pada kita sifat-sifat mulia; dan sifat-sifat mulia ini tak dapat muncul hanya melalui membaca buku-buku, melain kan akan muncul lewat sahabat atau teman seseorang.
Dengan melihat siapa teman seseorang tertentu, kita akan tahu karakter orang tersebut. Sifat yang buruk adalah menular, seperti suatu penyakit.

Karena itulah, Allah Ta'ala mengutus para Nabi-Nya sebagai obat. Para Nabi -semoga kedamaian atas mereka bukanlah Malaikat; mereka manusia juga, dan mengetahui segala sesuatu akan sifat dasar manusia. Siapa saja yang duduk bersama mereka akan menyerap
sifat-sifat dan akhlaq yang mulia.

Bihurmati habib, al Fatihah
posted by Mevlana as Sufi at 11:07 PM 0 comments

Rajab tara al-‘ajab
Syaykh Muhammad Hisham Kabbani (q)
Sohbet, 22 September 2001


Kamu merencanakan sesuatu dan Allah merencanakan sesuatu yang lain pula. Hua Muqallib al-qulub, hua Allah, Hati manusia berada dalam genggaman Allah. Dia mengubahnya sesuai keinginan-Nya. Allah adalah al-Mudabbir, Dialah sang Perencana. Apa yang Allah rencanakan akan terjadi. Oleh sebab itu lakukanlah tahmid (alhamdulillah), tahlil (la ilaha illa-Allah) dan istighfar (astaghfirullah) sebanyak-banyaknya.

Apa yang akan terjadi sangat dahsyat sehingga para wali berusaha untuk menyembunyikan diri mereka di belakang (atau di bawah) tirai yang besar dan di tempat perlindungan. Naungan surgawi. Mereka bertanya-tanya hukuman macam apa yang akan dijatuh kan kepada dunia ini, disebabkan oleh ketidakpatuhan dan dosa-dosa serta tindakan dan prilaku yang buruk dari umat manusia. Tidak ada lagi adab, hormat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Korupsi di mana-mana. Muslim tidak mengetahui jati dirinya.

Muslim berusaha untuk mengikuti jejak menirukan apa yang disebut dengan peradaban. Dengan dalih peradaban itu muslim kehilangan identitasnya. Mereka menjadi (tenggelam) dalam dunia materialisme, tidak ada lagi cinta terhadap Tuhan mereka kecuali hanya di lidah saja. Tidak ada lagi hati nurani. Tidak ada cinta di hati mereka. Beberapa di antara mereka bertindak dengan perilaku yang buruk menjadi liar, membunuh orang-orang tak berdosa, di mana-mana.

Yang lainnya begitu kebingungan dengan pemahaman mereka akan Islam dan tiada lagi yang tersisa dari Islam bagi mereka kecuali dasi dan jaket atau janggut kecil seperti Iblis di bagian tengah dagu mereka, atau janggut tipis di seputar dagu naik dan turun dari tiap sisinya. Mereka lebih suka memakai topi lusuh di kepala dari pada meletakkan mahkota Islam, yang merupakan tanda keislaman, yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah saw, yaitu turban. Seolah-olah mereka tidak mewakili Islam.

Ketika kalian melihat mereka duduk di samping para pendeta Yahudi dan Kristen, yaitu rabbi dan pendeta, kalian lihat mereka mengenakan jubah yang lengkap. Tetapi Muslim tampak seperti yang kehilangan cahaya di raut mukanya, dari cara mereka berpakaian, dari cara mereka mewakili Islam di mata masyarakat. Jika Islam berada di tangan mereka maka Islam tidak berdosa.

Para wali menghindari pembalasan Allah sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Para wali berada di dalam kubahku.” Hadits ini merujuk kepada hari kiamat, ketika para wali berlari menuju kubah spiritual untuk melindungi diri mereka dan para pengikutnya. Bulan ini adalah Rajab dan para wali tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka hanya mengisi waktunya dengan shalat dan berdo’a memohon kepada Allah agar dimudahkan dan hukuman-Nya diringankan bagi umat manusia. Ramadhan, bulan yang penuh rahmat dan ibadah akan datang.

Cahaya yang timbul dari pembacaan (kalimat-kalimat dzikir) malam ini, terutama bila kita menyebut Rasulullah saw, berasal dari Haqiqat an-Nabi saw, hakikat dari Nabi Muhammad saw dalam Hadirat Ilahi, dari hati Nabi Muhammad saw yang dilukiskan sebagai Yaa Siin yang pada hakikatnya adalah Yaa dan Siin, yang merupakan jantungnya Al-Quran. Dari realitas itu maka terbukalah hati orang-orang yang berdzikir yang semuanya merupakan pengikut setia dari Sayyidina Muhammad saw.

Semoga Allah mengampuni kita dan menjaga kita tetap berada dalam rambu-rambu Islam dan Sunnah dan semoga Allah melindungi kita dan orang-orang yang tulus dari apa yang akan datang. Sebagaimana yang telah dilukiskan bahwa seorang anak berusia 7 tahun akan menjadi putih dari apa yang akan datang ke hadapan kita. Semoga Allah melindungi kita. Demi Rasulullah saw yang tercinta.

Bihurmatil habib. Al- Fatiha
posted by Mevlana as Sufi at 11:07 PM 0 comments

Lima Lata'if Posisi Hati
Maulana Syaikh Hisyam Kabbani
NAQSBANDI CENTER MI 2003


Rahasia dari Thariqat Naqsbandi adalah Lima Lata'if Posisi Hati. Ada 5 tingkatan posisi hati ( The Stations of the Heart)

1. Tingkat pertama Maqamal Hati ( Qalb ) : Latifat al Qalb (Ilmiya : all knowledge, Ya Sayed : solihin )

Merupakan tingkatan masuknya ilmu pengetahuan ilmiah Setan bisa masuk dalam posisi ini, dan mengerti apa yang kalian akan lakukan. Inilah sebabnya mengapa kalian kadang2 memiliki pikiran buruk. Kalian terganggu ketika sedang sholat, kalian merasa dicurangi ketika bekerja dan merasa curiga.

Maqam ini dibawah otoritas Nabi Adam as karena mencerminkan aspek fisik dari hati. Warna cahaya dari hati adalah kuning, sense indra : pendengaran

2.Tingkat kedua Posisi dari Rahasia (sirr) :
Latifat as-Sirr
( Ruhiyya : spirituality, Hearing Seeing, Ya Sahib )

Pada posisi ini terdapat perbedaan yang nyata antara sadar dan bawah sadar. Merupakan posisi Ruhiyah atau spiritual. Indra keenam pada posisi inia dapat mengenali informasi dan Ramalan vision spiritual, dimana Allah memberikan rahasia kepada setiap individu umat manusia . Penyaksian spiritual vision dengan pendengaran dan penglihatan / penyaksian.

Dibawah otoritas Nabi Nuh as, karena merupakan kapal penyelamat dari Lautan Kegelapan dan penyelamat dari banjir ketak pedulian dan kebodohan.Cahaya hati dalam posisi ini adalah Merah. Para suhada dan Guru-guru dari 40 tarikat lain hanya dapat memasuki hingga posisi kedua ini, sementara guru2 tarikat Naqsbandy bisa lebih jauh mencapai posisi ketiga.

3.Tingkat ketiga : Rahasia dari Rahasia (sirr as sirr) : Latifat Sirr as Sirr (Mithaliya : Perfecting, Balanced being, Ya Sadiq )

Tingkat kesempurnaan Spiritual dari kepastian, kehalusan hati. Tingkat para siddiqiun. Dibawah otoritas Nabi Ibrahim as dan Nabi Musa as. Nabi Ibrahim adalah symbol Kalifah di Bumi dan Musa as diberikan kelebihan dapat mendengar dan berbicara dengan Allah, dua atribut yang penting dalam mengenal ilmu pengetahuan Allah. Warna cahaya hati dari rahasia dari rahasia adalah Putih. Gambaran sempurna dalam posisi ini adalah pencapaian kesempurnaan Rasulullah saw merupakan gambaran terbaik kesempurnaan ciptaan Allah.

4. Tingkat keempat Yang Tersembunyi (Khafa): Latifat al Khafa (Jismiyya, Insan Kamil, Ya Rasul)

Kesempurnaan Fisik dari Insan Kamil, dibawah otoritas Nabi Isa as , karena hubungannya dengan Pengetahuan Tersembunyi, ia mewakili pemahaman Spiritual . Insan Kamil adalah ketika kesempurnaan jiwa tercermin dalam penampilan fisik dan menjadi image of perfection Muhammadiun. Hanya Rasulullah saw saja yang dapat memasuki posisi ini

5. Tingkat kelima Yang Paling Tersembunyi (Ahkfa) : Latifat al Ahkfa (Dhatiyaa :Essence, Ya Allah, Huwa)

Posisi dari Kehadiran, Hakikat. Tingkat ini hanya diketahui oleh Allah saja. Allah Huwa. Merupakan realitas Nabi Muhammad saw, karena hanya Rasulullah saw yang memiliki posisi diatas semua Nabi. Dalam Isra Miraj Nabi saw menyaksikan Kehadiran Allah swt. Direpresentasikan dalam Kalimah La ilaha illallah Muhammadur rasul Allah. Colour : Cahaya Hati dari Yang Paling Tersembunyi adalah Hitam. Allah memiliki rahasia penciptaan dalam genggamannya, tak ada seorangpun tahu kecuali Allah.

DOA UNTUK HATI

Bismillahir Rohmanir Rohim Qila huwa Adam (as) qola Adam bihi u'niluhu ag'la marotib Qila huwa Nuhun (as) qola Nuhun bihi yanju minal ghoroqi wayah liku man kholafahu minal ahli wal aqorii

Qila huwa Ibrahim (as) qola huwa Ibrahim bihi taqumu hujattuhu ala abba dil ast nam wal kawaakeeb. Qila huwa Musa (as) qola Musa akhuhu walakin haza habibun wa Musa kalimun wamu khotib

Qila huwa Isa (as) qola Isa yubashiru rubihi wahuwa baina Yadai nubuwa tihi kal hajib. Qila faman haal habibun karimul lazi albastahu hul latal waqor. Watau watahu bitijanil mahabati wal iftihor, wana sharta ala rak sihila'sho ib. Qola huwa nabiyun istahor tuhumin Luai niNgolib. Ya mutu abu hu wa ummuhu wa yakfuluhu shum ma um'm hush qiqu Abu Tholib.

Bihurmati habib, al Fatihah
posted by Mevlana as Sufi at 11:07 PM 0 comments

Syaikh Abdul Qadir Jailani
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
dalam Mercy Oceans (Book Two)


Bila Syaikh Abdul Qadir Jailani menyampaikan kajian pada muridnya, pribadinya kadang2 terbungkus jubah nubuat kenabian. Bila ia dalam keadaan seperti itu, Allah seolah2 bertajali/bermanifestasi melalui dirinya. Bagi mereka yang belum mencapai maqam yang cukup, kajiannya mungkin terasa mengejut kan.

Tidak semua pengikut Syaikh Abdul Qadir Jailani berada dalam tahap yang memungkinkan menerima ajarannya, sehingga beliau mengatakan,"Penjelasan ini membantu kalian untuk mengerti ayat ini pada tahap sesuai maqamnya, namun makna sesungguhnya bukanlah untukmu. Engkau tak akan mengerti apa yang saya katakan. Hanya seorang yang bersembunyi dibalik pilar sambil menutupi diri dengan selimut yang mengerti kata-kataku, dan kata2 tsb saya tujukan pada orang itu, bukan kepada kalian semua"

"Janganlah menganggap dirimu sebagai pihak yang sesuai untuk menerima setiap hikmah yang bernilai tinggi. Bila engkau mendengar sesuatu yg saya katakan dan kau mengerti maknanya, itu baik bagimu. Gunakan itu sebaik2nya dalam perjalanan hidupmu, namun bila engkau mendengar sesuatu yang tidak engkau mengerti, hati-hatilah untuk tidak membuang atau menolaknya.

Bila hal itu terjadi hendaklah engkau bersabar dan berendah hati untuk menenrima hal itu. Karena mungkin itu ditujukan untuk orang lain yang hadir, seseorang yg telah mencapai level pemahaman yang lebih tinggi dari yang telah engkau capai".

Kemudian Grandsyaikh melanjutkan kepada Ayat-ayat yang lain, bahkan yg berlevel lebih dalam dari makna Ayat Al-Quran itu tadi dan berkata,"Kini, bahkan diluar level orang yang berada dibalik pilar itu tadi". Kemudian Syaikh Jailani berkata,"Hai anak2, bila saya mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan Syari'ah, hendaknya engkau membabat diriku dengan pedangmu".

Apa yang dimaksud Syaikh Abdul Qadir Jailani dengan bertentangan dengan Shari'ah", sesungguhnya berarti: bertentangan dengan pengertianmu mengenai Shari'ah". Karena tidak semua orang memiliki level pemahaman yang sama tentang Shari'ah.

Dalam ceramah berikutnya ketika Syaikh Jailani dalam keadaan tajali, ia mengatakan sesuatu yang mengejut kan dan membingungkan murid2nya, hingga kemudian untuk memenuhi perintah Syaikh mereka, para murid menghunus pedang dan mengayunkan pedang kearah Syaikh Jailani, tetapi pedang mereka seperti menembus tubuh Syaikh dan seperti memotong udara.

Bila seseorang mencapai maqam Ke-Esa-an, dia meninggalkan kehadiran dirinya dan masuk kedalam kehadirat Allah, sehingga ke Esa-an Agung itu mengendalikan dia, engkau mungkin melihat dia sebagai Syaikh Jailani, tetapi dia bukan Jailani sesungguhnya.

Kita semua tertatih-tatih menanggung beban kehidupan namun kita menanggung beban itu karena kita tidak mau melepaskan atau meletakkannya kembali. Beberapa orang bodoh tidak saja puas dengan menanggung bebannya sendiri, tetapi juga iri akan beban orang lain. Akibat dari hal ini adalah, bahwa selama engkau membawa beban ego, akan banyak sekali pihak2 yang menyerangmu, dan engkau akan ditembus oleh anak panah dan tombak egomu dan ditebas pedang kedengkian dan kebencian.

Pencapaian gerbang Ke-Esa-an bersama Allah adalah satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari penderitaan dunia. Dan semua Nabi menyampaikan metoda untuk mencapai sasaran ini. Namun hambatan manusia sangatlah besar, dan semakin besar kepemilik an kekayaan dunia seseorang , makin besar pula genggaman keduniaan orang tersebut.

Bihurmati habib, al Fatihah
posted by Mevlana as Sufi at 11:07 PM 0 comments

Bulan Rajab, Berdagang Selagi Bisa
Syaykh Muhammad Hisham Kabbani (q)
Sohbet 20 September 2001


Berdagang itu penting. Ketika ekonomi sedang booming, maka perdagangan menjadi penting. Sebalik nya ketika ekonomi hancur maka tak ada lagi yang tersisa. Jika kalian tidak berdagang pada saat ekonomi sedang kuat maka kalian akan rugi. Oleh sebab itu, Saya memberi dorongan atas nama Allah dan melalui berkah dari Sayyidina Muhammad saw dan dengan izin dari para wali dan izin Grandsyaikh dan dengan izin dari Sayyidina Mahdi as, agar kita senantiasa kokoh dalam berdagang ketika waktunya tersedia. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk berdagang dengan Allah. Saya tidak berbicara tentang perdagangan dalam konteks duniawi.

Yang saya maksud adalah untuk akhirat, hari kemudian. Ketika tanda-tanda hari Kiamat sudah jelas terlihat, pada saat itu kita tidak boleh mundur dan berkata, “Kita tidak punya banyak waktu untuk berdagang.”

Sekarang adalah bulan Rajab. Bulan ini dimulai dari hari selasa yang lalu dan telah disebutkan dalam banyak tradisi bahwa di bulan Rajab, kalian akan melihat banyak hal-hal yang mengagumkan (Rajab tara al-‘ajab); sebaliknya di bulan Syawwal kalian akan melihat hal-hal yang mengerikan. (Syawwal tara al-ahwaal).

Di bulan Rajab kalian akan melihat hal yang paling aneh—yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Seluruh wali menanti-nanti apa yang akan terjadi pada masa itu. Rajab adalah salah satu bulan untuk melakukan khalwat. Para Wali melakukan khalwat sejak awal Rajab hingga hari ke-15 di bulan Sya’ban. Secara spiritual mereka dalam keadaan menyepi meskipun kalian dapat melihatnya ikut serta dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana biasanya. Mereka telah menanti selama beribu-ribu tahun (untuk peristiwa Hari Kiamat).

Selalu dikatakan bahwa Ramadan adalah bulan yang penuh kedamaian sebab Ramadan adalah bulannya ibadah. Kemudian di bulan Syawwal kalian akan melihat bencana dan kesengsaraan. Para Wali menunggu apakah tahun ini merupakan tahun yang dimaksud sebelum munculnya Imam Mahdi as. Memang belum ada tanda bagi kemunculan Imam Mahdi as, namun hal ini sudah sangat dekat. Sudah waktunya untuk berdagang dan jika waktu untuk berdagang ini lewat begitu saja tanpa melakukan perdagangan maka kita akan rugi.

Di bulan ini Allah swt telah membuka tajalli (manifestasi, perwujudan) dari (Asma Allah) al Qahhaar, Yang Maha Menguasai. Kita mengharapkan sesuatu dari tajalli ini. Allah swt yuhmil wa laa yuhmil, Dia menahan Pembalasan Ilahiah tetapi Allah tidak pernah meninggalkan sesuatu yang pantas dihukum tanpa akhirnya memberlakukan Keadilan Ilahiah.

Dunia ini berada di hari-hari terakhirnya. Kini pembunuhan terjadi di mana-mana, kebohongan merajalela, penyimpangan seksual di mana-mana, riba di mana-mana, korupsi di mana-mana. Tiada satu tempat pun di dunia ini yang bersih. Jadi waktunya telah tiba.

Intidhar al faraji ‘ibada. Menunggu sebuah pembukaan dari Allah adalah ibadah. Karena kita menunggu dibukakannya pintu rahmat, maka itu dianggap sebagai suatu ibadah. Jadi tunggulah untuk suatu pembukaan dengan tetap menjalankan ibadah. Jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri kita dari kesulitan yang dahsyat yang diharapkan akan segera muncul, sebelum kedatangan Imam Mahdi as, adalah dengan mengisi waktu kita dengan ibadah.

Bihurmatil habib. Al- Fatiha
posted by Mevlana as Sufi at 11:07 PM 0 comments

Nasihat untuk Suksesnya Sebuah Perkawinan
Maulana Syaikh Nazhim Adil al Haqqani
Mercy Oceans Towards the Divine Presence (Book One)


Sebuah Khutbah Nikah

Pernikahan adalah salah satu perintah Tuhan, dan ini merupakan jalan para Anbiya, termasuk manusia pertama, Adam as dan wanita pertama, Hawa. Mereka melangsungkan pernikahannya di Surga, oleh sebab itu Allah memberikan suatu Wewangian Surgawi kepada pasangan yang melangsungkan pernikahannya agar mereka bahagia. Tetapi mereka harus menjaga sendiri wewangian itu sepanjang hidupnya,ini sangat penting

Dan sekarang kita memohon kepada Allah untuk melestarikan wangi tadi di antara mereka berdua sepanjang jalan mereka, sepanjang hidup mereka di dunia, dan kita berharap agar mereka akan bersatu di Akhirat kelak, di kehidupan yang kekal. Itulah makna dari pelaksanaan upacara pernikahan bagi satu pasangan baru.

Kita bersyukur kepada Tuhan kita, yang menciptakan pria dan wanita, dan mengaruniai mereka dari Cinta Ilahi-Nya. Jika Dia tidak menganugerahkan Cinta Ilahi-Nya, tak seorang pun yang akan menemukan jodohnya. Dan Dia memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menjalani kehidupan yang mulia, dengan menjadi kan orang saling berpasangan, bukannya satu wanita untuk semua pria atau seorang pria bagi seluruh wanita.

Merupakan suatu kehormatan bagi wanita, bahwa seorang wanita hanya diperuntukkan bagi seorang pria dan sebaliknya seorang pria hanya untuk seorang wanita. Itu merupakan suatu kemuliaan bagi mereka di kehidupan ini. Siapa pun yang melanggar aturan tersebut, Allah tidak akan menyebut mereka sebagai orang yang terhormat. Oleh sebab itu kita memegang teguh upacara yang mulia ini, dan kita memohon kepada Allah agar mereka berhasil dalam menjalani kehidupan mereka bersama.

Kamu hanya boleh memandang suamimu. Siapakah orang yang paling tampan di dunia? Jika kamu ditanya, kamu harus menjawab bahwa suami saya adalah orang yang paling tampan. Begitu pula dengan kamu (pria), siapakah orang tercantik di London? Istrimu. Jika masing-masing melihat pada pasangannya, takkan ada lagi masalah, baik di London, di Inggris, di Turki, di Siprus, di Timur dan di Barat.

Ini adalah nasihat yang paling penting bagi pasangan yang baru menikah. Saya mendengar tentang banyak pasangan yang mendaftarkan diri melalui petugas pendaftaran (KUA-red). Setelah tiga hari, setelah tiga minggu, setelah tiga bulan, setelah tiga tahun, keduanya menjalani jalan yang berbeda, karena mereka melihat (pada orang lain), yang wanita melihat pria lain; yang pria melihat wanita lain. Kalau demikian, pernikahan mereka tidak akan berusia panjang.

Sekarang kalian tengah membangun suatu ‘gedung’ baru, melangsungkan sebuah pernikahan, dan kita memohon kepada Allah untuk membuat kalian saling mencintai satu sama lain. Bawakan dia beberapa perhiasan (emas), seperti ini, seperti itu, sehingga dia akan senang denganmu. Lakukanlah selalu; ketika istrimu marah kepadamu, bawakanlah sesuatu yang disukainya.

Kalian harus tahu, kalian semua: Jangan menyakiti hati istri kalian, jangan menyakiti hati istri kalian! Buatlah (suasana) agar mereka senantiasa bahagia dengan kalian; kalau tidak demikian, ketika kalian datang, mereka akan pergi. Kalian mengerti? Jagalah agar mereka tetap bahagia. Dengan demikan mereka pun akan berusaha membuat kalian bahagia.

Wanita sangat beruntung, di sini dan di Akhirat nanti. Apa alasannya? Karena takkan ada pertanyaan bagi mereka. Pada Hari Kebangkitan, setiap wanita akan datang bersama suaminya dan ketika si suami masuk Surga, istrinya pun akan masuk bersamanya. Tak ada pertanyaan bagi mereka. Tetapi kalian—para pria—kalian akan mendapat begitu banyak pertanyaan.

Kalian mengerti? Tunjukkan passpor kalian di depan pintu Surga, masuklah, dan istri kalian akan masuk bersama kalian. “Ini istrimu?” Allah ‘Azza wa Jalla akan bertanya pada kalian. Kalian akan menjawab, “Ya.” “Kamu bahagia bersamanya?” Jika kalian menjawab, “Ya”; Allah akan berkata, “Bawa dia masuk ke dalam Surga.”

Tetapi jika kalian berkata, “Ya Tuhanku, Aku tidak pernah puas dengannya. Dia terlalu banyak bicara!” Lalu Allah akan berkata, “Berhentilah! Berdiri! Mengapa kamu tidak bahagia dengannya? Dia adalah hijab antara dirimu dengan Neraka. Jika dia tidak bersamamu, kamu pasti sudah tergelincir ke jurang Neraka. Oleh sebab itu mereka semua lebih berharga dari pada kalian.”

Ya, karena jika istri kalian tidak melayanimu sebagai hijab, kita semua akan terjerumus ke dalam Neraka, tak seorang pun yang akan mengeluarkan kita, kecuali isteri kita, tempat berlindung kita. Jadi di siang hari, ketika kalian hendak berangkat kerja, raihlah tangan istrimu (Syaikh Nazhim menunjukkan gerakan mencium tangan), begitu pula di malam hari. Kalian harus memperlakukan istri kalian dengan lembut. Ya, hal ini adalah benar, mutlak, yakin dan bahkan sangat benar.

Oleh sebab itu kalian harus menjaga hak-hak mereka. Kalian, para pria suka melakukan kekejaman terhadap wanita dan tidak mempedulikan hak-hak mereka. Setiap orang harus menjaga hak-hak mereka (wanita). Allah akan bertanya, “Mengapa kalian tidak merasa puas terhadap istri kalian? Apa masalahnya, karena dia adalah yang menjadi hijab antara kalian dengan Neraka, apakah dia tidak menjaga rumahmu? Apakah dia tidak memasak? Tidak mencuci? Tidak merawat anak-anak? Tidak bersih-bersih?” Allah akan bertanya.

Tidak ada kewajiban bagi wanita untuk melakukan suatu pekerjaan. (Menurut syari’ah Islam, sebenarnya pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak merupakan tugas pria atau suami. Jika istri tidak sanggup atau tidak ingin merawat anaknya, maka si suami bertanggung jawab untuk menyediakan makanan bagi anaknya. Namun karena sudah menjadi kebiasaan, maka istrilah yang mengerjakan hal-hal tersebut.

Syaikh Nazhim mengatakan bahwa pria harus bersikap lebih apresiatif, arif dan menolong bukannya memanfaatkan istrinya untuk mengurus rumah dan merawat anaknya.) Kalian (pria) harus melakukannya: mencuci, bersih-bersih, dan merawat anak-anak. Dalam syari’ah, Allah swt bahkan tidak memerintahkan wanita untuk memberikan susu kepada anak-anak kalian. Itu termasuk tanggung jawab kalian, wahai pria. Kalian harus menyediakannya (susu), kalian harus membayarnya.

Kalian memberi bayaran pada wanita? Untuk setiap bayi yang dia lahirkan, kalian harus membawakan rantai emas (perhiasan) untuk istrimu. Ya, ketika dia memberikan susunya kepada si bayi, kalian harus membayarnya, bukannya mengatakan, “Kamu dapat melakukannya, kamu bisa menemukan seseorang untuk memberi susu kepada bayimu.”

Jangan menyuruhnya untuk bekerja! Dia hanyalah sebagai hijab antara kamu dengan hal-hal yang haram, itulah tugasnya. Segalanya berada di pundak pria, tetapi mereka (wanita) mau melakukannya… karena mereka bersyukur kepada kita, mereka melakukannya dengan sukarela. Apakah kamu sekali-sekali pernah mencuci?

Bihurmati habib, al Fatihah
posted by Mevlana as Sufi at 11:07 PM 0 comments

Wali Allah Menurut Hakim At-Tirmidzi
Hakim At-Tirmidzi


Hakim at-Tirmidzi lahir di Tirmidz, Uzbekistan, Asia Tengah pada tahun 205 H/820 M. Nama lengkapnya adalah Abu Abd Allah Muhammad bin Ali bin Hasan al-Hakim at-Tirmidzi. Ia berasal dari keluarga ilmuwan ahli fiqih dan hadits. Memasuki puncak ketasawufan setelah mengalami goncangan batin sebagaimana yang di kemudian hari dialami al-Ghazali.

Ia mendefinisikan Wali Allah adalah seorang yang demikian kokoh di dalam peringkat kedekatannya kepada Allah (fi martabtih), memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu seperti bersikap shidq (jujur dan benar) dalam perilakunya, sabar dalam ketaatan kepada Allah, menunaikan segala kewajiban, menjaga hukum dan perundang-undangan (al-hudud) Allah, mempertahankan posisi (al-) kedekatannya kepada Allah. Dalam keadaan ini, menurut at-Tirmidzi, seorang wali mengalami kenaikan peringkat sehingga berada pada posisi yang demikian dekat dengan Allah, kemudian ia berada di hadapan-Nya, da n menyibukkan diri dengan Allah sehingga lupa dari segala sesuatu selain Allah.

Karena kedekatannya dengan Allah, seorang wali memperoleh ‘ishmah (pemeliharaan) dan karamah (kemuliaan) dari Allah. menurutnya, ada tiga jenis ‘ishmah dalam Islam. Pertama, ‘ishmah al-anbiya’ (ishmah para Nabi) merupakan sesuatu yang wajib; baik berdasarkan argumentasi ‘aqliyyah seperti dikemukakan Mu’tazilah maupun berdasarkan argumentasi sam‘iyyah. Kedua, ‘ishmah al-awliya’ (merupakan sesuatu yang mungkin); tidak ada keharusan untuk menetapkan ‘ishmah bagi para wali dan tidak berdosa untuk menafikannya dari diri mereka, tidak juga termasuk ke dalam keyakinan agama (‘aqa’id al-din); melainkan merupakan karamah dari Allah kepada mereka. Allah melimpahkan ‘ishmah ke dalam hati siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara mereka. Ketiga, ‘ishmah al-‘ammah, ‘ishmah secara umum , melalui jalan al-asbab, sebab-sebab tertentu yang menjadikan seseorang terpelihara dari perbuatan maksiat.

‘I shmah yang dimiliki para wali dan orang-orang beriman, menurut at-Tirmidzi, bertingkat-tingkat. Bagi umumnya orang-orang yang beriman, ‘ishmah berarti terpelihara dari kekufuran dan dari terus menerus berbuat dosa; sedangkan bagi para wali ishmah berarti terjaga (mahfuzh) dari kesalahan sesuai dengan derajat, jenjang, dan maqamat mereka. Masing-masing mereka mendapatkan ‘ishmah sesuai dengan peringkat kewaliannya.

Inti pengertian ‘ishmah al-awliya’ terletak pada makna al-hirasah (pengawasan), berupa cahaya ‘ishmah (anwar al-ishmah) yang menyinari relung jiwa (hanaya al-nafs) dan berbagai gejala yang muncul dari kedalaman al-nafs, tempat persembunyian al-nafs (makamin al-nafs), sehingga al-nafs tidak menemukan jalan untuk mengambil bagian dalam aktivitas seorang wali. Ia dalam keadaan suci dan tidak tercemari berbagai kotoran al-nafs ( adnas al-nafs ).

Adapun yang dimaksud karamah al-awliya’ tiada lain, kemuliaan, kehormatan,(al-ikram); penghargaan (al-taqdir); dan p ersahabatan (al-wala) yang dimiliki para wali Allah berkat penghargaan, kecintaan dan pertolongan Allah kepada mereka. Karamah al-awliya itu, dalam pandangan Hakim at-Tirmidzi, merupakan salah satu ciri para wali secara lahiriah (‘alamat al-awliya’ fi al-zhahir) yang juga dinamakannya al-ayat atau tanda-tanda.

Hakim at-Tirmidzi membagi karamat al-awliya ke dalam dua bagian. Pertama, karamah yang bersifat ma‘nawi atau al-karamat al-ma‘nawiyyah. Karamah yang pertama merupakan sesuatu yang bertentangan dengan adat kebiasaan secara fisik-inderawi, seperti kemampuan seseorang unrtuk berjalan di atas air atau berjalan di udara. Sedangkan karamah yang kedua merupakan ke-istiqamah-an seorang hamba di dalam menjalin hubungan dengan Allah, baik secara lahiriah maupun secara batiniah yang menyebabkan hijab tersingkap dari kalbunya hingga ia mengenal kekasihnya, serta merasa ketentraman dengan Allah. At-Tirmidzi memaparkan karamah yang kedua sebagai yang berikut:

Kemudian Tuhan memandang wali Allah dengan pandangan rahmat. Maka Tuhan pun dari perbendaharaan rububiyyah menaburkan karamah yang bersifat khusus kepadanya sehingga ia (wali Allah) itu berada pada maqam hakikat kehambaan (al-haqiqah al-ubudiyyah). Kemudian Tuhan pun mendekatkan kepada-Nya, memanggil nya, menghormati dan meninggikannya. Menyayanginya dan menyerunya. Maka wali pun menghampiri Tuhan ketika ia mendengar seru-Nya. Mengokohkan (posisi)-nya dan menguatkannya; memelihara dan menolongnya; sehingga ia meresponi dan menyambut seruan-Nya.Dalam kesunyian ia memanggil-Nya. Setiap saat ia munajat kepada-Nya. Ia pun memanggil kekasihnya. Ia tidak mengenal Tuhan selain Allah.

Orang yang menolak karamah al-awliya’, menurut at-Tirmidzi, disebabkan mereka tidak mengetahui persoalan ini kecuali kulitnya saja. Mereka tidak mengetahui perlakuan Allah terhadap para wali. Sekiranya orang tersebut mengetahui hal-ihwal para wali dan perlakuan Allah terhadap mereka; niscaya mereka tida k akan menolaknya. Penolakan mereka terhadap karamah al-awliya’, menurut at-Tirmidzi, disebabkan oleh kadar akses mereka terhadap Allah hanya sebatas menegaskan-Nya; bersungguh-sungguh di dalam mewujudkan kejujuran (al-shidq); bersikap benar dalam mewujudkan kesungguhan sehingga meraih posisi al-qurbah (dekat dengan Allah).

Sementara mereka buta terhadap karunia dan akses Allah kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Demikian juga buta terhadap cinta (mahabbah) dan kelembutan (ra’fah) Allah kepada para wali. Apabila mereka mendengar sedikit tentang hal ini, mereka bingung dan menolaknya.

Adapun derajat kewalian, dalam pandangan al-Tirmidzi, dapat diraih dengan terpadunya dua aspek penting, yakni karsa Allah kepada seorang hamba dan kesungguhan pengabdian seorang kepada Allah. Aspek pertama merupakan wewenang Allah secara mutlak; sedangkan aspek kedua merupakan perjuangan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah. Menurut at-Tirmidzi, ada dua jalur yang biasa ditempuh oleh seorang sufi guna meraih derajat kewalian.

Jalur pertama disebut thariqah al-minnah (jalan golongan yang mendapat anugerah) sedangkan jalur kedua disebut thariq ashhab al-shidq (jalan golongan yang benar dalam beribadah). Melalui jalur pertama, seorang sufi meraih derajat kewalian di hadapan Allah semata-mata karena karunia Allah yang diberi kan kepada siapa saja yang dikendaki Allah di antara hamba-hamba-Nya. Sedangkan melalui jalur kedua, seorang sufi meraih derajat kewalian berkat keikhlasan dan kesungguhannya di dalam beribadah kepada Allah. Seseorang yang meraih derajat kewalian melalui jalur kedua disebut wali haqq Allah atau awliya’ huquq Allah dalam bentuk jamak.

Menurut at-Tirmidzi derajat kewalian yang diraih melalui jalur kedua diperoleh setelah seorang sufi bertaubat dari segala dosa dan bertekad bulat untuk membuktikan sesungguhan taubatnya dengan konsisten di dalam menunaikan segala yang diwajibkan; menjaga al-hudud (hukum dan perundang-undangan Al lah) dan mengurangi al-mubahat (hal-hal yang dibolehkan); kemudian memperhatikan aspek batin dan menjaga kesuciannya dengan seksama.

Seorang sufi yang meraih derajat kewalian (al-walayah) melalui jalur kedua desebut wali haqq Allah, karena sufi itu telah mencurahkan seluruh perhatian dan usahanya untuk menjaga hak Allah. Perjuangan yang demikian berat ini telah menambah kesucian hati sufi tersebut. Hatinya menjadi terformat sedemikian rupa dengan sifat Allah al-Haqq sehingga al-Haqq menjadi salah satu sifatnya yang mendominasi perasaannya yang terdalam (al-wujdan) dan membimbing seluruh perilakunya.

Tidaklah seorang sufi itu mengucapkan sesuatu kecuali melalui Allah al-Haqq; tidaklah melakukan sesuatu kecuali menuju Allah al-Haqq; dan tidaklah dia diam kecuali bersama Allah al-Haqq. Maka al-Haqq senantiasa bersama-Nya dalam berbagai keadaan. Para wali yang memiliki kualifikasi ini disebut juga al-awliya al-shadiqin.

Sementara itu, memperoleh derajat al-walayah mel alui jalur pertama, thariqah al-Minnah, terbagi kedalam dua proses. Pertama, anugerah kewalian itu diperoleh dengan tanpa usaha sebelumnya. Melalui proses ini orang yang menerima anugerah al-walayah merasakan adanya kekuatan yang menarik dirinya kepada kualitas al-walayah tersebut. Para sufi yang meraih derajat kewalian melalui proses ini disebut al-mujtabun (yang diangkat) atau al-mujzubun (yang ditarik). Kedua, anugerah kewalian itu diperoleh karena ada prakondisi sebelumnya.

Derajat al-walayah yang diberikan melalui proses kedua ini mengandung pengertian bahwa anugerah al-walayah itu diberikan oleh Allah kepada seseorang yang telah berada di dalam maqam al-shidq, suatu kedudukan terhormat di hadapan Allah yang hanya bisa ditempati oleh para sufi yang telah memiliki kualifikasi wali di antara al-awliya al-shadiqin. Hal ini terjadi semata-mata karena kasih sayang Allah kepadanya.

Derajat kewalian dan kenabian, menurut at-Tirmidzi, merupakan anugerah Allah. Allah tela h memilih di antara hamba-hamba-Nya menjadi al-anbiya (Nabi-Nabi) dan awliya (para wali). Kemudian Allah melebihkan derajat sebagian al-anbiya atas sebagian yang lain. Sebagaimana Allah melebihkan sebagian derajat al-awliya atas sebagian yang lain. Kelebihan Nabi Muhammad SAW. atas para Nabi yang lain adalah kedudukannya sebagai khatam al-nubuwwah yang merupa kan hujjat Allah bagi makhluk-Nya pada hari kiamat, karena tiada seorang pun di antara al-anbiya yang mendapat kedudukan setinggi ini.

Hujjat Allah yang menjadi inti khatam al-nubuwwah tersebut tiada lain, qadam shidq, yakni kesaksian Allah bahwa Nabi Muhammad SAW. memiliki shidq al-‘ubudiyyah (kesungguhan dalam kehambaan). Dengan qadam shidq tersebut Nabi Muhammad SAW. mendahului barisan para Nabi dan Rasul. Kemudian Allah menyambutnya dan menempatkannya di dalam al-maqam al-mahmud pada al-kursi. Dengan demikian para Nabi mengetahui bahwa Nabi Muhammad SAW. adalah orang yamg paling mengenal Allah. Beliau diberi bendera pujian (liwa al-hamd) dan kunci kemulian (mafatih al-karam). Oleh sebab itu, khatam al-anbiyyin, menurut at-Tirmidzi, bukan karena Nabi Muhammad SAW. paling akhir diutus; melainkan karena al-nubuwwah telah sempurna secara total pada diri Nabi Muhammad SAW. sehingga dia menjadi jantung kenabian (qalb al-nubuwwah) karena kesempurnaannya; kemudian al-nubuwwah ditutup (pada diri beliau).

Bertitik tolak dari pandangannya tentang al-anbiya dan al-awliya, at-Tirmidzi memandang bahwa khatam al-awliya (pamungkas para wali) adalah al-wali al-majdzub yang memegang kepemimpinan (al-imamah) atas para wali. Di tangannya terdapat bendera kewalian (liwa al-walayah). Para wali seluruhnya membutuhkan syafa’at dari padanya; sebagaimana para Nabi membutuhkan syafa’at dari Nabi Muhammad SAW. Ia memperoleh bagian kenabian yang paling sempurna; sehingga ia dekat dengan al-anbiya; bahkan hampir mendahuluinya; sebagaimana tergambar pada hadits yang berikut:

"Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah, ada orang yang bukan Nabi dan bukan syuhada; namun, banyak Nabi dan syuhada yang ingin seperti mereka, karena derajat mereka disisi Allah ‘Azza wa jalla.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka? Beliau bersabda: “Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai dengan motivasi karena Allah; padahal bukan di antara kerabat mereka, juga bukan karena harta yang saling mereka berikan. Demi Allah, wajah mereka niscaya laksana cahaya, mereka berada di atas cahaya. Mereka tidak merasa sedih, ketika orang-orang bersedih. Kemudian beliau membacakan satu ayat:
(Q.S. Yunus: 62).

Maqam-nya (dihadapan Allah) berada pada peringkat tertinggi para wali (fi a‘ala manazil al-awliya). Ia adalah pengikut Nabi Muhammad SAW. Maka sebagaimana Nabi Muhammad SAW. menjadi hujjah bagi para Nabi; wali ini pun menjadi hujjah bagi para wali(al-awliya)

Kecuali itu, al-Hakim at-Tirmidzi menghubungkan konsep khatam al-awliya dengan konsep manusia sempurna. Menurutnya, khatam al-awliya ialah manusia yang telah mencapai ma‘rifah yang sempurna tentang Tuhan. Dengan demikian, ia pun mendapatkan cahaya dari Tuhan, bahkan mendapatkan quwwah ilahiyyah (daya Ilahi). Menurut at-Tirmidzi, ada empat puluh orang dari kalangan umat Nabi Muhammad SAW. yang mendapat kedudukan sebagai wali, satu di antara empat puluh itu disebut khatam al-awliya sebagaimana Nabi Muhammad SAW. menjadi khatam al-anbiya.

Sementara itu, Abu Yazid al-Busthami (w.264H/877M.) memperkenalkan konsep al-wali al-kamil (wali yang sempurna). Menurutnya, wali yang sempurna ialah orang yang telah mencapai ma‘rifah yang sempurna tentang Tuhan, ia telah terbakar oleh api Tuhannya. Ma‘rifah yang sempurna akan membawa seorang wali fana’ dalam sifat-sifat ketuhanan. Wali yang fana’ dalam nama Allah, al-zhahir (yang nyata), akan dapat menyaksikan qudrah Tuhan ; wali yang fana’ dalam nama-Nya, al-bathin (yang tersembunyi) akan dapat menyaksikan rahasia-rahasia alam; wali yang fana’ dalam nama-Nya, al-akhir (yang akhir), akan menyaksi kan masa depan.

Kedudukan khatam al-awliya merupakan anugerah Allah. Allah memberikan al-khatm (penutupan [kewalian]) kepadanya agar pada hari kiamat hati Nabi Muhammad SAW. merasa tenteram. Para wali pun mengakui kelebihan wali ini atas mereka. Ia muncul menjelang terjadinya kiamat dan menjadi hujjat Allah bagi seluruh penganut paham monoteisme (al-muwahhidin) yang datang sesudahnya.

Pemikiran al-Hikam at-Tirmidzi tentang khatm al-walayah lebih jauh dikembangkan oleh Ibnu Arabi. Menurut Ibnu Arabi, konsep al-khatm (penutupan) mengandung dua pengertian. Pertama, al-khatm berarti Allah telah menutup kewalian secara umum (al-walayah al-ammah). Kedua, al-khatm dalam pengertian Allah telah menutup kewalian umat Nabi Muhammad SAW. (al-walayah al-muhammadiyah).

Khatm al-walayah dalam pen gertian yang pertama berada pada diri Nabi Isa as. Beliau adalah wali dengan kenabian mutlak (al-nubuwwah al-muthlaqah) yang muncul pada zaman ummat (Nabi Muhammad) ini. Kewalian Nabi Isa terputus dari nubuwwat al-tasyri’, yakni kenabian khusus dengan kewenangan menetapkan syari’at agama dan kerasulannya. Nabi Isa turun di akhir zaman sebagai pewaris (Nabi Muhammad SAW.). Dan khatam [al-walayah] (pamungkas kewalian).

Tidak ada wali sesudahnya dengan kenabian mutlak sekalipun, sebagaimana Nabi Muhammad SAW. sebagai khatam al-nubuwwah (pamungkas kenabian) tidak ada Nabi sesudah beliau dengan nubuwwat al-tasyri’. Sedangkan khatam al-walayah dalam pengertian yang kedua berada pada diri seorang laki-laki bangsa Arab dari kalangan orang-orang terhormat.

Pengetahuan tentang syari’at (al-ilm al-syari’i) – yang menjadi dasar nubuwwat al-tasyri’ diwahyukan kepada seorang Rasul melalui malaikat. Sedangkan pengetahuan batin (al-‘ilm al-bathini) yang dimiliki wali, baik dalam kapa sitasnya sebagai Rasul, Nabi, maupun wali saja; bersifat pancaran dari seorang khatam al-awliya. Adapun khatam al-awliya mendapat kan secara menyeluruh dari sumber pancaran ruhaniah (manba‘al-faydl al-ruhi); yakni ruh Muhammad atau al-haqiqah al-Muhammadiyah.

Ibnu Arabi menghubungkan konsepsi khatam al-awliya dengan kemampuan menangkap al-‘athaya (pemberian dan anugerah) Allah. Menurut Ibnu Arabi, ada dua jenis al-‘athaya (pemberian) yakni yang bersifat dzatiyyah dan yang bersifat asma’iyyah. Adapun al-‘athaya al-dzatiyyah tidak terjadi kecuali melalui tajalli ilahi; sedangkan tajalli merupakan pengetahuan tertinggi tentang Tuhan. Pengetahuan ini tidak diberikan kecuali kepada khatam al-rusul (pamungkas para utusan) dan khatam al-awliya (pamungkas para wali).

Tiada seorang pun di antara al-anbiya dan al-rusul dapat mengalami tajalli al-dzat kecuali melalui misykah, teropong, khatam al-rusul; dan tiada seorang pun al-awliya mengalami tajalli al-dzat kecuali melal ui misykah, teropong, khatam al-awliya bahkan al-anbiya dan al-rusul pun tidak dapat mengalami tajalli al-dzat kecuali melalui misykat al-khatam al-awliya’; meskipun khatam al-awliya merupa kan pengikut khatam al-rusul dalam syari’at yang dibawanya.

Dalam pandangan Ibnu Arabi, khatam al-anbiya mempunyai kedudukan yang sebanding dengan khatam al-awliya. Menurutnya setiap Nabi sejak zaman Nabi Adam hingga Nabi terakhir; tiada seorang pun di antara mereka, kecuali mengambil dari misykat (teropong) khatam al-nabiyyin; meskipun khatam al-nabiyyin tersebut secara historis muncul terakhir. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW.: Aku sudah menjadi Nabi; sedangkan Adam di antara air dan tanah. Sedangkan para Nabi selain Nabi Muhammad SAW. menjadi Nabi setelah mereka diutus (ke dunia).

Demikian juga khatam al-awliya telah menjadi wali, ketika Adam masih berada di antara air dan tanah; sedangkan para wali yang lain menjadi wali setelah mereka memperoleh syarat-sya rat kewalian (al-walayah), yakni setelah diri mereka tersifati oleh al-akhlaq al-ilahiyyah atau akhlak Tuhan, terutama berkenaan dengan pernyataan Allah sendiri yang menyebut diri-Nya al-wali al-hamid (Wali yang Maha Terpuji).
posted by Mevlana as Sufi at 11:07 PM 0 comments

'Ziarah'
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
dalam Mercy Oceans (Book Two)

Ziarah atau mengunjungi makam seseorang adalah untuk menghormati orang itu, bahwa dia tidak sama dengan binatang. Sebagaimana mereka semasa hidupnya kita hormati karena derajatnya, begitu pula setelah kematiannya dan hal ini tidak akan berubah.

Kita menjaga makam para Awliya dan Rasul. Semasa hidupnya, rahmat dilimpahkan kepada mereka dan setelah mereka meninggalkan kehidupan ini, rahmat tetap mendatangi mereka. Dan kita memohon rahmat itu. Kebersamaan dengan mereka semasa hidupnya adalah suatu kesempatan berharga, atau paling tidak kita bisa mengunjungi makamnya.

Mereka hidup di makamnya dengan kehidupan yang sesuai dengan alamnya. Mereka bisa melihat dan mendengar. Rasulullah (saw) biasa mengunjungi makam pamannya, Sayyidina Hamza (ra), duduk dan membaca do’a di sana. Itu bukanlah suatu hal yang terlarang

Setiap minggu beliau selalu pergi ke Jannat-il-Baqi’ atau ke gunung Uhud untuk mendo’akan para syuhada di sana. Hal ini diizinkan bagi kita dan tidak bertentangan dengan syari’ah. Kita menjaga makam para Awliya agar mereka tidak hilang, bukannya menyembah mereka, tidak! Kita hanya meminta rahmat yang dilimpahkan kepada mereka dan berdo’a untuk mereka. Kalian dapat mengirimkan do’a untuk semua orang yang beriman sebagai hadiah dari kita.

Artikel Ziarah lihat juga:
http://www.sunnah.org/ibadaat/ziyara.htm
http://www.sunnah.org/aqida/cape_town_wahabi/complete_refutation_shaykh_faiik.htm
http://www.sunnah.org/fiqh/zawwarat.htm

Bihurmati habib, al Fatihah
posted by Mevlana as Sufi at 11:07 PM 0 comments

Samudra-samudra Pengetahuan Nabi
Mawlana Syaikh Nazhim Adil al Qubrusi al Haqqani
Cyprus, April 2, 2003


Subhanaka! Subhanaka! Subhanak!
Halaman-halaman baru. Halaman-halaman yang tak terbatas. Semua yang dimiliki Allah Yang Maha Agung adalah tak terbatas. Jika kalian mampu untuk menemu kan suatu limit atau batas dari bilangan, kalian boleh untuk berbicara sedikit tentang karunia-karunia Allah Ta’ala.

Karena itulah, Allah ‘Azza wa Jalla mengatakan bahwa seandainya samudera dan lautan menjadi tinta, dan pohon-pohon menjadi pena untuk menulis, maka itu semua hanya akan menjadi setitik zarah kecil dari pengetahuan surgawi yang dimiliki Allah Ta’ala. Dan tinta tersebut akan habis, bahkan jika seandainya kalian membawa tujuh samudera bukan hanya satu samudera.

Bahkan seluruh samudera yang menjadi tinta itu akan habis dan kering, sedangkan pengetahuan dan ilmu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala terus karuniakan pada Penutup Para Nabi (s), tak akan pernah habis, karena beliaulah satu-satunya yang berbicara mewakili Allah Ta’ala – yang pertama. Allah Ta’ala tak pernah berbicara pada siapa pun yang lain dalam Hadirat Ilahiah-Nya kecuali pada dia yang paling terhormat di antara seluruh ciptaan, Sayyidina Muhammad saw.

Tak seorang pun mampu mendekati Hadirat Ilahi seperti Penutup para Nabi saw. Allah Ta’ala mula-mula menciptakan ruhnya, ruhnya yang berkilau bercahaya, dan ruh tersebut adalah ‘nur’. Dan dari ‘nur’ tersebut, Allah menciptakan! Segala sesuatu diciptakan (oleh-Nya) dari ‘nur’ tersebut. Tak seorang pun atau apa pun mampu me ncapaii langsung esensi (Dzat) dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tak ada yang dapat mencapainya tak mungkin.

Hanya melalui Penutup para Nabi ringkasan dan esensi dari seluruh ciptaan adalah bersama beliau. Itu telah dikaruniakan pada beliau, dan karunia tersebut terus berlanjut bagi beliau tanpa berhenti, mengalir tak pernah berhenti atau terputus, tidak!

A'udhu billahi mina-sh-shaitani-r-rajim, bismillahi-r-Rahmani-r-Rahim. La haula wa la quwatta illa billahi-l 'aliyyi-l 'adhim.

Sultan-ul-Arifin Aba Yazid al-Bisthami, semoga Allah merahmatinya, (berkata) untuk menjaga dan memelihara zikir mereka, untuk menjaga tetap mengingat mereka, untuk berusaha selalu bersama dengan para pewaris dari Penutup para Nabi, untuk berusaha agar ruh kalian berada dalam samudera-samudera dari ruh-ruh suci mereka; karena setiap orang dari mereka Awliya (para Waliyyullah kekasih Allah), para pewaris dari Penutup para Nabi, para Grand Wali (Wali-wali besar)tersebut telah dianugerahi samudera-samudera pula.

Tetapi, samudera-samudera milik mereka, bahkan seandainya seluruh samudera milik para Nabi dan Wali dikumpulkan bersama dan disatukan, jika itu semua dibandingkan dengan apa yang telah dianugerahkan pada Penutup para Nabi, hanyalah bagaikan setetes air yang menempel di ujung jarum ketika kalian mencelupkan jarum itu sesaat ke dalam suatu samudera. Hanya seperti itulah perbandingan sel uruh samudera (milik para Nabi dan Wali) dengan samudera milik Penutup Para Nabi saw.

Dan seluruh Awliya’ dan para Wali, terutama Grand Wali, Grand Syaikh, orang-orang pada barisan pertama, yang dekat dengan Penutup para Nabi, Sayyidina Muhammad saw, mereka mengambil secara langsung dari beliau dan mereka telah diberi lebih banyak dari yang lain. Dan ruh-ruh mereka tengah meminum ‘air’ dari samudera-samudera itu dan ruh-ruh mereka pun menjadi samudera-samudera. Ruh dari setiap orang dari mereka adalah bagaikan sebuah samudera dan hanya Nabi saw yang mengetahui apa yang ada dalam samudera tersebut.

Allah tentu saja mengetahui segala sesuatunya; tetapi, pada maqam dari ciptaan (makhluq), apa yang telah dikaruniakan pada seluruh Nabi, dan demikian pula pada para Nabi-nabi besar, Awliya’ besar, Syaikh-syaikh besar – mereka yang berada pada saf pertama pewaris Rasulullah saw hanya Nabi saw, lah yang mengetahuinya. Dan apa yang berada dalam samudera milik setiap orang, mereka mengetah uinya, demikian pula Nabi saw mengetahuinya.

Karena itulah, mereka memiliki alam semesta-alam semesta, ‘awalim’, ciptaan-ciptaan dalam samudera-samudera mereka. Dan ciptaan tersebut adalah suatu karunia dari Penutup para Nabi saw. Dan karunia Tuhannya bagi dirinya terus bertambah lebih banyak dan lebih banyak, dan karunia tersebut tidaklah tetap sama. Allah Ta’ala berfirman: “Wahai hamba-Ku yang tercinta! Wa ladaynaa maziid! Aku memberi dan tak akan pernah berhenti. Apa yang Ku-karuniakan padamu tak akan pernah berakhir”. Karena itulah, apa yang dikaruniakan pada RasulAllah saw ketika beliau bersama kita, tidaklah sama saat ini. Setiap detik, setiap tarikan nafas, karunia tersebut digandakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Karena itulah, ketika kami berkata tentang Aba Yazid al-Bisthami (r.a.): Jagalah Auliya’, berusahalah untuk berada bersama mereka, bahkan sekalipun hanya dengan nama-nama mereka dan dengan asosiasi/majelis mereka. Saat kita menyebut nama-nama mereka, suatu kasyf atau pembukaan datang pada diri kita. Tidak kosong. Nabi saw mengatakan bahwa saat kita menyebut orang-orang yang salih para Wali, Grand Wali, para Nabi, Nabi-nabi Besar, dan Penutup para Nabi, tanzil-ur-Rahmah’, rahmah dari samudera-samudera rahmah akan mendatangi diri kita. Karena itulah, ‘manakib-ul-aulia’ (pembacaan kisah para Wali) ada.

Quran Suci menyebut pula nama-nama para Nabi, karena setiap kali kita menyebut nama mereka, rahmah ya ng berlimpah dari samudera-samudera rahmah mengaliri diri kita. Karena itulah, diulang berkali-kali (dalam Quran) akan apa yang terjadi pada Bani Israil, apa yang terjadi pada Sayyidina Adam, apa yang terjadi pada Sayyidina Nuh, apa yang terjadi pada Sayyidina Ibrahim dan pada Nabi-nabi lain.

Ini adalah untuk menerima kemuliaan dari mereka, untuk mengambil bagian dari ‘nur’ mereka, dari cahaya-cahaya ilahiah milik mereka, agar datang pada dirimu. Dan ini adalah suatu persiapan bagi kalian untuk kehidupan abadi kalian, karena keabadian dapat menampung sebanyak apa pun yang telah dikaruniakan pada kalian, tanpa batas. Mereka yang berada pada (atau berusaha untuk) kehidupan abadi dan memiliki target untuk meraih keabadian, mereka boleh meminta lebih dan lebih – tak terbatas.

Sama seperti suatu pesawat terbang yang tengah terbang melayang semakin banyak petrol (minyak bahan bakar) yang kita isikan ke dalamnya, semakin lama ia akan terbang, tak pernah berkata ‘cukup’, tidak! Sebanyak yang kita isikan ke dalamnya, ia akan terus terbang. Dan ruh-ruh kita dalam Hadirat Ilahiah, jangan berpikir bahwa ruh-ruh terebut diam berhenti mereka berlari dan berenang melalui samudera-samudera yang tak terkira banyaknya. Semuanya itu milik dari keabadian.

Karena itu, adalah suatu perintah sohbet, asosiasi kalian harus menjaga jalur (hubungan) dengan mereka secara langsung. Hubungan itu akan mengalir melalui wujud sejatimu. Jangan berpikir bahwa ini (tubuh wadag kasar kita) adalah wujud kita yang sejati. Ini hanyalah suatu bayangan dari wujud sejatinya. Wujud sejati tersbut, dunia ini tak mampu menampungnya. Karena itulah, Pemimpin Malaikat Jibril (as) kadang-kadang datang dalam bentuk seorang laki-laki, dan kita berkata Jibril (as) baru datang.

Apakah ia meninggalkan maqam (posisi)nya dan datang ke sini? Saat ia datang pada Nabi, apakah maqamnya kosong ia tinggalkan? Apakah ia datang dengan wujud sejatinya? Bagaimana mungkin? (Apa yang nampak datang) hanyalah perwakilan (dari wujud sejatinya), sebagai suatu bayangan dalam bentuk seorang laki-laki. Wujud sejatinya tak pernah bergerak ke sini dan ke sana dari Hadirat Ilahi. Tak pernah! “Tak seor ang pun yang matanya dapat melihat ke sana-sini!” Apakah kalian pikir bahwa adalah wujud sejati Penutup para Nabi yang pernah bersama kita (saat beliau hidup, red)?

Bagaimana mungkin dunia ini dapat menampungnya? Seluruh ciptaan akan lenyap jika wujud sejati beliau termanifestasikan untuk eksis di sini. Tak ada lagi ciptaan, segala sesuatunya akan lenyap dalam samudera-samudera beliau, tak ada yang akan pernah muncul. Tetapi segala sesuatunya, melalui Hikmah Ilahiah, telah diatur dan diprogram. Tak seorang pun tahu bagaimana keadaannya dan bagaimana ia wujud, tidak! Kita berada pada maqam kedudukan kita, dan Firman Ilahiah datang mula-mula pada Rasulullah dan kemudian pada kita. Jika seandainya Nabi tidak menjadi perantara (mediator), Wahyu Ilahiah akan membakar segala sesuatunya di muka bumi ini. [Syaikh membaca ayat]

"Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quraan ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir." [Surat al-Hashr, 21]

Karena itulah, orang-orang jahil yang berpikiran sempit itu masih pula mengatakan bahwa Sayyidina Muhammad saw hanya seperti seorang tukang pos – hanya membawa dan menyampaikan suatu pesan. Betapa bodohnya! Dan kebodohan ini kini menjalar ke seluruh dunia Islam, di Timur dan di Barat. Mereka sama sekali tak memahami hikmah diutusnya Sayyidina Muhammad dan karunia Qur’an Suci bagi beliau. Gunung-gunung tak mampu memikul (beban ini); tapi, hanya kalbu dari ia yang paling berkilau bercahaya dan paling mulia-lah yang mampu untuk memikul berat dari Wahyu Ilahiah. Bagaimana mungkin kalian mengatakan bahwa ia telah habis dan mati sekarang, kemudian kita bisa bersama Allah tanpa Muhammad saw. Kebodohan macam apa ini yang kini kita tengah berada di dalamnya?

Karena itu, begitu banyak masalah berdatangan pada orang-orang itu. Ya, memang ini adalah suatu samudera yang demikian dalam yang kami tengah coba untuk tunjukkan bagimu; kita tak mampu mencapainya. Aba Yazid al-Bisthami – semoga Allah merahmatinya, dan semoga cahaya-cahaya dari samuderanya menerangi kalbu-kalbu kita. Kalbu-kalbu yang bercahaya, itulah kalbu-kalbu yang hidup! Kalbu dan hati yang tak bercahaya, itulah hati yang mati, kalbu yang terkunci. Karena itulah, kalbu-kalbu dari begitu banyak ulama besar tengah terkunci. Mereka tidak memahami apa yang kalian katakan.

Terkunci! Allah membuka kalbu dan hati kita pada Awliya’-Nya. Kita memohon agar saat kita berbicara tentang Awliya’, agar mereka mengaruniakan pada kita sesuatu, yang sesuai dengan kebutuhan kita. Karena itu, inilah yang disebut ‘rabithah’ – koneksi dari kalbu ke kalbu. Saat kalian mel akukan ‘rabitah’, cahaya-cahaya Ilahiah yang dianugerahkan pada Wali tersebut, Grand Wali, atau Nabi, atau Grand Nabi, atau Khatm ul-Anbiya’, akan mengalir melalui kalbu kalian, dan kalian akan tercahayai olehnya.

Saat kita melihat ke langit di waktu malam, kita melihat bintang-bintang yang bercahaya; tapi, ada pula miliaran bintang yang tidak bercahaya, karena ‘nur’ itu tidak datang pada mereka. Dan hal ini serupa pula pada manusia. Makhluk-makhluk Langit tengah melihat manusia dan memperhatikan siapakah di antara manusia tersebut yang bercahaya dan berkilau – sama seperti ketika kita melihat bintang-bintang yang berkilau di langit. Karena itu, ‘rabita’, koneksi, hubungan, adalah medium yang paling penting untuk meraih cahaya-cahaya surgawi.

Siapa yang menyangkal hal ini akan terputus, tak ada cahaya yang datang ke kalbu mereka – habis! Orang-orang, karena itu, kini tengah berada dalam kegelapan, karena mereka tidak memiliki hubungan dengan ‘orang-orang langit’ atau dengan hamba-hamba Allah yang bercahaya yang hidup di dunia ini di antara kita. Kebanyakan orang kini tidak peduli lagi, mereka tidak tertarik, dan mereka senang untuk hidup dalam kegelapan mereka, dalam ‘dunya’ mereka yang gelap. Sama seperti burung-burung malam (kelelawar) yang senang untuk berada dalam kegelapan malam. Mereka tak suka untuk keluar di siang hari, karena mereka tak menyukai cahaya.

Dan kini, 99% orang-orang di bumi tidak mau mencari cahaya-cahaya surgawi agar diri mereka pun bercahaya, dan mereka pun senang berada dalam dunia yang gelap, dalam suatu atmosfer yang gelap. Karena itulah mereka melakukan begitu banyak hal, yang jika mereka dapat melihatnya, tentu mereka tak akan mau melakukannya. Jika hati mereka tercahayai, mereka tak akan berkelahi, tak akan bertengkar dan mengeluh. Mereka akan berbahagia dengan apa yang telah dikarunia kan pada mereka dari Sang Pencipta, Rabb as-Samaawaati. Tapi, kegelapan telah mencegah dan menghindarkan mereka dari mencapai titik itu, karena mereka tak mau mencari hubungan ke dunia spiritual (ruhaniyya) atau hubungan dengan spiritualitas dan makhluq-makhluq surgawi di muka bumi atau di langit.

Itulah masalahnya. Semua orang-orang yang hidup dalam atmosfer gelap ini, yang tak mau meminta hubungan dengan makhluk-makhluk surgawi, dengan wujud spiritual makhluk-makhluk itu, semua orang-orang ini adalah pembuat masalah.

Orang-orang di negara kecil ini – tak seorang pun mengakui negara ini – mengatakan, 80 juta orang di Turki dan 200.000 di Cyprus Utara, mereka meminta untuk bergabung dengan kelompok Negara-negara Eropa. Mereka berpikir bahwa jika mereka terhubungkan dengan Uni Eropa, mereka akan menjadi bahagia, mereka berpikir bahwa masalah-masalah mereka akan selesai dan segala sesuatunya akan berjalan lancar dan indah. Ini adalah kesalahan terbesar mereka dan kesalahpahaman; karena materi (benda-benda) tak akan pernah memberi istirahat atau suatu kehidupan yang baik bagi orang-orang; tak akan pernah memberi mereka suatu kehidupan yang penuh kenikmatan dan kesenangan – ‘hayaat-ut-tayyib’ – tak pernah!

Sama saja! Jika mereka menjadi anggota EU, mereka tetap akan memiliki masalah-masalah yang sama, karena mereka membawa bakteria yang sama dari penyakit mereka bersama me reka. Sekalipun mereka mungkin bergabung dengan EU, tapi penyakit yang sama masih bersama mereka – atmosfer yang sama! Kegelapan (di sini), kegelapan (di sana)! EU tak akan pernah memberi mereka cahaya apa pun, mereka tak akan tercahayai. Mungkin mereka akan mendapat sejumlah besar uang, hal-hal materi, tapi mereka akan tetap tak bercahaya, selesai. Jika masalah Iraqi telah selesai, masalah lain akan muncul karena penyakit yang sama masih bersama orang-orang – bahwa mereka menolak hubungan (koneksi) dengan wujud yang tercerahkan, dengan orang-orang yang bercahaya. Mereka hanya berlari mengejar kegelapan dan orang-orang gelap.

Semoga Allah mengampuni saya, dan memberikan memberikan pada kita pemahaman yang baik, karena ini adalah suatu hal penting yang mesti diketahui bangsa-bangsa. Seluruh bangsa dan negara telah memutuskan hubungan mereka dengan makhluk-makhluk langit, mereka menyangkal keberadaannya, mereka menyangkal kenabian (nubuwwah) dan kewalian (wilayah), dan segala sesuatunya yang terkait dengan Langit, dan mereka terjatuh dalam dunia yang gelap. Dunia gelap, ke mana pun mereka berlari, mereka hanya akan menjumpai kegelapan dan masalah.

Allah! Allah! Ya Rabb! Ampuni kami, Ya Rabb! Kami memohon ampun dan maaf dan barakah-Mu. Demi kehormatan dari ia yang paling terhormat dalam Hadirat Ilahiah-Nya, Nabi Muhammad sallAllahu alaihi wasallam, Bihurmatil habib. Al-Fatiha
posted by Mevlana as Sufi at 11:07 PM 0 comments

Ana Al-Haqq, Al-Hallaj
Antara Drama Ilahi dan Tragedi Penyingkapan Rahasia


Abad ketiga hijriyah merupakan abad yang paling monumental dalam sejarah teologi dan tasawuf. Karena pada abad itu cahaya Sufi benar-benar bersinar terang. Para Sufi seperti Sari as-Saqathy, Al-Harits al-Muhasiby, Ma’ruf al-Karkhy, Abul Qasim al-Junaid al-Baghdady, Sahl bin Abdullah at-Tustary, Ibrahim al-Khawwash, Al-Husain bin Manshur al-Hallaj, Abu Bakr asy-Syibly dan ratusan Sufi lainya.

Di tengah pergolakan intelektual, filsafat, politik dan peradaban Islam ketika itu, tiba-tiba muncul sosok agung yang dinilai sangat kontroversial oleh kalangan fuqaha’, politisi dan kalangan Islam formal ketika itu. Bahkan sebagian kaum Sufi pun ada yang kontra. Yaitu sosok Al-Husain bin Mansur Al-Hallaj. Sosok yang kelak berpengaruh dalam peradaban teosofia Islam, sekaligus menjadi watak misterius dalam sejarah Tasawuf Islam.

Nama lengkapnya adalah al-Husain bin Mansur, populer dipanggil dengan Abul Mughits, berasal dari penduduk Baidha’ Persia, lalu berkembang dewasa di Wasith dan Irak. Menurut catatan As-Sulamy, Al-Hallaj pernah berguru pada Al-Junaid al-Baghdady, Abul Husain an-Nury, Amr al-Makky, Abu Bakr al-Fuwathy dan guru-guru lainnya. Walau pun ia ditolak oleh sejumlah Sufi, namun ia diterima oleh para Sufi besar lainnya seperti Abul Abbad bin Atha’, Abu Abdullah Muhammad Khafif, Abul Qasim Al-Junaid, Ibrahim Nashru Abadzy.

Mereka memuji dan membenarkan Al-Hallaj, bahkan mereka banyak mengisahkan dan memasukkannya sebagai golongan ahli hakikat. Bahkan Muhammad bin Khafif berkomentar, “Al-Husain bin Manshur adalah seorang a’lim Rabbany.” Pada akhir hayatnya yang dramatis, Al-Hallaj dibunuh oleh penguasa dzalim ketika itu, di dekat gerbang Ath-Thaq, pada hari Selasa di bulan Dzul Qa’dah tahun 309 H.

Kelak pada perkembangannya, teori-teori Tasawuf yang diungkapkan oleh Al-Hallaj, berkembang lebih jauh, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Araby, Al-Jiily, Ibnu Athaillah as-Sakandary, bahkan gurunya sendiri Al-Junaid punya Risalah (semacam Surat-surat Sufi) yang pandangan utuhnya sangat mirip dengan Al-Hallaj Sayang Risalah tersebut tidak terpublikasi luas, sehingga, misalnya mazhab Sufi Al-Junaid tidak difahami secara komprehensif pula. Menurut Prof Dr. KH Said Aqiel Sirraj, “Kalau orang membaca Rasailul Junaid, pasti orang akan faham tentang pandangan Al-Hallaj.”

Pandangan Al-Hallaj banyak dikafirkan oleh para Fuqaha’ yang biasanya hanya bicara soal halal dan haram. Sementara beberapa kalangan juga menilai, kesalahan Al-Hallaj, karena ia telah membuka rahasia Tuhan, yang seharusnya ditutupi. Kalimatnya yang sangat terkenal hingga saat ini, adalah “Ana al-Haq”, yang berarti, “Akulah Allah”.

Tentu, pandangan demikian menjadi heboh.Apalagi jika ungkapan tersebut dipahami secara sepintas belaka, atau bahkan tidak dipahami sama sekali. Para teolog, khususnya Ibnu Taymiyah tentu mengkafirkan AlHallaj, dan termasuk juga mengkafirkan Ibnu Araby, dengan tuduhan keduanya adalah penganut Wahdatul Wujud atau pantheisme.

Padahal dalam seluruh pandangan Al-Hallaj tak satu pun kata atau kalimat yang menggunakan Wahdatul Wujud (kesatuan wujud antara hamba dengan Khaliq). Wahdatul Wujud atau yang disebut pantheisme hanyalah penafsiran keliru secara filosufis atas wacana-wacana Al-Hallaj. Bahkan yang lebih benar adalah Wahdatusy Syuhud (Kesatuan Penyaksian). Sebab yang manunggal itu adalah penyaksiannya, bukan DzatNya dengan dzat makhluk.Para pengkritik yang kontra Al-Hallaj, menurut Kiai Abdul Ghafur, Sufi kontemporer dewasa ini, melihat hakikat hanya dari luar saja. Sedangkan Al-Hallaj melihatnya dari dalam.

Sebagaimana Al-Ghazali melihat sebuah bangunan dari dalam dan dari luar, lalu menjelaskan isi dan bentuk bangunan itu kepada publik, sementara Ibnu Rusydi melihat bangunan hanya bentuk luarnya saja, dan menjelaskannya kepada publik pula. Tentu jauh berbeda kesimpulan Al-Ghazali dan Ibnu Rusydi.

Setidak-tidaknya ada tiga keleompk besar dari kalangan Ulama, baik fuqaha’ maupun Sufi terhadap pandangan-pandangan Al-Hallaj ini. Mereka ada yang langsung kontra dan mengkafirkan; ada pula yang secara moderat tidak berkomentar; dan ada yang langsung menerima dan mendukungnya. Menurut penelitian Dr. Abdul Qadir Mahmud, dalam bukunya Al-Falsafatush Shufiyah fil Islam, mengatakan:

1. Mereka yang mngkafirkannya, antara lain adalah para Fuqaha’ formalis, dan kalangan mazhab Dzahiriyah, seperti Ibnu dawud dan Ibnu Hazm. Sedangkan dari kalangan Syi’ah Imamiyah antara lain Ibnu Babaweih al-Qummy, ath-Thusy dan al-Hilly. Dari kalangan mazhab Maliki antara lain Ath-Tharthusy, Iyyadh, Ibnu Khaldun. Dari kalangan mazhab Hanbaly antara lain Inu Taymiyah. Dan kalangan Syafi’iyah antara lain Al-Juwainy dan ad-Dzahaby.

Sementara itu dari kalangan Mutakallimin yang mengkafirkan: Al-Jubba’i dan al-Qazwiny(Mu’tazilah); Nashiruddin ath-Thusy dan pengukutnya (Imamiyah); Al-Baqillany (Asy’ariyah); Ibnu Kamal dan al-Qaaly (Maturidiyah).

Dari kalangan Sufi antara lain, Amr al-Makky dan kalangan Salaf, diantaranya juga para Sufi mutakhir, selain Ahmad ar-Rifai’y dan Abdul Karim al-Jily, keduanya tidak berkomentar.

2. Mereka yang mendukung pandangan Al-Hallaj, dari kalangan Fuqaha’ antara lain: At-Tusytary dan Al-Amily (Imamiyah); Ad-Dilnajawy (Malikiyah); Ibnu Maqil dan an-Nabulisy (Hambaliyah),; Al-Maqdisy, Al-Yafi’y, Asy-Sya’rany dan Al-Bahtimy (Syafi’iyah). Dari kalangan Mutakallimin, Ibnu Khafif, Al-Ghazaly dan Ar-Razy (kalangan Asy’ary) serta kalangan Mutakallim Salaf.

Dari kalangan Filosuf pendukungnya adalah Ibnu Thufail. Sedangkan dari kalangan Sufi antara lain as-Suhrawardy al-Maqtul, Ibnu Atha’ as=Sulamy dan Al-Kalabadzy.

3.Kelompok yang tidak berkomentar, dari kalangan Fuqaha’ antara lain: Ibnu Bahlul (Hambaliyah), Ibnu Suraij, Ibnu Hajar dan As-Suyuthy (Syafi’iyah). Dari kalangan Sufi antara lain, Al-Hushry, Al-Hujwiry, Abu Sa’id al-Harawy, Al-Jilany, Al-Baqly, AlAththar, Ibnu Araby, Jalaluddin ar-Ruumy, Ahmad Ar-Rifa’y, dan Al-Jiily.

Kontroversi Al-Hallaj, sebenarnya terletak dari sejumlah ungkapan-ungkapannya yang sangat rahasia dan dalam, yang tidak bisa ditangkap secara substansial oleh mereka, khususnya para Fuqaha’ (ahli syariat). Sehingga Al-Hallaj dituduh anti syari’at, lalu ia harus disalib. Padahal tujuan utama Al-Hallaj adalah bicara soal hakikat kehambaan dan Ketuhanan secara lebih transparan.

Tudingan bahwa Al-Hallaj penganut Wahdatul Wujud semata juga karena tidak memahami wahana puncak-puncak ruhani Al-Hallaj sebagaimana dialami oleh para Sufi. Banyak sekali wacana Tasawuf yang mirip dengan Al-Hallaj. Dan Al-Hallaj tidak pernah mengaku bahwa dirinya adalah Allah sebagaimana pengakuan Fir’aun dirinya adalah Tuhan. Dalam sejumlah wacananya, Al-Hallaj senantiasa menyatakan dirinya adalah seorang hamba yang hina dan fakir. Apa yang ditampakkan oleh Al-Hallaj adalah situasi dimana wahana ruhaninya menjadi dominan, sehingga kesadarannya hilang, sebagaimana mereka yang sedang jatuh cinta di puncaknya, atau mereka yang sedang terkejut dalam waktu yang lama.

Toh Al-Hallaj tetap berpijak pada pandangan Al-Fana’, Fana’ul Fana’ dan al-Baqa’, sebagaimana dalam wacana-wacana Sufi lainnya. Al-Hallaj juga tidak pernah mengajak ummat untuk melakukan tindakan Hulul. Sebab apa yang dikatakan semuanya merupakan Penyaksian kepada Allah atau sebagai etiuk murni dari seorang Sufi yang sangat dalam.

Sejarawan Al-Baghdady mengisahkan tragedi kematian dan peradilannya:

“Ketika mereka hendak membunuh Al-Husain bin Mansur Al-Hallaj, para Fuqaha’ dan Ulama dihadirkan, sementara Al-Hallaj diseret di hadapan Sultan. Para dewan kepolisian juga dihadirkan di sisi barat, tepatnya di hari Selasa, bulan Dzul Qa’dah Minggu kedua, TAHUN 309. Ia dicambuk sekitar seribu kali cambukan, lalu kedua kakinya dipotong, menyusul kedua tangannya, lalu lehernya ditebas. Lalu tubuhnya dibakar dengan api.

Kepalanya yang dipenggal itu diangkat, ditunjukkan kepada publik dalam kerangkeng besi, sementara kedua tangan dan kakinya diletakkan di sisi kepalanya. Ketika Al-Hallaj mendekati saat-saat penyaliban, ia membisikkan kata-kata, “Wahai yang menolong kefanaan padaku…tolonglah diriku dalam kefanaan….Tuhanku, Engkau mengasihi orang yang menyakitiMu, maka bagaimana engkau tidak mengasihi orang yang lara dalam DiriMu…Cukuplah yang satu menunggalkan yang satu bagiNya….”. Lalu ia membaca sebuah ayat, “

Sebelum meninggal dengan hukuman tragis itu, Al-Hallaj mengalami hidup dari satu tahanan ke tahanan lainnya, akibat iri dan kedengkian para Fuqaha’ dan para Ulama yang merasa tersaingi oleh pengaruh Al-Hallaj yang mulai meluas. Bisa jadi penguasa sangat terpengaruh pula oleh bahaya massa Al-Hallaj. Kalau toh Al-Hallaj harus dihukum mati dengan disalib, sebagaimana pernah ia ramalkan sendiri, adalah karena ia harus menghadapi ketidakberdayaan kekuasaan.

Tetapi sekali lagi, Al-Hallaj adalah penganut amaliyah Syariat yang sangat patuh, yang digambar kan, sebagai sosok yang hafidz Al-Qur’an, tekun sholat sepanjang malam, puasa sepanjang siang, dan melakukan ibadah haji berulang kali. Hukuman mati baginya, sama sekali tidak ada kaitannya dengan legitimasi bahwa dirinya salah dan benar.

Rasanya Tragedi Al-Hallaj menjadi hikmah yang luar biasa dalam perkembangan Tasawuf. Mereka akan mehamami substansi Al-Hallaj, manakala mereka juga menjalankan dan merasakan apa yang dialami oleh Al-Hallaj. Sekadar menvonis Al-Hallaj begini dan begitu, tanpa pernah menghayati substansi terdalam dalam praktek Sufistik, siapa pun akan selalu gagal memahaminya.

Ada ungkapan Sufi yang sangat arif bisa jadi renungan kita bersama untuk sekadar merasakan sedikit dari rasa Al-Hallaj. “Orang yang sedang tenggelam di lautan, tidak akan pernah bisa bicara, bercerita, berkata-kata, tentang tenggelam itu sendiri. Ketika ia sudah mentas dari tenggelam, dan sadar, baru ia bicara tentang kisah rahasia tenggelam tadi. Ketika ia bicara tentang tenggelam itu, posisinya bukan lagi sebagai amaliyah tenggelam, tetapi sekadar ilmu tentang tenggelam.

Bedakan antara amal dan ilmu. Sebab banyak kesalah pahaman orang yang menghayati tenggelam, tidak dari amalnya, tetapi dari ilmunya. Maka muncullah kesalahpahaman dalam memahami tenggelam itu sendiri.”

Diantara Ucapan-ucapan Al-Hallaj :

1.Allah menghijab mereka dengan Nama, lantas mereka pun menjadi hidup. Seandainya Dia menampakkan Ilmu Qudrat pada mereka, mereka akan hangus. Seandainya hijab hakikat itu disingkapkan niscaya mereka mati semua.

2.Tuhanku, Engkau tahu kelemahanku jauh dari rasa bersyukur kepadaMu, karena itu bersykurlah pada DiriMu bukan dariku, karena itulah sesungguhnya Sukur, bukan yang lain.

3.Siapa yang mengandalkan amalnya ia akan tertutupi dari yang menerima amal. Siapa yang mengandalkan Allah yang menerima amal, maka ia akan tertutupi dari amal.

4. Asma-asma Allah Ta’ala dari segi pemahaman adalah Nama ansich, tapi dari segi kebenaran adalah hakikat
5. Bisikan Allah adalah bisikan yang sama sekali tidak mengandung kontra.

6. Suatu ketika Al-Hallaj ditanya tentang al-Murid, Ia adalah orang yang dilemparkan menuju kepada Allah, dan tidak akan berhenti naik sampai ketika ia sampai.”

7. Sama sekali tidak diperbolehkan orang yang mengenal Allah Yang Maha Tunggal atau mengingat Yang Maha Tunggal, lalu ia mengatakan, “Aku mengenal Al-Ahad” padahal ia masih melihat individu-individu lainnya.

8. Siapa yang dimabukkan oleh cahaya-cahaya Tauhid, ia akan tertupi dari ungkapan-ungkapan Tajrid (menyendiri bersama Allah). Bahkan, siapa yang dimabukkan oleh cahaya-cayaha Tajrid, ia akan bicara dengan hakikat Tauhid, karenakemabukan itulah yang bicara dengan segala hal yang tersembunyi.

9. Siapa yang menempuh kebenaran dengan cahaya Iman, maka ia seperti pencari matahari dengan cahaya bintang gemintang.

10. Ketika Allah mewujudkan jasad tanpa sebab, demikian pula Allah mewujudkan sifat jasad itu tanpa sebab, sebagaimana hamba tidak memiliki asal usul pekerjaannya, maka, hamba itu pun tidak memiliki pekerjaannya.

11. Sesungguhnya Allah Ta’ala, Maha Pemberi Berkah dan Maha Luhur, serta Maha Terpuji, adalah Dzat Yang Esa, Berdiri dengan DiriNya Sendiri, Sendiri dari yang lain dengan Sifat QidamNya, tersendiri dari yang lainNya dengan KetuhananNya, tidak dicampuri oleh apa pun dan tidak didampingi apa pun, tidak diliputi tempat, tidak pula di temukan waktu, tidak mampu difikirkan dan tidak bisa tercetus dalam imajinasi, tidak pula bisa dilihat pandangan, tidak bisa darusi kesenjangan.

12. Akulah Al-Haq, dan Al-Haq (Allah) Benar, Mengenakan DzatNya, di sana tak ada lagi perbedaan.

13.Ketika ditanya tentang Tauhid, ia menjawab, Memisahkan yang baru dengan Yang Maha Dahulu, lalu berpaling dari yang baru dan menghadap kepada Yang Maha Dahulu, dan itulah hamparan Tauhid. Sedangkan substansinya.

"Aku adalah Dia yang kucinta, dan Dia yang kucinta adalah aku. Kami adalah dua jiwa yang bertempat dalam satu tubuh. Jika engkau lihat aku, engkau lihat Dia, dan jika engkau lihat Dia, engkau lihat aku".

Maha suci zat yang sifat kemanusiaan-Nya, membukakan rahasia cahaya ketuhanan-Nya yang gemilang. Kemudian kelihatan baginya mahluk-Nya, dengan nyata dalam bentuk manusia yang makan dan minum.

Jiwa-Mu disatukan dengan jiwaku, sebagaimana anggur disatukan dengan air murni. Jika sesuatu menyentuh Engkau, ia meyentuhku pula, dan ketika itu dalam tiap hal Engkau adalah aku.

Aku adalah rahasia Yang Maha Benar, dan bukanlah Yang Maha Benar itu aku Aku hanya satu dari yang benar, maka bedakanlah antara kami.

Sebelumnya tidak mendahului-Nya, setelah tidak menyela-Nya, daripada tidak bersaing dengan Dia dalam hal keterdahuluan, dari tidak sesuai dengan Dia, ketidak menyatu dengan dia, Dia tidak mendiami Dia, kala tidak menghentikan Dia, jika tidak berunding dengan Dia, atas tidak membayangi Dia, dibawah tidak menyangga Dia, sebaliknya tidak menghadapi-Nya, dengan tidak menekan Dia, dibalik tidak mengikat Dia, didepan tidak membatasi Dia,

Terdahulu tidak memameri Dia, dibelakang tidak membuat Dia luruh, semua tidak menyatukan Dia,
ada tidak memunculkan Dia, tidak ada tidak membuat Dia lenyap, penyembunyian tidak menyelubungi Dia, pra-eksistensi-Nya mendahului waktu, adanya Dia
mendahului yang belum ada, kekalahan-Nya mendahului adanya batas

Di dalam kemuliaan tiada aku, atau Engkau atau kita,
Aku, Kita, Engkau dan Dia seluruhnya menyatu.

(Sufi Agung Al-Hallaj)
posted by Mevlana as Sufi at 11:07 PM 0 comments

Dzikir di Bulan Rajab
Syaykh Muhammad Hisham Kabbani (q)
Sohbet 4 Oktober 2001


Rasulullah saw telah menyebutkan segala hal yang akan terjadi. Beliau telah menyebutkan semua tanda yang akan muncul sebelum kiamat. Beliau berkata kepada para sahabat, “Aku melihat kesengsaraan datang sebagai suatu malam yang gelap...1 Pada saat itu orang yang duduk lebih baik dari pada orang yang berdiri, dan orang yang berdiri lebih baik dari pada orang yang berjalan. Orang yang berjalan lebih baik dari pada orang yang mengendarai kendaraan.”

Maksud hadits di atas berarti tinggal di rumah dan tidak pergi ke manapun. Jangan pergi ke warung kopi atau ke pusat perbelanjaan. Tidak masalah bila kalian harus pergi bekerja, tetapi kalian harus berangkat dari rumah ke tempat kerja kemudian dari tempat kerja langsung kembali ke rumah—tidak pergi ke mana-mana lagi.

Dalam hadits tersebut kita mendengar sebuah gambaran mengenai apa yang akan terjadi. Siapa yang berada di dalam rumah akan selamat. Siapa yang berkeliaran di luar akan berada dalam kesulitan. Siapa yang duduk akan lebih aman. Dan siapa yang mengendarai kendaraannya akan berada dalam situasi yang paling buruk. Setiap hari setiap murid harus melakukan dzikir:

700 kali astagfirullah wa atubu ilayh,
700 kali la hawla wa laa quwatta illa-billah il-‘aliiy il-‘adziim
700 kali hasbunallah wa ni’mal-wakiil
700 kali bismillahir rahmaanir rahiim
700 kali Ya Wadud
5000 kali Allah, Allah dengan lidah
5000 kali Allah, Allah dalam hati
2000 kali salawat
100 kali Surat al-Ikhlas

Jika kalian tidak sanggup melakukannya, paling tidak lakukan shalat hifz (maksudnya shalat memohon perlindungan) sebanyak 2 rakaat agar kita terlindung dari penderitaan yang datang dari atas maupun dari bawah. (Shalat ini dilakukan setelah ‘Isya, rakaat pertama setelah al-Fatiha dibaca al-Ikhlash 2 kali dan rakaat kedua al-Ikhlas 1 kali)

Bagi Orang yang menjaga adabnya di bulan Rajab, telah dijamin sebuah kunci untuk menerima inspirasi dan informasi surgawi. Jika kalian melakukan awrad (latihan spiritual) dengan baik maka kalian akan mendapatkan kunci itu. Kunci tersebut akan membuka hati kalian untuk bisa melihat dan mendengarkan apa yang sebelumnya tidak kalian perkirakan.

Semoga Allah memafkan dan mendukung kita.

Rasulullah saw bersabda, “Sawfa tud’iiu narin min ardi Najd yasyraibu laha ‘anaq al-ibli bi Basra”—“Hari Akhir tidak akan datang sampai ada api yang dipancarkan dari Hijaz yang akan menerangi leher unta-unta di Basra.”(2).

Kita berfikir hal ini terjadi dengan adanya perang antara Kuwait dan Irak, tetapi ternyata terjadi sekarang. Panas dari api itu akan mencapai daerah antara Basra dan Najd atau Hijaz.

Saat itu tidak ada tempat yang aman di bumi ini, kecuali di Mekkah, Madinah, dan Syam (Damaskus). Tetapi jika Allah menghendaki, tak ada yang dapat melukai kalian. Bahkan jika sebuah bom atom jatuh tepat di samping kalian, kalian tidak akan terluka. Ada 7 kelompok orang-orang suci, Budala, Nujaba, Nuqaba, Awtad, Akhyar, Jinn yang akan melindungi orang-orang yang telah ditakdirkan untuk tetap hidup. Jika kalian tewas, maka kalian mendapat predikat syahid—dan akan masuk surga. Tetapi jika kalian hidup, kalian akan tinggal bersama Imam Mahdi as, dan juga akan masuk surga. Ini lebih baik.

Kalian harus selalu melawan ego kalian, khususnya di bulan ini. Jika ego mengatakan pergi ke kiri, maka pergilah ke kanan, jika dia berkata “makan”, jangan makan; jika dia bilang “pergi belanja”, tinggallah di rumah.

Sekarang akan turun suatu tajalli yang kuat, yang merupakan manifestasi dari Kekuatan Ilahi. Jangan pergi keluar—ke mall, tempat hiburan, ke pizza, menghabiskan waktu berjalan-jalan. Tinggallah di rumah, lakukan dzikir dan baca al-Quran.

Bagi wanita yang suka berjalan-jalan, sebaiknya sekarang tinggal di rumah. Sebab di bulan ini ada bahaya. Siapa yang tertangkap melakukan suatu kesalahan maka tajalli dari Jalal (Kekuatan Ilahi) akan menghukumnya. Jadi berhati-hatilah. Jangan membuat kesalahan.

1. Abu Musa al-Asy’arimeriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sebelum jam-jam terakhir akan ada suatu huru-hara seperti suatu malam yang gelap di mana seseorang yang taat di pagi hari akan menjadi orang yang tidak loyal di malam harinya, atau sebaliknya seorang yang taat di malam hari akan menjadi tidak patuh di pagi harinya. Pada masa itu siapa yang duduk akan lebih baik dari pada yang berdiri dan siapa yang berjalan akan lebih baik dari pada yang berlari. Jadi marilah kita tundukkan diri kita untuk berdo’a. Jika ada orang yang datang kepada salah seorang di antara kamu, biarkan dia menjadi seperti lebih baik dari kedua anak Adam. (Sunan Abu Dawud, buku ke-35 “Kitab Al-Fitan Wa Al-Malahim” Nomor 4246)

2. Abu Huraira ra melaporkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Hari Kiamat tidak akan datang sampai terdapat api yang berpijar di bumi Hijaz yang akan menerangi leher unta-unta di Basra. (Sahih Muslim, Buku ke-041, Nomor 6935)

Bihurmatil habib. Al- Fatiha
posted by Mevlana as Sufi at 11:07 PM 0 comments

Laylatu l-‘Israa’ ( Malam 27 Rajab )
Mawlana Syaikh Nazhim Adil al Qubrusi al Haqqani


Malam 27 Rajab adalah Malam Kenaikan Rasulullah saw. Antara Maghrib dan ‘Isya dianjurkan untuk melakukan ibadah sebagai berikut:
a. Shalat 20 rakaat, 2-2 atau 4-4, setiap rakaat
dibaca surat al-Ikhlash 20 kali.
b. Setelah selesai melaksanakan 20 rakaat, bacalah
istighfar 100 kali dengan suara keras.
c. Dilanjutkan dengan shalawat 100 kali dengan suara
keras.

Untuk memperingati peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah saw, setelah shalat ‘Isya dianjurkan untuk melakukan ibadah sebagai berikut:

a. Shalat syukur.
b. Shalat tasbih.
c. Shalat untuk memohon fadhilah Isra’ Mi’raj, 2
rakaat dengan qunut.

bihurmati habib, fatihah
posted by Mevlana as Sufi at 11:07 PM 0 comments

Kekuatan dan Pilihan
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani London, Inggris. 31 Januari 2000 (www.the-heart.net)


Makanan kita dan rezeki kita adalah apa yang dikaruniakan Allah swtkepada kita. Segala yang kita konsumsi telah dipersiapkan dan ditetapkan oleh Sang Pencipta. Ketika rezeki kita telah habis, kita pun meninggal dan berakhir di liang lahat. Jika belum, kita akan tetap berada di sini. Begitu pula dengan rezeki spiritual yang telah dipersiapkan dan setiap orang akan diberikan bagian mereka.

Ini adalah pertemuan suci dan setiap orang akan mengambil bagian dari rezeki spiritual mereka masing-masing. Apapun yang telah digariskan bagi kita akan diberikan, jagalah bagian itu! Sayyidina ‘Ali ra berkata, “Kalian harus berusaha untuk mendengar, menangkap dan menjaganya!” Ini untuk kalian, dukungan untuk hidup kalian dan kehidupan ini adalah sulit. A’uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim bismillaahir rahmaanir rahiim. (Aku berlindung kepada Allah swtdari godaan Setan yang terkutuk, dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).

Itu adalah jalan kalian kepada saya, untuk mendapat kan apa yang telah diberikan kepada saya. Kalian harus siap dan mengambilnya, santapan ini masih sangat segar, baru dan langsung, rezeki spiritual ini adalah untuk pria dan wanita. Bila kalian menjaganya dalam hati, kalian bisa menggunakannya.

Sebagaimana sebuah mobil memerlukan bensin sebagai suatu sumber tenaga yang terpisah, 10 liter atau 100 liter bensin untuk pergi dari satu tempat ke tempat yang lain, mobil itu memerlukan tenaga ini.Bagaimana dia dapat pergi tanpa tenaga ini? Ya, kalian dapat bergerak bagaikan seekor kuda atau keledai dengan gandum, tetapi mereka tidak memerlukan tenaga spiritual, mereka hanya untuk melayani kalian saja. Allah swt menciptakan mereka untuk membantu kalian.

Mereka tidak memerlukan kekuatan spiritual untuk mendukung mereka, mereka hanya untuk kehidupan ini dan untuk sementara, baik untuk membawa barang-barang kalian atau untuk dimakan.

Tetapi kalian, ummat manusia di abad ke-21, begitu banyak tahun yang telah berlalu di dunia ini dan orang-orang masih berpikir bahwa dunia semakin muda, ini adalah mentalitas yang salah dari “Tahun Baru”, mereka tidak mengatakan, “Tahun Tua.” Dan di abad ini manusia telah mencapai level tertinggi dalam kewenangan untuk menggunakan kekuatan rahasia Allah yang diletakkan di alam ini. Selama sekitar 2 abad sekarang, Allah telah membuka seberkas sinar dari Samudra Kekuatan Rahasia-Nya, dan kita menyebutnya ‘listrik’.

Sekarang, tak ada orang yang melukiskannya, kalian hanya melihatnya bekerja tetapi kalian tidak dapat melihat kekuatan itu sendiri. Dan semua teknologi nya dibangun berdasarkan kekuatan itu, dari Timur ke Barat, itulah jiwa mereka. Kalian, tubuh kalian hanyalah milik bumi, sebagaimana Allah menciptakan manusia pertama, dia tidak dapat melihat atau mencium. Ketika perintah Allah datang dan sampai kepada manusia, mereka berkata, “Siapa aku? Sampai di mana kekuatanku bisa meraihnya?”

Sebuah patung dari tanah liat? Bagaimana dia dapat bergerak, berdiri dan hidup?! Itu hanyalah sebuah perintah dari Allah yang mengatakan kepada setiap atom yang berada di dalamnya untuk, “Berdiri! Hiduplah!” pada awalnya manusia hanyalah sebuah patung tanah liat, kemudian dia mulai bergerak dan hidup.

Kita bagaikan huruf Alif, seperti sebuah tongkat. Sangat sulit bagi kita untuk bisa berdiri. Kita adalah desain paling sempurna di antara seluruh makhluk di bumi, tetapi beberapa orang mengatakan bahwa kita berasal dari gorilla! Kita semua adalah desain terbaik. Jangan berkata bahwa kita buruk rupa. Apakah kalian berpikir bahwa Dia, Tuhan Pemilik Surga, tidak pantas untuk disyukuri dan dihargai? Alhamdulillah, segala puji dan syukur bagi-Mu, yaa Allah.

Orang-orang di abad ke-21 tidak berpikir. Bagaimana seseorang mengaku bahwa dia telah mencapai derajat kemanusiaan yang tinggi, padahal dia terjerumus ke level binatang? Hari Kiamat semakin dekat. Kalian harus lebih banyak menghargai Allah. Lebih banyak menghormati-Nya, lebih banyak memuji-Nya, dan lebih banyak mengagungkan-Nya. Kalian tidak memberi, melainkan menerima,… melalui penghormatan kalian, kalian akan dihormati, melalui pujian kalian, kalian akan dipuji dan melalui pengagungan kalian, kalian akan diagungkan.

Sebuah badai datang. Dia akan menyapu orang-orang yang lalai, tak ada yang tahu di mana mereka akan dilemparkan. Dunia, bumi ini hanya untuk orang-orang yang memelihara penghambaannya kepada Tuhan. Ketika saya duduk di sini, Saya memohon agar diberikan sebuah samudra, tetap saja itu hanya merupakan perkenalan, hanya apa yang saya butuhkan.

Jaga dia baik-baik untuk kalian, apakah kalian senang atau tidak, memuliakannya atau tidak, menghormati atau tidak, menghidupkannya atau membuangnya sebagai sampah. Surga hanya untuk berlian, untuk orang-orang yang baik. Pilihlah untuk diri kalian sendiri, berlian atau sampah. Kita tidak datang dengan tongkat, ini adalah sebuah nasihat Ilahiah. Semoga Allah swt mengampuni saya dan memberkati kalian.

Hanya ada satu Sultan, al-Fatiha.
Wa min Allah at taufiq
posted by Mevlana as Sufi at 11:07 PM 0 comments

Ibnu Araby Tentang Khatamul Auliya'
Mawlana Syaikh Ibnu Araby


Imam at-Tairmidzy al-Hakim, seorang filosuf agung dan Sufi terbesar di zamannya pernah menulis tentang Khatamul Auliya’ (Pamungkas para wali), sebagai konsep mengembangkan pamungkas para Nabi (Khatimul Anbiya’). Ibu Araby dalam kitabnya yang paling komprehensif sepanjang zaman, Al-Futuhatul Makiyyah. Disanalah Ibnu Araby menjawab 155 pertanyaan dalam Khatamul Auliya’-nya At-Tirmidy. Dalam pertanyaan pertama berbunyi: Berapakah Manazil (tempat pijakan ruhani) para Auliya’?

Ibnu Araby menjawab: Ketahuilah bahwa manazil Auliya’ ada dua macam. Pertama bersifat Inderawi (hissiyah) dan kedua bersifat Maknawy. Posisi pijakan ruhani (manzilah) yang bersifat inderawi, adalah syurga, walau pun di syurga itu ada seratus jumlah derajatnya. Sedangkan manzilah mereka di dunia yang bersifat inderawi adalah ahwal mereka yang seringkali melahirkan sesuatu yang luar biasa.

Diantara mereka ada ditampakkan oleh Al lah seperti Wali-wali Abdal dan sejenisnya. Ada juga yang tidak ditampakkan seperti kalangan Wali Malamatiyah serta para kaum ‘Arifin yang agung, jumlah pijakan mereka lebih dari 100 tempat pijakan ruhani. Setiap masing-masing tempat itu berkembang menjadi sekian tempat yang begitu banyak. Demikian pijakan ruhani mereka yang bersifat inderawi di dua alam (dunia dan akhirat).

Sedangkan yang bersifat Maknawy dalam dimensi-dimensi kema’rifatan, maka manzilah mereka 248 ribu tempat pijakan ruhani hakiki yang tidak dapat diraih oleh ummat-ummat sebelum Nabi kita Muhammad SAW, dengan rasa ruhani yang berbeda-beda, dan masing-masing rasa ruhani memiliki rasa yang spesial yang hanya diketahui oleh yang merasakan.

Jumlah tersebut tersari dalam empat maqamat:
1) Maqam Ilmu Ladunny
2) Maqam Ilmu Nur
3) Maqam Ilmu al-Jam’u dan at-Tafriqat
4) Maqam Ilmu Al-Kitabah al-Ilahiyyah.

Diantara Maqamat itu adalah maqam-amaqam Auliya’ yang terbagi dalam 100 ribu lebih maqam Auliy a, dan masing-masing masih bercabang banyak, yang bisa dihitung, namun bukan pada tempatnya mengurai di sini.

Mengenai Ilmu Ladunny berhubungan dengan nunasa-nuansa Ilahiyah dan sejumlah serapannya berupa Rahmat khusus. Sedangkan Ilmu Nur, tampak kekuatan nya pada cakrawala ruhani paling luhur, ribuan Tahun Ilahiyah sebelum lahirnya Adam as. Sementara Ilmu Jam’ dan Tafriqah adalah Lautan Ilahiyah yang meliputi secara universal, dimana Lauhul Mahfudz sebagai abian dari Lautan itu.

Dari situ pula melahirkan Akal Awal, dan seluruh cakrawala tertinggi mencerap darinya. Dan sekali lagi, para Auliya selain ummat ini tidak bisa mencerapnya. Namun diantara para Auliya’ ada yang mampu meraih secara keseluruhan ragam itu, seperti Abu Yazid al-Bisthamy, dan Sahl bin Abdullah, serta ada pula yang hanya meraih sebagian. Para Auliya’ di kalangan ummat ini dari perspektif pengetahuan ini ada hembusan ruh dalam lorong jiwanya, dan tak ada yang sempurna kecuali dari Auliya’ ummat ini sebagai pemuliaan dan pertolongan Allah kepada mereka, karena kedudukan agung Nabi mereka Sayyidina Muhammad SAW.

Di dalam pengetahuan tersebut tersembunyi rahasia-rahasia ilmu pengetahuan yang sesungguhnya berada dalam tiga pijakan dasar ruhani pengetahuan:
1) Pengetahuan yang berhubungan dengan Ilahiyyah,
2) Pengetahuan yang berhubungan dengan ruh-ruh yang
luhur.
3) Pengetahuan yang berhubungan dengan maujud-maujud
semesta. Yang berhubungan dengan ilmu ruh-ruh yang luhur menjadi beragam tanpa adanya kemustahilan kontradiktif. Sedangkan yang berhubungan dengan maujud alam beragam, dan memiliki kemustahilan dengan kontradiksi kemustahilannya.

Jika pengetahuan terbagi dalam tiga dasar utama itu, maka para Auliya’ juga terbagi dalam tiga lapisan: Lapisan Tengah (Ath-Thabaqatul Wustha), memiliki 123 ribu pijakan ruhani, dan 87 manzilah utama, yang menjadi sumber serapan dari masing-masing manzilah yang tidak bisa dibatasi, karena terjadinya interaksi satu sama lainnya, dan tidak ada yang meraih manfaatnya kecuali dengan Rasa Khusus.

Sementara lapisan yang sisanya, (dua lapisan) muncul dengan pakaian kebesaran dan sarung keagungan. Hanya saja keduanya yang menggunakan sarung keagungan itu memiliki mazilah lebih dari 123 ribu itu. Sebab pakaian kebesaran merupakan penampakan dari AsmaNya Yang Maha Dzahir, sedangkan sarungnya adalah penampakan dari AsmaNya Yang Maha Batin. Yang Dzahir adalah asal tonggaknya, dan Yang Batin adalah karakter baru, dimana dengan kebaruannya muncullah pijakan-pijakan ruhani (manazil) ini.

Cabang senantiasa menjadi tempatnya buah. Maka apa yang ditemukan pada cabang itu merupakan sesuatu yang tidak ditemukan dalam tonggaknya, yaitu buah. Walaupun dua cabang di atas itu munculnya dari satu tonggak utamanya yaitu AsdmaNya Yang Maha Dzahir, tetapi hukumnya berbeda. Ma’rifat kita kepada Tuhan, muncul setelah kita mengenal diri kita, sebab itu “Siapa yang kenal dirinya, kenal Tuhannya”.

Walaupun wu jud diri kita sesungguhnya merupakan cabang dari dari Wujug Rabb. Wujud Rabb adalah tonggal asal, dan wujud hamba adalah cabang belaka. Dalam Martabat bisa akan mendahului, sehingga bagiNya ada Nama Al-Awwal, dan dalam suatu martabat diakhirkan, sehingga ada Nama Yang Maha Akhir. Disatu sisi dihukumi sebagai Asal karena nisbat khusus, dan dilain sisi disehukumi sebagai Cabang karena nisbat yang lain. Inilah yang bisa dinalar oleh analisa akal. Sedangkan yang dirasakan oleh limpahan Ma’rifat Rasa, maka Dia adalah Dzahir dari segi bahwa Dia adalah Batin, dan Dia adalah Batin dari segi kenyataanNya Yang Dzahir, dan Awwal dari kenyataanNya adalah Akhir, demikian pula dalam Akhir.

Swedangkan jumlah para Auliya yang berada dalam manzilah-manzilah itu, ada356 sosok, yang mereka itu adala dalam kalbu Adam, Nuh, Ibrahim, Jibril, Mikail, dan Israfil. Dan ada 300, 40, 7, 5, 3 dan 1. Sehingga jumlah kerseluruhan 356 tokoh. Hal ini menurut kalangan Sufi karena adanya hadits yang
menyebut demikian.

Sedangkan menurut Ibnu Araby yang muncul dari mukasyafah, maka jumlah keseluruhan Auliya yang telah kami sebut diatas di awal bab ini, sampai berjumlah 589 orang. Diantara mereka ada 1 orang, yang tidak mesti muncul setiap zaman, yang disebut sebagai al-Khatamul Muhammady, sedangkan yang lain senantiasa ada di setiap zaman tidak berkurang dan tidak bertambah. Al-Khatamul Muhammady pada zaman ini (zaman Ibnu Araby, red), kami telah melihatnya dan mengenalnya (semoga Allah menyempurnakan kebahagiaannya), saya tahu ia ada di Fes (Marokko) tahun 595 H. Sementara yang disepakati kalangan Sufi, ada 6 lapisan para Auliya’, yaitu para Wali : Ummahat, Aqthab; A’immah; Autad; Abdal; Nuqaba’; dan Nujaba’.

Pada pertanyaan lain : Siapa yang berhak menyandang Khatamul Auliya’ sebagaimana gelar yang disandang Khatamun Nubuwwah oleh Nabi Muhammad SAW.?

Ibnu Araby menjawab:
Al-Khatam itu ada dua: Allah menutup Kewalian (mutlak), dan Allah me nutup Kewalian Muhammadiyah. Penutup Kewalian mutlak adalah Isa Alaihissalaam. Dia adalah Wali dengan Nubuwwah Mutlak, yang kelak turun di era ummat ini, dimana turunnya di akhir zaman, sebagai pewaris dan penutup, dimana tidak ada Wali dengan Nubuwwah Mutlak setelah itu. Ia disela oleh Nubuwwah Syari’at dan Nubuwwah Risalah.

Sebagaimana Nabi Muhammad SAW sebagai Penutup Kenabian, dimana tidak ada lagi Kenabian Syariat setelah itu, walau pun setelah itu masih turun seperti Isa, sebagai salah satu dari Ulul ‘Azmi dari para Rasul dan Nabi mulia. Maka turunnya Isa sebagai Wali dengan Nubuwwah mutlaknya, tertapi aturannya mengikuti aturan Nabi Muhammad SAW, bergabung dengan para Wali dari ummat Muhammad lainnya. Ia termasuk golongan kita dan pemuka kita.

Pada mulanya, ada Nabi, yaitu Adam, AS.Dan akhirnya juga ada Nabi, yaitu Isa, sebagai Nabi Ikhtishah (kekhususan), sehingga Isa kekal di hari mahsyar ikut terhampar dalam dua hamparan mahsyar. Satu Mahsyar bersama kita, d an satu mahsyar bersama para Rasul dan para Nabi.

Adapun Penutup Kewalian Muhammadiyah, saat ini (era Ibnu Araby) ada pada seorang dari bangsa Arab yang memiliki kemuliaan sejati. Saya kenal ditahun 595 H. Saya melihat tanda rahasia yang diperlihatkan oleh Allah Ta’ala pada saya dari kenyataan ubudiyahnya, dan saya lihat itu di kota Fes, sehingga saya melihatnya sebagai Khatamul Wilayah darinya. Dia adalah Khatamun Nubuwwah Mutlak, yang tidak diketahui banyak orang. Dan Allah telah mengujinya dengan keingkaran berbagai kalangan padanya, mengenai hakikat Allah dalam sirrnya.

Sebagaimana Allah menutup Nubuwwah Syariat dengan Nabi Muhammad SAW, begitu juga Allah menutup Kewalian Muhammady, yang berhasil mewarisi Al-Muhammadiyah, bukan diwarisi dari para Nabi. Sebab para Wali itu ada yang mewarisi Ibrahim, Musa, dan Isa, maka mereka itu masih kita dapatkan setelah munculnya Khatamul Auliya'’Muhammady , dan setelah itu tidak ada lagi Wali pada Kalbu Muhammad SAW. In ilah arti dari Khatamul Wilayah al-Muhammadiyah. Sedangkan Khatamul Wilayah Umum, dimana tidak ada lagi Wali setelah itu, ada pada Isa Alaissalam. Dan kami menemukan sejumlah kalangan sebagai Wali pada Kalbu Isa As, dan sejumlah Wali yang berada dalam Kalbu para Rasul lainnya.

Wallahu A’lam bish-Shawab.
posted by Mevlana as Sufi at 11:07 PM 0 comments

Banyak Pembaca Al-Qur’an Namun Dikutuk Al-Qur’an
Maulana Jalaludin Rumi


Sewaktu zaman Nabi Muhammad saw , sahabat yang hapal setengah Juz atau satu juz Al-Qur’an, dianggap luar biasa dan menjadi sasaran kekaguman. Hal ini karena mereka menelan satu Juz Al-Quran tersebut, mereka berjalan dan bertingkah laku seperti satu jus Al-Quran yang mereka hapal.

Sekarang siapapun yang mampu menelan satu atau dua potong roti dapat dikatakan luar biasa, tetapi seseorang yang sekedar meletakkan roti didalam mulutnya, lalu menyemburkannya tanpa mengunyah, dia akan mampu menelan ribuan ton roti . Hal ini sesuai dengan ungkapan yang berbunyi, ”Banyak pembaca Al-Quran, namun dikutuk Al-Quran.

Orang seperti ini adalah orang yang tidak sadar makna sejati Al-Quran".Ibn Muqri membaca Al-Quran dengan bacaan yang benar. Dia membaca bentuk Al-Quran dengan benar, tetapi dia tak mendapat penunjuk makna dan hakikatnya, Dia membaca tanpa pengetahuan. Hal ini dibuktikan dengan kenyataan, bahwa ketika ia sampai pada makna, dia menolaknya, dia "buta".

Gudang harta karun Tuhan sangat luas dan tak terbatas, begitu banyak pembaca Al-Quran tetapi tak memahami sisi mistisme Al-Quran. “Tuhan telah berfirman dalam Al-Quran, katakan bila lautan adalah tinta untuk menulis kata-kata Tuhan, sesungguhnya laut tak akan cukup untuk menulis kata-kata Tuhan”.
Sekarang, dengan 1/8 ons tinta, orang mampu untuk menuliskan seluruh isi Al-Quran. Al-Quran hanyalah sekadar perlambang dari pengetahuan Tuhan yang tersembunyi dalam maknanya yang luas.

Bukan seluruh pengetahuanNya. Apabila tukang obat meletakkan sejumput obat pada selembar kertas, akankah engkau demikian bodoh mengatakan bahwa seluruh isi toko obat berada disejumput kertas ini.
Semua hal itu menceritakan tentang makna hakikat. Orang dapat mengungkapkan makna hakikat yang sama dengan bentuk lain atau dengan cara lain. Tetapi sebagian mereka hanya dapat mencapainya melalui caranya sendiri. Sangat sukar untuk berbicara kepada mereka. Apabila engkau berkata serupa dengan cara yang berbeda, mereka tidak akan mau mendengarkannya

Bihurmati habib, al Fatihah

(diringkas dan diterjemahkan bebas dari Sign of The Unseen : “The discourses of Jalaludin Rumi”)
posted by Mevlana as Sufi at 11:07 PM 0 comments

Ke”absurdan” Perempuan
Maulana Jalaludin Rumi
Diterjemahkan bebas dari Sign of The Unseen :
“The discourses of Jalaludin Rumi”


Ada sebuah cerita tentang kembalinya Nabi Muhammad dari sebuah expedisi yang memakan waktu berbulan-bulan. Nabi bersabda,”Nanti malam kita akan beristirahat di gerbang kota dan masuk keesokan harinya, pukullah genderang dengan keras”. “Wahai Rasulullah, mereka menanyakan apa baiknya kita melakukan hal itu?”

“Karena kalau engkau menemukan istrimu dengan lelaki lain, kalian pasti terluka, dan hasutan akan muncul dari sana”. Meskipun demikian salah satu sahabat tidak mengindahkan perkataan Rasul, dan memasuki kota dan menemukan istrinya dengan lelaki lain.

Rasul mengajarkan bahwa seseorang mesti menahan luka dengan menghindari kecemburuan dan fitnah. Seseorang juga mesti menahan luka akibat perlakuan perempuan. Isa berjuang dengan cara menahan diri dalam kesunyian dan tidak menurutkan godaan seseorang.

Cara Nabi Muhammad saw adalah menahan kesewang-wenangan dan kesedihan yang disebabkan perempuan . Apabila kalian tidak mampu mengikuti cara Nabi Muhammad saw, maka ambillah cara Isa as, sehingga kalian tidak tercabut dari kedua cara itu.

Cara Muhammad saw memperbaiki diri dengan menikahi perempuan, menahan kesewenang2an dan mendengarkan ke"absurdan" mereka. Engkau akan mendapat pengalaman spiritual melalui keabsurdan mereka. Setelah engkau mendapat keuntungan tersebut, engkau akan menjadi pengikut kesabaran, meskipun tanpa pertimbangan nalar. Dengan memiliki kedamaian batin, engkau menahan seribu tuduhan dan fitnah karena engkau akan bisa melihat dengan lebih baik dan mempercayai diam-diam.

Kalian akan bilang,” Karena lukalah aku bertahan dan aku mendapat harta yg berharga. Apabila kata2 itu tak berpengaruh saat ini, suatu ketika engkau tumbuh dewasa, kata2 itu akan memiliki pengaruh luar biasa
Apakah “perempuan” itu ? Tak peduli apapun yang kalian katakan, "perempuan adalah perempuan". Dia tak akan berubah dan tak akan mengubah dirinya.

Kata-kata tidak hanya tidak berpengaruh pada perempuan, bahkan mungkin akan membuat dirinya menjadi lebih buruk. Karena manusia selalu lapar terhadap apa-apa yang dia ingkari. Semakin engkau berkata kepada perempuan untuk menjaga dirinya agar tertutup, semakin gatal ia memperlihatkan dirinya dan semakin berhasrat orang lain untuk melihat dia. Menghadapi perkara ini, sebaiknya engkau beristirahat dan tidak merepotkan dirimu sendiri.

Sebaliknya, jika ia ingin berlaku menurut kehendak dan potensinya, maka pelarangan tak akan menghasilkan apapun. Melarangnya hanya akan menaikkan hasratnya.

Bihurmati habib, al Fatihah
posted by Mevlana as Sufi at 11:07 PM 0 comments

Musim Semi bagi Islam
Mawlana Syaikh Nazhim Adil al Qubrusi al Haqqani


Pepohonan yang daunnya berjatuhan di musim dingin, walau kamu beri air atau pupuk tidak akan hijau karena bukan musimnya. Apa yang telah Allah tanamkan tidak akan mati. Mereka mengira Islam sudah tiada, bahwa Rasulullah SAW hanya seorang manusia biasa. Sekarang adalah musim dingin bagi Islam, mereka mengira segala sesuatu yang menghijau sudah tiada, tapi musim sedang berganti, dan bila musim dingin telah selesai, tanaman hijau akan muncul kembali ke permukaan bumi.

Yang sudah tidur didalam bumi akan muncul menurut perintah Allah. Walaupun mereka berusaha untuk mencegah agar tidak terjadi, tidaklah mungkin. Sudah menjadi hukum alam, dan setelah gumpalan salju yang pertama, akan semakin banyak bunga yang muncul. Jadi seberapa keraspun mereka berteriak dan membuat hal-hal dan hukum-hukum yang buruk menentang Islam pada saat ini, waktunya telah tiba. Musim semi bagi Islam tidak bisa dicegah.

Dan mereka terheran-heran: Siapa yang melakukan ini? Bagaimana ini bisa terjadi? Betul, carilah Dia Yang Maha Esa dan temukanlah Dia, Fatiha

Bihurmatil habib. Al-Fatiha
posted by Mevlana as Sufi at 11:07 PM 0 comments

Adab Ketika Bersama Syaikh
Maulana Syaikh Hisham Kabbani


Kalian harus menjaga asosiasi dengan seorang wali. Dalam sohbet ,kalian harus menjaga hatimu dari gibah dan menggunjing dan tak boleh berbicara ditengah kehadirannya. Kalian juga tak perlu menyibukkan diri dengan shalat sunah dan ibadah sunah lainnya ketika sedang bersama Syaikh. Jagalah kebersamaannya dalam segala hal, jangan berbicara ketika mereka sedang berbicara, dengarkan apa yang mereka katakana , jangan melihat apa yang mereka miliki dirumah, terutama dikamar dan dapurnya.

Jangan berpaling pada Syaikh yang lain, tetapi yakinlah bahwa Syaikhmu akan membawamu tiba di tujuan. Jangan menyambungkan hatimu dengan Syaikh yang lain, bisa saja kalian terluka karena melakukan hal itu. Tinggalkan apapun yang kalian kumpulkan semasa kanak-kanan. Karena dalam menjaga kehadirat Syaikhmu, kalian tak boleh menyimpan sesuatu didalam hatimu kecuali Allah swt dan NamaNya.

Berbicara ditengah kehadiran Syaikh adalah “tarqul adab”, bertentangan dengan adab kesopanan, biarkan beliau sendiri yang memberikan pengajaran. Juga tidak baik untuk berdiri dengan gaya yang tidak sopan atau berdiri membelakanginya. Bahkan ketika beliau sedang berbicara dengan orang lain dan sedang tidak menghadap atau melihat kita. Kita harus menjaga sopan santun, adab dan tingkah laku yang baik kepadanya, jika kalian menjaga itu dengan baik, Allah akan membalasnya dengan memberikan kehormatan padamu.

Carilah penghormatan dari Allah , bukan dari egomu. Sebagaimana kalian menjaga kehormatan Syaikh, hormatilah juga saudara2mu, bersikap rendah hati, jangan mengulangi cerita gibah yang telah lewat lebih dari 2 jam yang lalu. Ketika Syaikh berjalan, jangan berjalan disampingnya, apa tingkatanmu berani berbuat demikian. Berdirilah dibelakangnya untuk menunjukkan kalian menghormatinya. Jangan berkerumun dan menutup jalannya.

Ketika Maulana masuk kalian harus berdisiplin membuat barisan dalam jarak tertentu untuk menunjuk kan penghormatan kepadanya, jangan berlarian seperti ayam. Ketika duduk dihadapan Syaikh, jangan menjulur kan kakimu kearahnya. Jangan coba-coba untuk mengevaluasi kata-kata dan pengetahuan Awliya.

Tak ada seorangpun yang bisa mengevaluasi kata-kata tingkat tinggi itu, karena standar yang tak mungkin diraih orang biasa. Oleh sebab itu jangan mencobanya untuk menembus dengan akal kalian, sebab kalian akan menjadi orang yang fasik, pelanggar karena terus menyangkal.

Bihurmati habib, al Fatihah
posted by Mevlana as Sufi at 11:07 PM 0 comments

Dunia Ibarat Kapal yang Berlayar Disamudra
Maulana Syaikh Hisyam Kabbani
Sohbet Subuh 8 Oktober 2003


Tidak semua yang terlihat mata kita adalah yang sebenarnya, ini hanyalah ilusi. Kepada orang-orang tertentu Allah swt anugerahkan kepemimpinan dalam
mengatur kehidupan agama. Dunia ibarat kapal yang berlayar disamudra Pada saat Allah ciptakan alam semesta, Allah swt tidak memberi keleluasaan pada manusia, karena kita hanyalah hamba. Allah tidak pantas untuk menanyakan pada mahluk untuk mencipta kan apa saja yang Dia inginkan.

Oleh karena itu kita harus mencintai Allah, mencintai Islam, mencintai Rasulullah dan Awliya. Kita harus mengerti proses, seperti terbitnya matahari dari Timur dan tenggelamnya di Barat. Kita makan, hidup dan mati di kapal yang sama, yang hanya ada satu Kapten Kapal. Mereka mengkritik, mencaci tetapi Kapal tetap berjalan terus dan tidak merubah
apapun. Mereka pikir mereka pintar, didek atas mereka saling berebut kamar, kemudian meng"claim" akulah Raja, akulah Presiden dan sebagainya. Begitu pula yang dibawah, memperebutkan kamar yang lebih kecil, mereka berkelahi satu sama lain.

Mereka pikir mereka dapat mengendalikan kapal, tetapi mereka tak dapat berbuat apapun. Kapten tak mendengar mereka, mereka terlalu kecil, tidak berharga. Apapun yang dimakan mereka, keluarnya ke toilet juga. Hamba hanya ilusi, tak eksis, mereka akan berakhir, tetapi Kapal akan terus berjalan dengan Kaptennya.

Telah datang Nabi dan Awliya untuk mengatur umat manusia, mulai dari Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isya hingga Nabi terakhir Muhammad saw, tetapi tak seorangpun dapat menghentikan Kapten. Manusia menghabiskan hidup untuk mengejar titel Profesor,
Doktor, dan mereka membuat buku-buku sangat banyak tetapi semua itu "nothing".

Begitu banyak isme, liberalisme, komunisme, bahkan para ahli agamapun mengejar dunia dengan memakai nama agama, sementara kapal ini semakin tua dan akan berakhir, tetapi mereka tetap buta terhadap Allah, mereka tetap saja berkelahi, tidak sadar kapal akan hancur. Siapakah yang paling buruk dari mereka semua ? Yang paling buruk bukanlah Raja, President, Komunis, Kapitalis tetapi para pemimpin agama yang buruk adalah manusia terburuk.

Padahal Allah telah memberikan mereka pelajaran, ketika masa Nabi musa as, manusia diberikan disiplin atau syari'ah, kemudian Masa Nabi Isa as lebih banyak menekankan spiritual dan Nabi terakhir Nabi Muhammad saw, menggabungkan keduanya Syariah dan Spritual.

Musa mendapat pelajaran melalui Nabi Khidir as, tetapi meskipun demikian mereka tidak dapat berjalan bersama karena pola yang berbeda. Demikian juga Awliya berbeda dengan manusia biasa, sehingga Awliya tersembunyi dari manusia karena mereka tidak mengerti Awliya. Ikuti mereka yang memiliki otoritas, Ati Allah, Ati Rasulullah saw, Ati awliya

Bihurmati habib, al Fatihah
posted by Mevlana as Sufi at 11:07 PM 0 comments

Hierarki Kewalian
Mawlana Syaikh Ibnu Araby


Syaikhul Akbar Ibnu Araby dalam kitab Futuhatul Makkiyah membuat klasifikasi tingkatan wali dan kedudukannya. Jumlah mereka sangat banyak, ada yang terbatas dan yang tidak terbatas. Sedikitnya terdapat 9 tingkatan, secara garis besar dapat diringkas sebagai berikut :

1. Wali Aqthab atau Wali Quthub
Wali yang sangat paripurna. Ia memimpin dan menguasai wali diseluruh alam semesta. Jumlahnya hanya seorang setiap masa. Jika wali ini wafat, maka Wali Quthub lainnya yang menggantikan.

2. Wali Aimmah
Pembantu Wali Quthub. Posisi mereka menggantikan Wali Quthub jika wafat. Jumlahnya dua orang dalam setiap masa. Seorang bernama Abdur Robbi, bertugas menyaksikan alam malakut. Dan lainnya bernama Abdul Malik, bertugas menyaksikan alam malaikat.

3. Wali Autad
Jumlahnya empat orang. Berada di empat wilayah penjuru mata angin, yang masing-masing menguasai wilayahnya. Pusat wilayah berada di Kakbah. Kadang dalam Wali Autad terdapat juga wanita. Mereka bergelar Abdul Haiyi, Abdul Alim, Abdul Qadir dan Abdu Murid.

4. Wali Abdal
Abdal berarti pengganti. Dinamakan demikian karena jika meninggal di suatu tempat, mereka menunjuk penggantinya. Jumlah Wali Abdal sebanyak tujuh orang, yang menguasai ketujuh iklim. Pengarang kitab Futuhatul Makkiyah dan Fushus Hikam yang terkenal itu, mengaku pernah melihat dan bergaul baik dengan ke tujuh Wali Abdal di Makkatul Mukarramah.

Pada tahun 586 di Spanyol, Ibnu Arabi bertemu Wali Abdal bernama Musa al-Baidarani. Abdul Madjid bin Salamah sahabat Ibnu Arabi pernah bertemu Wali Abdal bernama Mu’az bin al-Asyrash. Beliau kemudian menanyakan bagaimana cara mencapai kedudukan Wali Abdal. Ia menjawab dengan lapar, tidak tidur dimalam hari, banyak diam dan mengasingkan diri dari keramaian.

5. Wali Nuqoba’
Jumlah mereka sebanyak 12 orang dalam setiap masa. Allah memahamkan mereka tentang hukum syariat. Dengan demikian mereka akan segera menyadari terhadap semua tipuan hawa nafsu dan iblis. Jika Wali Nuqoba’ melihat bekas telapak kaki seseorang diatas tanah, mereka mengetahui apakah jejak orang alim atau bodoh, orang baik atau tidak.

6. Wali Nujaba’
Jumlahnya mereka sebanyak 8 orang dalam setiap masa.

7. Wali Hawariyyun
Berasal dari kata hawari, yang berarti pembela. Ia adalah orang yang membela agama Allah, baik dengan argumen maupun senjata. Pada zaman nabi Muhammad sebagai Hawari adalah Zubair bin Awam. Allah menganugerahkan kepada Wali Hawariyyun ilmu pengetahuan, keberanian dan ketekunan dalam beribadah

8. Wali Rajabiyyun
Dinamakan demikian, karena karomahnya muncul selalu dalam bulan Rajab. Jumlah mereka sebanyak 40 orang. Terdapat di berbagai negara dan antara mereka saling mengenal. Wali Rajabiyyun dapat mengetahui batin seseorang. Wali ini setiap awal bulan Rajab, badan nya terasa berat bagaikan terhimpit langit. Mereka berbaring diatas ranjang dengan tubuh kaku tak bergerak. Bahkan, akan terlihat kedua pelupuk matanya tidak berkedip hingga sore hari. Keesokan harinya perasaan seperti itu baru berkurang. Pada hari ketiga, mereka menyaksikan peristiwa ghaib.

Berbagai rahasia kebesaran Allah tersingkap, padahal mereka masih tetap berbaring diatas ranjang. Keadaan Wali Rajabiyyun tetap demikian, sesudah 3 hari baru bisa berbicara.

Apabila bulan Rajab berakhir, bagaikan terlepas dari ikatan lalu bangun. Ia akan kembali ke posisinya semula. Jika mereka seorang pedagang, maka akan kembali ke pekerjaannya sehari-hari sebagai pedagang

9. Wali Khatam
Khatam berarti penutup. Jumlahnya hanya seorang dalam setiap masa. Wali Khatam bertugas menguasai dan mengurus wilayah kekuasaan ummat Nabi Muhammd saw.

posted by Mevlana as Sufi at 11:07 PM 0 comments

Tentang Niat
Maulana Syaikh Nazhim Adil al Haqqani

Grandsyaikh berkata,”Aku akan mengajarimu suatu cara untuk mendekatiku dengan sangat cepat seperti roket. Kapanpun kalian datang dan duduk dalam suatu asosiasi, atau ketika sholat malam, dzikir, membaca Al-Qur’an, Hadist, maka ketika kalian duduk bacalah :
“Nawaitul arbain , nawaitu al uzla, nawaitu al khalwa, nawaitul I’tikaf, nawaitul siyam, nawaitur riadha, lillahi ta’ala fi hadaal jaami, illahi anta maqshudi wa ridhaaka mathlubi”

Rasulullah saw biasa membaca niat yang sama, ketika beliau mengasingkan diri ke gua Hira, sebelum datang suatu rahasia kepadanya. Ketika kalian membaca niat ini untuk pertemuan yang berlangsung selama 1 jam, maka waktu ini akan diambilkan dari khalwat selama 40 hari. Jika kalian telah menyelesaikan masa 40 hari itu, kalian akan merasakan cahaya yang diberi kan Allah kepadamu menjadi terbuka dan cahaya itulah yang akan membuka mata hatimu.

Tanpa itu kalian tidak akan menemukan kegembiraan yang sekarang masih tersembunyi didalam hatimu. Bacalah niat ini ketika kalian bersama Syaikh, jika kalian tidak berkhalwat, kalian tidak akan dibersih kan dan kalian akan masuk dalam peringkat penuh warna atau multi warna. Kalian terus menerus berubah, satu hari baik, satu hari buruk, berikutnya setengah-setengah, ini tidak bisa dibersihkan hingga menjadi satu warna saja tanpa berkhalwat.

Niat adalah hembusan jiwa. Sangatlah penting melurus kan niat, karena niat itu dari dunia ghaib,bukan dari dunia materi. Niat (Niyyah) sangat penting, karena dia terdiri dari 3 huruf, yaitu :

1.Nun, yang melambangkan Nur Allah, Cahaya Allah swt
2.Ya, yang melambangkan Yad Allah, Tangan Allah
3.Ha, yang melambangkan hidayah Allah,Bimbingan Allah

Bihurmati habib, al Fatihah
posted by Mevlana as Sufi at 11:07 PM 0 comments

124.000 Awliya
Maulana Shaykh Hisham Muhammad Kabbani
The Golden Chain, Naqshbandi Sufi Way
Dari Sanad Emas Naqsbandy, Rahasia Muhammad saw


Para Awliya, 124.000 Awliya, 7007 Wali Naqsbandi, 313 Pewaris Rahasia Rasul, 40 Wali Istimewa. Mereka adalah pewaris rahasia Rasul-rasul. Di antara mereka, terdapat 313 yang memiliki tingkatan tertinggi, maqam paling sempurna di Hadirat Ilahiah.

Di tangan para wali inilah, setiap orang akan disembuh kan dari luka-lukanya, baik luka luar maupun luka dalam. Wali-wali ini akan mampu untuk membawa seluruh Umah dan seluruh makhluq ciptaan tanpa ada tanda-tanda kelelahan. Kemudian Ku-berikan padamu empat puluh, yang membawa kekuatan yang paling istimewa, dan mereka adalah Tonggak-tonggak dari seluruh wali. Mereka akan menjadi Guru dan Syaikh besar di masa-masa mereka, dan mereka akan menjadi para pewaris dari Rahasia Haqiqat.'"

"Allah Subhanahu wa Ta'ala kemudian mengaruniakan pada beliau suatu pemandangan (kasyf) di mana Ia memberitahukan pada beliau bahwa di antara seluruh ciptaan itu, Ia telah memilih bagi beliau 7.007 Wali Naqsybandi. Ia berfirman pada beliau, 'Wahai kekasih-Ku, Ya Muhammad, wali-wali ini adalah termasuk Wali-wali istimewa yang telah Ku-ciptakan untuk menolongmu menjaga ciptaan ini tetap suci.

Setiap orang di antara mereka adalah Ghawts (Pemberi Syafa'at Tertinggi: Arch-Intercessor) dalam zamannya, yang di bawahnya ada lima orang Qutub (Kutub Spiritual).'" "Nabi sall-Allahu 'alaihi wasallam begitu bahagia dan beliau berkata, 'Wahai Tuhanku, berikan lagi bagiku!' .

Kemudian Allah pun menunjukkan padanya 124.000 wali, dan Ia berfirman, 'Wali-wali ini adalah pewaris dari 124.000 Nabi. Seorang wali adalah seorang pewaris dari seorang Nabi. Mereka pun akan di sana membantumu membersihkan Ummah ini.'"

"Ketika Nabi sall-Allahu 'alaihi wasallam sedang naik ke Hadirat Ilahiah, Allah membuat beliau untuk mendengar suara seorang manusia. Suara itu adalah suara dari seorang teman dan sahabat terdekatnya, Abu Bakr as-Siddiq radhiy-Allahu 'anhu. Nabi sall-Allahu 'alaihi wasallam diperintah kan oleh Allah Ta'ala untuk memerintahkan Abu Bakr as-Siddiq untuk memanggil seluruh wali-wali Naqsybandi: yang 40, yang 313, dan yang 7.007, beserta seluruh pengikut dan murid mereka, dalam bentuk spiritual (ruh) mereka, ke Hadirat Ilahiah. Semuanya untuk menerima Cahaya dan Barakah yang istimewa itu."

"Kemudian Allah memerintahkan Nabi sall-Allahu alaihi wasallam, yang kemudian memerintahkan Abu Bakr RA, untuk memanggil 124.000 wali dari 40 Tariqat lainnya beserta murid-murid mereka untuk diberikan Cahaya di Hadirat Ilahiah. Seluruh Syaikh mulai muncul di perkumpulan itu beserta seluruh murid mereka. Allah SWT kemudian menyuruh Nabi SAW untuk melihat mereka dengan kekuatan dan cahaya Kenabiannya, dan untuk mengangkat mereka semua ke Maqam Siddiqin, Yang Terpercaya dan Yang Benar.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman kepada Nabi sall-Allahu 'alaihi wasallam, dan Nabi SAW pun berkata kepada para Wali, 'Seluruh kalian dan seluruh pengikut kalian akan menjadi bintang gemintang yang berkilauan di antara manusia, untuk menyebarkan cahaya yang telah kuberikan pada kalian di pra-keabadian ke seluruh manusia di permukaan bumi.'"

Mawlana Syaikh Nazhim berkata, "Itu semua hanyalah satu di antara rahasia-rahasia yang telah dibuka tentang Malam Mi'raj kepada kalbu para wali melalui periwayatan (transmisi) dari Sanad Emas Tariqat Naqsyabandi." . Suatu Cahaya dari akar suatu Pohon Spiritual yang akan menyebar ke seluruh ummat manusia, suatu Cahaya yang datang langsung dari Hadirat Ilahiah, akan muncul di sini. Allah telah memerintah kan padaku untuk menyampaikan nya padamu dan ke seluruh pengikut Tasawuf Naqsbandi

"Jalur transmisi ini tidaklah disebut sebagai Naqsyabandi saat itu, tapi dikenal sebagai Anak-anak dari Abu Bakr as-Siddiq, dan beliau (Abu Bakr) dikenal oleh para wali sebagai 'Bapak' dari jalur sanad ini." "Kemudian Allah SWT memerintahkan Nabi SAW untuk menyuruh Abu Bakr As-Siddiq untuk memanggil seluruh Syaikh (Guru) dari Sanad Emas yang merupakan pewaris dari Abu Bakr. Abu Bakr memanggil para Grandsyaikh dari Sanad Emas, seluruh dari mereka, dari zamannya hingga ke zaman Al-Mahdi 'alaihissalam.

Mereka semua dipanggil lewat ruh-ruh mereka dari Alam Arwah. Kemudian Abu Bakr diperintahkan pula untuk memanggil 7.007 Wali Naqsyabandi. Kemudian Nabi SAW memanggil 124.000 Nabi-nabi. "Abu Bakr as-Siddiq, dengan perintah Nabi SAW, memerintahkan setiap grandsyaikh untuk mengumpulkan pengikut-pengikutnya untuk hadir secara spiritual. Kemudian Abu Bakr as-Siddiq memerintahkan seluruh Syaikh untuk mengambil tangan para pengikut mereka untuk menerima bay'ah (inisiasi).

Abu Bakr menaruh tangannya di atas mereka semua, dan kemudian Muhammad sall-Allahu 'alaihi wasallam menaruh tangan beliau di atas mereka semua, dan kemudian Allah meletakkan Tangan-Nya, Tangan Kekuasaan (Qudrat), di atas mereka semua.

Dan Allah, oleh Diri-Nya Sendiri-lah, menaruh di lidah setiap orang yang hadir bacaan dzikir-Nya (talqin az-Zikr), dan Ia memerintahkan Nabi untuk menyuruh Abu Bakr as-Siddiq untuk memerintahkan semua wali yang hadir bersama pengikut-pengikut (murid) mereka untuk melafazkan apa yang mereka dengar dari Suara Qudrati:

ALLAHU ALLAHU ALLAHU HAQQ
ALLAHU ALLAHU ALLAHU HAQQ
ALLAHU ALLAHU ALLAHU HAQQ

"Semua mereka yang hadir mengikuti Syaikh mereka dan para Syaikh itu mengikuti apa yang mereka dengar dari Nabi yang juga melafazkan. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala mengajarkan rahasia dari Dzikir, yang dikenal sebagai Khatm-il-Khwajagan, kepada Abdul Khaliq al-Ghujdawani, yang memimpin dzikir pertama di antara para wali dari Tariqah ini. Nabi sall-Allahu 'alaihi wasallam mengumumkan kepada Abu Bakr, yang kemudian mengumumkannya ke seluruh wali, bahwa Abdul Khaliq al-Ghujdawani adalah pemimpin dari Khatm-I-Khwajagan.

Setiap orang mendapat kehormatan untuk menerima rahasia dan cahaya itu dari Khwaja Abdul Khaliq al-Ghujdawani, di hadirat para wali, di hadirat Abu Bakr as-Shiddiq, di hadirat Nabi Sall-Allahu 'alaihi wasallam, dalam Hadirat Allah."

Mawlana Syaikh Nazhim berkata, "Siapa pun yang menerima bay'ah (inisiasi) dari kami atau menghadiri Majelis Dzikir kami mesti mengetahui bahwa dirinya telah hadir di gua tersebut di saat barakah itu, di Hadirat Nabi Sall-Allahu 'alaihi wasallam, dan bahwa ia telah menerima semua rahasia-rahasia ini kemudian Rahasia-rahasia ini telah disampaikan kepada kami melalui para syaikh dari Sanad Emas, melalui Abu Bakr as-Siddiq."

Bihurmati habib, Al-Fatihah

posted by Mevlana as Sufi at 8:15 PM 0 comments

Dinaikkan di Malam Hari
Maulana Shaykh Hisham Muhammad Kabbani
Makna Spiritual dari Mu’jizat Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Sall-Allahu ‘Alaihi Wasallam.


Dinaikkan di Malam Hari, Bercahaya Bagaikan Bulan Purnama

Allah kemudian mengangkat beliau dari Masjid al-Aqsa dengan cara Mi’raj, menuju Hadirat Ilahiah-Nya. Mengapakah Allah menggunakan kata-kata, ‘laylan – pada suatu malam’? Mengapa Ia tidak berkata, naharan, pada suatu siang’? ‘Laylan’ di sini mengilustrasikan kegelapan dari dunia ini, ia menjadi bercahaya hanya oleh bulan yang berkilau dari Nabi saw yang terbit untuk menerangi semua kegelapan.

“Subhan al-ladzii asraa bi ‘abdihi laylan”. “Maha Suci Ia yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam…” Lihatlah pada setiap kata dari ayat suci ini. Pertama-tama Allah memuji Diri-Nya sendiri dalam bentuk orang ketiga, in absentia. Allah kemudian secara ajaib memindahkan Nabi dari Makkah menuju Masjid al-Aqsa (asra’). Kemudian Ia mengacu Nabi sebagai “’abd – hamba”, memberi beliau kehormatan melalui gelar tertinggi itu sebagai seseorang yang terkait dengan kehidupan spiritual, bukan kehidupan hewani.

Risalah Nabi Muhammad saw melengkapi dan menyempurna kan baik disiplin fisik dan hukum (syari’ah) dari Musa as maupun spiritualitas (rawhaniyya) dari ‘Isa as. Syari’ah dari Musa as berkaitan dengan kehidupan duniawi ini, sedangkan spiritualitas ‘Isa as terkait dengan kehidupan surgawi. Dengan melalui dan melampaui kehidupan duniawi, yang diwakili oleh Isra’ (Perjalanan Malam), menuju kehidupan surgawi, yang diwakili oleh Mi’raj, Nabi saw dibawa di atas kedua sayap ini. Tak seorang pun Nabi dibawa dalam kedua dimensi ini kecuali Junjungan kita, Sayyidina Muhammad (s).

Tahapan-tahapan Tasawwuf

Dalam Ilmu Pensucian Jiwa, Tasawwuf, tahapan-tahapan tersebut dinamai dengan Syariah, Tariqat, dan Haqiqat. Tahapan pertama terkait dengan bidang disiplin fisik, dari mana seorang pencari kemudian bergerak dalam “Jalan”, Tariqah, dengan kendaraan ubudiyyah, penghambaan dan ibadah, dan kemudian naik menuju maqam haqiqat, realitas, di mana seluruh kebatilan dan kepalsuan punah, lenyap, dan Ketuhanan Allah dinampakkan secara nyata pada sang hamba.

Allah membawa Nabi Muhammad saw ke Masjid al-Aqsa di Palestina, di mana hampir seluruh Nabi menyambut beliau. Di sana beliau menjumpai seluruh para Nabi berkumpul, dan mereka melakukan salat secara berjama’ah di belakang beliau saw. Dari sana Allah mengangkat beliau menuju langit, seakan-akan Ia (SWT) berfirman, ‘Wahai Nabi-nabi-Ku! Aku tidak pernah mengangkat seorang pun dari Masjid al-Aqsa seperti aku menaikkan Muhammad saw.’ Ini adalah untuk menunjukkan pada mereka bahwa Mi’raj (naiknya) Nabi Muhammad saw – tidak seperti siapa pun di antara mereka, beliau tidak dibatasi oleh hukum-hukum alam semesta ini.

Kendaraan-kendaraan Nabi

Salah seorang dari ulama-ulama besar bidang Tafsir Quran, al-‘Ala’i berkata, “Pada Malam Mi’raj Nabi saw menggunakan lima kendaraan yang berbeda-beda. Yang pertama adalah Buraq, suatu makhluk bersayap yang membawa beliau dari Makkah menuju Masjid al-Aqsa. Yang kedua adalah Kenaikan (Mi’raj) yang dengannya Nabi saw mencapai langit dunia ini, as-sama’ ad-dunya’. Ada dua penjelasan untuk Mi’raj: satu, bahwa Buraq membawa Nabi saw ke atas, dan yang kedua, bahwa sebuah ‘tangga’ turun dan menaikkan Nabi saw dengan amat cepat.

Kendaraan ketiga adalah sayap-sayap para Malaikat yang membawa Nabi saw hingga langit ketujuh. Kendaraan keempat adalah sayap-sayap Jibril (as) yang membawa beliau saw dari langit ketujuh menuju Sidrat al-Muntaha, ‘Pohon Lotus Terjauh’. Kendaraan kelima adalah suatu karpet (ar-raf raf) yang membawa beliau saw hingga maqam ‘dua ujung busur panah qaba qawsayn.’ [QS 53:9].”

“Serupa dengan itu, Nabi saw berhenti pada sepuluh maqam yang berbeda: tujuh langit dan yang kedelapan di Sidrat al-Muntaha. Yang kesembilan adalah tempat di mana beliau mendengar suara dari pena-pena Malaikat yang tengah menulis amal perbuatan manusia, dan maqam kesepuluh adalah di ‘Arsy (Singgasana). Wallahu A’lam, dan Allah-lah yang lebih tahu.”

Aspek Mu’jizat dari Isra’ dan Mi’raj

Seluruh kejadian-kejadian ajaib ini terjadi di malam Perjalanan Malam dan Kenaikan, Laylat al-Isra’ wal-Mi’raj. Banyak hadits-hadits yang menjelaskan detail peristiwa-peristiwa di Perjalanan Malam ini yang telah disahihkan oleh berbagai huffaz (Ahli Hadits) seperti Ibn Shihab, Tsabit al-Banani, dan Qatada.

Allah mendukung Nabi-nabi-Nya dengan keajaiban-kejaiban (mu’jizat) agar mampu melampaui hukum-hukum fisika dan batasan-batasan realitas kemanusiaan kita. Jika Allah mengaruniakan suatu mu’jizat, janganlah kita memandangnya sebagai sesuatu yang tak mungkin, jika kita seperti itu, maka kita hanya akan menjadi seperti ilmuwan yang tak mampu memahami apa pun di luar jangkauan persepsi mereka.

Para ulama berbeda pendapat pada malam apa perjalanan agung ini terjadi. Imam Nawawi berkata bahwa Perjalanan ini terjadi di bulan Rajab. Dalam kitab ar-Rawda karangan Nawawi, ia menyatakan bahwa peristiwa ini terjadi sepuluh tahun dan tiga bulan setelah awal Kenabian, sedangkan Fatawa menyatakan bahwa peristiwa Perjalanan Malam ini terjadi lima atau enam tahun setelah permulaan wahyu. Apa pun kasusnya, para ulama sepakat bahwa Laylat al-Isra’ wal Mi’raj ini terjadi baik pada badan maupun ruh dari Nabi saw.

Visi Ibrahim dan Dimensi Spiritual

Allah berfirman dalam Qur’an Suci: “Wa kadzaalika nurii Ibraahiima malakuut as-samaawaati wa l-ardhi wa liyakuuna min al-muuqiniin” “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin.” [QS 6:75]

Allah menunjukkan kerajaan langit dan bumi pada Nabi Ibrahim (as), dengan membuka pandangan spiritual Ibrahim (baseerah) agar beliau melihat keindahan dan keajaiban alam semesta dari tempat beliau berpijak di bumi. Allah menunjukkan pada beliau apa yang di luar hukum-hukum alam semesta fisis, melalui mata kalbunya. Sekalipun demikian, segera setelah ayat ini, Allah telah menunjukkan pula pada Ibrahim as keagungan-keagungan di balik alam semesta fisik, “Falammaa janna ‘alaihi l-laylu ra-a kawkaban qoola haadza rabbiy…” “Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: ‘Inilah Tuhanku’” [QS 6:76].

Dalam ayat-ayat berikutnya Ibrahim (as), secara serupa, “keliru” pula menganggap bulan dan matahari sebagai tuhannya: “Falammaa ra-a l-qamara baazighan qoola haadzaa rabbiy, falammaa afala qaala la in lam yahdii rabbiy la-akuunanna min al-qawm id-dhaalliin; falammaa ra-a s-syamsa baazighatan qaala haadzaa rabbiy..” “Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: ‘Inilah tuhanku.’ Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata:

‘Sesungguhya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat; Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: ‘Inilah tuhanku…’” [QS. 6:77-78]. Ayat-ayat ini yang berkaitan dengan bintang-bintang, bulan dan matahari adalah ditujukan pada orang-orang yang tidak beriman. Allah menunjukkan pada Ibrahim (as) Kebenaran dan ia telah meraih keyakinan dalam iman (sebagaimana ditunjukkan ayat 6:75).

Sebagai seorang Nabi, Ibrahim (as) juga bebas dari dosa, dan dus, tak mungkin untuk menganggap selain Allah sebagai Tuhannya. Tetapi, adalah tugas Ibrahim (as) untuk menyampaikan suatu Risalah Samawi (Pesan Langit). Untuk berusaha membawa setiap orang berada dalam naungan Rahmah Allah, Ibrahim (as) mencoba untuk mengajar ummatnya dengan cara yang sedemikian rupa hingga tidak membuat mereka menolak pesan dakwahnya. Dengan secara bijaksana menggunakan suatu proses eliminasi, ia menunjukkan pada mereka bahwa suatu dimensi spiritual benar-benar wujud/ada.

Ibrahim menghilangkan bintang (sesuatu yang kecil), kemudian bulan, kemudian matahari (benda langit yang nampak terbesar). Ibrahim (as) menegaskan kembali keyakinan sejatinya pada Allah dan pemalingan dirinya dari gangguan-gannguan duniawi dengan mengatakan, “Falamma afalat qoola yaa qawmi innii barii-un mimmaa tusyrikuun. Innii wajjahtu wajhiya li l-ladzii fathar as-samaawaati wa l-ardha haniifan, wa maa ana min al-musyrikiin.”

“Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata, Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan’.” [QS 6:78-79] Makna dari penunjukan ini adalah: jangan mengejar hal-hal dari kehidupan duniawi ini, tapi carilah dimensi spiritual yang melampaui semua hukum-hukum alam semesta fisis.

Di zaman kita saat ini, ilmuwan-ilmuwan yang materialistik dan beberapa sekte Islam yang berpikiran sempit mencoba untuk menyangkal spiritualitas, dimensi keempat, yang telah Allah tunjukkan pada Ibrahim (as). Mereka yang menolak dan menyangkal adanya dimensi spiritual dari Islam, maka mereka tengah terjatuh dalam perangkap yang sama seperti yang dialami oleh kaum Ibrahim. Nabi Muhammad saw bersabda, ‘Yang paling kutakutkan bagi ummatku adalah syirk tersembunyi (membuat partner bagi Allah).’ Syirik tersembunyi adalah bagi seseorang untuk merasa bangga akan dirinya sendiri, yang paling mudah termanifestasikan dalam bentuk penolakan atas kata-kata orang lain.

Perbedaan atau Kehormatan dari Kenaikan (Mi’raj) Nabi Muhammad saw.

Nabi Ibrahim (as) telah ditunjukkan padanya kerajaan malakut, dari langit dan bumi. Nabi Musa (as) tidak melihat kerajaan ini. Tetapi, Musa (as) mampu untuk mendengar Allah dan berbicara langsung pada Allah dari Gunung Sinai, sehingga beliau dikenal sebagai Kalimullah (ia yang berbicara dengan Allah secara langsung). Sekalipun Ibrahim (as) dikaruniai kemampuan untuk melihat dalam dimensi-dimensi spiritual, dan Musa (as) dikaruniai kemampuan untuk mendengar Allah secara langsung, tubuh dan badan dari kedua Nabi besar ini tetap tinggal di bumi, dan dikenai hukum-hukum fisika-nya.

Pandangan (visi) Nabi Ibrahim (as) dan pendengaran Nabi Musa (as) melampaui batasan fisik melalui kekuatan ruh mereka, tetapi tubuh mereka tidaklah bergerak melampau dunia fisik ini.

Tetapi, Allah telah membuat Nabi Muhammad saw bergerak dalam dimensi-dimensi spiritual dengan tubuh fisik beliau dalam kebebasan paripurna dari hukum-hukum fisika. Allah menyebut Nabi “linuriyahu min aayaatinaa…” “agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dati tanda-tanda (kebesaran) Kami…” [QS 17:1]. Allah menunjukkan pada Ibrahim (as) kerajaan alam semesta ini, tapi Ia (SWT) menggerakkan Nabi saw dalam tubuh dan ruh beliau di luar hukum-hukum fisika alam semesta ini, untuk menunjukkan pada beliau ‘tanda-tanda Kami’, aayaatina.

Bentuk kepemilikan (possesive) yang terkait dengan Tanda-tanda (Aayaat) sebagai milik dari Allah secara langsung, menunjukkan kehormatan yang lebih agung dan pengetahuan yang dianugerahkan pada Nabi saw. Kerajaan langit dan bumi yang ditunjukkan pada Nabi Ibrahim (as) adalah karya dalam lingkup alam semesta fisis ini, dan tidak menjangkau Surga, sedangkan ayat-ayat Allah yang ditampakkan pada Nabi Muhammad saw langsung terkait dengan Allah dan tidak terhubung dengan dunia ini.

Visi (Penglihatan) Nabi saw akan Tuhannya dan Kesempurnaan Tawhiid

“Lalu Allah mewahyukan pada hamba-Nya apa yang ia wahyukan. Hati Nabi (s) tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu hendak membantah nya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguh nya Muhammad telah melihat-Nya lagi pada waktu yang lain, di Sidratil Muntaha, di dekatnya ada surga tempat tinggal. Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda Tuhannya Yang paling besar.” [QS: 53:10-18].

Imam Nawawi dan almarhum Imam Mutawalli Sya’rawi sepakat dengan mayoritas ulama dalam menafsirkan ayat-ayat ini, bahwa maknanya adalah Nabi saw melihat Tuhannya di waktu lain, bukannya bahwa ia melihat Jibril (as) di waktu lain, sebagaimana beberapa menyatakan. Imam Nawawi meriwayatkan dalam komentar (syarah) Sahih Muslim-nya, “Sebagian besar ulama berkata bahwa Nabi melihat Tuhannya dengan kedua mata kepalanya – ra’a rabbahu bi’aynay ra’sihi. Nabi datang melalui suatu perjalanan panjang menuju Singgasana Ilahiah (arsy), mencapai qaaba qawsayni (jarak dua ujung busur panah), dan mencapai Surga Jannat al-Ma’wa di dekat Sidrat ul-Muntaha.

Setelah semua ini, Imam Sya’rawi bertanya, “Apakah yang membuat penglihatan Nabi tidak berpaling? Beberapa mengatakan bahwa itu adalah Jibril (as), tapi Nabi saw telah melihat Jibril (as) dalam banyak kesempatan dan Jibril menyertai dan bersama beliau selama masa Perjalanan Malam dan Kenaikan (Isra’ Mi’raj) itu. Adalah irrelevan untuk mengatakan bahwa pada hal inilah pandangan Nabi tidak berpaling atau tidak lepas, karena jika ini mengacu pada Jibril, maka Nabi telah memiliki berbagai kesempatan untuk telah melihatnya. Allah tidaklah mengatakan sesuatu yang irrelevan, dan karena inilah saya berpihak pada mayoritas ulama (termasuk Imam Nawawi) dengan mengatakan bahwa dengan mata fisiknyalah Nabi saw melihat Allah (swt).”

“Laqad ra’a min aayaati rabbi hi l-kubraa” “Sungguh dia telah melihat sebagian ayat-ayat Tuhannya yang paling agung.” [QS 53:18]. Apakah kemudian yang bisa menjadi Ayat Terbesar bagi Nabi saw lain dari penglihatan akan Tuhannya? Karena Nabi saw telah melihat semua tujuh tingkatan dari Surga, kemudian naik ke tingkatan yang lebih jauh dari ciptaan apa pun sebelum maupun sesudahnya, menuju “jarak dua ujung busur panah”.

Dinyatakan dalam hadits bahwa karunia terbesar bagi orang-orang beriman di kehidupan Akhirat bukanlah kenikmatan-kenikmatan Surga, melainkan melihat Tuhan mereka setiap hari Jumat. Jika orang-orang beriman, baik yang awam maupun yang khawas, akan melihat Tuhan mereka di akhirat nanti, jelas tentu saja, Ayat Terbesar” bagi Kekasih-Nya Nabi Muhammad saw tak mungkin kurang dari itu.

“Wa maa ja’alna r-ru’ya l-latii arainaa-ka illaa fitnatan li n-naasi” “Dan tidaklah Kami karuniakan visi yang Kami perlihatkan padamu (Ya Muhammad) melainkan sebagai ujian bagi manusia.”[QS. 17:60].
Berkenaan dengan ayat ini, Ibn ‘Abbas berkata, Rasul Allah saw benar-benar melihat dengan matanya sendiri visi (dari semua yang ditunjukkan pada beliau) pada malam Isra’ ke Jerusalem (dan kemudian ke langit)…” Inilah keagungan Nabi Muhammad.

Tak seorang pun pernah melihat Tuhannanya selain dari Muhammad saw, yang menjadikannya saw sebagai satu-satunya monoteis (muwahhid) sejati. Tak seorang pun kecuali Muhammad saw mencapai suatu pemahaman sempurna akan Keesaan Ilahiah – Tawhid – pemahaman siapa pun selain beliau akan tawhid hanyalah peniruan (taqliid).

Nabi Ibrahim (as) adalah bapak para Nabi dan beliau dikaruniai visi spiritual untuk melihat karya-karya dalam alam semesta ini dan Nabi Musa (as) dikaruniai kemampuan berbicara langsung dengan Tuhannya. Tapi, Allah memindahkan Nabi Muhammad dengan tubuh fisiknya, bertentangan dengan hukum-hukum fisika alam semesta, menuju ke Keghaiban, suatu tempat di mana tak ada apa pun dan tak ada kemungkinan akan apa pun -“la khala wa la mala”.

Allah membawa Muhammad ke sana dan membukakan bagi beliau Diri-Nya Sendiri, dengan cara yang Ia kehendaki. Bagaimana ini terjadi, kita tak mengetahuinya. Ini tak terlihat dan tak diketahui (ghayb) . Dus, sebagaimana Ibn ‘Abbas (ra) berkata, ini adalah suatu perkara untuk diimani dengan penerimaan penuh, dan bukan suatu perkara untuk dipertanyakan

Bihurmati habib, Al-Fatihah
posted by Mevlana as Sufi at 8:15 PM 0 comments

Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani dan NU
Jakarta, NU Online


Ada yang menarik usai penutupan acara the Internasional Converence of Islamic Sholars (ICIS) di Jakarta Convention Center, Rabu (25/02) lalu. Seorang pemimpin Islam dari Amerika Serikat Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani menyatakan masuk organisasi Nahdlatul Ulama. Saya tertarik dengan Nadlatul Ulama Saya rasa ada banyak kesamaan antara saya dan NU. Saya masuk NU saja, katanya di hadapan Ketua PBNU
Rozy Munir, M.Si.

Keinginan Kabbani itu langsung ditanggapi serius oleh mantan menteri BUMN pada kabinet Gus Dur tersebut.Kami akan mengangkat beliau sebagai anggota kehormatan pertama di Amerika, ujar Rozy yang juga dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu.

Wartawan NU Online yang menyaksikan langsung pernyataan tersebut seketika melakukan konfirmasi kepada Kabbani. Anda ingin menjadi anggota NU dan akan membuka kantor perwakilan di Amerika? Tentu saja, kenapa tidak? Jawab Syaikh Hisyam Kabbani disambut tawa kegembiraan beberapa cendikiawan yang terlibat dalam pembicaraan.

Sementara itu, Ketua PBNU H Ahmad Bagja di tempat terpisah menyatakan kegembiraannya atas kesediaan Syaikh Hisyam Kabbani menjadi anggota kehormatan NU. Sebenarnya dia sudah NU sejak lama, jelas mantan ketua PB PMII itu.

Keterangan H Ahmad Bagja tersebut cukup beralasan. Sebab, jika diperhatikan, saat pembacaan doa penutupan acara ICIS yang dilakukan oleh tiga ulama terkemuka dunia, yaitu Syaikh Wahbah Zuhaili dari Syiria, Syaikh Tashgiri dari Iran, dan Syaikh Kabbani, pemimpin sufi Amerika ini mengakhiri doa dengan bacaan qunut. Doa qunut adalah doa yang dibaca pada rakaat terakhir shalat subuh. Doa ini seakan menjadi ciri pembeda antara NU dan bukan NU di Indonesia.

Syaikh Kabbani adalah seorang sarjana teknik kimia dari Universitas Amerika di Bairut, kemudian belajar ilmu kedokteran di Belgia. Perjalanan intelektual Kabbni kemudian mengantarkannya di Fakultas Hukum Syariah Universitas Al-Azhar, Damascus Syiria. Pada beberapa tahun terakhir perjalan spiritual Kabbani lebih menonjol hingga memimpin thariqot Naqsabandi Haqqani di Amerika.

Sebagai seorang pemimpin muslim di negeri adi daya, ia kemudian banyak terlibat dalam pergumulan diantara pemimpin dunia. Tercatat ia pernah menjadi pembicara dan peserta pada pertemuan internasional di sejumlah negara seperti di Spanyol, Malaysia dan pada tahun 2003 hadir dalam suatu pertemuan dengan ribuan umat Islam di Masjid Istiqlal Jakarta. Selamat Datang, Nawwarakumullah! (ma)

posted by Mevlana as Sufi at 8:15 PM 0 comments

Dunya, Akhirat, dan Peradaban Teknologi
Maulana Shaykh Hisham Muhammad Kabbani


Ketika Sayyidina 'Ubaidullah al-Ahrar mursyid ke-20 dalam Silsilah Emas Tareqah Naqshbandi, memerintah kan seorang murid beliau untuk pergi ke sebuah gunung untuk menunggu beliau. Sang murid menaatinya karena Islam berarti ITTIBA', "MENGIKUTI". Lebih khususnya, mengikuti jalan para Shaykh atau Guru yang akan membawa Anda menuju Jalan Nabi SAW. Anda adalah seorang murid. Jika Anda seorang murid, maka Anda mesti memiliki seorang Guru.

Harus ada seorang guru dan harus ada pula seorang murid. Jika kita mengikuti trend dari banyak 'ulama saat ini yang mengatakan bahwa mereka mengajari tulaab al-'ilm" (siswa atau murid dari ilmu), maka kita pun mesti menerima akan perlunya memiliki seorang guru. Seperti halnya suatu bangunan atau gedung harus memiliki atap atau langit-langit, seorang guru pun harus memiliki murid, dan seorang murid harus memiliki seorang guru.

Melanjutkan cerita tadi, Sayyidina 'Ubaidallah berkata pada muridnya, "Pergilah, aku akan datang." Sang Murid pun pergi, hanya berpikir, "sang Shaykh berkata 'Pergi', maka aku pun pergi". Waktu Maghrib pun tiba, dan Sang Shaykh belum tiba. Ia (sang murid) pun menunggu. Hari berikutnya, sang Shaykh masih juga belum datang. Sang Murid mulai untuk makan buah-buahan yang ada sampai tak ada lagi makanan yang tersisa. Satu minggu berlalu dan sang Shaykh pun masih belum datang. Satu bulan berganti menjadi tiga bulan.

Berlalu pula musim penghujan dan musim kemarau. Hari demi hari berlalu, namun sang Mureed tetap menunggu dengan penuh kesabaran baik dalam guyuran air hujan yang lebat maupun dalam cuaca buruk lainnya. Dan saat salju mulai turun, bumi pun membeku dan ia tidak menemukan apa-apa untuk dimakan. Tapi Allah, Yang Maha Pemurah, mengirimkan baginya seekor rusa. Rusa itu datang di pagi hari, dan sang mureed memerah susu darinya, dan ia pun puas dan bersyukur sepanjang hari.

Ia paham benar akan ayat, "Ma khalaqta al-jinna wal ins illa li ya`buduna la ureedu minhum min rizq wa la ureed an yut'imoon". "Tidaklah Aku ciptakan Jinn dan Manusia kecuali untuk menyembah-Ku. Aku tidak meminta dari mereka rizki, tidak pula Aku minta mereka untuk memberi makan pada-Ku".

Allah menyediakan bagi mureed ini karena ia adalah seorang PENGIKUT yang baik yang menginginkan untuk membangun akhirat-nya lebih dari keinginan lain apa pun. Allah menyediakan makanan untuk memberinya energi. Makan, bukanlah sekedar suatu jawaban terhadap perasaan lapar secara biologis. Makan menyediakan bahan bakar bagi tubuh Anda untuk beribadah. Anda harus memulai setiap makan dengan niat untuk memperoleh energi bagi ibadah. Dan Anda harus menggunakan energi ini untuk membangun Akhirat Anda.

Jika Anda memperhatikan baik-baik pesan ini, dan mengikuti Sunnah untuk membangun akhirat Anda, Allah akan membuat Anda merasa puas dan kenyang sekalipun dengan hal yang paling kecil dan sederhana. Sang mureed tadi menunggu kedatangan Shaykh-nya selama tujuh tahun. Ia minum susu dari rusa tadi setiap hari dan kemudian membaca Quran. Hewan-hewan akan berkumpul di sekelilingnya untuk mendengar dhikr-nya dan mendengar bacaan ayat-ayat Quran, dan mereka pun menjadi amat jinak.

Kebalikannya, kita, adalah hewan-hewan liar dan buas - bahkan terhadap satu sama lain. Kita mesti meninggalkan Shaytan dan mengikuti Rahman. Kita mesti mengingat akan sang mureed yang demikian bahagia hanya dengan hal-hal dan kenikmatan yang amat sederhana, dan para pendahulu kita juga bahagia hidup dalam gubuk-gubuk yang hanya diterangi dengan minyak dan lilin. Jika tenaga listrik mati untuk beberapa menit saja saat ini, tentu kita akan merasa susah. Mereka bahagia hanya mengendarai kuda atau keledai, atau malah hanya berjalan kaki.

Mereka mengukur jarak dengan hitungan berapa jam yang diperlukan untuk bepergian dengan kuda atau keledai. Sekarang, Allah telah mengaruniai kita dengan pesawat terbang dan mobil yang cepat. Benda-benda ini membuat kita bahagia, untuk suatu waktu, tapi pada akhirnya kita menjadi sama saja dengan mereka yang telah wafat mendahului kita. Hidup mereka, di waktu mereka, dan hidup kita di waktu kita saat ini adalah sama. Jika kita tidak menggunakan waktu yang telah dikaruniakan Allah bagi kita untuk membangun akhirat kita, maka akhirnya kita akan merugi.

Akhirat tidak dapat dibangun dengan teknologi, atau dengan apa yang sekarang dinamai peradaban. Akhirat hanya bisa dibangun dengan amal salih, amal kebajikan, suatu perbuatan yang dilakukan pada kehidupan ini, tapi terlaksana demi akhirat. Pertemuan yang saat ini kita lakukan mungkin termasuk perbuatan semacam itu. Ada begitu banyak pertemuan dan majlis seperti ini di seluruh dunia. Banyak orang yang duduk di antara salat Maghrib dan 'Isha' dan berdizkir mengingat Allah SWT dan mengingat serta menyebut Nabi SAW.

Alhamdulillah dengan dukungan spiritual dari Rasulullah sallalLahu 'alayhi wasallam melalui silsilah dari para Shaykh kita, yang merupakan suatu transmisi dari seorang Grandshaykh dari Grandshaykh nya, dan seterusnya hingga kembali menuju Nabi sallalLahu 'alayhi wa sallam - kita dapat datang berkumpul, duduk bersama, mendengar dan kemudian pergi.

Tapi seandainya pertemuan kita ini tidak membuahkan apa pun maka ia adalah suatu pertemuan yang tak bermanfaat. Banyak pohon yang tumbuh tapi tidak berbuah, yang merupakan pohon feral. Tapi, untuk pohon-pohon yang tumbuh dan mengeluarkan buah, kita menyebut mereka berbuah, berguna. Jika pertemuan-pertemuan ini tidak menolong kita untuk memperbaiki akhirat kita, maka kita hanyalah menghabiskan waktu belaka.

Kita berdoa, "Yaa Rabbi, peliharalah kami pada jalan yang lurus, peliharalah kami pada jalan Nabi Muhammad sallallahu 'alayhi wasallam. Buatlah kami agar mengikuti Sunnah beliau. Lemparkanlah dari dalam hati kalbu kami "hubb ad-dunya" - cinta akan dunia. Penuhi hati kalbu kami dengan "hubb al-akhira kecintaan akan akhirat, kehidupan selanjutnya. Jauhkan dari kalbu kami "shahwat al-haram", keinginan akan hal-hal terlarang, dan penuhi hati kalbu kami dengan "shahwat al-halal", keinginan akan apa yang diperbolehkan bagi kami.

Karuniakan pada kami adab dan akhlaq yang luhur dan bersihkan dari diri kami segala adab dan akhlaq yang buruk." Semoga Allah memberikan jalan terbaik untuk membangun akhirat kita dan untuk mengikuti bimbingan dan petunjuk dari Shuyukh kita dan bimbingan petunjuk dari Sayyidina Muhammad sallalLahu 'alayhi wasallam. Bi hurmatil Faatihah.

(Naqshbandi-Haqqani Sufi Order)

posted by Mevlana as Sufi at 8:15 PM 0 comments

Makna Spiritual dari Mu’jizat Isra’ Mi’raj
Maulana Shaykh Hisham Muhammad Kabbani
Makna Spiritual dari Mu’jizat Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Sall-Allahu ‘Alaihi Wasallam


Bismillah ir-Rahman ir-Rahim "Subhaana l-ladzii asraa bi ‘abdihi laylan min al-masjid il-haraami ila l-masjid il-aqsha l-ladzii baaraknaa haulahuu linuriyahuu min aayaatinaa, Innahuu Huwa s-samii’u l-bashiir”

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [QS. 17:1]

Allah swt telah mewahyukan sebagai ayat pertama dari Al-Quran, Surat Al-Isra, Perjalanan Malam, yang dikenal pula sebagai surat bani Israil(KETURUNAN ISRAIL) atau surat Penyucian(SUBHAN). Didalamnya Allah menyebutkan perjalanan malam (AL-ISRA’) saat mana Allah memanggil nabi saw kehadirat ILAHIAH-NYA.

Sebagaimana Allah memulai Qur’an Suci dalam Surat Pembuka al-Fatihah, dengan kata-kata “Al-Hamdu Lillah – Segala Puji hanya untuk Allah,” dengan cara yang sama pula Ia membuka Surat al-Isra’ (17:1), surat tentang Perjalanan Malam (Isra’), dengan Subhana – Maha Suci Allah.” Allah tengah mensucikan dan mengagungkan Diri-Nya sendiri dengan berfirman, Subhana alladzii asra” yang berarti “Maha Suci Diri-Ku, Yang membawa Nabi pada Perjalanan Malam, memanggilnya ke Hadirat Ilahiah-Ku.”

Berada di luar jangkauan pemahaman akal pikiran manusia, Allah di sini tidak hanya tengah mengingat kan kita akan peristiwa tersebut. Tapi, Ia juga mensucikan dan mengagungkan Diri-Nya Sendiri berkenaan dengan peristiwa itu, saat mana Ia memindahkan Nabi (s) hampir dalam sekejap waktu dari Makkah menuju Masjid Al-Aqsa, yang kemudian diikuti dengan Naiknya Nabi (s) [Mi’raj], berpindah tempat dalam waktu yang, secara ajaib, demikian singkat, melalui domain duniawi dari alam semesta ini hingga ke luar darinya, dan melampaui batasan-batasan hukum Fisika.

Tak ada cara ilmiah, secara duniawi, yang dapat menjelaskan pada kita bagaimana Nabi (s) bergerak melintasi bumi seperti itu, dan kemudian dibawa menuju Hadirat Ilahiah Allah: perjalanan semacam itu adalah di luar jangkauan imajinasi. Karena itulah, Allah SWT mensucikan Diri-Nya sendiri dengan berfirman, “Ya, itu terjadi! Maha Suci dan Agung Diri-Ku Yang bisa melakukan hal ini! Aku di luar jangkauan semua hukum-hukum dan sistem ini. Aku-lah Pencipta dari seluruh sistem.”

Persiapan Malaikati untuk Perjalanan Menakjubkan Ini

Malik bin Anas ra meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, Aku tengah terbaring di Hijr (di Masjid Haram Makka) ketika seseorang (Malaikat Jibril as) datang kepadaku dan membedah dadaku dari tenggorokan hingga perut. Ia mengambil jantungku dan membersihkannya dengan air sumur Zamzam sebelum mengembalikannya ke tempatnya semula. Kemudian ia membawa kepadaku suatu makhluq putih yang disebut al-Buraq, yang dengannya aku diterbangkan.”

Riwayat lain menceritakan bahwa dua malaikat utama, Jibril dan Mika’il (as) datang pada Nabi (s) ketika beliau tengah berbaring di al-Hijr [Masjidil Haram di Makka] dan mereka membawa beliau ke sumur Zamzam. Mereka membaringkan beliau pada punggung beliau, kemudian Jibril (as) membuka dada beliau dari atas hingga bawah, dan sama sekali tidak ada pendarahan. Jibril berkata pada Mika’il (as), ‘Berilah aku air dari Zamzam,’ yang kemudian diambil oleh Mika’il. Jibril (as) me ngambil jantung Nabi (s) dan mencuci nya tiga kali sebelum mengembalikannya ke tempatnya semula. Kemudian ia menutup dada beliau dan mereka membawanya dari pintu masjid itu ke tempat di nama Buraq telah menanti.”

Malaikat Jibril sebetulnya mampu untuk mengambil jantung Nabi secara ajaib dengan bedahan yang kecil atau malah tanpa membuka dada beliau sama sekali. Namun, di sini kita melihat dalam Sunnah Nabi (s) suatu petunjuk bagaimana melakukan suatu operasi jantung yang terbuka. Teknik yang sama untuk membuka seluruh rongga dada ini kini digunakan oleh para ahli bedah jantung.

Kesempurnaan Penghambaan (‘Ubudiyyah)

Bagaimanakah Allah menggambarkan pribadi yang Ia (SWT) bawa dalam Perjalanan Malam tersebut? Ia melukiskan pribadi itu sebagai “hamba-Nya” ‘abdihi Abu Qasim Sulayman al-Ansari berkata bahwa saat Nabi saw mencapai level tertinggi dan maqam yang paling terhormat, Allah mewahyukan pada beliau, “Dengan apakah Aku mesti memberimu kehormatan?” Nabi saw menjawab, “Dengan menghubung kan diriku pada-Mu melalui penghambaan (‘ubudiyya).” Karena hal inilah, Allah mewahyukan ayat Quran Suci ini, dengan memberikan penghormatan bagi Nabi saw dengan gelar “hamba-Nya” saat melukiskan Perjalanan Malam (Isra’).

Allah tidak memberikan karunia seperti itu sebelum nya pada Musa as. Ia hanya berfirman, “Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan…” [QS 7:143] mengacu Musa as dengan menggunakan namanya. [Sedangkan pada kasus Nabi Muhammad saw Bukannya berfirman, “Maha Suci Ia Yang telah memperjalankan Muhammad…”, melainkan Allah memberikan kehormatan pada Nabi saw dengan mengacu Nabi saw sebagai ‘abdihi, “hamba-Nya.”

Kesimpulan halus lainnya dari penggunaan istilah abdihi,hamba-Nya (suatu konstruksi dalam bentuk absentia atau orang ketiga) oleh Allah ini, adalah adanya makna bahwa, ‘Ia (SWT) memanggil Nabi (s) ke suatu kekosongan di mana tak ada sesuatu apa pun melainkan Kehadiran Diri-Nya Sendiri.’ Dan yang lebih ajaib daripada hal memanggil Nabi (s) ke Hadirat-Nya adalah bahwa Ia membawa badan dan ruh Nabi (s), yang wujud dalam ruang dan waktu, ke suatu ‘tempat’ di mana tidak ada ruang dan waktu, tidak ada ‘di mana’ dan tidak ada pula ‘kapan’ .

Allah membawa hamba-Nya yang tulus ini, Penghulu kita Muhammad (s), dari wujud fisik kehidupan duniawi ini menuju Hadirat Ilahiah yang sepenuhnya abstrak.

Maqam Kedekatan pada Ilahi

Ayat ini berlanjut dengan melukiskan perpindahan Nabi melalui maqam-maqam yang jumlahnya tak terhitung. Setelah menyempurnakan akhlaqnya melalui ibadah yang terus-menerus, ‘ubudiyya, Masjidil Haram, atau Masjid Suci, di sini merupakan suatu simbol atau indikasi bahwa Nabi saw telah diangkat dari seluruh dosa. Penggambaran Allah SWT akan Nabi saw sebagai “’abd” hamba mendahului penyebutan-Nya akan dua masjid: Masjid Suci (Masjid al-Haram) dan Masjid Yang Berjarak Jauh (Masjid Al-Aqsa).

Allah tidak mengatakan hamba-Nya dibawa “dari Makkah,” melainkan Ia berfirman, “dari Masjid yang Suci,” Masjid al-Haram. “Suci” di sini bermakna yang tak dapat diganggu gugat, tak satupun dosa diperbolehkan dalam wilayahnya, tidak pula ghibah, tidak pula menipu, atau berdusta. Di sana, seseorang mesti selalu waspada akan Kehadi ran Allah (swt).

Masjid al-Haram, mewakili di sini suatu maqam di mana dosa-dosa yang menandakan kehidupan hewani tak lagi pernah dilakukan. ‘Aqsa’ dalam bahasa Arab bermakna ‘Yang Terjauh’. Dus, Masjid al-Aqsa di sini disebut sebagai masjid terjauh dibandingkan dari Masjid al-Haram dan menyimbolkan alam atau realitas spiritual. Makna literalnya adalah, ‘Ia membawa hamba-Nya dari Masjid al-Haram menuju Masjid pada ujung terjauh.’ Secara simbolis, Allah membawa Nabi menjauhi hal-hal yang terlarang dari kehidupan duniawi ini, yang haram, menuju tempat terjauh darinya – Al-Aqsa. Titik terjauh dari kehidupan hewani adalah dimensi spiritual.

Kontras di antara kedua maqam ini, lebih jauh didemonstrasikan dengan adanya batu-batu yang terkenal yang ada di kedua tempat suci ini. Di Masjid al-Haram, kita mengenal adanya Hajar al-Aswad (Batu Hitam) yang dikendalikan oleh batasan-batasan fisik, ditaruh dalam suatu wadah, jatuh dari surga dan menjadi gelap oleh dosa-dosa kemanusiaan. Di Masjid al-Aqsa, terdapat batu suci yang menandai tempat di mana Nabi saw naik ke langit, dan batu ini mengambang secara ajaib di udara, mengabaikan hukum gravitasi, ingin untuk meninggalkan tarikan gravitasi bumi, untuk meluncur menuju Hadirat Ilahi.

Makna halus yang dapat diturunkan dari urutan kata-kata di sini adalah bahwa hamba sejati Allah, Nabi Muhammad saw, memulai dari maqam ‘ubudiyyah, penghambaan, yang juga adalah tujuan dari penciptaannya. Hal ini mengizinkan dirinya untuk memulai dari kedudukan (maqam) akhlaq yang sempurna dan tak bercacat (‘ismat), meninggalkan semua yang terlarang, meninggalkan kecintaan atas kehidupan duniawi ini (al-haraam) dan bergerak dari situ menuju maqam terjauh, tingkatan tertinggi dari seluruh ciptaan, sebagaimana ditandai oleh maqam dari masjid terjauh, al-aqsa.

Bihurmati habib, Al-Fatihah
posted by Mevlana as Sufi at 8:15 PM 0 comments

Mengejar Bayangan
Mawlana Syaikh Muhammad Hisham Kabbani


Suatu ketika Nabi saw. memanggil para sahabatnya ketika matahari sedang meninggi, dan memerintahkan mereka agar berlari ke Gunung Uhud dengan membelakangi matahari dan mengejar bayangan tubuh mereka. Barang siapa yang dapat mengejar bayangannya akan dihadiahi jubah nabi.

Mereka tidak mempertanyakan kenapa beliau memerintah kan hal itu, tetapi mereka menyerahkan semua keputusan kepada beliau, dan segera berlari mengejar bayangan mereka. Ketika mereka berlari sambil membelakangi matahari, bayangan mereka akan mendahului mereka. Meskipun secara logika kita tahu bahwa kita tidak mungkin mengejar bayangan kita, para sahabat Nabi tidak menakar perintah Nabi dengan nalar mereka.

Mereka menggunakan kecerdasan mereka untuk melaksana kan perintah itu, tetapi tidak memikirkan apakah perintah itu perlu dilaksanakan atau tidak. Mereka tahu bahwa beliau seorang Nabi yang tidak akan mengeluarkan perkataan menurut seleranya sendiri, tetapi hanya mengatakan sesuatu yang diwahyukan Tuhan kepadanya.

Ketika para sahabat telah tiba di Bukit Uhud, beliau menyuruh mereka untuk berbalik dan berlari ke arah Nabi saw. Kemudian bayangan mereka berlari mengikuti mereka ketika mereka berlari menuju Nabi saw. Beliau kemudian berkata, “Wahai para sahabatku, barang siapa lari mengejar kehidupan dunia, maka ia seperti orang yang lari mengejar bayangannya, dan ia tidak akan pernah dapat mengejarnya.

Barang siapa yang lari mengejar kehidupan akhirat (lari ke arahku dan pesan yang aku bawa dari Allah), maka dunia ini akan berlari mengejarnya, seperti bayangan yang berlari mengejar kalian.” Dikatakan, dunia itu bangkai, dan orang yang mengejarnya ialah seperti anjing.

Wa min Allah at Taufiq, Bihurmati habib, al Fatihah
posted by Mevlana as Sufi at 8:15 PM 0 comments

Saat Tragedi Mendatangi Hidup Kita
Maulana Syaikh Nazhim Adil Al-Haqqani
(Saat Tragedi Mendatangi Hidup, bagaimana Kita Menjaga Iman Kita akan Rahmah Allah SWT )


Pertanyaan:
"Syaikh Effendi, saat kita menyaksikan keindahan terbitnya matahari dan langit tanpa batas yangpenuh dengan bintang, kita merasa dan mengetahui dengannya akan keberadaan Sang Pencipta dan bahwa Ia adalah Maha Agung. Tapi, terkadang dalam hidup seseorang terjadi peristiwa yang menyedihkan dan mengerikan: ketika orang yang kita cintai wafat - orang tua, saudara, teman. Saat tragedi mendatangi kehidupan kita, bagaimanakah kita mampu menjaga iman kita akan rahmah Tuhan, bagaimanakah kita dapat merasakan bahwa Ia peduli akan apa yang terjadi pada setiap orang dari kita?"

Jawaban dari Mawlana Syaikh Nazhim Haqqani :

Kini, tamu terhormat kita telah menanyakan suatu pertanyaan yang amat penting yang pasti ditanyakan oleh setiap orang di dunia ini dalam hatinya masing-masing. Kedua matanya telah terbuka akan Keagungan Tanpa Batas dari Sang Pencipta melalui keajaiban dan keindahan yang telah Ia Yang Maha Kuasa ciptakan untuk hal itu.

Karena itulah, ia memuji sang Pencipta dan berkata bahwa tanda-tanda yang menakjubkan dalam alam semesta ini dan kesempurnaan serta keharmonisan dari pergerakan rumit benda-benda langit, serta keseimbangan alam, akan menyebabkan seseorang tersadar akan Kebesaran Sang Pencipta, Sang Pemelihara dan Sang Pemandu dari Semua Ciptaan.

Tamu kita tersebut telah menyadari, sebagaimana semua orang yang beriman, bahwa Rahmat tanpa akhir dari Tuhan meliputi seluruh alam semesta, karena tanpanya baik diri kita maupun makhluk lain tak akan mampu wujud dan mendapatkan bagian rezekinya. Ia telah melihat bahwa diri kita tengah berenang dalam Samudera-samudera Rahmat Allah.

Tapi, ia bertanya, sebagaimana juga dilakukan begitu banyak orang, bagaimanakah kita bisa mendamaikan keimanan kita akan Rahmah Allah ini dengan kepahitan dan kengerian yang kita rasakan saat kematian orang-orang tercinta atau saat terjadinya peristiwa-peristiwa yang tampak kejam dan mengerikan di dunia ini. Ia tengah bertanya bagaimanakah kita mampu menangani keraguan yang merasuki pikiran kita berkaitan dengan rahmat tadi, bagaimanakah kita menangani suara yang berkata pada diri kita: "Jika Allah begitu penyayang, bagaimana mungkin Ia mengizinkan peristiwa-peristiwa seperti itu terjadi?"

Kemarin kita telah berbicara tentang penciptaan Adam, dan kita berkata bahwa, menurut tradisi, Keturunan Adam telah dikaruniai kedudukan paling terhormat di antara seluruh makhluk di dunia ini, suatu kedudukan sebagai wakil-wakil (khalifah) dari Pencipta mereka.

Setiap makhluk boleh untuk meminta memiliki posisi yang demikian tinggi itu, tapi Allah Ta'ala mengingatkan mereka semua, dengan bertanya: "Siapa di antara kalian yang siap untuk membayar harganya dan memikul beban dari kedudukan yang paling terhormat itu? Siapa yang mampu memikul kedudukan terberat itu di atas bahunya?" Ya, kepada seluruh ciptaan dipertunjukkan pada mereka sifat dan karakteristik kedudukan terhormat itu, beserta tanggung jawab-tanggung jawab yang menyertainya. Sebagaimana Allah Ta'ala menyatakan dalam Quran Suci:

"Sungguh, telah Kami tawarkan amanah itu pada Langit, Bumi, dan gunung-gunung; dan mereka semua menolak untuk menerimanya, dan mereka takut untuk mengkhianatinya. Tapi, manusia, ia mengambilnya untuk dirinya sendiri dan memikulnya. Sungguh ia amat zalim, dan amat bodoh." [QS. 33:72]

Dan Ia Ta'ala membukakan bagi seluruh ciptaan apa yang termaktub dalam amanat itu, sehingga tak ada satu ciptaan pun yang akan berkelit bahwa ia telah dibebani suatu beban di luar dari apa yang ia sendiri telah terima. Sebagai hasilnya, ketika mereka dihadapkan pada pilihan itu, seluruh ciptaan menolak untuk mengambilnya bagi diri mereka sendiri, dengan mengatakan bahwa mereka tak dapat mempercayai diri mereka sendiri dengan suatu tugas yang memiliki kondisi dan persyaratan seperti itu (amanat); mereka berkata bahwa mereka takut menghadapi tantangan yang demikian berat seperti itu. Tapi manusia berkata, Aku dapat memikulnya. Aku siap untuk melakukan pengorbanan yang diperlukan, aku siap untuk membayar harganya."

Di sinilah, kemudian, terletak jawaban bagimu. Jika kalian mengklaim kehormatan itu, jika kalian menghargai kemuliaan posisi kalian sebagai "Mahkota Ciptaan", jika kalian mempertimbangkan bahwa hal yang memisahkan diri kalian dari anjing dan monyet tersebut, patut untuk dijaga, patut untuk diberi pengorbanan, maka kalian pun mesti siap untuk menerima dan setuju dengan keputusan dan takdir Tuhan kalian; itulah harga yang kalian bayar untuk kedudukan paling terhormat itu.

Kalian tak boleh menolak apa yang Ia kehendaki dalam mengarahkan jalan kehidupan ciptaan-Nya. Ia SWT melakukan apa pun yang Ia Kehendaki, dan kewajiban diri kita adalah untuk bersabar dalam perkara-perkara yang berada di luar jangkauan pengaruh kita (seperti ketakterhindaran kematian), demi kecintaan dari Tuhan kita, karena Ia telah berikan cinta-Nya pada keturunan Adam di atas semua makhluk lainnya.

Lihatlah, Tuhan kita meminta Nabi Ibrahim alaihis salam untuk menyembelih putranya Ismail alaihissalam demi cinta Tuhannya. Dalam cerita ini terdapat suatu pelajaran bagi diri kita semua. Ia Ta'ala memerintah kan Ibrahim: "Sembelihlah anakmu demi Diri-Ku. Harga dari Cinta-Ku jauh lebih tinggi daripada pengorbanan dari cinta yang kau labuhkan pada putra kesayanganmu itu. Berikan cinta itu (yang kini kau berikan bagi anakmu) pada-Ku pula: dengan menyembelihnya, berikan (cinta itu) pada-Ku."

Kemudian Ibrahim bersiap untuk menaati Tuhannya, sekalipun syetan mencoba berulang kali untuk membujuknya. Dus, (dengan membuktikan kesiapannya untuk melaksanakan perintah Tuhan) Ibrahim membuktikan keteguhannya (istiqomah) dalam menaati perintah Ilahi. Tapi, Tuhan, yang tidak membutuhkan darah pengorbanan, melainkan menerima ketulusan yang dipersembahkan melalui kurban itu, mencegah pisau (milik Ibrahim) dari melakukan pemotongan.

Ia SWT memerintah pada pisau: "Jangan memotong!" Hingga ketika Ibrahim berusaha menyembelih leher anaknya, pisau itu tak juga dapat memotong, bahkan tak mau untuk menyayat segores pun, sekalipun Ibrahim telah mengasahnya sendiri dengan kerajinan dan ketekunannya. Berulang kali ia menggoreskan pisau itu atas leher halus putranya, tapi tanpa ada hasil. Pada akhirnya Ibrahim melempar pisaunya.

Dan untuk menunjukkan pad a Ibrahim, akan Kekuatan dari Kehendak-Nya, Ia Ta'ala membuat pisau itu menebas menembus suatu batu besar bagaikan sebilah pisau menyayat sepotong keju. Kemudian seorang Malaikat muncul di hadapan Ibrahim yang tengah terkejut, berkata: "Wahai Ibrahim, jangan kau berpikir bahwa pisaumu tumpul! Kau telah buktikan ketulusanmu, kini ambillah domba ini dan sembelihlah ia..."

Allah Ta'ala telah mengaruniakan Cinta Ilahiah-Nya pada keturunan Adam, dan kita telah merespon pada Tuhan kita, dengan mengatakan: "Kami adalah benar bagi-Mu, wahai Tuhan Kami." Kemudian Ia Yang Maha Agung berkata, "Akan Kucoba dirimu, untuk menguji seluruh diri kalian untuk melihat siapa yang benar atas klaimnya mencintai-Ku." Siapakah yang mampu bertahan dengan cobaan seperti yang menimpa Ibrahim? Tapi, dalam keseluruhan hidup kita, banyak pula berbagai cobaan menimpa, dan dengan bersabar dalam menghadapi cobaan-cobaan itu, kita akan memperoleh cinta tanpa batas dari Tuhan kita.

Salah seorang wali terkenal dalam Islam adalah Raja dari negeri Balkh, yaitu Ibrahim bin Adham. Ia meninggalkan kerajaannya demi Tuhannya dan pergi untuk hidup dengan apa yang ia peroleh dari melakukan kerja buruh yang kasar, dan mendarma baktikan waktu luangnya, dan seluruh hatinya, untuk pengabdian bagi Tuhannya.

Saat ia turun dari tahtanya, ia pergi meninggalkan pula di belakangnya istri yang tengah hamil. Setelah dua belas tahun, anak laki-laki yang dilahirkan istrinya tersebut mulai bertanya tentang ayahandanya Sang anak pun pergi mencari ayahandanya, dan berhasil melacak jejak ayahnya hingga akhirnya ia menjumpai ayahandanya di Makkah.

Ibrahim bin Adham mengetahui bahwa anak tersebut adalah putranya, begitu ia pertama kali melayangkan pandangan matanya pada wajah mulia sang anak. Ibrahim bin Adham berkata: "Kau adalah putraku." Sang anak berkata: "Kau adalah ayahandaku." Kemudian Ibrahim bin Adham berdoa pada Tuhannya: "Wahai Tuhanku, Kau lebih tahu bahwa hingga kini, seluruh cintaku hanya kupersembahkan bagi-Mu. Kini telah kulihat bahwa sebagian cintaku telah berlabuh pada putraku ini. Wahai Tuhanku, seluruh yang kuinginkan dalam hidup ini adalah agar keseluruhan hatiku murni hanya teruntuk bagi-Mu; karena itu aku memohon-Mu untuk mengubah cinta yang ada dalam hatiku bagi anakku ini menjadi cinta bagi-Mu."

Kemudian Allah Ta'ala memanggil ruh anak laki-laki Ibrahim bin Adham ke Hadirat Ilahiah-Nya (yaitu mewafatkannya, penerj.) Cinta yang dimiliki sang anak bagi ayahnya telah ditransformasikan menjadi Cinta Ilahi, sehingga ia pergi ke Hadirat Ilahi dalam keadaan suci sempurna; dan cinta yang dimiliki Ibrahim bin Adham bagi putranya tersebut juga menembus relung Cinta Ilahiah, bersatu dengan Samudera - samudera Cinta Ilahiah dalam kalbu kewaliannya.

Allah Ta'ala adalah "Al-Ghayyur" atau "Tuhan Yang Pencemburu". Ia menyuruh diri kita untuk menyatukan semua cinta yang kita rasakan, ke dalam Cinta Ilahiah-Nya; untuk mengambil cinta yang kita miliki dan rasakan bagi orang-orang tercinta kita dan mentransformasikannya, mengubahnya menjadi suatu cinta yang akan menembus relung Cinta Ilahi.

Inilah makna dari Ia yang menginginkan suatu "kalbu suci" (qalbun saliim) dari hamba-hamba-Nya, karena semua yang kau cintai dalam diri kekasih-kekasihmu (orang-orang yang kau cintai) tak lain tak bukan adalah suatu tarikan dari seberkas sinar atribut-atribut Tuhanmu yang kau lihat dalam diri mereka, yang berkilau melalui keakraban di antara dirimu dan diri mereka lalu menjangkau hatimu.

Semua orang-orang yang kau cintai itu akan mati, dan begitu pula dirimu; tapi jika cinta itu mencapai penerima sejati dari semua cinta, maka tujuan utama dari cinta manusia telah teraih, dan hal ini diterima serta menyenangkan dalam Hadirat Ilahiah. Namun, jika kita gagal untuk berserah diri pada keputusan Tuhan kita akan kefanaan dari seluruh makhluk-makhluk-Nya, dan membenci-Nya karena menaruh diri kita dalam suatu wujud sementara yang dipenuhi bayangan-bayangan, keadaan dan perasaan yang berlalu, maka hidup ini pun akan menjadi suatu pil yang terlalu pahit untuk ditelan.

Dalam kasus seperti itu, hidup pun dengan sendirinya menjadi suatu samudera kesedihan, karena bagaimana pun Ia SWT memanggil semua hamba-hamba-Nya, satu demi satu, kembali ke Hadirat Ilahiah dan meninggalkan diri kita dan dunia ini.

Dialah Tuhan kita, satu-satunya Pemelihara keberadaan diri kita. Dia memiliki hak dan kekuasaan atas kita dan mencoba diri kita untuk melihat siapakah yang benar dan berpegang pada cinta dari Tuhan mereka. Karena itulah, segala macam bentuk kejadian bisa terjadi: orang-orang tercinta bisa mati, orang-orang muda mati, saudara, orang tua, istri atau suami akan mati. Kemudian, Ia akan melihat apa yang kalian lakukan: Dapatkah diri kalian mengubah cinta kalian dan membuat tragedi tersebut menjadi suatu sebab untuk meningkatkan cinta kalian pada Tuhan kalian?

Begitu sedikit orang memahami hal ini, dan karena itulah mengapa mereka tak mampu melihat Hikmah Ilahiah di balik peristiwa-peristiwa yang menyedihkan. Mereka tak menyadari bahwa Tuhan kita tengah mengisyaratkan pada diri kita untuk mencintai-Nya sepenuhnya dan secara eksklusif; karena itulah mereka menjadi menderita.

Segala sesuatu yang Ia Ta'ala berikan pada Anak Adam adalah sementara, tak berharga untuk cinta sejati itu. Kalian harus memberikan cinta kalian pada Dia yang selalu wujud dan eksis - dari pra-keabadian hingga pasca-keabadian. "Maha Suci Dia Yang Maha Hidup (Tuhan), yang bagi-Nya tak ada Kematian"

Karena itu, kalian mesti tersadar akan hakikat-hakikat ini dan jangan pernah berpikir bahwa kejadian-kejadian di sekitar kalian itu mewakili keputusan-keputusan dari seorang Tuhan yang tak punya belas kasihan. Tidak! Karena dalam kejadian-kejadian yang nampak kejam tersebut terkandung kasih sayang tanpa batas, sebagaimana Tuhan kita akan membalas kebaikan bagi diri kita sesuai dengan kerasnya cobaan yang kita alami: balasannya adalah lebih banyak, lebih banyak, dan lebih banyak lagi Cinta-Nya.

Kapan pun kejadian-kejadian yang menyedihkan dan tak disukai menimpa dirimu, Tuhanmu menjadikannya sebagai sarana bagimu untuk mendekat pada-Nya, agar Ia menumpahkan Samudera-samudera Cinta-Nya yang tanpa akhir bagi hamba-hamba-terkasih-Nya.

Ini adalah suatu titik yang paling penting dan yang paling berat. Kita harus memahami hikmah-hikmah ini dan maknanya. Tapi, pemahaman akan hikmah ini akan tetap menghindari diri kita selama masih saja berpikir bahwa ini semua hanyalah sekedar kata-kata. Cinta Ilahiah itu harus dirasakan. Sekalipun saya banyak mengulang kata-kata, "Madu, madu, madu..." atau melukiskan karakteristik dan cita rasa madu, kalian tak akan mampu merasakannya, dan tak akan terpuaskan. Hakikat-hakikat ini harus dirasakan, dan kecuali kalian telah mencapai titik itu, kalian pun tak akan memahami hal-hal ini lebih dari sekedar kata-kata.

Wa min Allah at-Taufiq
Bihurmatil habib Faatihah

posted by Mevlana as Sufi at 8:15 PM 0 comments

Thursday, August 19, 2004
Laylat ar-Ragha’ib (Malam Permintaan yang Sakral)
Laylat ar-Ragha’ib (Malam Permintaan yang Sakral)
Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani (q)


Kita memohon dukungan dari guru kita Syaikh Muhammad Nazhim al-Haqqani dan kita memohon pula dukungan dari Allah swt dan Rasulullah saw. Malam ini adalah malam yang sangat berharga. Laylat al-Ragha’ib, “Malam Permintaan yang Sakral,” yang merupakan salah satu malam yang paling penting dalam sejarah Islam dan bagi seluruh ummat manusia. Ini adalah malam di mana Rasulullah saw di transfer dari ayahnya kepada rahim ibunya dan jatuh pada hari Jum’at pertama di bulan Rajab. Semua yang kalian minta di malam ini akan dikabulkan oleh Allah demi kemuliaan Nabi Muhammad saw. Bangsa Arab dan negri-negri Islam lainnya merayakan malam ini dengan memanjatkan segala do’a kepada Rasulullah saw, mengingat kembali riwayat hidup beliau dan mengingat Allah swt dalam hati, dengan mengunjungi masjid dan tinggal di sana sampai terbit fajar. Mereka tidak tidur. Sayangnya, di negara ini, tidak ada yang tahu—khususnya para Muslim—bahwa malam yang paling berharga ini telah tiba.

Bagaimana Allah mendukungmu di negara ini, bagaimana Islam akan tersebar di negara ini, jika bahkan para Muslimnya saja tidak mengetahui kapan jatuhnya malam yang sangat berharga ini? Ini adalah malam di mana kalian harus mengisinya dengan membaca al-Qur’an, mengucapkan Nama-Nama Allah, membaca riwayat hidup Nabi Muhammad saw, bershalawat kepadanya, dan bermunajat kepada Allah. Tiada yang mengetahuinya. Lihatlah semua masjid, bahkan tidak ada yang berbicara mengenai malam ini. Bahkan tidak ada pula yang mengatakan bahwa ini adalah bulan Rajab dan kalian harus berpuasa pada hari Senin dan Kamis. Siapa yang berpuasa? Sangat sedikit orang yang berpuasa dan mengingatnya. Di antara mayoritas Muslim, tidak ada yang berpikir, tetapi tetap saja mereka ingin menyebarkan Islam di mana-mana. Bagaimana ini akan terjadi bila kita, ummat Muslim tidak memulainya dengan diri kita sendiri sebelum berpaling kepada orang lain.

Kita memohon kepada Allah agar mengubah hati ummat Muslim yang mengabaikan puasa di bulan Rajab dan membuat mereka menghargai bulan ini sebagaimana layaknya. Di negara kami, dengan seizin Syaikh, kita tidak tidur di bulan ini. Tadi malam Maulana Syaikh Nazhim k merayakan malam ini di Nikosia bersama 500 orang, dengan melakukan shalat, dzikir, memberi ceramah, lalu menyuruh orang-orang agar pulang ke rumahnya masing-masing untuk melakukan segala macam shalat dan berdo’a hingga fajar. Di sini, bahkan tidak ada orang yang berpikir bahwa malam ini berbeda dengan malam-malam lainnya.

Sesungguhnya jika bukan karena malam ini, Islam tidak akan pernah ada. Cahaya yang telah diciptakan Allah dalam diri Sayyidina Adam as terletak di dahi, dan Adam bertanya kepada Tuhannya, ketika Dia menciptakannya dan menempatkan ruh ke dalam tubuhnya, “Wahai Tuhanku, lampu apa ini, cahayanya selalu bersinar di dahiku?” Dia berkata, “Wahai Adam as, cahaya itu adalah cahaya Nabi dan Rasul-Ku yang tercinta, cahaya hamba-Ku Muhammad saw. Dari cahaya itu Aku telah menciptakan engkau. Aku telah menciptakan dia lebih dahulu sebelum Aku menciptakan engkau, dan Aku tempatkan cahaya itu di kepalamu. Cahaya itu diteruskan kepada Nuh as, dari Nuh as kepada Ibrahim as, dan dari Ibrahim as kepada Isma’il as, dan seterusnya sampai pada Rasulullah saw.

Jika bukan untuk Rasulullah saw, Allah tidak akan menciptakan seluruh alam semesta ini. Ketika Dia memerintahkan kalam untuk menulis, LA ILAHA ILLALLAH, tidak ada Tuhan selain Allah , kalam itu menulis selama 70.000 tahun dalam ukuran Allah . “Wa ‘inna yawman ‘inda rabbika ka’alfi sanatin mimma ta’uddun,” “Sehari di sisi Tuhanmu adalah 1.000 tahun menurut perhitunganmu” (al-Hajj 47). Bayangkan rentang waktu selama 70.000 tahun Surgawi, akan setara dengan 25.550.000.000 tahun menurut perhitungan manusia, jadi selama itu kalam menulis.

Ketika kalam selesai menulis, dia berhenti. Allah berkata kepada kalam itu, “Wahai kalam, tulislah Muhammadun Rasulullah.” Kemudian kalam itu menulis lagi selama 70.000 tahun. Lalu kalam itu bertanya, “Wahai Tuhanku, siapakah orang yang terhormat ini, Muhammad saw yang Engkau tempatkan Namamu bersama namanya?” Dan Allah berfirman, “Ikhsa’ ya kalam, lawla Muhammadun ma khalaqtu ahadan min khalqi,” “Diam, wahai kalam! Jika bukan untuk Muhammad saw, Aku tidak akan menciptakan seorang pun.”

Tidak ada yang mengetahui kapan kalam itu mulai menulis kalimat LA ILAHA ILLALLAH, dan tidak ada yang mengetahui kapan kalam itu mulai menulis MUHAMMADUN RASULULLAH. Masa itu disebut “azal” dalam bahasa Arab, berarti pra-keabadian, suatu masa yang tidak diketahui oleh siapa pun kecuali Allah . Nama Rasulullah saw sudah ada pada saat itu. Dan jika nama itu berada di sana, apakah kalian pikir dia tidak berada di sana? Bila kalian memberi nama kepada seseorang, maka orang itu harus ada, paling tidak secara spiritual. Oleh sebab itu, apa pun sanjungan yang kalian berikan kepada Rasulullah saw, apa pun pujian yang kalian berikan, kalian masih tetap menganggapnya remeh. Salah satu Wali besar berkata, “Berikan kemuliaan kepada Rasulullah saw dan pujilah dia, tetapi jangan katakan kepadanya sebagaimana orang Kristen berkata tentang Rasul mereka.” Hal ini berarti jangan katakan bahwa beliau adalah Tuhan. Hanya Allah Tuhan kita, yang lain adalah budak.

Ini adalah keyakinan para Sufi. Pengikut Sufi percaya bahwa Allah Maha Esa, dan segala sesuatu adalah hamba-Nya. Jangan berpikir bahwa para Sufi sejati mempunyai iman yang berbeda. Sufi sejati mengetahui bahwa hamba adalah hamba dan Allah adalah Tuhan. Para pembaharu memproklamasikan dirinya sebagai Sufi, namun mereka meninggalkan toilet tanpa mengetahui bagaimana cara membersihkan diri mereka! Ini tidak bisa dianggap sebagai Sufi sejati, mereka tidak bisa dianggap apapun! Para pengikut Sufi harus menjaga syariat Rasulullah , mereka harus tetap menjaga seluruh kondisi dan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah kepada kita, mereka percaya bahwa Allah Maha Penyayang kepada setiap orang. Ini adalah Rahmat dari Allah . Tetapi walaupun Allah Maha Penyayang, kita harus menunjukkan rasa terima kasih kita, dengan menyembah-Nya dan bersyukur atas segala nikmat yang diberikan-Nya kepada kita. Itulah alasan mengapa Allah menuntut penyembahan kita. Atau apakah kalian pikir bahwa alasan kita menyembah-Nya adalah untuk menambah Kebesaran-Nya? Ibadah kita murni merupakan ukuran rasa terima kasih karena Allah telah menciptakan kita dan memberi kita kemuliaan semacam itu.

Jangan berpikir bahwa para Sufi dapat menerima pandangan yang mengatakan bahwa Sufisme bertentangan dengan syariat? Ini tidak pernah menjadi masalah, dan tidak akan menjadi masalah. Dari Rasulullah saw, Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra, Sayyidina ‘Ali ra dan seluruh guru Sufi, semuanya menghormati dan menjaga syariat sepenuhnya. Yang kami maksud adalah guru Sufi sejati, bukan anak-anak yang memproklamirkan dirinya sebagai guru Sufi dan membawa seluruh khuza’balat, ide-ide bodoh dan omong kosong diberikan kepada Sufisme. Apakah Sufisme seperti ini? Sufisme berarti bahwa kalian tidak mengangkat kepalamu dari posisi sujud. Kalian lihat, mereka tidak memelihara janggut, tidak memakai turban, tidak memperhatikan sunnah Rasulullah, dan tetap mengaku sebagai guru Sufi dan berbicara mengenai Jalaluddin ar-Rumi atau Muhyiddin ibnu al-‘Arabi, atau Abu Yazid al-Bistami . Abu Yazid al-Bistami, Muhyiddin ibnu al-‘Arabi dan Jalaluddin ar-Rumi menyangkal mereka! Para Awliya ini tidak menerima mereka karena mereka akan bertentangan dengan syariat.

Guru Sufi yang palsu bahkan mengaku bahwa kita tidak perlu berwudhu. Bagaimana mungkin wudhu tidak diperlukan? Salah satu Nama Rasulullah saw adalah Nabi dari “orang-orang yang bercahaya”, al-ghurr al-mujjalin. “Orang pertama yang akan kupanggil menghadapku untuk masuk ke dalam Surga dan bertemu dengan Allah di Surga dan tetap bersamaku adalah mereka yang anggota tubuhnya bercahaya seperti cahaya matahari karena dibasuh dengan wudhu” (Bukhari-Muslim). Setiap orang di antara kalian yang selalu menjaga wudhunya akan termasuk orang-orang yang beruntung itu. Ketika Abu Huraira y ditanya mengapa beliau membasuh anggota tubuhnya dengan air melebihi yang diperlukan, beliau menjawab bahwa beliau ingin seluruh anggota tubuhnya bersinar pada hari itu. Lalu bagaimana mungkin—orang yang mengaku Sufi—berkata bahwa wudhu tidak diperlukan? Mereka mengaku bahwa mereka melakukan wudhu dengan cara menghirup, lalu mengeluarkan semua kotoran mereka. Ini lebih baik dilakukan di kamar mandi, bukan di masjid. Kalian hanya bisa masuk ke masjid setelah melakukan wudhu! Tidak ada satu pun yang dapat membersihkan kalian kecuali dengan wudhu. Kami membantah apa yang mereka katakan. Mereka yang mengaku Sufi itu bukan Sufi sejati tetapi sesungguhnya menentang Sufisme, dan merekalah yang memberi citra buruk kepada Sufisme.

Rasulullah saw bertanya kepada Sayyidina Bilal , “Wahai Bilal , Aku mendengar langkahmu di Surga. Apa yang kalian lakukan (untuk mendapat penghargaan semacam ini)?” Bilal menjawab, Wahai Rasulku tercinta, setiap kali aku berwudhu baik di siang hari maupun ketika aku bangun di tengah malam untuk berwudhu (setelah pergi ke kamar kecil), aku melakukan shalat wudhu minimal dua rakaat “ (Bukhari-Muslim). Kita tidak meringankan tubuh kita seperti halnya binatang, tanpa membersihkan diri, kemudian kita melangkah ke dalam masjid dan berkata bahwa kita akan melakukan shalat. Kita tidak mengatakan hal ini kepada Muslim yang baru, tetapi kepada Muslim yang telah lama. Kita mendiskusikan hal ini dengan terbuka karena, “la haya’a fid din,” “tidak perlu malu dalam urusan agama” (hadits).

Rasulullah saw bersabda, “Aku takut ummatku nanti akan melakukan shalat tanpa membersihkan diri setelah mereka membuang urin.” (hadits, Rasulullah suatu ketika melewati dua kuburan, kedua orang yang dimakamkan di sana telah disiksa. Beliau bersabda…’Salah satu di antara mereka tidak pernah melakukan tindakan untuk mencegah dirinya dikubur dengan urinnya sendiri’ dan seterusnya.” Bukhari, Jana’iz ch.80). Banyak orang di sini yang pergi ke kamar kecil dan keluar tanpa membersihkan diri mereka, kemudian melakukan wudhu dan shalat, hal ini tidak dapat diterima. Dalam kasus ini shalatnya tidak diterima. Kalian harus menyiram dan membersihkan dirimu ketika kalian membuang urin. Jika kalian tidak membersihkan dirimu, kalian tidak bisa melakukan shalat. Saya ulangi bahwa ini adalah untuk orang yang sudah lama menjadi Muslim, bukan untuk yang baru menjadi Muslim. Kalian harus membersihkan diri sebelum kalian melakukan shalat. Bagaimana kalian akan berdiri (dalam shalat) menghadap Allah dan berharap agar shalatmu diterima? Shalatmu tidak akan diterima, meskipun itu lebih baik daripada tidak—di bandingkan dengan orang yang tidak shalat sama sekali.

Setiap orang harus membersihkan dirinya baik secara fisik maupun spiritual. Tidak cukup hanya dengan mengatakan, “Aku telah membersihkan diriku secara spiritual.” Untuk para pemula, lupakan, tetapi bagi kita, kita harus datang untuk shalat dalam keadaan bersih, baik di masjid maupun di rumah. Kalian harus sangat berhati-hati dalam masalah ini. Jangan membuang urin sembarangan sebagaimana yang dilakukan oleh anjing, keledai, atau monyet, tanpa merasa malu karena Syaikh tidak melihatmu. Jika Syaikh tidak melihatmu, kedua malaikat di pundakmu bisa melihatmu. Jika mereka pun tidak melihatmu, Allah melihatmu. Tidakkah kalian merasa malu terhadap hal ini? Pergilah ke kamar kecil di bandara atau di pom bensin di Amerika, di sana, tidak ada orang yang merasa malu berpakaian tidak selayaknya, berdiri dan membuang air seperti anjing… apakah ini yang dinamakan hormat dan adab? Kalian harus berada dalam ruangan tersendiri agar tidak ada orang yang bisa melihatmu. Itulah adab yang diajarkan oleh Islam. Islam mengajarkan kalian untuk selalu menghormati orang, termasuk dirimu sendiri.

Sayyidina ‘Ali ra, semoga Allah mengangkat derajatnya, tidak pernah selama hidupnya melihat bagian-bagian tubuhnya yang sifatnya pribadi. Itulah sebabnya beliau menerima kehormatan yang begitu tinggi, penghargaan yang kita ucapkan setelah menyebutkan namanya, “karramallahu wajhahu”, yang secara harfiah berarti, “Semoga Allah memuliakan wajahnya.” Beliau tidak pernah membiarkan matanya melihat bagian tubuh pribadinya. Bagaimana dengan kita dewasa ini? Kita meninggalkan bagian tubuh pribadi kita, lalu mencari kepunyaan orang lain dan bahkan menggambarkannya! Di televisi, mereka mengajarkan setiap orang termasuk anak-anak bagaimana cara berkencan dan bagaimana cara melihat bagian tubuh pribadi masing-masing. Peradaban macam apa ini? Ini adalah suatu kebodohan. Kehidupan binatang lebih baik daripada seperti ini.

Kita terlalu banyak melakukan dosa. Kita memerlukan jalan yang aman dan cepat untuk mencapai Tuhan kita. Kita harus mengetahui bahwa Malam Permintaan Yang Sakral ini adalah salah satu jalan untuk mendekati-Nya. Ke mana pun kita memandang, kita temukan diri kita dalam keadaan berdosa, itulah sebabnya kalian harus mencari tempat di mana orang-orang membuat suatu pertemuan demi Allah , mereka mengingat Allah I dan mengingat Rasulullah saw, sehingga kalian dapat mendekati-Nya dengan cepat. Oleh sebab itu jangan melewatkan pertemuan semacam itu.

Wa min Allah at-tawfiq bi hurmat al-Fatiha
posted by Mevlana as Sufi at 9:59 AM 0 comments

Wednesday, August 18, 2004
HASAN AL BASRI
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
Mercy Oceans Towards The Divine Presence (Book One)


Hasan al-Basrii (semoga Allah memberkatinya) adalah seorang imam yang terkenal. Di masanya hidup seorang buta huruf yang bernama Habiib al-‘Ajamii (semoga Allah mensucikan jiwanya). Beliau bukan seorang Arab, melainkan berasal dari Persia atau Bukhara.

Suatu ketika Habiib al-‘Ajamii sedang duduk di depan khaaniqaahnya (pondokan untuk berdzikir), tiba-tiba Hasan al-Basri datang dengan tergopoh-gopoh. “Oh Habiib, sembunyikan aku,” begitu kata Hasan al-Basri, “karena Hajjaaj, wakil gubernur, mengutus tentaranya untuk menangkapku. Sembunyikanlah aku!”

“Masuklah ke dalam dan bersembunyilah,” kata Habiib. Hasan pergi ke dalam dan menemukan sebuah tempat untuk bersembunyi. Selang beberapa saat, beberapa tentara menghampiri Habiib, “Apakah anda melihat Hasan al-Basri?” “Ya, Aku melihatnya. Dia ada di dalam.”
Mereka masuk ke dalam dan melihat ke sekeliling, melihat ke segala arah, bahkan menyentuh kepala Hasan al-Basri, dan beliau melihatnya dengan ketakutan. Kemudian pasukan itu keluar, dan berkata kepada Habiib, “Betapa memalukannya anda berkata bohong. Di mana dia? Hajjaaj akan berurusan dengan orang yang bekerja sama dengan Hasan al-Basri, dan itu cocok dengan anda. Anda berkata bahwa dia berada di dalam, tidak malu berbohong!”

“Di dalam, Aku tidak berbohong. Dia berada di dalam.”
Sekali lagi, mereka masuk. Lalu, dengan sangat marah, mereka pergi. Kemudian Hasan al-Basri keluar. “Oh, Syaikh, apa ini? Aku datang kapadamu, memintamu untuk menjagaku dan engkau mengatakan kepada tentara bahwa aku berada di dalam.” “Yaa Hasan, Yaa Imaam, najawt min sidqi-l-kalaam—engkau diselamatkan oleh kebenaranku! Aku mengatakan kebenaran dan Allah melindungimu karena aku berkata dengan jujur. Aku berkata, “Wahai Tuhanku, ini adalah Hasan al-Basri, hamba-Mu, dia datang meminta pertolonganku, berkata, Sembunyikan aku, jagalah aku!’ Aku tidak bisa melindunginya. Aku mempercayakan dia kepada-Mu, menyerahkan dia kepada-Mu sebagai amanat dariku. Engkau melindunginya.” Aku hanya mengatakan hal itu dan membaca Ayat al-Kursi (II:255).

Itulah sebabnya ketika tentara itu masuk, melihat ke segala arah dan bahkan telah menyentuh kepalanya, namun mereka tidak pernah mengerti bahwa dia berada di sana.

Wa min Allah at taufiq

posted by Mevlana as Sufi at 11:20 PM 0 comments

Simthud Duror
Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi
(Berikut ini adalah riwayat hidup penyusun kitab maulid Simthud durar yang diambil dari situs alawiyin).


Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi dilahirkan pada hari Juma'at 24 Syawal 1259 H di Qasam, sebuah kota di negeri Hadhramaut. Beliau dibesarkan di bawah asuhan dan pengawasan kedua orang tuanya; ayahandanya, Al-Imam Al-Arif Billah Muhammad bin Husin bin Abdullah Al-Habsyi dan ibundanya; As-Syarifah Alawiyyah binti Husain bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri, yang pada masa itu terkenal sebagai seorang wanita yang solihah yang amat bijaksana.

Pada usia yang amat muda, Habib Ali Al-Habsyi telah mempelajari dan mengkhatamkan Al-Quran dan berhasil menguasai ilmu-ilmu zahir dan batin sebelum mencapai usia yang biasanya diperlukan untuk itu. Oleh karenanya, sejak itu, beliau diizinkan oleh para guru dan pendidik nya untuk memberikan ceramah-ceramah dan pengajian-pengajian di hadapan khalayak ramai, sehingga dengan cepat sekali, dia menjadi pusat perhatian dan kekaguman serta memperoleh tempat terhormat di hati setiap orang. Kepadanya diserahkan tampuk kepimpinan tiap majlis ilmu, lembaga pendidikan serta pertemuan-pertemuan besar yang diadakan pada masa itu.

Selanjutnya, beliau melaksanakan tugas-tugas suci yang dipercayakan padanya dengan sebaik-baiknya. Menghidupkan ilmu pengetahuan agama yang sebelumnya banyak dilupakan. Mengumpulkan, mengarahkan dan mendidik para siswa agar menuntut ilmu, di samping membangkitkan semangat mereka dalam mengejar cita-cita yang tinggi dan mulia.
Untuk menampung mereka, dibangunnya Masjid "Riyadh" di kota Seiwun (Hadhramaut), pondok-pondok dan asrama-asrama yang diperlengkapi dengan berbagai sarana untuk memenuhi keperluan mereka, termasuk soal makan-minum, sehingga mereka dapat belajar dengan tenang dan tenteram, bebas dari segala pikiran yang mengganggu, khususnya yang bersangkutan dengan keperluan hidup sehari-hari.

Bimbingan dan asuhan beliau seperti ini telah memberinya hasil kepuasan yang tak terhingga dengan menyaksikan banyak sekali di antara murid-muridnya yang berhasil mencapai apa yang dicitakannya, kemudian meneruskan serta menyiarkan ilmu yang telah mereka peroleh, bukan sahaja di daerah Hadhramaut, tetapi tersebar luas di beberapa negeri lainnya - di Afrika dan Asia, termasuk di Indonesia.
Di tempat-tempat itu, mereka mendirikan pusat-pusat dakwah dan penyiaran agama, mereka sendiri menjadi perintis dan pejuang yang gigih, sehingga mendapat tempat terhormat dan disegani di kalangan masyarakat setempat. Pertemuan-pertemuan keagamaan diadakan pada berbagai kesempatan. Lembaga-lembaga pendidikan dan majlis-majlis ilmu didirikan di banyak tempat, sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan dalam ruang lingkup yang luas sekali.

Beliau meninggal dunia di kota Seiwun, Hadhramaut, pada hari Ahad 20 Rabi'ul Akhir 1333 H dan meninggalkan beberapa orang putera yang telah memperoleh pendidikan sebaik-baiknya dari beliau sendiri, yang meneruskan cita-cita beliau dalam berdakwah dan menyiarkan agama.
Di antara putera-putera beliau yang dikenal di Indonesia ialah puteranya yang bongsu; Al-Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, pendiri Masjid "Riyadh" di kota Solo (Surakarta). Dia dikenal sebagai peribadi yang amat luhur budi pekertinya, lemah-lembut, sopan-santun, serta ramah-tamah terhadap siapa pun terutama kaum yang lemah, fakir miskin, yatim piatu dan sebagainya. Rumah kediamannya selalu terbuka bagi para tamu dari berbagai golongan dan tidak pernah sepi dari pengajian dan pertemuan-pertemuan keagamaan.

Beliau meninggal dunia di kota Palembang pada tanggal 20 Rabi'ul Awal 1373 H dan dimakamkan di kota Surakarta. Banyak sekali ucapan Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi yang telah dicatat dan dibukukan, di samping tulisan-tulisannya yang berupa pesan-pesan ataupun surat-menyurat dengan para ulama di masa hidupnya, juga dengan keluarga dan sanak kerabat, kawan-kawan serta murid-murid beliau, yang semuanya itu merupakan perbendaharaan ilmu dan hikmah yang tiada habisnya.

Dan di antara karangan beliau yang sangat terkenal dan dibaca pada berbagai kesempatan di mana-mana, termasuk di kota-kota di Indonesia, ialah risalah kecil ini yang berisi kisah Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dan diberinya judul "Simtud Duror Fi Akhbar Maulid Khairil Basyar wa Ma Lahu min Akhlaq wa Aushaf wa Siyar (Untaian Mutiara Kisah Kelahiran Manusia Utama; Akhlak, Sifat dan Riwayat Hidupnya).

Simthud Durar (Untaian Mutiara)
Al-Habib al-Imam al-Allamah Ali bin Muhammad Husain al-Habsy

Ash-shalatul ula, Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad
Maa laaha fil ufqi nuuru kawkab

Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad, Al-fatihil khaatimil muqarrab
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad,Al-mush-thafaa al-mujtabaa al-muhabab,Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad, Maa laaha badrun wa ghaaba ghay-hab, Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad, Maa riihu nashrim bin nashri qad-hab

Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad,Maa saaratil ‘iisu bathna sabsab
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad,Wa kulli man lil habiibi yunsab
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad, Wa kulli man lin nabiyi yash-hab
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad,Waghfir wa saamih man kaana adznab

Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad,Wa ballighil kulla kulla mathlab
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad,Wasluk binaa rabbi khayra madz-hab
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad,Waslih wa sahhil maa qad tasha’ab
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad,A’lal baraayaa jaahan wa arhab

Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad, Ashdaqi ‘abdin bil haqqi a’rab
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad,Khayril waraa man hajaan wa ashwab
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad,Maa thayru yumnin ghannaa fa athrab
Ash-shalatuts-tsaaniyah

Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad,Asyrafi badrin fiil kawni asyraq
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad,Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad
Akrami daa’in yad’uu ilal haqq

Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad,Al-mush-thafaash shaadiqil mushaddaq
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad,Ahlaal waraa man thiqan wa ashdaq
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad,Afdhali man bittuqaa tahaqqaq
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad,Man bissakhaa wal wafaa takhallaq

Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad,Wajma’minasy-syamli maa tafarraq
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad,Washlih wa sahhil maa qad ta’awwaq
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad,Waftah minal khayri kulla mughlaq
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad,Wa aalihii wa man binnabiyi ta’alaq

Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad,Wa aalihii wa man lil habiibi ya’syaq
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad,Wa man bi hablin nabiyi tawas-tsaq
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammad,Yaa Rabbi shalli ‘alayhi wa sallim

Mahallul Qiyam (berdiri)

Asyraqal kawnub tihaajan,Alam bersinar-sinar bersuka ria
Biwujudil musthafaa ahmad,Menyambut kelahiran al-Musthafa Ahmad
Wa li ahnil kawni un sun,Riang gembira meliputi penghuninya
Wa suruurun qad tajaddad,Sambung-menyambung tiada henti

Fathrabuu yaa ahlal matsyaanii,Berbahagialah wahai pengikut al-Quran
Fahazaarul yumni gharrad,Burung-burung kemujuran kini berkicau
Wastadhii’uu bi jamaalin,Bersuluhan dengan sinar keindahan
Faaqa fil husni tafarrad,Mengungguli semua yang indah tiada banding

Walanaal busyraa bisa’din,Kini wajiblah kita bersuka cita
Mustamirrin laysa yanfad,Dengan keberuntungan terus-menerus tiada habisnya

Haytsu uutiinaa ‘athaa an,Manakala kita memperoleh anugerah
Jama’al fakhral muu abbad,Padanya terpadu kebanggaan abadi
Fali rabbi kullu hamdin,Bagi Tuhanku segala puji
Jalla an yahshura hul ‘ad,Tiada bilangan mampu mencukupinya

Idz habaa naabi wujuudil al-mushthafaal haadii Muhammad
Atas penghormatan yang dilimpahkan-Nya bagi kita dengan lahirnya al-Musthafa al-Haadi Muhammad
Yaa rasuulal-laahi ahlan,Yaa Rasulullah, selamat datang
Bika inna bika nas’ad,Sungguh kami beruntung dengan kehadiranmu
Wabijaahih yaa ilaahii,Semoga Engkau berkenan memberi nikmat karunia-Mu,Judwa balligh kulla maqsh’ad,Mengantarkan kami ke tujuan idaman

Wahdinaa nahja sabiilih,Tunjukilah kami jalan yang ia tempuh
Kay bihii nus’ad wa nursyad,Agar dengannya kami bahagia dan memperoleh kebaikan yang melimpah

Rabbi ballighnaa bijaahih,Tuhanku, demi mulia kedudukannya di sisi-Mu
Fii jiwaarihi khayra maq’ad,Tempatkanlah kami sebaik-baiknya di sisinya. Washalaatul-laahi taghsyaa,Semoga shalawat Allah meliputi selalu,Asyrafar rusli Muhammad,Rasul paling mulia, Muhammad

Wasalaamun mustamirrun,Dan salam terus-menerus
Kulla hiinin yatajaddad,Silih berganti setiap saat
Shalawaatusy-syariifah,A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim, Bismillaahir rahmaanir rahiim, Innallaaha wa malaa-ikatahuu yushalluuna ‘alan Nabiiyyi/yaa ayyuhal ladziina ‘aamanu shalluu ‘alayhi wa sallimu tasliimaa, Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad, Yaa Rabbi shalli ‘alayhi wa sallim

Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad, Yaa Rabbi balligh-hul wasiilah
Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad, Yaa Rabbi khush-shahuu bil fadhiilah, Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad, Yaa Rabbi wardha ‘anish shahaabah,Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad, Yaa Rabbi wardha ‘anish sulalaah.

Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad, Yaa Rabbi wardha ‘anil masyaayikh
Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad, Yaa Rabbi wardha ‘anil a-immah
Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad, Yaa Rabbi farham waalidiinaa Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad, Yaa Rabbi warhamnaa jami’aa

Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad, Yaa Rabbi waghfir likulli mudznib
Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad, Yaa Rabbi warzugnasy-syahaadah
Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad, Yaa Rabbi hithnaa bis-sa’aadah Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad, Yaa Rabbi washlih kulla muslih
Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad, Yaa Rabbi wakfi kulla mu’dzii
Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad, Yaa Rabbi ballighnaa nazuuruh

Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad, Yaa Rabbi taghsyaa naa-binuurih
Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad, Yaa Rabbi yaa saami’u du’aanaa
Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad, Yaa Rabbi laa taqtha’ rajaanaa
Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad, Yaa Rabbi hif-zhaanaka wa amaanak
Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad, Yaa Rabbi ajinaa min ‘adzaabik
Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad, Yaa Rabbi adziqnaa barda ‘afwik

Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad, Yaa Rabbi nas-a-lukas salaamah
Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad, Yaa Rabbi min hawlil qiyaamah
Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad, Yaa Rabbi nakhtim bil-musyaffa’
Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad, Yaa Rabbi ‘alayhi wa sallim

Yaa amaanal khaa-i-fiin,Sallimnaa mimmaa nakhaaf
Yaa munajjiyal mu’miniin, Najjinaa mimmaa nakhaf,Wa nahdzar

(dari Majelis Taklim Nuur Haddad Habib Abubakar bin
Ali Assegaff, Manado)

posted by Mevlana as Sufi at 11:20 PM 0 comments

Berkah Surgawi dari Bulan Muharram
Berkah Surgawi dari Bulan Muharram
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
dalam Mercy Oceans, On the Bridge to Eternity


Muharram adalah salah satu bulan suci, dan malam ini, 10 Muharram merupakan salah satu malam paling suci dalam Islam. Besok, tanggal 10 Muharram adalah Hari ‘Asyura. Dia memiliki kedudukan yang istimewa dalam kalender Islam, begitu pula dalam lintasan sejarah dunia, karena pada hari ini Allah mengaruniakan hamba-hamba-Nya yang tercinta dengan karunia dari Samudra Rahmat-Nya yang tak bertepi dan Samudra Kekuatan-Nya yang tak terhingga, untuk menjadikan mereka sebagai orang-orang yang memperoleh kemenangan…

Pada hari ini, Perahu Nabi Nuh mendarat di puncak gunung dan banjir yang melanda telah berakhir. Nabi Ibrahim diselamatkan dari api Namrud, Nabi Musa melewati Laut Merah dan diselamatkan dari Fir’aun. Nabi Yunus bin al-Yasa’a diselamatkan dari perut ikan paus. Nabi Sulaiman , Raja Sulaiman dianugerahi kerajaan jinn dan manusia. Nabi Ayubdisehatkan kembali bahkan lebih sejahtera dibandingkan sebelumnya. Nabi ‘Isa diangkat ke Surga.

Dan Sayyidina Muhammad saw dianugerahi lebih banyak kemuliaan, tujuh Pintu Surga dibukakan baginya dan bagi seluruh ummatnya, dan beliau diselamatkan dari sukunya, suku Quraisy.Dan setiap kali Muslim jatuh dalam kesulitan, Pertolongan dan Dukungan Ilahi langsung menyertai mereka di bulan ini, dan khususnya pada hari seperti besok, 10 Muharram… sangat penting. Saya mengharapkan Sayyidina Mahdi asmuncul pada tahun ini, tetapi tanda-tandanya masih belum lengkap… dan Saya berharap bahwa beliau akan bersama kita di bulan Muharram mendatang, setalah tahun 2000. Millennium ketiga adalah milik Imam Mahdi as.

Begitu banyak berkah surgawi yang diberikan kepada orang-orang yang beriman pada tanggal 10 Muharram, dan merupakan kabar baik bahwa kalian telah sampai di bulan Muharram ini. Dan Saya berharap bahwa Sayyidina Mahdi akan diizinkan untuk muncul… Malam ini kekuatan yang sangat besar akan dianugerahkan, mungkin kekuasaan atas seluruh dunia… dan pedangnya, sekarang, akan diambil secara perlahan. Malam ini pedang itu akan tampak…

Sebagaimana yang telah kami katakan sebelumnya, sebulan yang lalu, di bulan Dzul Hijjah, di malam Arafat, bahwa suatu perubahan mulai terjadi. Ada suatu Tajjali (Manifestasi Ilahi) yang baru, kekuatan baru yang akan terus berlanjut tanpa henti. Dan kekuatan ajaib dari malam ini mulai datang secara perlahan, langkah demi langkah, sehingga ketika teknologi berakhir dan lenyap, kekuatan jenis lain akan siap untuk digunakan…

Berusahalah untuk bersama dengan Allah sehingga kalian akan menjadi orang-orang yang menang. Berusahalah setahap demi setahap untuk menarik dirimu dari tangan Setan dan sifat-sifat buruknya. Berusahalah untuk mengurangi segala jenis alat yang merupakan penemuan Setan dan bala tentaranya, karena segala sesuatu yang bekerja dengan listrik akan berhenti, dan kekuatan jenis baru akan mulai bekerja…

Sekarang, untuk beberapa bulan saja, seluruh bangsa akan menanggung beban yang sangat berat… Ketika hal itu berakhir, akan timbul suatu babak baru bagi dunia. Pada saat itu listrik tidak diperlukan lagi, mobil, kapal, mesin-mesin pabrik,… semuanya tidak perlu. Cahaya kalian, Nur-ul-Iman, cahaya dari Iman kalian, akan mengelilingimu. Tubuh kalian akan bercahaya, bahkan dalam gelap pun kalian dapat berjalan…

Oleh sebab itu Saya bergembira dan bersyukur kepada Allah swt, bahwa kita telah sampai di malam ini, dan kita memohon dengan rendah hati agar nama kita ditulis bersama Imam Mahdi. Kita tidak senang dengan situasi yang berlangsung di dunia, baik Timur maupun Barat, karena seluruh sistem, semua sistem kehidupan di bumi sekarang ini bertentangan dengan Hukum Tuhan.

Kita bergembira dan cukup bangga bahwa Allah membuat kita senang bersama-Nya, bersama para Awliya-Nya, bersama Sahibu-Zaman Sayyidina Mahdi as, dan tidak mengejar kehidupan setani yang kotor… Kehidupan setani adalah yang paling kotor. Menyingkirlah dari situ. Jika tidak, kalian akan tenggelam dalam air yang kotor, kalian akan tenggelam dalam situasi yang buruk, dan kalian tidak dapat menyelamatkan diri. Mintalah kepada-Nya agar dibersihkan dan berusahalah untuk tampil bersih, sehingga kalian akan menjadi bersih.

Wa min Allah at taufiq

posted by Mevlana as Sufi at 11:20 PM 0 comments

Insomnia
Maulana Syaikh Nazhim al-Haqqani
dalam Natural Medicine

Jangan tidur dalam kurun waktu Ashar sampai Maghrib. Jangan minum teh atau kopi setelah matahari tenggelam. Setelah Maghrib, pergilah tidur segera setelah anda merasa ngantuk. Hormati kantuk anda, jangan melawannya. Setelah 40 hari melakukan kebiasaan ini, insya Allah masalah tidur anda akan terpecahkan.

Wa min Allah at Taufiq
posted by Mevlana as Sufi at 11:20 PM 0 comments

Beban Mursyid
Mawlana Syaikh Nazim Adil al Haqqani
Senin, 24 Maret 2003,


Saya mempunyai suatu beban berat di pundak saya, bisa berasal dari kesehatan fisik saya atau spiritualitas saya, itulah yang terjadi sekarang di bumi; kehidupan yang kita jalani sekarang bukanlah kebiasaan sehari-hari. Mungkin ini adalah periode terberat bagi ummat manusia.

A’uudzu bi-llahi minasy-syaythaanir rajiim, Bismillaahi-r-Rahmaani-r-Rahiim. Allah mengirim syari’ah, aturan surgawi, tetapi orang sekarang tidak mempedulikan aturan surgawi. Mereka yang menyangkal nya akan menjadi orang-orang kafir, tak ada iman dalam dada mereka.

al-Quran yang suci menyebutkan segala kejadian yang telah menimpa ummat-ummat terdahulu. Saya telah selesai, Alhamdulillah, Khatm, dan dimulai dari Surat al-Baqarah—di awal Quran—dan Saya sampai pada ayat-ayat suci mengenai kejadian yang menimpa Bani Israil. Mereka hidup bersama Sayyidina Musa as dan Allah memanggil beliau ke Bukit Sinai untuk memberinya Taurat, jadi beliau meninggalkan mereka. Dan mereka membuat sebuah sapi emas dan menyembahnya. Kemudian, ketika Sayyidina Musa as kembali, mereka sangat menyesal dan memohon ampun kepada Allah atas apa yang telah mereka perbuat. Kemudian Allah memerintahkan mereka—kepada Sayyidina Musa as dan saudaranya Nabi Harun as, berfirman,

’Aku tidak akan menerima taubat mereka, penyesalan mereka, sampai mereka mati. Jika mereka tidak mati, Aku tidak akan menerimanya. Mereka harus membayar dosa besar ini. Mereka harus membunuh diri mereka sendiri, baru kemudian Aku mengampuni mereka dan memberi mereka Surga. Jika tidak, Aku tidak akan menerima taubat mereka.
70,000 orang yang menyembah sapi emas itu tewas. Kemudian Allah menerima taubat mereka—memberi mereka ampunan-Nya dan kemudian memberkati mereka, jiwa mereka.

Dewasa ini orang-orang tidak menyembah sapi, mereka menyembah Setan. Setiap bangsa memiliki Setannya sendiri: Turki, Arab punya begitu banyak, Rusia, Jerman punya satu, Prancis punya satu, Cina--di mana-mana, sekarang setiap bangsa mempunyai Setan, mereka mengikutinya dan tidak menghormati Allah. Oleh karena itu hukuman bagi kekufuran, menyangkal Allah dan menolak aturan surgawi-Nya, adalah dengan jalan dibunuh. Oleh karena itu sekarang muncul perang yang besar ini, yang tidak pernah terjadi sebelumnya dan setelah perang ini, karena teknologi telah mencapai batas akhirnya, tak ada peningkatan lagi. Apa yang mereka gunakan sekarang adalah titik akhir teknologi, dan ummat manusia sanggup melakukan hal ini, dan mereka berhasil.

Mereka mempersiapkan dirinya, menggunakan teknologi hanya untuk membunuh manusia, atas perintah Setan. Sekarang akan menjadi perang terakhir yang telah disebutkan dalam kitab suci, dalam kitab suci kita, Merhamet Kubra, pembantaian terbesar bagi ummat manusia, dan di kitab suci yang lain, disebut Armageddon, perang terakhir. Seluruh dunia akan dibersihkan dari Setan, dan kerajaan setan akan dihancurkan. Ketika sudah hancur, kerajaan surgawi—akan menguasai dunia. Kerajaan surgawi akan didirikan setelah perang ini, kerajaan setan akan berakhir dan kerajaan Ilahi akan dibangun, didirikan oleh Imam Mahdi as.

Setalah Imam Mahdi as, muncul Antikristus (Dajjal) yang mengumpulkan orang-orang yang belum masuk Islam dan agar tetap kukuh tidak beriman. Mereka akan mengikuti Antikristus, karena dia berkata kepada mereka, ‘Aku adalah Tuhanmu, datanglah kepadaku.’ Sekarang orang-orang turun ke jalan. Orang-orang seperti itu mungkin lebih dari ribuan kali akan mencapai Antikristus, dan dia akan pergi dari Timur ke Barat ke seluruh dunia, sampai Allah mengirim Sayyidina Isa as untuk turun—bahwa beliaulah Kristus sesungguhnya—beliau datang dan membunuhnya dan seluruh pengikutnya juga ikut terbunuh.

Selama 40 tahun di bumi hanya ada orang-orang yang beriman, orang-orang yang jujur, yang tidak mengejar dunia mereka, tidak mengikuti ajaran setan, mereka akan selalu bersama Allah siang dan malam, dan malam mereka akan lebih cerah dengan dzikir mereka—bagi mereka yang terpenting adalah beribadah. 40 tahun! Ketika periode ini berakhir, akan muncul kekufuran di mana-mana, dan orang-orang kafir akan bermunculan dan tahun demi tahun akan berjalan seperti itu. Kemudian Nabi ‘Isa as akan pergi ke Madinah al-Munawwara, ke makam Rasulullah saw. Di belakang makam tersebut terdapat makam Abu Bakara ra dan di belakannya lagi untuk Sayyidina ‘Umar ra. Makam keempat masih kosong. Itu adalah untuk Yesus Kristus. Beliau akan bersama mereka, beliau datang dan memberi shalawat dan salam kepada Rasulullah saw dan kemudian menyerahkan jiwanya yang suci kepada Allah, dan orang-orang beriman menguburkan beliau di makam keempat.

Kemudian akan datang hembusan angin dari Surga. Siapa yang sekarat pada saat itu, mudah sekali bagi mereka; mereka mengalami kematian yang sangat nikmat, yang belum pernah dirasakan orang sebelumnya. Angin itu datang dan siapa yang menghirupnya akan jatuh. Dan semua orang yang beriman akan jatuh, dan meninggal, kemudian malaikat datang untuk mengambil tubuh mereka dan menguburkannya. Hanya orang-orang kafir yang tersisa di bumi; kemudian pada hari-hari terakhir terjadi gempa bumi dan Qiyamat akan datang kepada mereka. Inilah keterangan yang telah diberikan oleh Rasulullah saw kepada kita.

Oleh sebab itu, sekarang kita melihat bagaimana kita sampai ke titik itu. Hanya orang-orang yang beriman yang akan dilindungi, orang-orang kafir akan disingkirkan. Oleh sebab itu hukuman bagi yang kufur adalah kematian, dan jutaan atau milyaran orang akan mati. Tetapi ketika mereka tewas, jiwa mereka bersih. Mereka tidak seperti Bani Israil—Allah mengampuni mereka dan menempatkan mereka di surga. Orang-orang itu sekarang, jutaan orang akan mati, tetapi kematian itu akan membersihkan mereka. Jangan khawatir. Ketika Allah menuntut balas dari mereka karena mereka telah bersalah, mereka akan dianugerahkan nafas terakhir untuk mengucapkan, ‘Allah’, baru kemudian mereka meninggal.

Ini adalah kabar gembira yang disampaikan oleh Grandsyaikh kepada saya dan Saya bergembira, karena begitu banyak orang yang menyesal. Setiap orang lahir untuk mati, tak ada orang yang lahir untuk tinggal di sini. Ada malaikat yang berkata, ‘Kalian akan dilahirkan untuk kematian, dan kalian membangun untuk menghancurkan.’ Setiap gedung harus dihancurkan, setiap makhluk hidup harus mati. Tua atau muda—semuanya akan disingkirkan. Tetapi pada saat ini, adalah pembalasan surgawi. Ketika Allah menuntut Pembalasan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya, Dia tidak akan memberi hukuman lain setelah kematian. Oleh sebab itu banyak orang yang akan tewas karena dosa-dosa mereka, karena mereka menyembah setan dan melupakan Tuhan mereka, tetapi di saat akhir, sebelum peluru itu sampai padanya, seorang malaikat berkata kepadanya, ‘Ucapkanlah, “Allah,” ucapkanlah, “La ilaha ill-Allah!” dan kemudian orang itu jatuh dan meninggal, selesai. Ya Allah, ahdina, taubat, ya Rabbi, taubat, ya Rabbi, taubat, Astaghfirullah.

Tentara Iraq, Amerika dan Inggris tidak masalah, ketika mereka meninggal, jiwa mereka akan bersatu. Begitu banyak tempat suci di Iraq. Mereka dilindungi oleh para malaikat, Jinn, dan Asyabu Nauba, orang-orang suci. Jika mereka tidak mengizinkan Amerika untuk masuk, walaupun dengan kekuatan seratus kali lebih kuat dari pasukan Amerika (yang sekarang), mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Tetapi mereka mengizinkannya sehingga Amerika bisa masuk.

posted by Mevlana as Sufi at 11:20 PM 0 comments

Murid Naqshbandiyya
Maulana Syaikh Hisyam Kabbani
London, 18 Ramadhan 1422


Cerita berikut ini sering diulang oleh Grandsyaikh dan Maulana Syaikh Nazhim , dan Saya juga telah menceritakannya berulang kali. Cerita ini harus bisa merasuk ke dalam hati. Hanya jika kalian mendengarkan dan menyimpannya baik-baik di dalam hati, baru bisa berhasil. Jika tidak, kalian tidak akan berhasil.

Seseorang datang kepada Grandsyaikh dan berkata, “Wahai Syaikhku, aku ingin meminta thariqat Naqsybandi darimu.” Orang itu datang kepada Syaikh dengan membawa belati yang besar dan sebilah pedang. Dia berasal dari Daghestan dan kalian tahu bahwa orang-orang Daghestan berkumis tebal dan mengarah ke atas… mereka adalah para pegulat, seperti beberapa saudara kita di sini. Orang itu datang dengan seluruh egonya, meminta Syaikh agar menerimanya sebagai pengikut thariqat Naqsybandi.

Pada awalnya Grandsyaikh berkata, ”Aku tidak akan memberimu thariqat!” Orang itu kaget, ”Apa! Aku mempunyai pedang dan beberapa belati, dan aku bisa memukul siapa saja! Aku ingin thariqat! Jika engkau tidak memberinya, Aku akan memukulmu!” Walau begitu orang itu mempunyai niat yang baik. Grandsyaikh melihatnya, dan dengan segera Rasulullah  berkata kepadanya bahwa orang ini mempunyai niat yang baik. Perintah pun datang, walaupun dia seorang pegulat dan membawa belati, dia harus diajari untuk menjadi pengikut thariqat Naqsybandi. Grandsyaikh berkata, “Aku tidak bisa memberimu thariqat kecuali engkau mau mendengar perintahku. Namun demikian, sebelum Aku memberimu perintah, Aku akan mengutusmu ke kota.”

Grandsyaikh menyuruh orang itu pergi ke pasar di tengah kota untuk mencari orang yang membawa usus biri-biri di punggungnya, “Pergilah di belakangnya lalu tepuk lehernya dengan tanganmu. Perhatikan apa yang dia katakan lalu laporkan kepadaku.” Si pegulat tadi—karena dia seorang pegulat—sangat bergembira mendengar perintah itu. Jika ini ajaran Naqsybandi, Alhamdulillah, baiklah Syaikhku ini memang pekerjaanku—memukuli orang! Dengan senang hati Aku akan pergi dan menamparnya, bukan cuma sekali tetapi ratusan kali.” “Tidak!” sahut Grandsyaikh, “Sekali saja!”

Pegulat itu pergi ke kota mencari orang yang dimaksud. Setelah ditemukan, dia berjalan di belakangnya, mengangkat tangannya dan menepuk lehernya dengan sekuat tenaga. Orang itu menengok kepadanya dengan kemarahan di matanya—tetapi dia tidak berkata apa-apa, kemudian dia melanjutkan perjalanannya. Si pegulat menjadi marah, sebab dia mengharapkan ada reaksi dari orang itu, sehingga dia dapat menghajarnya lagi dua-tiga atau empat kali atau bahkan meng-KO-nya dengan satu pukulan yang telak. Tetapi sekarang dia harus kembali kepada Syaikh dan melaporkannya. “Wahai Syaikhku, aku melihat hal yang sangat tidak biasa hari ini. Ketika Aku memukulnya, dia tidak bereaksi, tetapi dia melihatku dengan marah, dan Aku menunggu dia untuk menghampiriku sehingga Aku bisa menghajarnya, ternyata dia tidak melakukannya!” Grandsyaikh berkata,”lupakan saja!”

Hari berikutnya, Grandsyaikh berkata kepadanya, “Pergilah engkau ke tempat yang sama. Engkau akan menemukan orang lain, kali ini seorang pedagang lambung biri-biri (jeroan).” Pada saat itu, biasanya para pedagang menggantung semua bagian daging dan menjualnya. “Dengan yang satu ini, engkau boleh menggunakan tenaga yang lebih besar, kalau perlu dengan kekasaran untuk menghajarnya. Lalu perhatikan apa yang dikatakannya, kemudian engkau kembali dan ceritakan apa yang terjadi kepadaku.” ”Baiklah, Syaikh!” orang itu menjawab, “Perintahmu adalah keinginanku! Aku akan memukul siapa saja untukmu! Ini adalah perintah yang sangat mudah.”

Dia pergi ke kota, menemukan orang yang dimaksud, dan dengan segala kekuatannya dia meninju orang itu hingga KO. Ketika orang itu terjatuh, dia berbalik badan dan tersenyum kepada pegulat itu tanpa berkata apa-apa. Lalu dia mengumpulkan barang-barangnya dan pergi. Kali ini si pegulat lebih marah lagi dibandingkan yang pertama. Mengapa orang itu tidak bereaksi sehingga dia bisa mengambil belati dan menghabisinya? Dia kembali kepada Syaikh dan melaporkan apa yang terjadi.

Hari berikutnya, Grandsyaikh berkata, “Aku utus engkau ke sebuah pertanian, di sana engkau akan menemukan orang yang sangat tua sedang membajak ladangnya. Sekarang jangan gunakan tanganmu, sebab dia adalah orang tua. Dia harus mendapatkan yang lebih baik, engkau harus menggunakan tongkat untuk memukulnya!” Sekarang si pegulat mulai berpikir, mengapa Syaikh menyuruhnya memukul anak muda? Bukankah tidak lebih baik jika Aku gunakan tongkat pada mereka, daripada untuk orang tua ini? Tetapi Syaikh lalu beranjak sambil berkata, “Gunakan tongkat dengan seluruh tenagamu sampai tongkat itu patah di punggungnya! Kalau tidak jangan kembali kepadaku.”

Perhatikanlah rahasia thariqat Naqsybandi, ketika Nabi Musa asdatang, beliau berkata,”Al ‘aynu bil ‘ayni was sinnu bis sinn,“ mata untuk mata dan gigi untuk gigi: jika seseorang menghantam kalian, kalian harus menghantam balik. Terlalu banyak keinginan (untuk berkuasa) di sana—karena hal itu memang dibenarkan pada masa itu—kenyataannya sampai sekarang juga masih berlaku. Ketika Nabi ‘Isa datang, beliau berkata, jika seseorang menamparmu di pipi kanan, berikan juga yang kiri. Di sini juga masih terdapat keinginan, sama halnya bila kalian berkata, “Baiklah, pukullah aku di sisi yang ini juga.” Masih ada suatu keinginan dari dirimu. Dalam ajaran Naqsybandi, kalian bahkan tidak diizinkan untuk memiliki keinginan itu.

Sekarang, sesuatu telah merasuk ke dalam hati si pegulat dan mengubah dirinya. Tetapi dia tidak menolak perintah yang diberikan oleh Syaikh. Sekarang jika Syaikh menyuruhmu untuk memukul orang dengan sebuah tongkat, apa yang akan kalian katakan? Kalian akan menolak perintah itu. Seorang murid mengambil tongkat dan pergi, tetapi dia merasa bimbang sekarang. Mengapa dia harus memukul orang tua itu? Namun dia tetap pergi juga ke ladang dan menemukannya, seperti yang dikatakan Syaikh, orang itu sedang membajak ladangnya. Dia berjalan di belakangnya, dan mengingat pesan Syaikh bahwa dia harus mematahkan tongkatnya di punggung orang tua itu. Pada saat itu perasaannya bercampur, sedih dan gembira, lain halnya pada kedua orang sebelumnya, di mana dia benar-benar bisa menikmatinya!

Dia mengambil tongkat dan memukul punggung orang tua itu. Tetapi karena perasaannya galau, dia tidak melakukannya dengan tenaga yang cukup untuk mematahkan tongkat itu. Segera setelah dia memukulnya, petani itu menginjak alat bajaknya, lebih dalam agar bisa bekerja lebih cepat, tanpa melihat ke belakangnya. Si pegulat berpikir, “Aku harus mematahkan tongkat ini.” Dengan segala kekuatannya sekarang dia memukul kembali, namun masih belum bisa mematahkan tongkatnya. Petani itu menekan kembali alat bajaknya dengan penuh tenaga sehigga kerbaunya makin cepat bergerak, demikian cepat sampai petani itu jatuh berlutut. Tetapi si pegulat harus mematahkan tongkatnya, sekarang dia mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi dan dengan seluruh tenaga yang dimiliki, dia ayunkan tongkat itu ke atas punggung petani hingga tongkatnya patah.

Orang tua yang malang itu terjerembab ke tanah, tetapi dengan segera dia bangkit dan mendatangi pegulat tadi dengan merangkak. Tanpa sepatah kata pun, dia meraih tangan si pegulat dan berucap, Berikanlah tanganmu, biarkan aku menciumnya. Karena dosa-dosaku Syaikh mengutusmu kepadaku untuk memperbaiki aku. Aku tahu kalau aku melakukan kesalahan. Engkau adalah alat untuk mengoreksi kesalahanku.” Orang tua ini berkata demikian meskipun dia membutuhkan koreksi sebab dia telah menjadi orang yang “terkoreksi”, dia adalah seorang murid thariqat Naqsybandi, yang berarti dia telah mencapai derajat yang tinggi. Dia melanjutkan, “Aku menyebabkan tanganmu merasa sakit karena harus memukulku dengan keras. Maafkanlah aku, janganlah engkau menentangku di Hari Pembalasan nanti, dalam kehadiran Allah , Rasulullah dan Syaikhku! Aku merasa malu terhadap Syaikhku, yang mengirimkanmu kepadaku untuk mengoreksiku. Maafkanlah aku karena menyakiti tanganmu.” Dia bahkan tidak menyinggung-nyinggung soal punggungnya.

Bagaikan tersiram air dingin, pegulat itu meleleh. Dia kembali kepada Grandsyaikh dengan perasaan sangat malu. Di sana, Grandsyaikh menyuruhnya duduk dan menerangkan semuanya. “Wahai anakku, orang pertama yang engkau temui adalah orang pada tingkat pertama, seorang pemula yang belum memasuki thariqat Naqsybandi. Ketika engkau menepuknya, dia hanya melihatmu, tetapi dia melihat dengan kemarahan. Hal itu berarti dia tahu ini berasal dariku, bahwa aku mengutusmu untuk mengoreksinya, tetapi dia tetap memiliki rasa marah dalam hatinya, sehingga engkau bisa melihat pada raut mukanya. Orang kedua berada di tingkat kedua, musta’idd, “siap” untuk masuk dan menjalani thariqat Naqsybandi. Ketika kalian memukulnya, dia menoleh padamu, tetapi dia tertawa, ini menunjukkan adanya suatu keinginan, seolah-olah dia berkata, “Wahai Syaikhku, Aku tahu ini berasal darimu dan Aku tertawa. Engkau mengujiku, dan Aku akan bertahan.” Oleh sebab itu di sana masih terdapat suatu keinginan.

Perhatikan hal-hal kecil yang diperhatikan oleh Syaikh. Maulana mengatakan sesuatu, lalu orang-orang menentang, berkeberatan, atau menolaknya. Jika kalian menolak, mengapa kalian mengikuti Maulana? Kalian mengikutinya untuk belajar. Oleh sebab itu, belajarlah sebanyak-banyaknya. Jika kalian tidak menolak, jangan melawan, jangan berkeberatan, apapun yang ingin dilakukan Maulana kepadamu, apakah boots, atau sepatu atau tanpa sepatu. Jangan bertanya mengapa… terima saja. Apa yang akan terjadi? Apakah kalian menginginkan cinta Maulana atau cinta orang-orang? Apakah kalian menginginkan gelar dari Allah dan dari Surga, gelar dari Syaikh atau kalian ingin mendapat gelar dari orang-orang yang akan memanggilmu Syaikh?

Orang ketiga yang harus dipukul oleh si pegulat, ketika dia terjatuh dan tongkatnya patah di punggungnya, menoleh ke belakang dan mencium tangan penyerangnya. Dia berkata kepadanya, “Maafkan aku karena menyebabkan tanganmu terluka karena dosa-dosaku, jika aku bukan pendosa, Syaikhku tidak akan mengirimkan engkau kepadaku untuk mengoreksiku.” Orang itu tidak mempunyai dosa, dia termasuk pengikut thariqat Naqsybandi dan telah berusia 80 tahun. Tetapi dia masih menganggap dirinya pendosa dan menerima anggapan bahwa dirinya seperti itu. Dia tidak ingin memberitahu egonya bahwa dia adalah sesuatu. Kalian harus selalu menempatkan egomu serendah-rendahnya dan katakan kepada egomu, “Meskipun kalian adalah Wali terbesar, kalian tetap bukan apa-apa.” Sebagaimana yang dikatakan oleh Maulana Syaikh Nazhim, “Saya selalu berusaha untuk berkata kepada ego bahwa Saya adalah debu—tidak eksis.” Kalian tidak bisa memberikan sesuatu kepada egomu untuk dibanggakan. Kalau tidak, dia akan membunuhmu, padahal kalianlah yang harus membunuhnya.

Orang tua itu berkata, ”Maafkan aku karena menyakiti tanganmu. Di Hari Pembalasan jangan datang kepada Allah dan meminta pembalasan terhadapku. Oleh sebab itu, biarlah kucium tanganmu.“ Sangat penting bagi seseorang yang tidak bersalah, menganggap dirinya bersalah. Ini adalah pengorbanan terbesar. Ketika Sayyidina Abu Yazid Tayfur al-Bistami pergi dengan kapal laut pada saat badai, kapten kapal berpikir bahwa kapalnya akan terbalik, sehingga dia berteriak, “Pasti ada seorang pendosa di antara kita! Kita harus melemparkan orang itu ke laut agar menjadi tenang.” Sayyidina Abu Yazid mengamati mereka dan berkata, “Mereka ini adalah sekumpulan orang-orang bodoh, mereka akan melemparkan seseorang yang tidak bersalah ke laut.” Beliau mengorbankan dirinya dan berkata, “Akulah si pendosa.” Lalu mereka melemparkan dirinya ke laut, dan laut pun menjadi tenang.

Menganggap dirimu seorang pendosa meskipun sebenarnya bukan adalah pengorbanan terbesar. Grandsyaikh melanjutkan, “Orang yang berumur 80 tahun itu adalah murid thariqat Naqsybandi, sebab dia melihat segala sesuatu yang datang berasal dari Syaikh, bukan dari si-X, Y, atau Z.” Maulana Syaikh Nazhim membawa kita ke sini (Masjid Pekham di London) setiap tahun untuk menguji kita, sebab ini adalah tempat untuk percobaan. Di sini terdapat berbagai macam kesulitan. Seperti halnya naik haji, setiap orang bertengkar dengan yang lain, sebab terlalu banyak orang dan terlalu banyak urusan. Kalian harus belajar bersabar.

posted by Mevlana as Sufi at 11:20 PM 0 comments

Aroma Naqsybandiyya
Aroma Naqsybandiyya
Maulana Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani
Mercy Oceans Secrets of the Heart
London, 17 Maret 1992 (14 Ramadhan 1412)


Dalam setiap ceramah atau asosiasi, kita menempatkan diri kita di bawah ayat “Ati’ullaha wa ati’ur rasula wa ulil amri minkum” (An-Nisa’ 59). “Kalian harus mematuhi Allah, kalian harus patuh kepada Rasulullah saw, dan kalian harus mematuhi para pemimpin kalian.” Allah juga berfirman dalam al-Qur’an bahwa “Siapa pun yang mematuhi Rasulullah saw seolah-olah dia mematuhi Allah.” (An-Nisa’ 80), “Man yuti’ir rasula faqad ata’allah.”

Siapa pun yang mematuhi guru yang menunjukkan kita jalan Rasulullah saw dan menerangkan kepada kita bagaimana cara mendekati Rasulullah saw, berarti mengikuti ajaran Rasulullah saw. Oleh sebab itu kita memerlukan bimbingan yang menunjukkan kita jalan terbaik untuk melakukannya. Ada banyak jalan. Rasulullah saw bersabda, “At-thuruq ilallah ‘azza wa jalla ‘alaa ‘adad anfasil khla’iq,” “jalan menuju Allah sebanyak jumlah nafas manusia (tak hingga).”

Kalian bisa mendatangi Tuhanmu dengan berjuta-juta cara. Ada jalan yang pintas, ada pula jalan yang panjang. Setiap orang pergi menurut cara yang telah disimpan oleh Allah ke dalam hatinya. Setiap orang mempunyai cara yang berbeda-beda. Kalian semua tidak mempunyai jalan yang sama, karena kalian bukan orang yang sama. Setiap orang mempunayi cahaya dan rahasia di dalam hatinya yang telah dianugerahkan oleh Allah secara istimewa kepadanya. Siapa yang dapat membawa rahasia itu keluar? Kalian tidak dapat melakukannya sendiri. Kalian memerlukan seseorang untuk mengeluarkan rahasia dari hati kalian dan menunjukkannya kepada kalian.

Orang yang akan menunjukkan rahasia kepada kalian harus menemani kalian sepanjang hidup. Jika dia tidak menemani kalian sepanjang hidup, bagaimana dia akan mengetahui apa ada di dalam hati kalian untuk mengeluarkannya? Salah seorang guru di masanya, Sayyidina ‘Abdul Qadir Gilani, suatu saat memberi muridnya perintah sebagai berikut, “Sembelihlah seekor ayam di tempat yang tidak diketahui orang dan bawalah ayam itu padaku.” Beberapa orang melaksanakan perintah itu secara harfiah dan berpikir bahwa mereka telah menjaga hal ini sebagai rahasia semata. Yang lain berpikir, seperti sebagian di antara kita, bahwa Syaikh serakah dan ingin menyimpan persediaan ayam. Berpikir seperti itu adalah suatu perilaku buruk…

Setelah beberapa jam, murid-murid itu kembali, masing-masing dengan ayam yang telah disembelih. Ketika maghrib salah seorang di antara mereka masih belum muncul. Syaikh berkata, “di mana si Fulan?” dan tidak ada seorang pun yang dapat memberitahunya. ‘Isya pun datang, lalu hari berikutnya dan tetap masih belum ada orang yang mengetahui di mana murid yang hilang itu. Siang hari pada hari berikutnya murid itu datang dengan seekor ayam di tangannya, tetapi ayam itu belum di sembelihnya. Syaikh berkata kepadanya, “Ke mana saja engkau selama ini? Setiap orang membawa ayam mereka kepadaku dalam keadaan disembelih kecuali engkau. Apa itu?” Dia menjawab, “Wahai Syaikhku, perintahmu kepadaku adalah menyembelih ayam ini di tempat yang tidak seorang pun melihatku. Kemarin Aku telah mencobanya siang, malam dan sampai pagi berikutnya, mencoba menemukan tempat yang tidak diketahui oleh Allah, Rasulullah saw dan engkau sendiri, tetapi Aku tidak dapat menemukannya, bagaimana Aku dapat menyembelih ayam ini?” Sayyidina ‘Abdul Qadir Gilani berkata, “Ini adalah penerusku yang akan mengajarkan kalian adab dan memberimu teladan yang baik untuk diikuti, karena dia mengetahui bahwa Aku ada dalam hatinya selama 24 jam, dan tidak pernah meninggalkannya.”

Syaikh tidak seperti orang yang pergi ke mimbar dan memberikan ceramah. Mereka bukanlah Syaikh, melainkan penceramah. Syaikh bukanlah penceramah. Seorang Syaikh adalah untuk tarbiya, pendidikan dan pengajaran. Syaikh menemani seseorang yang merupakan mukmin sejati untuk mempelajari karakter baiknya dan mengikuti jalan hidupnya. Banyak penceramah yang akan mempersiapkan dan menyampaikan ceramah yang sangat baik untukmu, tetapi itu bukan memperaktekkan apa yang mereka khutbahkan. Mereka memberikan kepada kalian, tetapi apa manfaatnya? Di mana kalian mendapat pengetahuan? Buku-buku atau ceramah? Kalian harus menemukan seseorang yang mempraktekkan apa yang dia baca dan dia pelajari. Belajar dengan jalan ego tidak penting dalam Thariqat Naqsybandi. Kalian harus belajar untuk menggunakan jalan hati. Ini adalah hal yang sangat penting dalam ajaran Naqsybandi.

Alhamdulillah, kalian mengikuti seseorang yang di tangannya tersimpan rahasia Thariqat Naqsybandi. Setiap 24 jam, Guru yang kalian ikuti wajib menghilangkan beban kalian dan datang ke hadirat Rasulullah saw dan berkata, “Ya Rasulullah saw, ini adalah para pengikutku, beban mereka ada padaku, Aku siap untuk menanggung beban mereka, dan apa pun perbuatan baik yang telah kulakukan pada hari ini, apa pun ibadah yang telah kulakukan, Aku berikan kepada mereka. Kumohon terimalah mereka.” Oleh sebab itu, jangan menjadi beban yang berat bagi Syaikhmu. Jangan berkata, “Kami melakukan ini atau itu.” Jagalah dirimu agar terkunci di sudutmu mengerjakan apa yang kalian butuhkan untuk dilakukan untuk diri kalian—tidak melihat pada saudara-saudari kalian dan menyebutkan kesalahan mereka di depan orang lain. Lindungi mereka dan Allah akan melindungi kalian. Sembunyikan kesalahan mereka, Allah akan menyembunyikan kesalahan kalian. Sebaliknya jika kalian menunjukkan kesalahan mereka maka Allah pun akan menunjukkan kesalahan kalian.

Dalam suatu pertemuan para Awliya, Sayyidina Abu Yazid al-Bistami berkata, “Jika murid-murid mengetahui bagaimana para Awliya akan mengembalikan siksaan yang dibebankan kepada mereka oleh para pengikutnya, mereka akan menyiksanya lebih banyak lagi.” Para Awliya berada di bawah perintah bahwa siapa pun yang menyiksa dan menyerang mereka, maka mereka harus membalasnya dengan kebaikan. Sebagaimana bagi mereka yang berkata sesuatu yang baik kepada mereka dan menunjukkan mereka perilaku baik, mereka akan menaikkan derajat mereka.

Kita memohon saudara-saudari kita agar bisa menghormati Syaikh dengan sangat hormat. Saya menekankan hal ini karena kita perlu mendengarnya. Adalah mudah untuk membuka hal yang lain, tetapi inilah yang perlu kita ketahui sekarang, disiplin dengan Syaikh kita. Kalian berada di bawah pengawasan yang cermat dari orang banyak, yang melihat bagaimana perilaku para pengikut Syaikh. Jika kalian berperilaku baik, mereka akan mengatakan bahwa Syaikh adalah orang yang sangat baik. Jika kalian berperilaku buruk, maka Syaikh akan mendapat reputasi buruk dan ini tidak bisa diterima oleh semua orang. Tidak seorang pun di antara kalian yang mau mentoleransi terjadinya hal ini karena perilaku buruk kita. Oleh sebab itu perbaikilah perilaku kalian baik di dalam maupun di luar kehadirannya. Di luar itu, sangat sulit untuk memperbaiki perilaku kalian. Jagalah keberadaannya di dalam hatimu selalu, jika kalian menjaga Syaikhmu di dalam hatimu, kalian akan lihat kalau kalian berperilaku baik.

Suatu ketika Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani berkata, “Siapakah orang yang akan diterima di dalam Thariqat Naqsybandi?” Orang-orang di sekitarnya menjawab, “Kita semua adalah Naqsybandi! Dapatkah kami menganggap diri kami sebagai Naqsybandi?” Pada saat itu Grandsyaikh menjawab, untuk menjadi pengikut Naqsybandi dan seorang murid, mata hati harus terbuka. Kalian harus mendengar ucapan para malaikat. Jika kalian pergi ke Ka’abah di Makkah dan memberi salam, kalian harus bisa mendengar balasan salam dari Ka’abah kepadamu. Inilah langkah pertama dalam Thariqat Naqsybandi. Apakah salah seorang di antara kita mempunyai kekuatan ini? Jika di sini ada seseorang yang mempunyai kekuatan seperti itu, biarkan dia angkat tangan, dan Saya akan lihat apakah dia benar atau tidak.” Untuk memasuki Thariqat Naqsybandi berarti mata hati harus terbuka sehingga kalian bisa melihat segalanya. Banyak orang di antara kita yang mengatakan bahwa mereka melihat malaikat, mereka melihat jinn, mereka melihat Maulana menembus dinding, atau mereka melihat Maulana berada di mana-mana. Adalah mudah untuk mengatakan hal itu dengan lidah, tetapi lain soal untuk mengatakannya dengan penuh kebenaran.

Siapakah orang yang mengaku berdiri bahkan pada tingkat pertama dalam Thariqat Naqsybandi? Grandsyaikh berkata, “Mereka semua yang datang kepadaku adalah orang-orang yang mencintaiku, dan Aku mencintai mereka. Aku mencintai mereka semua sebagaimana Aku mencintai anak-anakku, bahkan lebih dari anak-anakku sendiri, karena mereka telah mengorbankan segalanya dan datang kepadaku. Tetapi bukan berarti mereka telah menginjakkan kaki mereka di tingkat pertama dari Thariqat Naqsybandi.” Untuk mencium aroma thariqat ini, kalian harus berada di bawah pengawasan 40 Imam Naqsybandi yang telah sempurna baik dalam hal syari’ah maupun sufisme, yang terus memantau kalian siang dan malam selama 40 hari tanpa sepengetahuan kalian dan mereka akan melihat bahwa kalian tidak menyimpang dari syari’ah dan thariqat. Hal ini adalah untuk menunjukkan bahwa kalian tidak melakukan satu perbuatan dosa dan tidak meninggalan sunnah Rasulullah saw, bahkan yang terkecil sekalipun—banyak sekali sunnah kecil yang dimiliki oleh setiap orang namun kini telah dilupakan. Setelah selama 40 hari pengamatan itu, jika kalian tidak melakukan penyimpangan, pada saat itu kalian akan dapat mencium aroma dari Thariqat Naqsybandi, tetapi kalian masih tetap belum memasukinya.

Situasi kita masih sebagai pecinta (muhibb) dari thariqat, bukan pengikut (murid). Namun demikian tingkat selanjutnya itu telah diperuntukkan bagi kita dengan janji Maulana Syaikh Nazhim dalam pertemuan dengan para Awliya dan dalam kehadiran Rasulullah saw. Para pengikutnya akan mencapai tingkat tersebut, bukan berkat kerja keras mereka, tetapi melalui usaha Maulana. Oleh sebab itu jangan pernah memberi kesempatan bagi ego kalian untuk berpikir bahwa, “Aku telah mengalami kemajuan.” Kalian bukan apa-apa. Satu-satunya orang yang mengalami kemajuan adalah Syaikh kalian. Ketika kalian menganggap dirimu bukan apa-apa, pada saat itu kalian akan menjadi segalanya.

Tanpa janji ini, mustahil bagi seseorang untuk masuk dan mengucapkan, “Aku seorang Naqsybandi.” Kita diizinkan untuk mengatakan bahwa kita adalah Naqsybandi dengan lidah, tetapi cahayanya belum terbuka bagi kalian, walaupun itu diperuntukkan bagi kalian, ya, siapa pun yang berada dalam asosiasi ini adalah seorang Naqsybandi. Tetapi apakah kalian ingin agar cahaya itu dibuka? Jagalah apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulullah saw kepada kalian, dan jagalah jalan yang telah ditunjukkan oleh Syaikh kalian untuk mendekati Rasulullah saw, dan jagalah semua perilaku baik dan benar.

Wa min Allah at-tawfiq bi hurmat al-Fatiha.

posted by Mevlana as Sufi at 11:20 PM 0 comments

Tentang Perdamaian
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim ‘Adil Al-Haqqani
“Mercy Oceans’ Divine Sources”,Medio 1983/4


Pertanyaan: “Kita selalu berdoa untuk perdamaian. Bagaimanakah berbagai orang yang berbeda dapat hidup bersama dalam damai?”

Jawaban dari Maulana Syaikh Nazhim:
Pertanyaanmu adalah suatu pertanyaan yang penting, dan saya berterima kasih padamu karena telah menanyakan hal ini. Kita memiliki suatu perkataan: “Pertanyaan adalah setengah dari pengetahuan.” Menanyakan suatu pertanyaan yang penting seperti itu menandakan adanya kehidupan mental yang aktif dan ketulusan pada diri sang penanya. Tidak semua pertanyaan dapat dikategorikan sebagai “setengah dari pengetahuan”, karena beberapa pertanyaan menunjukkan ketaktulusan dan ketertutupan pikiran: yaitu ketika jawaban yang diharapkan atau pendapat yang diinginkan sudah tercakup dalam pertanyaannya.

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu bukanlah suatu pertanyaan sama sekali, dan yang semacam itu datang kepada kita bagai berat sebuah gunung: pertanyaan-pertanyaan seperti itu hanyalah mempersempit perspektif dari pem bicaraan atau diskusi. Tapi, suatu pertanyaan yang tulus seperti pertanyaan tentang perdamaian ini adalah sesuatu yang kami senang untuk menerimanya dan senang pula untuk menjawabnya.
Kami berdoa demi perdamaian, kalian pun berdoa demi perdamaian dan kaum Kristen pun berdoa untuk perdamaian. Tetapi, yang terjadi adalah perdamaian tak tercapai, baik secara individual maupun secara umum – mengapa? Apa pun yang terjadi di dunia ini memerlukan kondisi dan syarat yang tepat agar bisa muncul dan terjadi.

Perdamaian pun bukanlah pengecualian atas aturan ini. Agar perdamaian dapat terwujud, diperlukan kondisi dan syarat tertentu yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Yang pertama adalah perdamaian batiniah (inner peace), dan kemudian perdamaian di antara dirimu sendiri dengan mereka yang berada di sekitarmu. Tapi, perdamaian akan tetap menjadi suatu sasaran yang tak pernah tercapai selama kondisi-kondisi untuk pencapaiannya ini tak terpenuhi.
Agar suatu perdamaian tercapai di antara manusia, suatu syarat primer dan utama baginya adalah untuk mereka agar melihat satu sama lain dengan sikap dan rasa pemurah serta toleransi.

Lihatlah taman-taman yang indah ini: tanahnya sama dan satu, dan beratus-ratus macam pohon dan tanaman yang berbeda tumbuh di atasnya! Kita tak pernah melihat mereka mengeluh akan posisi tanaman jenis lain yang tumbuh terlalu dekat. Mereka bukanlah fanatik yang bersikeras agar seluruh pohon dalam area tersebut berasal dari satu varietas (jenis) yang satu dan sama. Jika kalian hidup di dekat orang-orang yang berasal dari berbagai latar belakang dan agama yang berbeda, kemudian masing-masing saling menghormati hak-hak yang lainnya, maka kalian pun akan hidup di lingkungan mereka tanpa menjumpai masalah apa pun. Nabi kita Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam, pernah hidup bertetangga dengan seorang Yahudi.

Beliau tak pernah protes dengan berkata, “Bawa orang itu pergi dari lingkunganku dan buat dia untuk tinggal dengan sejenisnya.” Tidak! Teladan dan contoh dari Nabi Suci adalah teladan yang terbaik bagi kita, dan beliau selalu menekankan pentingnya hubungan bertetangga yang baik. Dalam Quran Suci, telah pula disebutkan secara spesifik bahwa para tetangga adalah termasuk di antara yang pertama-tama menerima pertolongan dan sadaqah. Karena itu, Bertetangga ad alah suatu konsep yang penting dalam Islam, dan berdekatannya orang-orang yang berbeda akan menghancurkan fanatisme sempit. Kalian telah diseru dan disuruh untuk menjadi tetangga-tetangga yang baik.
Kalian punya agama kalian, jalan hidup kalian dan ide-ide kalian, dan ia pun memiliki agama, jalan hidup, dan idenya sendiri.

Serahkanlah dia pada Tuhannya dalam urusan-urusan yang kalian berbeda atasnya, tetapi, dengan berbagai cara, tetaplah jaga rasa hormatmu pada tetanggamu dan berikan yang terbaik baginya. Inilah tugas kalian, dan jika kalian melakukan tugas kalian ini, kalian pun bisa berharap bahwa tetangga kalian pun akan menunjukkan hal kebajikan yang serupa bagi diri kalian. Jangan mencari-cari kesalahannya atau menyebabkan kedengkian dan kebencian dengan menyerang kepercayaannya. Biarkanlah Tuhanmu, Sang Hakim dari segala hakim, untuk memutuskan; dan fanatisme-mu pun akan mati.

Saat ini saya duduk bersamamu. Jika saya melihatmu (dan pada semuanya) sebagai ciptaan-ciptaan Tuhan saya, sebagai buah yang unik dan sempurna dari penciptaan yang luhur oleh Tuhan saya, melihat diri kalian seperti seseorang yang tengah melihat pada sekuntum mawar atau suatu pohon yang tengah berbuah, maka saya pun kini tengah duduk di suatu taman surgawi, dan kedamaian batiniah datang dari setiap orang ke dalam kalbu saya. Jika kita dapat melihat satu sama lain dengan adab seperti itu, kita pun tidak hanya akan memperoleh penerimaan dan toleransi, tapi juga keakraban, familiaritas dan penghargaan (apresiasi), dan yang paling utama, cinta dan kedamaian.

Tapi, karena manusia sekarang tidak menghargai satu sama lain sebagai ciptaan-ciptaan Tuhan mereka yang unik dan terkasih, mereka pun tak mampu untuk bersikap toleran satu sama lain, apalagi untuk mampu menghargai mereka atau menjadi lebih akrab dengan mereka. “Dunia ini tak cukup besar untuk menampung kita berdua,“ kata salah seorang kepada yang lainnya, juga satu bangsa atau negara kepada bangsa dan negara lainnya. Setiap orang berteriak lantang akan dirinya masing-masing demikian kerasnya untuk menekan eksistensi yang lain. Dan perilaku semacam ini membuat orang menjadi demikian berat pula, hingga Bumi pun hampir-hampir tak mampu lagi menampung keseluruhan ras manusia, bukan karena jumlah mereka tapi karena sikap dan perilaku mereka.

Kita telah mencegah diri kita sendiri dari sikap menghargai orang lain dan mencari keakraban dengan mereka. Kita melihat mereka tidak sebagai wakil-wakil Tuhan kita yang tercinta di muka bumi ini, tapi sebagai ancaman-ancaman bagi diri kita sendiri. Dan mereka pun, sebagai gantinya, melihat kita sebagai orang-orang yang berbahaya, dan menarik keakraban mereka dari diri kita. Karena itulah, sikap liar dan buas tengah berjangkit dan tumbuh secara cepat pada manusia, dan dari sifat liar inilah muncul kebekuan, kebencian dan kedengkian di antara manusia.

Ego dan nafsu rendah kita telah membangun dinding-dinding di sekeliling kita – dinding dan tembok yang tak dapat ditembus. Hancurkanlah tembok-tembok itu agar kalian mampu menghargai orang lain dan mendekati mereka. Kalian pun kemudian akan menemukan bahwa perasaan-perasaan yang tulus mulai mengalir dari kalbu kalian, dan sebagian besar orang akan mulai menunjukkan sikap yang lebih baik terhadap diri kalian. Tapi, jika kalian suka bertengkar dan terkuasai oleh ego rendah kalian yang buruk dan serakah, tak seorang pun mampu mendekatimu dan kalian pun tak mampu mendekati seorang pun kecuali dengan kekerasan. Ini adalah sesuatu yang bersifat timbal balik. Jadi, hal pertama yang harus diperbaiki adalah dirimu sendiri, untuk mengendalikan ego/nafsu rendahmu, agar diri kalian mampu untuk meberikan keak raban yang tulus pada semua orang.

Salah seorang di antara Wali-wali besar dari Jalan Sufi biasa melakukan perjalanan di gurun dengan menunggangi punggung seekor harimau dan menggunakan seekor ular sebagai sebuah cambuk. Bagaimana mungkin hal yang demikian terjadi? Apakah rahasianya? Allah Ta’ala telah memberikan perasaan, intuisi dan persepsi kepada setiap makhluq-Nya. Jika kalian dapat terbuka dan memberikan keakraban tulus bahkan pada seekor harimau yang besar, ia pun dapat dijinakkan dan kalian dapat menggunakannya sebagai hewan tunggangan. Dan itu hanya seekor hewan liar, maka bagaimana pula dengan Keturunan Adam (‘alaihissalam), yang telah dikaruniai begitu banyak potensi oleh Tuhan mereka hingga Ia memanggil mereka sebagai “Mahkota dari Ciptaan” dan menjadikan mereka sebagai wakil-wakil-Nya di muka Bumi? Kalian pun harus me raih keakraban yang tulus dengan mereka untuk menjinakkan mereka.

Dan di hadapan demikian banyak kejahatan dan kebuasan yang tengah terjadi di dunia ini, kita tak boleh berputus asa dan berkata, Tuhan macam apakah yang telah menciptakan manusia-manusia yang jahat dan bengis yang melukai manusia lainnya dan menyebabkan kekerasan massal dan perang di dunia ini?” Kita mesti menjinakkan keliaran ini dengan Keluhuran dan Kepemurahan Budi. Jangan katakan bahwa tidak ada suatu Hikmah Ilahiah dalam penciptaan harimau dan ular (atau manusia-manusia yang menyerupai hewan-hewan ini dalam tindakan-tindakan mereka)! Katakan bahwa Dia Yang Maha Agung telah menciptakan harimau untuk ditunggangi dan ular untuk digunakan sebagai cambuk tunggangan!
Suatu kala, pernah ada seorang laki-laki yang merasa terganggu oleh kecoak. Kemana pun ia pergi, ia selalu menjumpai hewan kotor menjijikkan ini. Dan tak peduli apa pun yang telah ia lakukan, ia tak mampu menyingkirkan kecoak-kecoak itu dari sekelilingnya.

Ia bahkan telah berpindah rumah beberapa kali dalam kota kampung halamannya sambil berharap bahwa huniannya yang baru tak akan tercemari kecoak, tapi, kenyataannya malah selalu ada kecoak. Akhirnya, setelah kehilangan harapan, ia pun pindah ke negara lain di mana jumlah kecoaknya lebih sedikit. Ia menetap di negara baru tersebut. Pada akhirnya, laki-laki ini menderita suatu penyakit berupa abses (nanah disertai pembengkakan) yang demikian parah di kakinya. Dia pergi ke banyak dokter, tapi semua obat yang mereka resepkan justru membuat penyakit absesnya makin parah, dan membuatnya makin menderita. Ia pun akhirnya menyerah untuk melakukan usaha lebih lanjut untuk mengobatinya.

Suatu hari ia sedang duduk di depan rumahnya dengan kakinya diangkat ke atas, sambil mengeluh dan mengadu kesakitan: “Ah, eeh, oh, ooh!” saat mana datang seorang darwis pengembara. Sang darwis bertanya padanya, “Mengapa kau duduk di situ berkata ‘Ah, eeeh, oh, ooh’?” Ia menjawab, “Aku menderita abses kronis di kakiku dan tak peduli apa pun yang kulakukan, penyakitku ini tak kunjung sembuh; malahan ia bertambah parah setiap kali aku melakukan pengobatan atasnya.”
Sang darwis berkata, “Oh, penyakit ini adalah penyakit termudah di dunia untuk diobati. Pernahkah kau melihat seekor kecoak?” “Kecoak! Kutukan dalam hidupku! Di negara asalku ada begitu banyak kecoak hingga mereka membuatku gila. Karena itulah aku datang untuk hidup di negeri ini, hanya untuk lari dari kecoak.” Sang darwis berkata, “Kau mesti menangkap banyak-banyak kecoak, bunuh mereka, dan bakar mereka, kemudian ambillah abunya dan taburkan ke lukamu; maka, Insya Allah (dengan kehendak Allah), penyakitmu akan sembuh dengan cepat.”

Laki-laki itu mengikuti nasihat sang darwis, memburu kecoak di negeri itu dan menemukan mereka dengan kesulitan dan kepayahan, kemudian kini abses-nya telah sembuh. Setelah kejadian itu, ia tak pernah lagi mengutuk keberadaan kecoak.Dan bagaimana dengan Keturunan-keturunan Adam yang paling dihormati, yang telah Allah jadikan sebagai khalifah-khalifah (wakil-wakil)-Nya di muka Bumi? Jangan benci mereka atas tindakan-tindakan buruk mereka, tapi ingatkan dirimu sendiri bahwa mereka adalah pula ciptaan-ciptaan tercinta Tuhanmu; dan berusahalah untuk menjadi pemurah dan penyantun, sebagaimana Quran Suci telah menyebutkan:

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS Fusshilat, 41: 34-35)

Lihatlah, sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya, Nabi Suci Sall-Allahu ‘alaihi wasallam pernah hidup bersebelahan dengan seorang Yahudi di Madinah. Nabi bersikap toleran atas kehadirannya, sekalipun orang itu biasa membuang sampahnya di depan rumah Nabi setiap hari sebagai suatu tanda penghinaan bagi beliau. Suatu hari Nabi Suci sall-Allahu ‘alaihi wasallam, memperhatikan bahwa tak ada sampah di depan rumahnya. Pada hari berikutnya pun tak seoonggok sampah pun terlihat. Beliau kemudian bertanya tentang keadaan sang tetangga itu dan mendapat kabar bahwa ia ternyata telah jatuh sakit.
Kemudian Nabi Suci berniat mengunjunginya, untuk melakukan ziyarah pada yang sakit. Sang laki-laki Yahudi itu demikian terkejut melihat Nabi di pintu rumahnya, dan bertanya, “Bagaiamana dirimu tahu aku sedang sakit?” Beliau menjawab, “Aku perhatikan bahwa hadiah harianmu tak ada lagi di depan rumahku seperti biasanya, maka aku pun berpikir bahwa sesuatu yang tidak baik mungkin telah terjadi pada dirimu. Karena itulah, aku bertanya dan mendapat kabar bahwa dirimu tengah sakit.”

Tapi, jauh dari sikap menunjukkan kebaikan pada anggota-anggota masyarakat lainnya, orang-orang saat ini tak lagi mampu menghargai, atau pun berbagi keakraban bahkan dengan anggota-anggota keluarga mereka sendiri. Para istri tak dapat menghargai sifat-sifat baik suami mereka, dan sebaliknya pula. Keluarga-keluarga itu mungkin tinggal dalam satu atap, tapi sama sekali tak ada perasaan akan rumah atau keluarga. Orang-orang telah menjadi asing terhadap kerabat-kerabat terdekat mereka, setiap orang telah terbungkus dalam dunia keinginan awa nafsunya, dan tak ada figur seorang pun dalam dunia itu melainkan dirinya sendiri, atau dunia itu adalah untuk ekploitasi egoisnya.

Jika familiaritas atau keakraban tak dapat lagi dijumpai dalam keluarga-keluarga, apatah lagi dalam komunitas yang lebih besar? Tak mungkin! Maka, berbicara tentang perdamaian dunia adalah sesuatu yang lebih sia-sia lagi, karena keakraban, cinta, dan kedamaian mestilah dibangun dalam individu, kemudian dalam keluarga, dan seterusnya, dari unit terkecil ke yang lebih besar, dan bukan kebalikannya.

Kita berdoa untuk suatu dunia yang damai, agar semua api yang tengah terbakar ini dapat dipadamkan, dari Timur ke Barat. Tapi, tembok dan dinding keterasingan telah menjadi demikian menakutkan hingga tak satu bangsa/negara pun mempertimbangkan untuk kedekatan dan kerja sama sejati dengan yang lainnya. Keakraban tengah terpenjara, dan keliaran serta keterasingan tengah menyebar hari demi hari begitu cepatnya hingga, kecuali arus ini dapat dibendung, akan menyapu habis seluruh dunia. Arus kebuasan itu tengah memancar keluar, dan tak satu bendungan pun yang kita bangun mampu menampungnya, karena manusia hanyalah dapat menuai benih yang telah ia tanam.

Manusia menanam benih-benih keliaran dan kebuasan, maka ia pun mesti memanen kebuasan, bukan keakraban dan persahabatan. Arus ini tengah menyapu habis semua level dari hubungan manusiawi; ia telah menyelimuti seluruh Bumi ini. Apa yang akan menjadi hasilnya? Menurut suatu tradisi sunnah, manusia akan memakan dirinya sendiri dalam suatu semburan kekerasan hingga Intervensi Ilahiah membuat api yang tengah berkobar itu padam dan berhenti.

Tanya: “Bagaimanakah dengan orang-orang yang berbaris dan berdemonstrasi untuk perdamaian – membawa spanduk dan bernyanyi – apakah mereka memajukan perdamaian ataukah malah merusaknya?”
Syeikh Nazhim: Jika orang-orang itu berada dalam kedamaian dengan dirinya sendiri, dalam kehidupan batiniah mereka, maka usaha-usaha mereka mungkin akan membawa manfaat. Tapi, jika mereka masih liar dan keras dalam diri mereka, apa yang akan menjadi hasil dari aktivitas mereka itu? Lebih banyak kedengkian, kebencian, dan kebuasan akan muncul, dan hanya itu.

Kini, perdamaian dilukiskan dalam banyak surat kabar sebagai seekor merpati, tetapi ada begitu banyak elang-elang yang tengah menunggu untuk memangsanya. Jika tak ada sarana untuk melindungi merpati itu, perdamaian hanya akan menjadi kata tak bermakna. Saat ini, sekelompok besar wanita tengan berpawai dari Skotlandia menuju London untuk perdamaian, Masya Allah! Begitu banyak ibu dan wanita membawa perdamaian dari Skotlandia! Demonstrasi-demonstrasi semacam itu hanya akan menjadi bahan tertawaan dan hinaan orang-orang, bukan apa-apa lagi; karena masalah ini membutuhkan Dukungan Ilahiah.
Perdamaian haruslah didukung, dan untuk mendukung perdamaian, seseorang membutuhkan kekuatan/kekuasaan: tak ada kekuatan tak ada perdamaian. Dan dukungan terkuat bagi perdamaian adalah kehidupan batiniah yang telah bangkit: keakraban dan familiaritas yang tumbuh dalam hati kita dan menyebarkan cabang-cabangnya ke seluruh dunia.

Tanpa adanya kalbu (jantung atau hati) yang subur dan berbuah seperti itu, apakah arti dari suatu “Pawai Perdamaian”? Itu hanyalah permainan anak-anak, siapa yang akan menganggapnya serius?
"Anda tidak bisa membayangkan penghargaan tertinggi yang diberikan kepada umat manusia. Di hadapan dzat Ilahi nyawa seseorang itu lebih berharga dibanding seluruh isi alam ini. Saya salah satu yang menentang orang-orang yang membawa manusia ke derajat paling rendah, yaitu binatang serta menciptakan dan memanfaatkan senjata nuklir?"

Wa min Allah at taufiq
posted by Mevlana as Sufi at 11:20 PM 0 comments

Samudera Cinta Sejati
Maulana Syaikh Muhammad Nazim 'Adil Al-Haqqani
dalam Mercy Oceans of the Heart


(Maulana Syaikh Nazhim qaddas-Allahu sirrahu mengunjungi sebuah tempat yang diperuntukkan untuk kegiatan spiritual. Di sana terdapat dua kelompok yang aneh, yang satu menganggap yang lain berperilaku tidak baik dan tidak sesuai dengan adab di tempat suci tersebut)

Maulana Syaikh Nazhim qaddas-Allahu sirrahu berkata: Allah - Tuhan kita, Tuhan kalian dan Tuhan mereka - adalah Esa. Dia menciptakan semua makhluk dan menanamkan cinta-Nya sejak awal penciptaan mereka. Kalian harus mengetahui bahwa meskipun cinta itu untuk sementara tertutup, dia tetap ada dan mengalir dalam hati bagaikan air sungai yang mengalir menuju samudera. Sepanjang aliran sungai itu, cinta bisa termanifestasikan sebagai cinta manusia yang sifatnya sementara, atau malah arus cinta itu bisa hilang selamanya, seperti sungai yang mengalir di pegunungan, untuk kemudian kembali muncul di sisi yang lain. Tetapi, tak ada keraguan bahwa Allah telah meletakkan arus cinta ini dalam setiap hati manusia, yang mengalir tak terbendung menuju Samudera Cinta-Nya dalam Hadirat Allah. Jadi jangan membayangkan bahwa hal itu telah terputus dari Cinta Ilahi - dia selalu bersamanya, apakah sekarang terlihat pada dirimu dan mereka, atau tidak.

Karena arus dalam hati kita mengalir melalui samudera itu, perbedaan utama yang mencolok adalah bahwa cinta kita tidak terikat pada kecantikan fisik. Setiap orang mencintai alam, tumbuhan yang hijau, air yang mengalir deras, bentuk yang masih muda, seseorang yang cantik - tetapi bagaimana terhadap yang lain? Allah memberikan cinta-Nya kepada semua orang secara umum, tidak hanya kepada yang muda dan cantik. Dan Yang Telah Menanamkan Cinta-Nya dalam hati kita ini berkata, "Wahai hamba-Ku, sebagaimana Aku telah memberimu Cinta Ilahi-Ku, Aku juga telah memberinya kepada semua makhluk, jadi sebarkanlah cintamu kepada semua orang sehingga engkau bisa sejalan dengan Kehendak-Ku."

Sebenarnya semua yang mengandung Cinta-Nya adalah hijau dan cantik, tetapi untuk bisa merasakan kecantikan tersebut engkau harus bisa melewati bentuk luar dan menembus dunia Hakikat Samudera Spiritual. Pertama, adalah sangat penting untuk bergerak dari bentuk kepada arti, dari bentuk yang singkat kepada Hakikat Spiritual yang abadi, karena bentuk itu terbatas dan membatasi, namun Hakikat Spiritual adalah samudera, suatu samudera tanpa batas kepuasan. Engkau akan dibawa menuju kedamaian hati sesampainya di sana.

Oleh sebab itu, saya berusaha untuk mencintai semua orang. Adalah mudah untuk mengucapkan, "Aku mencintaimu" kepada seseorang - selama orang itu belum atau tidak pernah menyakitimu. Tetapi, menurut Grandsyaikh, itu bukanlah ukuran cinta yang sebenarnya. Beliau biasa mengutip sebuah puisi Sufi dari Daghestani yang terkenal, yang menyatakan, "Aku tidak menerima cinta yang menurutmu sejati, sebelum aku mengujimu. Apakah ujian itu? Jika aku meletakkan engkau di mesin pemotong daging, lalu engkau menjadi potongan-potongan daging di ujung yang lain - tetapi masih tetap hidup - dan jika aku kembalikan engkau ke bentuk asalmu, apakah engkau masih mencintaiku?"

Arti dari puisi ini adalah, jika aku menyebabkan engkau sangat menderita, dan menyakiti engkau seperti yang belum pernah dilakukan orang lain sebelumnya terhadap dirimu, apakah engkau masih mencintaiku setelah semua yang telah kulakukan itu? Inilah cinta yang sejati. Tetapi jika aku telah bersamamu selama 40 tahun, lalu hanya karena satu kata menyakitkan yang aku ucapkan kepadamu karena stress, engkau meninggalkan aku dan menyatakan aku sebagai musuhmu, menyangkal cinta yang telah ada selama 40 tahun tadi dan berkata, "Aku tidak mencintaimu lagi", maka bukan seperti ini cinta yang dimaksud.

Oleh sebab itu, seperti yang telah saya katakan, terdapat berbagai tingkatan cinta sepanjang jalan menuju sasarannya, yaitu Samudera Cinta Ilahi yang Haqiqi. Perbedaan tingkatan itu terletak pada kualitas menurut kedekatan terhadap apa yang menjadi sasarannya. Ketika seseorang telah mencapai sasaran itu, dia mungkin bisa menerima segala macam hal yang menyakitkan dari orang lain, namun tetap mencintainya. Dia mungkin akan berkata, "Aku mencintaimu demi Allah, tidak untuk alasan yang lain. Cinta itu tidak akan berubah atau hilang, karena apa pun yang engkau lakukan Cinta Allah selalu bersamamu. Engkau bisa bertingkah laku seperti binatang buas, engkau bisa melukaiku, tetapi masih saja Cinta Allah bersamamu, jadi aku juga mencintaimu.

Hanya manusia pada level tertinggi dan yang terpilih yang dapat mencapai posisi tersebut dan kita berusaha untuk mencapainya. Tetapi, itu sangatlah sulit. Engkau harus mengetahui bahwa ini adalah ujian bagimu dan merupakan kesempatan untuk meraih peringkat spiritual. Sekarang engkau berada dalam suatu situasi di mana engkau arus bersabar terhadap orang lain yang mungkin tidak mempunyai adat atau kebiasaan yang sama denganmu. Di sini terdapat kesempatan bagimu untuk maju, sebagaimana seorang wali Allah pernah menasihati kita, daripada menghindari orang, yang mempunyai perangai dan pendidikan yang buruk, lebih baik kita bergaul dengan mereka dan menjalin hubungan dengan mereka, mungkin nanti mereka akan memberi keuntungan dan engkau pun bisa menguji dirimu agar engkau juga bisa mendapat keuntungan.

Mereka adalah hamba dari Kehendak Yang Maha Perkasa, dan kita pun adalah hamba-Nya. Tuhan kita adalah Tuhan mereka dan Tuhan mereka adalah Tuhan kita juga. Kita harus bersabar dan kita akan mendapatkan cinta itu, sedikit demi sedikit. Pohon Cherry pada awalnya mempunyai buah yang pahit, tetapi engkau harus bersabar, sedikit demi sedikit pohon itu akan menghasilkan buah yang manis dan enak rasanya.Guru-Guru yang Suci telah berjanji kepada saya bahwa siapa saja yang duduk bersama kita dan mendengarkan dengan hatinya dengan penuh cinta akan sampai pada peringkat yang sama, hatinya akan terbuka kepada Cinta Ilahi. Para Guru tersebut tidak akan meninggalkan kita, dan kita pun tidak akan berpaling dari mereka, karena hati kita telah terikat dengan mereka, dengan ikatan yang sangat kuat, ikatan Cinta Ilahi, yang merupakan hubungan cinta paling kuat antara Pencipta dengan makhluk-Nya. Hubungan itu adalah tujuan utama bagi seluruh kehidupan, dan kita berdoa semoga hubungan cinta itu akan terus berkembang.

Mereka yang duduk bersama kita dan memiliki hati yang terbuka terhadap Cinta Ilahi akan mendapatkan cinta itu. Ini adalah janji dari para Guru, dan oleh karenanya pertemuan kita ini menandakan bahwa waktu kalian sudah dekat, waktu yang akan memungkinkan bagi kalian untuk mematahkan ikatan yang membuatmu menjadi budak dari egomu. Segera engkau akan terbebas untuk mendekati sasaran spiritualmu, dan inilah mengapa setiap orang di sini merasa dirinya terpengaruh dan menitikkan air mata.

Jika cinta yang bersama saya merupakan cinta yang fana, tidak kekal, engkau bahkan tidak akan sudi repot-repot duduk bersama saya walaupun hanya sebentar saja. Tetapi cinta yang bersama saya ini adalah asli, permanen, dan bersifat Ilahiah, dan saya telah memanjangkan cahaya dari-Nya kepada hatimu untuk membangkitkan cinta yang abadi dalam dirimu.Anak-anak perempuan dan laki-laki yang hadir di sini belum pernah bertemu dengan saya sebelumnya, tetapi pertemuan pertama ini sudah cukup untuk menumbuhkan cinta yang asli dari hati saya ke dalam hati mereka. Ini merupakan cinta yang tidak akan terlupakan, cinta yang akan bersemi dalam hati mereka.
Saya memohon kepada Allah untuk mengizinkan saya menyebarkan Cinta abadi-Nya kepada hati semua orang - dan waktunya sudah mendekati saat ketika kita mengharapkan izin itu untuk dikabulkan.
Wa min Allah at Taufiq.
posted by Mevlana as Sufi at 11:20 PM 0 comments

Tata Cara Shalat Mawlana Syaikh Nazim
Maulana Syaikh Nazhim al-Haqqani


Berdiri menghadap qiblat, Niat untuk melakukan shalat (misalnya 2 rakaat) Angkat tangan hingga sejajar dengan telinga ,Takbir : Allaahu Akbar, Letakkan tangan kanan di atas tangan kiri dengan erat dan tempatkan di atas pusar (atau di bawahnya, tidak masalah). Pusatkan pandangan ke tempat sujud.

Maulana menekankan pentingnya memusatkan pandangan ke tempat sujud selama kita sedang shalat. Rasulullah bersabda bahwa Allah melihat hamba-hamba-Nya ketika sedang shalat dari posisi sujudnya. Jika orang yang shalat menoleh ke kiri atau ke kanan, Allah berfirman, Hamba-Ku meninggalkan wajah-Ku”, dia berpaling kepada sesuatu yang salah, sehingga tajjali untuknya akan terputus. Allah memberikan kekuatan yang sangat besar bagi kita untuk memerangi ego bila kita terus memusatkan pandangan ke tempat sujud.

Kalian mungkin hanya akan menemukan satu di antara 1000 orang yang dapat memusatkan pandangannya ke tempat sujud, hal itu karena Setan selalu mempermainkan kita, dia membisikkan agar kita melirik ke kiri atau ke kanan, “Lihat di situ ada yang hijau, di sana merah, atau lihat ada sesuatu yang berlari. Lihat ada semut yang datang.” Oleh sebab itu penting sekali agar kita berusaha untuk memusatkan pandangan ke tempat sujud.

Do’a: Subhanaka allaahumma wabi hamdika/wa tabaaraka ismuka wa ta’aalaa jadduka wa jalla tsanaa-uka/wa laa ilaaha ghayruk Al-Faatiha: A’uudzubilaahi minasy syaythaanir rajiim bismilaahir rahmaanir rahiim…aamiin. Ayat atau surat pendek Suratul Ikhlash
Maulana menambahkan bahwa bila kita memulainya dengan basmalah, itu lebih baik, menjadikannya lebih manis, dan lebih nikmat.

Allahu akbar ,ruku’ : Subhana rabbiyal azhiim wa bihamdihii (3 kali)atau Subhana rabbiyal azhiim (3 kali) atau Subhanallah (3 kali)
I’tidal (bangkit dari ruku’):Sami’ allaahu liman hamidah lalu rabbanaa lakal hamdu atau rabbanaa wa lakal hamdu atau rabbanaa wa lakal hamdu wa syukur, Allahu akbar ,Sujud (hidung dan dahi menyentuh lantai):Subhana rabbiyal a’laa wa bihamdihii (3 kali)atau Subhana rabbiyal a’laa (3 kali) atau Subhanallah (3 kali)
Allahu akbar ,Duduk di antara dua sujud:Rabbighfirlii warhamnii (Bila tidak tahu, tidak perlu mengucapkan apa-apa), Allahu akbar sujud kedua:Subhana rabbiyal a’laa wa bihamdihii (3 kali). Allahu akbar Bangkit dari sujud untuk melakukan rakaat kedua Al-Faatiha: A’uudzubilaahi minasy syaythaanir rajiim bismilaahir rahmaanir rahiim…aamiin

Maulana berkata bahwa rakaat kedua dapat dimulai dengan atau tanpa mengucapkan A’uudzubilaahi minasy syaythaanir rajiim, tetapi bagi pemula dan awam lebih baik bila mengucapkannya, karena bacaan itu akan mengusir Iblis dan Setan. Bila dengan satu kali ta’awwudz, Setan sudah pergi meninggalkannya, maka tidak perlu membaca untuk kedua kalinya. Tetapi Setan seringkali kembali sehingga kita sebaiknya mengulangi bacaan ta’awwudz tadi. Ayat atau surat pendekSuratul Ikhlash Allahu akbar ruku’ dan seterusnya hingga selesai sujud yang kedua Allahu akbar

Duduk tahiyyat atau tasyahud:Attahiyyaatul lillaah/wa shalawaatu wath-thayyibaah/ as-salaamu ‘alayka ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuh/as-salaamu ‘alayna wa ‘alaa ‘ibaadil laahis-shaalihiin/asy-hadu al-laa ilaaha illallaah wa asy-hadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh/allaahumma shalli ‘alaa muhammadiw wa ‘alaa aali muhammadiw wa sallim atau allaahumma shalli ‘alaa muhammadiw wa ‘alaa aali muhammad/kamaa shalayta ‘alaa ibraahiim wa ‘alaa aali ibraahiim innaka hamidum majiid/allaahumma baarik ‘alaa muhammad wa ‘alaa aali muhammad/kamaa baarakta ‘alaa ibraahiim wa ‘alaa aali ibraahiim innaka hamidum majiid

Tambahan setelah shalawat:Rabbanaa aatina fid-dunya hasanataw wa fil aakhirati hasanataw, wa qinaa ‘adzaaban naar (2:201)Rabbanaa aatina mil ladunka rahmah wa hayyi’lanaa min amrinaa rasyadaa (18:10)Rabbanaghfir lii wali walidayya wa lil mu’miniina yawma yaquumul hisaab (14:41)Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz-hadaytanaa wa hablanaa mil-ladunka rahmah innaka antal wahhab (3:8)

Salam, ke kanan dan ke kiri:Assalamu’alaykum warahmatullaah
Do’a setelah shalat:Astaghfirullah (3 kali)Allaahumma antas salaam wa minkas salaam wa ilayka ya-‘uudus salaam tabaarakta rabbanaa wa ta’aalayta yaa dzal jalaali wal ikraam, Selesai!

Ini adalah cara yang sederhana untuk melaksanakan shalat 2 rakaat. Kalian dapat mengerjakan shalat Subuh dengan cara seperti ini, tetapi bila kalian ingin melaksanakan shalat Zhuhur, ‘Ashar dan ‘Isya maka pada rakaat kedua kalian hanya membaca:

Attahiyyaatul lillaah/wa shalawaatu wath-thayyibaah/as-salaamu ‘alayka ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuh/as-salaamu ‘alayna wa ‘alaa ‘ibaadil laahis-shaalihiin/asy-hadu al-laa ilaaha illallaah wa asy-hadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh/ allaahumma shalli ‘alaa muhammadiw wa ‘alaa aali muhammadiw wa sallim .

Bangkit untuk melaksanakan rakaat ketiga dan keempat:Al-Faatiha
Lalu ruku’ dan seterusnya. Pada akhir rakaat keempat kita duduk untuk kedua kalinya dan membaca do’a tasyahud yang lengkap: Attahiyyaatul lillaah/wa shalawaatu wath-thayyibaah/ as-salaamu ‘alayka ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuh/as-salaamu ‘alayna wa ‘alaa ‘ibaadil laahis-shaalihiin/asy-hadu al-laa ilaaha illallaah wa asy-hadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh/allaahumma shalli ‘alaa muhammadiw wa ‘alaa aali muhammadiw wa sallim atau allaahumma shalli ‘alaa muhammadiw wa ‘alaa aali muhammad/kamaa shalayta ‘alaa ibraahiim wa ‘alaa aali ibraahiim innaka hamidum majiid/allaahumma baarik ‘alaa muhammad wa ‘alaa aali muhammad/kamaa baarakta ‘alaa ibraahiim wa ‘alaa aali ibraahiim innaka hamidum majiid.

Tambahan setelah shalawat:Rabbanaa aatina fid-dunya hasanataw wa fil aakhirati hasanataw, wa qinaa ‘adzaaban naar (2:201)Rabbanaa aatina mil ladunka rahmah wa hayyi’lanaa min amrinaa rasyadaa (18:10)Rabbanaghfir lii wali walidayya wa lil mu’miniina yawma yaquumul hisaab (14:41)Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz-hadaytanaa wa hablanaa mil-ladunka rahmah innaka antal wahhab (3:8)

Salam, ke kanan dan ke kiri: Assalamu’alaykum warahmatullaah
Do’a setelah shalat:Astaghfirullah (3 kali)Allaahumma antas salaam wa minkas salaam wa ilayka ya-‘uudus salaam tabaarakta rabbanaa wa ta’aalayta yaa dzal jalaali wal ikraam, do’a pribadi, al-Faatiha

Bila kita ingin mengucapkan tasbih setelah shalawat kita dapat melakukannya dengan membaca: (‘alaa rasuulinash shalawaat) allaahumma shalli ‘alaa muhammadiw wa ‘alaa aali muhammadiw wa sallim, subhaanallaah/wal hamdulilaah/ wa laa ilaaha illaallah/wallaahu akbar/wa laa hawla wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil azhiim. A’uudzubilaahi minasy syaythaanir rajiim bismilaahir rahmaanir rahiim, Ayat kursi (2:163) dan (2:255) Subhaanallaah (33 kali) ,alhamdulilaah (33 kali) ,allaahu akbar (33 kali), laa ilaha illaallaah wahdahu laa syariikalah lahul mulku wa lahul hamdu yuhyii wa yumiitu wa huwa ‘alaa kulli syay-in qadiir, subhaana rabbiyil ‘alyyil ‘alal wahhaab/Amin. Doa pribadi,al-Faatiha

posted by Mevlana as Sufi at 11:20 PM 0 comments

Monday, August 16, 2004
Bagaimana menggapai berkah?
Syaikh Nazim al-Qubrusi al Haqqani an Naqshbandi
Dikutip dari buku : Mercy Oceans series “ Defending Truth ”


Ada hamba yang diberkahi dan ada pula yang dikutuk. Diberkahi berarti seseorang diterima di Hadirat-Nya. Dikutuk berarti terlempar kepada Iblis. Terserah anda jalan manakah yang akan dipilih. Jika anda tidak mencoba untuk diberkahi, setan akan menangkapmu dengan cepat untuk berada disisinya dan menerima kutukan yang serupa.

Suatu hal yang tidak penting jadinya untuk mempunyai sebuah gelar, supaya menjadi ini atau itu : kristiani, yahudi, Islami, budhaisme, brahmaisme, confuzisme….anda bisa saja memiliki salah satu gelar tersebut dan tetap tidak diberkahi sebagai seorang hamba. Diberkahi berarti seseorang mempercayai bahwa hal yang terpenting dalam hidup mereka adalah untuk mengabdi kepada Tuhannya. Siapa saja yang mengabdi pada dunia ini, ego mereka, atau setan adalah suatu yang terkutuk. Lakukan ibadah kepada Tuhan sebagai prioritas dalam keseharianmu. Mulailah harimu dengan “ La illaha illa’llah, Muhammadur rasul Allah” dan mintalah kepada Tuhan untuk menolong kamu mengabdi kepada-Nya pada hari itu. Akhiri harimu dengan permintaan untuk diampuni dan diberkahi. Mintalah kepada-Nya untuk menerima ibadahmu yang tidak lengkap dan mintalah pertolongan-Nya agar anda bisa berubah menjadi lebih baik. Jagalah pikiranmu selalu kepada-Nya sepanjang hari.
Jika seseorang meninggal pada malam yang sama. Niat yang dia miliki akan selalu ada hingga saat hari akhir tiba.

posted by Mevlana as Sufi at 10:43 AM 0 comments

Bersyukur
Syaikh Muhammad Nazim al Haqqani dalam
Mercy Oceans Book Two


Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani berkata bahwa di dunia ini terdapat berbagai kemungkinan, mulai dari kebaikan sampai kepada hal2 yang buruk. Jadi seorang yang kaya atau miskin, sehat atau sakit. Jadi seorang yang penegak hukum atau jadi seorang narapidana. Andaikata sesuatu yang tidak kalian sukai terjadi pada diri kalian, kalian seyogyanya berpikir bahwa sesuatu yang lebih buruk bisa saja terjadi. Syaikh Saadi Shirazi menceriterakan bahwa ada seseorang yang mengeluh karena ia tidak mempunyai sepatu, akan tetapi setelah dia melihat seseorang yang tidak memiliki kaki, akhirnya dia melupakan sepatu yang diinginkannya. Hal2 semacam ini menimbulkan perasaan lega dan damai didalam hati kita. Lihatlah kedalam dirimu sendiri, maka akan kalian temukan harta karun, tangan dan jemari. Inilah perilaku yang baik terhadap Tuhanmu.

Begitu banyak orang yang bertanya, mengapa Allah membiarkan ada orang yang lahir tanpa tangan atau mata atau lahir tanpa pikiran yang sehat. Allah menciptakan mereka untuk menunjukkan kepada yang lain. “Wahai manusia, kalian harus bisa melihat pada dirimu sendiri bahwa kalian telah mempunyai segalanya, dengan demikian kalian harus bersyukur.” Siapa pun yang mempunyai cacat dalam tubuhnya, Allah akan memberi ganjaran yang lebih dibandingkan kita. Bagi seorang tuna netra yang sabar, Dia akan memberi mereka 12.000 keindahan Surga. Jika orang-orang melihat Surga tersebut, mungkin mereka semua akan berdo’a agar mereka semua menjadi tuna netra saja.

Seseorang mendatangi Rasulullah , dia bertubuh bungkuk dan bermata juling, dengan tubuk yang meliuk-liuk dan buruk. Dia berkata, “Wahai Rasulullah , Aku tidak akan melakukan shalat lebih dari 5 kali sehari, Aku tidak akan berpuasa selain di bulan Ramadhan.” Saat itu beliau menjadi marah. Lalu Jibril datang dan memberikan pesan bahwa Allah tidak suka keluhan semacam ini. “Tanyakan kepadanya apakah dia akan senang bila di hari Kiamat nanti dia akan mempunyai bentuk tubuh malaikat yang terindah?”, kemudian Beliau menanyakan dan orang itu menjawab, “Sekarang aku puas.”

Grandsyaikh ‘Abdul Khaliq al-Ghujduwani suatu ketika sedang berjalan menuju masjid, tiba-tiba ada seorang yang menumpahkan suatu cairan yang kotor dari atas, membuat pakaian putihnya menjadi kuning. Padahal beliau akan melakukan shalat Jumat. Para murid kemudian bergegas mengejar orang itu untuk meminta pertanggung jawaban, tetapi kemudian beliau mencegahnya. Beliau berkata, “Aku bersyukur. Seharusnya api yang menimpa diriku, tetapi yang datang hanyalah air kotor.” Kemudian beliau mengutus muridnya untuk memimpin shalat Jumat, dan demi menghindari perselisihan dengan istrinya, beliau memilih untuk tidak pulang ke rumah, tetapi pergi ke sungai dan mandi hingga saat matahari terbenam.
Bihurmati habib, fatihah
posted by Mevlana as Sufi at 10:43 AM 0 comments

Abu Bakar , dan Benih Iman yang Tersembunyi
Mawlana Syaikh Nazim Adil al Qubrusi al Haqqani
Mercy Oceans Book Two


Rasulullah bersabda bahwa buku catatan (amal) setiap orang akan ditutup ketika dia sudah meninggal, kecuali untuk 3 golongan. Yang pertama adalah mereka yang mengajak orang lain ke jalan yang benar melalui tulisan atau bukunya. Selama ada yang memperoleh petunjuk lewat tulisannya, dia masih mendapat rahmat Allah. Yang kedua adalah orang yang mengeluarkan sejumlah amal jariyah. Selama orang masih memanfaatkan pemberiannya itu, buku catatannya masih tetap ditulis setiap saat. Yang ketiga adalah orang yang meninggalkan anak yang saleh yang terus mendo’akannya. Selama mereka masih berdo’a, buku catatan orang tuanya tidak tertutup. Allah Maha Mengetahui dan Dia membuat jalan bagi keimanan sesorang, orang tua dan leluhur anda, bahkan pada saat2 terakhir sekalipun. Kita harus bersyukur dengan rahmat Allah tersebut. Jika Allah memberikan izin perantaraan kepada Saya, Saya akan meminta untuk semua leluhur anda.

Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani bercerita tentang Abu Bakar as Siddiq , sahabat Rasulullah yang paling terkenal di antara sahabat lainnya. Rasulullah mengagungkannya dengan mengatakan bahwa jika iman Abu Bakar dibandingkan dengan seluruh ummat manusia, iman yang dimilikinya masih lebih berat. Pada Hari Perjanjian setiap orang akan ditanya oleh Allah, “Apakah Aku Tuhanmu?” kita semua menjawab, “Ya, Engkau adalah Tuhan kami.” Pada hari itu kalau bukan karena jasa Abu Bakar yang mengajarkan semua orang dengan kekuatan spiritualnya, tentu tidak ada seorang pun yang bisa menjawab benar. Grandsyaikh melanjutkan bahwa setiap orang mempunyai satu bagian iman Abu Bakar , termasuk orang yang lemah imannya. Dari bagian itu begitu banyak orang akan masuk surga, tidak peduli orang itu menjalankan shalat atau tidak. Bagian iman itu menjaga setiap orang dari akhir yang buruk dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Kalimat “Laa ilaha ilallah Muhammadur rasulullah” telah terukir dalam hati kita, hanya perlu satu kesempatan untuk menunjukkannya.

Suatu ketika Saya pergi ke Madinah bersama Grandsyaikh, melewati gunung, lembah dan padang pasir yang gundul, tidak satu pun tanaman yang tampak. Ketika kami tiba di Madinah, hujan turun selama 3 hari kemudian berhenti. 2 bulan kemudian kami kembali ke Damaskus, melewati jalan yang sama namun kali ini terlihat berbeda. Seluruh permukaan tanah dipenuhi rumput dan beraneka ragam bunga. Saya berdo’a, “Ya Allah, di mana benih-benih itu bersembunyi?” Allah telah menjaga mereka. Ketika rahmat dan kasih-sayang-Nya turun dalam bentuk hujan, dengan cepat mereka tumbuh. Begitu banyak orang yang mempunyai benih keimanan dalam hatinya. Benih itu terpendam jauh dalam hatinya dan mereka menunggu datangnya hujan rahmat. Rahmat tersebut bisa saja tertunda sampai akhir hayatnya. Ketika seseorang yang terbaring di tempat tidur menjelang ajalnya mulai menangis, maka tangisan itu akan mengundang datangnya rahmat, bahkan walaupun hanya dengan setetes air mata. Allah berfirman, “hamba-Ku menangis,” kemudian benih keimanan mulai terbuka, memenuhi hatinya sehingga hati menjadi hijau dengan cahaya keimanan yang sesungguhnya. Bagaikan gurun pasir yang ditumbuhi rerumputan, kemudian kematian datang kepadanya dan dia mulai menangis. Itulah tandanya bahwa rahmat telah datang kepadanya. Hanya jika nyawa telah sampai ke tenggorokan lalu orang itu bersendawa barulah pintu taubat tertutup. Bisakah kalian menemukan orang yang tidak menangis menjelang kematiannya? Allah tidak pernah meninggalkan hamba-hamba-Nya. Dia mempunyai rahmat yang tidak terhingga dan dalam samudera rahmat-Nya kita semua bukanlah apa-apa.

Setiap saat iman berkembang dan bertambah kuat, begitu juga dengan rahmat Allah. Jika anda melihat orang yang tampaknya kurang mendapat rahmat, ketahuilah bahwa dia juga sebenarnya kurang beriman. Rasulullah telah diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Siapa pun yang ingin menjerumuskan orang lain ke dalam neraka berarti dia tidak bersama Rasulullah . Ketika Nabi Musa marah kepada Korah karena yang bersangkutan dituduh berzina, beliau melakukan shalat 2 rakaat untuk memutuskan hukuman apa yang akan diberikan. Allah berfirman kepadanya, “Lakukan apa yang kamu suka.” Nabi Musa memerintahkan bumi untuk menelannya. Ketika Korah mulai terbenam, dia memohon kepada Nabi Musa untuk memaafkannya, “Wahai Musa, demi hubungan saudara kita, maafkanlah aku.” Korah semakin dalam ditelan bumi. Kemudian dia memohon lagi, sampai 3 kali ketika akhirnya seluruh tubuhnya tenggelam dalam perut bumi. Allah memperingatkan Nabi Musa , “Wahai Musa! Mengapa kamu tidak memaafkan Korah padahal dia sudah meminta maaf berkali-kali? Dengan Kebesaran dan Kemuliaanku, jika dia memanggil Nama-Ku sekali dan memohon, ‘Ya Tuhanku! Ampunilah aku’ Aku akan segera mengampuninya. Wahai Musa! Kamu bukanlah yang menciptakannya, jadi kamu tidak mengetahui apa-apa mengenai kasih-sayang. Akulah Sang Pencipta, dan Aku Maha Mengetahui (mengenai) kasih-sayang kepada ciptaanku.” Allah ingin membawa orang-orang ke dalam Samudera Rahmat-Nya dengan bermacam-macam cara. Kita harus mempunyai harapan untuk memperoleh rahmat-Nya. Ini adalah salah satu atribut Ilahi dan Allah senang melihat hamba-Nya mengenakan atribut-Nya. Seperti sabda Rasulullah , Wahai ummatku, berikanlah rahmat dan kasih-sayang kepada segala sesuatu di Bumi, sehingga Dia yang berada di Surga akan memberi rahmat dan kasih-sayang-Nya kepadamu.”

posted by Mevlana as Sufi at 10:43 AM 0 comments

Langkah2 yang salah, dan yang Benar
Syaikh Nazim al-Qubrusi al Haqqani an Naqshbandi
Dikutip dari buku : Mercy Oceans series “ Defending Truth ”


Kita seharusnya selalu mengarahkan langkah kaki kita ke jalan yang benar. Setan adalah salah satu yang selalu memulai langkah dengan langkah yang salah. Orang yang melakukan kekeliruan dalam melangkah, akhirnya akan terjatuh. Allah Yang Maha Kuasa tidak akan membiarkan seorangpun yang melakukan kesalahan tanpa dikenai hukuman. Keadilan Illahiyah telah mencatat semua itu. Jika terjadi kesalahan dalam mengambil langkah, tentu engkau akan dihukum. Begitu juga apabila engkau berjalan dijalur yang benar, tentu engkaupu akan mendapatkan balasannya. Allah menghendaki agar engkau selalu melangkah pada jalur dan arah yang benar. Dia mengetahui, bahwasanya kita ini adalah hamba yang sangat lemah. Jadi kapan saja engkau merasakan dirimu lemah, segera mintalah pada pertolongan Illahi.

Pada saat Nabi Muhammad saw sedang berada di Hadirat-Nya, beliau memohon kepada Allah, Jangan tinggalkan aku dalam genggaman egoku. Ego itu sangat kuat dan selalu memaksa aku untuk melakukan kesalahan. Aku mohon, berilah aku petunjuk jalan yang benar!”, dan ini pulalah yang harus engkau minta. Jika engkau melakukan hal ini , maka engkau akan mendapatkan apa saja yang engkau minta dari Allah, baik sekarang maupun kelak di hari akhir .

Pada suatu saat Harun Rasyid sedang bersama para pengikut setianya. Dia berkata kepada mereka “Ambillah apa saja yang kamu inginkan dari tempat ini!”. Tempat yang dimaksud adalah sebuah ruangan yang sangat besar dan penuh dengan barang2 berharga. Merekapun berlarian untuk mengambil apa saja yang mereka bisa ambil. Hanya satu orang dari mereka yang berbuat lain, ia memegang Harun Rasyid lalu berkata bahwa dia tidak berminat terhadap sesuatu yang lain kecuali bersama beliau.

Mintalah apa saja yang engkau inginkan dari Allah dan mereka yang berada pada tingkatan yang sudah sempurna, bisa dipastikan hanya akan meminta Dia. Barang siapa yang kehilangan arah dari tujuan utamanya, maka ia akan berada di jalan yang salah. Masyarakat pada abad 20 ini, berada sangat jauh dari tujuan utamanya . Yang mereka inginkan hanya disekitar hidup ini saja. Mereka seperti ketel yang berisi sejumput rumput. Mereka berpikir bahwa diri mereka sudah beradab, tapi sesungguhnya mereka berada pada tingkatan binatang, bukan malaikat. Mereka lebih suka toilet daripada Surga. Lantas kapan mereka akan memulai berpikir tentang Allah Yang Maha Kuasa dengan Keberadaan-Nya? Semoga Allah menganugerahkan kepada kita, untuk meminta sesuatu yang berharga.

posted by Mevlana as Sufi at 10:43 AM 0 comments

Ciri-Ciri Iman yang Sejati
Mawlana Syaikh Nazim Adil al Qubrusi al Haqqani
Mercy Oceans Book Two


Ada dua macam Iman, yaitu Iman yang sejati dan tiruan. Iman yang sejati bisa membawa cahaya ke dalam hati orang yang bersangkutan. Sebelum itu berarti dia hanya meniru Iman. Tanda dari Iman yang sejati ada tiga macam, yaitu:

1.Bisa mendengar tasbih, pujian dan penghormatan yang diberikan oleh seluruh makhluk kepada Tuhannya. Dalam al-Qur’an dijelaskan bahwa tidak satu pun di dunia ini yang tidak bertasbih, bahkan benda-benda yang tidak bergerak pun ikut bertasbih. Suatu ketika Rasulullah mengambil segenggam batu dan mengangkatnya sehingga para sahabat mendengar tasbih dari batu tersebut. Ini adalah suatu keajaiban, bisa memberikan Iman yang sejati kepada mereka.

2.Allah membukakan hatinya kepada sumber hikmah sehingga dia bisa mengetahui segala hikmah yang tersembunyi di balik segala benda di alam ini, selain itu juga mengatahui kegunaan dan posisi masing-masing. Bagaikan sari bunga Mawar yang membentuk tetesan kecil dalam cairan bunga Mawar, dia mempunyai hikmah atau inti dari pengetahuan.

3.Tidak ada sekat atau pemisah antara dirinya dengan alam Barzakh, alam Surga. Dia bisa bertemu siapa saja, roh, para Anbiya atau Awliya dari alam Barzakh tanpa ada halangan.

Sampai ketiga tanda ini muncul, ketahuilah bahwa kalian masih tersekat dan belum terbuka terhadap cahaya keimanan. Allah berfirman, “Wahai orang-orang beriman! Percayalah kepada Allah, Rasul-rasul-Nya, dan Kitab-kitab-Nya (Qs An Nisa’ 136). Ayat tersebut ditujukan kepada orang-orang beriman untuk percaya dan mengisyaratkan agar mereka bisa meningkatkan keimanan mereka sampai mencapai Iman yang sejati dan tidak berhenti pada Iman yang imitasi saja. Thariqat adalah mempersiapkan murid untuk mencapai Iman yang sejati. Murid berarti orang yang bertanya. Apa yang mereka tanyakan?---Mereka menanyakan jalan untuk mencapai Iman yang sejati.

posted by Mevlana as Sufi at 10:43 AM 0 comments

Lebih baik tanpa sepatu
Mawlana Syaikh Nazim Adil al Haqqani
Lebih baik tanpa sepatu,daripada tanpa kaki

Ada sebuah kisah lama, tentang seseorang pria yang selalu mengeluh dan sangat sedih karena dia tidak mempunyai sepatu. Dia selalu berusaha untuk mendapatkan sepatu, tapi tetap saja dia tidak berhasil mendapatkannya. Suatu hari dia bertemu dengan seseorang yang kakinya diamputasi. Akhirnya diapun bersyukur dan bahagia.

posted by Mevlana as Sufi at 10:43 AM 0 comments

Menyerah pada kebenaran
Syaikh Nazim al-Qubrusi al Haqqani an Naqshbandi
Dikutip dari buku : Mercy Oceans series “ Defending Truth ”


Thariqat kita didasarkan kepada asosiasi dengan Syaikh. Ketika engkau bersama Syaikh, datanglah kepadanya, meleburlah bersama realitasnya dan bergabunglah dengan Syaikh dalam satu kesatuan. Melalui penyatuan itu engkau menyatu dengan Rasulullah , yang akan membimbingmu ke dalam Samudera Kesatuan Allah Yang Maha Kuasa. Engkau akan melepaskan kepribadian-mu dan pasrah untuk menjadi tidak ada.

Ini adalah metode sufi sebenarnya. Tetapi di masa kini segalanya telah menjadi salah kaprah. Banyak orang berpikir bahwa jika mereka datang ke thariqat, mereka harus semakin memperlihatkankan siapa sebenarnya jati diri mereka, untuk menjadi besar dan meraih kekuatan yang semakin membesar. Mereka berpikir bahwa mereka harus membuktikan siapa diri mereka. Thariqat Naqshbandi yang mulia, justru menghendaki bahwa semua itu harus tercabut dan membuat engkau menerima bahwa sebenarnya, dirimu adalah tidak ada. Seratus tahun yang lalu, tak ada seorang pun dari padamu yang ada, dan begitu juga dengan seratus tahun ke depan, engkaupun tidak akan ada. Ini bermakna, bahwa kita ini bukan apa-apa. Di antara dua periode ketidak adaan dirimu tersebut, engkau harus menerima pula bahwa engkaupun tetap bukan apa-apa. Terimalah kenyataan ini dan jangan hidup dalam mimpi!

Ego-mu akan berkata, bahwa ia tidak akan mau menyatu dalam Samudera Kesatuan Allah. Satu tetes yang jatuh dari langit akan sulit dicari karena itu merupakan bagian dari samudera. Walaupun itu hilang, tetapi sesungguhnya tetap selalu berada di dalam Samudera Kesatuan Allah. Tantangan terberat buat manusia adalah menerima untuk menjadi tidak ada. Mereka selalu saja memaksa untuk menjadi sesuatu. Ini sebabnya mereka selalu berselisih dan pada akhirnya pun akan habis juga.

Baterai pada tape recorder suatu saat akan habis dan akan dibuang. Engkau juga diberi sebuah baterai untuk tubuh fisik yang membuatmu bisa terlihat dalam bentuk nyata. Siapa saja yang dapat meraih kekuatan Surgawi sebelum meninggal, merekalah orang-orang yang beruntung. Mereka tidak akan menjadi debu di dalam kuburan mereka, seperti para Nabi dan Awliya yang tidak akan pernah menjadi debu. Tubuh mereka tetap sama, persis seperti pada saat mereka hidup bahkan darahnya tetap bersirkulasi.

Inilah sebabnya mengapa Allah selalu mengirim para penghuni Surga kepada manusia. Semua Nabi dan penerusnya telah meraih tingkatan kekuatan surgawi dan menawarkan kepada manusia untuk mendapatkan hubungan itu. Jika seseorang bersedia, dia harus membayarnya dengan segala sesuatu yang dimiliki. Engkau bisa saja berkata “saya akan serahkan semuanya, kecuali jiwa saya!”, tetapi ternyata tidak begitu, engkaupun harus juga menyerahkan jiwamu! Pada saat kekuatan pada jiwa itu telah teratur, barulah ia akan saya berikan kembali kepadamu.

Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad pada usia 7 tahun dan membedahnya. Dia menata segalanya dan setelah itu dia pergi. Ini juga terjadi pada saat Isra mi’raj.
Ini adalah contoh bagi setiap orang yang ingin mencapai kekuatan sebenarnya dari Surga. Mereka harus melakukan operasi pada hati mereka. Bukan seperti yang dilakukan ahli bedah biasa, tapi Ahli bedah Surgawi. Setiap penerus Nabi Muhammad akan membutuhkan operasi semacam itu. Dan ini menjadi sedikit sulit bagi kebanyakan orang pada umumnya. Setiap orang diperkenankan untuk memintanya. Ada seorang wali bernama Haji Bayram Wali, seorang grand Syaikh. Sultan telah menjanjikan kepada beliau bahwa dia tidak akan mengambil seorangpun dari muridnya untuk dijadikan tentara. Oleh karena itu maka semua orang ingin menjadi muridnya. Pada suatu hari Sultan membutuhkan banyak laskar. Tapi setiap orang berkata bahwa mereka itu murid2 Syaikh dan tidak bersedia datang. Lalu Sultan mengirim pesan kepada Syaikh untuk bertanya, apa sebenarnaya maksud dari semua kejadian ini, karena musuh sudah siap untuk menyerang dan dia sudah tidak bisa menyediakan tentara lagi untuk menjaga negara. Tak lama kemudian Syaikh memberitahu kepada Sultan bahwa dia telah menyiapkan satu pasukan yang besar.

Beliau meletakkan dua tenda di atas sebuah bukit dan menyuruh para murid untuk hadir. Ketika semua orang telah datang, Syaikh keluar dari tendanya dan berkata “saya telah diperintahkan untuk mengorbankan murid saya atas nama Allah, barangsiapa yang siap menyerahkan jiwanya, datanglah dan menyerahlah kepadaku!”

Para murid melihat kepada beliau dengan paniknya, berpikir bahwa beliau telah kehilangan akal sehatnya. Mereka tidak percaya kepada apa yang telah mereka dengar. Hanya satu orang yang maju ke depan, tampil dari kerumunan dan berkata “saya bersedia mengorbankan jiwa saya demi Allah! Ambilah, potonglah saya, bakarlah! Jiwaku di tanganmu! Maka datanglah dua orang dengan pedang membawa murid tersebut ke dalam tenda kedua, yang telah disiapkan buat dia, kaki murid tersebut diikat dan tubuhnya diletakan di atas meja.

Orang-orang diluar tenda hanya bisa melihat kaki murid tersebut yang terjulur dari dalam tenda. Kemudian di dalam tenda mereka memotong seekor kambing dan memenggal kepalanya. Darah dialirkan dengan deras keluar dari tenda dan orang-orang ketakutan berpikir itu adalah darah sang murid. Merekapun mulai berlarian ketika Syaikh bertanya, apakah ada lagi yang bersedia untuk dikorbankan. Hanya seorang wanita datang dan memberikan jiwanya kepada beliau, yang lain tidak. Lalu Grand Syaikh menulis surat kepada Sultan bahwa dia hanya mempunyai satu setengah murid, dan Sultan bebas mengambil yang lain untuk menjadi pasukannya. Inilah arti sebenarnya penyerahan kepada seorang Syaikh, kepada Nabi dan Allah. Ketika eksistensi kalian telah tidak ada, Allah akan membungkusmu dengan tubuh sebenarnya, maka eksistensimu akan berubah menjadi untuk selamanya. Haqqani!

Ketika engkau datang ke hadapan seorang Sultan dengan pakaian yang tidak bagus dan Sultan kemudian menawarkan pakaian yang lebih baik kepadamu, akan senangkah engkau? Allah sebenarnya menginginkan agar engkau menyerahkan keberadaan dirimu yang imitasi itu kepadaNya, supaya Ia bisa membungkusnya kemudian dengan pakaian Surgawi. Akan tetapi banyak orang yang menolaknya.

Jika ego tidak pernah menyerah, maka engkau tidak akan mencapai apapun. Banyak orang takut untuk menyerahkan diri, walaupun ini merupakan arti untuk menjadi seorang muslim. Bangsa Eropa sangat takut dengan pemikiran seperti ini. Jika engkau tidak menyerahkannya kepada seorang ahli bedah, apa yang kemudian bisa dilakukan oleh ahli bedah tersebut? Mereka ingin meraih Surga, tapi mereka tidak mau berserah diri. Mereka ingin terbang tanpa menggunakan pesawat dan inilah pemikiran orang-orang Eropa. Mereka tidak pernah mau berserah diri. Serahkanlah dirimu kepada Ahli bedah!
posted by Mevlana as Sufi at 10:43 AM 0 comments

Penyembuhan Spiritual
Syaikh Muhammad Hisham Kabbani
disampaikan dalam seminar SPIRITUALITY AND HEALING IN MEDICINE II
Harvard Medical School 1997


Minat yang diperbaharui dalam metode penyembuhan spiritual hanya akan membantu lebih jauh pengobatan moderen karena kita juga menarik manfaat dari pengalaman dan pengetahuan dari para pendahulu di bidang penyembuhan yang mulia ini. Sayangnya, masalah ini telah terlalu sering diabaikan dan dikesampingkan oleh banyak dokter pada masa kini, sekalipun penyembuhan seperti ini telah berhasil diterapkan selama ribuan tahun.

Sebuah pikiran ilmiah yang tidak dibayangi oleh praduga dapat membedakan validitas dan manfaat suatu pendekatan yang komprehensif terhadap kesehatan yang meliputi penyembuhan spiritual. Profesor John Taylor dari King’s College, London menyatakan, “Sebuah penelitian ilmiah hanya dapat menyelidiki sesuatu yang sifatnya fisik saja. Masalah-masalah yang bersifat non-fisik, kemungkinannya adalah mental, spiritual, ghaib, keabadian, atau yang lainnya sejauh ini tetap tak tersentuh analisis ilmiah.”

“Tentu saja ada jalan untuk mendapatkan pengetahuan tentang pengalaman aspek non-fisik tersebut yang memberikan pandangan berguna dari sifat-sifatnya, namun hasil-hasil yang diperoleh begitu sulitnya untuk diterangkan dan dihubungkan dengan kelompok ilmu pada umumnya. Memang, belakangan ini seorang ilmuwan harus amat berhati-hati untuk menghindari bias, di sisi lain dia menjadi terlalu skeptis. Dia bahkan terang-terangan menolak mempercayai apa yang nampak di hadapannya sebab tak dapat masuk ke dalam pandangan kebendaannya akan dunia…. Ilmu pengetahuan telah demikian berevolusinya sejak seabad silam. Seharusnya ia dapat memberikan jawaban yang memuaskan. Bila tidak, metode ilmiah sungguh akan tersingkirkan dan tak akan pernah bangkit lagi.” (John Taylor, Superminds hal. 55-56)

Ilmu Pengetahuan dan Penyembuhan Spiritual

Para ahli penyembuhan spiritual itu, sebenarnya merupakan ilmuwan sejati dan mereka telah sampai pada kesimpulan bahwa di balik setiap penciptaan—baik itu sebuah atom, sel, atau pun semesta—pastilah ada Sang Maha Pencipta. Karenanya, mereka menyatakan bahwa pasien mereka dapat disembuhkan dengan cara berpaling pada Sang Maha Pencipta itu melalui do’a, dzikir dan mengingat Asma’-Nya.

Banyak ilmuwan modern menyadari bahwa bila suatu ilmu pengetahuan tidak mendidik, menginspirasikan ataupun menuju pada kesimpulan serta kesadaran, bahwa awal dan akhir, luar dan dalam dari keseluruhan, apapun yang berada di antara langit dan bumi berdenyut dengan enerji yang memberi kehidupan dari Sang Maha Pencipta, maka ilmu pengetahuan tersebut tidak dapat dikualifikasikan sebagai sesuatu yang normal.

Dr. Robert G. White, seorang ahli bedah syaraf yang terkemuka, adalah satu dari banyak ilmuwan dan dokter yang melalui penelitiannya sampai pada kesimpulan bahwa manusia bukan saja datang secara bersamaan, namun juga adalah ciptaan Sang Maha Pencipta yang Maha Mengetahui.

Beliau menulis, “Saya yakin bahwasanya otak adalah tempat tersimpannya jiwa manusia, roh… , bagi saya, praktek pengobatan, keimanan dan keagamaan saling terjalin dengan erat. Saya banyak berdo’a, terutama sebelum dan sesudah pembedahan. Saya menyadari bahwa do’a tersebut memuaskan. Saya merasakan adanya sumber kekuatan yang dahsyat di belakang yang mendukung saya, sumber yang saya perlukan dan inginkan…”

“Namun demikian, pendapat yang menyatakan bahwa hidup manusia tak lebih dari sekedar kesempatan dari sekumpulan biologi mulekular kompleks dan aktivitas elektrik, menghantam saya sebagai suatu yang menyimpang dari logika…. saya harus mempercayai bahwa semua ini memiliki awal yang cerdas, bahwa Sesuatu telah membuatnya terjadi. Saya tak dapat menerima pendapat bahwa, pada suatu titik waktu acak tertentu, material-material nyata, seperti kecerdasan, kepribadian, ingatan, dan jasad manusia terpilih secara bersamaan.

“Saya juga menemukan bahwa sesungguhnya tidak beralasan untuk menduga pada kematian otak, material-material yang nyata keberadaannya dan sangat kuat dari kecerdasan, kepribadian, dan ingatan, hilang begitu saja. Yang jauh lebih masuk akal adalah mempercayai bahwa inti dari kita adalah membebaskan diri dari suatu wadah, yaitu otak, yang tak mampu lagi untuk menopang kita dan menemukan topangan lain dalam dimensi yang baru.”

“Karena apa yang menjadi inti dari kita adalah pada kematian otak. Saya tak dapat mengira atau bahkan berspekulasi. Saya hanya dapat berkata bahwa logika tak dapat dipungkiri lagi, menuntun saya pada keimanan-keimanan bahwa keunikan, individualitas dari manusia hidup dalam konsep yang kita sebut dengan roh.” (R.G. White, M.D. Thought of a Brain Surgeon, Readers Digest Oktober, 1978)

Sisi Ilmiah dari Penyembuhan Spiritual

Secara tradisional, aspek ilmiah dari penyembuhan spiritual telah diajarkan dan disampaikan dari satu penyembuh kepada yang lainnya dengan instruksi pribadi secara perorangan. Teknik-teknik ini telah digunakan selama berabad-abad oleh para filsuf yang arif dan para penyembuh dari berbagai penjuru dunia termasuk Jepang, Cina, Afrika Utara, Timur Tengah, Asia Tengah, dan Sub Benua India. Mereka adalah para pelopor dari penyembuhan spiritual yang menemukan dan mempraktekkan teknik-teknik yang tak disadari olah banyak ilmuwan, hingga saat ini. Pada paruh terakhir dari abad ke-20, pengetahuan spiritual ini mulai menyebar dan diajarkan secara bersamaan kepada mereka yang tertarik menggunakan teknik-teknik penyembuhan spiritual untuk mengurangi sakit serta menyembuhkan penyakit.

Proses penyembuhan spiritual meremajakan kembali gaya hidup dari tubuh dan memperkuatnya melalui beberapa titik tertentu di sekujur tubuh. Teknik spiritual tersebut menghasilkan efek neuro-fisiologis yang akan menuju pada sistem syaraf pusat untuk kemudian menghasilkan respon endokrin yang terkomposisi, yang akan mengurangi rasa sakit, menyembuhkan penyakit dari daerah yang terserang, dan lalu memberikan keseimbangan tubuh secara keseluruhan.

Kesehatan Berhubungan dengan Kebugaran Fisik dan Aktivitas.

Tubuh manusia memerlukan makanan dan minuman, namun tak semua dapat dicerna dan mereka tak semuanya menjadi bagian dari tubuh manusia. Zat gizi yang tak tercerna mengendap dan mungkin tinggal sebagai endapan dan karena tubuh tak dapat membuangnya secara alami, seiring dengan waktu, akumulasinya dapat menyebabkan berbagai penyakit. Pada mulanya, akumulasi tersebut mungkin berupa akumulasi yang terlokalisasi sebelum mereka mempengaruhi darah dan diedarkan melalui pembuluh darah ke bagian-bagian tubuh yang dapat dialiri.

Kendati pada mulanya kondisi seseorang mungkin berupa gejala masalah intestinal, seiring dengan waktu, endapan yang tertumpuk lebih banyak menjadi semakin berbahaya dan menjelma menjadi penyakit yang terlokalisasi yang mungkin saja menyebar dalam tubuh pada stadium berikutnya. Oleh karena itu penelitian mengenai patologi penyakit dan sejarah perkembangannya menjadi sangat penting.

Menyadari bahwa penyakit yang menyerang fisik menyebabkan problem intestinal, seseorang mungkin menyesuaikan dirinya dengan pemurnian yang kuat yang mengakibatkan terjadi komplikasi lebih lanjut. Sebenarnya, kebanyakan obat adalah racun dan dapat mempengaruhi dengan jalan menghilangkan bagian yang baik maupun yang rusak. Ketergantungan pada obat-obatan dapat merumitkan lebih parah lagi kondisi seseorang, Karena mereka sebenarnya panas dan bersifat interaktif. Selain itu mereka dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, menurunkan kondisi pasien dan menimbulkan gejala ‘arrythmias’ (penyakit jantung berdebar), mempengaruhi ginjal dan menyebabkan berkembangnya berbagai kegagalan fungsi organ dan defisiensi. Olahraga yang cukup diperlukan untuk menyegarkan organ-organ tubuh, memudahkan aliran makanan dan zat gizi, memperlancar pencernaan, dan mencegah penimbunan-penimbunan senyawa tertentu.

Lebih jauh, pengendalian alamiah yang berdasarkan metode dari pergerakan dan kegiatan otot akan meringankan jiwa, menyegarkan pikiran, meremajakan organ-organ tubuh (rejuvenate), meningkatkan kepribadian, menguatkan otot, mencegah kakunya persendian, menguatkan tendon dan ligamen otot, mengurangi kemungkinan kesalahan fungsi sel-sel tubuh (somatic cell), dan melenyapkan hampir seluruh penyakit. Hal ini juga tergantung pada tingkat latihan fisik, keseimbangannya, kekuatan atau intensitasnya.

Pada umumnya, rutinitas yang ditujukan pada bagian tertentu akan menguatkannya, seperti halnya memfokuskan pikiran seseorang pada suatu subjek, akan menguatkan ingatannya. Oleh karena itu setiap bagian dari tubuh kita membutuhkan rutinitas tertentu. Paru-paru memerlukan latihan membaca dan levelnya dimulai dari membaca dalam hati, lalu meningkat secara perlahan-lahan dalam intensitas dan kekerasannya. Latihan mendengarkan memerlukan perhatian responsif yang teliti dengan merangsang syaraf pendengaran dan telinga, dan hal ini berkembang pada satu takaran, apakah bunyi tersebut meningkat volumenya atau menurun karena jarak atau pun intensitas dari panjang gelombang seseorang. Latihan berbicara meningkatkan kemampuan oral, disamping itu membantu pengenalan dengan pandangan fisik dan mental. Latihan mata mempertajam pandangan seseorang, memperkuat otot-otot okuler dan dalam beberapa kasus dapat memperbaiki rabun jauh dan rabun dekat. Jadi, hiking, berenang, latihan jalan cepat, berkuda, panahan, dan olah raga semacamnya adalah yang yang paling menyehatkan bagi seluruh tubuh. Melaksanakan program olahraga semacam ini bahkan dapat menyembuhkan penyakit-penyakit kronis di antaranya, seperti: anemia, penyakit-penyakit infeksi, peradangan, dan kolik.

Asal Mula dari Penyembuhan Spiritual Islami

Para penyembuh spiritual mewariskan metode yang dipergunakan oleh para utusan Allah, dan dari generasi ke generasi telah mempraktekkan metode ini hingga kini. Dalam tradisi Islam, para penyembuh memberdayakan keduanya baik pemulihan dengan obat maupun jalan spiritual. Teknik-teknik spiritual mengikuti kaidah-kaidah ilmiah yang memberdayakan enerji laten si pasien dan kekuatan yang terkandung dalam dzikir dan do’a serta itikaf-nya para Nabi, Rasul dan Awliya Allah.

Nabi Muhammad pernah menyembuhkan orang-orang melalui metode spiritual ketika beliau ditanya apakah penyembuhan itu bersumber dari obat-obatan. Beliau bersabda, ”Ya, kalian harus mencari penyembuhan dari obat, karena pada setiap penyakit yang Allah ciptakan di muka bumi ini, Dia juga telah menciptakan penyembuhnya. Namun ada satu penyakit yang Dia tidak ciptakan obatnya, yaitu usia lanjut.”

Masing-masing dan setiap ayat Al-Qur’an yang telah diresepkan memiliki daya penyembuhan yang unik yang berbeda dengan ayat-ayat lainnya. Berikut ini adalah beberapa contoh dari ayat-ayat yang digunakan dalam penyembuhan spiritual.

Enam Ayat Penyembuhan: “Ayat As-Syifa”

“Dan (Allah) akan melegakan hati orang-orang yang beriman” (At-Taubah 9: 14)“Hai Manusia, sesunguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” Yunus 10: 57

“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.” (An-Nahl 16: 69). “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” Bani Israil (Al-Israa) 17: 82. “Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan .” Do’a Nabi Ibrahim Asy-Syu’raa’ 26:80. “Dan katakanlah (wahai Muhammad) bahwa (Qur’an) itu adalah petunjuk dan menyembuhkan bagi orang-orang yang beriman.”

Seputar Enerji dan Bagaimana Penyembuhan Spiritual Bekerja

Penyembuhan spiritual bukanlah merupakan proses yang misterius sama sekali, melainkan sangat lugas dan terbuka, walaupun seringkali cukup kompleks. Teknik-teknik penyembuhan spiritual melibatkan medan enerji yang terdapat di sekitar kita masing-masing. Setiap orang memiliki suatu medan enerji atau suatu aura yang mengitari dan menembusi tubuh fisik. Medan ini sangat erat berhubungan dengan kesehatan manusia.

Dalam budaya yang berbeda, enerji dikenal dengan nama yang berbeda-beda. Kata ‘enerji’ mengacu kepada :Ki dalam kebudayaan Jepang. Chi dalam kebudayaan Cina, Prana dalam kebudayaan Hindu, Qudra dalam kebudayaan Arab

Enerji adalah nafas kehidupan yang dipancarkan kepada kita dari Yang Wujud, Yang Maha Perkasa dan Baqa, yang memelihara seluruh manusia beserta seluruh ciptaan-Nya. Enerji yang mengatur pola pikir dan emosi kita adalah sumber dari kekuatan hidup kita dan merupakan faktor yang menggerakkan dalam seluruh mahkluk hidup. Ia berputar melalui tubuh kita dan dapat pula digunakan sebagai kekuatan untuk penyembuhan. Itulah yang merupakan sumber dari seluruh pergerakan di dunia ini. Bila tubuh manusia kehilangan nafas kehidupan ini, maka enerji asal (atau kekuatan hidup) akan meninggalkannya, membiarkan tubuhnya untuk membusuk. Tubuhnya kembali ke asalnya yang bersifat bumi, dan rohnya kembali ke asal dari enerji rohaniah yang bersifat malaikat. Enerji ini tak pernah hilang dan tetap ada, tanpa rahasia dari sifat alamiahnya dimengerti oleh ilmu pengetahuan dan pengobatan moderen.

Enerji rohaniah yang tak diketahui ini berada di belakang kehidupan setiap tetes darah dari mahkluk yang bergerak, pergerakan di balik setiap sel hidup, dan kekuatan penggerak dari gugusan-gugusan bintang dan galaksi-galaksi. Ia membawa kekuatan yang lengkap dan sempurna yang nyata, aktif dan berkesinambungan. Gerakan dari kekuatan ini adalah asli karena tak sesuatupun dapat tumbuh atau hidup di seluruh dunia ini tanpa luput dari pengaruhnya.

Hal ini terutama dapat diterapkan di bumi, di-tempat2 yang tidak ada pepohonan, rumput, vegetasi dan benar-benar tak ada kehidupan yang dapat terwujud tanpa intervensi dari enerji yang tak nampak dan tak diketahui ini. Dengan enerji inilah sebuah tanaman kecil, dapat menyeruak di tengah gurun pasir yang demikian luasnya. Kekuatan hidup rohaniah yang energetik ini memegang organ-organ pembuluh darah, dan seluruh bagian tubuh berada di tempatnya. Bila daya hidup tubuh menghilang, maka hubungan antar organ tubuh menjadi berubah dan terganggu, yang akan mengarah kepada kesakitan, disfungsi organ dan gangguan kesehatan secara menyeluruh.

Kekuatan hidup yang bersifat enerji rohaniah tersebut menciptakan medan enerji di sekitarnya seperti magnet yang di-charger (diberi muatan) dengan kuat atau elektroda. Kekuatan ini merefleksikan enerjinya melalui sekujur tubuh manusia dan menjadi kekuatan penggerak hidup di belakang seluruh aktivitas dan prosesnya. Kekuatan hidup tersebut tidak hanya memberikan enerji kepada tubuh namun juga memberinya identitas. Seperti sebuah atom yang diberi ciri oleh susunan elektron-elektron, proton dan neutronnya—yang sekaligus merupakan komponen enerjinya - demikian pula kekuatan hidup rohaniah memberikan enerji dan identitas pada jasadnya.

Enerji penyembuhan spiritual beranalogi dengan air terjun. Bila sebuah air terjun disalurkan dengan cara yang tepat, maka kekuatannya dapat digunakan untuk menghasilkan enerji dan memberikan penerangan. Demikian pula, bila aliran darah disalurkan dengan tepat melalui sistem yang seimbang maka kekuatan penggerak dari enerji tersebut akan menguatkan enerji dari organ-organ yang lemah.

Dalam organ-organ yang kekuatan hidupnya telah melemah dan berkurang, penyembuhan spiritual akan menambah dan mengaktifkan kekuatan-kekuatan vital ini. Teknik penyembuhan spiritual memungkinkan enerji hidup untuk menyebar dengan cepat untuk mengaktifkan anggota yang sakit dan menyembuhkannya.

Fenomena yang sama juga terlihat dalam reaksi atom, di mana kekuatan yang dahsyat dibebaskan dari enerji internal atom tersebut. Enerji yang dihasilkan secara geometris meningkat, sejalan dengan atom yang diaktivasi dan berenerji menyebarkan enerjinya ke sekitarnya, membangun reaksi berantai dari pembebasan enerji.

Prinsip yang sama dari reaksi atom tersebut digunakan oleh para penyembuh spiritual untuk memusatkan dan mengaktivasi kekuatan hidup yang terdapat dalam diri si pasien. Mirip dengan cara yang digunakan ahli pengobatan kontemporer yang mengarahkan laser untuk menyembuhkan bagian tubuh yang terserang, para penyembuh spiritual mengakses reaksi berantai serupa dari enerji yang terdapat di dalam tubuh, menyalurkannya ke bagian yang terserang untuk menyembuhkan sakit dan penderitaan. Bila satu organ mulai sembuh, yang lainnya mengunakan enerji yang dibebaskan untuk mengaktivasi dan membebaskan enerji dalamnya, yang pada gilirannya akan membangun keseimbangan fisiologis dan bebas dari rasa sakit.

Tiga Fase Penyembuhan Spiritual

Gaya Universal--atau enerji kosmik--meliputi enerji-enerji dari planet-planet, bintang-bintang, serta galaksi-galaksi, dan apapun yang berada di sekitar kita yang membangkitkan medan enerji. Gaya yang menyebar ke seluruh bagian yang sangat luas ini memelihara jiwa kita, roh dan enerji dalam dari masing-masing individu dan dalam setiap makhluk hidup. Melalui proses perenungan dari penyembuhan spiritual, seseorang dapat mengakses enerji penggerak yang terdapat dalam setiap sel di dalam tubuh.

Enerji tersebut disalurkan ke korteks otak, yang merupakan pusat proses dari pikiran kita. Dari sana akan difokuskan dan disalurkan secara intens di dalam inti batang otak, yang diaktivasi dan dirangsang dengan kekuatan hidup yang sudah terfokus . Pada gilirannya, impuls dikirimkan ke sistem syaraf otonom, mengatur fungsi tubuh, memeliharanya dalam keseimbangan, dan bebas dari rasa sakit. Konsentrasi enerji di dalam otak menyusun fase pertama dari penyembuhan spiritual.

Proses ini pada gilirannya nanti akan merangsang syaraf vagus untuk mengirimkan impuls listrik ke sistem konduksi jantung ke simpul sinoatrial, melalui saluran antar simpul, melalui simpul atrioventrikular, menuruni Bundles of His, lalu keluar dari serat Purkinje, lalu ke dalam dinding miokardial untuk memulai sistol. Perpindahan enerji yang mengisi jantung ini adalah fase kedua dari penyembuhan Spiritual. Kondisi-kondisi seperti sakit dada karena kurangnya suplai darah ke jantung, gagal jantung congestive, cardiomiopathy dan tekanan darah tinggi, sebagai tambahan dari banyak penyakit jantung yang berhubungan, disembuhkan dan pasien kemudian dapat sehat kembali dan terbebas dari rasa sakit.

Enerjinya kemudian dipompakan bersamaan dengan darah keluar dari jantung melalui sistem vascular dan dikirimkan ke seluruh tubuh dalam fase ketiga dari penyembuhan spiritual Fokus utama dari fase ketiga ini adalah aorta, yang merupakan saluran bagi gelombang enerji yang penyembuh yang dibawa oleh darah.

Seiring dengan mengalirnya darah dari jantung, mula-mula dia dialirkan balik ke jantung melalui pembuluh-pembuluh arteri koroner dalam suatu reaksi rantai yang berkesinambungan dan meningkatkan enerji di dalam jantung itu sendiri, dengan cara yang mirip dengan matahari meningkatkan cahayanya melalui reaksi intinya sendiri. Siklus ini menghasilkan enerji lebih dan lebih banyak lagi, yang dituangkan keluar sistem vaskular dengan titik-titik fokus pada arteri-arteri utama, mensuplai otak melalui arteri karotid. Ia juga berjalan melewati arteri-arteri subclavian menuju ujung-ujung bagian atas, sirkulasi splanchnic menuju perut, melewati arteri-arteri renal menuju ginjal, dan melalui pembuluh-pembuluh panggul menuju ke ujung-ujung bagian bawah.

Volume tetesan darah yang besar bagaikan air terjun yang terjadi dari sungai yang amat besar menuruni sisi jurang dari sebuah gunung yang tinggi. Seluruh tumbuhan dan binatang di sekitar daerah aliran airnya menjadi terawat dan terhidupi dengan baik, dan setiap sel di dalam tubuh tersembuhkan ketika gelombang enerji rohaniah vital mencapainya.

Sebuah jantung yang sehat akan menopang tubuh yang lemah, namun bila jantungnya lemah dan berpenyakit--walaupun dalam tubuh orang yang masih muda--tubuh tak akan sehat dan berusia panjang. Karenanya, memelihara jantung menjadi prioritas pertama bagi para penyembuh spiritual. Lebih jauh lagi, memelihara otak juga merupakan prioritas penting lainnya untuk menjaga aliran pesan berfungsi dengan semestinya.

Praktisi Medis Kontemporer dan Para Para Penyembuh Spiritual

Para dokter dan ilmuwan semuanya mengenal kekuatan hidup yang tak terbilang ini, namun mereka tak dapat berinteraksi dengannya secara langsung, kecuali melalui perantaranya, yaitu jasad fisik. Untuk alasan tersebut, maka para ilmuwan melihat dengan intensif pada jasad luar dan menemukan prosedur-prosedur dan teknik-teknik untuk memelihara tubuh agar berada dalam homeostatis, mengupayakan agar kekuatan hidup vital berada dalam tubuh sebanyak mungkin dan untuk menjaga tubuh agar terbebas dari rasa sakit.

Para praktisi medis kontemporer lebih mengutamakan jasad fisik dan aspek-aspek fisiologi dari keberadaan manusia. Terapi-terapi penyakit secara garis besarnya bersifat fisik baik dalam bentuk pengobatan, perantaraan operasi, atau sebaliknya.

Para penyembuh spiritual, adalah kebalikannya, menggunakan pendekatan dari dalam terhadap penyembuhan dengan menerapkan teknik-teknik spiritual dan metode yang untuk memberdayakan enerji tubuh itu sendiri. Perbedaan antara para penyembuh spiritual dari para dokter adalah bahwa para penyembuh spiritual menyembuhkan dari dalam ke luar sedangkan para dokter dari luar ke dalam. Masing-masing mengerjakan yang baik bagi pasiennya dan keduanya bertemu di atas dasar yang sama bagi penyembuhan penyakit dan mengurangi rasa sakit dan penderitaan.

Persepsi Penginderaan Tinggi (High Sense Perception) sebagai Suatu Alat Diagnostik

Para dokter menggunakan teknik Gambaran Resonansi Magnetik (Magnetic Resonance Imaging=MRI) yang menggunakan enerji dan rangka dari atom-atom tubuh untuk menghasilkan gambaran dan informasi tentang kondisi tubuh dan proses penyakit yang potensial. Para penyembuh spiritual juga telah maju dalam model -model diagnostiknya. Satu yang terpenting adalah HSP, High Sense Perception (Persepsi Penginderaan Tinggi).

HSP adalah suatu jalan untuk mempersepsi hal-hal di luar jangkauan batas normal panca indera. Dengannya, seseorang dapat melihat, mendengar, mencium, mengecap dan menyentuh benda-benda yang secara normal tak dapat dicapai oleh indera manusia.

HSP, kadang-kadang disebut sebagai cenayang, bukanlah imajinasi belaka namun merupakan suatu jenis penglihatan di mana anda dapat meng-indera sebuah gambaran di benak anda tanpa menggunakan penglihatan normal. HSP mempertunjukkan kedinamisan dunia fluida, menginteraksikan medan enerji spiritual yang mengitari dan menembus seluruh mahkluk hidup. Enerji ini menopang kita, memelihara kita, dan memberi kita kehidupan. Kita merasakan satu sama lain dengan enerji ini, karena kita merupakan bagian daripadanya, dan ia merupakan bagian dari kita.

Dengan HSP, maka patofisiologi dari rasa sakit dan proses-proses penyakit terletak tepat di depan matanya. HSP menunjukkan bagaimana kebanyakan penyakit dimulai di medan enerji tersebut. Gangguan pada medan enerji ini disebabkan oleh waktu dan kebiasaan hidup yang tidak sehat yang lalu diteruskan ke tubuh, menjadikannya suatu penyakit yang serius. Seringkali sumber atau asal-muasal penyebab proses ini dihubungkan dengan trauma fisiologi dan/atau fisik.

Karena HSP memperlihatkan bagaimana suatu penyakit terbentuk, ia juga memperlihatkan bagaimana untuk membalik proses penyakit tersebut. Enerji-enerji spiritual dan aura-aura membantu para penyembuh spiritual dalam memformulasikan diagnosis mereka. Untuk mengembangkan HSP, amatlah penting untuk memasuki suatu tingkat kepekaan yang terasah. Ada banyak cara untuk mencapainya, namun meditasi spiritual merupakan satu cara yang cepat dikenal.

Nasma dan Meditasi

Dalam terminologi spiritual, tubuh yang non-fisik dinamakan nasma. Nasma terdapat di dalam setiap jasad fisik sebagai suatu aliran gas yang halus atau hembusan enerji yang tercipta dengan output kimiawi dari jasad fisik. Nasma tersebut hadir dalam manusia bagaikan air mawar hadir di dalam mawar atau bagaikan api dalam arang yang membara. Menjadi utama karena hubungannya dengan sumber enerji Ilahi, ia mampu mengecap tanpa menggunakan lidah, mampu melihat tanpa mata, dan mampu mendengar tanpa telinga.

Dengan menggunakan nasma, HSP dibuat tersedia bagi penyembuh spiritual. Nasma mendapatkan perawatan dari enerji esoterik yang dibebaskan bilamana kita bertindak, berfikir, atau membentuk kepercayaan atau niat. Nasma dalam manusia mampu meninggalkan jasad fisik kapan saja melalui kekuatan kemudi universal.

Bila aliran enerji spiritual terganggu atau tak cukup, maka kesehatan si pasien akan terpengaruh dengan jelek, menuju kepada rasa sakit, penyakit, tekanan, dan selanjutnya. Itulah pertanda bahwa kita perlu untuk menyeimbangkan kembali enerji kita. Suatu aliran enerji positif merawat nasma dan memelihara struktur dan pondasinya, menyeimbangkan sistem manusia tersebut. Keseimbangan ini mengarah pada meningkatnya kewaspadaan penginderaan tubuh yang pada gilirannya akan menuju pada kehidupan yang baik, mengikuti pola makan yang semestinya, dan kesenangan berolah raga. Nasma kemudian menyokong dan memelihara jasad fisik yang sehat, yang di dalamnya sistem-sistem fisika dan kimiawi tetap seimbang dan berfungsi dengan normal, sehingga menjadikan kesehatan fisik yang berlangsung selamanya.

Dalam sistem yang sehat, enerji-enerji dalam masing-masing tubuh bukan saja tetap berada dalam keseimbangan, namun juga menyokong dan mempengaruhi keseimbangan enerji dalam tubuh orang lain. Nasma mampu mempengaruhi orang lain sebagaimana sebuah magnet mempengaruhi logam yang berada di dekatnya. Enerji dari sistem yang sehat jadinya dapat menyembuhkan diri dan menumbuhkan sendiri dalam hal ia memelihara kesehatan individu sementara menguatkan kesehatan mereka dalam auranya. Jadi, kesehatan yang baik menarik dan mengembangkan lebih banyak kesehatan yang baik.

Nasma tak hanya mampu mempengaruhi jasad fisik, namun juga mampu dipengaruhi oleh badan yang sakit dan menjadi lemah karena lemahnya organ-organ. Sebagai contoh, dalam tubuh yang lemah nasma memperlihatkan gejalanya dalam aspek-aspek mental dan fisik dari seseorang. Dalam hal mental, satu dari yang berikut ini akan muncul: neurosis, depresi, histeris, psikotis, epilepsi, mimpi buruk, dan insomnia. Bila keadaan buruk ini dibiarkan berlanjut tanpa pengobatan, nasma-nya menjadi demikian lemahnya sehingga ia menjadi tak memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri dalam tubuh yang lemah tersebut. Pasien pada tahap ini biasanya menderita epilepsi, perilaku psikotik, atau perilaku yang agresif. Penyembuh spiritual dapat menguatkan organ-organ si pasien dan dengannya, nasma melalui kekuatan kemudi universal, menciptakan keadaan enerji tinggi di mana gejala-gejala penyakit menghilang.

Meditasi dan Titik Fokus Perlakuan

Dalam dunia spiritual, kesehatan yang baik memerlukan perjuangan yang intensif dari si pasien dan perubahan pribadi. Perubahan pribadi akan mengembangkan kesabaran, kepasrahan, rasa syukur, keceriaan, kesenangan, cinta kasih, berbagi, keberanian, perbuatan baik, pengenalan perbuatan baik, tradisi dan sopan santun akan meningkatkan rohani kita dan aliran enerjinya.

Kelebihan aktivitas bahkan dalam hal ini dan kurangnya pengawasan yang semestinya dan kasih sayang dari orang tua, atau dedikasi dari guru yang baik juga mungkin akan menyebabkan adanya beban yang amat berat pada pengertian seseorang. Atau, suatu kemacetan dalam kemajuan spiritual, mungkin akan menghambat pertumbuhan spiritual, dan hanya pembimbing yang memenuhi syaratlah yang dapat memecahkan rintangan seperti ini. Latihan semacam itu harus terus berlanjut hingga ia bisa mengembangkan sifat asli, perilaku positif dan aliran enerji yang sehat.

Tanpa perubahan pribadi dalam aliran enerji tubuh, seseorang kemudian menciptakan persoalan lain yang mengarah balik pada sumber penyebab penyakit awalnya. Jadi, menangani sumber penyakit merupakan titik fokus perlakuan. Pencarian ini merangsang bagian yang lebih dalam dari diri kita yang kadang-kadang dinamakan ‘diri yang lebih tinggi’ atau ‘Cahaya Ilahi’ di dalam diri kita. Keilahian yang terdapat dalam diri kita ini, bagian yang lebih dalam dari diri kita mengirimkan informasi kepada kita tentang jenis penyakit apa yang perlu diperlakukan dan jenis titik sentuh yang mana yang perlu di sentuh melalui meditasi kita. Meditasi merupakan alat yang dapat memberikan relaksasi yang mendalam, dan untuk menenangkan pikiran. Ini akan membantu untuk mengangkat stress dan karenanya menyebabkan sistem kimiawi dan hormonal dalam tubuh untuk dapat meraih kembali keseimbangannya.

Uji-uji medis telah menunjukkan bahwa terdapat perubahan-perubahan yang dapat terukur nyata dalam benda-benda yang sedang bermeditasi. Otak sendiri mengalami perubahan dalam bentuk gelombang elektrik yang terbentuk. Dengan menggunakan EEG, terdapat peningkatan pembangkitan gelombang alfa (a) dan kadang-kadang juga dalam jumlah gelombang tetta (q). Hal ini mengindikasikan suatu perubahan dalam kesadaran kedalam suatu keadaan tenang tak terganggu dalam kesadaran yang sedikit berbeda dengan tenang pada saat tidur. Keadaan seperti ini memiliki pengaruh menyembuhkan dan sangat menenangkan walau si pasien sepenuhnya sadar dan berfungsi.

Tubuh menunjukkan pengaruh-pengaruh meditasi dalam berbagai cara. Pola pernapasan melambat, begitu juga detak jantung, dan terdapat penurunan nyata dalam tingkat konsumsi oksigen dan eliminasi karbondioksida. Namun demikian, efek fisik dari meditasi berlangsung lebih lama dari pada lamanya meditasi itu sendiri. Hal ini ditunjukkan dengan fakta bahwa para penderita tekanan darah tinggi dan banyak penyakit lain, lewat meditasi saja telah membuat kemajuan klinis yang terukur di mana mereka telah mampu untuk menghentikan pengobatan. Hal ini dicatat dengan baik dalam buku-buku dan manuskrip-manuskrip penyembuhan spiritual.

Bagaimana Enerji Berhubungan dengan Penyakit

Para penyembuh spiritual melambangkan aliran kekuatan kemudi kehidupan dalam tubuh dan di alam semesta sebagai pusaran (vorteks) enerji yang terbuat dari sejumlah kerucut-kerucut spiral enerji yang berukuran lebih kecil. Dalam terminologi Islam, ini dikenal sebagai ‘lata’if’, yang berarti bentukan halus atau lapisan-lapisan. Lata’if (tunggal: latifa) adalah titik-titik masukan enerji maksimum dan merupakan titik-titik fokus keseimbangan yang amat penting di dalam sistem enerji. Penyakit muncul bila suatu latifa tak seimbang.

Lata’if dalam orang dewasa memiliki lapisan pelindung di atasnya. Dalam suatu sistem yang sehat, lata’if ini berputar dalam irama yang disesuaikan dengan yang lainnya, membuat enerji dari medan enerji universal ke dalam pusatnya untuk digunakan oleh tubuh. Masing-masing dari mereka distel ke suatu frekuensi khusus yang akan membantu tubuh agar tetap sehat. Namun, dalam sistem yang sakit, bundelan ini tak sesuai (sinkron). Enerji lata’if yang membangun bundelan-bundelan ini bisa cepat atau lambat, tiba-tiba atau tak seimbang di kedua sisinya. Adakalanya kerusakan dalam keseluruhan pola enerji dapat diamati di mana latifa kemungkinan berhenti atau terganggu baik sebagian maupun seluruhnya. Gangguan semacam ini berhubungan dengan kesalahan fungsi atau patologi jasad fisik di wilayah itu.

Menyembuhkan Melalui Meditasi dan Titik-Titik Fokus Lata’if

Rasa sakit dapat sepenuhnya disembuhkan dengan meditasi di mana dalam enerji yang tidur dari suatu tubuh yang sakit diaktifkan dengan sulutan spiritual yang dihasilkan oleh proses meditasi. Proses spiritual ini menggunakan tujuh titik fokus berbeda dalam tujuh lapisan, yakni lata’if.

Terdapat tujuh titik fokus dari lata’if. Mereka terletak di atas dan di bawah jantung, di atas dan di bawah payudara kiri, di atas dan di bawah payudara kanan, dan satu di kening. Setiap latifa memiliki warna enerji yang berbeda, dan setiap enerji memiliki efek yang berbeda pada suatu penyakit tertentu. Kedua titik fokus yang terletak di atas dan di bawah jantung berwarna hijau. Titik-titik di atas dan di bawah payudara kiri berwarna kuning, yang terletak di atas dan di bawah payudara kanan berwarna hitam, dan yang terletak di kening berwarna putih.

Melalui meditasi ketujuh titik fokus lata’if ini membangkitkan enerji. Kemudian, sebagaimana magnet, titik-titik fokus yang telah diaktifkan ini menarik enerji yang lebih banyak dari sumber enerji kosmik semesta dalam bentuk bola-bola cahaya kecil yang mengapung. Ukuran bola-bola tersebut tergantung pada latifa yang mana yang teraktifkan, karena terdapat perbedaan ukuran bola bagi setiap warna latifa yang berbeda. Tergantung pada penyakitnya, penyembuh mengaktifkan latifa yang diperlukan untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Pada gilirannya, latifa itu akan menghasilkan lebih banyak warna enerji-nya yang dengan sendirinya menarik dari sumber enerji semesta lebih banyak dari warna yang sama. Hasil dari rantai umpan balik positif ini adalah berupa tumpahan bongkahan-bongkahan cahaya yang berkilau yang turun dari sumber enerji kosmik ke atas orang penyembuh tersebut.

Melalui luapan bola-bola enerji berwarna ini, penyembuh tersebut memiliki enerji hingga pada titik di mana dia memancarkan panas dari tubuhnya melalui tangannya dan memproyeksikan cahaya dari keningnya. Sebagaimana seorang ilmuwan menembakkan sinar laser, penyembuh spiritual itu mengeluarkan cahaya dan enerji yang dia terima dari kekuatan semesta. Penyembuh itu memijit daerah yang terserang dan kombinasi panas dari tangan dan cahaya dari kening ini dengan segera memulai proses penyembuhan.

Penyembuh itu juga mengharuskan agar si pasien duduk sendirian saja untuk beberapa jam setiap harinya dalam keadaan rileks total, mengulang beberapa ribu kali asma Allah dalam format khusus selama penyembuhan. Asma-asma suci ini bagaikan percikan enerji yang menyulut aliran lebih banyak dari sumber enerji semesta. Penyulutan ini juga mengaktifkan titik-titik fokus lata’if dan menyebabkan terbangkitnya panas dalam tubuh si pasien. Panas ini jumlahnya lebih sedikit dibandingkan kekuatan yang luar biasa yang dipancarkan oleh penyembuhnya, namun cukup untuk menyebabkan si pasien berkeringat.

Pada saat ini, si pasien pergi kepada penyembuhnya yang memancarkan enerji yang lebih banyak seperti sebelumnya, melanjutkan penyembuhan si pasien. Sebagaimana bulan merefleksikan cahaya matahari ke bumi, begitu pulalah penyembuh itu merefleksikan enerji semesta melalui tubuhnya kepada si pasien. Hal ini menghasilkan keadaan panas yang luar biasa dan interaksi spiritual antara penyembuh itu dengan si pasien. Proses ini diulang selama beberapa hari atau bahkan minggu hingga si pasien sembuh.

Begitu dia sembuh, si pasien mulai mengalami efek psikologi dari interaksi sinergetis dinamis antara dirinya dengan si penyembuh. Dampak psikologis dari penyembuhan dan penghilangan rasa sakit ini menginduksi kelenjar endokrin untuk mengeluarkan hormon-hormon yang menyeimbangkan keseluruhan sistem dan mulai menyembuhkan organ-organ yang sakit, mengangkat si pasien ke tingkat kesehatan dan spiritualitas yang lebih tinggi dari pada yang mungkin terjadi dalam kondisi berpenyakit, dan penuh rasa sakit yang terdahulu.
Sebagaimana pasien operasi dibius, demikian pula pasien spiritual mengalami keadaan mati rasa dimana si penyembuh spiritualnya dapat bekerja dengan leluasa menemukan cara yang sesuai untuk si pasien.

Kesimpulan

Penyakit pada tempat medan enerji manapun akan mengekspresikan dirinya dalam tingkat kesadaran khusus. Masing-masing ekspresi penyakit terwujud sebagai beberapa bentuk sakit, baik itu fisik, emosional, mental, atau spiritual. Amatlah penting bagi kita untuk menggali makna yang lebih dalam dari penyakit kita. Kita perlu bertanya, “Apakah makna penyakit dan rasa sakit ini bagi kita? Apa yang dapat kita pelajari darinya?”

Rasa sakit merupakan sabuk pengaman dalam tubuh sendiri yang merupakan mekanisme pertahanan diri yang menperingatkan kita pada situasi yang sesungguhnya. Rasa sakit itu bagai lonceng peringatan dalam sistem kita yang membawa perhatian kita kepada kenyataan bahwa ada sesuatu yang salah dan memaksa kita untuk melakukan sesuatu terhadapnya. Rasa sakit itu berbicara, “Kamu tidak mendengarkan dirimu sendiri.” Rasa sakit mengajari kita untuk memita pertolongan dan penyembuhan, dan karenanya merupakan kunci pendidikan jiwa dan fungsi rohani dan enerji tubuh.

Sebuah pendekatan komprehensif terhadap penghilangan rasa sakit dan kesehatan pada umumnya yang termasuk di dalamnya penyembuhan spiritual akan sangat membantu kemajuan pengobatan moderen. Sementara beberapa volume dapat dan telah ditulis tentang penyembuhan spiritual Islam, diharapkan pengenalan singkat ini akan membantu mengangkat masalah ini menjadi perhatian masyarakat medis dan merangsang tumbuhnya apresiasi dan pengertian yang lebih baik akan tradisi dan ilmu yang kaya ini.

posted by Mevlana as Sufi at 10:43 AM 0 comments

Apakah Engkau Munafik
Mawlana Syaikh Nazim Adil al Qubrusi al Haqqani
Mercy Oceans series “ Star from Heaven ”


Allah menginginkan semua hambanya untuk mendatangi tempat yang penuh berkah ini. Dia ingin mencegah mereka dari mendatangi tempat2 yang dikutuk. Ada dua macam tempat : yang diberkahi dan yang dikutuk. Barang siapa yang memasuki tempat yang berkah akan meraih kebahagiaan, kepuasan dan rasa damai. Tempat yang dikutuk penuh dengan berbagai masalah, para pembuat onar, perselisihan dan penderitaan. Semua hal yang tidak disenangi (Allah) terdapat ditempat itu. Dan ternyata adalah sebaliknya, justru banyak orang ingin datang kesitu. Bagaikan laron yang terbang menghampiri sebuah lilin, ia tahu bahwa hal itu akan membakar dan membunuh dirinya.

Setiap orang adalah hamba, ada hamba yang baik dan ada hamba yang buruk. Bahkan Setan pun seorang hamba, demikian pula dengan semua orang yang tidak beriman. Bagi mereka yang tidak patuh, adalah hamba yang buruk. Dan orang yang beriman adalah hamba-hamba yang baik. Perhatikan dirimu! Termasuk yang manakah engkau? Mengapa begitu banyak orang ingin berada di tempat yang dikutuk?

Hal ini adalah karena dipaksa ego mereka dan ego selalu memberikan perintah yang salah. Dia selalu memberi bisikan, sebagai contoh; untuk tidak menikah. Banyak sekali orang pada jaman ini tidak mau segera menikah. Perintah untuk menikah, adalah salah satu perintah yang penting, setelah perintah untuk beriman. Bahkan perintah menikah datang terlebih dulu sebelum perintah shalat. Orang yang tidak menikah tidak disukai di surga. Bagi anak perempuan hal ini masih bisa dimaklumi, akan tetapi suatu keharusan bagi para pria untuk segera menikah. Siapakah yang selalu memberi bisikan kepada anak-anak muda ini?

Jangan engkau dengarkan egomu! Lakukanlah apa yang telah engkau janjikan pada Hari Perjanjian. Itulah hari saat jiwamu masih berada di Hadirat-Nya, dan engkau telah berjanji kepada-Nya,”Wahai Tuhanku, Engkau adalah Sang Pencipta dan kami adalah hamba2-Mu”. Allah berjanji akan menguji kita, apakah kita akan teguh memegang janji kita atau tidak. Sungguh Dia mengetahui semua yang akan kita lakukan, Dia tahu benar siapa kita, tetapi Dia juga ingin agar kita mengenal siapakah diri kita ini sebenarnya. Pada Hari Pengadilan nanti, Dia akan memperlihatkan kepada kita semua, apa saja perlakuan buruk yang pernah kita lakukan sebagai hambaNya. Dia akan memperlihatkan siapakah kita ini sesungguhnya? Dan kita akan mengadili diri kita sendiri. Adakah kita memegang janji2 kita?

Kemunafikan adalah salah satu karakter yang buruk sekali didalam ego kita. Ini sangat tidak disukai. Salah satu tanda adalah orang yang tidak pernah menepati janji. Tanda lainnya terlihat pada orang yang tidak mengatakan suatu tentang kebenaran. Seseorang yang telah diberi amanat jika kemudian ia menkhianatinya juga termasuk orang yang munafik. Hati-hati! Jika seseorang mempunyai semua tanda2 itu berarti dia adalah seorang yang sangat munafik. Jika hanya punya satu tanda berarti 1/3 munafik, kalau 2 berarti 2/3 munafik.

Wahai manusia! Lihatlah kedalam dirimu, lakukan check-up! Di Harley street (tempat memeriksa kesehatan - red) kalian akan melihat antrian panjang dari orang-orang yang ingin melakukan check-up. Untuk apa? Hal itu hanya akan menambah penyakit dalam pikiranmu yang akhirnya akan membuat kalian menjadi kuatir. Para spesialis serta merta akan memberi tahu kepadamu, “Semuanya OK dengan tubuh anda. Hanya ada titik hitam. Saya rasa anda membutuhkan check-up 6 bulan lagi. Kalau tidak titik hitam itu akan semakin membesar”.

Apa yang saya coba katakan adalah bahwa orang-orang selalu melakukan check-up kesehatan hanya bagi tubuhnya, sepanjang hidup ini. Check-up tidak akan menjamin kehidupan ini, tidak berakhir. Yang mengherankan adalah sedikit sekali orang yang melakukan check-up bagi jiwa mereka. Mereka menolak untuk menanyakan apakah diri mereka beriman, atau tidak? Mereka juga menolak menanyakan apakah mereka munafik, atau tidak? Apakah mereka patuh, atau tidak? Apakah mereka baik, atau tidak? Apakah mereka baik atau tidak?

Sebuah perkumpulan seperti ini bertujuan antara lain adalah untuk itu: melakukan check-up bagi setiap orang yang hadir disini, termasuk bagi orang yang mengundang kalian datang kemari. Tidak ada yang berada diluar kehambaan. Siapapun orangnya, dia adalah tetap seorang hamba. Karena di luar kehambaan adalah hanya Tuhan. Tidak seorangpun memegang gelar ketuhanan kecuali Allah Yang Maha Kuasa. Setiap orang harus melakukan check-up (ruhaniah) seperti ini pada dirinya sendiri.

posted by Mevlana as Sufi at 10:43 AM 0 comments

Berikanlah Pipi yang Sebelah
Mawlana Syaikh Nazim Adil al Qubrusi al Haqqani
Mercy Oceans Book Two

Nabi ‘Isa memberi nasihat kepada para pengikutnya, “Jika ada orang yang menamparmu di pipi kiri, berikan juga pipi yang kanan.” Beliau adalah seorang Nabi yang besar, bahkan jika nasihat tersebut datang kepada kita tanpa melalui Rasulullah , kita tetap menerimanya. Beliau menunjukkan cara bagaimana kita menghindari fitnah. Tidak seorang pun melainkan pengikut Sufi sejati dapat mendengar dan mengikuti nasihat tersebut. Hanya dengan mendengarnya saja, tidak akan ada perang di dunia ini. Bahkan mereka yang mengaku dirinya Kristen pun tidak sanggup mengikuti nasihat ini.
posted by Mevlana as Sufi at 10:43 AM 0 comments

Mengingat Mati
Mengingat Mati adalah Jalan Menuju Aspirasi yang Tinggi
Mawlana Syaikh Nazim Adil al Haqqani
Mercy Oceans Book Two


Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani berkata, seseorang mengganggap dirinya berada dalam thariqat, menanyakan bagaimana jalan menuju Allah (begitu banyak orang yang tidak berpengetahuan mengkritik thariqat, padahal thariqat hanyalah suatu jalan menuju Kehadirat Ilahi, Anda harus bisa masuk ke dalam barisannya, jika tidak anda tidak akan sampai ke sana). Berpikir tentang kematian adalah sangat penting. Kita harus menjaganya sebagai suatu perintah yang harus dilaksanakan, minimal 4 kali dalam sehari kita harus mengingatnya. Kematian adalah jalan bagi setiap orang untuk bisa berhubungan dengan alam Surgawi. 4 kali sehari kita harus membayangkan bagaimana kita akan meninggalkan tubuh ini dan pergi menuju alam Surgawi. Ini merupakan suatu latihan, jadi jika kematian datang, orang-orang sudah siap dan tidak terkejut lagi. Kematian adalah jalan satu-satunya untuk menuju Tuhan. Rasulullah bersabda, “Jika orang tidak menyukai kematian, Tuhan tidak akan menyukainya. Jika dia senang bertemu Tuhannya, Tuhan akan senang bertemu dengannya.”

Thariqat adalah jalan yang lebih kuat dari pada Syari’at. Misalnya seseorang bisa saja berwudhu sekali untuk 5 kali shalat fardhu, tetapi jika orang bewudhu setiap dia mau melakukan shalat berarti dia menjaga syari’at dengan kuat. Sama halnya dengan dibolehkannya shalat di rumah atau di toko, tetapi apabila kita shalat berjamaah berarti kita menjaga syari’at dengan kuat. Ini adalah persoalan kemampuan individu setiap orang. Beberapa orang mempunyai, himma, aspirasi yang tinggi untuk beribadah, akan tetapi yang lain malas atau mendekati malas. Anda tidak bisa mengatakan kepada mereka, “Ayo bagun, ulangi wudhumu, “ mereka akan menjawab, “Saya masih punya wudhu!” meskipun pada kenyataannya lebih banyak wudhu berarti lebih banyak cahaya, nur ala nur, cahaya di atas cahaya.

Grandsyaikh berkata bahwa orang yang mengingat kematiannya 4 kali sehari membuat para Awliya menjaganya. Penting sekali agar cahaya Ilahiah yang dimiliki para Awliya itu masuk ke dalam hati seseorang sehingga dia akan memperoleh kesenangan, kedamaian dan kebahagiaan. Kita harus memohon agar selalu dijaga oleh mereka. Dengan mengingat kematian, seseorang lebih mudah diterima dalam thariqat. Tindakan ini juga berarti menjaga syari’at dengan kuat karena dengan mengingat kematian seseorang akan terhindar dari perbuatan yang tidak senonoh seperti minum minuman keras, merokok, mengkonsumsi obat terlarang, dan berzina. Orang yang sudah terlanjur jatuh tidak mempunyai pikiran sehat lagi. Mereka tidak bisa berpikir, tetapi seperti binatang yang dikuasai ego mereka. Atau jika mereka sempat berpikir, mereka tidak bisa menghentikan dirinya dan tidak mempunyai daya untuk keluar dari dunianya. Mengingat mati juga bisa menjaga seseorang dari tindak kejahatan dan dari ketepurukan ke tangan Setan. Fatihah

posted by Mevlana as Sufi at 10:43 AM 0 comments

Wawancara Dengan Radio Midland
Mawlana Syaikh Nazim Adil al Haqqani
Wawancara : Radio Midland
Tugas saya : Mengumpulkan Para Penjunjung Tinggi Kebenaran (ahl Haqq)


P: Syaikh Nazim , bagaimanakah anda memulai ini semua?

Ini adalah sesuatu yang selalu ingin diketahui oleh para pendatang baru . Mereka ingin mengetahui siapakah yang berbicara. Saya berkebangsaan Turki Cyprus dan saya tinggal di bawah pemerintahan Inggris yang menjadi koloni sejak 1922 – 1940. Pada tahun pertama saat perang dunia I saya pindah dari Cyprus untuk kuliah teknik kimia di University of Istanbul. Saya tinggal di sana selama 4 tahun lamanya. Saya kemudian berkelana ke Syria, Aleppo, Damascus dan Lebanon untuk mempelajari ilmu syariah. Kemudian saya berjumpa dengan Grand Syaikh, Syaikh Abdullah Faiz Daghestani Naqshbandi di Damascus. Saya berada di bawah bimbingannya hingga beliau meninggal tahun 1973. Beliau memberikan perintah kepada saya untuk menjadi penerus memimpin thariqat yang mulia Naqshbandi. Sampai saat ini saya selalu mencoba untuk menjalankan perintahnya sebaik mungkin. Saya berharap ini merupakan suatu hal yang menyenangkan bagi saya. Karena saya punya kesempatan untuk bisa menggapai umat, menyelamatkan sebanyak mungkin dari mereka agar tidak terjerumus ke jalan yang salah dan meluruskan kembali ke jalan yang benar.

P: Sebenarnya anda kan seorang ahli teknik kimia. Apakah yang membuat anda berubah pikiran?

Kita percaya bahwa setiap orang sudah ditakdirkan untuk mempunyai jalan masing-masing, tetapi jalan itu tidak selalu lurus untuk mencapai tujuannya. Ada kalanya dia berhenti, suatu saat dia memutar, bahkan tidak jarang ia berputar balik didalam setiap kehidupan seseorang. Banyak sekali makna yang dimilikinya. Ada saatnya Allah menginginkan hambanya untuk mencapai tujuan tersebut, tetapi saat itu juga Dia membuat putaran balik, seperti yang Dia lakukan kepada saya setelah bertahun-tahun berada di Istanbul. Setiap orang akan mencapai tujuan didalam jalan hidupnya. Hingga 1943 tujuan saya adalah dunia, tapi setelah itu saya diminta untuk mengarahkan muka saya ke Wajah Illahi. Mereka lakukan itu dengan alasan tertentu. Dan sayapun mengarahkan wajah saya dari dunia ke Maula.

P: Apakah yang anda rasakan pada saat pertama kali anda mengambil bay’at pada Syaikh anda?

Tujuan saya telah dipersiapkan di Istanbul dan selama bertahun-tahun lamanya saya tinggal di sana. Saya berharap sekali untuk bisa bertemu dengan beberapa dari Sahabat Allah, orang-orang suci (para awliya). Kami percaya, bahwa dunia ini akan hampa tanpa awliya. Saya berkeyakinan ada beberapa awliya di Damascus. Itulah sebabnya mengapa saya di kirim oleh seorang awliya yang berada di Istanbul untuk melanjutkan bimbingan terhadap diri saya kepada seorang awliya yang tinggal di Damascus. Sayapun kemudian bertemu Grand master Syaikh Abdullah Faiz Daghesthani di Damascus. Pada saat kami berjumpa, beliau mengatakan kepada saya bahwa beliau telah mengharapkan kedatangan saya pada saat itu. Didalam hati saya pun mengatakan hal yang serupa, saya memang mengharapkan untuk bertemu dengan beliau di dalam petualangan spiritual saya. Saya tahu bahwa semua ini sebetulnya telah direncanakan buat saya. Jadi, tidak ada sesuatu yang mengejutkan.

P: Islam adalah agama yang besar dan begitu banyak pengikutnya di seluruh dunia. Apakah yang anda akan katakan kepada dunia, dengan jalan apakah kita dapat meraih manfaat yang maximum dari agama ini?

Seperti yang anda telah ketahui bahwa sejak awal hingga saat ini semua orang yang hidup di dunia ini berada dalam dua jalan yang berlawanan arah. Mereka terdiri dari yang baik dan yang buruk: hamba yang baik dan hamba yang buruk. Itulah sebabnya mengapa sejak kehadiran manusia pertama , manusia selalu berada dalam keadaan menerima atau menolak ajaran Surgawi.

Hal yang serupa juga berlangsung pada saat sekarang. Andaikata ada kehadiran seorang Nabi , jangan anda pikir behwa setiap orang akan menerima dan mengikutinya. Beberapa akan menerima kehadirannya sebagai nabi Allah, dan bersaksi atas dirinya dan mengikuti ajarannya. Yang lainnya akan menolak dan tidak menerimanya.

Sejak awal setiap Nabi telah dihadapkan kepada begitu banyak masalah yang sama : yaitu sebagian besar orang yang menentangnya. Tidak ada orang yang sanggup mengontrol semua orang . Suatu hal yang tidak mungkin. Saya hanya seorang yang kecil, lebih kecil dari sebuah atom. Bagaimana mungkin saya mengontrol begitu banyak orang? Apa yang bisa saya lakukan untuk ini? Kita hanya bisa melakukan sebuah kerja sederhana untuk orang-orang yang hidup di masa yang penuh dengan kebebasan mutlak ini. Inilah yang mereka kejar. Agama mengajarkan disiplin, tapi hanya sedikit orang yang ingin memilikinya. Islam adalah agama yang besar. Menurut anda, apakah Kristen bukan? Yahudi bukan? Atau Hindu dan Buddha bukan ?

Banyak orang menjauhkan diri dari disiplin. Iblis, adalah agen dari setan yang selalu berupaya agar manusia tidak menerima disiplin apapun. Bahkan mereka sekarang sedang melakukan perlawananan di dalam pemerintahan untuk menguasai hukum. Terutama pada anak muda yang ingin menjalani kehidupan ini secara tidak sah.

Apabila manusia terjebak oleh ego, mereka akan diperbudak olehnya. Sedikit harapan bagi mereka untuk bisa mendapatkan bantuan dari seseorang yang sanggup menghancurkan rantai pengikat diri mereka. Biasanya, mereka melarikan diri. Sebetulnya, jika saja mereka datang lebih dekat kepada kami, kami akan membantu memotong rantai mereka. Tetapi jika seorang pasien melarikan dari dokternya, bagaimana kami dapat melakukan sesuatu? Jika saja mereka datang bersungguh-sungguh untuk mendengarkan, tentu mereka akan bisa meninggalkan nafsu mereka dengan sukarela.

P: Apakah yang anda ajarkan, menurut agama Islam?

Pada abad2 belakangan ini banyak orang mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada. Atheisme, telah telah melanda dunia. Seluruh sistem di pemerintahan dan pendidikan termanifestasi oleh atheisme dan materialisme. Ini berarti bahwa kekuasaan setan telah menyebar dari utara sampai ke selatan dan dari barat hingga ke timur, pada setiap bangsa dan disetiap keyakinan. Sepanjang perjalanan mencapai saat kita mampu menghancurkan kerajaan setan, kita tidak bisa melakukan apa-apa. Bayangkan, kita mengarungi padang pasir yang begitu luas dengan oasis bermata air yang hanya cukup untuk sedikit tanaman. Sementara ribuan dan ribuan kilometer dari padang pasir tidak akan mungkin hidup dari mata air tersebut.

Hal yang serupa terjadi pada diri saya yang hanya seorang ini. Saya tidak akn bisa menolong seluruh padang pasir. Hanya sedikit orang yang bisa datang melepaskan dahaga dengan melewati oasis. Tapi banyak orang bahkan sebaliknya, lebih suka berlarian di padang pasir. Saya tidak mengatakan bahwa dampak dari apa yang saya lakukan akan menyebar dari timur ke barat. Saya hanya berusaha untuk menjaga sebuah oasis yang kecil, tidak lebih. Bagi siapa saja yang ingin datang, silahkan!

P: Anda telah melakukan begitu banyak hal untuk seluruh dunia, apakah rencana anda untuk masa depan?

Untuk menghancurkan kerajaan setan!

P: Yang manakah itu?

Itu sudah tersebar di seluruh dunia… saya hanya berharap bisa mendapatkan banyak pembantu dan pendukung. Saya ingin mempunyai para Pembela Kebenaran, bisa dimulai dari satu orang yang kemudian akan menjadi jutaan dan milyaran orang, layaknya bola salju yang turun dari gunung. Saya berusaha untuk mengumpulkan para Pembela Kebenaran yang terdiri dari orang-orang yang terpilih (benar). Saya akan mencari orang-orang yang teguh memegang kebenaran untuk mempertahankan kebenaran itu sendiri. Ini adalah target saya: untuk mencari para Pembela Kebenaran dan mengumpulkan mereka menjadi sebuah kekuatan yang besar. Untuk menyerang kerajaan Setan dan menegakkan kedaulatan Surgawi di muka bumi .


P: terima kasih banyak!

Kami yang berterima kasih kepada anda dan saya berharap bahwa melalui interview radio ini para Pembela Kebenaran akan memperlihatkan diri mereka, mencari saya dan yang lainnya hingga membentuk suatu kelompok yang besar dan akan menggusur kekuasaan setan di bumi! Mereka akan menghancurkannya dan menegakkan Kerajaan Surgawi di muka bumi melalui bantuan dan dukungan dari Surga! Saya berharap perusahaan penyiaran anda, “Excel” akan menjadi salah satu dari Penjaga Kebenaran dan anda tidak akan menyiarkan hal lain melalui radio anda untuk mendukung kekuasaan setan tetapi untuk menjadi Pembela Kebenaran!

posted by Mevlana as Sufi at 10:43 AM 0 comments

Selamat Ulang Tahun!
Syaikh Nazim al-Qubrusi al Haqqani an Naqshbandi
dikutip dari buku Mercy Oceans of the Heart

Orang-orang merayakan ulang tahunnya sendiri, tetapi apa yang harus dirayakan? Satu tahun telah mereka lalui dengan cepat seperti air yang mengalir di bawah jembatan, dan tidak ada bendungan yang dapat membendung alirannya. Tidak, mereka hanya merayakan hilangnya kekayaan yang mulai berkurang. Setiap uban yang tampak di cermin laksana belati yang menusuk jantung mereka. Tetapi setiap hari saya mengamati apakah masih ada rambut hitam yang tertinggal di janggut saya. Saya menanti sampai semuanya berubah menjadi putih. Mengapa? Sebab itu adalah pertanda bahwa saya telah mendekati kehidupan yang abadi, dan saya telah mempersiapkan diri untuk berpindah dari dunia ini ke alam selanjutnya.


posted by Mevlana as Sufi at 10:43 AM 0 comments

Tujuan Hidup
Syaikh Nazim al-Qubrusi al Haqqani an Naqshbandi
Dikutip dari buku : Mercy Oceans series “ Defending Truth ”


Ketika engkau menjadi orang yang beriman, engkau harus memberikan penghormatan tertinggi kepada semua perintah yang telah diberikan oleh Allah . Engkau berhenti ketika lampu merah menyala di jalan, artinya engkau memberikan perhatian kepada hukum, walaupun mereka tidak bisa melihatmu. Tetap saja engkau mematuhi peraturan yang telah dibuat.

Bagaimana dengan perintah Allah? Bukankah ini yang harus lebih engkau takutkan, bahwa Allah bisa saja tidak berkenan denganmu. Sepatutnya engkau berusaha untuk menyenangkan-Nya. Ini adalah klimaks dalam kehidupan yang dapat engkau raih : membuat Allah berkenan denganmu. Jika engkau bisa melakukan itu, berarti engkau telah mencapai tujuan utama dari hidup. Jika tidak, mungkin saja engkau adalah seorang penguasa di seluruh Swiss, Jerman, Itali, Eropa, Asia, di semua benua dan samudera, dan semua itu tidak akan memberikan kebahagiaan kepadamu. Bertanyalah kepada dirimu sendiri setiap malam sebelum tidur, apakah engkau telah berbuat agar Tuhan berkenan denganmu hari ini, atau….tidak. Jika Dia tidak berkenan, dan engkau meninggal dalam tidur dan engkau datang menghadap-Nya ketika Dia tidak berkenan denganmu, bayangkan apakah yang akan terjadi? Cobalah untuk menjadi hamba yang taat. Buatlah agar Dia berkenan dan jangan mengejar dunia ini!

posted by Mevlana as Sufi at 10:43 AM 0 comments

Segalanya telah ditetapkan untukmu
Syaikh Nazim al-Qubrusi al Haqqani an Naqshbandi
Dikutip dari buku : Mercy Oceans series “ Defending Truth ”


Ambilah segala sesuatu yang telah ditetapkan untukmu. Jangan mengejar sesuatu yang bukan menjadi hakmu, apalagi menginginkan seluruhnya hanya untuk dirimu sendiri. Sebelum Allah menciptakan kita, Dia telah memberikan ketetapanNya terhadap kita terlebih dahulu. Itu terjadi pada 60.000 tahun yang lalu. Tidak seorangpun bisa mendapatkan apa2 yang telah menjadi suatu ketetapan. Sebagai contoh, saat ini engkau sedang duduk di dekat semangkuk nasi. Karena peristiwa itu sebelumnya telah tersurat di Hari Pembagian, maka tak seorangpun bisa mengambil nya dari mangkukmu, walaupun hanya sebutir nasi .

Berbahagialah dengan apa saja yang telah diberikan kepadamu didalam hidup ini. Berbahagialah dengan apa saja yang telah Allah berikan kepadamu. Maka engkau akan diberkahi. Jika engkau tidak mensyukuri maka engkau tidak akan mendapatkan berkah. Jangan melihat apa yang sedang dimakan orang lain, meskipun mereka sedang melakukan hal yang mubazir. Berbahagialah dengan “roti keringmu!”.

Wa min Allah at taufiq
posted by Mevlana as Sufi at 10:43 AM 0 comments

Bagaimana menggapai berkah?
Syaikh Nazim al-Qubrusi al Haqqani an Naqshbandi
Dikutip dari buku : Mercy Oceans series “ Defending Truth ”


Ada hamba yang diberkahi dan ada pula yang dikutuk. Diberkahi berarti seseorang diterima di Hadirat-Nya. Dikutuk berarti terlempar kepada Iblis. Terserah anda jalan manakah yang akan dipilih. Jika anda tidak mencoba untuk diberkahi, setan akan menangkapmu dengan cepat untuk berada disisinya dan menerima kutukan yang serupa.

Suatu hal yang tidak penting jadinya untuk mempunyai sebuah gelar, supaya menjadi ini atau itu : kristiani, yahudi, Islami, budhaisme, brahmaisme, confuzisme….anda bisa saja memiliki salah satu gelar tersebut dan tetap tidak diberkahi sebagai seorang hamba. Diberkahi berarti seseorang mempercayai bahwa hal yang terpenting dalam hidup mereka adalah untuk mengabdi kepada Tuhannya. Siapa saja yang mengabdi pada dunia ini, ego mereka, atau setan adalah suatu yang terkutuk. Lakukan ibadah kepada Tuhan sebagai prioritas dalam keseharianmu. Mulailah harimu dengan “ La illaha illa’llah, Muhammadur rasul Allah” dan mintalah kepada Tuhan untuk menolong kamu mengabdi kepada-Nya pada hari itu. Akhiri harimu dengan permintaan untuk diampuni dan diberkahi. Mintalah kepada-Nya untuk menerima ibadahmu yang tidak lengkap dan mintalah pertolongan-Nya agar anda bisa berubah menjadi lebih baik. Jagalah pikiranmu selalu kepada-Nya sepanjang hari.
Jika seseorang meninggal pada malam yang sama. Niat yang dia miliki akan selalu ada hingga saat hari akhir tiba.

posted by Mevlana as Sufi at 10:43 AM 0 comments

Setiap Tindakan, Seolah-olah itu yang Terakhir
Syaikh Muhammad Nazim al Haqqani dalam
Mercy Oceans Book Two


Dalam hidup ini setiap orang melakukan suatu pekerjaan. Sebagian besar mereka bekerja seperti robot, tidak berpikir, dan hanya bertujuan agar bisa makan, minum, berjoget dan segala hal yang menyenangkan bagi egonya. Hanya sebagian kecil saja orang yang bekerja untuk dirinya dan untuk keyakinannya terhadap Tuhan dan Hari Kemudian. Mereka berjuang demi penghargaan dan kehormatan dari Tuhannya. Ini adalah jalan yang benar bagi ummat manusia. Jalan ini memberi kedamaian dan kepuasan dalam hati. Di antara sekian banyak pekerjaan dan ibadah yang kita lakukan, kita juga harus mengetahui mana yang paling berharga.

Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani pernah bertanya, “Apa yang membuat ibadah kita paling disukai oleh Allah?” Kita harus mengetahuinya lalu mengikuti dan harus bisa senang melakukannya, karena jika kita senang, Allah akan senang terhadap kita. Grandsyaikh berkata, “Seorang yang beribadah harus mempunyai pikiran bahwa ‘Ini adalah ibadahku yang terakhir’ dan dia harus menyatakan pikiran itu kepada egonya. Dengan berpikir seperti itu ibadahnya menjadi sangat berharga, karena setiap indera akan terlibat dalam hatinya. Dia tidak berpikir tentang kehidupan ini, melainkan hanya kehidupan setelah mati. Siapa yang melakukannya akan mendapatkan hatinya hadir dalam kehadirat Ilahi dan menjadikan setiap ibadahnya bernilai tinggi. Jika hati tidak hadir ketika seseorang melakukan sesuatu, maka tindakan tersebut tidak baik. Dengan berpikir bahwa kematian selalu mendampingi kita, maka hati kita akan hadir dalam melakukan ibadah. Ini merupakan perilaku baik yang sangat penting. Bahkan untuk pekerjaan menulis sebuah buku, jika dia berkata, “Ini adalah pekerjaan terakhirku,” itu berarti dia akan melakukannya dengan sepenuh hati.

posted by Mevlana as Sufi at 10:43 AM 0 comments

Mengapa kita memiliki Aturan Suci
Syaikh Nazim al-Qubrusi al Haqqani an Naqshbandi
Dikutip dari buku : Mercy Oceans series “ Defending Truth ”


Allah menghendaki agar kita menggunakan enerji yang kita miliki untuk memuji-Nya. Seharusnya kita tidak menyia-nyiakan enerji tersebut. Hal ini sangat penting bagi setiap orang, agar eksistensinya hanya untuk Allah saja. Inilah puncak tujuan dari hidup kita. Apapun yang kita lakukan harus kita sadari, bahwa itu kita lakukan untuk menyembah-Nya dan hal tersebut menunjukan penghormatan yang besar dari diri kita kepadaNya. Kita harus membuat Dia berkenan. Dia-lah satu-satunya yang mempunyai kekuasaan yang mutlak dan berhak atas segala macam penyembahan, kejayaan, pujian dan penghormatan. Hanya Dia.

Kita harus hidup untuk Allah dan kita harus mati untuk Allah. Dengan setiap tindakan, pikiran, gerakan dan kesunyian anda harus mengingat titik ini dan selalu bersama Allah. Jika anda lepas, anda akan kehilangan Tuhan dan berakhir pada ego yang akan memberitahu, bahwa dialah tuhanmu dan anda harus patuh kepadanya. Ketika ego masih menjadi panutan, maka seluruh kontrol akan terambil dari dirimu dan selanjutnya membuatmu menjadi hambanya.

Ini adalah ketentuan yang sangat penting dalam Islam agar kita tidak membiarkan begitu saja ego mengendalikan diri kita ini dengan berbagai macam cara tentunya. Inilah sebabnya mengapa Rasulullah selalu memohon kepada Tuhan agar tidak meninggalkan dirinya bersama ego, walaupun hanya sekejap . Ego akan membunuhmu dan membuat engkau akan kehilangan iman hingga ke titik nol. Jika pada saat2 demikian malaikat maut datang kepadanya, maka ia akan mati dalam keadaan tidak beriman. Inilah sebabnya mengapa terdapat perbedaan cara pada agama didalam menjalankan ibadah kepada Tuhannya. Nabi pertama diberikan sejumlah aturan untuk anak-anaknya sehingga mereka bisa mengontrol naga dari ego mereka. Seiring dengan berjalannya waktu, seorang Nabi selalu dihadirkan pada setiap kurun waktu. Semuanya datang dengan tujuan untuk membantu umat manusia agar mampu mengendalikan naga mereka, ego mereka yang menyesatkan. Mereka selalu hadir dalam rangka menyelamatkan kita.

Listrik adalah sebuah kekuatan yang mampu membunuhmu jika engkau tidak mengetahui bagaimana cara menggunakannya. Tapi manusia kini telah mengetahui cara mengendalikannya. Jika kita tidak bisa mengendalikannya maka listrik bisa membunuh diri kita. Walaupun demikian kita tetap membutuhkannya, karena listrik sangat membantu kehidupan se-hari2. Ego juga sangat berbahaya, tapi apabila ia berada di bawah kendali, dia akan seperti Buraq. Anda harus belajar cara untuk memanfaatkannya. Apalah artinya bagi seseorang yang mendapatkan sebuah helicopter akan tetapi tidak menengetahui bagaimana cara menerbangkannya. Bahkan jika bisa terbangpun, kita tidak tahu kemanakah kita akan pergi? Jadi akan sia-sia saja kita memilikinya. Janganlah bertanya mengapa Allah menciptakan ego buat kita. Jika ego tidak ada gunanya, sudah barang tentu Dia tidak akan menciptakannya untuk kita. Banyak makna yang dimilikinya, terbentang dari bumi ke surga . Jangan selalu bertanya mengapa!

Rasul berpesan kepada kita agar kita tidak selalu berada dalam keadaan yang sama dalam 2 hari berturut-turut. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan besok lebih baik dari sekarang. Anda harus datang mendekat dan semakin mendekat ke Hadirat Allah setiap hari. Setiap hari kita harus melakukan pendekatan ke arah tujuan kita. Kita tidak pernah mengetahui kapankah hari terakhir kita. Seseorang yang mengerti makna sesungguhnya dari ibadahnya kepada Tuhan, mengerti agamanya dan perintah2 Surgawi, adalah orang yang beruntung.

Mengapa kita mempunyai aturan suci? Aturan itu dibuat supaya kita semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan menjauhkan diri dari ego. Neraka dibuat untuk mereka yang selalu bersama dengan ego dan Surga bagi mereka yang datang mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Kuasa. Kutukan datang bagi mereka yang menjauh dari Dia, sungguh mereka sangat keras kepala. Siapa saja yang mendekatkan diri setiap hari kepada Tuhannya, akan diberkahi.

posted by Mevlana as Sufi at 10:43 AM 0 comments

Bagaimana menggapai berkah?
Syaikh Nazim al-Qubrusi al Haqqani an Naqshbandi
Dikutip dari buku : Mercy Oceans series “ Defending Truth ”


Ada hamba yang diberkahi dan ada pula yang dikutuk. Diberkahi berarti seseorang diterima di Hadirat-Nya. Dikutuk berarti terlempar kepada Iblis. Terserah anda jalan manakah yang akan dipilih. Jika anda tidak mencoba untuk diberkahi, setan akan menangkapmu dengan cepat untuk berada disisinya dan menerima kutukan yang serupa.

Suatu hal yang tidak penting jadinya untuk mempunyai sebuah gelar, supaya menjadi ini atau itu : kristiani, yahudi, Islami, budhaisme, brahmaisme, confuzisme….anda bisa saja memiliki salah satu gelar tersebut dan tetap tidak diberkahi sebagai seorang hamba. Diberkahi berarti seseorang mempercayai bahwa hal yang terpenting dalam hidup mereka adalah untuk mengabdi kepada Tuhannya. Siapa saja yang mengabdi pada dunia ini, ego mereka, atau setan adalah suatu yang terkutuk. Lakukan ibadah kepada Tuhan sebagai prioritas dalam keseharianmu. Mulailah harimu dengan “ La illaha illa’llah, Muhammadur rasul Allah” dan mintalah kepada Tuhan untuk menolong kamu mengabdi kepada-Nya pada hari itu. Akhiri harimu dengan permintaan untuk diampuni dan diberkahi. Mintalah kepada-Nya untuk menerima ibadahmu yang tidak lengkap dan mintalah pertolongan-Nya agar anda bisa berubah menjadi lebih baik. Jagalah pikiranmu selalu kepada-Nya sepanjang hari.
Jika seseorang meninggal pada malam yang sama. Niat yang dia miliki akan selalu ada hingga saat hari akhir tiba.

posted by Mevlana as Sufi at 10:43 AM 0 comments

Suhbat Awal Tahun 1 Muharram 1423 H
Maulana Sulthanus ‘Salihin as-Syaikh as-Sayyid
Muhammad Nazim ‘Adil Al-Haqqani
An-Naqshbandi Al-Qubrusi

Cyprus, Tahun Baru 1423 dimulai matahari terbenam Rabu, 13 Maret 2002

La ilaha ill-Allah, la ilaha ill-Allah, la ilaha ill-Allah, Muhammad Rasulullah, alayhi salatu-llah, ziyadatan li sharfin-Nabi salallahu ‘alayhi wa aalihi wasallam, Faatihah.
Audzu billahi minasy syaithani rajim,Bismillaahir Rahmaanir Rahiim.

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim membuka. Yaa Mufattihal abwaab iftah lanaa khaira baab. Wahai Allah, cabutlah kekuasaan dari tangan-tangan mereka yang tidak mengenal-Mu. Insha Allah, Anda tidak akan lagi menjumpai mereka tahun depan. Destur, yaa Sayidi, yaa Sultan-ul Awliya. Halaman baru, muka baru, pandangan baru, berita baru. Saya seperti baru saja berucap puisi. Bahasa Inggris saya seperti bahasa Inggris Shakespear. Jika dia hadir saat ini, tentu dia akan tertawa terbahak-bahak, karena dia tak pernah berpikir akan hal-hal seperti itu. Apa yang Ia (Allah) katakan, pasti datang, pasti terjadi, pasti muncul! Saya berharap bahwa persiapan untuk perubahan besar di seluruh planet ini akan dimulai malam ini dan akan terus berlanjut.

Menurut kalendar Islam, malam ini adalah permulaan tahun 1423, baru dimulai, dan tahun ini datang dengan keagungan, dengan kekuatan. Para Awliya’ melihat bahwa bulan ini, Muharram, dan juga tahun baru ini datang dengan heybet, suatu kedahsyatan, yang menumbuhkan semacam ketakutan dalam hati - Anda tak dapat melukiskannya dengan kata-kata. Ia bukanlah ketakutan biasa yang hanya ada untuk sementara waktu. Tapi, kini, seluruh dunia akan segera jatuh ke dalam suatu samudera ketakutan, dimulai dari malam ini, dari saat matahari terbenam.

Terutama para pemimpin dan pemerintah, kepala dan pemimpin dari seluruh negara, akan merasakan ketakutan itu begitu mendalam di hati mereka. Baik orang-orang sipil maupun militer - semua markas besar yang menentang hukum-hukum Tuhan, hukum-hukum langit, akan mulai merasakan ketakutan yang amat dalam. Tapi mereka tidak dapat mendeskripsikan mengapa ketakutan ini datang. Dan ketakutan itu akan bertambah hari demi hari, pekan demi pekan, bulan demi bulan. Ketakutan ini akan terus tumbuh dan menutupi keseluruhan diri mereka; kemudian apakah mereka akan mengundurkan diri, ataukah mereka mesti berada di rumah sakit jiwa (mental-house), ataukah mereka mesti terbunuh. Entah mereka akan membunuh diri mereka sendiri, oleh diri mereka sendiri, atau mereka akan dibunuh pada akhirnya.

Tahun ini datang dengan tajalli (penampakan) yang demikian dahsyat; suatu pemandangan yang amat dahsyat tengah datang saat ini. Berhati2lah, Wahai Manusia! Siapa yang berusaha untuk mendaki menuju suatu tingkat kemanusiaan sejati akan disupport dan akan pula diselamatkan; mereka akan berada dalam perlindungan langit. Dan siapa yang tidak mau untuk mendaki menuju level kemanusiaan sejati akan tetap di bawah. Suatu badai akan datang dan mengambil mereka pergi – suatu badai api. Suatu banjir darah tengah datang saat ini.

Karena itu, ini adalah suatu peringatan, saat ini, hari ini; telah datang pada saya agar memperingatkan pada seluruh dunia bahwa setiap orang mesti berpikir akan tujuan akhir mereka. Apakah mereka akan berada pada peringkat manusia atau mereka tetap berada pada peringkat kekerasan bersama mereka orang-orang yang keras. Dan saat ini kekerasan akan segera dihabisi , dimulai sejak malam ini.

Allah Yang Maha Agung tidak pernah melihat pada penampilan luar Anda, tapi Ia melihat pada ‘hati’ Anda, apa yang ada di sana. Jika hati Anda hanya dimiliki oleh-Nya, Anda akan selamat. Jika hati Anda tidak bersama dengan Dia Yang Maha Agung, maka Anda akan direnggut dan dihancurkan. Segala sesuatu yang mereka kerjakan hingga hari ini akan dihancurkan. Setiap bangunan yang dibangun atas dasar kejahatan, Batil, akan diambil pula - habis!

Sebuah ‘Firman Ilahi’, keputusan Ilahiah - suatu kata yang dahsyat untuk kehendak Sang Sulthan. Ketika seorang Raja Agung berbicara, kita tidak mengatakan bahwa ia sedang membuat suatu deklarasi. Ada suatu kata khusus yang dipakai untuk raja-raja dan kaisar-kaisar. Kita tidak mengatakannya sebagai pengumuman dari Langit atau deklarasi dari Langit, tidak, tapi kita mengatakan bahwa apa yang menjadi milik Allah Yang Mahaagung pastilah jauh lebih dahsyat dari itu, ia penuh dengan kehebatan, memancarkan ketakutan pada hati setiap orang. Ia bukanlah sekedar suatu deklarasi, deklarasi dari sembarang orang, bukan, tapi ia adalah suatu Dekrit Langit. Dia bukanlah sebarang orang, Sang Sultan atau Sang Raja. Dia memiliki kekuatan, orang-orang yang mendengarnya pastilah merasa takut. Dan itu (dekrit) tengah datang, malam ini, bagi seluruh markas besar dari orang-orang hebat, Awliya’, yang menjaga kekuatan langit melalui tangan-tangan mereka. Sekarang, perintahnya adalah: “Pergilah! Kepada Kufr (ketidak berimanan) dan kebatilan, pergilah untuk menghancurkan kerajaan setan di muka bumi!” Habiskan! Semoga Allah mengampuni saya dan melindungi kita. Orang-orang beriman akan dilindungi.

Karenanya, Allah ‘Azza wa Jalla kini, tengah melihat kedalam isi hati setiap orang, siapa yang beserta-Nya; siapa yang bagi-Nya, akan dinaungi, akan diselamatkan; siapa yang tidak beserta Dia Subhanahu wa Ta’ala, atau tidak bagi-Nya ‘Azza wa Jalla, akan ditarik dari peredaran, akan dihancurkan. Suatu kehancuran besar sedang datang saat ini, di muka bumi.
Suatu berita baru- telah datang hari ini. Hati saya pun menjadi amat marah sejak tadi malam; terlalu banyak kekuatan, juga telah mendatangi hati saya. Saya bukanlah apa-apa, tapi jika saluran tenaga keTuhanan ini telah dibuka, saya mungkin dapat mencabut semua Kufr. Saya mungkin akan menghancurkannya. Hari ini, saya hanyalah hamba-Nya yang paling lemah, besok- saya tidak tahu. Ya Rabbi, yaa Allah.

Berhati-hatilah dengan nama Anda. Ada dua macam daftar; ada yang tertulis di dalam daftar tersebut sebagai: “Untuk diselamatkan” dan “Untuk dihancurkan”; “Untuk dinaungi” dan “Untuk dienyahkan”. Satu daftar berisi nama-nama orang yang mesti dinaungi dan dilindungi, dan daftar kedua berisi nama-nama orang pada siapa pembalasan langit akan datang. Jagalah diri Anda sendiri, berhati-hatilah agar nama Anda tidak tertulis pada daftar kedua yaitu daftar mereka yang akan dicabut dari peredaran. Tak ada yang dapat menyelamatkan mereka. Dan tidak ada perlindungan saat ini, kecuali perlindungan dari langit. Bulan ini adalah suatu bulan suci. Selama berabad-abad, sejak permulaan kehidupan manusia di muka bumi, bulan ini telah disucikan. Muharram adalah suatu bulan yang amat suci, bulan yang amat dahsyat. Kekuatan Ilahiah dan kekuatan langit dari Allah Yang Maha Agung selalu datang pada bulan ini, ketika Ia bermaksud untuk mengambil pembalasan atas orang-orang yang tidak patuh. Jangan taruh kepala Anda di bawah pisau guillotine. Siapa yang menaruh kepalanya di bawah pisau guillotine itu, akan terpenggal - tidak mungkin tidak. Dan peringatan telah datang: Segera tarik kepala Anda keluar atau pisau guillotine akan singgah pada leher Anda!

Berapa juta orang telah menaruh kepala mereka (di sana) - dalam satu saat saja mereka akan ter-renggut. Pisau itu bukanlah seperti pisau Guillotine Perancis, satu per satu, tidak. Huu… Berhati-hatilah terhadap guillotine langit! Jangan berkata: “Aku begini, aku begitu, aku tidak takut.” Ha, ha, ha. Kepala-kepala mereka akan ditaruh di sisi badan-badan mereka: “Ini adalah kepala Anda, ini adalah badan Anda”. “Ambillah dan pergilah”.
Waspadalah, wahai manusia! Waspadalah! Perasaan ini kini tengah berdatangan melalui orang-orang dengan hati yang tulus, bahwa mereka mesti meminta suatu naungan dari langit. Dan naungan yang akan dikaruniakan hanyalah naungan dari Sayyidina Muhammad salla-Llahu ‘alayhi wa aalihi wa sallam. Orang-orang harus diberitahu: “Pergilah dan naungi dirimu sendiri di bawah naungan seseorang yang paling terhormat. Jangan (berkeliaran) di luar! Jika kalian tidak berada di dalam ruangan, kalian akan dicabut pergi.”

“La ilaha ill-Allah hasni, wa man dakhala hasni amina min adzaabii”. Tauhid (keesaan) dari Allah , Keesaan Allah , “Laa ilaha ill-Allah”, tidak akan diterima tanpa ucapan: Muhammad Rasulullah salallahu ‘alayhi wa sallam”. Itu adalah istana Tuhan di muka bumi, di tempat mana orang yang memasukinya, akan memperoleh keamanan, adalah istana dari “Laa ilaaha ill-Allah, Muhammad Rasulullah“ salallahu ‘alayhi wa sallam, dan bendera itu sudah berada di atas menara istana itu saat ini. Ia dapat dilihat dari Timur Jauh hingga Barat Jauh, dari Utara Jauh hingga Selatan Jauh- di mana pun kini, ia dapat dilihat.

Semoga Allah mengampuni saya dan mengizinkan kita untuk memasuki istana Tuhan itu. Ada istana Windsor, tapi ini adalah istana dari Tuhan segenap langit, untuk berucap: “Laa ilaaha ill-Allah, Muhammad Rasulullah salallahu ‘alayhi wasallam”. Masuklah ke dalamnya, dan Anda akan aman! Siapa yang berada di luar, Huuu…… Tamatlah.

Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Aziz Allah,
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Karim Allah,
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Subhan Allah,
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Sultan Allah.

Sultan-ul Mutlak. Kesultanan Absolut, Kesultanan abadi hanya untuk Tuhan kita, Allah ‘Azza wa Jalla! Terimalah permohonan ampun kami, kami hanyalah hamba-hamba-Mu yang lemah. Kirimkanlah pada kami, ia yang akan mengambil diri kami, tidak untuk ditaruh di bawah pisau guillotine, tetapi yang akan menyelamatkan leher-leher kami dari pisau guillotine. Setan dan pengikut-pengikutnya akan berada di bawah pisau itu, jangan sampai kami bersama mereka. Wahai Tuhan kami, izinkan kami untuk menyertai hamba dan utusan-Mu yang paling terhormat, Sayyidina Muhammad salallahu ‘alayhi wa aalihi wasallam. Bi hurmati-l Habib. Faatihah.

posted by Mevlana as Sufi at 10:43 AM 0 comments

Pekerjaan Ringan, Amal yang Berat
Syaikh Muhammad Hisham Kabbani
Sohbet, 24 Februari 2002


Rasulullah bersabda, “Kalimataani khafiifataani ‘ala al-lisan thaqiilataan fil-miizan, subhanallah wa bihmdihi subhanallah il-‘adziim.”[1] [dan kita menambahkan ‘astaghfirullah’ di bagian akhirnya] “Dua frase yang ringan di lidah, akan tetapi berat dalam timbangan, Mahasuci Allah dan kepada-Nya segala puji, Mahasuci Allah Yang Maha Agung.” Ketika Allah bertanya kepadamu dan amalanmu ditimbang, sisi kanan timbangan menjadi sangat berat dengan dua frase tersebut.

Wahai umat Muslim! Jangan biarkan dirimu sibuk dengan urusan dunia. Jagalah frase ini dan ucapkanlan terus-menerus karena mereka akan menyelamatkanmu di hari Pembalasan kelak. Di hari itu Allah akan bertanya kepada hamba-Nya tentang apa yang telah mereka lakukan. Apakah kalian sudah membuat persiapan untuk hari itu?

Dewasa ini jika IRS, atau orang dari dinas pajak datang untuk menanyakan pendapatanmu, apa yang kalian lakukan? Kalian akan gemetar. Meskipun mungkin kalian tidak membuat suatu kesalahan. Atau muingkin kalian berbuat suatu kesalahan tanpa maksud buruk, tetapi tetap saja kalian gemetar.

Lupakan soal pajak pendapatan tadi—sekarang pikirkan tentang imigrasi. Bagi mereka yang tidak mempunyai paspor biru, petugas imigrasi akan bertanya kepada kalian dan tentu kalian akan gemetar—karena kalian tidak memiliki paspor. Para petugas melakukan pemeriksaan seperti biasa, jadi apa yang akan kalian lakukan? Jika saja kalian tidak bisa menunjukkan paspor, tentu mereka akan memulangkan kalian.

Apakah kita telah mempunyai paspor untuk ke Surga? Apakah kita telah mempunyai paspor hijau? Belum?

Tidak, kita tidak mempunyainya! Hanya ada 10 yang telah mempunyainya, al-‘ashara al mubashara—ada 10 sahabat yang telah diberikan kabar baik, sisanya kita belum tahu. Jika kita tidak mempunyai paspor dari Surga, itu berarti kita akan gemetar.

Mengapa kita takut dengan orang dari dinas pajak tadi, atau imigrasi, tetapi kita melupakan Tuhan kita? Melupakan bagaimana kita akan gemetar di hadapan-Nya kelak pada Hari Pembalasan. Jadi untuk menyelamatkan kita, Allah telah mengutus Rasulullah dengan maksud dan cara yang beragam, salah satunya yang diajarkan beliau adalah, “Kalimataani khafiifataani ‘ala al-lisan thaqiilataan fil-miizan, subhanallah wa bihmdihi subhanallah il-‘adziim.”

Wahai Muslimin! Frase itu sangatlah ringan di lidah, kita tidak perlu bekerja keras, “Subhanallah wa bihmdihi subhanallah il-‘adziim.”

Allah Mahabesar, Allah Mahatinggi. Frase ini akan menyelamatkanmu dari hukuman. Apakah kita akan mengerjakannya? Tidak? Mengapa? “Karena kita tidak mengetahuinya. Tidak ada satu pun yang memberi tahu kepada kita,” kata beberapa orang di antara mereka. Tetapi Rasulullah telah menyebutkannya. Jadi tugas kitalah untuk meneliti dan menemukannya, bukan hanya duduk dan tanpa melakukan apa-apa, menunggu datangnya makanan, kemudian makan dan kita pergi menghabiskan waktu untuk hal-hal yang sia-sia. Sebagaimana kalian makan untuk kebutuhan jasmani, ada juga makanan untuk roh. “Subhanallah wa bihmdihi subhanallah il-‘adziim,” apakah semua orang mengerjakannya? Tidak, jangan bohong.

Kalian boleh membacanya setiap Subuh (sebagaimana Maulana mengerjakannya setiap hari) . Lakukanlah hal itu kapan saja setiap hari. Kelak itu akan meningkatkan amalanmu. Dia akan menyiapkan beberapa file bagimu. Jangan sampai pergi dengan tangan hampa.

Jika kalian akan diaudit oleh dinas pajak, kalian akan menyiapkan banyak file. Mereka akan bertanya kepadamu, “Bagaimana dengan pengeluaran ini?” dan kalian menjawab, “Ini dia, Aku mempunyai tanda terimanya untuk itu.” Kalian mempunyai catatan dan tanda terima dan segala bentuk dokumentasi untuk keperluan semacam ini. Apakah kalian telah menyiapkan suatu file untuk Akhirat? Demikiankah kalian—wahai orang terpelajar? Jangan pernah berpikir bahwa kalian telah mengetahui segala sesuatu.

Apapun yang kita kerjakan bahkan belum tentu diterima. Jangan menghitung berapa banyak yang telah kalian kerjakan. Itu adalah permainan ego. Cobalah untuk selalu berbuat lebih banyak lagi.

Sayyidina ‘Umar selalu mencoba agar setiap hari beliau mengerjakan sesuatu lebih banyak dari hari sebelumnya, sehingga hari berikutnya lebih baik daripada kemarin. Itulah cara agar kalian bisa menyelamatkan diri dengan baik.

Di dunia ini, apabila kalian memakan nasi atau daging, sama saja, keduanya akan memenuhi perut. Hal ini berarti jika kalian bisa menggenggam seluruh dunia ini, tidak akan ada manfaatnya. Tetapi Allah memberi banyak hal, sebaiknya bergembiralah dan bersyukurlah, dengan demikian Dia akan memberi lebih banyak lagi kepada kalian.

Tidak akan pernah terjadi—jika kalian berada di jalan Allah —kalian menemukan suatu hari yang penuh dengan kesulitan. Lain halnya jika kalian berada di jalan ego dan jalan Setan lalu, “Allahu Akbar!”—kalian akan selalu mendapat masalah.

Lihatlah pada binatang. Barangkali lebih banyak binatang daripada manusia. Apakah mereka mati kelaparan? Tidak, mereka makan. Mereka menemukan sesuatu—Allah memberi mereka. Mereka tidak berada di jalan Setan. Hidup mereka penuh dengan bertasbih. Ketika tasbih mereka berhenti, hidup mereka pun berakhir. Mereka tidak pernah mati karena kelaparan—Allah yang mengirimnya. Mereka akan menemukan sesuatu.

Tetapi ummat manusia tidak menyerah, mereka justru mengejar rizq—rezeki mereka. Jika kalian berada di jalan-Nya, Dia akan membukanya bagimu lebih, lebih dan lebih banyak lagi.

Saya pernah bersama Maulana Syaikh Nazim di Indonesia. Kami melintas begitu banyak perkampungan. Kami harus menempuh suatu perjalanan panjang menuju zawiya Syaikh Abah Anom . Kami melihat desa-desa yang terpencil, orang-orang tua yang berusia kira-kira 90 tahun, duduk di sawahnya. Mereka mempunyai sedikit nasi dan mereka meletakkannya di dalam selembar daun pisang dan mereka begitu bergembira, begitu puas dengan satu porsi nasi yang sedikit itu. Mereka mengucapkan, “Alhamdulillah, tanpa mengeluh.” Allah membuat mereka bahagia dengan sedikit nasi itu. Hidup mereka adalah surga bagi mereka. Mereka tidak menanggung suatu beban, mereka juga belajar untuk membuat sebuah rumah. Rumah mereka terbuat dari seng atau jerami dan batang bambu. Mereka bergembira. Dan ketika mereka meninggal mereka akan seperti raja di negeri yang lain. Ketika mereka meninggal dunia mereka akan sama keadaannya.

Dunia ini tidak akan membuatmu menjadi orang yang penting. Yang membuatmu penting adalah apa yang kalian perbuat selama hidupmu untuk akhirat. Dunia ini ada akhirnya. Kalian tidak bisa mengambil sesuatu darinya. Sekali pun hanya turban, atau pakaian, mereka melucuti semuanya darimu. Dan jika kalian mempunyai gigi emas, orang yang menguburmu akan membuka makam, siapa yang peduli padamu, kalian sudah meninggal, dia akan mengambil gigi itu dan menjualnya. Tidak hanya keramik yang mereka ambil, jadi tidak ada lagi bisnis bagi pengurus pemakaman ini.

Jadi apa yang kalian ambil dari dunia ini? Tidak ada. Jangan membuat dunia ini sebagai sesuatu yang paling kalian pikirkan—la taj’al ad-dunya akbara hammik. Lihatlah pada Fulan [saudara yang rendah hati dan sangat miskin] dia tidak peduli, dia sibuk menghitung cincinnya. Lihatlah padanya, dia bermain, dia tidak mendengar. Dia berserah diri. Dia akan makan jika ia mendapat makanan . Dia tidak peduli.

Jadilah orang tuli, bisu, buta. Jangan mendengar, melihat, jangan berbicara. Tetapkan hatimu bersama Allah. Kalian adalah Muslim. Menyerahlah kepada Allah . Jangan menyerah kepada Setan. Jangan keluar dari sini lalu mulai berkelahi. Jangan menjadi sombong. Jangan! Ingatlah kata-kata ini.

Allah mengutus Rasulullah dengan maksud dan cara yang beragam, salah satunya yang diajarkan beliau adalah, “Kalimataani khafiifataani ‘ala al-lisan thaqiilataan fil-miizan, subhanallah wa bihmdihi subhanallah il-‘adziim.” Bacalah frase ini terus-menerus. Kelak kalian akan memahaminya didalam kematian. Pada saat itu baru kalian akan ketahui, betapa berharganya frase tersebut.

Semoga Allah memaafkan kita. Semoga Dia memperlihatkan kembali Eid setelah Eid.
[1] Sahih Bukhari, volume 8, buku 78, #673. Diriwayatkan dari Abu Hurairah .

Wa min Allah at taufiq
posted by Mevlana as Sufi at 10:43 AM 0 comments

Posisi Thariqat Naqshbandi
Syaikh Muhammad Nazim al Haqqani dalam
Mercy Oceans Book Two


Insya Allah kita akan segera membicarakan mengenai suatu hal yang sangat penting, yaitu mengenai aliran Thariqat. Begitu banyak orang telah datang ke Damaskus dari berbagai negeri asalnya untuk mengunjungi kami. Beberapa di antara mereka sudah terikat dengan seorang Syaikh dan mengikuti thariqat tertentu. Mereka meminta bay’at yang baru. Salah satu dari mereka, Syaikh Salahuddin mengalami konflik mengenai hal ini dalam batinnya. Kami harus memperjelas hal ini bagi setiap orang di seluruh dunia agar mereka mengetahui apa itu thariqat, apa itu Syaikh, berapa banyak jumlah mereka dan bagaimana hubungan mereka satu sama lain.

Allah akan bertanya kepada setiap orang di Hari Akhir nanti, “Apa yang kamu bawa hari ini, wahai hamba-Ku?” Apakah kamu membawa Qalb-us-Saliim, hati yang murni, hati emas yang mulia?” Allah meminta setiap orang agar mempunyai hati yang bersih. Dan kalian hanya bisa mendapatkannya melalui thariqat. Mereka yang tidak menjalani thariqat hanya akan memenuhi hidupnya dengan kehidupan luar, menjauhkan hatinya. Ada 41 aliran thariqat, 40 di antaranya diturunkan melalui hati Imam ‘Ali dan yang satu lagi adalah thariqat Naqshbandi berasal dari Abu Bakar as-Shiddiq . Rasulullah mempunyai 124.000 sahabat. Siapakah sahabat terdekatnya? Beliau adalah Abu Bakar . Rasulullah bersabda, “Seluruh hal yang Allah percayakan kepadaku di malam ‘Isra, Aku telah tanamkan dalam hati Abu Bakar .” Sayyidina Ali telah dihubungkan dengan Abu Bakar sedemikian rupa sehingga Sayyidina Ali mendapat gelar Kota Pengetahuan. Hal ini dikenal sangat baik di antara para Syaikh pemegang thariqat yang sebenarnya. Mereka semua menhormati thariqat Naqshbandi sebagai yang pertama. Syaikh yang sejati, bukanlah mereka yang menyebut dirinya sendiri sebagai Syaikh. Seluruh Syaikh yang termahsyur, seperti: Jilani , Rumi , Darqawi , Rifa’I mereka semua mengetahui posisi sebenarnya dari thariqat Naqshbandi.

Sekarang apabila seseorang berada dalam satu aliran thariqat, mereka bisa saja mengambil thariqat Naqshbandi dan tetap bebas menjalankan amalan-amalan sebagaimana biasanya dalam menjalankan amalan thariqat Naqshbandi. Dengan hanya melakukan amalan thariqat Naqshbandi saja sebetulnya sudah cukup. Tidak menjadi masalah meskipun kalian berasal dari thariqat lain kemudian pindah dan mengikuti thariqat Naqshbandi. Beberapa orang merasa khawatir bahwa Syaikh. Mereka akan marah jika mendengar ternyata muridnya telah menganut thariqat kedua. Apabila ia seorang Syaikh sejati, maka tidak mungkin ia akan marah? Seorang Syaikh yang sejati harus mengetahui apakah muridnya akan bersama dia di Hari Perjanjian (pada awal penciptaan) kelak atau tidak. Seorang penggembala akan mengenal baik keadaan biri-birinya, meskipun satu dalam seribu, meskipun biri-biri itu semuanya berwarna putih. Dia memiliki cahaya di matanya dan dapat mengenal mereka semua tanpa membuat kesalahan. Di dalam thariqat tidak akan terjadi kedukaan apabila seorang murid meninggalkan dan pergi kepada Syaikh yang lain. Seorang Syaikh akan berkata: ”Kami berterima kasih kepada Syaikh pertama yang telah melatihnya sampai dia bertemu Syaikh yang sejati”.

Abu Yazid berkata, “Selama melakukan pencarian, Aku bertemu 99 Syaikh sebelum Aku bertemu Grandsyaikh Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Shiddiq .” Kalian bisa bertemu dengan banyak Syaikh dan melakukan suatu amalan, tetapi tidak akan menemukan kepuasan sampai akhirnya kalian menemui Grandsyaikh kalian, lalu seperti sungai yang bertemu samudera. Begitu banyak Syaikh yang hanya menjadi pelatih, sampai akhirnya Grandsyaikh memanggilmu. Bukan melalui surat, dari hati ke hati, di sana banyak sekali jalan. Jika seorang Syaikh Naqshbandi memberi thariqat, beliau harus memberitahu muridnya siapa Grandsyaikh di thariqat Naqshbandi saat itu dan beliau harus mengarahkan kepadanya.

Begitu banyak orang dari Barat yang berdatangan sekarang, diundang melalui hatinya untuk bertemu dengan Grandsyaikh. Mata rantai Masyaikh berakhir pada satu titik. Grandsyaikh adalah mata rantai terakhir didalam Mata Rantai Emas dan beliau memegang posisi tersebut, Saya (Syaikh Nazim-red) hanyalah hambanya. Untuk Masyaikh Naqshbandi, kita semua menunggu mereka untuk memperbarui bay’at-nya terhadap kita, jika tidak, mereka hanya menyematkan gelar di diri mereka sendiri. Imam Mahdi dan ketujuh wazir besarnya, 40 kalifa, 99 termasuk 40 orang yang berada di sisi wazir dan 313 Mursyid besar semua berada didalam thariqat Naqshbandi. Di masa ini tidak ada kekuatan bagi thariqat lain untuk membawa seluruh orang mencapai tujuan akhirnya. Oleh sebab itu semuanya diundang untuk memperbarui bay’at melalui Grandsyaikh dan kemudian semua akan merasakan adanya perbaikan didalam dirinya. Di masa kita, ada sekitar 1000 Syaikh Naqshbandi, tetapi hanya satu Grandsyaikh. Untuk membawa mereka semua, kemudian siapakah yang akan menjadi Imam? Bayangkan 124.000 sahabat dibawa, siapakah yang akan menjadi Imam? Abu Bakar .

Setiap Syaikh harus menunjuk satu orang deputi. Maulana Khalid al-Baghdadi menunjuk Syaikh Ismail , tetapi banyak sekali cabang thariqat Naqshbandi yang menghilangkan namanya dari silsilah dan dengan demikian juga kehilangan rahasia Grandsyaikh. Sekarang banyak sekali Syaikh Naqshbandi yang berada di Damaskus, Aleppo, dan Homs tidak dapat menemukan penerusnya. Kecuali bagi Grandsyaikh kita, tidak ada seorang pun yang ditunjuk sebagai deputi. Hal ini karena kita mempunyai Syaikh Ismail didalam silsilah kita.

Wa min Allah at taufiq
posted by Mevlana as Sufi at 10:43 AM 0 comments

Karakteristik Hamba Allah
Syaikh Nazim al-Qubrusi al Haqqani an Naqshbandi
dalam On the Bridge to Eternity


Taubat

Taubat berarti tidak menuruti kemauan keempat musuh utama kita, yaitu: nafs (ego), hawa (keinginan untuk menonjolkan diri), dunya, dan Setan. Seseorang bisa mengikuti Tuhannya atau bersama keempat musuhnya tadi. Jika seseorang memohon untuk kembali kepada Tuhannya, dia harus berjuang melawan keempat musuhnya dan tidak mendengarkan perintah mereka.

Bagaimana Caranya agar Kita Diterima di Sisi Allah? Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad Daghestani menggambar-kan bagaimana seorang Darwis bisa diterima sebagai hamba Allah . “Dia harus memiliki satu karakter masing-masing dari tiga ekor binatang.” Beliau berkata, “Dari keledai, dia harus mampu menanggung beban dengan sabar dan tidak mengeluh. Jika dia tidak dapat melakukan hal itu maka dia tidak akan berhasil, sebab tanpa kesabaran, seseorang tidak akan bisa mengemban tanggung jawab didalam kehidupannya.”

Dari anjing, dia harus belajar bersikap loyal kepada majikannya. Jika seorang majikan menyuruh anjingnya untuk tinggal di suatu tempat sampai dia kembali, anjing itu akan menurut, bahkan ia akan tinggal di sana sampai mati. Jika si pemilik memukul dan mengusirnya, anjing itu akan tetap kembali dengan ekor dikipas-kipas ketika majikannya memanggilnya.

Akhirnya, orang harus merasa terlihat seperti babi, dia harus tahu bahwa egonya lebih kotor dan menjijikan daripada seekor babi. Kotornya babi adalah hanya karena faktor eksternal, yaitu karena memakan makanan yang kotor. Tetapi kotornya ego berasal dari dalam dan timbul karena melawan Tuhannya. Seorang manusia baru akan sempurna jika ia mempunyai karakter untuk selalu mampu menerima segala hinaan yang ditujukan kepadanya, baik dengan ucapan ataupun dengan perbuatan, karena dia tahu sesungguhnya egonya lebih kotor dan hina (dari seekor babi).

Ketiga karakter tersebut akan membuat seseorang merasa tenteram dan hatinya penuh kepuasan. Hanya dengan jalan inilah dia bisa mencapai kesenangan dalam hidupnya. Ini adalah karakteristik yang dimiliki para Nabi, Rasul serta para Awliya.

12 Karakter Positif dari Anjing

Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani berkata, “Ada 12 karakter positif dari anjing yang bisa ditemukan dalam diri Nabi dan Rasul serta Awliya, di antaranya adalah:

·Tidak pernah melupakan kebaikan, mereka tidak melupakan siapa saja yang pernah berbuat baik kepadanya.
·Mereka selalu sabar dan bersyukur atas segala nikmat yang diberikan kepada mereka.
·Mereka tidak pernah marah kepada pemiliknya, bahkan jika mereka dipukul dan diusir, mereka akan tetap datang dengan senang hati ketika pemiliknya memanggil mereka.
·Mereka rendah hati, penurut, jujur, dapat dipercaya, ramah, loyal, selalu ingat kepada pemiliknya dan tidak pernah berkhianat.
·Mereka puas dengan hal-hal yang sedikit, mereka bersifat ‘zahid’ tidak peduli dengan apa yang ada di dunia ini.
·Mereka tidak memiliki apa-apa di dunia ini, bahkan mereka tidak punya tempat untuk mereka sendiri.
·Mereka bisa tidur di mana saja dan jika seseorang melemparkan batu kepadanya, dengan segera mereka bangkit dan pergi ke tempat lain.
·Mereka sangat jarang tidur, tidak tidur berlebihan dan dengan mudah dapat terjaga.

Jika seseorang memiliki karakter di atas, dia adalah seorang Wali. Kedua belas sifat itu dimiliki oleh Nabi dan Rasul serta Awliya.

Allah Menguji Hamba-Nya

Allah menguji hamba-Nya untuk melihat apakah mereka sabar dalam menerima ujian tersebut. Kita harus selalu ingat akan hal ini agar pada saat sesuatu terjadi menimpa kita, kita akan kuat menghadapinya. Kita harus tetap bersabar pada saat menghadapi serangan pertama. Kita harus tetap menjaga iman kita agar kekuatan kita menjadi bertambah dan sebaliknya membuat musuh akan semakin lemah. Musuh kita yang sebenarnya adalah ego kita sendiri. Didalam jihad akbar melawan ego, siapa yang bersabar akan menang dan seorang yang pemarah akan kalah.

Akankah Kalian Bersabar?
Kesabaran adalah sebuah tindakan melawan semua keinginan ego.
Ada 3 tipe kesabaran, yaitu:

·Sabar terhadap ketidak nyamanan fisik
Misalnya bangun di pagi hari yang dingin untuk melaksanakan shalat, berwudhu dengan air yang dingin, antri, tidak merasakan kenyamanan ketika kita sedang sakit, atau pada saat2 kita sedang menyelesaikan tugas yang sulit dan sebagainya. Allah sangat menghargai orang yang tetap bersabar dan kukuh dalam melaksanakan ibadah di tengah berbagai kesulitan seperti itu.

·Menahan diri dari segala hal yang dilarang
Sebuah hadits mengatakan, “Hidup sebagai hamba dan menjauhi hal-hal yang dilarang adalah lebih berharga dibandingkan ibadah seluruh malaikat, manusia dan Jinn selama hidupnya.”

·Bersabar dalam menghadapi orang yang mengganggu kita.
Ini adalah tipe kesabaran yang paling baik di antara ketiganya. Al-Qur’an mengatakan, Kami menguji beberapa di antara kalian dengan orang-orang lainnya di antara kalian.”

Kesabaran adalah hal yang paling penting dalam hidup manusia. Jika kalian mempunyai kesabaran, seluruh kebaikan akan kalian dapatkan. Pandangan Allah tertuju pada diri kalian, jadi akankah kalian bersabar?

Tanda2 Kesehatan Spiritual.

Seseorang yang mempunyai karakter baik juga mempunyai kehidupan spiritual yang sehat. Dari jumlah banyaknya keluhan orang, mungkin kalian akan segera mengetahui berapa banyak karakter buruk yang masih tertinggal didalam diri seseorang. Dan ketika kalian mampu menghilangkan seluruh keluhan yang kalian miliki, kalian kemudian akan mengetahui bahwa kalian itu sehat dan tidak ada lagi karakter buruk yang tertinggal.

Hal ini sangat penting bagi seseorang untuk memiliki karakter yang baik. Jika seseorang tidak mempunyai keluhan lagi, berarti dia sudah memiliki kesabaran dan ini berarti dia mempunyai iman yang sejati. Apabila kalian bisa melepaskan diri dari daya tarik semua sifat2 buruk, maka tidak akan ada lagi kesulitan yang akan menimpa kalian baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Kalian harus selalu ingat bahwa segala sesuatu itu terjadi se-mata2 adalah atas kehendak Allah. Inilah kuncinya, obat bagi segala penyakit hati. Kalian harus berkata, “Mengapa aku harus mengeluh, bila Allah yang memerintahkan ini semua harus terjadi?” Bila kalian mampu mengingat hal ini kalian akan merasa puas dengan segala kehendak-Nya dan akan setuju dengan semua itu.

Kekafiran yang Tersembunyi

Ketika seseorang tidak sadar bahwa sebenarnya Pengelihatan Allah itu tertuju kepadanya, maka di mana pun dia berada dan kapan saja, dia bukanlah seorang Mukmin, atau dia bukanlah orang yang beriman. Kalian harus selalu membayangkan dalam hati bahwa Pengelihatan Allah selalu bersama kita. Jika kalian melupakannya , maka kalian akan absen didalam Hadirat-Nya dan sebaliknya kalian akan hadir di hadapan ego. Segala tindakan yang baik hanya akan timbul dengan tetap menjaga kesadaran ini dalam ingatanmu.

Jika seseorang melakukan tindakan yang tidak disukai oleh Allah, Rasulullah dan Awliya, itu berarti dia dianggap sebagai seprang ‘kafir yang tersembunyi’, seorang yang tidak beriman yang tersembunyi. Kita diperintahkan untuk membersihkan diri kita, baik dari tindakan kafir yang terang-terangan maupun yang tersembunyi. Oleh sebab itu kalian harus selalu berhati-hati dengan segala tindakanmu baik yang terang-terangan maupun yang dirahasiakan. Kalian harus selalu menjaga keseimbangan dengan demikian semua tindakan kalian akan selalu penuh pertimbangan. Kalian harus selalu menyadari tindakan2 yang sedang dilakukan atau yang akan dilakukan. Yakinkanlah dirimu bahwa tindakan itu disukai oleh Allah, Rasulullah dan Awliya. Apabila kalian mengetahui bahwa tindakan itu akan disukai oleh Allah, Rasulullah dan Awliya, kalian boleh melakukannya, jika tidak kalian harus meninggalkannya.

Jika seseorang selalu mempertimbangkan semua tindakannya di dunia ini, maka tidak akan ada lagi penimbangan di Hari Pembalasan kelak. Rasulullah bersabda, “Lebih berharga bagi Allah jika seseorang duduk selama 1 jam untuk berpikir dan mempertimbangkan tindakannya daripada dia beribadah selam 70 tahun!” Karena kalian bisa saja menghapus 70 tahun ibadah dengan satu tindakan yang tidak disukai Allah, tetapi jika kalian mempertimbangkan tindakanmu lebih dulu dengan pikiranmu, kalian akan bisa melewatinya dan menghindari diri dari keburukannya.

“Malayani”—itu Bukan Urusanmu

Malayani berarti itu bukan urusanmu, kalian tidak perlu berbicara atau bertindak tentang segala hal yang bukan menjadi urusan kalian. Jika seseorang selalu menjaga lidahnya dan peduli dengan segala ucapannya, Allah akan memberikan Kebijaksanaan Ilahi kepada lidahnya, sehingga dia hanya akan berbicara tentang kebenaran dan kebajikan.
Berbicara tentang hal “yang bukan urusanmu” akan membuat iman menjadi lemah. Maka jika kalian meninggalkan kebiasaan buruk ini, iman kalian akan menjadi kuat. Kalian tidak bisa mengetahui apa2 yang menjadi urusanmu atau yang bukan. Melalui inspirasi barulah kalian akan bisa mengetahui mana2 yang menjadi urusanmu dan mana yang bukan.

Apakah Kita Membangun? atau Menghancurkan?

Jiwa dari semua ibadah kita ini terdiri atas 3 bagian, yaitu: menjaga lidah dari segala ucapan dan pembicaraan yang dilarang, dengan demikian kita hanya berbicara yang baik-baik saja dan meninggalkan yang segala buruk. Yang kedua adalah menjaga mata dari pengelihatan yang dilarang, yaitu tempat-tempat yang kotor dan perbuatan yang buruk. Dan ketiga adalah menjaga seluruh organ tubuh kita dari tindakan yang dilarang, baik mendengar, berjalan, menyentuh, berpikir tentang hal-hal yang buruk atau mempunyai niat yang buruk.

Tanpa menjaga mata, lidah dan seluruh organ dari segala yang dilarang, kalian tidak akan bisa mendapat manfaat dari perbuatan dan amal kebaikanmu. Seperti ketika kalian menanam sesuatu, kalian harus merawatnya agar tetap aman dan melindunginya dari hal-hal yang buruk yang bisa membahayakan dirinya. Kita harus tahu apa yang kita kerjakan. Adakah kita membangun? Atau bahkan kita menghancurkan? Setiap hal yang dilarang tentu akan merusak bangunan kita, merusak tubuh kita baik secara fisik maupun spiritual.

Pertama, Lawanlah terlebih dahulu Dirimu Sendiri

Salah satu tanda dari seorang hamba Allah adalah, bisa meletakkan organ tubuh di bawah kehendaknya. Jika seseorang tidak bisa melakukannya dia adalah hamba ego atau nafs. Kalian harus bisa menasihati diri sendiri sebelum menasihati orang lain. Apabila dirimu telah menerima untuk berada didalam pengendalian atau perintahmu barulah orang lain akan bisa menerima perintahmu. Ini adalah jalan yang diberikan oleh Rasulullah dan Awliya. Pertama mereka berusaha melawan dirinya sendiri dulu, baru setelah itu mereka beralih kepada orang lain. Maka ketika mereka berbicara, perkataan mereka mempunyai pengaruh terhadap orang yang mendengarnya, dan jika seseorang mendengarnya, mustahil dirinya tidak mendapat suatu manfaat dari apa yang dikatakan oleh Rasulullah atau para Awliya. Dan kemudian dia akan mendapatkan kekuatan mengontrol egonya untuk melangkah ke arah jalan yang benar.

Tidak cukup dengan berkata, “Saya adalah Muslim,” dan hanya mengucapkan Syahadat. Kalian harus mencoba untuk menjaga seluruh organ tubuhmu agar jauh dari segala tindakan yang bukan Muslim, jauh dari semua hal yang haram dan yang dilarang.
posted by Mevlana as Sufi at 10:43 AM 0 comments

Iman kepada Hari Kemudian
Mawlana Syaikh Nazim Adil al Qubrusi al Haqqani
Mercy Oceans Book Two


Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani berkata bahwa setiap orang harus mengetahui bahwa dia berada dalam kehidupan yang bersifat sementara. Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah , kita menyakini adanya Hari Kemudian sebagai salah satu rukun Iman. Seluruh Rasul diutus untuk memberi petunjuk kepada semua orang mengenai adanya kehidupan di Hari Kemudian. Grandsyaikh kemudian menyampaikan sebuah cerita berkaitan dengan hal ini.

Pada suatu hari seorang Syaikh besar yang terpelajar kedatangan sekelompok tamu yang mengaku sebagai orang modern. Mereka bermaksud untuk berbuat iseng terhadap Syaikh yang menurutnya sangat kuno dan ketinggalan zaman. Mereka berkata, “Wahai Syaikh apakah engkau percaya kepada Surga dan Neraka dan Hari Kemudian?” “Ya!” “Yakin?” “Ya!” “Bagaimana engkau bisa percaya tanpa melihatnya?” “Mudah saja! Apakah kalian tidak percaya bila tidak melihatnya?” “Tidak!” “Apa kalian yakin?” “Ya!” “Kalau begitu Saya akan mengajukan satu pertanyaan,” kata Syaikh. Katakanlah kalian bertujuh berada di suatu tempat lalu tuan rumah membawakan sepoci besar susu. Orang itu berkata, ‘Silakan diminum!’

Kemudian ada seseorang di luar yang memanggil kalian, kalian semua pergi menemuinya kecuali satu orang yang menunggu di dalam. Orang yang tetap tinggal di dalam adalah orang asing dan bukan seagama denganmu. Ketika kalian kembali, dia berkata, ‘Jangan minum susu itu! Saya melihat seekor ular datang dan meletakkan mulut dan bisanya ke dalam bejana itu.’ Nah, sekarang bisakah kalian meminumnya?” mereka menjawab, “Tidak!” “Mengapa? Apakah kalian melihat ular itu?” “Tidak!” “Berarti kalian percaya kepada satu orang walaupun dia orang asing? Mungkin saja setelah kalian pergi, kemudian dia sendiri yang meminum semua susu tersebut.” Mereka berkata, “Wahai Syaikh, hidup ini tidak murah, kami harus waspada.” “Wahai anakku, kalian sungguh bodoh! Kalian percaya kepada satu orang untuk hal tadi tetapi tidak percaya kepada 124.000 Nabi yang semuanya datang dan mengatakan hal yang sama, ‘Wahai manusia berhati-hatilah dengan kehidupan di dunia dan di Hari Kemudian’ Apakah mungkin 124.000 nabi percaya kepada suatu kebohongan? Saya tidak melihat adanya akal sehat di diri kalian. Bagaimana kalian bisa mengaku sebagai orang yang modern?” “Oh Syaikh! Engkau benar, itu adalah suatu hikmah dan kami percaya terhadap apa yang engkau katakan.”

Pernahkan seseorang melihat Surga? Ya! Ayah Adam dan Ibu Hawa diciptakan dan tinggal di sana. Beliau berkata kepada kita dan setiap Nabi dan keturunannya juga berkata tentang hal yang sama. Wahai anakku, jagalah Iman kepada Tuhanmu dan jangan tertipu oleh kehidupan di dunia ini. Ini bukanlah hidup yang sebenarnya, hidup yang sebenarnya adalah di Hari Kemudian.

(kemudian ada yang bertanya tentang asal-usul dosa) Nabi Adam as membawa benih seluruh anaknya dalam ruas-ruas tulang belakangnya. Beberapa di antara mereka adalah orang yang beriman sedangkan yang lainnya kafir. Seolah-olah ada angin yang kuat yang mendorongnya untuk memakan buah dari pohon itu. Anak-anak yang kafir dalam tulang belakangnya-lah yang mendorongnya untuk makan buah dari pohon itu. Kebijaksanaan Allah yang mengirim mereka ke Bumi untuk memisahkan mana yang beriman dan mana yang kafir. Orang yang beriman akan kembali ke Surga dan yang tidak beriman kembali ke tempatnya.

Ketika Nabi Adam as memohon taubat, beliau memohon untuk seluruh anak-anaknya, beliau sendiri yang menanggung dosa-dosa mereka. Tetapi bukan berarti beliau yang melakukan dosa-dosa tersebut, beliau adalah seorang Nabi dan para Anbiya bersifat ma’sum, terpelihara dari dosa. Tetapi sebagai seorang Ayah, dia memohon taubat atas nama anak-anaknya. Ini adalah suatu rahasia dari takdir Allah. Kita hanya mengetahui bahwa Nabi Adam as memakan buah itu dan bertaubat, sebagaimana seorang Ayah memohon ampun atas dosa-dosa anak-anaknya dan Nabi Adam as adalah Ayah dari seluruh ummat manusia. Allah memberi kasih-sayang dan ampunan kepada semua anak Nabi Adam as. Kita semua hidup dalam kasih-sayang ar Rahmaan.

Kita yakin dan berhak untuk yakin, karena banyak Nabi dan Awliya yang telah melihat Surga dan Neraka. Banyak pula orang-orang beriman yang telah melihatnya dalam mimpinya. Tak satu pun yang bisa membuktikan bahwa tidak ada kehidupan di Hari Kemudian nanti. Kalian bisa bertemu dengan bermacam-macam golongan. Jika kalian menemukan salah seorang dari mereka mengajak untuk kepentingan hidup di Hari Kemudian, jagalah silaturahim dengan mereka, sebanyak mungkin yang kalian bisa. Manfaat yang bisa diambil dari kebersamaan itu adalah semua atribut dan karakter baik akan terhimpun dalam Iman yang kuat di Hari Kemudian. Dengan demikian semua hal yang baik ikut berkembang. Kalian bisa melihat semua hal buruk berkembang di antara mereka yang tidak beriman, yang tidak terikat dengan segala macam hal, mereka bebas. Siapa pun yang percaya dengan Hari Kemudian mempunyai tanggung jawab bagi dirinya dan bagi orang lain. Orang yang tidak beriman tidak mempunyai tanggung jawab seperti itu. Siapa pun yang mengajak untuk kebaikan, jadikanlah dia teman kalian. Siapa yang tidak mengajak kepada Hari Kemudian adalah Setan atau Ular, maka jauhilah mereka.

posted by Mevlana as Sufi at 10:43 AM 0 comments

Saturday, August 14, 2004
Mengenai Thariqat Naqsybandi
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
dalam Power Oceans of Light


Raja diraja! Kita begitu kecil. Berbahagialah karena kalian bukan seekor keledai! Wanita, berbahagialah karena kalian bukannya monyet! Jerman, berbahagialah karena kalian bukan unta! Puji syukur kepada Allah, Dia telah menganugerahkan kemuliaan tertinggi dengan menjadikan kita sebagai manusia.

“Fondasi dari thariqat kita adalah asosiasi!”, itulah kata-kata yang biasa diucapkan oleh Syah Naqsyband, pilar utama dari Thariqat Naqsybandi yang mulia. Mengapa thariqat kita paling mulia? Karena metodenya sangat istimewa. Untuk apa metode-metode tersebut? Metode tersebut mempersiapkan kita untuk berada di Hadirat Ilahi, hari di mana setiap orang akan berada di Hadirat Ilahi. Setiap kali ada sebuah upacara di Istana Ratu, apapun acaranya, dia telah mengundang orang-orang yang terkenal dan penting, dan mereka akan diminta untuk mengenakan busana tertentu. Maka mereka akan datang dengan medali dan seragam mereka. Ratu yang mulia juga akan mengenakan busana kebesarannya. Selama parade ini berlangsung, setiap orang memperlihatkan apa yang mereka miliki.

Dengan cara yang sama, setiap orang akan dipanggil dan diundang di Hari Kemudian untuk berkumpul di Hadirat Ilahi. Seperti halnya orang-orang yang telah diundang untuk menemui Ratu yang mulia mengambil busana terbaik mereka, setiap orang akan datang dengan busana kebesaran mereka di Hari Kemudian. Hari itu akan menjadi parade pertunjukan dan setiap orang akan membawa apa yang mereka miliki. Busana termegah akan dikenakan oleh Sayyidina Muhammad e. Beliau akan berada di sana bercahaya seperti matahari di langit. Tak seorang pun yang akan bertanya di mana matahari berada. Pada Hari Kebangkitan setiap orang akan mengetahui siapa hamba Allah yang paling terpuji. Semua Nabi akan datang dengan seragam istimewa yang terbuat dari cahaya. Setiap orang akan berada di sana dengan seragam istimewa, jika mereka memilikinya.

Thariqat yang paling mulia adalah Thariqat Naqsybandi dan busana paling indah telah dipersiapkan bagi para pengikutnya. Ada beberapa toko di mana kalian dapat menemukan pakaian, tetapi ada juga pakaian yang dijual di Harrods atau penjahit istimewa yang dapat membuat pakaian tepat seperti yang kalian inginkan. Paling mulia artinya dia membuat pakaian terbaik untuk hamba-hamba di Hari Kebangkitan nanti. Thariqat ini bukan untuk dunia ini, dia mempersiapkan kalian untuk Allah. Kita tidak berusaha untuk menyia-nyiakan hidup manusia untuk material termurah. Thariqat Naqsybandi ingin menghabiskan semua kekuasaannya demi hari itu, sehingga kita dapat mendatanginya dengan pakaian yang istimewa. Saking indah, anggun, dan sensasionalnya yang lain tidak akan sanggup berpaling darinya. Dia akan sangat sempurna baik di luar maupun di dalam hati.

Kita memohon kepada Allah agar tidak membuat kita terlihat buruk pada hari itu. Sangat tidak menguntungkan bila terlihat buruk pada hari itu. Buruk berarti Allah tidak akan menoleh pada mereka. Jika Allah melihat mereka, mereka akan terlihat dengan raut wajah yang indah. Ketika Pandangan Allah menghidupkan mereka, mereka akan terlihat begitu manis. Tak terbayangkan! Mereka akan berada di Surga mereka dalam waktu sekejap tanpa suatu rintangan. Tak satu pun dapat menyakiti mereka. Mereka tidak lagi mempunyai penderitaan. Itulah target utama dari Thariqat Naqsybandi. Dia ingin menjadikan kalian seorang hamba yang paling mulia di Hadirat Ilahi. Cobalah dan minta kepada Tuhan kalian untuk menganugerahkannya kepada kalian. Jika kalian minta, Dia akan memberikannya. Kalian tidak akan kehilangan Iman kalian, atau amal baik kalian, atau niat baik kalian.

Niat untuk melakukan perbuatan baik akan berkembang seperti tumbuhan yang tumbuh, berkembang dan menghasilkan buah. Tak ada orang yang pernah merasakan sesuatu yang lebih manis daripada buah-buahan yang tumbuh melalui niat kalian. Tumbuhan dari niat baik itu adalah tumbuhan yang sangat istimewa. Setiap orang akan menghadap Hadirat Ilahi dengan level yang sesuai dengan tumbuhan niat mereka. Setiap orang akan menemukan buah dari tumbuhan niatnya. Dia akan menghasilkan lebih, lebih dan lebih lagi. Berusahalah untuk menanam tanaman niat baik. Jangan menanam tanaman niat buruk. Itu akan membuat kalian menjadi buruk. Tak seorang pun yang akan menoleh pada kalian. Berusahalah untuk membuat diri kalian menarik pada jalan di mana Allah akan akan menyandangkan kalian dengan Cahaya Ilahiah dan kalian akan sanggup melihat-Nya, melihat Tuhan Yang Maha Kuasa. Jika Dia tidak menganugerahkan kalian dengan Cahaya Ilahiah, kalian tidak akan bisa berada di Hadirat-Nya. Ketika kalian berada di Hadirat Ilahi, kalian akan sanggup melihat Cahaya Ilahiah-Nya, melihat Wajah-Nya yang Abadi. Itu adalah target terbesar, target utama kita: Tuhan kita. Dari masa azali sampai masa abadi target tertinggi kita adalah Engkau, wahai Tuhan kami, tak ada yang lain! Tak satu pun yang dapat disebutkan bersama Dia. Bagaimana mungkin seseorang dapat membuat target lain selain Dia? Segala sesuatu kecuali Wajah Ilahi-Nya akan sirna dan lenyap. Bagaimana mungkin kalian mengharapakan sesuatu yang akan musnah? Barang siapa yang menjadikan Wajah Ilahi dari Allah sebagai target utamanya, dia akan memenangkan segalanya. Jika seseorang meninggalkan target itu untuk sesuatu yang lain, dia tidak akan menemukan apa-apa pada akhirnya. Dia akan melihat dan menemukan bahwa dia telah menyia-nyiakan hidupnya dengan hal-hal yang tidak berarti. Sebagian besar orang menghabiskan hidupnya mengejar sesuatu di mana pada akhirnya dia menjadi tidak berharga. Itulah kenyataannya. Jutaan orang meninggal dunia setiap hari. Mereka menoleh untuk melihat apa yang pernah mereka kejar selama hidupnya, tetapi mereka tidak dapat melihatnya. Mereka berada dalam kotak yang sempit dan mereka berteriak, “Di mana targetku?”

Apa yang kita kejar? Tak ada! Jangan sampai kalian tergolong orang yang lalai, yang tidak akan mengerti sampai ajal menemui mereka. Sebelum kalian meninggal, kalian harus mengerti, apa yang menjadi realitas dan kebenaran, sehingga kalian dapat meraih target kalian. Lain daripada itu kalian akan seperti sampah yang akan dilempar ke luar dari kota oleh dewan kota. Begitulah sejarah kita.

Ini adalah kata-kata yang sederhana di mana mereka membuat saya mengatakannnya. Jika Saya diminta untuk berbicara dalam bahasa Inggris yang tinggi, atau Jerman, atau Perancis, Saya dapat berbicara seperti seorang Perancis, Jerman, Skotlandia, Irlandia, Pakistan atau Arab. Sangat mudah untuk berbicara dengan bahasa berlevel tinggi dengan hikmah yang tinggi. Tetapi apa untungnya? Ini bukan pertunjukkan. Saya tidak akan melakukan pertunjukkan seperti orang lain yang membuat pertunjukkan dengan pengetahuan mereka. Itu tidak perlu. Kami ingin memberi orang-orang suatu manfaat dan kalian semua seperti anak-anak di taman kanak-kanak di hadapan orang-orang suci. Oleh sebab itu kami berbicara seperti ini, bahkan jika ada orang yang berusia 70 atau 90 tahun di sini, kita semua adalah murid-murid TK. Tak lebih! Jangan lihat pada janggut kalian yang tumbuh memanjang… adalah lebih baik untuk menjadi anak TK, karena tak pernah ada ujian dan tak seorang pun akan kehilangan, setiap orang menjadi pemenang. Di sekolah dasar, SMP, SMA, akademi, universitas… setiap orang harus melewati ujian. Para orang tua terus-menerus datang kepada saya untuk berdoa bagi anak-anak mereka agar lulus ujian, tetapi tak seorang pun yang datang untuk minta doa agar lulus dari ujian TK! Jadi bergembiralah untuk tinggal di TK, selamanya! Tak ada ujian!


Wa min Allah at taufiq

posted by Mevlana as Sufi at 6:27 AM 0 comments

Mengapa Orang Tidak Merasa Damai
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
dalam Power Oceans of Light


Syah Naqsyband berkata kepada kita bahwa thariqat kita berdasarkan asosiasi. Jadi, kita tanyakan pada diri kita sendiri, apa yang kita perlukan sekarang? Biarkan mereka memberikan apa yang kita butuhkan. Guru-guru kita yang suci selalu mengtahui apa yang kita butuhkan. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai otoritas dan mengetahui apa yang perlu didengarkan oleh orang-orang pada saat ini. Jika mereka memerlukan sesuatu dan kalian memberi mereka sesuatu yang lain, itu tidak masalah. Hal itu seperti ketika kalian meminta tomat, tetapi Saya memberikan kentang. Atau jika kalian meminta roti, Dia memberi kalian air. Atau jika kalian meminta kue tetapi Dia memberi kalian roti. Semua itu tidak menjadi masalah. Bahkan jika kalian minta kue tetapi kalian mendapatkan jerami, itu juga tidak menjadi masalah. Makan jerami itu! Tetapi orang-orang yang telah mencapai level untuk menerima hal-hal semacam itu sudah sangat langka. Bahkan dalam sejuta, mungkin kalian hanya akan menemukan satu. Begitu banyak orang-orang yang palsu di mana ketika kalian meminta strawberry mereka akan memberi kalian jerami. Kita mempunyai jerami, tetapi buah berry-lah yang harus kalian dapatkan.

Kalian harus mengetahui kapan waktu yang tepat untuk menanam apa yang ada dalam hati seseorang. Jika kalian menanam di musim panas, tak ada yang akan tumbuh. Gandum, barley dan lainnya harus ditanam di musim dingin. Sekarang adalah bulan suci Ramadhan. Apapun yang perlu ditanamkan ke dalam hati kalian, mereka mengetahuinya. Itulah sebabnya mengapa Saya bertanya, “Wahai Guru-guru kami, begitu banyak orang yang datang dari berbagai level, kirimkanlah kepada kami apa yang diperlukan oleh setiap orang.” Puji syukur kepada Allah, walaupun kita bukanlah orang-orang yang pantas, mereka mengirim sesuatu kepada kita agar kita bergembira dan mempunyai banyak kenikmatan. Ketika Saya duduk di sini, Saya berada di dalam kendali mereka. Segala yang kami ucapkan berasal dari saluran (chanel) mereka.

Ya, semoga Allah mengampuni kita dan mengirimkan berkah-Nya di bulan suci ini. jika tidak ada pengampunan, maka tidak ada berkah. Pengampunan membersihkan manusia, kemudian berkah mendatangi mereka. Berkah itu bagaikan pakaian baru dan pengampunan bagaikan mandi. Ketika kalian membersihkan diri kalian, kalian akan dikenakan pakaian keberkahan. Seluruh (hari di bulan) Ramadhan hanyalah untuk pembersihan. Ramadhan berisi pelajaran bagi setiap level manusia. Semua orang memerlukan pembersihan. Setelah itu baru mereka akan disucikan. Bersihkan diri kalian sebanyak mungkin sehingga pensucian akan datang. Puasa adalah sebuah pembersihan bagi manusia di level pertama, bagi orang-orang awam. Lalu, ketika kita sudah bersih, elemen-elemen di tubuh kita akan suci. Bila sudah suci, darah yang bersih akan mengalir melalui hati kalian. Ketika darah yang bersih itu mengalir melewati hati kalian, dia akan membuat kalian selalu bersama dengan Tuhan kalian, Allah.

Pertama-tama, puasa akan membersihkan seluruh tubuh kita dan menghilangkan hijab (selubung) di antara kalian dengan diri kalian sendiri. Ketika Saya mengatakan antara kalian dengan diri kalian, maksud Saya adalah antara kalian dengan jiwa kalian. Ketika hijab itu hilang, kalian dapat berinteraksi dengan Surga. Jika melalui Hikmah Ilahi kalian dikaruniai hal itu, maka akan ada suatu pembukaan bagi kalian. Allah pernah berbicara kepada Nabi Musa, dan terdapat ribuan hijab di antara Allah dengan Nabi Musa. Ketika orang yang berpuasa telah sampai pada akhir masa puasanya, sesaat sebelum dia berbuka puasa, hijab-hijab itu dihilangkan dan hanya satu yang tertinggal. Jika kita dapat menghilangkan hijab terakhir ini, kita akan sanggup berinteraksi dengan Surga. Tetapi itu adalah hijab yang paling tebal. Dia sangat kuat dan kalian hanya memiliki pisau yang sederhana. Terlalu sulit. Kalian membutuhkan sebuah cutter yang besar untuk memotongnya. Hijab itu adalah selubung ego. Jika kalian memotong atmosfer ego kalian, maka kalian akan meraih kebebasan sejati. Sejak itu kalian dapat dikontrol oleh jiwa kalian. Jiwa kalian adalah milik Surga, dan Surga adalah milik Allah. Maka kalian akan menjadi hamba Allah dan milik Allah , Tuhan Pemilik Surga. Kalian akan bebas dari perbudakan ego dan Setan. Kalian menjadi bersih dan suci. Jika seseorang ingin masuk ke masjid, dia harus mensucikan dirinya. Jika seseorang ingin memasuki Surga, dia harus suci karena itu adalah Daerah Kekuasaan Allah. Dari apa dia harus dibersihkan? Dari kekotoran ego. Ego adalah kotor. Dengan kekotoran itu kalian tidak diperbolehkan untuk masuk.

Puasa berusaha membersihkan orang dari hegemoni ego mereka. Puasa mengambil alih kekuatan ego. Jiwa kalian akan menjadi pengontrol bagi diri kalian dan kalian akan meraih Surga dan mencapai Hadirat Ilahi Tuhan Pemilik Surga. Itulah sebabnya semua ummat manusia ditawarkan untuk berpuasa. Ummat Kristiani juga berpuasa. Meskipun sekarang mereka mengatakan bahwa mereka kini telah mencapai hari di mana semuanya telah berubah. Mereka hanya menjaga namanya saja, tetapi mereka telah menggantinya berdasarkan keinginan ego mereka. Dulunya puasa mereka sama seperti yang kita lakukan. Kemudian ketika mereka mendapat hari-hari panjang (siang hari lebih lama—red), puasanya menjadi lebih berat dan oleh sebab itu mereka menggantinya. Mereka berkata, daripada mengerjakannya selama 30 hari, kita akan melakukannya selama 40 hari dengan mendapatkan musim yang sesuai. Salah satu dari Raja mereka bahkan melakukannya untuk maksud tertentu. Dia berkata, “Jika apa yang kuminta dari Tuhanku terkabul, maka kita akan menambahkannya dengan 10 hari lagi.” Tetapi ketika sudah mencapai 50 hari, orang-orang menyerah dan mengeluh. Sehingga seluruh ide mengenai puasa diganti dan yang tertinggal hanya berupa larangan untuk tidak memakan daging pada hari tersebut. Tentu saja itu juga merupakan sejenis puasa, tetapi puasa itu tidak akan memberi manfaat bagi jiwa mereka dan membuat mereka bebas dari kendali ego. Ego masih mengendalikan mereka, karena mereka mengikuti ego mereka dan keinginannya. Mereka mengganti apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepada mereka, sesuai dengan keinginan ego mereka. Tujuan puasa adalah untuk mengambil alih kekuasaan ego. Jika kita masih dikendalikan olehnya, lalu apa untungnya (puasa tersebut)?

Kita harus berusaha untuk berpuasa sesuai dengan yang telah diperintahkan-Nya. Bahkan jika puasa Paskah adalah yang termudah, mayoritas ummat Kristiani pun tidak melaksanakannya. Sekarang ego mereka berkata kepada mereka bahwa itu hanya diperuntukkan untuk orang-orang terdahulu, untuk orang-orang yang belum beradab. Mereka pikir, mereka sekarang adalah orang-orang yang beradab sehingga mereka tidak membutuhkannya. Sedikit sekali orang yang melakukannya. Kemarin seorang uskup datang menemui saya dan ketika kami menyuguhkan teh, dia berkata bahwa dia sedang berpuasa karena saat itu adalah hari pertama Lent (periode puasa bagi ummat Kristiani). Tetapi mayoritas tidak peduli bahkan jika puasanya sangat mudah dan hanya satu hari.

Kita harus berusaha untuk mengambil alih kendali dari ego kita. Jika kita tidak melakukannya, kita akan menjadi keledai bagi ego kita. Itu berarti dia akan menduduki dan mengontrol kalian. Puasa adalah suatu pelatihan bagi ummat manusia. Tak ada yang dapat melatih ego kita seperti yang dilakukan oleh puasa. Ketika seorang hamba ingin menyenangkan Tuhannya, Allah akan membalasnya. Dia akan mengizinkan kalian memasuki daerah yang penuh kenikmatan di mana kalian akan menemukan kedamaian. Mengapa orang-orang tidak berada dalam kedamaian? Bagaimana bisa, jika mereka masih berada dalam kendali ego mereka. Adalah mustahil untuk berada dalam kedamaian selama ego masih mengendalikan kalian. Anak kecil mungkin menangis 40 kali sehari. Mengapa? Karena mereka tidak merasakan kedamaian. Ketika kalian memberikan segala permintaan mereka, mereka akan berhenti. Beberapa saat kemudian mereka akan mulai lagi. Itu berarti, mereka tidak berada dalam kedamaian. Ego kita selalu meminta sesuatu dan kemudian mereka berhenti. Beberapa saat kemudian mereka akan meminta hal lainnya. Tetapi hal itu hanya berlangsung dengan singkat. Dan selanjutnya… kalian tidak akan menemukan ego kalian dalam keadaan tenang sepanjang hari. Dia menginginkan ini, itu. Dia tidak akan pernah puas. Jadi seseorang yang berada di bawah kendali egonya akan selalu mempunyai kesulitan dalam meraih kedamaian. Tetapi bila ego dihilangkan dan kalian bersama jiwa kalian, maka kalian akan merasakan kedamaian.

Wahai manusia, cobalah! Jika kalian mencobanya sedikit, Allah akan banyak menolong kalian. Bahkan jika kalian hanya melakukannya sedikit, Allah akan mengaruniakan kekuatan yang banyak kepada kalian. Bahkan jika puasa kita adalah puasa dengan standar yang paling rendah, Tuhan Pemilik Surga tetap memberikan sesuatu kepada kita. Paling tidak kalian akan merasakan kepuasan saat berbuka puasa! Itu adalah masa yang paling membahagiakan dan penuh kedamaian selama hidup kalian. Tak ada undangan atau restoran di seluruh dunia yang dapat memberikan hal semacam itu kepada kalian, bahkan jika hanya ada roti kering atau korma kering. Betapa pun sederhananya, kalian akan menemukan kepuasan, kedamaian, kebahagiaan dan kenikmatan memenuhi seluruh hati kalian. Tak seorang pun kecuali seseorang yang berpuasa dapat merasakan kedamaian semacam itu. Semoga Allah membuat kedamaian itu selamanya di dalam hati kita. Engkau adalah Sultan, wahai Tuhan kami, anugerahkanlah pengampunan dan berkah kepada kami!

Wa min Allah at taufiq

posted by Mevlana as Sufi at 6:27 AM 0 comments

Sohbet-Sohbet Mawlana Syaikh Nazim Adil al Haqqani
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
Siprus, 25 Februari 2003


Destur ya Sayyidi, madad. A'uudzu billahi minasy-syaithaanir-rajiim, bismillaahi-r-Rahmaani-r-Rahiim. La hawla wa la quwwata illa billaahi-l 'Aliyyi-l 'Azhim.
Kita memohon kepada orang-orang yang suci, orang-orang yang mempunyai wewenang, untuk menolong manusia. Seperti ketika terjadi kecelakaan, terutama di laut, kapten mengirim sinyal SOS ke segala penjuru. Ada beberapa posko yang menerima sinyal ini dan mereka telah diberi wewenang dan dipersiapkan untuk menggapai orang yang meminta pertolongan. Itu adalah untuk orang-orang yang awam; pemerintah juga mendirikan posko semacam itu menurut kewenangan mereka, untuk menolong orang yang membutuhkan pertolongan. Tetapi ketika orang mengalami kesulitan dan memerlukan pertolongan, mereka sesungguhnya harus meminta pertolongan dari Surga. Orang-orang awam tidak bisa menggapai Surga—mereka mungkin bisa; tetapi sinyal mereka lemah sekali. Tetapi jika mereka memanggil orang-orang yang mempunyai wewenang, para Awliya atau secara umum orang-orang yang suci, maka panggilan mereka untuk meminta pertolongan akan didengar. Beberapa orang suci secara khusus sengaja dipilih untuk tujuan tersebut. Setiap Wali, setiap orang suci mempunyai suatu kekuatan; tetapi beberapa di antara mereka mempunyai wewenang yang khusus. Ini adalah suatu hal yang sangat penting untuk diketahui, karena seseorang bisa jatuh ke dalam situasi yang sulit kapan saja, setiap menit, setiap jam, setiap hari, dan mereka berusaha untuk menyelamatkan diri mereka dari kesulitan itu atau dari kutukan yang tidak mereka harapkan.

Jika hati mereka sudah berada di Hadirat Ilahi, mereka bisa memohon, ‘Wahai Tuhan kami, tolonglah kami!’ Itu adalah (benar) bagi para Awliya tertinggi; tetapi bahkan mereka, bahkan jika mereka tidak meminta secara langsung—mereka meminta kepada Rasulullah e. Jadi ada aturan protokolernya, protokol surgawi. Seperti halnya kalian tidak bisa meminta pertolongan kepada Sultan secara langsung; tetapi kalian bisa meminta kepada seseorang yang telah diberi wewenang oleh Sultan untuk mencapai warganya. Di mana-mana kalian dapat menemukan tulisan, ‘pusat kerajaan’. Ketika dikatakan ‘kerajaan’, dan kalian masuk ke tempat itu, berarti kalian telah mencapai Raja atau Sultan. Sekarang kita juga mengatakan, ‘Ya Rabbi!’ Allah ingin hamba-hamba-Nya menjaga ‘adab’ kepada-Nya. Kita sekarang hidup pada masa di mana orang-orang tidak peduli tentang spiritualitas. Mereka berpikir bahwa segala sesuatu terjadi melalui dunia material (mempunyai sebab material tertentu) dan tidak ada yang mempengaruhi benda-benda material; dan sebuah benda dapat melakukan segala sesuatu dengan dirinya sendiri. Ini adalah kesalahan terbesar dari manusia. Jika suatu kekuatan tidak mendukung (benda) ini, dia tidak akan bisa digerakkan. Untuk memindahkannya kalian harus menggunakan kekuatan. Dengan dirinya sendiri dia tidak dapat berdiri atau bergerak ke atas atau ke bawah, ke kanan atau ke kiri.

Dan orang-orang surgawi adalah perwakilan dari dunia spiritual, dan mereka mempunyai kekuatan; dan mereka berkata, ‘Kami memiliki kekuatan, kekuatan yang ajaib.’ Itu bukan kekuatan yang dihasilkan dari teknologi, bukan! Mereka mempunyai kekuatan spiritual, karena mereka memiliki hubungan dengan Surga dan kekuatan itu secara langsung datang kepada mereka. Sekarang orang (di laut) mengirim SOS, ‘Cepat selamatkan jiwa kami!’ Ketika kemudian pertolongan datang, mereka mungkin sudah tenggelam dan tewas. Tetapi suatu kekuatan spiritual mengelilingi seluruh bumi; globe kita dikelilingi dengan kekuatan spiritual, seperti jaringan, di mana-mana. Kalian bisa mengirim (SOS spiritual), dan jika kalian tidak dapat menyentuh kekuatan spiritual ini, kalian berada di sana. Di jalan raya selalu ada tempat (dengan telepon) untuk keadaan darurat. Kalian dapat menggunakan telepon itu. Kalian harus datang ke tempat itu dan menggunakan telepon darurat untuk menghubungi unit gawat darurat. Sambungan telepon menghubungkan telepon dengan unit gawat darurat. Jika kalian tidak mempunyai telepon, kalian tidak dapat menggunakan saluran itu

Tetapi untuk dunia spiritual, kalian dapat berbicara di mana saja dan kalian dapat menyentuhnya (terhubung). Dan mereka pasti akan menjawabnya! Jika sesuatu terjadi, mereka menggunakan kekuatan mereka jika mereka memang mempunyai wewenang untuk menyelamatkan orang-orang dan jika peristiwa itu tidak dimaksudkan sebagai hukuman bagi orang-orang itu. Mereka meneliti (apakah mereka dapat menyelamatkan mereka).
Kita memohon pertolongan dari pusat spiritual kita, dari orang-orang suci. Mereka mempunyai kekuatan ini, dan ketika kalian mencapai mereka, apa yang harus kalian minta? Kita harus meminta sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang bernilai. Ketika kita mengucapkan ‘La hawla wa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim’—dia datang sekarang—itu adalah ajaran suci dari Rasulullah , ajaran surgawi bagi manusia, yaitu untuk mengucapkan, La hawla wa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim’ ketika mereka berada dalam kesulitan atau situasi yang sulit, mereka akan mengeluarkanmu dari sana. Kalian harus mengucapkan kalimat ini dan kalian harus yakin bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dari situasi yang sulit ‘illa’, hanya Allah, itu artinya, (orang) yang telah diberi wewenang oleh Tuhan Pemilik Surga untuk menyelamatkan manusia dari situasi yang berbahaya dan membawa mereka keluar agar selamat. ‘La hawla’—tak seorang pun dapat mengubah kehidupan kalian kecuali Dia, dan Dia menggunakan hamba-Nya yang diberi wewenang untuk mencapai hamba-hamba-Nya (yang membutuhkan).

Sayyidina Adam dilempar dari Surga dan turun ke bumi. Allah berfirman, ‘Aku lemparkan kalian semua ke bumi, kalian semua akan tinggal di sana.’ Dan dibandingkan dengan kehidupan di Surga, kehidupan di bumi penuh dengan berbagai macam kesulitan dan masalah. Dan Dia berfirman, ‘Aku kirimkan ‘Huda’, bimbingan kepada kalian semua. Aku kirimkan kalian hamba-hamba-Ku yang terpilih dan dimuliakan untuk menyelamatkan kalian dari situasi yang sulit. Aku tidak akan meninggalkan kalian di sana dalam kesulitan, dalam masalah, penderitaan dan kesedihan, tidak!’ ‘Aku tahu bahwa dunia penuh dengan kesulitan dan masalah; dunia tidak seperti Surga; tetapi kalian telah jatuh ke bumi. Maka Aku akan mengirimkan kalian beberapa hamba-Ku yang mulia dari Hadirat-Ku. Kalian bisa mengikutinya, dan mereka akan menyelamatkan kalian dari setiap kesulitan dan masalah.Wahai Adam! Katakanlah kepada anak-anakmu bahwa bila seseorang datang kepada mereka, mereka harus datang kepadanya dan mengambil tangannya.’ Tangan mereka dapat membawa seluruh ummat manusia yang datang kepada mereka, mereka tidak akan berkata, “Tidak ada tempat bagi kalian.” Tidak, mereka akan membawa semua orang, mereka dapat membawanya dengan kekuatan surgawi.

Sekarang di dunia ini terdapat 7 milyar orang. Jika mereka semua datang kepada satu orang, orang itu akan menyelamatkan mereka, bahkan jika mereka berjumlah 70 milyar! Itu bukanlah hal yang sulit, bukan! Pesan Surgawi Allah pertama datang kepada Adam u, kemudian segalanya datang kepadanya. Pesan Ilahiah ini juga diamanatkan kepada Iblis, ‘Jika engkau--Iblis, Setan--kau dan semua orang yang bersamamu yang telah dilemparkan ke bumi—jika kalian mengikuti Wakil-Wakil-Ku yang istimewa dan dimuliakan yang membawa kekuatan-Ku turun ke bumi untuk menyelamatkan kalian semua, (maka) mereka juga akan menyelamatkan kalian.’ Kemudian Allah menyampaikan amanat ini kepada ular—kepada naga. Awalnya dia adalah seorang malaikat; tetapi Allah mengutuknya dan menjadi seekor naga. “Jika engkau juga mengikuti apa yang Aku kirimkan, engkau akan kembali ke Surga, dan Aku akan menghiasimu seperti semula, menjadikan kau sebagai malaikat, malaikat penjaga pintu Surga.’

Pesan Surgawi ini datang kepada semua (makhluk), tetapi Setan tidak pernah menginginkannya dan naga pun tidak pernah peduli. Hanya Adam as yang menyampaikannya kepada anak-anaknya, memberi mereka wasiatnya, “Wahai anak-anaku, Aku telah berbuat satu kesalahan, dan Setan menipuku, menipu ibumu dan diriku. Aku melakukan satu kesalahan dan Aku jatuh ke bumi ini. Awalnya Aku berada di Surga. Dibandingkan dengan Surga, dunia ini bagaikan Neraka bagiku. Jangan ikuti Setan dan ajarannya. Tuhanmu akan mengirimkan kalian dari Surga, orang-orang yang berwewenang untuk menyelamatkanmu, jika engkau mengambil tangan mereka.’
Oleh sebab itu, di setiap masa Dia mengirimkan hamba-hamba Ilahi-Nya untuk menyelamatkan anak-anak Adam u; tetapi kebanyakan mereka berlari mengejar tangan Setan dan para pengikutnya. Dan setiap kali mereka mengambil tangan Setan, mereka jatuh ke dalam persoalan yang tidak pernah berakhir, mereka jatuh ke dalam penderitaan dan kesedihan.
Kenabian kini telah berakhir; sejak awal hingga Sayyidina Muhammad saw, semuanya ada 124.000 Nabi. Semuanya telah berakhir. Sekarang adalah masa bagi Nabi yang terakhir, Khatamul Anbiya, dan kekuatannya akan terus berlangsung hingga Hari Pembalasan. Dan Allah menjaga ummat makhluk yang paling dicintai-Nya ini dengan Awliya, dengan orang-orang yang mulia, yang membawa kekuatan surgawi untuk menyelamatkan manusia dari tangan Setan dan dari segala masalah, kesedihan dan penderitaan.

Oleh sebab itu Rasulullah saw memberi kalimat ‘La hawla wa quwwata illa aahil aliyyil ‘azhiim’ sebagai harta karun. Mengucapkan kalimat itu dan percaya kepadanya bisa mengubah hidup kalian. ‘La hawla wa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim’ adalah harta yang bisa mengubah hidup kalian. Kalian bisa keluar dari kehidupan yang kotor, keluar dari kesulitan dan kegelapan, menuju kehidupan yang sempurna, penuh kedamaian dan kebahagiaan. Kalian harus meraih kepuasan dan kedamaian sejati melalui kalimat ini. Itulah yang kita butuhkan. Orang-orang telah jatuh, dan kesalahan mereka adalah mengikuti Setan dan ajarannya, dan tak seorang pun—bahkan Muslim, di dunia Islam yang mau memohon, “Bagaimana kami dapat mengubah jalan kami, dari situasi yang sulit ke situasi yang baik?” Tak ada yang bertanya; di lain pihak, jika orang-orang menginginkan agar mereka selamat, para Awliya akan meraih mereka. Tetapi tidak ada yang memanggil mereka! Semua orang sudah dipenuhi dengan ide-ide omong kosong. Di mana-mana banyak sekali telepon, tetapi tak ada yang menggunakannya, mulai dari Presiden, Jenderal, PBB, Amerika,… dan presiden dan jenderal di banyak negara meminta dan menelepon orang itu…
Saya juga punya telepon—panggil saya! Siapa orang kuat di Amerika? Anda? Mengapa anda tidak meminta? Mintalah! Kami dapat membantu! Kami menentang Setan dan pekerjaannya. Jika seseorang ingin menyelamatkan dirinya, dia boleh menelepon saya. “Saya akan datang kepadanya,” Grandsyaikh berkata. Itu bukan untuk saya melainkan untuk Grandsyaikh. Orang-orang, sebagaimana yang Saya katakan, orang-orang membawa instrumen kecil ini, sebuah telepon (genggam). Panggilan yang sia-sia! Mereka tidak tahu siapa yang ditelepon. Bagaimana kalian akan menemukan sebuah jalan? “Kalian tahu nomor orang itu?” “Aku tidak tahu” “Berapa nomor Presiden itu?” “Aku tidak tahu.” Jika kalian tidak tahu, instrumen itu tidak akan bermanfaat bagi kalian. Kalian tidak bisa asal pencet sembarang nomor dan berpikir bahwa kalian bisa berbicara dengan orang itu.

Tidak! Ada sebuah nomor kode dari bumi ke Surga. Katakan nomor kodenya! Jika kalian tidak dapat meraihnya, mereka mempunyai orang-orang di tingkatan yang lain. Level saya adalah level pertama—bersama orang-orang. Tetapi banyak sekali orang-orang yang berwewenang untuk menyelamatkan manusia. Allah tidak suka mengutuk hamba-hamba-Nya, tetapi hamba-hamba-Nya bersikeras bahwa kutukan telah menimpa mereka. Dia tidak pernah senang. Dia bertanya untuk mengirimkan Rahmat dan Berkah-Nya, tetapi mereka tidak pernah meminta untuk itu—mereka hanya minta agar dikutuk. Dia tidak senang dengan perang dan krisis semacam itu. Beberapa orang menangis, “Apa yang akan terjadi dengan anak-anak kecil?” Mereka tidak meminta Tuhan Pemilik Surga (untuk dibebaskan). Mereka semua minta untuk dikutuk, dan seperti itulah yang terjadi pada mereka—api membakar mereka. Jika pembakaran itu tidak terjadi di sini, akan terjadi di sana (di Neraka). Api akan menyelimuti dunia. Jika tidak membakar di sini, tidak datang ke sana. Semoga Allah memberi kita pemahaman untuk mengejar orang-orang yang berwewenang. Bahkan Muslim pun tidak peduli. Mereka sekarang menjadi biang masalah bagi seluruh dunia, padahal Islam datang untuk membawa kedamaian. Tetapi sekarang hal itu telah berubah dalam pandangan orang—Muslim adalah biang masalah, mereka ingin membakar seluruh dunia, Muslim membuat terror, hal-hal buruk—membunuh, membakar dan menghancurkan! Ini bukan berasal dari Islam! Mereka melakukan hal-hal yang tidak diterima oleh Islam. Semoga Allah mempermudah jalan untuk menyelamatkan orang-orang, untuk menyelamatkan hamba-hamba-Nya dari naga—demi kemuliaan orang yang paling mulia di sisi-Nya…

posted by Mevlana as Sufi at 6:27 AM 0 comments

Tuhanku, Aku MencintaiMu
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani


Dengan nama Allah , Yang Mahakuasa, Yang Mahakasih, Yang Maha Penyayang. Segala sesuatu terjadi atas perintah-Nya, segala sesuatunya muncul dan wujud melalui Kehendak-Nya. Dialah Sang Pencipta dan kita adalah para makhluk-Nya. Inilah hal terpenting yang mesti diketahui oleh setiap orang dari ras manusia ini. Siapa pun kalian – laki-laki atau perempuan, pria atau wanita, kaya atau miskin, penguasa atau rakyat, professor, doktor, sultan, awliya' atau anbiya', orang Amerika, orang Kanada, orang Inggris, orang Arab, orang Turki, orang Spanyol, orang Rusia, Cina, Jepang, apa pun – kalian harus tahu bahwa diri kalian adalah makhluk, yang diciptakan oleh Pencipta kita, yang memiliki begitu banyak Nama-Nama, dan kita mengucapkan Nama-Nya yang paling terkenal yang mengumpulkan semua Nama-Nama Suci-Nya dalam Nama itu, yaitu Allah .

Dialah Sang Pencipta, dan kita hanyalah makhluk. Tak ada gelar lain bagi Anak Adam as yang lebih terhormat atau lebih dihormati dan dipuji daripada "hamba dari Allah Yang Mahatinggi . Kalian harus tahu hal ini dan kalian mesti mengajarkannya, dan kemudian kalian harus berusaha bekerja dan beramal sebaik mungkin bagi Tuhan kalian, Allah, dan bagi makhluk-makhluk-Nya. Setiap Nabi – setiap orang di antara mereka – datang tak lain tak bukan hanyalah untuk mengajarkan pada manusia sesuatu tentang tujuan akhir mereka dan tentang pentingnya tujuan ini. Kalian mungkin adalah Muslim, dan ada begitu banyak golongan di antara Muslim. Atau mungkin kalian adalah Kristen – dan ada pula begitu banyak sekte dalam Kristen – kelompok-kelompok yang berbeda. Lalu dalam kepercayaan Yahudi, Yudaisme, mereka pun memiliki banyak sekte, dan di luar tiga agama samawi ini, masih terdapat begitu banyak mazhab-mazhab pemikiran dan ideologi.

Manusia, menurut perasaan mereka atau menurut citarasa spiritual mereka yang berbeda-beda, masing-masing memeluk beberapa sekte-sekte dan golongan yang berbeda-beda tadi. Dan manusia pun bahagia, untuk menjadi bagian dari kelompok mereka masing-masing, dan Allah berfirman tentang hal ini, "Kullu hizbin bimaa ladayhim farihuun." [1], yang berarti Allah berfirman dalam ayat ini bahwa, "Hamba-hamba-Ku akan terpecah-pecah menjadi beberapa kelompok, dan setiap kelompok akan bahagia dengan kelompoknya sendiri." Mereka berbahagia dengan kelompok-kelompok mereka, menurut iman dan kepercayaan mereka masing-masing.

Setiap orang boleh memilih suatu kepercayaan; di antara sekian banyak kepercayaan yang berbeda tadi, dia boleh memilih dan menerima satu di antaranya. Ia mungkin berkata, "Aku seorang Muslim," atau ia mungkin berkata, "Aku seorang Kristen"; yang lain berkata, Yahudi"; yang lain lagi berkata, "Buddhis." Ya; mereka beriman dan percaya, dan mereka bahagia dengan kepercayaan dan iman mereka, berbahagia bersama kelompok-kelompok mereka atas apa yang mereka miliki masing-masing.

Ini adalah kenyataan; dan ini tak bisa diubah. Kenyataan ini selalu benar. Artinya, kebenaran adalah satu; di antara seratus ide atau seribu kepercayaan, satu di antaranyalah yang benar. Itu berarti setiap orang beriman akan suatu hal, tapi itu tidak berarti bahwa
setiap kepercayaan akan menjadi suatu kepercayaan yang benar – tidak. Kalian boleh percaya apa pun sesuka kalian. Ok, ok saja; tak seorang pun akan mencegah kalian. Karena itulah, Allah berfirman, "Sesuka kalian, percayalah. Jika kalian tak mau percaya, tak usah percaya." [2]. Kalian ingin dan meminta untuk beriman dan kalian pun boleh memilih satu kepercayaan tertentu, tapi kalian tak bisa mengatakan bahwa setiap kepercayaan adalah suatu kepercayaan yang benar. Tidak; hanya satu yang benar.

Akhirnya, suatu saat kita akan bertemu dengan akhir hidup kita. Dalam hidup kita, kita pasti akan mencapai suatu akhir, dan setiap orang akan membawa sesuatu di tangannya, sambil berkata, "Aku menyimpan permata. Aku membawa sesuatu yang benar-benar berharga."Ya, kalian mungkin berkata, "Aku membawa suatu iman yang sejati." Selama kalian hidup di dunia ini, kalian boleh mengklaim, "Aku berada pada kebenaran sejati, iman sejati, dan aku membawa permata yang asli", tapi pada akhirnya, hakikatnya adalah kalian akan meninggalkan hidup ini dan pergi menuju Surga. Kematianmu adalah perjalananmu dari hidup yang rendah ini menuju hidup sejati yang tertinggi. Jangan berpikir bahwa kematian adalah suatu hal yang buruk, sebagaimana banyak orang takut akannya. Tidak. Kematian adalah jalan menuju Surga, jalan menuju Langit.

Selama kalian belum mengalami kematian, kalian berada di muka bumi ini, kehidupan terendah. Tapi, saat kalian mati, kalian akan bebas dari kehidupan yang berat ini dan naik ke atas. Dan saat itulah, mereka akan berkata padamu, "Apa yang sedang kau bawa sekarang? Buka tanganmu!" Ya; pada saat itulah setiap orang akan tahu apakah ia telah membawa sesuatu yang paling berharga atau ia telah tertipu oleh iblis, tertipu oleh Setan, dan mereka (para setan itu) mengambil hal-hal yang sesungguhnya berharga dari dia. Saat itulah, saat kematian itulah, dia akan mengerti benar.

Karena itulah, Wahai Manusia, sudah menjadi trend saat ini bahwa setiap orang mesti melakukan pemeriksaan kesehatan, di Amerika, London, Rusia, Cina, atau Jepang. Mereka melakukan pemeriksaan kesehatan – Untuk apa? Seandainya kalian melakukan pemeriksaan
kesehatan seribu kali pun, tubuh ini tak akan terus pergi bersama kalian. Tak ada perlunya semua pemeriksaan kesehatan itu, semuanya tak berguna. Tapi, kalian mestilah melakukan pemeriksaan atas apa pun yang tengah kalian bawa, apa yang kalian simpan – yaitu "Apakah aku tengah menyimpan permata yang berharga dari hidup ini ataukah permata yang asli telah tercuri dari diriku dan digantikan dengan permata plastik imitasi." Pemeriksaan seperti inilah yang penting!

Wahai manusia, peliharalah imanmu. Jika ia adalah iman yang sejati, iman itu akan membimbing kalian dari kegelapan menuju Surga-surga yang Bercahaya. Bagaimanakah perasaan kalian tahun ini dibandingkan tahun lalu; bagaimanakah perasaan kalian atas diri kalian sendiri? Apakah kalian merasakan peningkatan dalam kehidupan spiritualmu atau tidak? Tanyalah dirimu sendiri. Ya, inilah hal terpenting…. Satu hal penting lainnya: manusia tengah berlarian, setiap orang berlari, untuk memakan sesuatu dari hidup ini, pria maupun wanita. Mereka berlarian untuk mengambil sesuatu dari hidup ini, tapi kebanyakan dari mereka hanya mengejar aspek material dari hidup ini. Dan sebagai suatu tanda, lewat kitab-kitab suci, dan pengetahuan yang telah sampai pada kita, bahwa modal paling berharga bagi manusia – adalah apa? Bagi Ahl ad-Dunya, mereka yang hidup hanya untuk dunia ini, bagi mereka, modal terbesar mereka adalah uang, uang, uang; bagi para wanita, emas, emas, emas, perhiasan, perhiasan, perhiasan. Laki-laki lebih tertarik untuk menyimpan dollar, sementara perempuan lebih senang mengejar perhiasan, setiap tahun, hanya untuk sepuluh jari mereka, (mereka beli) dua puluh cincin atau tiga puluh cincin, menaruhnya di sini [sambil menunjuk ke jari-jari beliau]; mereka bahkan tak mampu membawa semua perhiasan emas mereka yang berat. Ya; itulah modal paling menarik yang dikejar oleh orang-orang abad dua puluh (satu). Siapa pun yang memperoleh modal mereka, yang berupa material itu – akan menyimpan berjuta-juta lagi untuk menjadi jutawan, atau bagi kaum perempuan, akan menyimpan lebih banyak perhiasan, lebih banyak istana, lebih banyak yacht, lebih banyak gaun pakaian, lebih banyak memboroskan uangnya.

Wahai hadirin, jangan tidur! Pandanglah saya, jangan melihat satu sama lain. Apa yang tengah saya katakan, bukan berasal dari diri saya sendiri: peliharalah. Dan modal sejati yang utama, yang manusia mesti mengejarnya, adalah CINTA. Siapa pun jua yang meminta dan mencari cinta, untuk mendapatkannya lebih dan lebih lagi, orang itu akan memperoleh sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya di muka bumi ini. CINTA – cinta adalah karunia teragung dari Allah bagi Anak-anak Adam as. Tanpa cinta, manusia bagaikan kayu kering. Ini [sambil menunjuk ke suatu meja kayu] telah kehilangan cintanya dan sekarang mengering. Pohon-pohon yang hidup, masih membawa cinta dan mendapatkan cinta.

Dan cinta memberikan pada manusia keindahan dan cahaya. Jangan menaruh seperti ini [lipstick] sesuatu di sini, atau pergi ke salon-salon kecantikan. Kalian tak akan menjadi cantik dengan hal-hal seperti itu, membuat seperti ini [sambil mendemonstrasikan] atau melakukan suatu operasi untuk melakukan hal ini [sambil mendemonstrasikan pengangkatan muka]. Ini tak akan menjadikan kalian cantik. Cintalah yang akan menjadikan diri kalian indah, cantik, terhormat, dan terpuji. Siapa saja yang mendapatkan cinta lebih banyak akan
menjadi lebih indah di sini maupun di Surga nanti. Ya, cinta adalah suatu karunia, karunia teragung dari Sang Pencipta. Dengan Cinta-Nya, Ia telah menciptakan kalian. Jangan berpikir bahwa Allah menciptakan kalian tanpa cinta; tidak! Dan kita bersyukur bahwa Ia mencintai hamba-hamba-Nya dan mengaruniakan pada mereka cinta.

Dan apakah yang Ia minta darimu, wahai para hamba? Ia hanya meminta cinta darimu – Ia memberimu cinta dan meminta darimu cinta. Di antara seluruh agama, dari seluruh kepercayaan, itulah yang terpenting: bahwa Ia telah memberikan karunia pada kita dari Cinta Suci Ilahiah-Nya dan meminta dari kita kecintaan kita akan Hadhirat Ilahiah-Nya.

Kini, kita tengah memberikan cinta kita pada kenikmatan-kenikmatan hidup yang rendah dan hina ini. Inilah yang tengah menjadi kutukan terbesar bagi manusia saat ini; inilah yang menjadi alasan akan munculnya berbagai kekerasan, keliaran, dan setiap masalah, karena manusia, orang-orang, tak memberikan cinta mereka bagi Tuhan mereka. Dan Ia melihat: Wahai hamba-Ku, Ku-karuniakan padamu Cinta Ilahiah-Ku. Apakah yang kau berikan pada-Ku?"

Dia tak meminta apa pun dari kalian; tidak! Semua doa, salat, dan ibadah kalian, semuanya haruslah menjadi suatu tanda akan cinta kalian akan Hadirat Ilahiah Agung-Nya. Sebanyak yang kalian mampu untuk berikan, maka berikanlah, dan kalian akan mendapatkan lebih lagi. Jangan katakan, "Aku Kristen", "Aku Muslim", "Aku Yahudi", "Aku Buddhist", "Aku Hindu", sementara dirimu tak mempersembahkan cinta suci bagi Tuhanmu. Kalian telah ditipu oleh musuh kalian, musuh utama dan musuh bersama seluruh manusia, markas-markas besar kejahatan, yang mewakili markas-markas kejahatan, Syaitan.

Kalian mesti menjaga diri kalian sendiri, ambillah pemeriksaan tadi, karena Syetan sedang menipumu setiap hari, membuat kalian memberikan cinta kalian bagi hidup sementara ini, dan kalian pun memberikan semua perhatian dan tenaga untuk tubuh fisik ini, padahal kondisinya menurun hari demi hari, turun dan mati, masuk dalam tanah. Lihatlah setiap hari; buatlah pemeriksaan bagi diri kalian sendiri, "Sudahkah aku tertipu atau tidak?" Jika kalian melihat bahwa diri kalian telah tertipu, kalian harus berusaha agar tidak tertipu esok.

Setiap saat kalian mengatakan, "Wahai Tuhanku, aku mencintai-Mu," ini suatu ungkapan yang begitu indah dari hamba pada Allah. "Oh, Tuhanku, aku mencintai-Mu." Saat kalian sedang sendiri, katakanlah, "Oh, Tuhanku, aku mencintai-Mu, aku mencintai-Mu, aku mencintai-Mu." Katakanlah tiga kali, "Wahai Tuhanku, aku mencintai-Mu." Maka, tak seorang pun akan mengalami depresi lagi. Lakukanlah ghusl (mandi) di malam hari, dan berpakaianlah sebaik mungkin dan beradalah di suatu ruangan kosong yang sepi, dan katakan, "Wahai Tuhanku, aku mencintai-Mu, aku mencintai-Mu." Kalian akan melihat bahwa depresi akan pergi dalam tiga malam. Tak perlu untuk meminum tablet atau obat; tak perlu. Obat-obatan, untuk siapa itu? Untuk mereka yang tengah depresi. Depresi adalah suatu hukuman dari Allah karena hamba-hamba-Nya tersebut tidak memberikan cinta mereka bagi Tuhan mereka; itu adalah suatu hukuman. Allah telah memberi mereka segala sesuatu, tapi mereka tak mau memberikan pada Tuhan mereka Yangkuasa, cinta mereka. Ia tidak meminta darimu makanan atau minuman atau pakaian yang indah; Yang Ia minta darimu hanyalah cinta!

Karena itu, Musa kami bisa melanjutkan pembicaraan ini hingga pagi hari, hingga minggu depan, tapi kalian telah kelelahan; karena itu kami akan menyingkatnya sebisa mungkin. Tapi, saya harus menceritakan cerita ini juga – Musa suatu saat hendak bertemu dengan Tuhannya di Gunung Sinai. Allah berfirman, "Wahai Musa , jagalah hamba-hamba-Ku. Wahai Musa, berikanlah yang terbaik bagi hamba-hamba-Ku. Buatlah mereka agar mencintai-Ku."
Itulah Musa, salah satu dari nabi-nabi terbesar, Sayyidina Muhammad saw yang pertama, Sayyidina Ibrahim yang kedua, Sayyidina Musa yang ketiga, Sayyidina `Isa yang keempat. Dan Allah berfirman, "Wahai Musa , mintalah dari hamba-hamba-Ku agar mereka memberikan cinta mereka pada-Ku. Suruh mereka untuk mencintai-Ku."

Apakah kalian mengerti? Saya berbicara dalam bahasa Inggris, tapi kalian seperti domba, hanya melihat dengan mata lebar. Tidak; kalian harus mengerti! Hal ini adalah sangat penting dan merupakan kata-kata bercahaya untuk dikatakan pada dirimu sendiri dan pada seluruh masyarakatmu, untuk mensucikan seluruh dunia ini. Allah meminta pada Musa, salah satu dari Nabi-nabi terbesar, "Mintalah, ajari mereka, katakan pada mereka, buatlah mereka untuk mencintai-Ku."

Allah meminta cinta dari hamba-hamba-Nya. Dan sungguh sayang, disayangkan dan merupakan suatu kekotoran bagi seorang hamba ketika ia meninggalkan dunia ini sementara matanya masih melihat dengan keterkaitan pada dunia ini, tidak diarahkan pada `Arasy Allah yang Agung. Sangat disayangkan dan merupakan kekotoran bagi mereka yang tak mau memberi, tak membawa hingga saat terakhir ketika mereka menyelesaikan hidup mereka, cinta pada Tuhan mereka. Siapa pun yang membawa cinta tak akan takut pada kematian karena cinta membuat mereka berada dalam hidup yang sejati, hidup yang abadi.

Suatu ketika, seorang wali, seorang Syaikh besar, seorang Grandsyaikh, meninggal dunia. Muridnya menguburnya dalam makamnya dan sang murid berusaha mengarahkan wajah Sang Syaikh untuk menghadap menuju Ka'bah. Saat itu, Syaikhnya berbicara dan berkata, "Wahai pelayanku, Ia baru memutar wajahku menuju Diri-Nya, hatiku menuju Hadirat Ilahiah Tuhanku." Dan sang murid pun sambil gemetaran berkata, "Kkk..kau tidak mati." Dan sang Syaikh pun menjawab, "Tidak, aku telah wafat, tapi hidupku, hidup sejati dari ruhku terus berlanjut."

Karena itulah, suatu saat saya berada di Damaskus dan pemerintah sedang membangun suatu jalan, memperlebar sebuah jalan, dan mereka memindahkan makam suci seorang grandsyaikh dari jalan itu, memindahkannya untuk membuka jalan di tempat itu bagi jalan baru yang akan dibangun. Saya juga berada di sana saat itu. Syaikh tersebut telah dimakamkan sejak lima ratus tahun sebelumnya. Saat mereka membuka kuburnya, beliau berada dalam pakaian kematiannya, kaffan, dalam kain-kain putih, dan saya melihat ke arahnya. Jenggot beliau tidaklah putih seperti jenggot saya, tapi berisikan banyak rambut-rambut hitam. Dan saat kafan beliau dibuka, suatu bau wangi yang tak seorang pun mampu melukiskannya merebak dari makam beliau; wewangian mawar merebak keluar dan beliau diambil dan ditaruh ke dalam peti yang lain. Tubuh beliau masih dalam keadaan yang sama seperti ketika beliau dikuburkan di situ. Orang-orang itu, ratusan orang di situ dan sejarah menjadi saksi bahwa orang-orang suci itu yang telah mencapai kehidupan sejati mereka dalam hidup ini, mereka tak akan pernah menjadi debu dalam kubur-kubur mereka karena cinta telah menyebabkan mereka tetap hidup.

Wahai hamba-hamba dari Tuhanku, saya adalah seorang hamba dan kalian pun hamba-hamba, dan saya sedang melakukan suatu asosiasi [sohbet]. Saya tidak sedang memberikan suatu ceramah, tapi saya sedang menasihati, dan saya sedang menasihati ego saya sendiri pula: "Berikan lebih banyak cinta bagi Tuhanmu dan Ia pun akan memberimu pula. Kalian akan menjadi orang-orang yang tercahayai."

Semoga Allah mengampuni kita dan memberkati kalian. Saya pikir ini sudah cukup, apa yang kami bicarakan, untuk diberikan pada hadirin yang terhormat ini. Saya menghormati kalian dan memuji kalian satu demi satu, bukan untuk gelar-gelar duniawi kalian yang sementara, tapi bagi gelar-gelar abadi kalian yang telah dikaruniakan Tuhan pada kalian—IbadAllah – hamba-hamba Allah .

Allah telah mengaruniakan pada kalian dari samudera Barakah-Nya yang tak berhingga dan memberikan kehormatan bagi kalian sebagai khalifah-khalifah-Nya (wakil-wakil-Nya) di alam semesta ini, dan kehormatan ini adalah cukup bagi kalian. Kalian telah dipilih sebagai khalifah, menjadi representatif (perwakilan) di muka bumi ini, suatu kehormatan yang diminta oleh setiap makhluk, dan terutama para Malaikat, mereka meminta untuk mendapatkannya; tapi, mereka tidak diberikan kehormatan itu, dan Allah menciptakan manusia untuk menjadi wakil-Nya. Kehormatan itu adalah kehormatan tertinggi! Saat kalian mengatakan, "Orang itu begitu dan begitu, orang ini begini dan begini", perkataan seperti itu tak bermakna sama sekali; menjadi Khalifah adalah pujian dan kehormatan tertinggi dari Allah bagi kalian. Berusahalah untuk menjaga kehormatan itu dan berusahalah untuk memberikan lebih banyak lagi cinta pada Tuhanmu, Allah .

Engkaulah satu-satunya Sultan, wahai Tuhan kami; Engkau mengumpulkan hamba-hamba-Mu. Berkatilah majelis ini, komunitas ini; Terimalah kami sebagai hamba-hamba-Mu yang tulus. Kami mencintai-Mu, kami mencintai-Mu; Aku mencintai-Mu, wahai Tuhan kami!
Semoga Allah mengampuni kita dan memberkati kalian dari cahaya-cahaya-Nya dan barakah-Nya yang tak terhingga. Di waktu lain, saya akan berbicara pada kalian, Insya Allah tentang
beberapa hakikat yang dalam, bukan dari bumi tapi dari surga-surga yang bercahaya. Persiapkan diri kalian.

Catatan kaki:

(1) Surat al-Muminun, 53, "Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)." Dan yang serupa dalam Surat al-Rum, 32, "yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka."
(2) Surat al-Kafirun, 1-6.

Wa min Allah at taufiq

posted by Mevlana as Sufi at 6:27 AM 0 comments

Penghambaan adalah level Tertinggi
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
dalam Power Oceans of Light


Kita adalah hamba. Kita berusaha untuk menjadi hamba yang baik, karena (selama ini) tidak. Tetapi kita harus. Setiap perintah dari Quran yang suci yang diberikan kepada kita oleh Rasulullah saw, Nabi suci, hamba yang terpuji, hanya diberikan untuk membuat kita menjadi hamba yang baik. Hamba-hamba yang tidak baik harus berusaha untuk menjadi hamba yang baik, dan hamba yang baik harus berusaha untuk menjadi hamba yang terbaik. Dapatkah seseorang keberatan dengan hal ini? tidak! Jika ada, pasti dia adalah Setan atau Fir’aun atau Namrud atau Abu Jahal. Baik pria maupun wanita, kita semua adalah hamba. Setiap orang harus memelihara dirinya dan harus memberi keputusan atau penilaian terhadap dirinya sendiri. Bagaimana kalian menilai diri kalian? Mungkin kalian harus berkata di depan yang lain bahwa kalian adalah orang yang baik, tetapi ketika kalian sendiri, berdiskusi dengan ego kalian, “Wahai egoku, katakan sejujurnya, apakah engkau hamba yang baik?” Apakah menurut kalian, secara sadar, kalian adalah orang yang baik? Kalian melakukan ini dan itu yang bertentangan dengan Perintah Suci. Kalian selalu berusaha untuk melanggar Perintah Ilahi. Apakah kalian pikir kalian adalah orang yang baik?

Grandsyaikh kita, Syah Naqsyband berkata, “Thariqat kita adalah jalan yang sempurna, jalan bagi penghambaan yang baik, dan jalan bagi penghambaan terbaik! Tak ada lagi yang lain!” Kalian tidak dapat meminta yang lain lagi. Kalian hanya harus meminta penghambaan yang terbaik. Beliau juga berkata, jalan kita adalah berdasarkan asosiasi (sohbet). Thariqat ini mengajarkan kalian untuk menjadi hamba yang baik. Thariqat ini begitu menyenangkan! Ini merupakan jalan para Nabi dan Awliya dan hamba yang terpuji, Sayyidina Muhammad saw. Ini juga merupakan jalan Yesus Kristus u dan jalan Nabi Musa. Ini merupakan jalan Nabi Ibarahim as dan jalan Nabi Daud u serta Nabi Sulaiman as. Ini merupakan jalan Nabi Nuh as dan jalan Nabi Adam as. Sejak awal sampai akhir (zaman) terdapat 124.000 Nabi dan thariqat ini adalah jalan mereka semua, jalan penghambaan, jalan penghambaan yang baik, dan penghambaan yang terbaik. Mereka semua adalah Guru. Ini adalah jalan Naqsybandi. Ini juga merupakan jalan bagi thariqat yang lain dan jalan bagi hikmah dan jalan Surga. Tak ada yang bisa melebihi level penghambaan, hanya Allah Yang Maha Esa. Tak ada yang kedua, hanya ada satu Tuhan yang patut disembah sejak masa azali sampai masa yang abadi, dan semua orang adalah hamba-Nya!

Di malam kemuliaan (Laylat al-Qadar) ketika Tuhan Pemilik Surga memperlihatkan Cahaya-Nya ke bumi, segala sesuatu bersujud di Hadirat Ilahi. Dia hanya satu, Tuhan Pemilik Surga, Tuhan Semesta Alam dan Tuhan sejak masa azali sampai masa yang abadi. Tak satu pun dapat menjadi Tuhan, hanya satu. Yang lainnya adalah hamba. Yesus Kristus tidak pernah berkata, Aku adalah Tuhan!” Barang siapa yang mengatakannya adalah munafik. Beliau tidak pernah mengatakannya! Ummat Kristiani melakukan kebohongan terbesar dengan mengatakan hal semacam itu. Beliau hanya mengatakan, “Aku adalah hamba Tuhan!” tetapi ego manusia dan Setan selalu meminta agar tidak patuh dan selalu meminta untuk hamba yang tidak patuh, karena ego sendiri mengaku bahwa dia adalah tuhan. Tetapi tidak bisa seperti itu. Kita harus mempelajari penghambaan. Kita harus melatih ego kita agar menjadi seorang hamba! Karena ego adalah hamba yang buruk. Setan juga seorang hamba, tetapi yang terburuk. Jangan berkumpul dengan hamba yang terburuk, jangan berkumpul dengan hamba yang buruk! Adalah suatu kehormatan bagi kalian untuk bisa bersama dengan hamba-hamba yang baik! Berusahalah untuk bersama para Nabi, murid-muridnya dan para pengikutnya, para sahabat dan orang-orang suci (Awliya). Jangan bersama Setan, Namrud, Fir’aun dan musuh-musuh Awliya. Jangan bersama orang-orang yang berperilaku buruk, karena mereka adalah hamba yang buruk. Hamba-hamba yang baik memiliki pancaran cahaya dari tubuhnya. Ketika kalian melihat hamba-hamba yang buruk, kalian akan mengerti. Mereka tertutup. Jangan bersama orang-orang yang buruk! Itu adalah nasib yang buruk, di sini maupun di hari kemudian.

Kita duduk di sini dan berusaha untuk membuat langkah pertama bagi ego kita yang sombong agar menjadi rendah hati. Ini adalah suatu bombardir bagi ego kita. Mereka adalah makhluk yang sangat angkuh, namun demikian mereka adalah hamba, hamba yang buruk yang menolak untuk menjadi baik. Kita ingin agar mereka turun. Datang dan menetap pada level kalian, jangan tempatkan diri kalian lebih tinggi daripada dirimu sendiri. Itu saja. Kita tidak datang ke sini, ke London, Inggris untuk membuat suatu pertunjukan. Itu tidak perlu. Kita datang ke sini di bawah perintah dan nasihat dari Awliya, dari Guru-Guru yang telah meletakkan egonya di bawah kaki mereka. Kita berada di sini untuk sementara. Ini adalah suatu pembukaan, sebuah Rahmat dari Surga bahwa mereka mengutus salah satu hamba-Nya untuk menjadi pelayan bagi kalian. Jika seseorang menerima untuk turun dari atas sana dan untuk mendarat di tanah kerendahan hati, mereka akan merasa bahagia dan senang. Mereka akan mencapai kesenangan yang berlangsung terus-menerus. Mereka akan meraih Samudra Cahaya, Samudra Hikmah yang tak terhingga, Samudra Cinta yang tak terhingga, Samudra Rahmat yang tak terhingga dan Samudra Kebahagiaan yang tak terhingga. Mereka akan meraih samudra yang tak terhingga, setiap orang memiliki samudranya masing-masing. Itu adalah kehidupan sejati bersama Tuhan Pemilik Surga. Tuba! Tak seorang pun dapat menterjemahkan kata itu karena itu adalah titik akhir dari kebahagiaan. Kalian akan ridha dengan Tuhan kalian dan Dia akan ridha dengan kalian.

Wa min Allah at taufiq

posted by Mevlana as Sufi at 6:27 AM 0 comments

Namrud dan Nyamuk
Maulana Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani
Jakarta, Februari 2002


Allah telah menciptakan manusia dengan segala kelemahannya. Fitrah kita, keaslian kita sebenarnya adalah lemah. Tak ada definisi penamaan ‘akbar’ kecuali hanya pada Allah I. Memangnya apa jabatan tertinggi di dunia,… presiden?…raja?…atau sultan? Satu penyakit datang kepada mereka, mereka tidak akan berdaya. Apapun yang mereka miliki untuk kesehatannya, itu tidak akan berarti. Jadi situasi yang harus kita mengerti adalah bahwa sesungguhnya kita lemah. Tak seorang pun yang telah dikaruniakan sesuatu seperti yang diberikan kepada Sayyidina Muhammad saw. Sayyidina Muhammad saw telah diberikan ilmu mengenai awal dan akhir, akmul awwalun wal aakhiruun. Beliau telah diberi sesuatu yang tidak pernah diberikan kepada orang lain.

Allah berfirman dalam al-Quran yang suci, Bismillaahir rahmaanir rahiim Innaa a’thaynaakal kawtsar“Kami telah memberimu banyak.” Kawtsar tidak hanya berarti sebuah sungai di Surga, tetapi juga merupakan pengetahuan yang tak terhingga (infinitif) yang telah diberikan kepada Rasulullah saw. Dan Allah berfirman, Bismillaahir rahmaanir rahiim Alam nasy-rah laka shadrak Bukankan Kami telah membuat hatimu gembira Wa wadha’naa ‘anka wizrak, Kami ambil semua dosamu, Wa rafa’naa laka dzikrak, Kami telah meninggikan ingatan terhadapmu, Kami membuat semua orang memujimu, dan mengangkatmu ke derajat yang paling tinggi.

Dengan segala kebesaran yang Allah berikan kepada Sayyidina Muhammad saw, beliau masih berkata, “Ya Rabbi, Aku adalah ‘abdun aziiz, Aku adalah hamba yang lemah.” Adakah seseorang yang telah diberikan karunia seperti Rasulullah ? Jika Rasulullah e berkata bahwa beliau adalah hamba yang lemah, lalu kita harus bilang apa? Dapatah Saya berkata, “Aku adalah Kaisar”? Dapatkah Saya berkata, “Aku adalah Doktor”? Dapatkah Saya berkata, “Aku seorang pengusaha”? Itu semua bukan apa-apa… Jika Allah berkeinginan untuk mencabut semuanya…dalam satu detik kalian sudah lenyap.

Kita adalah lemah. Berdirilah di luar, di tepi jalan dan pandanglah langit. Kalian melihat bintang-bintang di sana, bayangkan diri kalian, betapa kecilnya kalian dibandingkan dengan bintang-bintang itu. Bintang itu bisa lebih besar dari apa yang kita bayangkan dalam pikiran kita, karena ketika kita melihat mereka, jika mereka tidak begitu besar maka kita tidak dapat melihatnya. Mereka berada jutaan tahun cahaya dari kita dan kita dapat melihat mereka. Jadi seberapa lemah diri kita? Tetap saja kita merasa bangga dengan diri kita sendiri, arogan! Tak ada orang yang dapat berbicara dengan kita… tak ada yang dapat memberi kita nasihat… kita tidak mau menerima apa pun dari orang lain… kita keras kepala. Kita berpikir bahwa pikiran kita adalah yang terbaik, berapa banyak kita di ruangan ini? Setiap orang berpikir bahwa dirinya memiliki pikiran terbaik. Tidak mau menerima nasihat dari orang lain, bahkan seorang anak kecil pun berpikir bahwa pikiran dia lebih baik daripada orang lain.

Ketika Allah berkata kepada surga dan bumi, langit dan gunung, “Bawalah amanat-Ku!” Mereka menolak, “Ya Rabbi, kami tidak sanggup.” Allah berfirman dalam al-Quran yang suci,
Bismillaahir rahmaanir rahiim, Innaa ‘aradhnaal amaanata ‘alaas samaawaati wal ardhi wal jibaali fa a-bayna ay-yahmilnahaa wa asyfaqna minha wa hamalahaal insaanu innahu kaana zhaluuman jahuulaa (Q. S. 33:72). “Kami telah mengemukakan amanat Kami kepada langit, bumi dan gunung-gunung, mereka berkata, “Ya Rabbi, kami tidak sanggup, beban ini terlalu berat.” Tetapi manusia yang bodoh ini, dia menzhalimi dirinya sendiri dan berkata, Tidak, Aku dapat membawanya.” Dia begitu gembira dengan amanat itu, “Aku punya pikiran, Aku punya akal yang besar, Aku Fir’aun, Aku Namrud, Aku akan membawanya.

Namrud telah diberikan segala sesuatu di duni ini, dia menjadi begitu arogan dan bangga terhadap dirinya sendiri dan dia berkata, “Aku akan membunuh Tuhan yang ada di Surga.” Dia lalu membangun sebuah bangunan yang sangat besar dan dia pergi ke puncaknya lalu mengambil busur dan panah dan menembakkannya ke langit. Allah mengirim malaikat dalam wujud burung dan panah itu mengenainya dan menjadi berdarah. Ketika panah itu turun kembali ke bumi dan Namrud melihat darah itu, dia lalu berkata, “Oh, sekarang Akulah segalanya. Aku telah membunuh Tuhan di Surga.” Dia menjadi sangat sombong, sangat bangga akan dirinya seperti sekarang di mana banyak terdapat Namrud di antara manusia, baik pria maupun wanita. Mereka berpikir bahwa mereka dapat memperoleh segala kekuasaan yang mereka inginkan. Mereka menghancurkan seluruh negri hanya untuk manfaat dan keuntungan mereka dan mereka tidak peduli. Asalkan mereka tetap duduk di kursi, mereka tidak peduli bila seluruh negri terbakar. Hal ini disebabkan oleh apa? Karena Setan membuat mereka sombong. Mereka mewariskan karakter dan perilaku setan.

Jadi apa yang Allah lakukan? Dia mengirim makhluk yang paling lemah, lemah, lemah, lemah, lemah… yaitu seekor nyamuk kepada Namrud. Untuk menunjukkan kepadanya bahwa makhluk terlemah pun lebih kuat daripada dirinya, untuk menunjukkan bahwa Namrud lebih lemah daripada yang terlemah. Nyamuk itu memasuki lubang hidungnya dan mulai memakan otaknya, makan...makan…makan. Dia mulai menciptakan migren dan bengkak di kepalanya sehingga Namrud tidak bisa beristirahat tanpa terlebih dahulu kepalanya dipukuli oleh para pelayannya. Nyeri yang ditimbulkan karena gigitan nyamuk di otaknya itu lebih hebat dari apa pun yang bisa dibayangkannya dan tidak ada jalan baginya untuk memperoleh sedikit ketenangan kecuali dengan cara dipukuli kepalanya. Dan mereka memukulinya agar dia melupakan nyeri yang ditimbulkan oleh nyamuk yang memakan otaknya.

Karena kita Muslim, Allah menyayangi kita. Karena sebenarnya perilaku dan karakter kita pun serupa dengan Namrud. Jika kita bukan Muslim, niscaya Allah pun akan mengirimkan seekor nyamuk untuk memakan otak kita. Jadi ketika nyamuk tadi selesai memakan otaknya, bagian depan kepala Namrud terbuka dan keluarlah seekor binatang yang besar dari dalam kepalanya. Dan dia pun tewas. Kita berada di akhir zaman dari dunia ini. Karena orang mulai meniru Namrud dan mereka tidak sadar bahwa mereka lemah, maka Allah mengirim mereka binatang yang paling lemah, lemah, dan lemah, makhluk yang sekarang disebut dengan nyamuk Nil (Nile mosquito). Nyamuk Nil ini sekarang tersebar di banyak negara di seluruh dunia, membunuh pria, wanita dan anak-anak. Dan sekarang dia telah mencapai Amerika dan banyak orang yang telah tewas akibatnya. Sebelum kita mengenal nyamuk ini, Maulana Syaikh Nazhim (semoga Allah mensucikan jiwanya) pernah mengatakan bahwa Allah akan segera mengirim sesuatu untuk membersihkan kontaminasi yang terjadi di kalangan ummat manusia. Allah ingin membersihkan mereka dengan penyakit tersebut dan itulah yang kita saksikan sekarang.

Saintis tidak mengetahui darimana nyamuk itu berasal, tetapi Awliya tahu dari mana dia datang. Allah menciptakan nyamuk itu dari perilaku dan karakter buruk manusia. Sebagaimana yang kita bicarakan tadi pagi bahwa di alam kubur Allah menciptakan binatang buas dari bau yang ditimbulkan gunjingan untuk menyerang tubuh yang terbaring di sana, dalam kubur, untuk menyiksa, membersihkan dan memberinya pelajaran agar tidak menggunjing. Allah juga menciptakan nyamuk itu untuk datang dan menyerang. Segera setelah para Awliya menarik tangan mereka, berhenti berdo’a, nyamuk itu yang tercipta dari amal buruk, dalam jumlah jutaan akan menghancurkan banyak manusia di seluruh dunia.

Dari rahmat yang Allah curahkan kepada Sayyidina Muhammad saw, di mana Allah berfirman, Kami telah mengutusmu sebagai rahmat bagi seluruh manusia.” Dari rahasia tersebut para Awliya mewarisi rahmat itu, dan dengan do’anya mereka akan menghentikan serangan nyamuk di seluruh dunia. Sebagaimana Allah menghancurkan Abraha yang menyerang Ka’abah. Allah menerangkan dalam al-Quran yang suci, alam tara kayfa fa’ala rabbuka bi-ash-haabi-l-fiil, Allah mengirim burung yang di mulutnya terdapat…mereka menyebutnya batu yang sangat kecil, sebenarnya itu bukanlah batu, melainkan salah satu unsur dari Surga yang sangat kecil (yang tidak terdapat di bumi-red). Segera setelah burung itu melemparkan batu-batu tadi, dia menghasilkan ledakan yang dahsyat, menghancurkan sejumlah orang.

Begitu pula sekarang jika para Awliya menarik tangannya, kontaminasi itu akan terjadi di mana-mana, dan orang akan menderita. Tak seorang pun yang bisa membayangkan apa yang dilakukan oleh para Awliya untuk kemanusiaan. Kalian melihat Wali duduk bersama kita, makan, minum, karena itu adalah sunnatullah, itu adalah jalan hidup yang harus dilakukannya menyangkut jasmaninya sebagai orang yang normal seperti orang lain, tetapi dalam hal spiritualitasnya, sungguh sangat berbeda. Apa yang dilakukan oleh para Awliya dengan seizin Rasulullah saw terhadap diri kita, tidak dapat kalian bayangkan. Akan datang suatu masa di mana para Awliya akan berhenti memberi dukungan seperti yang mereka lakukan sekarang dan mereka akan membiarkan segalanya berjalan sendiri, dan pada saat yang bersamaan kita akan melihat banyak kebingungan di suluruh dunia karena akan ada suatu pengantar bagi munculnya Sayyidina Mahdi as.

Jika kalian melihat sesuatu dari Wali yang tidak kalian pahami, jangan memprotesnya, karena jika kalian memprotesnya kalian akan menjadi orang-orang yang kalah. Jangan seimbangkan tindakan para Wali menurut pikiran kalian. Seorang Wali tidak seperti para ulama atau pengajar biasa. Jangan katakan, “Mengapa dia melakukan ini atau itu?” Ada hikmah dalam setiap gerakan yang dia lakukan bahkan ketika dia menggerakkan jarinya dari sini ke sini, minimal ada 12.000 hikmah dari peritiwa itu.

Awliya Allah tersembunnyi. Apa maksudnya? Maksudnya adalah bahwa mereka menyembunyikan diri mereka agar tidak terlihat berbeda dengan orang-orang normal lainnya, tetapi pada kenyataannya, sebagaimana yang Allah I gambarkan, mereka berbeda di sisi Allah I.

Wa min Allah at taufiq
Rabbana taqabbal minna

posted by Mevlana as Sufi at 6:27 AM 0 comments

Friday, August 13, 2004
Cinta pada Rasulullah saw
Maulana Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani
Islamic Educational Center, Fremont, California
27 Januari 2003

Suhbat [dimulai dengan pendahuluan oleh Professor Muhammad Ahmad ] Kemudian Maulana Syaikh Hisyam : Saya datang sebagai pendengar. A'uudzu billahi minasy syaithanirrajiim
Bismillahirrahmanirrahim, Nawaytul arba'iin, Nawaytul I'tikaaf, Nawaytul khalwa, Nawaytul uzla, Nawaytus suluuk, Nawaytul riyadhah lillahi ta'ala al-`azhiim fii hadzal masjid

Suatu kehormatan bagi saya untuk datang dan mendengar nasihat tadi, bukan suatu kuliah, tapi suatu nasihat dari Professor tentang cinta pada Sayyidina Muhammad e. Saya benar-benar datang hanya untuk mendengar. Saya tidak merasa bahwa saya perlu untuk menambahkan apa pun, karena ketika kecintaan pada Nabi saw muncul dan datang, kita pasti merasa terbakar dalam cinta itu. Jadi, saya tidak tahu lagi apa yang mesti dikatakan, dan jika saya berbicara maka akan memakan banyak waktu. Berapa menit kalian ingin saya untuk bicara? [60 (menit), atau sepanjang malam… beberapa orang telah datang dari Sacramento!]
Ok, hanya untuk 15, 20 menit.

"Ya Sayyidi ya Rasulallah." Baru saja saya mendengar apa yang ada dalam nasihat yang telah diberikan oleh Professor. Oleh Prof. Dr.Muhammad Qadri tentang perlunya mencintai Nabi e. Tak perlu untuk mengucapkan Professor, atau doktor, Muhammad Ahmad k adalah cukup untuk suatu kehormatan. Alhamdulillah. Adalah suatu fakhr (kesombongan) untuk memberi nama setelah Sayyidina Muhammad saw. Kita bukan Wahabi, yang bangga dengan kertas yang kita peroleh dari universitas. Siapa yang peduli akan itu? Saya mendengar bahwa saat permulaan, saat majelis ini dimulai, hanya ada dua orang yang datang dan mendengar. Setelah itu, secara perlahan jumlahnya bertambah dan kita sekarang melihat ratusan orang di sini.

Hal ini menunjukkan bahwa kalian berada di jalan yang lurus. Saya berada di Houston kemarin dan saya memberikan nasihat di Masjid Ghawts A'zham. Dan masya Allah, begitu banyak orang dari Thariqat Al-Qadiriyyah mengundang saya ke acara besar itu dan kalian pun bisa merasakan perasaan yang sama akan kecintaan kepada Nabi saw. Kini, untuk mencintai Nabi saw adalah sesuatu yang harus kita rasakan dalam hati kita. Jika kita tidak merasakannya dan tidak mengetahuinya dan tidak mempelajarinya dan tidak mengamalkannya, maka cinta itu hanyalah ada di lidah. Itulah kenapa Syaikh Muhammad Ahmad Qadiri , menyebutkan suatu hadits Nabi saw, "la yu'minu ahadakum hatta akuunu ahabba ilaykum min waalidihi wa aalihi wa an-naasi ajma'iin." Yang berarti, "Kalian tidak akan mencapai iman sejati sampai kalian mencintaiku; kalian harus mencintaiku lebih dari kalian mencintai orang tua kalian, diri kalian sendiri dan anak-anak kalian serta seluruh manusia."

Jika kita melihat pada diri kita hari ini, jika anak kita sakit dan kalian harus membawanya ke rumah sakit, kehidupan kalian akan terganggu. Kalian tak dapat tidur satu jam pun tanpa adanya perasaan, "Anakku" atau "Putriku." Kalian terus mengatakan pada diri kalian, "Putraku," atau "Putriku". Kalian memiliki perasaan ini untuk menjaga putra atau putri kalian. Hal ini adalah timbangan atau ukuran sederhana yang dapat kita pakai untuk melihat diri kita sendiri. Sudahkah kecintaan pada Nabi saw seperti kecintaan dalam hati kita pada anak-anak kita atau belum? Jika kecintaan seperti itu belum ada, dan saya yakin belum ada, maka kita pun harus meningkatkannya.

Itulah mengapa Syaikh Muhammad Ahmad juga menyebutkan ayat, "Qul in kuntum tuhibbun Allah fat-tabi'uunii yuhbibkumullah wa yaghfir lakum dzunuubakum, wallohu Ghafuurur Rahiim" Katakanlah: 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah , ikutilah aku, niscaya Allah swt mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'" [3:31]
Bukanlah Nabi saw yang mengatakannya–adalah Allah yang berfirman, "Ya Muhammad saw, katakan pada mereka, `Jika kau mencintai Allah , maka ikutilah aku, Allah akan mencintaimu.'" Untuk siapakah ayat itu? Untuk setiap orang, untuk Sahabat. Saya mencintai Nabi saya harap dan setiap orang mencintai Nabi. Dan para Sahabat mencintai Nabi . Maka bagaimanakah saya akan mencintai Nabi saw jika saya perlu untuk melihat beliau dan mengikuti beliau? Bagaimanakah saya mengikuti beliau jika saya tidak melihat jejak langkah beliau? Maka, para Sahabat melihat jejak langkah Nabi saw dan beliau menunjukkan pada mereka akan hakikat bagaimana mengikuti (ittiba', penerj.). Beliau membawa mereka dengan tangannya dan mereka pun bergerak, beliau membimbing mereka.

Tapi, ayat Qur'an Suci itu adalah bagi seluruh Ummah, dari awal hingga akhir. Ada suatu makna tersembunyi di sini. Nabi selalu bersama Sahabat untuk membimbing mereka. Itu berarti kehadiran beliau saw mestilah wujud di semua zaman bagi semua orang, bagi semua manusia untuk diikuti. "Wa'lamuu anna fiikum Rasulallah." – "Dan ketahuilah bahwa Nabi
adalah berada dalam dirimu." [49:7]. Allah tidak mengatakan bahwa beliau "baynakum", "di antara kamu", tapi Ia berfirman, "Fiikum" – "di dalam dirimu." Quran suci sangat halus dan teliti dalam setiap huruf dan kalimatnya. Jika Nabi berada dalam diri kita, maka kemudian Allah mengatakan pada kita di sini, "lalu di manakah dia sekarang?"

Saya sedang mendengarkan suatu contoh ini [sambil menyentuh mikrofon]. Apakah kalian mendengarkannya? [ya]. Mengapa kalian mendengarnya? Itulah suara. Sentuhan tadi menciptakan suatu suara yang memiliki suatu panjang gelombang tertentu dan gelombang ini bergerak keseluruh ruang, ke seluruh alam semesta dan tak pernah lenyap. Mereka yang tahu akan fisika, engineering, tahu tentang ini. Gelombang tadi bergerak melalui ruang, sehingga ketika saya menyentuh (mikrofon), gelombang tadi bergerak melalui ruang – jika kalian memiliki receiver (penerima) kalian dapat mendengarnya dan jika kalian tidak memilikinya, kalian tak dapat mendengarnya.

Kita sedang mendengarkan dari era milliaran tahun yang lalu, suara-suara yang datang dari alam semesta, karena kita memiliki receiver-receiver yang besar (teleskop radio-red.). Kita mampu mendengarkan sesuatu, tetapi kita tetap tak mampu mendengar yang lain, ini tak mungkin. Setiap suara mestilah terdengar jika kalian memiliki peralatan yang tepat, karena gelombang-gelombang itu bergerak di segenap alam ini. Saat Sayyidina Muhammad saw membaca Al Quran suci, gelombang itu terus hidup dan ia tidak lenyap. Kalian bisa pula memahaminya dari titik pandang Fisika. Maka, jika suara itu di sana, mengapa kita tak mampu mendengarnya? Karena ada yang salah dengan peralatan kita. [subhanAllah, hayyak Allah wa jamaalakAllah wa.`afakalla]

Ada sesuatu yang salah. Bagaimana pula dengan hadits, "ma zaala `abdii yataqarraba ilayya bin-nawaafil hatta uhibbah. Fa idza ahbabtahu kuntu sam'ahul ladzii yasma'u bihi wa basharahul ladzii yubsiru bihi, wa yadahul ladzii yubtishu bihi wa lisanahul ladzii
yatakallama bih." "Hamba-Ku tidaklah berhenti mendekati-Ku melalui ibadah sunnah (nawafil) hingga Aku mencintainya. Dan jika Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, dan tangannya yang dengannya ia bertindak dan lisannya yang dengannya ia berbicara."

Seorang hamba mendekat dengan ibadah sunnah sampai Aku mencintainya, sebagaimana Syaikh Muhammad Ahmad Mahmud Qadiri, [menambahkan bahwa] berkata bahwa cinta pada Sayyidina Muhammad saw adalah penting. Para Sahabat, dari kecintaan kepada Nabi itu, mereka benar-benar mendengar pada Nabi , dan berkata, "Ya, Wahai Rasulallah , kami terima apa pun yang kau ucapkan." Para Munafiqiin mencoba untuk membuat keragu-raguan. Tapi, para sahabat berkata, "na'am Sadaqta Ya Rasulallah!" pada malam Mi'raj. Tapi, cinta itulah yang penting. Cinta itu datang bukan melalui kewajiban, tapi Ia berfirman, "maa zaala `abdii yataqarraba ilayya bin nawaafil hatta uhibbah." – melalui ibadah dan amalan sunnah.

Apakah kewajiban itu dalam Quran, datang dari langit atau Nabi saw melakukannya sendiri karena kecintaan? Karena kecintaanlah Nabi melakukannya. Kewajiban (Faraidh), adalah sesuatu yang harus kalian lakukan, kalian dipaksa, jika tidak kalian masuk ke jahannam. Itu adalah suatu kewajiban, kalian tak dapat mencapai cinta Allah Idengannya. Adapun Ibadah Sunnah, ada suatu jalan untuk menghindarinya, karena sekalipun kalian tidak melakukannya kalian akan tetap masuk surga. Tapi, kalian tidak akan berada dalam situasi seperti yang disebut dalam haditst tadi. Itu berarti jika seorang hamba mencintai-Ku melalui Muhammad saw, dengan sarana Nawafil, `ibadah sunnah, maka Aku akan mencintainya, ini adalah suatu hubungan timbal balik. Ini haruslah dimulai dari diri kalian lebih dulu, karena Allah swt memang sudah mencintai hamba-Nya. Tapi, diri kalianlah yang harus memasukkan steker, kawat kabel kalian dan membuat hubungan itu dari sisi kalian.

Lalu apa yang terjadi? Hadist itu berlanjut, "kuntu sam'ahul ladzii yasma'u bih" Itu bermakna, "Aku akan memberinya penerima (receiver) khusus untuk mendengar, hingga ia mampu mendengar apa yang hanya bisa didengar wali." Aku akan memberinya apa yang tak dapat didengar orang? Apa yang tak dapat didengar oleh orang-orang? Kau tak dapat mendengar, ia tak dapat mendengar, kalian akan mendengar suara yang orang tak dapat mendengarnya karena mereka tak memiliki `pembukaan' itu dalam telinga-telinga mereka. Ia akan memberi kalian apa-apa yang berasal dari sifat as-Sami', sebagaimana Sariya mendengarkan suara Sayyidina `Umar ra dari Syam. "Wahai Sariya ! Jaga gunung itu," dari Madinah ke Syam.

Sariya mampu mendengarnya. Sayyidina `Umar ra mampu mendengar dan melihat. Jadi, Sariya memiliki audio voice saja. Sedangkan Sayyidina `Umar ra memiliki baik video maupun audio. Itulah teknologi yang ada sejak 1400 tahun lampau, sejak zaman Nabi saw. Kemudian haditsnya berlanjut, "Aku akan berikan padanya penglihatan yang Ia dapat gunakan untuk melihat dengannya, Aku akan menjadi matanya yang dengannya ia dapat melihat." Pada saat itulah, kalian akan memiliki audio, video, dan TV. Saat itulah, kemudian, kalian akan mampu melihat Nabi saw bagaimana beliau bergerak, bagaimana beliau berbicara, bagaimana beliau bertindak, maka kalian pun bisa mengikutinya. Jika kalian tak mampu melihat hal-hal tersebut, maka ikutilah mereka yang mampu melihatnya. Tak setiap orang mampu melakukannya, hanya sedikit yang mampu melakukannya, hanya awliya' (kekasih Allah ) yang mampu melakukannya, seperti Sayyidina `Abdul Qadir Al-Jailani .

Bahkan kalian menyebut Ibn Taymiyya, saya tidak suka untuk menyebutnya tapi untuk menunjukkan pada Wahabis bahwa guru mereka pun adalah seorang pelayan di pintu Sayyidina `Abdul Qadir Al-Jailani .Ibn Taymiyya memuji Sayyidna `Abdul Qadir Al-Jailani k dalam bukunya Fatawa ibn Taymiyya.Saat itulah kalian memiliki audio dan video, dan itulah yang
memberikan pada kita makna bahwa Nabi saw selalu hadir, melihat diri kalian dan melihat apa yang kalian lakukan. Dan jika kalian cerdas, kalian akan mampu melihatnya. Dan jika kalian tidak mampu, maka ikutilah mereka yang mampu. Itulah perintah yang ada dalam suatu hadits, "In kuntum tsalatsah, fa-amiru ahadakum." – "Jika kalian bertiga, maka jadikan seseorang sebagai pemimpin kalian."

Amir itu tidak boleh buta, dia tidak boleh seseorang yang bukan intelektual. Dia haruslah seseorang yang dapat melihat jejak langkah Nabi saw. Saya mendengar cerita ini dari Syaikh saya dan ayah beliau dan kakek beliau adalah berasal dari Thariqat Qadiri. Beliau melakukan khalwat penuh di maqam Sayyidina `Abdul Qadir Al-Jailani selama setahun penuh.
Seorang wanita membawa anak laki-lakinya kepada Sayyidina `Abdul Qadir Al-Jailani k dan berkata, "Ya Sayyidii, aku tahu bahwa Anda adalah Ghawts, dan aku tahu demi kehormatan dari Nabi saw, engkau memberi." Wanita itu adalah seorang wanita yang miskin dan ia selalu menghadiri suhbat (asosiasi), dan ia akan melihat seluruh murid, pengikut, menghadiri suhbat dan dzikir. Dan di hadapan setiap orang ada seekor ayam dan mereka makan.

Wanita itu berkata pada dirinya sendiri, "Alhamdulillah, aku miskin dan Sayyidina `Abdul Qadir k kaya baik di dunia maupun di akhirat. Aku akan berikan anakku untuk duduk di sana. Setidaknya ia akan makan di pagi dan malam hari." Ia berkata, "Aku ingin anakku menjadi muridmu." Beliau menerimanya. Anak itu adalah seorang anak yang berbadan cukup
gemuk. Beliau menyuruh seorang murid, Muhammad Ahmad, "Kirimkan dia ke basement dan berikan padanya awrad untuk khalwat. Dan berikan baginya sekerat roti dan minyak zaitun untuk makan setiap hari." Wanita tadi datang setelah satu bulan dan berpikir bahwa anak laki-lakinya pasti makan ayam. Kemudian ia melihat para murid duduk dan makan ayam dengan adab yang baik. Wanita itu bertanya pada Syaikh tentang anaknya. Beliau menjawab, "Ia sedang di ruang bawah tanah memakan makanan yang istimewa." Wanita itu senang, karena ia berpikir bahwa kalau para murid saja sedang makan ayam, pastilah anaknya sedang makan sapi.

Dia turun ke bawah dan melihat anak laki-lakinya – dia tampak sangat kurus. Tapi, dia sedang duduk, membaca doa, berdzikir, dan cahaya tengah memancar dari wajahnya.
Wanita itu mendatanginya dan berkata, "Apa ini?" Ia menjawab, "Itulah yang aku makan, sekerat roti." Wanita itu mendatangi Sayyidina `Abdul Qadir Al-Jailani k, "Aku membawa anakku untuk bersamamu." Saat wanita itu berbicara sang Syaikh memerintahkan para muridnya, "Makan." Setiap murid memakan ayam di hadapannya masing-masing, bukan potongan-potongan, tapi seluruh ayam, beserta tulang-tulangnya. Kemudian beliau berkata pada wanita itu, "Jika kau ingin anakmu mencapai suatu level untuk dapat memakan ayam beserta tulang-tulangnya, maka ia harus lebih dahulu menjalani tarbiyya – pelatihan." Tarbiyya itu adalah untuk membina dan melatih ego, yang merupakan hal paling sulit. Itulah yang diperlukan.

Saya datang ke sini hanya untuk mendengarkan kalian. Akhir dari suhbat Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani .Fatihah.Allahumma salli 'ala Sayyidina Muhammadin nabi al-ummi wa 'ala Alihi wa Sahbihi wa sallim.

posted by Mevlana as Sufi at 10:14 AM 0 comments

Penghormatan
Penghormatan

Dalam teks Sufi, penghormatan diberikan kepada Rasulullah, Keluarga Rasulullah, para Sahabat dan Awliya.

Swt : untuk subhanahu wa ta’aala atau Mahasuci dan Mahatinggi (mengikuti Nama Allah).
saw : untuk shall-Allaahu ‘alayhi wa sallam atau berkah dan salam kedamaian Allah
dicurahkan baginya (mengikuti nama Rasulullah).
as : untuk ‘alayh is-salaam atau kedamaian tercurah atasnya (mengikuti nama-nama Nabi
lainnya, Anggota keluarga Rasulullah yang pria, malaikat dan Khidir).
ع : untuk ‘alayh as-salaam atau kedamaian tercurah atasnya (mengikuti nama Fatima, putri
Rasulullah dan Maryam, ibu Nabi Isa).
ra : untuk radhy-Allaahu ‘anh atau semoga Allah ridha/senang kepadanya (mengikuti nama
para Sahabat pria dan wanita).
q : untuk qaddas-Allaahu sirrah atau semoga Allah mensucikan rahasianya (mengikuti nama
seorang wali).
posted by Mevlana as Sufi at 10:14 AM 0 comments

Jaga Egomu
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani q
Kamis, 21 Feb 02

Saya bertanya kepada kalian semua—para penganggur, orang-orang yang tidak mempunyai pikiran, orang-orang yang mengalami depresi atau pasien rumah sakit jiwa, apa yang kalian pikirkan? Pemahaman? Kalian mempunyai waktu, kalian adalah orang-orang yang tidak mempunyai kesibukan… Destur, ya Sayidi, Meded…A’uudzu bi-llaahi minasy syaythani rajiim, Bismillahi-r-Rahmaani-r-Rahiim…

Ada satu hal yang sangat penting yang harus kita perhatikan dengan cermat. Jika kalian bisa memecahkan masalah itu, kehidupan manusia akan tertata dengan baik dan orang akan mendapatkan kepuasan, kedamaian, ketentraman, kenyamanan dan menjadi masyarakat yang makmur sentosa. Tetapi bila tidak bisa dipecahkan akan timbul masalah yang berkepanjangan, penderitaan, perang, pertempuran, kedengkian, dan kebencian. Apakah hal yang sangat penting itu? Saya akan mengatakannya dalam bahasa Arab untuk menunjukkan bahwa dia berasal dari pengetahuan tradisional, bahwa segalanya merujuk kepadanya. Kita telah diciptakan dan tinggal di bumi, kita datang dan pergi, ada perbedaan antara makhluk surgawi dengan makhluk duniawi. Makhluk surgawi yaitu malaikat, memiliki penciptaan yang sangat berbeda. Allah telah menganugerahkan mereka untuk tinggal dalam eksistensinya dan misi mereka adalah untuk mengagungkan Allah.

Dunia malaikat hanya ditujukan untuk mengagungkan Allah . Mereka tidak membutuhkan apa yang kita butuhkan. Mereka telah diciptakan dari Samudra Cahaya Ilahi dan penciptaan mereka berlangsung terus, tidak pernah berakhir. Tidak ada materi dalam proses penciptaan mereka (seperti) halnya kita, tidak ada nafs, tidak ada ego untuk mereka. Mereka berada dalam Hadirat Ilahi, mengagungkan Dia dan mereka berada pada titik akhir kebahagiaan, kedamaian dan kenikmatan. Tidak ada istilah ‘cukup’ dalam menggagungkan Allah. Setiap pengagungan itu membuat mereka lebih mencintai Allah dan mereka semakin menikmati tindakannya. Pengagungan itu juga meningkatkan cahaya mereka yang datang melalui Samudra Cinta Ilahi, tanpa akhir, akan selalu ada makhluk baru yang keluar dari Samudra Cinta, Samudra-Samudra Cinta yang masing-masing berupa Samudra yang tak terhingga. Melalui masing-masing Samudra itu tercipta malaikat dengan jumlah tak terhingga, mereka penuh dengan kecintaan dan pengagungan kepada Allah swt.

Selain itu ada pula alam yang lain, yaitu dunia kita, bumi. Di dalamnya terdapat bermacam-macam makhluk, itu adalah dunia binatang. Dunia binatang berisi beraneka ragam binatang dan jenisnya pun tak terhingga. Penciptaan mereka berbeda dengan penciptaan makhluk surgawi, dan mereka hanya tertarik pada materi mereka. Mereka telah diciptakan untuk sejenis makhluk lainnya, yaitu manusia; mereka telah diciptakan untuk kita, karena kita membutuhkan mereka. Kita berasal dari material bumi, sebagaimana jiwa kita yang berasal dari surga; mereka menyatu lalu terciptalah makhluk yang baru, yang diciptakan oleh Allah I. Sekarang kita berada di bumi, level kita berada di atas level binatang, tetapi masih di bawah makhluk surgawi. Karena ego, kita adalah makhluk duniawi dan karena jiwa kita adalah makhluk surgawi. Kemudian terjadi kecamuk di antara keduanya, dua sisi yang berlawanan dan berlainan jenis: sisi material yang mewakili ego dan bertempur melawan jiwa yang merupakan perwakilan surgawi dalam diri kita. Salah satu di antara mereka ingin bangkit, bangkit menuju Surga, karena mereka cenderung menuju ke sana. Jiwa kita ingin mencapai samudra Hadirat Ilahi yang tak terhingga. Tetapi sisi material kita dan perwakilannya, yaitu ego, selalu menginginkan kita lebih dekat dengan alam, karena kebahagiaannya terletak pada alam, mereka bahagia bersama bumi.

Sekarang kita sampai kepada hal yang Saya maksud, jika kalian tidak memperhatikannya dan membiarkan ego menguasai dan kalian dikalahkannya, mungkin akhirnya kalian akan kehilangan segalanya. Oleh sebab itu Rasulullah saw bersabda, “Kalian harus menjaga egomu, jangan sampai dia lepas kendali.” Ketika kalian menganggur, Setan datang dan berkata kepada ego untuk melakukan ini itu, memerintahkan ego untuk membuat tubuh kita sibuk dengan sesuatu yang tidak baik bagi jiwa kita. Seperti halnya keledai dan pemiliknya. Jika pemiliknya tidak menungganginya, keledai itu berusaha untuk menungganginya. Kalian harus sangat berhati-hati mengenai hal ini, jangan sampai ego kalian tidak kalian kuasai. Dengan cepat dia akan menunggangimu, menjadikan dirimu sebagai keledai. Oleh sebab itu segala kesulitan berasal dari ego kita.

Kita menjadi lalai karena membiarkannya tidak terkendali, dan dengan cepat dia akan menunggangi kita dan membuat kita bejalan seperti yang diinginkannya. Dan dia selalu mengejar hal-hal yang berbahaya, hal-hal yang buruk. Itu adalah karakter binatang yang buas, dan akan melekat pada diri manusia. Sekarang kekerasan menjadi pakaian orang-orang di seluruh dunia, mereka menjadi beringas. Apa alasannya? Karena mereka mewakili ego, bukan sisi surgawi mereka, tidak, orang mengenakan pakaian kekerasan sekarang. Di setiap tempat terjadi percekcokan, perselisihan, menghancurkan dan melakukan hal-hal yang buruk. Di mana-mana. Ketika orang mengenakan pakaian ego, kutukan menimpa mereka dan tidak ada rahmat bagi mereka. Dan bila rahmat telah dicabut, kekerasan datang menyelimuti setiap orang dan mereka dituntut untuk saling membunuh, menyakiti sesama, menghancurkan, membakar, dan melakukan segala hal yang tergolong perbuatan setani, karena kutukan membawa tindakan jahat tersebut. Perbuatan setani hidup melalui kutukan dan berkah dan rahmat dicabut.

Oleh sebab itu untuk menyelamatkan diri dari kutukan kita harus mengikuti nasihat Rasulullah saw, “Jangan biarkan egomu berdiri bebas. Berikan selalu suatu tanggungjawab kepadanya. “ “…fa idzaa faraghta fanshab, wa ilaa rabbika farghab “ [QS 94 :7]. Apa yang dapat kita katakan mengenai nasihat Rasulullah saw ? Allah membuatnya sebagai keputusan, tidak pernah berubah, “Wahai kalian, jika kalian mempunyai waktu luang, sibukkanlah dirimu. Jangan membuat suatu jarak. Jika kalian telah selesai mengerjakan satu perbuatan baik, suatu perintah surgawi, segeralah lakukan pekerjaan yang lain, buatlah dirimu sibuk, jangan biarkan egomu menjadi tidak terkontrol, muatilah dengan muatan lain. Jangan biarkan dia tanpa beban.” Satu huruf memberi arti seperti sebuah samudra, ”Wahai hamba-Ku, jika kalian telah selesai melakukan suatu urusan, jangan biarkan egomu bebas, kerjakanlah segera urusan lain dengan sungguh-sungguh.” Itu adalah satu ayat dan di dalamnya terdapat satu huruf yang bisa menyelamatkan seluruh ummat manusia. Itulah kebesaran dari al-Qur’an yang suci! Kalian seharusnya bergembira.

Sekarang orang-orang berkelahi dan berkata, ‘Kami bekerja 36 jam seminggu.’ Satu minggu berapa jam? 168 jam. Mereka berselisih agar jam kerja mereka menjadi 36 jam. 168 jam dikurangi 36 jam, berapa yang tersisa? 132 jam. Apa yang mereka lakukan? Tanya mereka! Mereka menganggur, mereka membiarkan ego mereka melakukan apa saja. Mau jadi apa mereka??? Bagaimana krisis akan selesai? Betapa bodoh bila kalian mau memikirkannya. Orang-orang bekerja 36 jam dan tidak melakukan apa-apa selama 132 jam. Kebodohan macam apa itu? Apakah tak ada yang mengerti akunting? Mereka berada di bawah komando Setan selama 132 jam. Apa itu? Inilah Dunya, dunia kita, di mana-mana begitu. 132 jam—apa yang mereka kerjakan? Dan mereka berkata, “Ekonomi sedang krisis, orang-orang menderita.” Allah I membuat mereka semakin menderita. Jika mereka tidak melakukan apa-apa dalam 132 jam, mereka berada di bawah kendali Setan. Hal ini sangat jelas. Bahkan bila mereka bisa bekerja selama 132 jam dan 36 jam mereka menganggur, maka 36 jam ini akan menghancurkan 132 jam sebelumnya. Tinggalkan dia—bahkan jika kalian memberi 1 jam kepada ego, maka 1 jam itu akan menghabisi seluruh hal yang telah kalian ambil, segala hal yang kalian raih. Satu jam cukup bagi ego untuk menghancurkan segalanya. Oleh sebab itu Rasulullah saw bersabda, “Ya, Allah, jangan biarkan aku berada dalam kekuasaan ego walau hanya sekejap mata.” Oleh sebab itu Saya memohon, “Ya Allah, kirimkan kami seorang yang akan membangunkan orang-orang. Kini mereka telah habis, mereka membutuhkan campur tangan surgawi. Tanpa campur tangan surgawi kami berada dalam kekuasaan Setan, dan setiap orang menjadi tenaga sukarela bagi Setan dan dalam melakukan perbuatan setani.”

Semua orang adalah tenaga sukarela. Apa pendapat kalian tentang hari-hari yang akan datang? Apa yang Saya katakan ? Bagaimana Saya dapat mengatakan sesuatu yang memberimu harapan untuk hari-hari mendatang jika kita berada dalam situasi seperti ini? Jika mereka tidur, itu lebih baik, karena ‘Naum ul zhalim ibadat’. Ada sebuah peribahasa Arab, “Tidurnya seorang tiran adalah ibadah,” sebab seorang tiran atau orang yang zhalim, jika dia terjaga, pasti akan menyakiti orang. Tetapi bila dia tidur, tidak.

Oleh sebab itu Allah membuat ular besar ini, ketika dia menelan sesuatu, dia akan tidur selama satu minggu, agar tidak menyakiti. Singa, ketika kenyang, mereka tidur dan menjadi seperti kucing. Orang yang zhalim, semakin banyak mereka bangun, semakin menyakitkan dan menghancurkan, karena mereka membuat orang agar dikuasai siang dan malam, 132 jam dalam seminggu. Mereka berkata, “Jangan tidur, nikmati diri kalian di luar, apakah kalian datang ke sini untuk tidur?”

Jangan ambil tali dari kudamu, sebuah kereta harus berada di belakang kuda, begal atau keledaimu. Egomu harus selalu siap untuk melayani sampai titik penghabisan. Dan kalian memperhatikan supir kendaraan itu, dia memegang cemeti di tangannya, untuk mengendalikan binatang itu ketika mereka bergerak ke kiri atau ke kanan… oleh sebab itu kalian harus bergembira. Jika kalian mengambilnya dan membuatnya istirahat… jangan pernah memberikan istirahat kepada egomu! Setan tidak terlalu senang dengan saya. Begitu pula dengan ego saya. Saya berkata, “Saya sudah habis, Saya berbicara kepada yang muda untuk menjaga diri mereka.” Setan sudah putus harapan terhadap saya, tetapi dia sangat marah ketika Saya memperingatkan kalian.

Wa min Allah at taufiq
posted by Mevlana as Sufi at 10:14 AM 0 comments

Dukungan Allah swt Saja Sudah Cukup
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
dalam Power Oceans of Light


Jika tidak ada Dukungan Surgawi, segala sesuatu akan musnah. Karena Dukungan Ilahi pulalah kalian dapat berdiri. Dukungan Ilahiah sejati hanya diberikan kepada orang-orang yang mengharapkan ridha Allah . Jika kalian memohon ridha-Nya, Dukungan Surgawi akan diberikan kepada kalian. Yang lain dapat mengerjakan apa saja, tetapi pada akhirnya akan sia-sia, tak bermanfaat.

Setiap hari malaikat berseru dari Langit, “Wahai manusia, percayalah kepada Tuhan kalian dan hiduplah demi kematianmu!” Setiap orang yang hidup pasti akan mati. Apa yang diucapkan oleh malaikat tadi adalah meminta kepada setiap orang untuk membangun demi suatu kehancuran. Siapa pun yang hidup hanya demi kehidupan ini, mereka akan mati. Mereka akan disingkirkan. Dan siapa pun yang membangun hanya untuk kehidupan ini, mereka akan dihancurkan, karena Allah tidak akan mendukung mereka. Seseorang yang meletakkan sebuah batu di atas yang lain tanpa mengerjakannya demi Allah, dia tidak akan mendapat dukungan.

Kita ingin hidup untuk Allah , bukan untuk orang lain. Jika kalian berniat untuk hidup demi Allah, Allah akan mendukung kalian. Kalian dapat melakukan banyak hal, jika kalian melakukannya demi Allah dan demi Nabi-Nya yang suci , kalian akan mendapat Dukungan Ilahi. Bisa saja itu merupakan tugas raksasa yang yang mustahil dikerjakan dengan cara yang biasa. Tetapi karena Allah mendukung kalian, kalian akan bisa melakukannya. Dukungan-Nya lebih berharga daripada dukungan yang diberikan oleh gabungan seluruh bangsa di dunia ini. Jika Allah mendukung kalian, itu saja sudah cukup, bahkan jika yang lain menentang kalian, tak perlu khawatir. Apakah kalian pikir dukungan dari Bank Inggris, Amerika, Jerusalem atau bahkan Bank Dunia lebih baik daripada dukungan Allah? Bagaimana menurut kalian? Ya, mungkin kalian akan percaya dengan ucapan saya, tetapi pada prakteknya kalian masih melakukan hal yang sebaliknya, kalian masih mengharapkan dukungan kartu kredit dari Bank. Kalian tidak sungguh-sungguh meminta Dukungan Surgawi.

Semua itu melukai iman dan membunuh aqidah. Mereka mungkin kelihatan sebagai hal yang sepele, tetapi efeknya sangat besar. Kalian harus menerapkan apa yang kalian ketahui. Tetapi karena orang tidak melihat emas jatuh dari langit, mereka tidak mengerti bahwa Dia-lah yang mendukung segalanya. Kita harus percaya. Agama diciptakan bagi manusia sebagai sarana untuk mempelajari bagaimana caranya agar percaya. Jika kalian percaya, kalian akan menang. Jika kalian tidak percaya, kalian akan kalah. Percaya dan mengalami peningkatan! Percaya dan menjadi menang! Percaya dan menjadi dekat dengan Hadirat Ilahi Rabbi. Kalian dapat bertanya kepada diri kalian sendiri, “Jika Saya meninggalkan semua dukungan lain dalam hidup ini dan hanya bergantung kepada Allah , bagaimana hal itu akan terjadi?” Cobalah! Jika kalian tidak mempunyai pekerjaan, bekerjalah untuk Allah dan perhatikan apa yang terjadi!

Suatu ketika ada seorang pria miskin yang mengambil sekop dan kampaknya lalu pergi ke pasar untuk mencari pekerjaan. Dia sangat miskin dan tidak mempunyai apa-apa di rumahnya. Dia duduk sambil menanti orang yang akan memanggilnya untuk bekerja. Dia menanti, menanti, dan menanti. Tak seorang pun yang memanggilnya untuk bekerja dan pada sore harinya pupuslah harapannya untuk mendapatkan pekerjaan di sana sehingga dia pergi ke masjid dan berkata, “Jika tak ada orang yang mempekerjakan aku pada hari ini, Aku akan bekerja untuk Allah.”

Ketika dia pulang ke rumah, istrinya bertanya kepadanya, “Wahai suamiku, apakah engkau membawakan sesuatu untuk dimakan bagi anak-anak?” Dia menjawab, “Aku baru akan bekerja pada seseorang yang sangat kaya dan dia berkata agar aku datang lagi besok karena dia mempunyai beberapa pekerjaan lain.” Mereka bersabar dan berusaha untuk menidurkan anak-anaknya walaupun tanpa memperoleh makanan. Hal itu sangat sulit, tetapi akhirnya mereka berhasil. Keesokan harinya dia pergi lagi ke pasar, namun lagi-lagi tak seorang pun mau menawarkannya pekerjaan. Jadi dia pergi lagi ke masjid, berwudhu dan masuk ke dalam untuk melakukan shalat. Dia berkata, “Wahai Tuhanku, tak ada orang yang mau memberiku pekerjaan, jadi Aku berada di sini demi Engkau.” Dia tinggal di sana hingga sore, kemudian ketika dia tiba di rumahnya, lagi-lagi istrinya gelisah untuk mendapatkan makanan bagi anak-anaknya. “Istriku tersayang,” dia berkata, “hari ini sama dengan kemarin!” Lagi-lagi anak-anak harus tidur tanpa mendapat makanan.

Kita ini termasuk orang-orang yang lalai. Banyak sekali peristiwa yang terjadi di dunia setiap harinya. Kalian tidak bisa membayangkannya! Bagitu banyak peristiwa yang dapat kita ambil sebagai pelajaran bagi kita. Kita harus bersyukur kepada Allah I bahwa kita semua dapat menemukan sesuatu untuk dimakan, bahkan lebih dari cukup. Bahkan banyak pula orang yang melemparkannya ke tong sampah. Saya tahu, selama perang dunia kedua berlangsung, di Yunani ada orang yang berusaha sekeras mungkin untuk mendapatkan sesuatu di tempat sampah karena dia menderita kelaparan. Saya sedang berada di Konstantinopel dan rasio sehari-hari bagi satu keluarga dengan lima anggota keluarga adalah satu pound roti. Bagaimana kalian dapat hidup (dengan rasio) sejumlah itu?

Kembali ke cerita kita, orang itu pergi untuk ketiga kalinya ke pasar, juga tidak mendapatkan pekerjaan dan dia kembali pergi ke masjid. Dalam doanya dia berkata, “Wahai Tuhanku, tak ada orang yang mempekerjakan aku, jadi Aku datang kepada-Mu. Terimalah pekerjaanku!” Ketika pada sore harinya dia kembali ke rumahnya, dia meletakkan sejumlah butiran pasir ke dalam sapu tangannya sehingga jika ada yang bertanya apa yang dia bawa, dia dapat menunjukkannya. Dia membuka pintu rumahnya dan melihat istri dan anak-anaknya di sana, mereka kelihatan sangat senang. Jadi dia menyembunyikan sapu tangannya di belakang pintu dan kemudian bertanya apa yang telah terjadi dan dari mana asal aroma makanan yang enak itu. Istrinya berkata, “Wahai suamiku, tak lama setelah engkau pergi, seseorang datang, mengetuk pintu dan aku membukanya. Dia adalah orang asing dan dia membawa sebuah piring yang tertutup dan di balik pintu ada benda-benda lainnya, semuanya dari emas. Dia berkata kepadaku bahwa itu adalah bayaran atas pekerjaanmu. Aku hanya mengambil salah satu koin emas dan dengan itu saja keledai sudah kesulitan membawa semua barang yang kubeli dari pasar.”

Dia bersyukur kepada Allah, lalu istrinya bertanya, “Apa yang engkau bawa?” Dia mulai melihatnya dan berkata bahwa sekarang bungkusan itu sudah tidak perlu lagi dilihat. Dia ingin mengeluarkannya, tetapi bungkusan itu menjadi berat sehingga dia tidak bisa mengangkatnya. Dia melihat ke dalamnya dan sapu tangan itu ternyata telah dipenuhi dengan emas. Jika kalian bekerja untuk Allah , kalian akan mendapat lebih banyak uang dari yang kalian butuhkan. Jangan bekerja untuk orang lain, Osman! Bekerjalah untuk Allah dan Dia akan membayarmu. Bukan dalam Dollar atau Poundsterling, tetapi dengan emas.

Berbahagialah dan jagalah Iman kalian dengan teguh. Itu adalah level keyakinan. Selama bertahun-tahun Saya menempuh perjalanan dan Saya tidak pernah membawa uang di saku saya atau bahkan menyentuhnya. Di mana pun Saya membutuhkan sesuatu, seseorang akan membayarnya. Allah telah menyiapkan seseorang untuk melayani saya karena Grandsyaikh telah memberitahu saya agar Saya tidak menyentuh uang. Ya, kita harus berusaha untuk meraih keyakinan semacam itu. Hal itu membuat hidup kalian lebih mudah dan bahagia. Kalian tidak akan kelelahan dalam mengejar benda-benda duniawi. Seluruh kekayaan di dunia dan di Surga adalah milik-Nya.

Wa min Allah at taufiq
posted by Mevlana as Sufi at 10:14 AM 0 comments

Kemarahan Ilahi , Ledakan Besar
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani Q
6 Juli 2002 , www.the-heart.net

A’uudzu billaahi minnasy syaithaanir rajiim. Bismillaahir Rahmaanir Rahiim.
Ya Rabbi..ya Rabbi... ya Rabbi. Dustur ya Sayyid Sulthan al Awliya. Madad ya Rijalullah.

Kemarahan saya, kemarahan saya hanya untuk Allah swt. Bukan untuk ego saya, bukan! Kemarahan saya menentang orang-orang bodoh yang menghancurkan segala milik langit di bumi. Mereka berusaha untuk tidak menyisakan sesuatu dari masa lalu di mana orang-orang bahagia, dimuliakan dan merasa puas dengan hubungan mereka dengan langit, melalui Rasul mereka, melalui para Awliya dan orang-orang suci lainnya. Ini adalah arus terburuk yang mangalir di bumi sejak awal hingga sekarang.

Arus paling buruk. Dan Setan mewujudkan niatnya yang paling jahat menjadi kenyataan, yaitu tidak meninggalkan seorang pun di bumi yang percaya kepada langit, percaya kepada Tuhan Langit, percaya kepada hal-hal yang keramat, percaya kepada kitab suci, percaya kepada penghambaan, dan percaya terhadap kekekalan, percaya kepada Surga dan Neraka, Setan berusaha untuk menjadikan orang-orang seperti batu… kepingan material dunia. Oleh sebab itu kemarahan saya… hati saya sekarang seperti gunung berapi, Volkano. Jika Saya membiarkan api ini, bisa jadi seluruh dunia akan terbakar.

Dan Saya adalah yang terlemah, Saya adalah hamba yang paling lemah. Jangan meminta sesuatu yang besar, mereka bisa mengambil apa saja, tidak hanya dunia ini tetapi sepuluh kali lebih banyak, meraka bisa mengambil dengan kekuatan mereka melalui hati mereka. Karena mereka sangat malu dalam Hadirat Ilahi melihat kenyataan bahwa ummat manusia yang bodoh ini mengikuti musuh terbesar sekaligus paling mengerikan, dan mereka meninggalkan Tuhan yang mengaruniakan dan mencurahkan mereka kehidupan yang kekal, segalanya. Oleh sebab itu hati saya penuh dengan kemarahan dan Saya meminta hati saya untuk marah karena Allah . Mengerti? Dan kita baru saja mencapai titik akhir di mana tidak ada lagi tanda bahwa kapal ini akan tenggelam, apakah dia akan tenggelam atau dia akan memperoleh suatu kekuatan baru yang akan membawanya ke jalan yang benar, jalan yang aman.

Dan itulah yang saya tanyakan setiap hari, atau markas besar saya membuat saya berbicara di depan orang-orang dengan harapan agar mereka bangkit, tetapi kita melihat bahwa kebangkitan itu sangat lambat. Dia membutuhkan sebuah ledakan besar yang dapat menggetarkan orang-orang dari Timur ke Barat, yang membuat mereka melompat dengan cepat dan berkata, “Apa yang terjadi?” (kalau tidak demikian) pembicaraan ini akan mempunyai efek yang lambat pada mereka. Mereka membutuhkan sebuah ledakan yang ajaib sehingga mereka dapat merasakan dalam hatinya, mereka bangkit dan berkata, “Apa yang terjadi?! Apa yang kita lakukan? Di mana kita sekarang? Ke mana saja kita selama ini dan apa yang terjadi sekarang?!” Segalanya baru sampai di titik itu sekarang, dan Saya akan melihat apakah mereka akan bertahan berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Saya tidak berpikir bahwa mereka akan terus bertahan hingga bertahun-tahun, tidak ada lagi batas bagi mereka untuk memperluas situasi yang mengerikan dan menyeramkan ini untuk terus berlanjut di tahun-tahun mendatang. Harapan kita adalah agar kebangkitan yang ajaib dapat terjadi dengan segera dan membuat orang-orang bangkit. Dan dari ledakan yang dahsyat itu, jutaan orang akan tewas, jutaan akan hancur. Dan ini sudah begitu dekat. Semoga Allah memaafkan saya dan memberkati kalian. Untuk kemuliaan Rasul yang paling terhormat dan tercinta, Sayyidina Muhammad saw, Faatiha.

Wa min Allah at taufiq
posted by Mevlana as Sufi at 10:14 AM 0 comments

Surat ke-40 Syaikh ad Darqawi
Wahai Faqir, amal (yang dilakukan) rahasia adalah 70 kali lebih baik dari amal terang-terangan, sebagaimana dilaporkan dalam tradisi sunnah. Allahu A'lam, tetapi kami berpikir bahwa lingkaran dzikir (majelis dzikir) yang diselenggarakan secara terang-terangan oleh saudara-saudara kita, fuqara', dengan berdiri dan duduk, di zawiyya dan dalam rumah-rumah, dalam tempat-tempat terpencil maupun tempat-tempat ramai, memiliki keutamaan yang sama dengan amal tersembunyi, karena zaman ini adalah zaman kelalaian dan kebodohan. Kelalaian telah melanda manusia dan mengambil kendali kalbu dan anggota badan mereka. Kelalaian ini telah membuat mereka tuli, bisu dan buta. Mereka tidak lagi memiliki akal. Kegairahan pada agama juga telah hilang dengan cara yang serupa, sehingga melakukan dzikir secara terang-terangan dan diketahui umum adalah lebih baik daripada menyembunyikannya, terutama pada lingkaran dzikir (Majelis Dzikir).

Lingkaran Dzikir memiliki keutamaan tinggi dan suatu rahasia yang jelas karena Nabi saw bersabda, "Ketika kalian melewati padang rumput Surga, merumputlah di sana." Beliau ditanya, "Ya, Rasulullah , apakah padang rumput Surga itu?" "Lingkaran-lingkaran Dzikir", jawab beliau. Dan Nabi saw bersabda pula, "Tak ada suatu kelompok orang yang berkumpul bersama untuk berdzikir kepada Allah swt, hanya mengharapkan Wajah Allah dengannya, kecuali seorang penyeru akan memanggil mereka dari surga, "Bangkitlah dalam keadaan terampuni! Perbuatan jahat kalian telah diubah menjadi amal kebaikan.'"

Saya menceritakan hal ini kepada Ikhwan fi-Llah kita, ulama Sufi dan Syarif, Abu'l-'Abbas Sayyidi Ahmad bin 'Ajiba al-Manjari . Beliau mengganggapnya mulia dan tidak membencinya, semoga Allah swt meridhai beliau.

posted by Mevlana as Sufi at 10:14 AM 0 comments

Bulimia
Mawlana Syaikh Nazim Adil al Qubrusi al Haqqani
dalam Natural Medicine

Bulimia nervosa atau bilimareksia merupakan kebiasaan makan yang tidak teratur, terutama di kalangan wanita muda. Mereka makan dengan lahap namun kembali dimuntahkan. Sebenarnya penyakit ini sedah ada sejak masa kekaisaran Romawi. Saat itu ada suatu kebiasaan dalam masyarakat untuk makan lalu menggunakan sesuatu untuk memuntahkannya, sehingga mereka bisa melanjutkan kesenangan makannya. Dewasa ini fenomena itu muncul sebagai suatu penyakit di masyarakat.

Bangsa Eropa tidak mempunyai pola makan yang benar. Sebagai contoh, sore hari mereka pergi ke sebuah restoran dan mereka duduk di sana paling tidak selama 3 jam atau lebih. Mereka makan dan minum lalu makan dan minum yang lain selama berjam-jam. Mereka hanya mencari kesenangan saja, bukan untuk memenuhi kebutuhannya. Penyakit hinggap pada mereka agar mereka kembali ke kehidupan yang normal. Mereka harus makan ketika mereka membutuhkannya. Jika mereka tidak membutuhkannya, sebaiknya tidak perlu makan. Penderita bulimia mula-mula harus berhenti memakan segala jenis makanan. Mereka tidak boleh mencampur-adukkan segala jenis makanan karena lambung mereka tidak bisa menerimanya. Mereka harus makan 2 kali saja dalam sehari dan minum air barley untuk mencegah muntah. Selama mereka masih makan hanya untuk kesenangannya saja, penyakit ini tidak akan pergi.

Mereka juga tidak boleh makan sampai kenyang, tetapi sisakan 1/3 bagian (dari lambung) kosong. Dalam 40 hari penyakit ini akan meninggalkan mereka. Mereka juga sebaiknya mencoba untuk tidak memakan makanan yang mengandung hormon buatan, lebih baik untuk kembali ke makanan yang sederhana, seperti: nasi, gandum, barley, kentang, sayuran dan semua yang tidak mengandung hormon. Boleh saja menggunakan bumbu karena mereka bisa mencegah muntah, khususnya thyme. Paling baik jika digunakan satu sendok makan thyme dengan garam setiap pagi, kunyah lalu minum sedikit air. Juga minum minuman yang masih panas, jangan minum minuman beralkohol atau segala jenis minuman artifisial yang bersoda. Setiap makan sebaiknya dilengkapi dengan salad dengan garam, cuka, minyak zaitun dan bawang bombay.
posted by Mevlana as Sufi at 10:14 AM 0 comments

Sohbet Hajjah Fatima
Mawlana Syaikh Nazim Adil al Qubrusi al Haqqani


Berikut ini adalah sebuah sohbet pendek yang sangat indah yang diberikan oleh Maulana Syaikh Nazhim berkaitan dengan kematian tragis yang dialami oleh saudari Hajjah Fatima di Jerman. Menurut yang kami dengar dan sebagaimana yang diliput dalam koran nasional Jerman; dalam kecelakaan itu, di menit-menit terakhir, beliau menempatkan dirinya di depan dua anak kecil untuk melindungi mereka. Masya Allah.

Tanya: Bagaimana Fatima sekarang?
Dia baik-baik saja. Dia tidak ingin kembali (ke dunia ini). Dia telah mengorbankan dirinya bagi anak-anaknya dan dia akan diberi ganjaran untuk melindungi anak-anaknya dan mengorbankan jiwanya bagi mereka. Kematian telah ditetapkan bagi setiap orang, dan alasan-alasan yang mengantarkan seseorang pada kematian sangat tak terhingga… Ketika Allah swt telah menetapkan suatu takdir bagi seseorang, orang itu akan segera menemui nasibnya—bagaikan tengah terpesona.

Tanya: Apa yang dapat kita harapkan di Hari Kemudian?
Orang-orang beriman (mukmin) meninggal dalam keadaan tenang dan damai, mereka tidak menanggung suatu beban ketika meninggal. Orang-orang kafir berada dalam kesulitan dan mengalami kematian yang sangat mengerikan. Di dalam makamnya, orang-orang beriman akan berkumpul bersama orang-orang yang mereka cintai, dan makam itu akan seperti Surga bagi mereka, tak terbayangkan indahnya! Kita memasuki masa yang kekal—sungguh kata-kata yang indah. Setiap orang akan mengalami kematian, dan kita semua bergerak menuju ajal kita. Jika kita orang yang beriman, kematian itu tidak akan menyakitkan, malah sangat indah, dan tak ada yang perlu ditakutkan.

Fatima adalah milik Grandsyaikh, begitu pula dengan semua saudara-saudari Naqsybandi lainnya. Jadi, dia berada di bawah lindungan Grandsyaikh dan beliau memeliharanya. Ruh seorang Naqsybandi akan diterima oleh Grandsyaikh, karena mereka bukanlah orang-orang yang standar (biasa). Ketika seseorang meninggal dunia—bahkan bila dia terbakar hingga tewas atau tenggelam—ada satu sel dari tubuhnya yang tetap hidup. Sel ini [berada di ujung rongga tulang belakang] dilindungi selama di bumi. Di akhir masa, bumi ini akan kosong dan hampa, dan tak ada makhluk hidup yang berada di dalamnya. Allah akan mengirim hujan, yang serupa dengan cairan semen pria dan terus berlangsung selama 40 tahun. Air hujan itu akan memenuhi bumi hingga mencapai kedalaman 70 meter dan akan menyuburkan dan menumbuhkan kembali sel-sel tadi. Tubuh setiap orang akan tumbuh kembali dari sel itu sama halnya ketika tumbuh di rahim ibu—seperti sebelumnya.

Allah swt kemudian mengirim Malaikat Utama Jibril AS untuk mencari makam Nabi Muhammad SAW. Malaikat Utama yang lain akan kembali karena Jibril ah yang selalu berhubungan dengan Rasulullah saw. Dia tidak akan sanggup menemukan lokasi makam tersebut [karena semuanya telah menjadi debu]. Kemudian Allah akan menunjukkan suatu tempat di mana dari tempat itu terpancar seberkas cahaya menuju langit—dan itulah tempat di mana Rasulullah saw dimakamkan. Dia (Allah) akan memanggilnya, “Wahai kekasih yang tercinta di Hadirat-Ku!”—kemudian Rasulullah saw akan bangkit dan menyapu debu dari janggutnya.

Beliau lalu disandangkan dengan jubah yang sangat indah dan di atas kepalanya disematkan mahkota yang megah—dan beliau akan bercahaya! Beliau akan bertanya, “Di mana Ummatku?” jawab-Nya, “Jangan khawatir, mereka belum dibangkitkan.” Tetapi kemudian semua orang akan dibangkitkan dalam wujud aslinya dan akan ditanya oleh para malaikat, “Siapa Tuhanmu?” Jika orang itu menjawab, “Tuhanku adalah Allah, Tuhan Pemilik Surga!” maka dia akan menerima penegasan, “Engkau berkata benar.” Kemudian dia ditanya lagi, “Siapa Nabimu?” dan bila jawabannya, “Muhammad saw, makhluk yang paling mulia dan paling dicintai di Hadirat Ilahi.” Kemudian dia akan kembali dibenarkan. “Apa keyakinanmu, agamamu?” “Islam.” “Benar!” “Apa Kitab Sucimu?” “Aku percaya kepada semua wahyu, tetapi Kitabku adalah al-Quran yang suci.” “Benar!” Jika orang itu menjawab semua pertanyaan dengan benar, pintu Surga akan terbuka di makamnya.

Tanya: Apakah ada ujian juga di Hari Kemudian?
Tak ada ujian. Ketika seseorang menerima Islam, maka dia menjadi bersih. Bila dia tidak benar-benar bersih di dunia ini, dia akan dibersihkan pada saat kepergiannya dari dunia ini ke kehidupan berikutnya. Jika itu belum cukup, ada pembersihan selama 40 hari di makamnya [sejenis khalwat]. Dan Saya berharap bahwa ini akan cukup dan orang itu akan bersama Grandsyaikh di Hari Pembalasan.

Tanya: Apakah kita akan bersama orang yang kita cintai walaupun mereka bukan Muslim?
Karena kalian! Karena mereka milikmu dan kalian milik mereka, Allah akan mengaruniakan mereka ‘Iman’ di menit-menit terakhir. Dia tidak akan membiarkan mereka dibuang ke Neraka. Kalian telah diberi kemuliaan karena kalian adalah Muslim dan berada dalam Islam, bersama orang yang paling mulia Rasulullah saw. Kemuliaan ini terus meluas hingga ke nenek moyang kalian dan mereka bahagia karena kalian menjadi Muslim. Semoga berkah Allah bersama kalian dan juga mereka. Semoga Allah menjaga kita agar tetap berada di jalan menuju Surga, di mana kita akan mencapai kekekalan, demi kemuliaan orang yang paling mulia Sayyidina Muhammad saw, Fatiha.
posted by Mevlana as Sufi at 10:14 AM 0 comments

Wednesday, August 11, 2004
Dzikir Perang
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani


Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani berpesan untuk menambahkan awrad harian selama perang berlangsung dengan kalimat dzikir sebagai berikut:
100 kali Hasbun Allah wa ni’mal wakiil
100 kali Laa ilaaha illa anta, subhanaka inni kuntu minazh zhaalimiin
40 kali Shalatan tunjina

Allaahumma shalli ‘alaa Muhammadin (wa ‘alaa aali Muhammadin), shalaatan tunjiina bihaa min jamii’il ahwaali wal aafaat, wataqdhi lanaa bihaa jamii ’al haajat, wa tuthahhirunaa bihaa min jamii-is-sayyi-at, wa tarfa’una bihaa ‘indaka a’lad darajaat, wa tuballighunaa bihaa aqshal ghaayat, min jami’il khayrati fil hayaati wa ba’dal mamaat

Ya Allah! limpahkan rahmat kepada junjungan kami Muhammad saw dan (kepada keluarga Muhammad saw) yang dengan rahmat itu Engkau akan menyelamatkan kami dari semua keadaan yang mendebarkan dan dari segala cobaan. Yang dengan rahmat itu, Engkau akan penuhi kepada kami semua hajat. Yang dengan rahmat itu, Engkau akan membersihkan kami dari semua kejahatan dan kesalahan. Yang dengan rahmat itu pula Engkau akan mengangkat kami ke tempat yang tinggi dan membawa kami kepada kesempurnaan semua maksud dari semua kebaikan pada waktu hidup dan setelah mati.

Wa min Allah at taufiq

posted by Mevlana as Sufi at 7:33 AM 0 comments

Allah Maha Besar
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
Siprus, 2 Februari 2003


A’uudzu bi-llahi minasy-syaythaan-ir-rajiim, bismillah-ir-Rahmaan-ir-Rahiim. Jika ada suatu wilayah, suatu kerajaan, pasti ada seorang Raja, karena tanpa seorang Raja, tidak mungkin ada sebuah kerajaan. Jika tidak ada Kaisar, tak kan ada kekaisaran, jika ada kekaisaran, pasti ada Kaisarnya. Jika ada kesultanan, pasti ada seorang Sultan. A’uudzu bi-llahi minasy-syaythaan-ir-rajiim. Kita melarikan diri dari Setan dan berpaling kepada Allah. Tak seorang pun dapat melindungi seseorang dari Setan yang telah terusir dari Hadirat-Nya. Oleh sebab itu kita memohon naungan kepada Allah dan berlari kepada-Nya untuk memohon perlindungan. Dan Allah berfirman, “La ilaha ill-Allah hasni, wa man dakhala hasni, amin min adhabi. ''Wahai hamba-Ku, Aku membangun sebuah benteng untuk kalian; untuk kalian Aku membuatnya. Jika kalian merasa takut terhadap sesuatu, masuklah segera ke dalamnya dan kalian akan terlindung. Kalian akan berada dalam lindungan-Ku, dan tak seorang pun sanggup melompat ke dalamnya. Mustahil seorang ciptaan-Ku lompat ke dalamnya untuk menyakiti atau melukai kalian, karena Aku Mahabesar dan Aku adalah Sang Pelindung. Dan jika Aku adalah Sang Pelindung, maka tak seorang pun dapat menyakiti kalian jika kalian datang kepada-Ku dan meminta perlindungan. Perlindungan Ilahi-Ku akan bersama kalian.”

Apakah benteng itu? Ucapkan, ”La ilaha ill-Allah. ” Ucapkan, “Tiada Tuhan kecuali Allah.” ”Tidak ada Pelindung kecuali Allah .” ”Tidak ada keamanan kecuali hanya dengan Allah .” ”Tidak ada kebaikan kecuali hanya melalui Allah .” ”Tidak ada kebahagiaan kecuali hanya dengan Allah .” ”Tidak ada kegembiraan kecuali hanya dengan Allah .” ”Tidak ada kepuasan kecuali hanya dengan Allah .” ”Tidak ada kehidupan kecuali hanya dengan Allah .” ”Tidak ada kemuliaan kecuali hanya dengan Allah .” ”Tidak ada cahaya kecuali hanya dengan Allah .” ”Tidak ada apa pun—kecuali hanya untuk Allah segalanya.”

“Berlarilah ke benteng-Ku! Dan benteng-Ku tidak sama dengan benteng kalian. Benteng kalian akan seperti titik (dibandingkan dengan benteng-Ku). Apa pun usaha kalian untuk memperbesar benteng itu, tetap saja dia akan seperti titik. Dibandingkan dengan benteng-Ku, semua benteng yang kalian bangun sebagai tempat berlindung akan menemui batasnya, dan segala hal yang telah sampai pada batasnya tidak akan berarti dibandingkan dengan benteng-Ku karena benteng-Ku sangat tak terbatas.”

Di mana pun seorang hamba mengucapkan, “La ilaha ill-Allah,” dia akan berada dalam benteng-Ku, tak perlu bertanya, ‘Di mana benteng Tuhanku?’ untuk masuk ke dalamnya. Jika dia ingin menemukan benteng-Ku, yaitu tempat berlindung bagi hamba-Ku, cukup baginya untuk mengucapkan, ”La ilaha ill-Allah”--dia sudah berada di dalamnya. Di mana pun dia berada dan kapan pun yang dia inginkan, dia dapat berada dalam benteng-Ku.” Dan manusia adalah orang yang lalai! Mereka membaca begitu banyak kata-kata suci dari Hadits Syarif, yang merupakan wahyu Ilahi, tetapi sangat sedikit, sedikit sekali orang yang bertanya, “Untuk apa Hadits ini? Apa hikmah sesungguhnya di balik kata-kata suci Rasulullah saw tersebut?” Sedikit sekali orang yang bertanya mengenai hal ini dan ini merupakan sebuah Hadits yang sangat terkenal. Allah memerintahkan Rasulullah saw untuk menerangkan makna dan hikmahnya melalui pembicaraannya. Dan beliau berkata bahwa Allah berfirman, “La ilaha ill-Allah hasni, wa man dakhala hasni, amin min adhabi.”

Dan sekarang orang tengah berada di titik kritis yang mengerikan dan berbahaya, bahkan pada posisi yang paling berbahaya. Mereka dikelilingi dengan error dan terror yang tak berkesudahan, dan setiap orang merasa bahwa mereka kini tidak lagi mempunyai rasa aman setiap saat dan di mana-mana. Baik di desa-desa atau di kota, di rumah, di hutan, di kedai kopi, di teater, di stadion, di mana-mana mereka merasa tidak aman. Bisa saja mereka masuk ke sebuah supermarket ternyata di sana ada sesuatu yang dapat membunuh, membakar dan menghancurkan semua yang ada di tempat itu dan mungkin ratusan orang akan tewas. Sebagaimana pada peristiwa 11 September 2001. Ribuan orang berada dalam gedung World Trade Center di New York, gedung itu dilindungi dengan segala macam peralatan keamanan. Tetapi mereka tidak pernah berpikir atau membayangkan bahwa sesuatu bisa muncul dari atas kepala mereka dan menghantam menara tersebut. Dan dalam sekejap kedua menara Namrud itu menjadi abu, begitu pula dengan orang-orang yang berada di dalamnya, mungkin ada 50.000 orang.

Sekarang ini di mana-mana, dalam setiap langkah yang diambil oleh seseorang—karena ini adalah masa yang penuh error dan terror, sebagaimana Rasulullah bersabda, “Di mana-mana kalian akan berada dalam kondisi yang berbahaya dan dengan peralatan apa pun kalian tidak dapat melindungi diri kalian, tidak!” Mereka menyaksikan sendiri dan berkata, “Tidak ada harapan.” Dia ketakutan, “Bagaimana aku dapat melindungi diriku dan keluargaku, anak-anak, harta bendaku, bisnisku, uang dan perhiasanku, hidupku?” Sekarang setiap orang mengalami ketakutan seperti itu. Bahkan raja atau ratu, presiden, jenderal, atau marshal lapangan, ilmuwan atau pengusaha, orang-orang kaya, bangsawan atau sultan—setiap orang sekarang berada dalam ketakutan yang mendalam. Mereka bahkan takut untuk minum sesuatu atau makan sesuatu, mereka takut untuk menggunakan sesuatu, mereka takut untuk naik pesawat, ferry, mobil atau kereta. Di mana-mana seperti itu, seluruh dunia dikelilingi oleh rasa takut.

Tak seorang pun yang merasa aman sekarang. Dan kita harus menggunakan apa yang dikatakan oleh Allah, “Gunakan kata-kata-Ku. Gunakan apa yang telah Ku-buat sebagai benteng untuk kalian, agar kalian selamat dan berada dalam kepuasan dan kedamaian.” Apa itu? Wahai semua orang yang hidup di planet ini, Tuhan kalian berfirman, Ucapkanlah, ‘La ilaha ill-Allah’”, tiada Tuhan kecuali Allah, dan Aku akan menempatkan kalian di tempat yang aman. Sampai orang mau menggunakannya, mereka tidak akan menemukan tempat yang aman untuk berdiri, bahkan untuk satu pijakan pun, tempat seluas satu kaki persegi. Mereka tidak dapat menemukannya. Dan mereka tidak akan menemukan tempat yang aman baik di Timur maupun di Barat, di benua, samudra, di udara atau di muka bumi, habis!

Ini adalah sebuah pemberitahuan bagi semua orang yang hidup di bumi sekarang. Ini merupakan kabar terbaru dari langit, “Wahai manusia, datanglah dan ucapkan, ‘La ilaha ill-Allah,’ jika kalian meminta perlindungan. Sampai kalian mengucapkannya, kalian akan berada dalam ketakutan yang sangat mendalam dan tidak ada keamanan bagi kalian. Datanglah dan ucapkan, ‘La ilaha ill-Allah, Sayyidina Muhammadun Rasulullah
Orang-orang turun ke jalan dan berkata, “No war!”, karena rasa takut akan kematian menyelimuti semua orang, menyelimuti seluruh dunia. Mereka bukannya takut akan perang, bukan. Tetapi perang sama saja dengan kematian dan penghancuran, itu saja. Oleh sebab itu rasa takut akan kematian telah mencakup semua bangsa dan orang-orang berlarian seperti sungai turun ke jalan-jalan. Hal ini juga terjadi di Iran, di mana-mana, termasuk di Mesir, Lybia, Timur sampai Barat, Utara sampai Selatan, di samudra dan benua, kematian menjelang. Dan bukan dari satu atau dua orang, Malaikat Jibril akan mencabut nyawa, tetapi dari ribuan, puluhan ribu, bahkan jutaan nyawa akan dicabutnya dan jasad mereka akan rusak berkeping-keping atau hanya berwujud tubuh tanpa nyawa. Dan rasa takut akan kematian, di belakang perang orang takut akan kematian, karena perang membawa kematian. Ketakutan akan kematian tidak pernah membiarkan orang yang masih hidup untuk menikmati makanan dan minuman, pakaian mereka, juga mobil, bisnis, uang, kasino, Dunya mereka—semuanya akan dicabut.

Tak ada orang yang berpikir bahwa perang terjadi sebagai hukuman dari Langit kepada manusia, ketika mereka bersikeras untuk tidak patuh kepada Tuhan Pemilik Surga. Itu adalah cambuk bagi mereka. Dan ketidakpatuhan yang pertama dari orang-orang yang hidup sekarang, di tahun 2003, di abad 21, pemberontakan terbesar mereka adalah tidak mau berkata, “Oh Tuhanku, Engkau Maha Esa!” Itulah dosa terbesar ummat manusia, mereka tidak datang untuk bersujud dan mengangkat tangannya untuk berdo’a, “Ya Tuhan kami, Engkau Maha Esa, tiada Tuhan kecuali Engkau. Selamatkanlah kami, selamatkanlah jiwa kami!”

Dan oleh sebab itu rasa takut akan kematian mengakhiri semua kenikmatan jasmani mereka, memotong dan mengakhirinya dan mereka akan mengering… seperti kayu kering yang tumbang. Mereka harus mengucapkan, ‘La ilaha ill-Allah, Subhanaka inni kuntu mina zhalimiin.’ Seluh dunia harus mengucapkan:.? Dan bagi Muslim, ‘La ilaha illa Anta (Allah), Subhanaka inni kuntu mina zhalimiin’ (Doa mohon ampun yang terkenal dari Sayidinna Adam as dalam kitab suci al-Quran).

Arhamna ya Allah. Demi kemuliaan dan kehormatan orang yang paling mulia di Sisi-Mu, Sayyidina Muhammad saw, Fatiha.


Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
Siprus, 2 Februari 2003 (sore)

Dengan Nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Allah dzul Jalal!
Tak ada bahasa yang sanggup untuk memberi makna singkat (ringkas) bagi penghormatan tertinggi kepada Allah . Hanya bahasa Arab yang digunakan oleh Allah, yang mempunyai translasi tinggi bagi Kebesaran dan Keagungan-Nya, menurut level pemahaman manusia. Lebih dari itu, mustahil untuk memberikan gambaran yang lebih baik atau translasi terhadap Keagungan Allah, yang digunakan-Nya dalam bahasa Arab. Satu tingkat lebih tinggi daripada ini, tak seorang pun akan mengerti. Dan bila Dia menggunakan level yang lebih rendah (terhadap deskripsi tersebut), maka akan hilang titik puncak atau titik maksimum dari translasi atau deskripsi terhadap Kebesaran dan Keagungan-Nya.

Dan melalui seluruh Nama Suci-Nya Allah mengaruniai kita dengan 99 Nama Suci—melalui setiap Nama Suci muncul suatu translasi dari Samudra Keagungan-Nya yang tidak hingga dan Samudra Kebesaran-Nya yang tak hingga. Translasi itu muncul bagaikan sebuah titik kecil (dibandingkan dengan Kebesaran-Nya)—sebuah titik di mana seluruh manusia dapat tenggelam di dalamnya dan tak mampu mengangkat kepala mereka untuk keluar. Setiap Nama membawa sebuah Samudra Keagungan dan Samudra Kebesaran. Dan setiap Nama membawa Atribut Ilahi yang tak hingga. Dan melalui Nama tersebut muncul Keagungan dan Kebesaran-Nya. Dan kalian bisa melihatnya dan menemukannya pada sebuah atom. (Batas) pengetahuan kita sampai pada level atom atau partikel kecil di dalamnya. Pengetahuan manusia yang hanya sampai di titik itu dan berhenti, berkata, “Ini adalah yang terakhir, partikel terkecil yang pernah diciptakan.” Jika kita memikirkan partikel terkecil ini, kita akan menyadari dan melihat Keagungan dan Kebesaran-Nya. Tak perlu untuk melihat yang besar (seperti galaksi, planet dan sebagainya). Tak diragukan lagi, ketika melihat yang besar, orang melihat Kebesaran ciptaan-Nya dan dengan takjub mereka berkata, “Oh!” Mereka berpikir dan merasa takjub mengenai sesuatu yang besar. “Begitu besar! Bagaimana bisa terjadi?” Ini adalah sesuatu yang normal. Tetapi untuk melihat Kebesaran dan Keagungan-Nya dalam partikel massa yang terkecil—orang akan lebih takjub.

Ini adalah air—dia mempunyai partikel yang banyak sekali. Air! Allah telah memberi sebuah kekuatan rahasia kepada air dan menjadikannya sebagai sumber kehidupan. Bila air tidak mendapat berkah rahasia ini, tak satu pun makhluk yang bisa hidup. Setiap makhluk memerlukan air, dan banyak sekali atom di dalamnya, tetapi bagi kita yang terlihat hanyalah air. Apakah air itu? Apakah api itu? Api adalah Jalali—itu artinya (dari) Samudra Kekuatan dan Keagungan Allah yang tak hingga. (Itu hanyalah) sebuah titik dari (Samudra Kekuatan-Nya) yang tidak dapat dimengerti oleh manusia, dengan kata lain tak seorang pun dapat mendekati Samudra tersebut melalui ‘api’. Hal itu menunjukkan Keagungan Allah yang Mahatinggi yang telah menciptakan seluruh makhluk. Seperti halnya kerangka manusia, semua makhluk memerlukan Samudra Keagungan dan Kebesaran Allah agar bisa berdiri (hidup). Lalu “Kami sandangkan mereka dengan air.” Air ini memberikan Jamal. Manifestasi dari Samudra Keindahan-Nya yang tak hingga muncul melalui air. Jika tidak ada air, tidak akan terlihat keindahan pada ciptaan-Nya.

Oleh sebab itu, kita selalu… atau seluruh Rasul dan Awliya selalu menggambarkan Dunia Samudra—Samudra Keindahan, Samudra Kenikmatan, tak hingga, Samudra yang tak berujung, Samudra Kekuatan yang tak hingga, Samudra Pengetahuan yang tak hingga, Samudra Keindahan yang tak hingga, Samudra Kesempurnaan yang tak hingga, Samudra Rahmat yang tak hingga, Samudra Kebesaran yang tak hingga. Tak hingga dan tak hingga! Setiap Samudra yang tak hingga itu berisi Samudra-Samudra lain yang juga tak hingga. Dan masing-masing Samudra itu mengandung Samudra-Samudra tak hingga yang lain. Kalian tidak dapat meraih Kebesaran dan Kebesaran Allah yang tak hingga, tak terbatas dan Maha tinggi yang merupakan Atribut Ilahi-Nya, dan melalui Atribut Ilahi tersebut terpancar sebuah panorama yang dapat dilihat melalui Nama-Nama Suci Allah, menurut level pemahaman kita, Samudra-Samudra ini dapat terlihat atau muncul secara nyata, terus-menerus tak berkesudahan! Di sana, di mana kalian dapat mencapai Inti, Dhat ul Buht, Inti dari Allah! Lidah para Awliya terkunci (mereka tidak dapat bicara lagi), tak seorang pun dapat bicara!

Kita sekarang berada dalam Af'al, Aksi. Af'al, Aksi muncul melalui setiap Nama Suci, aksi yang tak berkesudahan! Aksi tersebut menjadi nyata melalui para makhluk. 'Huwa-l Awwalu wa-l Akhiru, wa-l Zhahiru wa-l Bathin'—Tak ada yang mendahului Dia, tak ada yang lebih akhir dari-Nya! Tak ada yang eksis bersama-Nya, segala yang tampak adalah milik-Nya dan segala yang gaib juga milik-Nya. Tak ada eksistensi bagi segala sesuatu, semuanya tidak ada! Setelah Dia, segala sesuatu tidak ada! Dia memiliki Eksistensi yang mutlak! Tak ada sesuatu yang mendahului atau mengakhiri-Nya, tidak ada! Tak ada yang eksis sebelum Dia, tak ada yang eksis bersama-Nya atau setelah Dia. Dia Yang Maha Kuasa! Segalanya adalah untuk-Nya, yang lainnya hanya sebuah penampakan, sebagaimana Dia senang bila mereka tampak melalui Samudra Hikmah-Nya yang tak hingga, melalui Samudra Kehendak-Nya yang tak hingga, melalui Samudra Ciptaan-Nya yang tak hingga. Mereka akan tampak bersama-Nya, dan dalam Dzat-Nya, dan tak ada sesuatu pun dalam Dzat-Nya kecuali Dia sendiri, Yang Maha Kuasa, atau tak ada yang bersama-Nya, hanya Dia, Yang Maha Kuasa. Selesai!

Ini adalah pemahaman yang sangat terbatas. Grandsyaikh Syaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani k di masanya berbicara selama 4o tahun mengenai kehormatan dan kemenangan yang telah dianugerahkan kepada ummat manusia. Sekarang, di masa ini, akan ada suatu manifestasi, yang akan memberikan orang suatu pemahaman yang sebelumnya tertutup bagaikan harta karun. Karena waktu telah habis, sementara itu orang-orang harus mempunyai suatu pemahaman mengenai Tuhan mereka, Allah dan untuk memberikan penghormatan terakhir mereka (penghormatan tertinggi) untuk Allah! Oleh sebab itu para Awliya, sekarang mulai berbicara mengenai Kebesaran Allah. Dan alasan bahwa ini merupakan perintah Allah adalah untuk menjadikan hal ini sebagai fondasi bagi penataan (Nizam) dunia yang baru (orde baru bagi dunia). Karena sekarang dunia membutuhkan penataan yang baru, karena kecakapan dalam pemahaman manusia telah habis, dan mereka sekarang perlu mengetahui tentang Tuhan mereka, sesuatu mengenai Kebesaran-Nya.

Dan karena--sebagaimana Grandsyaikh berkata--dan seperti yang dikatakan sekarang, bahwa ketika Imam Mahdi u datang sebagai penyelamat bagi ummat manusia, beliau akan menggunakan kekuatan dari Takbir, 'Allahu akbar'! Jadi ini merupakan suatu persiapan (tamhid). Seperti halnya seorang arsitek, ketika dia akan membangun sebuah gedung baru, dia akan menyingkirkan segala sesuatu yang tidak berguna dari lokasi pembangunannya dan menata kembali segala sesuatu di lokasi tersebut sebagai persiapan bagi gedung yang baru. Sekarang semua Awliya akan memberi suatu (pengetahuan) mengenai Kebesaran Allah, karena Imam Mahdi akan menggunakan kekuatan ajaib dari Qudratullah – Samudra Kekuatan yang tak hingga milik Allah. Beliau akan menggunakan kekuatan itu.

Untuk itulah mereka mulai memberi beberapa pengetahuan tentang Kebesaran Allah. Ketika Imam Mahdi as muncul—beliau akan muncul dalam perang Armageddon ini—perang yang akan membawa kehancuran bagi seluruh dunia. Tak seorang pun yang dapat menghentikannya. Sampai sekarang, setiap muncul isu di antara semua bangsa, Amerika Serikat selalu turut campur dan berkata, “Stop!” Mereka bisa saja menciptakan perdamaian di antara mereka. Tetapi sekarang, dua naga besar akan bertempur satu sama lain. Tak ada kekuatan ketiga di muka bumi yang sanggup menghentikannya—kecuali Allah, yang akan memerintahkan kekasih-Nya yang tercinta, yang paling mulia, Sayyidina Muhammad saw untuk memerintahkan Imam Mahdi u mengucapkan, “Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbar!” Tak ada lagi teknologi, tak ada lagi roket, tak ada persenjataan nuklir, tak ada apa-apa lagi! Semuanya akan berhenti!

Takbir itu akan digunakan. Oleh sebab itu (para Awliya sekarang) memberi sedikit demi sedikit pengetahuan mengenai Kebesaran Allah. Di Timur maupun di Barat, mereka mendengarkan sekarang. Ini, apa yang kita bicarakan, adalah berasal dari maqam Grandsyaikh (Syaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani). Semoga Allah mengampuni kita dan menganugerahkan kita suatu pemahaman walaupun hanya pemahaman terkecil. Pemahaman terkecil dari Samudra Kekuatan Allah yang tak hingga… subhanAllah! Mahasuci Allah !

Beberapa Rasul—ketika Allah berfirman, “Seorang anak, seorang bayi laki-laki akan lahir menjadi putramu.” Mereka berkata, “Wahai Tuhan kami, bagaimana mungkin? Aku (Sayyidina Zakariya as) sudah tua, begitu pula dengan istriku.” Quran 'Azhimu-syan membawa hikmah tersebut, agar dapat dimengerti di mana mereka berdiri. Dan mereka adalah para Anbiya! Mereka berkata, “Bagaimana mungkin?” dan Allah berfirman kepada malaikat Jibril as, “Katakanlah wahai Jibril, kepada Nabi-Ku, bahwa segalanya akan berjalan sesuai Kehendak-Ku, kun fayakun!”

Sekarang,… bagian pengantar dari asosiasi ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada setiap orang tentang Kebesaran Allah. Jika mereka memiliki pengetahuan mengenai hal ini, mereka tidak akan mengucapkan sepatah kata pun! Lihatlah murid-murid Nabi ‘Isa as yang bertanya, “Apakah Tuhanmu dapat mendatangkan meja dari surga untuk kami?” Apa itu?! Bagaimana mereka bisa bertanya seperti itu?! Di mana pemahaman mereka tentang Kebesaran Allah?! Di masa mereka, pemahaman orang baru sampai di level itu. Sekarang mereka membawa Rasulullah saw!

Ketika Allah mengutus Sayyidina Musa as. “Pergi!” Beliau berkata, “Wahai Tuhanku, Aku takut. Aku telah berbuat sesuatu terhadap anak itu dan membunuhnya. Aku takut mereka akan membunuhku.” Seorang Nabi mengatakan hal ini! Kemudian Allah swt berfirman, “Engkau harus menemui Sayyidina Khidir .” Di mana pemahaman mereka, ma'rifat?! Oleh sebab itu (Allah ) mengirim Nabi Musa kepada Sayyidina Khidir untuk belajar tentang ‘suatu pengetahuan yang belum diketahuinya.’ Dan pengetahuan yang kami berikan sekarang adalah pengetahuan semacam itu—pengetahuan laduni. Sekarang,… setelah mendengar asosiasi singkat ini, dapatkah seseorang mengajukan pertanyaan semacam itu? Bagaimana mungkin! Oleh sebab itu, derajat ummat Sayyidina Muhammad saw begitu tinggi! Semoga Allah memaafkan saya dan memberkati kalian. Untuk kemuliaan orang yang paling mulia, Sayyidina Muhammad saw, Fatiha.

posted by Mevlana as Sufi at 7:33 AM 0 comments

Menggunjing (Ghibah )
Maulana Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani
Jakarta, Februari 2002


Kalian semua harus memakai turban (menunjuk pada jemaah pria--red). Lihat! Dia memakai turban… lalu mana turbanmu? Ambil! Kalian mendengar suara kucing itu? (kucing yang sedang berkelahi di atas genting--red). Seperti itulah yang terjadi bila kita bertengkar satu sama lain, bahkan lebih buruk daripada itu. Malaikat mendengar suara itu, demikian pula dengan Awliya. Kalian dengar bagaimana mereka saling berteriak satu sama lain. Sebuah Hadits Rasulullah saw berbunyi, “Barangsiapa yang mengunjing saudara atau saudarinya, siapa pun yang saling menggunjing… bau dari gunjingan itu sangat berbahaya.” Oleh sebab itu Rasulullah saw melarang keras bergunjing.

Suatu saat Grandsyaikh Abdullah Fa’iz ad-Daghestani memberi gambaran tentang gunjingan ini. Beliau berkata bahwa ketika seseorang meninggal dan dia dimasukkan ke dalam kuburnya, maka semua gunjingan yang telah diperbuat selama hidupnya akan dibawa serta, dan Allah menciptakan bau busuk dari gunjingan tersebut. Bila selama hidupnya dia telah menggunjing sebanyak 100 kali, dia akan membawa 100 bau; bila 200—200 bau dan bila sejuta—dia akan membawa sejuta bau ke dalam kuburnya.Allah mengirimkan bau itu ke dalam kuburnya. Grandsyaikh berkata bahwa jika Allah melepaskan satu bau itu ke dunia, maka tak satu pun makhluk dapat hidup di bumi, manusia dan makhluk lainnya akan mati bagaikan terkena reaksi berantai dari bom atom.

Dan Allah menciptakan binatang buas dari bau-bau itu yang akan menyerang tubuh yang terbaring di sana. Bayangkan, bagaimana keadaan orang itu jika satu bau saja (bila dilepaskan ke dunia) dapat memusnahkan semua makhluk di bumi. Bagaimana dengan jutaan bau yang dikirimkan Allah kepada orang itu di kuburnya. Bagaimana efek yang terjadi pada orang yang jiwanya dikembalikan ke tubuhnya selama dia berada dikuburnya. Dia akan mengalami hukuman dan siksa kubur yang berasal dari bau itu dan dari binatang yang diciptakan Allah dari bau tersebut.

Grandsyaikh bercerita bahwa suatu ketika beliau pergi menuju makam Sayyidina Muhyiddin Ibnu Arabi di Jabal Qasyun mengendarai kereta kuda (pada waktu itu, jauh di masa lampau). Beliau dan seorang Syaikh lainnya yang biasa dipanggil Abdul Wahab Salahi duduk di kereta kuda menuju ke makam Sayyidina Muhyiddin Ibnu Arabi k. Tiba-tiba muncul seseorang yang menghentikan kuda penarik kereta mereka dan orang itu berkata, “Assalamu’alaykum!” Mereka membalas, “Wa alaykum salaam!” lalu dia berkata lagi kepada keduanya, kali ini pembicaraan atau ucapannya diarahkan kepada Abdul Wahhab Salahi, sambil menoleh kepada Grandsyaikh, Syaikh Abdullah Fa’iz ad-Daghestani k, “Apakah dia Syaikhmu? Atau engkau Syaikhnya?” Abdul Wahhab Salahi menjawab, “Dia bukan Syaikhku dan Aku bukan Syaikhnya.”

Tiba-tiba orang itu menghilang. Abdul Wahhab Salahi menoleh ke sana ke mari, “Ke mana dia pergi?” “Dia muncul dengan tiba-tiba dan tiba-tiba menghilang. Dia tidak berada di sini lagi.” (Ketahuilah bahwa) Awliya menampakkan dirinya kepada orang-orang yang tulus. Grandsyaikh dan Abdul Wahhab Salahi, keduanya adalah orang-orang yang tulus sehingga Awliya menampakkan dirinya kepada mereka. Tetapi sekarang orang-orang berkata, “Mana Awliya… mana?” Khususnya dengan mentalitas baru yang tidak percaya kepada karomah. “Di mana Awliya…?” Kalian jatuh ke dalam lubang yang penuh dengan kotoran dan kalian berkata, “Mana Awliya?” Bagaimana mungkin kalian akan melihatnya? Kalian harus menjadi orang yang tulus untuk bisa bertemu dengannya.

Mereka bertanya kepada Ibu Firdaus, “Di mana Awliya? Apa itu Awliya? Kami tidak melihat apa pun.” Mereka bertanya kepada kalian, “Mana…mana Awliya, kami tidak melihat apa-apa.” Karena mereka tidak percaya, Awliya tidak akan menampakkan dirinya kepada mereka. Awliya tidak akan menunjukkan keajaibannya kepada mereka, tetapi kepada orang-orang yang percaya, seperti Ibu Firdaus, seperti anda dan seperti orang-orang yang hadir di sini, mereka akan menjumpai keajaiban dalam setiap gerakan yang dilakukan oleh Syaikh.

Ketika Saya masih muda, setiap gerakan dari Grandsyaikh Syaikh Abdullah Fa’iz ad-Daghestani dan Maulana Syaikh Muhammad Nazhim al-Haqqani k ketika itu, ketika Saya masih sangat muda… dalam setiap gerakan mereka, Saya melihat suatu karomah. Karena ketika kalian mempunyai keyakinan, mereka akan mempelihatkannya kepadamu. Ketika kalian yakin dengan apa yang kalian kerjakan, mereka akan memperlihatkannya (karomah-red) kepadamu. Bila kalian tidak mempunyai keyakinan seperti ini, untuk apa mereka menunjukkannya kepada kalian. Sebab kalian tidak menghargai berlian, Awliya hanya akan memberi kalian permen dan kalian sudah puas dengan itu. Mereka tidak memberi kalian gula, melainkan pemanis buatan yang berkalori rendah, tidak berenergi dan tidak berarti apa-apa. Barang siapa yang sakit, ambilah pemanis buatan itu, kalian tahu, ini tidak akan membuat gemuk. Tetapi bagi mereka yang kuat, Awliya akan memberikan gula yang berenergi, artinya mereka memberi dukungan penuh kepadanya.

Abdul Wahhab Salahi adalah seorang yang tulus, mukhlis sehingga Wali muncul di hadapannya; tetapi dia belum mencapai tingkat yang sempurna, sehingga ketika dia mengatakan, “Dia bukan Syaikhku dan Aku bukan Syaikhnya,” Wali itu langsung menghilang, tidak menyukainya. Dia berkata, “Wahai Syaikh Abdullah! Orang itu menghilang… siapa dia?” Syaikh Abdullah k menjawab, “Tidak! Orang itu tidak menghilang, dia masih berdiri di sana… buktinya lihat! Dia menarik kuda itu dan sekarang keretanya mulai bergerak. Abdul Wahhab Salahi melihat kuda itu bergerak, tali kekangnya tertarik tetapi dia tidak melihat orang yang menariknya… dan kereta pun mulai berjalan.

Abdul Wahhab Salahi berkata, “Mengapa dia lenyap?” Syaikh Abdullah menjawab, “Dia tidak menyukai ucapanmu.” Syaikh Abdullah berkata bahwa Wali-Wali itu sangat suci, bila mereka mencium bau busuk sedikit saja, mereka akan menghindar. “Ketika engkau mengatakan bahwa engkau bukan Syaikhku dan Aku bukan Syaikhmu—dia mencium adanya aroma kesombongan dalam ucapanmu, itulah sebabnya dia menghilang. Dan ini bukan merupakan gunjingan. Ini hanyalah ucapan biasa yang dapat diucapkan oleh siapa saja, namun tetap saja ucapan itu mengundang bau busuk di hadapan Awliya. Apa salahnya jika engkau berkata, ‘Ya dia adalah Syaikhku,’ apa ruginya? Engkau tidak kehilangan apa-apa, engkau melangkahi egomu… tetapi karena kesombongan diri, engkau berkata, “Tidak, dia bukan Syaikhku.” (Sebab Abdul Wahhab Salahi berkata, “Syaikhku dan Syaikhnya adalah satu, yaitu Syaikh Syarafuddin.”) Apa salahnya untuk bilang bahwa dia adalah Syaikhku, apa ada masalah?

Jika mereka bertanya kepadamu, “Apakah Berny Syaikhmu?” “Ya, dia adalah Syaikhku,” apa ada masalah? Jika mereka bertanya kepadamu, “Apakah Bubby Syaikhmu?” “Ya, dia adalah Syaikhku.” Jika mereka bertanya kepada Saya, “Apakah Haji Mustafa, Pak Mus adalah Syaikhmu?” “Ya, tentu saja, Saya mencium tangannya dan Saya mencium kakinya.” Tidak ada masalah! Bau dari percakapan tadi membuat Wali itu pergi. Bagaimana menurut kalian, pada saat kita sedang shalat dan mengucapkan “Allahu Akbar” lalu muncul ratusan dan ribuan kekhawatiran atau gosip yang dibisikkan Setan ke telinga kita dan kita memikirkannya, “Oh, Mustafa adalah orang yang tidak baik, Oh Berny yang paling buruk, Oh Bubby gila, Oh Bapak dan Ibu Firdaus… Aku tidak mau makan dari makanan mereka. “ Ini dan itu… dan orang-orang mulai mempunyai gosip dalam pikirannya. Bagaimana malaikat akan membawa shalatmu ke Hadirat Allah, jika mereka pergi karena mencium bau busuk ini? Artinya shalat kalian tetap berada di tempat, tidak diterima (oleh Allah)… shalat itu hanya diterima sebagai ibadah fardu, artinya kalian memang mengerjakan kewajiban kalian… tetapi itu tidak diterima sebagai ibadah yang sempurna. Dia tetap berada di tempatnya. Untuk itulah kita harus berhati-hati agar tidak membawa isu-isu yang telah terjadi sebelumnya dan menyebarkannya mulai dari satu kepada yang lain sehingga menjadi gunjingan.

Allah adalah SATTAR, Maha Menyembunyikan. Allah Maha Mengetahui segala perbuatan kalian, perbuatan baik maupun buruk. Dan Dia tidak melepaskan atau mengeksposnya kepada orang lain. Dia melindungi dan tidak membiarkan kalian terekspos bagi orang lain. Tetapi manusia adalah seburuk-buruk pengekspos kesalahan orang lain. Grandsyaikh melukiskan mereka bagaikan seekor lalat hitam yang selalu pergi ke tempat-tempat yang kotor. Di mana ada sampah, kotoran, WC, toilet, atau apa pun yang kotor kalian akan menjumpai lalat-lalat ini beterbangan. Seperti halnya surat kabar dan majalah-majalah ini. Mereka mengejar setiap orang, menggoyang kehidupan mereka, apa yang mereka lalukan terhadap istrinya,… dia menipunya… dia tidak menipunya… dia nikah 10 kali, 100 kali, 5 kali… apa saja usaha mereka… apa yang mereka lakukan… koran dan majalah sangat senang mengambil apa saja, bahkan sampai hal-hal yang terkecil untuk menciptakan fitna dan kebingungan di negri ini.

Grandsyaikh memberi ilustrasi (semoga Allah mensucikan jiwanya ketika menerangkan hal ini). Seperti orang yang mempunyai hewan-hewan ternak di kebunnya, biri-biri, lembu dan hewan lainnya; kemudian dia melihat kebun tetangganya dan berkata, “Lihat! Banyak nyamuk di pohonmu,” sementara itu dia sendiri melupakan kebunnya yang kemasukan binatang buas dan mulai memangsa semua biri-biri dan lembunya, tetapi dia lebih memperhatikan nyamuk-nyamuk yang terbang di kebun tetangganya.

Jadi kalian harus mengetahui bahwa gunjingan semacam ini adalah hal terlarang. Dan jika kita mampu, kita akan terus menggunjing semua orang bahkan sampai Nabi Adam u. Ini adalah tabiat alami manusia dan jalan satu-satunya untuk menyelamatkan dirimu dari gunjingan ini adalah melalui disiplin thariqat, di mana kita diharuskan untuk membaca “Ya Shamad” 500 kali setiap hari (setelah shalat syukur—red). Catatan penerjemah: Mengucapkan Nama “Ya Shamad” “Wahai Zat Tempat Meminta” esensinya adalah untuk memangkas bibit-bibit keburukan yang secara alami ada pada setiap orang.

Mereka berkata, “Mengapa kalian membutuhkan pemandu, mengapa kalian membutuhkan seorang Syaikh?” Seorang Syaikh adalah pembimbing kalian, dia akan mengatakan kepadamu apa yang harus kalian lakukan dan bagaimana cara menghindari gunjingan seperti ini, kalau tidak kalian akan lihat bahwa setiap orang saling menggunjing satu sama lain. Sekarang, orang-orang dengan keyakinan tertentu bertanya, “Mengapa kalian memerlukan seorang Syaikh? Mengapa kalian membutuhkan pembimbing?” Bagaimana kalian akan mempelajari hal-hal seperti ini tanpa seorang pembimbing, seorang Syaikh? Kalian akan tetap menggunjing orang lain. Semoga Allah memaafkan kita, semoga Allah memberi dukungan kepada kita, semoga Allah membimbing kita ke jalan yang benar, jalur yang benar dari sunnah Nabi saw. Rabbanaa taqabbal minna bi hurmatil habib bi hurmatil faatiha. Taqabballaah. Siapa Syaikhmu?…setiap orang…

Wa min Allah at taufiq
posted by Mevlana as Sufi at 7:33 AM 0 comments

Metode Da'wah Mawlana Syaikh Nazhim
Metode Da'wah Mawlana Syaikh Nazhim pada Muallaf (Muslim Baru)
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani dalam buku ke-3 dari Toward the Divine Presence, Ramadhan-Syawwal, 1406/1986


”Agama ini adalah mudah. Jangan membuatnya sulit, atau kalian akan dikalahkan. Teguhlah (istiqomah), carilah kedekatan pada Allah, perbanyaklah kebajikan dan mohonlah ketentraman dari-Nya siang dan malam.” sabda Nabi Muhammad saw, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah.

A’uudzu bilaahi minasy syaythaanir rajiim Bismillahir rahmaanir rahiim
Dengan Nama Allah, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Manusia berdatangan masuk ke dalam Islam, Alhamdu li-Llah. Itu adalah suatu kabar baik, berita gembira, bagi orang-orang beriman. Dan kebanyakan yang masuk Islam ada di negara-negara Barat. Alhamdulil-Lah, ini adalah suatu bukti bahwa energi aktif Islam masih seperti ketika ia pertama kali datang. Di sini berkumpul demikian banyak saudara-saudara kita, laki-laki dan perempuan. Dan kesemuanya, kecuali saya, adalah generasi muda; saya tidak melihat seorang tua pun. Kalian semua adalah anak muda, subhan-Allah al-'Aliyyu-l 'Azhiim! Jika Islam beraksi pada generasi muda, maka Islam pastilah benar; Islam pastilah sempurna! Juga karena sebenarnya kalian bisa berlarian keluar, di kota ini, kota London, di mana semua yang ego kalian minta, dapat kalian temukan dengan mudah. Jadi, apa yang tengah membuat kalian berada di sini? Itu pastilah suatu kekuatan spiritual yang mempengaruhi hati dan kalbu kalian, dan kekuatan itu akan menang atas setan-setan dan kejahatan.

Sekarang, ada suatu pertanyaan penting tentang sesuatu yang menjadi problem bagi Muslim baru yang masuk ke Islam di negara-negara Barat: Apa yang mesti mereka lakukan untuk belajar dan mempraktikkan Islam? Saat ini, di zaman kita, banyak orang yang berdatangan ke negara-negara Barat untuk menyeru orang ke dalam Islam, tetapi, menurut penglihatan saya, mereka adalah orang-orang paling fanatik di negara-negara mereka dan mereka pun orang-orang yang keras. Islam adalah agama paling toleran yang telah diturunkan Allah bagi hamba-hamba-Nya, tetapi orang-orang ini tidak pernah memahami toleransi dalam Islam. Mereka ingin agar Muslim persis seperti keadaan mereka di zaman Nabi saw; mereka berkata bahwa siapa pun yang percaya dan menerima Islam harus memelihara semua hukum dan aturan dalam Islam.

Itu adalah kesempurnaan, tetapi mereka tidak mempertimbangkan bahwa semua aturan dalam Islam tidaklah datang sekaligus dalam satu waktu, pada hari pertama. Allah sebenarnya dapat saja mengirimkan semua aturan-aturan dan seluruh al-Quran dalam satu hari, atau dalam satu jam; Malaikat Jibril as dapat saja membawanya semua, dengan berkata, "Ini kitabmu; semua kata-kata di dalamnya dapat kau gunakan." Tetapi, Allah tidak melakukan hal demikian. Malah, Ia mengirimkan aturan-aturan Islam itu dalam periode dua puluh tiga tahun. Tidakkah hal ini benar? Dalam dua puluh tiga tahun, aturan dan hukum Islam datang dan disempurnakan.

Kita tidaklah mengatakan bahwa aturan-aturan Islam tidak cocok dengan manusia zaman kita ini; kita percaya bahwa semua aturan-aturan itu sesuai dengan karakteristik manusia, tetapi kita tidaklah siap untuk (melaksanakan) aturan-aturan itu sekaligus. Ketika kita mengucapkan Syahadah, berkata, "Kami bersaksi akan ke-Esaan dan eksistensi Allah dan kenabian serta Pesan dari Nabi Muhammad saw," mengatakan bahwa kita adalah saksi, bahwa kita menerimanya, ini tidak berarti bahwa kita siap untuk melaksanakan semua aturan dan hukum Islam pada saat itu juga. Jika kalian mengatakan bahwa syahadah itu bermakna demikian, maka itu berarti kalian tidak memahami satu pun hikmah turunnya al-Quran Suci dalam waktu dua puluh tiga tahun. Kemudian, jika kalian mengatakan hal ini (bahwa Syahadah berarti kewajiban untuk melaksanakan semua aturan Islam secara langsung sekali jadi-red.), maka kalian harus melakukan operasi bedah pada kepala orang-orang, memotong dan membuka kepala mereka, kemudian membawa Kitab Suci, dan menaruhnya di dalam kepala mereka. Jika tidak, maka hal itu adalah tidak mungkin.

Karena itulah, ketika Nabi saw menginformasikan pada kita tentang tanda-tanda hari Akhir, beliau bersabda bahwa ketika Hari Akhir mendekat, akan muncul dalam Islam, orang-orang yang tidak punya hikmah dan kebijaksanaan; padahal hikmah adalah lebih berharga daripada pengetahuan ('ilm). Allah swt berfirman, "Wa man yu'ta-l 'hikmata fa-qad utia khairan katsiira" ("Dan siapa yang telah dikaruniai hikmah sungguh telah diberikan kebaikan yang banyak." 2:269). Seseorang yang telah diberi hikmah sungguh telah diberi semua harta terpendam." Karena itu, sekeping hikmah jauh lebih berharga daripada seluruh pengetahuan tanpa hikmah, sebagaimana sebuah intan jauh lebih berharga sejumlah besar batu bara.

Di zaman kita ini, kita memiliki pengetahuan dan ilmu. Tetapi yang kita butuhkan bukan pengetahuan ; melainkan hikmah kebijaksanaan. Kita memiliki ribuan, malah mungkin ratusan ribu ulama, tetapi mereka hanya memiliki ilmu, tanpa hikmah. Mereka mungkin tidak senang dengan kata-kata saya, tetapi saya mesti mengatakannya pada mereka. Kita membutuhkan hikmah, dan Allah telah mengatakan bahwa hikmah tidaklah diberikan pada setiap orang. Hikmah tidaklah datang dari luar; sumber-sumber hikmah berasal dari qalbu/hati. Kalian mendapatkan hikmah dan kebijaksanaan dengan membaca buku-buku?! Tidak, hikmah adalah sesuatu yang dikaruniakan pada kalian melalui hati kalian. Karena itulah, Nabi saw bersabda, "Man akhlasa arba'ina sabaha, la-fajarat yanadiu-l-hikmah min qalbihi 'ala lisanihi." ("Siapa yang mampu untuk ikhlas (kepada Tuhannya) selama empat puluh hari, mata air-mata air hikmah akan memancar dari hatinya ke atas telinganya.") Beliau mengatakan bahwa jika siapa saja dapat beribadah secara ikhlas dan tulus selama empat puluh hari, dan ikhlas atau ketulusan berarti tidak pernah membiarkan keinginan ego apa pun untuk turut campur atau terlibat dengan ibadah seseorang selama empat puluh hari maka Allah akan membuka di hatinya sumber-sumber hikmah.

Tetapi, ini tidaklah mudah. Kita mengikuti jalan pikiran kita dan itu berarti kita tidak akan pernah dikaruniai hikmah apa pun. Ya, sebagian besar ilmu dan pengetahuan yang telah dikaruniakan pada manusia telah pula diberikan pada setan. Tak ada di antara para ulama dan sarjana yang mampu menandingi Setan; ialah yang akan menang. Tetapi setan tidak memiliki hikmah sedikit pun. Seandainya saja ia memiliki hikmah sekalipun dalam jumlah minimum, tentu ialah yang akan pertama kali melakukan sajdah, sujud, kepada Adam u sebagai penghormatan atas perintah Tuhannya; sebelum yang lain, tentu ia telah melakukan sajdah ketika Allah memerintahkan para Malaikat untuk bersajdah pada Adam as. Tetapi, setan tidak memiliki hikmah sedikitpun. Karena itulah, ia jatuh dan diusir.

Karenanya, yang kita butuhkan bukanlah pengetahuan. Sayangnya, saya melihat bahwa setiap Muslim baru, baik di sini atau di Amerika atau Inggris atau Perancis atau Jerman, ingin cepat-cepat belajar bahasa Arab--lalu pergi ke Mesir, pergi ke Al-Azhar, pergi ke Hijaz; bahkan ke Pakistan, untuk belajar. Mereka ingin belajar bahasa Arab atau belajar Qur'an, belajar Hadits, untuk menjadi ulama.

Ya, kita tahu bahwa ada hadits dari Nabi saw yang mengatakan, "Talaba-l-'ilma faridatun 'ala kulli Muslim wa Muslimah" Allah mewajibkan setiap mu'min, laki-laki maupun perempuan, untuk mencari pengetahuan, 'ilm. Tetapi apa batas-batasnya? Karena untuk setiap hal, tersimpan suatu keinginan tersembunyi, syahwat al-khafiyyah; pada setiap orang, ada keinginan tersembunyi dari ego mereka yang membuat orang-orang berada pada jalan yang salah, membuat mereka berpikir bahwa Islam adalah sesuatu yang hanya untuk DIKETAHUI, dan kemudian seseorang memulai jalannya mencari pengetahuan--lebih banyak, lebih banyak, lebih banyak, lebih banyak, lebih banyak, dan lebih banyak ilmu, berlari, berlari, berlari, dan adalah tidak mungkin untuk menemukan suatu akhir dari ilmu. Ia akan kelelahan dan akhirnya menjadi lupa, juga karena telah banyak mengambil (ilmu); kemudian ia tak mampu membawanya dan mulai jatuh sampai, pada akhirnya, jika ia masih dapat mengingat Kalimat asy-Syahadah saja, itu sudah baik. Ya; saya melihat saudara-saudara Muslim Barat kita, laki-laki dan perempuan. Kebanyakan mereka tertarik untuk belajar, belajar, belajar, dan mengetahui, tanpa mengetahui di mana mereka mesti berhenti.

Imam A'zham, Imam terbesar, Abu Hanifah, yang madzhabnya diikuti jutaan orang, menjelaskan makna hadits itu yang mewajibkan mu'min untuk belajar dan mengetahui, dan beliau mengatakan, "Afdhal al-'ilm, ilmu yang paling berharga yang kalian punya, hanyalah ilmu yang berkenaan dengan kepentingan dirimu sendiri," atau sebagaimana kami dapat katakan tentang apa yang bertentangan denganmu: yaitu untuk mengetahui segala sesuatu yang diperuntukkan bagi kalian, yang memberi kalian manfaat di sini dan di Akhirat, dan tentang hal-hal apa yang berbahaya bagi kalian atau memberikan kalian masalah dan hukuman baik di sini maupun di Akhirat.

Hanya itulah yang penting untuk diketahui. Ini tidak berarti bahwa kalian harus mempelajari seluruh al-Qur'an Suci dan seluruh hadits dari Nabi saw dan seluruh buku yang ditulis atau setiap macam pengetahuan yang dibawa Islam; bukan ini yang dimaksud. Tetapi, orang-orang Barat memang punya keinginan mendalam untuk membaca, untuk belajar, dan mereka tidak mau mengubah sifat mereka ini. Karena itulah, saat mereka menjadi Muslim seperti saudara laki-laki kita di sini, ia meminta seorang guru untuk mengajarinya bahasa Arab, dan kemudian makna-makna al-Qur'an Suci, makna-makna Hadits, dan ini akan menjadi beban yang berat baginya. Dan saya berkata padanya, "Stop; tidak perlu. Hanya apa yang mungkin kau temui selama hidupmu, yang harus kau pelajari dan kau amalkan."

Itu penting: untuk mengetahui dan belajar dengan tujuan untuk mengamalkannya! Tidak sekedar untuk tahu, atau untuk memiliki ilmu tidak! Kita membutuhkan lebih banyak pengetahuan hanya untuk bisa mengamalkannya dan untuk menggunakannya dalam perjuangan kita melawan ego/nafsu kita. Kalian mencari ilmu dengan tujuan untuk mencapai hikmah, karena tanpa hikmah, tidak mungkin untuk menghentikan ego kalian menyerang dan melawan kalian.

Hikmah adalah bagaikan bom-bom atom bagi ego kalian, tetapi ilmu dan pengetahuan lainnya adalah seperti senjata-senjata sederhana yang di zaman kita ini mereka tidak akan bekerja; senjata-senjata sederhana tidak berarti apa-apa sekarang. Dengan mendekatnya hari akhir, senjata-senjata iblis, senjata-senjata Setan, juga meningkat, untuk mengeluarkan manusia dari iman dan kepercayaan. Tetapi, sebagaimana Setan meningkatkan serangan-serangan dan metode-metode yang ia gunakan untuk membuat manusia tak percaya dan tanpa iman, Awliya' (kekasih-kekasih Allah) pun menggunakan hikmah untuk mengalahkan Setan dan pembantu-pembantunya serta penolong-penolongnya.

Jadi, ini adalah dari trik-trik itu, trik-trik setan. Jika Setan tidak mampu mencegah seseorang dari masuk Islam atau dari beriman, maka ia menggunakan metode lainnya, yaitu dengan membuatnya kelelahan. Saat seseorang lelah, habis; ia tak dapat lagi mengikuti jalan atau aturan-aturan Islam. Dan Setan menggunakan metode-metode barunya ini pada mu'min-mu'min baru (muallaf), berkata, "Oh, sekarang kau Muslim, kau harus melaksanakan semua aturan. Jika tidak, tidak mungkin; kau bukan Muslim!"

Shalat lima waktu sehari? Satu waktu adalah cukup bagi kalian sebagai seorang Muslim baru, dan Allah menerima sekalipun hanya satu sajdah sehari. Begitu banyak Muslim tidak melakukan, bahkan, satu sajdah setiap harinya, sekalipun mereka adalah Muslim. Mereka tidak mengatakan bahwa diri mereka kafir, tidak beriman tidak, mereka adalah Muslim. Saya dapat tunjukkan pada Anda di sini, di London, orang-orang Turki yang Muslim; mereka tidak melakukan sajdah sekalipun hanya satu kali tiap hari. Maka, mengapa kalian katakan "lima waktu" bagi Muslim-muslim yang baru? Ibadah lima waktu adalah kesempurnaan. Kalian boleh katakan, "Cukup bagi diri kalian untuk melakukan satu sajdah setiap harinya." Tadinya ia (Muslim baru-red.) belum melakukan apa-apa, tetapi kini Anda katakan padanya, "Tidak.

Kalian mesti belajar al-Quran suci, semua isinya, dan kalian mesti shalat lima waktu, dan kalian mesti berpuasa penuh di bulan Ramadhan, dan kalian mesti siap untuk pergi Haji." Itu adalah kesempurnaan, itu adalah ketinggian, tetapi, ia mesti mencapai kesempurnaan itu selangkah demi selangkah. Tetapi, Setan datang dengan cepat, berkata, "Tidak--kau bukan Muslim jika kau tidak melakukan semuanya!" Dan Setan memiliki wakil-wakilnya, juga, dari golongan manusia untuk memperlemah keimanan mereka atau untuk menghancurkan mereka. Begitulah, Allah dengan hikmah Ilahiah-Nya, mula-mula memerintahkan para Sahabat untuk shalat hanya dua raka'at di pagi hari, dan kemudian datang pula perintah dua raka'at di waktu Maghrib, saat matahari terbenam. Barulah beberapa tahun kemudian, datang perintah untuk shalat lima waktu.

Kita pun bisa menggunakan cara yang sama, menggunakan hikmah/kebijaksanaan, dan kita dapat mengatakan pada orang-orang, "Jika Sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw boleh shalat hanya dua rakaat pada awalnya, apa salahnya jika kita katakan pada Muslim-muslim baru itu, 'Lakukan satu sajdah setiap hari; cukup'?" Kami menggunakan hikmah itu dengan cara seperti itu, dan kemudian ketika saya datang (pada mereka) di tahun berikutnya, saya melihat orang-orang itu melakukan shalat di semua waktu. Saya tidak menyuruh mereka untuk shalat lima waktu tetapi MEREKA mengatakan, "Kami dapat melakukannya sekarang!" Saya menasihati mereka untuk hanya shalat dua raka'at dulu, tetapi mereka kini senang dengan lima waktu; *MEREKA* meminta lebih.

Karena itulah, kita amat membutuhkan hikmah, dan hikmah datang melalui hati kalian. Dan kalian dapat memperolehnya dalam empat puluh hari. Saya tidak mengatakan untuk memelihara empat puluh hari dan pada setiap harinya dua puluh empat jam dipenuhi dengan ibadah, tidak. Tetapi, yang saya sarankan pada kalian: Cukup sekali saja dalam sehari kalian lakukan suatu ibadah, pada tengah malam atau sebelum waktu Subuh, sebelum fajar, sehingga tak seorang pun bersama kalian, kecuali Tuhan kalian. Jika kalian tak dapat melakukan mandi, ghusl, kalian cukup berwudhu'. Kemudian shalatlah dua raka'at dengan berdiri menghadap kiblat, dan kalian katakan, "Tak seorang pun yang wujud kecuali Engkau, dan aku bukanlah apa-apa. Dan aku bersama-Mu dan Engkau bersamaku." Tak ada yang lain yang perlu dikatakan lagi.

Lakukanlah! Dan ulangilah selama empat puluh malam. Maka hikmah dan kebijaksanaan akan terbuka sedikit di hati kalian. Melalui hikmah itu akan muncul cahaya yang akan membuat terang kegelapan dalam dunia kalian, dan kalian akan menemukan suatu jalan untuk terus menempuh hidup ini. Lakukan itu selama empat puluh hari, itu adalah metode paling mudah. Mungkin hanya memakan waktu lima menit setiap kalinya; sudah cukup bagi kalian, tetapi jika kalian lakukan dengan kesinambungan selama empat puluh hari, kalian akan temukan suatu manfaat besar. Kalian akan temukan diri kalian lebih dekat pada Tuhan kalian, dan itulah yang terpenting: untuk merasakan bahwa diri kalian lebih dekat kepada Tuhan kalian.

Wa min Allah at taufiq

posted by Mevlana as Sufi at 7:33 AM 0 comments

Beberapa Hadits tentang Mencintai Rasulullah saw
Diteliti oleh Hajj O Ahmet


Rasulullah saw bersabda, "Orang-orang yang paling kucintai dari Ummat-ku adalah mereka yang akan datang setelah-ku, tapi setiap orang di antara mereka akan memiliki keinginan mendalam untuk sekedar melihatku sekejap, bahkan dengan mempertaruhkan keluarga dan hartanya. [Sahih Bukhari, diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra]

Saat Ali ra melukiskan Nabi saw, ia berkata, “Beliau tidak terlalu tinggi tidak pula terlalu pendek, melainkan seorang laki-laki dengan tubuh sedang. Beliau tidak memiliki rambut yang terlalu keriting, tidak pula rambut lurus, tapi suatu campuran dari keduanya. Beliau tidak gemuk, beliau tidak memiliki wajah yang amat bulat, tapi agak bulat. Beliau berkulit putih kemerah-merahan, dan memiliki mata berwana hitam yang lebar, dan bulu mata yang panjang. Beliau memiliki sendi-sendi dan tulang belikat yang menonjol, beliau tidak memiliki banyak bulu tetapi memiliki sedikit bulu di dadanya. Sedangkan telapak tangan dan kakinya memiliki kulit yang tebal. Saat beliau berjalan, beliau menggerakkan kakinya seakan-akan beliau sedang berjalan menuruni suatu lereng; saat beliau berpaling, beliau akan memalingkan seluruh badannya. Di antara kedua bahunya terdapat tanda kenabian dan beliau adalah penutup para Nabi. Beliau memiliki dada yang lebih baik dari siapa pun, dan perkataannya lebih benar dari siapa pun lainnya, memiliki sifat yang paling halus dan berasal dari suku termulia. Mereka yang memandang beliau akan segera berdiri terkesima pada beliau dan mereka yang bersahabat dengan beliau mencintai beliau. Mereka yang mencoba melukiskan beliau mengatakan bahwa mereka tak pernah melihat orang seperti beliau sebelumnya maupun sesudahnya. [Misykat--Tirmidzi meriwayatkannya dari Ali bin Abu Thalib ra]

"Rasulullah saw bersabda, 'Demi Dia yang jiwaku berada di Tangan-Nya, tidaklah beriman seorang di antaramu hingga ia mencintaiku melebihi cintanya pada ayahnya dan pada anak-anaknya.'" [Sahih Bukhari, diriwayatkan dari Abu Hurairah ].Nabi saw bersabda, "Tak seorang pun di antara kalian memiliki iman sampai ia mencintaiku melebihi cintanya pada ayahnya, anak-anaknya, dan seluruh manusia." [Sahih Bukhari, diriwayatkan dari Anas ].

Nabi saw bersabda, "Barangsiapa memiliki ketiga sifat berikut ini akan merasakan manisnya (indahnya) iman:
1. Ia yang mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi apa pun;
2. Ia yang mencintai seseorang dan orang itu mencintainya semata-mata demi Allah I;
3. Ia yang benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci untuk dilempar
ke dalam api." [Sahih Bukhari, diriwayatkan dari Anas ]

"Ayahku meminta izin dari Nabi saw. (Saat izin diberikan dan ia mendekati beliau), ayahku mengangkat baju beliau, dan mulai mencium beliau dan memeluk beliau (karena cintanya pada beliau). Ia bertanya, 'Ya Rasulullah saw, hal apakah yang haram untuk menolaknya?' Beliau menjawab, 'Air.' Ia kembali bertanya, 'Ya Rasulullah , hal apakah yang haram untuk menolaknya?' Beliau menjawab, 'Garam'. Ia kembali bertanya, Ya Rasulullah , hal apakah yang haram untuk menolaknya?' Beliau bersabda, 'Berbuat kebaikan adalah lebih baik bagimu.'"[Riwayat Abu Dawud, dari Buhaysah al-Fazariyyah ]

Rasulullah saw bersabda padaku, "Anakku, jika engkau bisa melalui harimu dan malammu sambil menjaga kalbumu bersih dan suci dari kedengkian atas seseorang, kemudian beramal menurutnya (tujuan luhur ini)." Beliau kemudian bersabda, "Anakku, dan itulah Sunnah-ku dan siapa yang mencintai Sunnah-ku, sungguh ia telah mencintai-ku, dan siapa yang mencintai-ku, akan bersama-ku di Surga."
[Misykat at Tirmidzi diriwayatkan dari Anas ibn Malik ]

Seorang laki-laki berkata pada Nabi saw, "Demi Allah, ya Rasulullah saw, aku mencintaimu." Nabi bersabda, "Lihatlah, apa yang kau katakan?" Laki-laki itu berkata, "Demi Allah , aku mencintaimu", dan mengulangi kalimat ini tiga kali. Nabi bersabda, "Jika engkau benar-benar mencintaiku, maka bersiaplah untuk kemiskinan, karena kesusahan yang sangat berat berlari lebih cepat kepada orang yang mencintaiku lebih cepat daripada banjir yang mengalir ke tujuannya." [Misykat, diriwayatkan dari Abdullah ibn Mughaffal ]

Rasulullah pernah suatu pagi tertahan dari melakukan shalat fajr (dalam jama'ah) bersama kami sampai matahari hampir muncul di cakrawala. Beliau kemudian datang dengan tergesa-gesa dan Iqamatus-shalat dilakukan, dan beliau melakukan shalat itu dengan singkat. Setelah beliau menyelesaikan shalatnya dengan mengucapkan As-Salamu 'alaykum wa Rahmatullah, beliau menyeru kepada kami dengan berkata, "Tetaplah di tempat kalian seperti saat ini." Kemudian beliau berpaling pada kami dan bersabda, "Aku akan mengatakan pada kalian apa yang telah menahanku dari kalian (maksudnya sehingga aku tidak mampu segera bergabung dengan kalian dalam shalat) di pagi ini. Aku bangun di malam hari dan berwudhu' dan melakukan shalat sebagaimana telah ditakdirkan bagi-ku. Aku mengantuk dalam shalat-ku sampai akhirnya aku terjatuh tidur dan lihatlah, aku menemukan diriku di Hadirat Tuhan-ku, Tabaraka wa Ta'ala, dalam rupa terbaik. Ia berkata padaku, "Muhammad saw!" Aku berkata, Labbaik (kupenuhi panggilan-Mu), wahai Tuhan-ku." Ia berkata, "Terhadap apa malaikat-malaikat tertinggi ini puas?" Aku menjawab, "Aku tidak tahu."

Ia mengulanginya tiga kali. Beliau bersabda, "Kemudian aku melihat-Nya menaruh Telapak Tangan-Nya di antara tulang belikat sampai aku merasakan dinginnya Jari-jari-Nya di antara dua sisi dadaku. Kemudian segala sesuatunya menjadi terang bagiku dan aku dapat mengenali segalanya." Ia berkata, "Muhammad saw!" Aku berkata, "Labbaika, wahai Tuhanku." Ia berkata, ""Terhadap apa malaikat-malaikat tertinggi ini puas?" Aku menjawab, "Berkenaan dengan penebusan dosa." Ia berkata, "Apa saja itu?" Aku menjawab, "Berjalan kaki menuju shalat berjamaah, duduk di masjid setelah shalat, berwudhu' dengan sempurna sekalipun sulit." Ia berkata lagi, "Kemudian terhadap apa mereka puas?" Aku berkata, "Berkaitan dengan tingkatan-tingkatan." Ia berkata, "Dan apa saja itu?" Aku berkata, "Menyediakan makanan, berbicara lembut, melakukan shalat saat orang-orang sedang tertidur lelap." Ia kemudian berkata lagi pada-ku, "Mohonlah (pada Tuhanmu) dan berkatalah, 'Ya Allah , aku memohon pada-Mu (kekuatan) untuk melakukan kebajikan, dan meninggalkan keburukan, untuk mencintai fakir miskin, sehingga Engkau ampuni aku dan melimpahkan rahmat pada-ku, dan saat Kau ingin untuk menimpakan fitnah pada orang-orang, maka Kau wafatkan diriku tanpa cela, dan aku mohon pada-Mu cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu dan cinta akan perbuatan yang membawaku mendekat pada cinta-Mu.'" Rasulullah bersabda, "Ini adalah kebenaran, maka pelajarilah dan ajarkanlah. [Misykat at-Tirmidzi, diriwayatkan dari Mu'adz bin Jabal ]

Nabi saw bersabda, "Salah satu dari doa-doa Nabi Dawud as adalah, 'Allah swt, aku mohon pada-Mu cinta-Mu dan cinta mereka yang mencintai-Mu, dan perbuatan yang mendorongku menuju cinta-Mu. Allah, jadikanlah cinta-Mu lebih kusukai daripada jiwaku, daripada keluargaku, dan lebih kusukai daripada air dingin.'"
[Misykat, diriwayatkan dari Abu-d Darda']

Rasulullah bersabda, "Cintailah Allah atas kenikmatan yang telah Ia karuniakan padamu, dan cintailah aku karena cinta pada Allah, dan cintailah keluargaku karena cinta pada-ku."[Misykat—at-Tirmidzi, dari 'Abdullah ibn 'Abbas]

Nabi saw pernah suatu hari berwudhu' dan sahabat-sahabatnya mulai membasuhkan air bekas wudhu' beliau kepada diri mereka. Nabi bertanya pada mereka tentang apa yang menyebabkan mereka melakukannya, dan ketika mereka menjawab bahwa hal itu mereka lakukan karena kecintaan pada Allah dan utusan-Nya , beliau bersabda, "Jika seseorang senang untuk mencintai Allah dan utusan-Nya, atau untuk dicintai oleh Allah dan utusan-Nya , maka ia harus berkata benar saat ia menceritakan sesuatu, memenuhi amanahnya saat ia diberi amanah, dan menjadi tetangga yang baik."
[Misykat--diriwayatkan dari AbdurRahman bin Abu Qurad]

Wa min Allah at taufiq
posted by Mevlana as Sufi at 7:33 AM 0 comments

Ketakutan dan Harapan
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
Siprus, 21 Desember 1999


Kita berpikir bahwa segalanya berada pada posisinya yang sama, walaupun jam bekerja dan bergerak kita berpikir bahwa kita tetap sama, tidak berubah. Lewat pergerakan jam ini kita datang ke dunia, kita berpikir bahwa kita sama, tetapi sebenarnya kita tidak sama. Kita berjalan, dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Kita melalui waktu demi waktu, setiap detik, setiap jam, dan setiap hari kita selalu bergerak, bekerja, dan kita berpikir bahwa kita masih tetap sama…

Paling tidak kita harus melihat pada pergerakan siang dan malam, siang mengikuti malam dan malam mengikuti siang; mereka berubah. Dan kita ada di dalamnya. Mesti ada suatu akhir bagi kemunculan kita melalui eksistensi ini. Suatu hari akan tiba waktunya di mana kita akan musnah. Jangan berpikir bahwa setiap hari orang yang sama di jalan-jalan datang dan pergi, mereka berkata bahwa setiap hari banyak mobil yang diambil dari jalan, banyak sekali mobil yang digantikan dengan mobil baru setiap saat. Di mana-mana tidak ada yang sama. Semua tempat yang kita lihat, kita bisa memahaminya.

Mengapa mereka mengatakan hal ini… dari Grandsyaikh kita, mereka membuat Saya berbicara mengenai hal ini dan Saya mendengar dan memperhatikan, ada beberapa ketakutan dan juga harapan. Setiap hari setiap orang mempunyai ketakutan dan harapan. Kadang-kadang ketakutan menutupi hati kita dan kita akan berada di bawah kontrolnya. Tubuh kita akan berada di bawah hegemoni ketakutan. Kadang-kadang harapan mendatangi hati kita sehingga kita akan merasa penuh harapan dan penuh kesenangan. Ada dua jenis penampakkan (manifestasi) Allah dalam diri hamba-hamba-Nya. Salah satunya adalah milik hidup ini, ketakutan dan harapan yang sama. Tetapi ada pula suatu ketakutan dan harapan yang lain—ini adalah bagi orang-orang yang beriman, untuk kehidupan mereka yang kekal—harapan dan ketakutan mereka untuk keabadian. Orang-orang yang hidup untuk kehidupan ini (dunia) dan tidak pernah berpikir atau menerima kehidupan yang lain, ketakutan dan harapan mereka hanya untuk hidup ini. Mereka takut kehilangan hidup ini dengan kematian karena kematian adalah penghabisan bagi mereka. Oleh sebab itu mereka takut sesuatu akan terjadi pada mereka dan segalanya akan diambil dari mereka. Dan dengan penuh harapan mereka melihat ke sekelilingnya untuk hidup dan memperoleh kesenangan, mereka melupakan ketakutan itu dan mereka bertanya apa yang bisa mereka lakukan untuk terus bertahan dan berada di dalamnya. Bahkan ketika mereka mengetahui bahwa itu akan menjadi periode yang singkat. Standard itu adalah standard terendah dari pemikiran ummat manusia. Tidak ada tingkat di bawah tingkat itu.

Tetapi bagi orang-orang yang beriman, situasi mereka berbeda. Mereka takut kehilangan kesempatan untuk meraih kehidupan yang kekal. Mereka takut kehilangan kesempatan itu selama-lamanya. Itu juga adalah suatu ketakutan, mereka membuat Allah tidak senang kepada mereka, mereka takut akan kemurkaan Tuhan mereka. Karena kemurkaan ini menghalangi mereka untuk meraih keabadian. Kehidupan abadi hanyalah untuk orang-orang yang memohon setiap saat atau bagi orang yang setiap gerakannya ditujukan untuk membuat Tuhan ridha dengan mereka. Oleh sebab itu semua orang akan berada di dua jalur. Keduanya mempunyai ketakutan dan harapan, tetapi ketakutan dan harapan bagi orang yang tidak beriman terhadap hidup yang kekal; hari demi hari akan membuat mereka tertekan, membebani mereka dan bahkan membunuh mereka. Oleh karena itu mereka yang tidak beriman terhadap kehidupan yang kekal, hari demi hari akan mati.

Kita bahagia dan bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya, dan kita berharap dari nikmat-Nya yang tidak terhingga, kita berharap dari keabadian-Nya, untuk berada bersama-Nya selama-lamanya. Saya menyesal karena sekarang sebagian besar ketakutan dan harapan orang hanya untuk hidup yang sementara. Mereka tidak memikirkan tentang kehidupan yang kekal dan abadi, mereka tidak berpikir untuk memberikan sesuatu dalam kehidupan sehari-hari untuk Tuhan mereka, untuk membuat Tuhan ridha dengan mereka. Siapa yang berusaha membuat-Nya senang, pasti akan merasa bahagia. Siapa yang melupakan-Nya, dia akan dilupakan. Jadi jangan lupa; jangan sampai dilupakan. Siapa yang tidak melupakan, tidak akan dilupakan.

Jangan lupa! Allah berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku, jangan melupakan Aku, Aku bersamamu, tetapi kalian tidak bersama-Ku. Jika kalian bersama-Ku, kalian akan memiliki sifat yang lain. Tidak ada orang lain yang bisa mengerti. Itu hanya untuk kalian.” “Berusahalah untuk bersama-Ku,” begitu firman Allah. Jika kalian bersama-Ku kalian akan menemukan Aku dalam cara yang tidak kalian duga. Cobalah untuk berpuasa yang sesungguhnya dalam bulan suci ini, berpuasa dari dunia dan untuk bersama Allah. Itulah realitas. Kita adalah pemula di jalan kita dan harapan kita adalah meraih kehidupan abadi, agar kita berada di dalamnya.

Kita sekarang adalah orang yang berjalan melewati daratan dan ketika mulai lelah kita memohon sebuah jalan kereta, dan kita berharap agar bisa mencapai kereta, lalu duduk di dalamnya, dan berkata, “Oooh! Tidak ada lagi jalan melewati bebatuan, hutan, gurun, pegunungan, tidak!” Sekarang kita mencapainya, kita duduk dalam kereta itu dan dia akan membawa kita ke tujuan kita yang sesungguhnya. Orang-orang berjalan di daratan sekarang, tetapi hanya sedikit yang berpikir untuk mencapi rel kereta, untuk menemukan kereta dan menaikinya. Oleh sebab itu Allah mengutus Rasul untuk memandu orang-orang, dengan berkata, “Mari, mari lewat sini.” Kebanyakan orang tidak mendengar. Siapa yang mendengar dan datang, duduk dalam kereta, kereta akan membawanya; selesai. Oleh sebab itu, kesulitan ini adalah untuk ego kita, jika ego kita membawa sedikit kesulitan. Hal ini sulit, karena ego kita meminta hal-hal yang tidak terbatas dan dia tidak menginginkan suatu batas. Siapa pun yang menjaga disiplin dan membawa disiplin itu dengan egonya, setelah beberapa saat mereka akan sampai ke stasiun—dari sana kereta akan membawa mereka ke tujuan mereka. Kita berharap suatu hari nanti kita akan tiba di kereta dan meraih tujuan kita, itulah Pelayanan Ilahiah kepada Allah , hanya untuk menjadi hamba-Nya.

Semoga Allah memberkati kalian dan mengirimkan seseorang dari Hadirat Ilahi-Nya yang akan membimbing kita kepada-Nya. Allah Allah........
Wa min Allah at taufiq

posted by Mevlana as Sufi at 7:33 AM 0 comments

Jangan Khawatir!
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani


Rasulullah saw menekankan sebuah nasihat yang sangat baik kepada seluruh manusia, “Bila kalian bangun di pagi hari dalam keadaan utuh, tidak kekurangan sesuatu, kalian dan keluarga kalian berada dalam keadaan sehat wal afiat, maka jangan bebani diri kalian dengan kekhawatiran.”

Rasulullah menasihati agar kita tidak membuat masalah bagi diri kita. Jika ada masalah yang sangat penting dan mendesak, itu lain soal. Tetapi banyak sekali masalah” dalam pikiran manusia yang sebenarnya bukan masalah sama sekali, melainkan hanya pikiran (buruk) mereka saja. Itu semua adalah “masalah yang terproyeksi” yang mungkin bisa terwujud atau tidak sama sekali. Ini adalah masalah yang sering dialami oleh orang-orang di abad ke-21 ini. Orang-orang menderita terhadap kemungkinan terjadinya penderitaan di masa depan. Akibat kecemasan saraf yang mereka alami, mereka bisa mengalami penderitaan yang panjang meskipun tak satu pun yang mereka khawatirkan akan terwujud. Ini adalah suatu simbol kebodohan!

Setiap hari kita dibebani dengan beban mingguan, bulanan dan tahunan. Mengapa kalian membawa muatan seperti itu bila kalian dapat berjalan tanpa beban? Kalian juga akan menemukan bahwa semua yang kalian butuhkan telah menanti kedatangan kalian di setiap tempat perhentian dalam perjalanan kalian. Kalian hanya hadir di sini dan sekarang. Esok “kalian” hanyalah sebuah fantasi, sebagaimana kalian tidak tahu jika kalian hidup selama itu. Dengan menemukan begitu banyak masalah dalam diri kalian, kalian hanya akan menyakiti diri sendiri. Apakah nasihat Rasulullah saw ini tidak cukup membuktikan kesetiaan beliau untuk membimbing orang menuju kebahagiaan?

Allah tidak ingin hamba-hamba-Nya menderita kesulitan yang tidak berguna. Dia berfirman, “Wahai hamba-Ku, jangan bebani dirimu dengan kekhawatiran mengenai masa depan. Kalian cukup membiarkan agar dirimu sejalan dengan Kehendak-Ku dan setuju dengan maksud-Ku saat ini, lalu sisanya dijamin bahwa Aku akan menjaga masa depanmu agar sejalan dengan Kehendak-Ku.” Mungkin kalian akan mengerti maksud Saya dengan contoh berikut. Ketika sebuah rel baru dipasang, sebelum lokomotif dan kereta melalui rel itu, sebuah kart beroda dua pertama kali dikirim ke sana untuk mengecek apakah lintasan tersebut sudah terpasang dengan baik dan lurus. Dengan cara yang sama, jika kalian dapat meluruskan jalan kalian sesuai dengan Kehendak Tuhan walaupun hanya beberapa saat, tanpa membawa beban berat kalian bisa merasa yakin bahwa jalanmu itu sudah benar, dan bila waktu berjalan dengan berat dan begitu banyak beban dalam lokomotifmu, jalur kalian sudah benar dan lurus sehingga kalian dapat melewatinya dengan lancar. Sebuah solusi bagi masalah saat ini adalah jalan keluar bagi masalah di tahun berikutnya.

Ketika Saya berada di sini, di Barat, setiap hari Saya menghadapi orang yang membawa masalah antisipasi yang berat. Betapa sulit di dunia yang modern ini untuk lepas dari perspektif seperti ini dan untuk berkonsentrasi pada momen untuk menempatkannya dengan baik dan benar. Dengan 10 dari ribuan masalah di hadapanmu sekaligus, bagaimana mungkin ada sebuah solusi? Saya sering melihat orang yang berlari ke dalam masjid, melakukan shalat dengan cepat, kemudian kembali lagi keluar. Kadang-kadang Saya bertanya kepada mereka, “Mengapa buru-buru?” Lalu mereka dengan gugup melihat jam tangannya dan berkata, “Sudah terlalu lama kami di sini, masih banyak pekerjaan yang harus kami lakukan!” Saya katakan, “Memang baik untuk menjadi rajin dan menangani segala urusanmu dengan baik, tetapi siapa yang akan menangani urusanmu bila tiba-tiba kalian meninggal di sini sekarang juga?”

Saya tidak mendorong orang untuk terus-menerus berada di masjid, tetapi hanya mengingatkan agar orang tidak hanya mengejar kebutuhan mereka, tetapi agar mereka bangkit, jungkir balik, setelah melakukan segala usaha yang ambisius karena tidak mungkin menjadi ‘penguasa dunia’ dan dengan mencurahkan begitu banyak energi untuk usaha mereka, itu malah akan merusak dan begitu banyak (hal-hal lain) yang ditinggalkan. Pertama-tama, dunia sudah mempunyai Penguasa; dan berdo’a kepada-Nya dengan penuh kerendahan hati dan dengan kehadiran hati dan pikiran (tidak terburu-buru) dalam shalat adalah lebih penting untuk mendapatkan kebutuhanmu daripada menyibukkan diri di kota. Yang kedua, mengerjakan urusan kalian dengan berlari (terburu-buru-red) adalah tidak efisien, kalian hanya akan menghasilkan penyakit jantung dan mati muda!

Jangan hidup di dunia dengan jadwal yang ketat, karena dia tidak akan dapat menyelamatkanmu dari masalah tetapi malah melibatkanmu ke dalam lebih jauh. Jadikanlah masalahmu lebih sederhana sehingga pemecahannya pun akan sederhana, juga jangan meninjau masalahmu dengan kaca pembesar, sehingga mereka berada di luar perspekstif, kebiasaan itu akan menghancurkan kalian secara fisik dan spiritual.

Wa min Allah at taufiq
posted by Mevlana as Sufi at 7:33 AM 0 comments

Kehendak Allah swt
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
Siprus, 9 Februari 2003


A’uudzu bi-llahi minasy-syaythan-ir-rajiim, bismillah-ir-Rahmaan-ir-Rahiim. As-Salamu 'alaykum! 'Salam' memberikan keselamatan kepada semua orang--Salamullah memberi keselamatan di bumi. Rasulullah Sayyidina Muhammad saw, Khatamul Anbiya, orang yang paling mulia di sisi Allah, bersabda, "Salam adalah keselamatan bagi setiap orang yang hidup di dunia.” Tak ada kata lain yang bisa menggantikan Salam. Salam membawa 'Salamet' keselamatan–bagi manusia dan juga memberi kedamaian. As-Salam! Dalam bahasa Arab, 'Salam' berarti damai, dan selama 80 tahun, orang-orang di negri-negri Islam berusaha untuk mengganti kata 'Salam' dengan kata-kata bentukan yang lain. Dan mereka berusaha menciptakan kebencian di antara bangsa Arab dan Turki. Kebencian sangat sulit dan membawa hasil yang sangat mengerikan, dan kita ucapkan A’uudzu bi-llahi minasy-syaythan-ir-rajiim–-berpaling dari pekerjaan setani menuju Allah .

Ada sebuah timbangan yang harus digunakan oleh setiap orang yang beriman—bahkan bila mereka beriman dalam agama Kristen atau Yahudi, mereka juga harus menggunakan timbangan yang dibawa oleh Islam, yaitu yang disebutkan dalam semua Kitab Suci. Dalam Kitab Suci Allah telah menyebutkan tanda-tanda dan menunjukkan pekerjaan Iblis, hasil karya Setan atau pekerjaan setani. Untuk apa semua Kitab Suci itu diturunkan? Untuk melindungi orang dari Setan dan penyakit yang dibawanya, dari ajarannya yang sesat dan mengerikan. Untuk melindungi hamba-hamba Allah I—itulah tujuan utama dari semua Kitab Suci, yang telah diturunkan dari Langit kepada para Nabi, dan Nabi-Nabi berusaha untuk mengajarkannya kepada semua orang—karena musuh yang paling mengerikan adalah Setan.

Sekarang setengah belahan dunia bersuara menentang Saddam Hussein, "Dia adalah orang yang kejam, bahkan lebih kejam lagi, dia adalah orang yang liar dan mengerikan bagi seluruh dunia. Oleh sebab itu kita harus memeranginya untuk melindungi orang dari kekejamannya.” Karena dia tidak mempunyai timbangan. Dia tidak pernah berpikir tentang sesuatu yang baik bagi rakyatnya. Ketika kemarahan menguasainya, dia bisa melakukan hal-hal yang kejam semacam itu—dia bisa menghancurkan jutaan orang, dia bisa menghancurkan banyak negri, peradaban tua dan baru dia bisa menyingkirkan semuanya.” Sebuah tanda untuk orang itu menyatakan, ‘Waspadalah terhadap Saddam Hussein!' “Oleh sebab itu kita akan berperang melawannya, kita akan menyingkirkan nya, sehingga kita bisa menyelamatkan seluruh dunia dari bahaya yang ditimbulkannya dan menyelamatkan orang dari serangan dan kekejamannya.” Ini adalah sebuah contoh. Dan separuh bangsa berkata, “Hal itu benar, karena dia mempunyai banyak persenjataan yang tersembunyi. Jika satu bangsa menyentuhnya, dia akan menggunakan senjata itu untuk melawannya.”

Dia mungkin saja hanya seorang murid yang lemah dari universitas setani, dia lulus, namun belum mendapat gelar Doktor. Lalu bagaimana dengan Setan, yang merupakan guru pertama bagi Qabil (yang membunuh saudaranya, Habil), seorang pembunuh pertama? Setan mengajarkannya bagaimana cara membunuh saudaranya. Pelajaran pertama. Qabil—lulusan pertama di bumi dari universitas setani. Allah berfirman, “Waspadalah terhadap Setan!” Sementara itu orang menuliskan ‘Awas ada Anjing!’ di depan pintu mereka. Anjing adalah makhluk yang lemah, apa yang bisa dilakukannya selain menggonggong dan menggigit? Di mana-mana orang meletakkan peringatan itu. Mereka menggunakan anjing-anjing itu untuk melindungi diri dari pencuri atau orang jahat. Tetapi tak seorang pun yang menuliskan, ‘Awas ada Setan!’ Kadang-kadang di London, Saya berkata kepada orang-orang untuk meletakkan peringatan ini, tetapi mereka berkata, “Bagaimana mungkin? Dia adalah teman baik kita! Kita tidak perlu menggunakan kata-kata ‘awas atau waspada.’ Daripada menulis ‘Awas ada Setan’ lebih baik kita tulis, ‘Mari bersama pelindung kita, boss kita, Setan!’ “Tidak, dia adalah guru terbesar kita. Sekarang kita telah mencapai puncak peradaban melalui ajarannya, oleh sebab itu kita bisa menggunakan sedikit ajarannya untuk melemparkan beberapa racun atau bahan kimia ke suatu negara dan membunuh warganya. Bahkan semut pun tidak dapat hidup di sana (lagi). Bagaimana Anda dapat mengatakan hal ini (Waspada terhadap Setan) bagi guru terbaik yang membuat kita sampai pada puncak peradaban ini?”

Ada beberapa orang yang melihat hijau bukannya merah, dan merah bukannya hijau. Sekarang orang telah meletakkan kaca mata di depan mata orang-orang untuk mengecoh mereka, dan orang berpikir bahwa mereka telah sampai di puncak peradaban. Itu adalah kebohongan dan tipu muslihat terbesar, jebakan terbesar bagi ummat manusia. Dan sekarang orang-orang berkata, “Sahabat terbaik kita adalah Setan,” dan mereka berusaha untuk melakukan apa saja atas namanya. Dan semua pekerjaan di bumi sekarang ini adalah atas namanya, semua pekerjaan di bumi atas nama peradaban adalah pekerjaan setani, perbuatan setani. Sejak awal, mulai dari Nabi Adam , Allah telah mengirimkan orang-orang mulia dari langit, para Awliya, Nabi dan Rasul untuk mengingatkan orang, memberi peringatan akan bahaya Setan; tetapi orang tidak pernah peduli terhadap peringatan dari Allah ini dan mereka berkata, “Kami tidak mau mendengarkan seruan ini. Boss kami adalah yang terbaik dan ajarannya adalah yang terbaik bagi ummat manusia.”

Dan sekarang mereka telah mencapai suatu titik di mana bila mereka mendapat suatu kesempatan untuk membuat sebuah ledakan, mereka akan membakar seluruh dunia. Dan mereka sekarang tengah gemetar—bangsa-bangsa gemetar, orang-orang gemetar. Mereka tidak dapat tidur dengan tenang, habis! Karena akhir sudah mendekat dengan cepat—dan berakhir dalam Armageddon. Seluruh usaha Setan adalah untuk memecah belah seluruh dunia dalam dua pihak dan memulai suatu pertempuran hebat di antara mereka dan untuk menghancurkan ummat manusia dan segala yang telah mereka bangun dalam ribuan tahun. Dan sekarang seluruh dunia berlari dengan kecepatan tinggi menuju titik tersebut. Ajaran setan dan pekerjaannya—untuk ummat manusia agar jatuh ke dalam Neraka di sini (dunia) dan di hari kemudian.

Oleh sebab itu kita mulai dengan membaca, A’uudzu bi-llahi minasy-syaythan-ir-rajiim. Itu adalah perintah dari Allah . Dalam segala pekerjaan kalian harus mengucapkan, A’uudzu bi-llahi minasy-syaythan-ir-rajiim, artinya “Ya Tuhanku, Aku berlindung dari segala pekerjaan setan, ajaran setan dan perbuatannya. Aku berpaling kepada-Mu, berikanlah perlindungan-Mu!” Oleh sebab itu, sekarang minimal kalian harus mengucapkannya 40 kali dalam sehari, “Ya Tuhanku, naungilah kami, lindungilah kami, dan sembunyikanlah diri kami dari Setan dan pekerjaan setani dan dari orang-orang yang menjadi wakil setan di bumi.”

Dalam beberapa hari yang akan datang—Saya tidak tahu apa yang akan terjadi minggu depan—tetapi dia akan menggilas segala yang ada di bumi. Sebuah perang yang besar! Orang-orang berkata, “Oh Syaikh apakah perang akan terjadi?” Mereka tidak pernah berpikir. Mereka pikir (perang) itu akan seperti sebelumnya, sejak perang dunia kedua sampai sekarang; kadang-kadang api berkobar di Timur Jauh, kadang-kadang ada api di Barat Jauh, kadang di Eropa, kadang di Timur Tengah, kadang di Barat, kadang di Timur (terjadi perang kecil, perang lokal). Dan mereka pikir itu tidak akan mempengaruhi negara lain—api itu akan dipadamkan di tempatnya. Mereka pikir bahwa perang itu, yang sebentar lagi akan muncul—di akhir tahun Hijriah dalam kalender Muslim—akan berakhir di bulan Dzul Hijjah dan kemudian datang tahun baru menurut kalender Muslim, 1424.

Setelah dua puluh empat hari, datanglah bulan Muharram. Allah tahu apa yang akan terjadi. Mengerikan! Tetapi orang-orang berkata, “Tidak ada apa-apa, kita bisa bepergian, kita bisa datang dan pergi, kita dapat mendirikan perusahaan, gedung-gedung, pabrik-pabrik, mengerjakan ini itu… Untuk memperbaiki krisis ekonomi ini—kita harus memikirkan hal-hal tersebut.” Orang-orang telah kehilangan akal mereka. Setan telah mengalihkan perhatian mereka dari fokus utama. Orang-orang, misalnya di sini, di Siprus-–siang dan malam mereka hanya berpikir untuk rencana Annan (sekjen PBB), tidak ada lagi yang lain! Turki hanya memikirkan tentang apa yang akan terjadi pasca perang, krisis ekonomi di Turki telah berakhir. Dan mereka berkata, “Apa yang akan terjadi pada perekonomian kita pasca perang?” Mereka tidak pernah bertanya apakah mereka masih berada di sana atau tidak, hidup atau tidak? Mereka hanya berpikir, “Apa yang akan kita lakukan untuk ekonomi kita?!”

Itu tidak penting! Segala yang kalian lakukan saat ini adalah menurut aturan setan. Kalian tidak peduli dengan aturan dari langit yang mengangkat derajat manusia dari tingkat terendah, Asfala-Safiliin, ke tingkat tertinggi. Kalian tidak tertarik (dengan aturan langit), melainkan hanya tertarik pada ekonomi. Orang-orang hanya menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang tidak penting. Segala yang mereka lakukan adalah menurut aturan setan. Tidak ada lagi aturan langit di bumi ini. Mereka akan berakhir! Dunia ini harus diubah! Orang-orang yang tinggal harus diubah. Segala yang mereka bangun di atas kebohongan mungkin akan dihancurkan dan disingkirkan. Mustahil! Habis!…Musnah!

Setelah satu minggu, operasi ini akan dimulai—itu akan menjadi operasi terbesar, seperti operasi di masa Nabi Nuh. Operasi di masa Nabi Nuh u adalah untuk menyingkirkan semua kebohongan dan para pelakunya. Banjir Nabi Nuh u. Dan sekarang banjir api mencapai segala penjuru dan memusnahkan segala apa yang mereka miliki. Orang-orang tidak mempedulikan aturan Ilahi di bumi. Oleh sebab itu, mereka harus diperingatkan. Kita mengucapkan, “A’uudzu bi-llahi minasy-syaythan-ir-rajiim.” Memanggil Allah. “Datanglah dan Aku akan memberi perlindungan.” Ucapkan, Bismillah-ir-Rahmaan-ir-Rahiim!” Aturan-Ku untuk manusia, aturan pertama: Apapun pekerjaan yang akan kalian lakukan, kalian harus mengagungkan Nama-Ku dan mengucapkan, Bismillah-ir-Rahman-ir-Rahim.” Ini artinya, “Wahai Tuhanku, kami hidup untuk-Mu, kami bekerja untuk-Mu, kami mati untuk-Mu, kami hanya mengharapkan ridha-Mu, bukan untuk kesenangan kami, bukan! Hanya untuk ridha-Mu” Kalau mereka tidak mengucapkan nya, mereka akan mati. Orang-orang yang mengucapkannya akan diselamatkan, yang lainnya akan tewas.

Saya tidak tahu, (apakah) setelah satu minggu, operasi terbesar untuk menyingkirkan kebohongan di muka bumi akan dimulai—untuk membawa Hukum Ilahi di muka bumi dan menerapkannya. Operasi pertama untuk membersihkan dunia ini dari segala kebatilan, kebohongan, dan setelah itu dengan perintah Ilahi, akan ada sebuah operasi baru. Pertama membersihkan dunia, kemudian membangun kembali seluruh dunia bagi mereka yang hidup untuk Allah.

Siapa yang hidup untuk Setan akan tewas dan disingkirkan dalam operasi pertama Armageddon. Kemudian muncul orang-orang yang akan hidup untuk Allah. Mereka adalah para kalifah, wakil-wakil Allah di bumi dan bumi akan disandangkan dengan cahaya surgawi, seperti halnya sekarang dunia tengah menyandang kegelapan dan kotoran hasil operasi dan perbuatan setani. Setiap hari dan di mana-mana berlangsung operasi setani. TV tidak mampu menyiarkan semua operasi setani yang terjadi di Timur dan Barat—tidak cukup! Jika kalian duduk selama 24 jam, kalian tidak akan sanggup untuk menghitung seluruh operasi setani yang terjadi melawan kemanusiaan di muka bumi.

Mereka harus disingkirkan! Allah melindungi Ummat-i-Muhammadi saw dan siapa yang berada dalam Ummat yang memohon untuk hidup bersama Sayyidina Muhammad saw, hidup untuk Allah mereka akan dilindungi dan dinaungi. Tetapi yang lain, yang mengejar negri-negri Barat dan kebohongan mereka, akan disingkirkan lewat operasi yang lain—oleh mereka sendiri, beberapa di antara mereka oleh yang lain, dan semuanya akan musnah.

Wahai manusia! Mintalah kepada Allah dari nikmat-Nya yang tak hingga untuk menyelamatkan kita dari operasi pembersihan yang akan terjadi di muka bumi dan untuk berada di jalan Allah dan orang yang paling dicintai-Nya, orang yang paling mulia (Rasulullah ) dan hidup hanya untuk menyembah-Nya! Tidak ada lagi pelayanan selain pelayanan kepada Tuhan di Langit, yang dapat memberi keselamatan dan kemenangan kepada hamba-hamba-Nya. Semoga Allah memberkati kalian dan mengampuni Saya demi kemuliaan orang yang paling mulia Rasulullah.

Orang-orang berpikir bahwa (perang) itu adalah gurauan dari Bush dengan PM Inggris, Tony Blair. Mereka menyumpahi Blair dan Bush. Di mana-mana orang-orang bersumpah serapah. Mereka pikir itu terserah pada Bush atau Blair atau orang lain. Tidak, Allah ingin membersihkan dunia ini dari kotoran dan segala hal yang berdasarkan kotoran tersebut. Kalian hanya melihat kotoran di mana-mana—kalian tidak dapat menemukan sesuatu yang bersih, habis! Allah menjadikan perang itu terjadi di Timur Tengah sebab Timur Tengah adalah daerah di mana wahyu diturunkan, semua Nabi berasal dari--tanah yang suci—dari daerah itu! Siapa yang dapat mengendalikan daerah itu, dia dapat mengendalikan segala penjuru di bumi. Oleh sebab itu, ada kekuatan yang sangat besar yang datang, dan orang tidak berpikir! Jika itu hanya sebuah operasi kecil, mengapa Allah letakkan dalam hati mereka untuk mengirim kekuatan militer yang sangat besar ke Iraq?

Orang berpikir bahwa target utamanya adalah Iraq atau minyak mereka. Itu omong kosong, karena jika target utamanya adalah minyak, Amerika bisa saja membayar dan membawa semua minyak. Tidak perlu perang, karena tak satu pun yang dapat mencegah penjualan minyak ke Amerika—itu sangat terbuka. Tetapi orang tidak pernah berpikir tentang hal itu! Ada juga jebakan Setan yang mengatakan satu hal kecil, tidak mungkin! Apa yang menjadi cadangan minyaknya? Untuk apa negara adikuasa ini berperang? Kekuatan mereka terlalu besar untuk Iraq. Tetapi di luar itu, ada sesuatu yang ingin dilakukan oleh Allah, sehingga akhirnya seluruh bangsa dapat mengerti alasan operasi yang besar ini, yang sebelumnya tidak pernah terjadi dan tidak akan terjadi lagi sesudahnya. Habis! Tidak ada lagi perang yang serupa dengan perang ini. Armageddon. Itulah artinya.

Amerika mengirim armada lautnya ke Timur Tengah. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, warga Amerika yang tinggal di sana telah diberi identitas. Mereka tinggal telepon dan helikopter akan datang menjemput dan mengeluarkan mereka dari tempat itu, pertama ke armada lautnya dan kemudian dipulangkan dengan kapal. Tetapi ini adalah pengaturan yang dibuat manusia untuk menyelamatkan warganya. Jika mereka dapat melakukan hal ini, apakah Allah tidak dapat melakukannya? Dalam perang ini, siapa pun yang mempunyai ‘kartu identitas’ dengan tulisan, ‘Orang ini milik Allah I’, akan diselamatkan. Setan adalah api. Siapa pun yang cocok dengan identitas setani—api—mereka akan dilemparkan ke dalam api bersama Setan. Oleh sebab itu, jangan khawatir! Jika kalian hidup untuk Allah dan kalian mempunyai kartu identitas-Nya, maka kalian akan selamat. Atau (jika tidak)—di mana kalian akan sembunyi? Mereka berkata, “Saddam telah mempersiapkan 10 orang yang mirip dengannya,” mustahil dia dapat melarikan diri!

Selama operasi pertama—banjir Nabi Nuh orang-orang berkata, “Kita dapat melarikan diri dari banjir dan menyelamatkan diri.” Tetapi Allah berfirman, “Tidak ada perlindungan pada hari ini, jika Aku tidak melindungi. Tak seorang pun yang dapat melindungi dirinya dari banjir!” dan putra Nabi Nuh berkata, “Aku akan naik ke gunung tertinggi di mana air tidak akan sampai ke sana!” Dan Allah membuat puncak gunung itu terendam 70 meter di bawah air! 70 meter air berada di atas puncak gunung itu! Orang lainnya berkata, “Aku akan membuat sebuah kotak gelas dan bersembunyi di dalamnya agar selamat.” Dan ketika orang itu berada di dalamnya, Allah membuatnya mengeluarkan urin terus-menerus—begitu banyak sehingga dia tenggelam dalam urinnya sendiri.

Allah ! Jangan berperang melawan Allah , Wahai manusia! Tetapi orang-orang tidak pernah mau mendengar. Taubat Ya Rabbi, Astaghfirullah! Fatiha.

posted by Mevlana as Sufi at 7:33 AM 0 comments

Dzikir Jama’ah
Dzikir yang dilakukan dalam kelompok (Jama'ah)
(dari halaman 163, Haqa'iq at-Tasawwuf, Syaikh 'Abdul Qadir 'Isa )

Amal ibadah yang dilaksanakan dalam suatu jama'ah (berkelompok), termasuk dzikrullah, adalah lebih mulia daripada amal ibadah yang dilakukan sendiri. Kalbu-kalbu bertemu dalam jamaah, dan dalam jama'ah itu, orang-orang menemukan saling tolong dan keharmonisan. Yang lemah dapat mengambil sesuatu dari yang kuat, yang berada dalam kegelapan memperoleh sesuatu dari yang berada dalam cahaya, yang lalai dari yang berilmu, dan seterusnya.

Abu Hurayrah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, "Allah swt memiliki malaikat yang menyusuri jalan besar maupun jalan kecil mencari kumpulan-kumpulan dzikir di bumi. Saat mereka menemukan suatu kelompok dzikir, mereka menaunginya dengan sayap-sayap mereka yang terentang hingga ke langit. Allah bertanya pada mereka, "Dari mana kalian datang?" Mereka menjawab, "Kami telah datang dari hamba-hamba-MU yang mensucikan-Mu, memuji-Mu, menyatakan keesaan-Mu, memohon-Mu dan mencari perlindungan dengan-Mu," Allah berkata, dan Ia jauh lebih tahu dari mereka, "Apa yang mereka pinta dari-Ku?" Mereka menjawab, "Mereka meminta dari-Mu Surga." Ia berkata, "Apakah mereka pernah melihatnya?" Malaikat menjawab, "Belum, wahai Tuhan kami." Ia berkata, "Bagaimana seandainya mereka pernah melihatnya?" Kemudian Ia bertanya, dan Ia lebih tahu daripada mereka, "Dari apa mereka meminta perlindungan?" "Dari Neraka," Malaikat menjawab.

Allah bertanya, "Sudahkah mereka melihatnya?" "Belum," Malaikat menjawab. Kemudian Allah berkata, "Bagaimana seandainya mereka pernah melihatnya?" Kemudian Allah berkata, "Aku bersaksi pada kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka, Aku telah berikan pada mereka apa yang mereka minta pada-Ku, dan Aku telah berikan pula pada mereka perlindungan yang mereka minta dari-Ku." Malaikat berkata, "Wahai Tuhan kami, di antara mereka ada seorang zalim yang kebetulan duduk bersama mereka, tapi tidak termasuk dalam golongan mereka." Allah berkata, "Aku pun telah mengampuninya. Orang yang duduk dengan orang-orang dzikir ini tidak akan disiksa." [Muslim, at-Tirmidzi, al-Hakim].

Abu Hurairah meriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri bahwa Rasulullah bersabda, "Tak ada sekelompok orang yang mengingat Allah, melainkan malaikat mengelilingi mereka, rahmat menaungi mereka, dan ketenangan turun atas mereka, dan Allah menyebut mereka pada majelis yang bersama-Nya." [Muslim, at-Tirmidzi]. Mu'awiyah meriwayatkan bahwa Nabi saw, pergi ke suatu lingkaran perkumpulan Sahabat-sahabat beliau, dan bertanya, "Apa yang telah menyebabkan kalian duduk bersama?" Mereka menjawab, "Kami duduk untuk mengingat Allah dan memuji-Nya." Beliau bersabda, "Jibril as telah datang padaku dan melaporkan padaku bahwa para Malaikat sedang membangga-banggakan kalian." [Muslim, at-Tirmidzi].

Anas ra meriwayatkan bahwa Rasululllah saw bersabda, "Allah swt memiliki malaikat yang bergerak untuk mencari majlis-majlis dzikir. Saat malaikat menemui mereka, malaikat akan mengelilingi mereka." [Al-Bazzar]. Anas juga meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, "Jika kalian mendatangi padang rumput Surga, merumputlah di sana." Beliau ditanya, "Apa itu padang rumput Surga?" "Majelis Dzikir," beliau menjawab. [at-Tirmidzi]. Ulama Ibn 'Allan, pengomentar al-Adzkar An-Nawawi (kitab tentang Dzikir karangan Imam Nawawi-red), berkata bahwa hadits ini bermakna, "Jika kalian melewati suatu kelompok yang mengingat Allah , lakukan dzikir yang mereka lakukan atau dengarlah dzikir mereka. Mereka sedang berada di padang rumput-padang rumput Surga saat ini atau nanti. Allah berfirman, 'Dan bagi siapa yang takut akan Maqam Tuhannya, ada dua Surga.' (55:46)" [al-Futuhat ar-Rabbaniyya 'ala'l-Adhkar an-Nawawiyya]

Dalam komentarnya, Ibn 'Abidin berkata tentang dzikrullah dalam kelompok, "Imam al-Ghazali membandingkan antara berdzikir sendiri dengan dzikir dalam kelompok sebagaimana adzan dari seseorang sendirian dengan adzan dari suatu kelompok orang. Ia berkata, 'Sebagaimana suara dari sekelompok muadzdzin akan menjangkau lebih jauh daripada suara seorang muadzdzin tunggal, demikian pula dzikir dalam suatu kelompok memiliki efek lebih besar dalam menjangkau hati seseorang, dalam menyingkapkan hijab tebalnya, daripada dzikir oleh satu orang."

Dalam Hashiyyah-nya, at-Tahtawi berkata, "Asy-Sya'rawi menyatakan bahwa ulama baik salaf maupun khalaf, bersepakat bahwa dianjurkan untuk berdzikir pada Allah dalam suatu kelompok di masjid-masjid atau di mana pun tanpa ada keberatan atasnya, kecuali jika dzikir mereka mengganggu seseorang yang tidur, shalat, atau membaca Quran; sebagaimana hal ini telah dikonfirmasikan dalam kitab-kitab Fiqih."

Wa min Allah at taufiq
posted by Mevlana as Sufi at 7:33 AM 0 comments

Eid Mubarak.
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani k
Siprus, 11 Februari 2003. Guezelyurt, Kurban Bayram (Iedul Adha)
www.the-heart.net



Sudah menjadi kebiasaan untuk menyembelih hewan (kurban) di hari raya Bayram (Ied) dan membagikan dagingnya menjadi 3 bagian, yaitu: untuk keluarga, fakir miskin yang tidak datang ke rumah kalian, dan fakir miskin yang mendatangi rumah ke rumah berikutnya, mereka mengumpulkan (daging tersebut). Barangsiapa yang tidak menyembelih (hewan kurban) dengan benar, menyakiti hewan dengan cara yang tidak perlu, daging hewan itu menjadi makruh baginya. Darah akan keluar, sehingga daging itu menjadi putih dan bersih, karena darah adalah kotor. Berikan air kepada hewan itu sebelum disembelih.

Destur, ya Sayyidi, ya Sulthan-ul-Awliya. Ya Rabbi! Ya Tuhan kami! Kita ucapkan, Hanya Engkau yang memberi karunia kepada kami, Bismillahi-r-Rahmani-r-Rahim.” Sekarang Saya akan berbicara, karena mereka minta saya untuk bicara—dalam bahasa Inggris, … pagi hari, saat shalat Ied, kami berbicara dalam bahasa Turki, dan sekarang merupakan hak bagi saudara-saudara kita yang datang dari berbagai negara, (agar saya) berbicara mengenai suatu hal yang akan bermanfaat bagi mereka dan sekaligus untuk menghormati mereka.

Tak ada yang berbicara mengenai hal ini. Pakaian kemuliaan adalah milik orang yang menanggung tanggung jawab besar bagi Ummat. Kita dapat mengatakan bahwa orang yang paling mulia, dengan pakaian kemuliaan, adalah seorang Sultan. Sultan memiliki pakaian kemuliaan, dan tak ada orang lain yang mampu memakai pakaian Sultan. Tidak bisa! Lalu muncul bermacam-macam pakaian kemuliaan yang lain, menurut kepentingan seseorang. Orang yang paling dekat dengan Sultan juga diberikan pakaian kemuliaan, karena mereka adalah milik Sultan dan berada dalam pelayanan mulianya. Oleh sebab itu orang-orang berjuang untuk mendapatkan pakaian kemuliaan dari Sultan.

Kita sekarang hidup pada masa di mana Setan memakai pakaian yang sama, sehingga mustahil bagi kita untuk membedakan orang lewat pakaian kebesaran mereka—beberapa orang tinggi dan byang lainnya lebih rendah. Mereka semua sama. Sejenis protokol berlaku di lingkungan Kerajaan dan Kesultanan. Posisi terhormat hanya dimiliki oleh orang-orang yang terhormat di Kerajaan, karena itu adalah berdasarkan pelayanan mereka atau pada pentingnya keberadaan mereka dan posisi yang tinggi menuntut tanggung jawab yang tinggi dan berat. Kemuliaan itu dan pakaian kemuliaan itu diberikan kepada mereka tanpa melalui pemilihan, bukan! Pemilihan bisa mendatangkan seseorang dari pasar ke gedung parlemen untuk menjadi mentri atau perdana mentri. Mereka bisa membawa seorang pengembala dari lembah dan menjadikannya sebagai presiden. Dan menurut sistem mereka--sistem pemilu—seorang petani bisa dijadikan seorang mentri pertanian. Dan sistem itu--yang membuat orang-orang senang--adalah tipu muslihat terbesar. Itu merupakan ajaran setan! Untuk membuat segala sesuatunya menyimpang dan menyesatkan semuanya!

Hanya di angkatan bersenjata, mereka tidak menggunakan (pemilihan itu). Angkatan bersenjata dan dinas militer tidak pernah menerima pemilihan di kalangan militer, tetapi hanya di kalangan orang biasa. Jika ini tidak baik untuk militer, apakah kemudian kalian pikir pemilihan ini baik untuk sebuah negara, untuk rakyat? Mereka keberatan dengannya (di angkatan bersenjata) karena seorang tentara, orang yang biasa, tidak mampu menjadi seorang pemimpin angkatan bersenjata melalui pemilihan, karena dia tidak mengetahui apa-apa. Itu adalah benar. Mengapa kalian tidak menggunakan (prinsip ini) untuk negara? Mengapa kalian menggunakan pemilu? Mengapa kalian membiarkan orang untuk memilih beberapa orang dari pasar, dari pertanian, dari gunung, dari kampung, dari pabrik, dari rumah sakit, atau dari kawasan industri? Mengapa kalian memilih orang-orang itu dan membawa mereka untuk membangun pemerintahan? Mengapa? Sistem ini tidak benar untuk angkatan bersenjata, lalu bagaimana dengan pelayanan masyarakat? Mengapa kalian tidak menggunakan sistem yang sama dengan yang digunakan dalam angkatan bersenjata? Tidak ada demokrasi dalam angkatan bersenjata, tidak ada pemilu, mengapa? Akibat sistem ini, terjadilah korupsi di mana-mana! Itulah sebabnya Rasulullah e bersabda, memperingatkan kita 15 abad yang lalu, “Wahai manusia, bila urusan (tanggung jawab) kalian tidak diserahkan kepada ahlinya, bila kalian menyerahkan tanggung jawab kepada orang yang tidak cocok untuk mengemban tanggung jawab itu, maka kalian akan menjumpai Qiyamat.” Lalu seluruh dunia akan berakhir, kemudian tibalah hari kiamat.

Hidup di abad ke-21, kita sekarang berada dalam situasi demikian. Di mana-mana orang berpacu untuk pemilu. Untuk apa pemilu?! Makin banyak janji yang diumbar kepada masyarakat—janji-janji yang tidak pernah dipenuhi, hanya membawa lebih banyak masalah.
posted by Mevlana as Sufi at 7:33 AM 0 comments

Dua Jenis Ilmu Pengetahuan
Dua Jenis Ilmu Pengetahuan
Maulana Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani
dalam buku Mercy Oceans: Secrets of the Heart


“Ati’ullaha wa ati’ur rasula wa ulil amri minkum” (An-Nisa’ 59). Kita harus mematuhi Allah swt, kita harus patuh kepada Rasulullah saw , dan kita harus mematuhi para pemimpin kita. Hal ini harus kita pegang dalam melakukan apa yang mereka katakan pada kita dan dalam mengikuti jalan yang telah ditunjukkan kepada kita. Kita yakin bahwa kita membutuhkan bimbingan untuk menunjukkan jalan kita—bukan berarti kita tidak membutuhkannya, seperti yang dikatakan oleh sekelompok orang dewasa ini. Sebagaimana Allah memberikan seorang pemandu kepada Rasulullah pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj, dalam wujud malaikat Jibril as. Sebagaimana Jibril adalah pemandu bagi Rasulullah untuk mendekati Hadirat Ilahi, kita juga membutuhkan pemandu untuk menunjukkan jalan menuju Rasulullah, dan kemudian Rasulullah akan menunjukkan jalan bagi kita untuk mendekati Allah swt.

Kita tidak peduli terhadap apa yang mungkin dikatakan orang lain, dalam pengajaran ini kita bersifat terbuka, kita mengikuti apa yang diberikan oleh Maulana Syaikh Nazhim , yaitu beberapa harta Sufi yang sangat berharga berupa pengetahuan internal dan spiritual. Kita tidak akan menunggu untuk melihat apakah seseorang menerima atau keberatan. Kita telah menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari syariat, sedangkan yang ini adalah sebagian ajaran dari haqiqat—realitas. Untuk kesekian kalinya Saya ulangi bahwa realitas tanpa syariat tidak dapat dibenarkan. Kita harus melaksanakan syariat secara ketat dalam segala sikap dan tingkah laku kita. Syariat akan mengajarkan disiplin bagi tubuh kita sedangkan spiritualitas akan mengajarkan disiplin bagi jiwa kita. Insya Allah sekarang kita akan melanjutkan pembicaraan yang terhenti pada pertemuan minggu lalu.

Insya Allah, Allah swt tidak akan meninggalkan kita seperti ketika Dia meninggalkan Nabi Musa as di gurun Sinai selama 40 tahun. Allah menjanjikan Nabi Musa untuk menghancurkan Fir’aun, namun selama 40 tahun Dia meninggalkannya di gurun dan setiap malam hanya berkata, “besok, besok.” Esok hari pun tiba, namun tidak ada kejadian apa-apa. Allah melihat hamba-Nya dengan Nama ash-Shabur, “Yang Maha Penyabar”. Dia tidak melihat hamba-Nya dengan Nama al-Jabbar, “Yang Maha Memaksa.” Dia melihat kita dengan Nama-Nya yang penuh rahmat, “ar-Rahmaan”, “ar-Rahiim” dan dengan atribut kesabaran. Itulah sebabnya Dia juga sabar dalam menghadapi Fir’aun. Maulana Syaikh Nazhim k berkata bahwa Allah menciptakan semua makhluk karena Dia mencintainya. Jika Dia mencintai setiap orang, Dia ingin setiap orang percaya kepada-Nya. Itulah sebabnya mengapa Dia bersabar dan bersabar terus hingga saat terakhir. Mungkin saja kita akan ingat dan memohon ampun, lalu masuk ke dalam Surga-Nya.

Itulah sebabnya Allah menciptakan para Awliya. Setelah Rasulullah saw, tidak ada lagi Rasul yang lain. Beliau adalah Rasul terakhir. Tetapi Allah memberikan rahasia yang ditanamkan ke dalam hati beliau kepada para Sahabatnya, dan para Sahabat memberikannya kepada para Awliya. Dan menurut guru kita dunia tidak akan kekurangan seorang Wali pun. Jika salah satu Wali meninggal dengan segera dia digantikan dengan yang lain. Di dunia ini terdapat 124.000 Wali yang masih hidup, sebagaimana terdapat 124.000 Nabi dan Rasul dan 124.000 Sahabat. Para Awliya ini diberikan sebagai hadiah kepada Rasulullah untuk membersihkan kita dari dosa. Salah satu Wali ini adalah Sayyidina Syah Naqsyband. Kisah singkat berikut ini akan menolong kita untuk memahami siapa Wali ini.

Setelah Rasulullah , Thariqat Naqsybandi dipercayakan kepada Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra, kemudian diteruskan kepada Sayyidina Salman al-Farisi ra, Sayyidina Qasim ra putra dari Sayyidina Abu Bakar , lalu kepada Sayyidina Ja’far ash-Shadiq ra putra dari Sayyidina Husain , dan selanjutnya kepada Sayyidina Abu Yazid al-Bistami. Beliau adalah orang yang kelima dan hidup 400 tahun sebelum Sayyidina Syah Naqsyband .

Ketika Sayyidina Abu Yazid mengetuk pintu, memohon izin untuk memasuki Hadirat Ilahi, Allah berkata kepadanya, “Wahai Abu Yazid, engkau tidak bisa memasuki Hadirat Ilahi-Ku tanpa mengetahui bagaimana cara mendekati-Ku.” Abu Yazid memohon, “Ya Tuhanku, ajarilah Aku cara mendekati-Mu.” Allah berkata, “Bersikaplah rendah hati, jadilah tempat sampah bagi hamba-hamba-Ku dan bagi seluruh ummat manusia.” Sayyidina Abu Yazid membuat dirinya begitu rendah hati sehingga seolah-olah beliau menjadi tempat sampah bagi semua orang. Para ulama di masanya memutuskan untuk membunuhnya. Pada saat itu beliau meninggalkan desanya dan pergi ke tepi laut, di sana beliau menemukan sebuah kapal yang akan berangkat ke negri lain. Beliau menaiki kapal itu dan kemudian kapal itu berangkat meninggalkan pantai. Di tengah laut tiba-tiba timbul badai yang sangat ganas yang merobohkan kapal dan menenggelamkannya. Abu Yazid k berdoa kepada Tuhannya, “Ya Allah, jika Engkau membuat kapal ini tenggelam karena dosa-dosaku, Aku siap untuk dilemparkan ke dalam laut.” Sekonyong-konyong beliau melemparkan dirinya ke dalam laut dan seketika itu laut menjadi tenang.

Sayyidina Abu Yazid k mengorbankan dirinya agar orang-orang tetap hidup, beliau membawa dosa-dosa mereka bersamanya dan menyingkirkan hukuman mereka. Ketika Abu Yazid k berada dalam laut, beliau bersumpah bahwa beliau tidak akan muncul ke permukaan lagi sebelum menemukan kebenaran dan realitas, dan beliau memutuskan untuk pergi sebagaimana dalam al-Qur’an disebutkan, pergi ke “bumi ke tujuh” (ath-Thalaaq : 12) untuk menemukan realitas dan membawanya kepada ummat manusia. Beliau menembus kedalaman air dengan kecepatan yang tidak bisa dibayangkan, menembus kegelapan yang satu menuju kegelapan yang lain. Beliau memasuki samudra pengetahuan yang satu menuju samudra pengetahuan yang lain mengenai seluruh alam semesata ini. Akhirnya beliau mencapai suatu tempat di mana beliau mendengar suara yang bunyinya seperti “HUUU…” seperti ketika orang meletakkan kerang laut atau benda lain di telinga mereka. Itu adalah bunyi sungai Khawtsar di Surga, gerakan atau aliran air yang dapat kita dengar di telinga kita.

Sayyidina Abu Yazid tiba di suatu tempat di mana beliau dapat mendengar suara itu. Beliau merasa heran dan ingin tahu siapa yang mengeluarkan suara itu. Maulana berkata, bahwa Sayyidina Abu Yazid, dengan kekuatan dan cahaya yang telah diberikan Allah ke dalam hatinya, dapat mengetahui dan mengucapkan nama-nama seluruh ummat manusia yang telah diciptakan Allah di muka bumi ini, lengkap dengan nama ayah dan ibunya tanpa kehilangan satu nama pun, mulai dari Nabi Adam as sampai Hari Kiamat, hanya dalam waktu kurang dari lima menit. Pada saat itu beliau menggunakan kekuatan ini untuk mengetahui berapa orang yang mengeluarkan bunyi tadi di tempat itu.

Nama “Hu” adalah Samudra bagi hal-hal yang ghaib. Allah berfirman dalam al-Qur’an, “Qul HUwallaahu ahad,” “Katakanlah, HU (=Dia) adalah Allah, Yang Maha Esa” (al-Ikhlash: 1). Oleh sebab itu HU merujuk kepada Allah, dan ini berada dalam ‘ilmul ghayb, pengetahuan tentang hal-hal yang ghaib yang tidak diketahui oleh orang-orang. Tak seorang pun yang dapat mengetahui seperti apa samudra ini dan bagaimana maknanya. Maulana berkata bahwa Sayyidina Bayazid menggunakan seluruh kekuatan yang telah diberikan oleh Allah untuk mengetahui berapa orang yang mengeluarkan suara itu, tidak hanya dalam lima menit tetapi selama 70 hari dan beliau tetap belum bisa mengetahui berapa jumlah orang yang berada di sana menghasilkan bunyi “Huu.” Kemudian beliau mengerahkan kekuatannya lagi, berusaha untuk mengetahui siapa yang mengajarkan mereka, dan akhirnya beliau mengetahui bahwa orang itu adalah Syah Naqsyband .

Sayyidina Bayazid mengetahui bahwa Wali itu akan muncul setelah beliau, melewati 10 orang Wali setelahnya, 500 tahun kemudian. Ruhnyalah yang mengajarkan ruh orang-orang ditempat itu. Maulana Syaikh Nazhim berkata bahwa orang-orang itu berasal dari dunia ini dan juga planet lain yang menjadi pengikut Thariqat Naqsybandi. Jangan dikira hanya kita saja, yang hidup di planet ini yang menjadi pengikut Thariqat Naqsybandi. Sayyidina Syah Naqsyband juga bertanggung jawab atas planet lain dan beliau mengajarkan mereka.

Ketika Abu Yazid al-Bistami mengetahui bahwa Syah Naqsyband adalah guru mereka, dalam hatinya beliau merasa ngeri jangan-jangan Syah Naqsyband akan berkata, Mengapa engkau mengganggu murid-muridku? Mengapa engkau memasuki daerah yang bukan diperuntukkan untukmu?” Dengan segera beliau menjauh dari samudra itu, samudra Syah Naqsyband k, pemimpin thariqat yang kita ikuti sekarang, insya Allah. Sayyidina Syah Naqsyband k adalah guru kita dan beliau telah dianugerahkan suatu rahasia yang besar dalam hatinya, beliau telah meneruskan rahasia itu kepada para penerusnya hingga sekarang kepada Syaikh kita, Syaikh Muhammad Nazhim al-Haqqani. Dari rahasia itulah asal cerita mengenai Syah Naqsyband ini.

Ketika Allah memberikan kekuatan itu kepada Syah Naqsyband k dan berkata kepadanya bahwa beliau akan menjadi pembantu Rasulullah saw untuk membantu manusia bertaubat atas dosa-dosanya, beliau menanyakan satu hal kepada Rasulullah. Beliau berkata, Wahai Rasulku yang tercinta, jika engkau menghendaki aku menjadi pembantumu, Aku membutuhkan satu hal darimu. Aku harus memegang tanggung jawab atas malaikat-malaikat di pundak kanan dan di pundak kiri. Jika engkau memberiku tanggung jawab itu, maka Aku akan menerima tugas itu.” Setelah Rasulullah bertanya kepada Allah dan mendapat izin bagi Syah Naqsyband k, maka Syah Naqsyband k menerima untuk bertanggung jawab atas ummat ini.

Maulana berkata bahwa, setiap kali seseorang berbuat dosa, Syah Naqsyband k berusaha untuk mengirim inspirasi ke dalam hati orang itu agar memohon ampun kepada Allah . Jika orang itu tidak memohon ampun dalam 24 jam, sebelum waktu Subuh, Syah Naqsyband akan memohon ampun atas nama orang itu, dan balasannya akan dituliskan di pundak orang itu. Malam ini adalah malam Isra’ dan Mi’raj, malam di mana Rasulullah saw menghadap ke Hadirat Ilahi. Ketika Rasulullah memasuki Surga ketujuh, Sayyidina Jibril berkata kepadanya, “Ya Rasulullah , Aku tidak bisa melanjutkan perjalanan bersamamu. Ini adalah batasku. Jika Aku memaksa masuk, Aku akan musnah terbakar.” Rasulullah berjalan sendiri menuju ke Hadirat Ilahi. Setelah tempat itu, apa pun yang diperoleh oleh Rasulullah , Jibril tidak mengetahuinya.

Jika malaikat Jibril tidak sanggup mengetahui apa yang diperoleh oleh Rasulullah saw dari Tuhannya, bagaimana dia bisa menyampaikan al-Qur’an kepada Rasulullah saw. Jibril as berdiri di tempatnya dan tidak sanggup untuk meneruskan perjalanannya. Jibril berkata kepada Rasulullah, “Engkau saja yang melanjutkan perjalanan ke Hadirat Tuhan kita.” Setelah itu Rasulullah sendiri yang melanjutkan perjalanannya Apa yang beliau dapatkan adalah pengetahuan dari tingkat Jibril sampai kepada tingkat Allah , Maulana Syaikh berkata bahwa Rasulullah telah bergerak maju 5 kali 500.000 tahun—dalam mendekati Tuhannya dengan menembus lima lapisan, yang masing-masing berjarak 500.000 tahun, dan tahun Tuhan tidak sama dengan perhitungan tahun kita.

Hikmah dan pengetahuan apa yang diperoleh oleh Rasulullah di sana? Hal ini tidak ada yang mengetahuinya. Pengetahuan ini diperuntukkan khusus bagi Rasulullah e dan beliau akan menjaganya hingga suatu waktu di mana semua orang telah masuk ke dalam Surga. Kita tidak peduli terhadap orang yang mungkin akan berkata “ya” atau tidak”, kenyataannya Rasulullah telah memberikan pengetahuan di atas tingkat Jibril u yang telah diperolehnya kepada para Wali, dan beliau juga telah memberikan pengetahuan yang diperolehnya di bawah tingkat Jibril kepada syariat. Ini adalah perbedaan antara syariat atau hukum dengan haqiqat atau realitas. Itulah makna dari hadits yang disampaikan oleh Sayyidina Abu Huraira ra mengenai dua jenis pengetahuan, Rasulullah saw telah memasukkan dua jenis pengetahuan ke dalam hatiku. Yang satu Aku sampaikan kepada orang-orang”—ini adalah syariat, pengetahuan di bawah tingkat Jibril , “tetapi jika Aku mengatakan pengetahuan yang lainnya, mereka akan memotong leherku,” dan itulah pengetahuan di atas tingkat Jibril .

Itu juga perbedaan antara orang-orang yang menerima pengetahuan ini dan mereka yang menyangkalnya. Ketika Rasulullah mendekati Hadirat Ilahi, beliau bertemu dengan seekor Singa yang sangat besar dan menjadi takut karenanya. Allah bertanya kepadanya, “Wahai Rasul-Ku yang tercinta, apa yang membuatmu takut terhadap dunia ini?” Beliau menjawab, “Wahai Tuhanku, Aku belum pernah merasa takut selama hidupku kecuali ketika melihat singa dalam Hadirat-Mu ini.” Maulana Syaikh berkata bahwa Rasulullah pun tidak mendapatkan semua pengetahuan dari Allah. Jika beliau mengetahui segala hal dari Allah maka beliau tidak akan merasa takut terhadap singa tersebut. Hal ini berarti bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh Rasulullah belum mencapai maksimum. Itulah sebabnya Rasulullah terus mengalami peningkatan, bahkan di makamnya sekalipun, dalam mencapai Hadirat Ilahi. Jika beliau tidak merasa takut, maka saat itu beliau tidak akan mengetahui rahasia ‘ilmul awwalin wa ‘ilmul akhirin, pengetahuan mengenai awal dan pengetahuan mengenai akhir, yang hanya dimiliki oleh Allah .

Namun pengetahuan yang telah diperoleh oleh Rasulullah akan dibuka nanti pada saat Imam Mahdi telah datang. Pengetahuan itu tidak bisa dibuka sekarang karena membutuhkan dukungan. Tanpa dukungan Imam Mahdi kepada para Awliya yang akan menyampaikan pengetahuan ini, orang-orang akan menggantungnya, sebagaimana yang telah diperingatkan oleh Sayyidina Abu Huraira . Kalian dapat melihat bahwa banyak Syaikh Sufi dalam sejarah Islam yang digantung karena mereka menyampaikan pengetahuan tersebut. Tanpa dukungan dari Imam Mahdi, tak seorang pun diperbolehkan untuk membicarakan pengetahuan ini. Sekarang kita hanya mencium hembusan aroma dari pengetahuan itu saja, seperti sebuah tetesan yang jatuh menimpa kita, agar kita mengerti bahwa ada pengetahuan spiritual yang tersimpan dalam hati dan bahwa pengetahuan itu akan disebarkan ke dalam hati setiap orang ketika Imam Mahdi telah datang. Namun sebelum beliau datang, setiap orang dapat mencium pengetahuan ini, dan mereka yang menginginkannya harus mengikuti majelis dzikir sebab tanpa mengikutinya, mereka tidak akan mendengar hal ini. Ini adalah pengetahuan tinggat tinggi bagi setiap orang—baik pembicara maupun yang hadir sama-sama mendengarkan. Pengetahuan ini tidak bisa diselesaikan hanya dalam sekali, lima atau sepuluh kali pertemuan.

Jika Saya mengucapkan kata-kata dari Sayyidina Abu Yazid al-Bistami ketika beliau berkata kepada Tuhannya, orang akan mengatakan bahwa kita termasuk orang kafir. Memang benar, jika kita yang mengucapkan kata-kata itu, kita adalah orang yang tidak beriman, tetapi lain halnya bila yang mengatakan adalah Abu Yazid al-Bistami, beliau adalah seorang mukmin. Beliau mengucapkannya karena beliau mengetahuinya, merasakan dan melihatnya. Tetapi bila kita yang mengatakannya, kita tidak akan melihat dan merasakannya, oleh sebab itu kita akan menjadi orang yang kafir, itulah bedanya. Beliau berkata, “Wahai Tuhanku, Mulki akbaru min mulkik,” “Kerajaanku lebih besar daripada kerajaan-Mu.” Apa arti dari ucapan itu? Beliau mengatakan kepada Tuhannya, “Wahai Tuhanku, Engkau telah menciptakan alam semesta ini dan Engkau telah berkata bahwa di Mata-Mu alam semesta ini tidak bernilai lebih dari sayap seekor nyamuk.”

“Law kanatid dunya ta’dilu ‘indallaahi janaha ba’udatin ma saqa kafiran minha syarbata ma’in,” “Jika dunia ini tidak lebih berharga daripada sayap seekor nyamuk dalam pandangan Allah , Dia akan menyangkal orang-orang kafir tak lebih dari segelas air” (Suyuti). Ini berarti bahwa kerajaan ini tidak bernilai, di lain pihak, Engkau adalah kerajaanku, dan Engkau adalah segala-galanya. Itulah sebabnya kerajaanku lebih besar dan lebih baik daripada kerajaan-Mu. Kerajaan-Mu adalah kami semua dan kami bukanlah apa-apa! Tetapi Engkau adalah kerajaan kami dan Engkau adalah segala-galanya, oleh sebab itu kerajaan kami lebih baik.”

Jika kita mengatakan hal ini dengan pemahaman kita, ini tidak bisa diterima. Jika Abu Yazid yang mengatakannya, beliau bersungguh-sungguh—kita tidak dapat menyamai beliau. Sayyidina Abu Huraira menyembunyikan banyak pengetahuan seperti itu seperti yang dikatakan dalam hadits (yang telah disebutkan di atas—red). Pengetahuan ini khusus ditujukan bagi para Awliya, alhamdulillah kalian percaya kepada Awliya dan ini adalah kepercayaan yang paling baik dan paling penting. Kita tidak menyangkal Rasulullah saw! Hasha (dalam bahasa Turki, berarti Hush!) dan kita tidak menyangkal syariat—Hasha! Kita harus melakukan seperti yang ditunjukkan oleh syariat kepada kita dan seperti yang ditunjukkan oleh Rasulullah , tetapi kita tidak dapat menyangkal adanya Wali yang menjadi penolong dan pemandu bagi kita untuk membuat hati kita bersih dan suci dari kehidupan materialistik ini.

Wa min Allah at-tawfiq bi hurmat al-Fatiha.
posted by Mevlana as Sufi at 7:33 AM 0 comments

Kondisi Pencinta Allah
Kondisi Pencinta Allah di Hari Pembalasan, Chapter 8 of Love for Allah,
terjemahan dari `Ishq Ilahi oleh Syaikh Faqir Zulfiqar Ahmad Naqsybandi Mujaddidi.


Menurut suatu hadits, beberapa orang akan bangkit di hari Pembalasan (Kiamat) dalam suatu keadaan, di mana ketika mereka melihat Allah, mereka akan tersenyum, dan ketika melihat mereka, Allah akan tersenyum. Suatu suara kemudian akan terdengar,
Hai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku (89:27-30). Mereka yang mencintai Allah , dan juga, mereka yang saling mencintai satu sama lain karena Allah akan dikaruniai perlindungan di bawah 'Arsy (singgasana) Allah . Pada hari itu tak ada naungan kecuali naungan 'Arsy. Bagi orang-orang awam, Hari Penghakiman akan berlangsung selama 70.000 tahun; sementara, bagi para pecinta, Hari itu hanya akan berlangsung selama dua raka'at shalat sunnah sebelum shalat Subuh. Mereka akan berjalan-jalan di atas bukit-bukit misik dan melihat keindahan (jamaal) dari Yang Paling Dicintai .

Para pecinta tak akan disusahkan dengan Pergolakan di Hari Penghakiman, Para pecinta tak memiliki perhatian apa pun, Selain memandang keindahan Ia yang mereka cintai.
Beberapa pecinta demikian tenggelam dalam kerinduan mereka terhadap Allah sehingga mereka akan segera berlarian menuju gerbang-gerbang Surga [jannah] dan bertanya pada penjaganya, Malaikat Ridwan as, "Kami telah diberitahu di dunia bahwa di Surga seseorang akan dikaruniai penglihatan yang indah atas Allah." Malaikat Ridwan as akan bertanya pada Allah, "Oh Tuhan, neraca keadilan [mizan] belum juga ditimbang, tetapi orang-orang ini telah meminta masuk ke dalam Surga?" Allah akan berkata pada mereka, "Wahai hamba-hamba-Ku, kalian masih harus menghitung amal-amal kalian, tetapi kalian sudah ingin masuk Surga?" Para pecinta akan menjawab, "Wahai Tuhan kami, Yang Maha Pemurah, Engkau tahu benar bahwa kami telah memalingkan diri kami dari dunia material, dan mengabdikan diri kami sepenuhnya bagi-Mu.

Kalbu-kalbu kami tak lagi menginginkan harta-harta dunia dan kami selalu puas atas apa yang ada pada kami. Kami mencintai-Mu dan menyembah-Mu sepanjang malam, dahi-dahi kami dalam keadaan sujud. Kami shalat dan berdoa kepada-Mu dari kedalaman kalbu kami. Kami lewatkan malam-malam kami tanpa istirahat, hanya mengharap keridhaan-Mu. Saat kematian kami, tak ada yang kami miliki dalam kalbu kami selain kecintaan pada-Mu." Allah akan berkata pada Malaikat Ridwan as, "Wahai Ridwan as! Ini adalah para pecinta-Ku, perhitungan macam apa yang harus dilakukan pada mereka? Bukalah pintu-pintu jannah dan biarkan mereka masuk tanpa harus memperhitungkan amal-amal mereka."

Menurut suatu hadits, pada hari Penghakiman, Allah akan menyatakan penyesalan pada para pecinta yang menghadapi kesengsaraan dalam kehidupan material dunianya dan hidup dalam pemantangan hawa nafsunya, dalam keadaan tetap miskin dan lapar. Allah akan menunjukkan rasa simpati-Nya di hadapan mereka, sama seperti seorang teman yang merasa bersalah di hadapan teman lainnya karena tak mampu memberinya suatu hadiah atau pemberian. Pada Hari Pembalasan nanti, para pecinta akan ditempatkan di dekat danau [haud] Kautsar. Kekasih Tercinta Allah dan juga rahmat bagi seluruh alam (rahmah lil-'alamin), Nabi Muhammad saw akan mengisi gelas-gelas dengan air dari danau itu untuk mereka minum. Beliau akan mengenali setiap pengikutnya dengan adanya nur [radian spiritual] yang memancar keluar dari anggota-anggota tubuh yang biasa mereka basuh saat melakukan wudhu'. Bahkan para malaikat akan senang ketika mereka melihat orang-orang ini sebagai pengikut [ummah] dari Nabi Muhammad saw.

Saat mereka sampai di padang-padang pengadilan, Malaikat-malaikat yang takjub akan bangkit dan berseru, Pelayan dari pelayan dari pelayan Muhammad telah tiba! Kerasnya Hari Pembalasan akan menimpa kaum yang ingkar (kuffar), dan kaum yang membuat sekutu bagi Allah [musyrikin], kaum munafik, dan para pendosa [fasiqin]. Para pecinta akan menyeberangi jembatan [sirath] di atas Neraka secepat hembusan angin. Panas api Neraka akan tersejukkan oleh cahaya [nur] dari iman mereka sedemikian hingga Neraka itu sendiri akan berteriak dan meminta para pecinta untuk melaluinya dengan cepat, agar iman mereka tidak memadamkan api-apinya.

Pada Hari Pembalasan ini pula, Allah akan mengaruniakan pada para pecinta itu hak untuk memberikan syafa'ah. Mereka akan membawa beserta mereka banyak pendosa, menuju ke dalam Surga. Para pecinta tak akan dikenai kerasnya Hari Pembalasan itu, dan mereka sendiri akan menjadi wasilah (perantara) bagi yang lain untuk keluar dari kerasnya hari itu. Suatu nur indah akan terpancar di muka mereka, memimpin mereka menuju pintu-pintu Surga: Dan orang-orang yang takut (taqwa) pada Tuhan mereka akan dibawa ke dalam surga dalam rombongan-rombongan... (39:73)

Pada hari Pembalasan, Allah akan memberikan balasan istimewa bagi mereka yang menanamkan cinta kepada Allah dalam kalbu-kalbu saudara-saudaranya yang lain. Pada hari saat mana kekayaan dan anak-anak tak akan berguna. Hari di mana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.(26:88-89). Orang-orang mu'min itu yang melewati kehidupan sementara (di dunia) ini sebagai seorang miskin dan fakir akan diperlakukan sebagai tamu-tamu kehormatan di Hari Pembalasan. Diriwayatkan dalam suatu hadits bahwa Nabi saw biasa berdoa: Ya Allah, biarkan aku hidup sebagai seorang fakir dan mati sebagai seorang fakir. Dan bangkitkan aku di antara kaum fakir di hari Pengadilan nanti.

Ya Allah, karuniakan padaku kalbu yang dipenuhi kecintaan pada-Mu, dan semoga rahmah-Mu selalu turun atas kalbuku, Karuniakan padaku suatu kalbu yang tenggelam dalam kerinduan pada-Mu agar aku terlupa akan hiruk-pikuk Hari Pembalasan.

Wa min Allah at taufiq

sumber: Diterjemahkan oleh Kamaluddin Ahmed. Diterbitkan oleh Faqir Publications, USA. Tersedia di www.al-rashad.com.


posted by Mevlana as Sufi at 7:33 AM 0 comments

Guncangan
bMaulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani k
Siprus, 17 Februari 2003
www.the-heart.net


Ya Rabbi, Syukur! Destur ya Sulthanu-l-Awliya, madad! Wahai orang-orang surgawi! Kami memohon dukunganmu, karena kami orang-orang yang lemah. Jika engkau tidak mengirimkan dukungan surgawimu kepada kami, niscaya kami akan tersesat.

Siapakah orang-orang yang lalai? Mereka adalah orang-orang yang berpikir bahwa mereka mendapat dukungan bagi eksistensi mereka lewat benda-benda material, melalui makanan dan minuman—semua yang tergolong keinginan fisik kalian. Mereka adalah orang-orang yang lalai, orang-orang yang bodoh, tidak punya pikiran, orang-orang yang tidak mempunyai cahaya—mereka berada dalam kegelapan, kegelapan dari dunia material mereka. Mereka adalah makhluk yang mempunyai mata untuk melihat—tetapi mereka tidak memperhatikannya. Mereka punya perasaan, tetapi tidak menggunakannya. Mereka mempunyai keahlian untuk membedakan antara terang dan gelap, tetapi tidak menggunakan perlengkapan itu, tidak menggunakannya untuk membedakan antara terang dan gelap. Mereka mempunyai mata—bisa melihat, tetapi tidak memperhatikan. Mereka mempunyai perasaan tetapi tidak memahami. Mereka mempunyai sesuatu dari hasil pikiran (kepandaian) mereka, tetapi tidak menggunakannya untuk meraih level pemahaman tentang diri mereka sendiri. Oleh sebab itu mereka adalah orang-orang yang lalai, yang tidak mengetahui bagaimana mereka muncul, bagaimana mereka hadir di dunia.

A’uudzu bi-llahi minasy-syaythan-ir-rajiim, bismillah-ir-Rahmaan-ir-Rahiim. Demi kemuliaan orang yang paling mulia di sisi-Mu, Ya Allah! Kirimkanlah kami beberapa makhluk surgawi untuk menciptakan guncangan di tubuh kami, untuk membangkitkan kami! Kadang-kadang jantung seseorang berhenti (berdetak) dan mereka memberi kejutan listrik, agar jantung kembali normal dan bisa bekerja lagi. Oleh sebab itu, sekarang seluruh manusia berada di antara hidup dan mati, dan dalam keadaan demikian—orang itu tidak berguna. Dia tidak berguna untuk kehidupan ini, untuk kehidupan yang sementara ini, dan tidak pula untuk kehidupan yang abadi. Dan sekarang orang-orang di seluruh dunia berada dalam keadaan seperti itu, mereka hampir dihentikan, atau berhenti dengan tubuh (fisik) mereka. Mereka bagaikan robot yang bergerak, berbicara, datang, pergi, tetapi tidak dikendalikan oleh mereka sendiri. Mereka tidak mampu mengontrol fisik mereka sebagaimana yang dipersyaratkan bagi mereka. Oleh sebab itu, orang-orang di seluruh dunia memerlukan guncangan yang sangat kuat untuk membangunkan mereka, agar mereka bisa melihat dan bangkit dari kelalaiannya itu. Itulah alasannya mengapa Armageddon harus terjadi.

Orang tidak meminta untuk itu, mereka tidak menginginkannya, tetapi Armageddon akan menjadi guncangan yang sangat hebat bagi seluruh bangsa, bagi kepribadian mereka, baik secara individu maupun kolektif, agar mereka bangkit. Guncangan yang sangat hebat ini, yang kian hari semakin mendekat akan membangunkan seluruh ummat manusia, sehingga mereka akan menyadari, apa yang telah kami katakan sebelumnya, yaitu ketika orang berpikir bahwa keberadaan mereka di dunia didukung dengan aspek material. Hal ini membuat operasi guncangan terhadap manusia menjadi suatu keharusan sehingga mereka akan tahu bahwa mereka tidak bergerak atau hidup atau berada dalam eksistensinya melalui aspek material. Oleh sebab itu, guncangan surgawi ini akan datang sekarang. Mustahil untuk mencegahnya, mustahil!

Manusia telah menciptakan daerah larangan di muka bumi. Daerah terlarang bagi manusia (yang mereka ciptakan itu) sekarang memerlukan sesuatu di luar jangkauan aspek material. Itulah sebab terbesar bagi masalah yang diderita ummat. Mereka mencegahnya; mereka berkata, “Tidak ada Tuhan. Tidak ada yang eksis kecuali kita sendiri.” Pandangan ini akan menempatkan mereka semakin tenggelam dalam kegelapan, dan spiritualitas mereka, sedikit demi sedikit akan berakhir, musnah dan sirna.

Tetapi Allah tidak menginginkan hal ini. Ummat manusia, telah diciptakan dengan aspek surgawi, mereka telah mengirimnya ke planet ini dan dipanggil kembali ke Surga. Oleh sebab itu, Allah ingin agar mereka bangkit. Dan seperti halnya jantung, ketika semakin melemah, dokter memberinya kejutan listrik, membawa kembali orang itu ke keadaan sadar. Sekarang, guncangan ini, jangan kalian pikir bahwa ini melawan kemanusiaan, jangan! Armageddon tidak menentang kemanusiaan. Dilihat dari luar memang seolah-olah demikian, karena sekarang ummat manusia telah kehilangan sisi kemanusiaannya. Untuk itulah, mereka tidak meminta aspek surgawi yang berupa kemanusiaan. Aspek atau atribut atau nilai-nilai kemanusiaan adalah milik Surga. Dan sekarang, orang tidak lagi tertarik dengannya, mereka tidak merasa khawatir tentang hal ini, dan manusia sudah seperti hewan ternak di planet ini, hanya meminta aspek-aspek material lebih dan lebih banyak lagi, untuk membuat tubuh mereka semakin senang dan puas.

Rasulullah saw datang untuk melatih seluruh ummat manusia dan menyandangkan mereka dengan nilai-nilai kemanusiaan. Oleh sebab itu Khatamul Rasul bersabda mengenai misinya ini, “Aku adalah orang yang telah datang—Aku adalah yang pertama, Aku adalah yang terakhir, Aku telah diutus dari Surga ke bumi, kepada ummat manusia, untuk mengajarkan mereka dan untuk membuat mereka mengenal nilai-nilai kemanusiaan. Aku datang untuk menyandangkan mereka dengan nilai-nilai kemanusiaan.” Tanpa kemanusiaan, manusia adalah makhluk yang sangat biadab di bumi ini. Tak ada makhluk lain yang lebih liar atau biadab daripada manusia. Oleh sebab itu beliau bersabda, “Aku datang untuk menghilangkan karakteristik buruk makhluk yang paling biadab di muka bumi, untuk menyingkirkan karakteristik buruk ego mereka, menghilangkannya dan menyandangkan ummat manusia dengan nilai surgawi yang telah dianugerahkan oleh Tuhan mereka; menyandangkan mereka dengan nilai-nilai kemanusiaan dan karakteristik terbaik, sehingga mereka bisa berada di Hadirat Ilahi dengan nilai terbaik, berada di hadapan Tuhan Pemilik Surga di Hadirat-Nya.”

Dan beliau berkata dalam do’anya, “Allaahumma inni a’uudzu min nafsi la tasyba” –-karakteristik terburuk dalam tubuh kita, yang merupakan milik bumi, beliau meminta perlindungan kepada Allah dengan mengatakan, “Wahai Tuhanku, Aku berlindung kepada-Mu dari karakteristik buruk egoku.” Apa yang beliau katakan adalah atas nama seluruh ummat manusia. Beliau terlalu suci untuk dipengaruhi oleh egonya. Tetapi beliau mengajarkan dan melatih ummatnya untuk berhati-hati terhadap egonya dengan berkata, “Wahai Tuhan kami, lindungilah kami dari ego kami.” Itu adalah karakteristik ego—makin banyak kalian memberinya, dia tidak akan mengatakan cukup’. Jika seseorang diberikan seluruh isi dunia, egonya akan meminta dunia yang lain. Jika dia diberi dunia yang lain, dia akan meminta dunia ketiga. Jika diberikan dunia ketiga, dia akan meminta yang keempat. Itu adalah karakteristik terburuk yang membuat orang di bumi semakin beringas dan liar, hari demi hari.

Oleh sebab itu, (Armageddon) ini sekarang muncul, menempatkan seluruh dunia dalam kegelapan yang kelam. Setiap orang sekarang meminta (lebih), secara individu, kemudian sekelompok orang membuat persekutuan, yang disebutnya, ‘persekutuan terbatas’ (perseroan terbatas). Mereka tahu bahwa secara individu mereka tidak dapat membawa lebih banyak lagi, tetapi sebagai perusahaan, mereka akan mendapat lebih banyak keuntungan. Jadi negara itu, seluruh dunia, sekarang penuh dengan perusahaan dengan nama-nama yang aneh. Perusahaan, pemegang saham, bursa saham—Saya tidak tahu apakah ada lagi yang lebih besar untuk memperoleh gigitan yang lebih besar—untuk meraih keuntungan yang lebih dan lebih banyak lagi. Secara individu atau melalui perusahaan, bursa saham dan melalui seluruh ummat, mereka ingin menguasai dunia ini untuk diri mereka sendiri. Oleh sebab itu Armageddon akan terjadi, karena Dunya akan terbagi menjadi dua kubu besar, dan di antara keduanya akan terjadi —sebagaimana Rasulullah saw telah mengatakan kepada kita—sebuah perang besar, dan target utamanya adalah agar mereka sanggup untuk mengendalikan segala sesuatu untuk kepentingan mereka. Armageddon akan terjadi, bukan karena Allah; tetapi karena ego mereka, yang tidak pernah puas. Satu kata dari Rasulullah saw memperjelas semua situasi sekarang yang kita hadapi, “Aku berlindung kepada Allah dari pengetahuan yang tidak membawa manfaat kepada orang yang bersangkutan, atau bagi kemanusiaan. Aku juga berlindung kepada Allah dari kejahatan ego yang hanya menginginkan kesenangan dan kenikmatan fisik, tidak ada yang lain.” Semoga Allah mengampuni kita. Itu adalah penting.

Oleh sebab itu, Rasulullah bersabda, “Aku datang untuk menghilangkan karakteristik buruk ego manusia. Aku datang untuk menyandangkan kalian dengan kualitas terbaik, nilai terbaik, pakaian terbaik, sehingga kalian akan berada di Hadirat Ilahi dengan Pakaian Ilahi yang terbaik dan paling berharga.” Nilai-nilai tersebut adalah pakaian terbaik bagi kalian. Jika kalian tidak mengenakan pakaian itu, kalian akan diusir, karena ego kalian tidak pernah merasa cukup. Dan Neraka juga berkata, “Wahai Tuhanku, jika ada lebih banyak lagi, Aku mohon agar mereka dikirimkan kepadaku, Kirimkanlah padaku orang-orang dengan keinginan egonya, mereka akan temukan bahwa apa yang mereka inginkan ada pada levelku.”

Semoga Allah swt memberi kita suatu pemahaman demi kemuliaan makhluk yang paling mulia di sisi-Nya, Sayyidina Muhammad saw, Fatiha.
posted by Mevlana as Sufi at 7:33 AM 0 comments

Ketidak Patuhan
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
Siprus, 24 Februari 2003
www.the-heart.net


Destur ya Sayyidi, madad. A'uudzu billahi mina-sy-syaythaani-r-rajiim, bismillaahi-r-Rahmaani-r-Rahiim. La haula wa la quwatta illa billaahi-l 'Aliyyu-l 'Azhim. Kita memohon ampun dan berkah kepada Allah. Tanpa berkah-Nya, tak kan ada kehidupan. Berkah datang setelah pengampunan-Nya. Jika Dia memberi ampunan, barulah kemudian datang berkah dan rahmat.

Setiap orang harus tahu bahwa kita berada di bawah kendali seseorang. Tak peduli, percaya atau tidak. Tetapi setiap orang dapat melihat bahwa di atas kekuatan kita, ada lagi Yang Lebih Berkuasa, dan Samudra Kekuasaan-Nya mencakup segalanya. Ini adalah fakta—suka atau tidak suka. Dan dewasa ini orang-orang berpikir atau membayangkan dengan mengatakan, “Kita dapat melakukan apa saja, kita mempunyai segala kemungkinan untuk melakukan segala hal. “ Itulah puncak kedunguan. Seseorang pasti sedang mabuk bila dia mengatakan hal semacam itu—berpikir bahwa manusia dapat melakukan segala hal dan bahwa dia mempunyai segala kemungkinan untuk membuat segalanya sesuai dengan kehendak hatinya. Dan mereka membuat generasi baru tumbuh dengan gagasan-gagasan yang tidak masuk akal. Omong kosong! Tak berguna! Dan Setan menutupi pikiran manusia dan memberi mereka gagasan-gagasan muskil itu, dan generasi muda yang sedang tumbuh tidak mengetahui apa-apa. Mereka berada di ambang kedewasaan, berpikir bahwa segala kemungkinan terbuka bagi mereka. Mereka mengangkat kepala mereka dan tidak menundukannya. Kesalahan terbesar orang-orang di abad ke-20 berlanjut hingga abad ke-21, yaitu bahwa sistem pendidikan sekarang mengajarkan anak muda untuk tidak patuh. Mereka mencoba untuk membuat seluruh generasi muda untuk tidak patuh.

Setelah Revolusi Perancis, tembok besar yang mencegah orang untuk bersikap tidak patuh menjadi hancur. Jangan dikira bahwa itu semua terjadi demikian—bahwa mereka mendobrak pintu Bastille. Itu adalah peristiwa simbolik bahwa Setan membuka penjara Bastille untuk mengeluarkan semua orang yang tidak patuh, yang tidak pernah menundukkan dirinya kepada Allah. Dan Sultan mewakili Kerajaan Allah di bumi. Dan sebagaimana disebutkan dalam semua Kitab Suci, bahwa setiap bangsa sejak awal hingga 1789 masing-masing mempunyai seorang Raja, orang-orang menundukkan kepala kepada mereka, bukannya mengangkat kepalanya, dan menunduk kepada Raja berarti secara tidak langsung patuh terhadap Tuhan Pemilik Surga.

Ketika dinding pemisah antara rakyat dan Raja dihancurkan, semua orang yang tidak patuh, para pemberontak, kalajengking dan naga, semua orang liar yang telah dipenjara keluar. Dan beberapa filusuf yang bodoh, yang tidak percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa, menulis banyak buku yang mendorong orang agar tidak patuh kepada siapa saja. Apa yang mereka katakan adalah seperti ketika Allah menciptakan ego kita, “Engkau adalah engkau, dan Aku adalah aku,” begitu kata ego.

[Pada saat itu seseorang mengganggu jalannya asosiasi dan Syaikh berkata, “Setan datang untuk menghancurkan setiap pertemuan yang baik, menggunakan beberapa orang bodoh di antara kita. Banyak sekali agen-agen Setan.]

Para filusuf mendesak orang agar tidak patuh. Seperti halnya ketika Allah menciptakan ego dan bertanya padanya, “Siapa Aku?” Ego menjawab, “Engkau adalah engkau dan Aku adalah aku.” Ego tidak pernah mau menunduk kepada Tuhannya dan berkata, “Aku adalah hamba-Mu, dan Engkau adalah Penciptaku, Tuhan Pemilik Surga.” Dia tidak pernah mau menundukkan kepalanya di Hadirat Ilahi, sampai Allah memerintah kannya untuk dikurung dalam api—dalam Neraka. Tetapi dia tetap tidak datang dan menunduk. Kemudian dia dipenjarakan dalam Neraka yang dingin—dia keluar tetapi masih belum mau menunduk kepada Tuhannya. Sampai ego ditempatkan di lembah kelaparan—baru kemudian dia keluar dan berkata, “Aku adalah hamba-Mu yang lemah dan Engkau adalah Tuhanku.” Itulah karakteristik utama dari ego kita—tidak mau menundukkan kepala di hadapan orang lain. Jika dia tidak menundukkan kepalanya di hadapan Allah, bagaimana dengan yang lainnya? Tidak akan!

Dan kita kembali ke masa Revolusi Perancis (1789). Mereka menghancurkan apa-apa yang telah memenjarakan mereka--ucapan, “Kami adalah hambamu, dan engkau adalah Raja kami, yang maha besar, yang paling terhormat, yang mulia.” (Setelah 1789) mereka tidak pernah menerima orang-orang yang terhormat dan mulia. Itulah demokrasi bagi mereka. Oleh sebab itu, mereka mengambil orang dari pasar dan menjadikannya sebagai mentri, karena mereka tidak pernah menerima perbedaan di antara seorang Raja dan seseorang dari pasar, seorang buruh, petani atau pengembala. Tidak! Demokrasi berarti, “Setiap orang berhak untuk menjadi No.1. Mereka tidak bertanya apakah orang yang akan menjadi No.1 telah dipersiapkan (memiliki kecakapan) atau tidak, dengan berkata, “Tidak, itu tidak menjadi masalah, kita sematkan predikat No.1 di dadanya. Duduk di sini! Selesai, siap!“ Hanya dengan memberi mereka titel No.1, maka jadilah mereka No. 1.

Itulah kebodohan terbesar yang telah dicapai oleh Dunya sekarang. Seluruh dunia! Sekarang mereka semua akan dihancurkan. Seluruh sistem pendidikan dibangun atas sudut pandang ini, yaitu dengan mengajarkan generasi baru agar tidak tunduk kepada siapa pun, tidak. Cukup datang seperti ini—datang di depan guru mereka atau direktur atau mentri atau presiden—datang dan berkata, “Ini seperti ini, seperti itu.“ (mengatakan kepada mereka apa yang akan dilakukan). Ini adalah kesalahan terbesar; dan ini adalah kemenangan terbesar bagi Setan dan para pengikutnya, dengan memberi gagasan-gagasan buruk melalui ajaran setani, yaitu bahwa kalian tidak boleh menerima orang lain untuk dihormati atau dimuliakan. Oleh sebab itu, setelah Revolusi Perancis, satu persatu mereka gulingkan Raja mereka, Sultan, Kaisar, dan secara total membawa orang-orang yang tidak cocok—orang-orang tanpa kehormatan, orang-orang yang bodoh—dan membawa mereka ke singgasana pemerintahan, untuk memimpin masyarakat. (Memimpin) ke mana? Setan berkata kepada mereka, “Engkau adalah pemimpin, Aku akan memberimu kepemimpinan.” Dari mana? Kalian membawa mereka dari pasar dan mengatakan kepada mereka bahwa mereka adalah para pemimpin? Setan berkata kepada mereka, “Sekarang engkau adalah pemimpin. Pimpinlah bangsamu sesuka hatimu. Jangan tunduk pada siapa pun, biarkan orang lain yang tunduk terhadapmu.”

Oleh sebab itu, para pemimpin tergantung pada generasi muda dan selalu memberi mereka kebebasan untuk tidak patuh. “Ikuti kami, kalian bebas.” Itu adalah tingkat terakhir di mana Antikristus (Dajjal) akan muncul dan berkata, “Kalian bebas, tidak ada rintangan bagi kalian, wahai manusia! Kalian boleh melakukan apa saja, bebas, tak ada orang yang akan menghentikan kalian, tak ada yang akan mencegah kalian, kalian bebas!” Oleh sebab itu, orang-orang yang lalai ini, yang tidak punya kehormatan dan penuh kesalahan akan mengikuti Dajjal. Dan sebelum kemunculannya, sebagaimana Rasulullah saw bersabda, akan ada 30 orang yang kotor, seperti Dajjal, tetapi dengan ukuran yang lebih kecil—hingga muncul Dajjal dengan ukuran raksasa. Mereka akan mempersiapkan dasar-dasar bagi Dajjal; mereka telah dilatih seperti itu. Ketidakpatuhan ini adalah yang terakhir—seperti halnya ketika seseorang menemukan sesuatu yang baru, dia mendapatkan hak paten dari pemerintah— sekarang paten itu diberikan ke seluruh bangsa, untuk mempersiapkan bangsa mereka, generasi muda mereka menyambut kedatangan Dajjal. Dan ini adalah urusan paling buruk antara pemimpin dengan rakyatnya, dan semua pemimpin adalah para pemabuk, membawa rakyatnya ke Neraka. Karena para penghuni Neraka tidak pernah menundukkan kepalanya, semuanya justru mengangkatnya.

Dan sekarang kita berusaha untuk membuat orang-orang mengerti, tetapi mustahil. Ini adalah periode orang jahat, para pengikut Dajjal, yang selalu menentang Hukum Surgawi, tidak pernah mau menerima untuk patuh, dan mengajarkan ummat manusia agar tidak patuh. Ketika kalian tidak patuh, kalian tidak pernah memohon ampun kepada Allah, dan berkah-Nya tidak akan datang. Apakah kalian pikir cuaca ini (badai, banjir, dsb) adalah karunia dari Allah atau apakah itu merupakah kutukan atau hukuman bagi manusia? Segala sesuatau di bumi menentang hamba-hamba yang tidak patuh, dan alam pun melawan mereka. Alam menentang mereka. Sebelum periode ini, alam membantu manusia untuk hidup di bumi. Alam sebagai ibu membantu anak-anaknya, alam menjaga dan melindungi mereka. Tetapi sekarang, seluruh alam menentang orang-orang yang tidak patuh, menentang ketidakpatuhan.

Sekarang alam akan mendatangkan sebuah kutukan, kemudian dari satu bangsa beralih ke bangsa yang lain. Kutukan yang timbul mustahil dihilangkan tanpa memohon ampun, Wahai Tuhan kami, ampunilah kami,” dan bukannya turun ke jalan dan berteriak, “No war!” Mereka harus kembali kepada Tuhan mereka dan berkata, “Ampunilah kami, wahai Tuhan Pemilik Surga! Ampunilah kami. Kami membutuhkan rahmat-Mu. Kepala kami sekarang tertunduk, ampunilah kami!”

Mereka tidak datang ke tempat beribadah, ke masjid, gereja dan sinagoga, untuk memanggil Allah, “Kami menundukkan kepala kami, wahai Tuhan kami! Cabutlah kutukan ini dari bumi.” Barulah perang akan selesai. Tetapi selama mereka menentangnya dan bersikeras untuk tidak patuh, akan timbul perang terhadap mereka, perang yang tidak akan pernah selesai. Semoga Allah mengampuni kita dan mengirimkan kita hamba-hamba-Nya yang tulus untuk menyelamatkan kita dan mempimpin kita menuju Samudra Rahmat Allah, demi kemuliaan hamba-Nya yang paling mulia, Sayyidina Muhammad saw. Ini penting, ini adalah Kebenaran!
posted by Mevlana as Sufi at 7:33 AM 0 comments

Hijab dalam Islam ( Jilbab )
Oleh Dr. Gibril F. Haddad
seperti yang dimuat di majalah The Muslim Magazine edisi Musim Gugur 1999.


"Wahai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah tanda-tanda dari kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat." [7:26]. Dewasa ini sebagian besar ummat Muslim terpecah mengenai satu hal, yaitu mengenai tabir atau hijab. Meskipun Syariah sudah mengatur hal ini dengan jelas, namun banyak yang berpendapat bahwa perintah bagi wanita untuk menutupi seluruh tubuhnya kecuali muka dan kedua tangannya tidak ditemukan dalam Islam. Dalam uraian singkat ini, kami akan menyebutkan bukti-bukti dari teks-teks Hukum Islam (fiqh) di mana kewajiban hijab ini diturunkan.

Hijab adalah sebuah kata dari bahasa Arab dan secara leksikal berarti “menutupi.” Dalam Islam kata itu mengandung dua makna, yaitu:
· Busana wanita, seperti baju kurung yang dapat menutupi seluruh tubuh mulai dari kepala hingga tumit dan biasa disebut jilbab atau khimar.
· Pemisahan tempat pada saat pria dan wanita berkumpul bersama.

Kewajiban Hijab sebagaimana yang dinyatakan dalam al-Qur'an. "Wahai Nabi saw! Katakanlah kepada istri-istri dan putri-putrimu, dan istri orang-orang Mukmin untuk mengulurkan jilbabnya (jalabib) ke seluruh tubuh mereka (ketika mereka pergi ke luar)" (33:59). Ibnu Rusyd dalam Bidaya al-Mujtahid (1:83) mengatakan bahwa ayat ini digunakan sebagai bukti bahwa tidak ada bagian tubuh wanita yang dibiarkan terbuka di hadapan orang-orang yang bukan mahram dan suaminya. Al-Qurtubi dalam komentarnya atas ayat ini mengatakan bahwa jilbab merupakan pakaian yang dapat menyembunyikan seluruh bagian tubuh termasuk kepala.

"Katakanlah kepada wanita yang beriman agar mereka merendahkan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…" (24:31). "…hanya yang (biasa) tampak daripadanya" merujuk pada muka dan kedua tangan mereka. " Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Rasulullah saw), maka mintalah dari belakang tabir…" (33:53). Al-Qurtubi dalam komentarnya terhadap ayat ini mengatakan, "Yang menjadi konsensus (ijma’, kesepakatan) di antara ummat Muslim adalah bahwa organ genital dan punggung tergolong aurat bagi pria dan wanita, bagi wanita seluruh bagian tubuh kecuali muka dan kedua tangannya juga termasuk aurat, tetapi banyak yang tidak sependapat dengan dua terakhir.” Ini berarti bahwa konsensus Muslim memasukkan mereka dalam definisi mengenai aurat berdasarkan ayat dan hadits yang disebutkan di bawah ini.

Kewajiban Hijab sebagaimana yang dinyatakan dalam Hadits

Hadits-hadits otentik berikut ini merupakan bukti-bukti bagi hijab di dalam Sunnah Rasulullah saw: ’Aisya melaporkan bahwa Asma’t putri Abu Bakar ra mendatangi Rasulullah dengan mengenakan busana tipis. Beliau mendekatinya dan berkata, 'Wahai Asma’ ! Ketika seorang gadis telah mencapai usia akil baligh, tidak pantas baginya untuk membiarkan bagian tubuhnya terbuka kecuali ini dan ini. Beliau menunjuk pada muka dan kedua tangannya." [Abu Dawud].Ibnu Qudama dalam al-Mughni (1:349) menerangkan bahwa memperlihatkan muka dan kedua tangan merupakan dispensasi khusus dalam makna umum dari hadits, "Seluruh bagian tubuh dianggap sebagai aurat [bagi yang bukan mahram saudara atau suaminya]." (al-mar'atu `awra).

‘Aisya berkata, "Aku biasa memasuki ruangan di mana Rasulullah dan ayahku (Abu Bakar ) kelak di makamkan di sana tanpa mengenakan busana apa pun, berkata bahwa itu hanyalah suami dan ayahku. Tetapi ketika 'Umar bin Al-Khattab kemudian dimakamkan (di tempat yang sama), Aku tidak memasukinya lagi kecuali dengan mengenakan busana karena aku malu terhadap 'Umar ra." Lebih rinci lagi Rasulullah saw mengatakan kepada Ummi Salama bahwa wanita juga harus menutupi kakinya dalam shalat, diriwayatkan dalam Sunan. Hadits ini menjadikan kaki termasuk dalam definisi aurat yang sah bagi wanita. "Wanita yang berpakaian tetapi (pada saat yang sama) juga telanjang, memalingkan kepala mereka ke sana dan ke mari bagaikan punuk unta, tidak akan masuk ke dalam Surga bahkan mencium wanginya pun tidak."

Para fuqaha telah membagi aurat wanita ke dalam 2 kategori:
· `awra mukhaffafa (aurat ringan): muka, tangan, kepala, leher, lengan bawah, kaki, torso (bagian bahu ke pinggang) dan punggung.
· `awra mughallaza (aurat besar): seluruh tubuh kecuali anggota tubuh di atas.
‘Aisya dengan keras menyatakan dalam sebuah ungkapannya yang terkenal, "Ketika seorang gadis mencapai masa pubertas, dia harus menutupi (tubuhnya) sebagaimana yang diwajibkan atas ibu dan neneknya." ‘Aisya mendefinisikan bahwa tabir wanita (al-khimar) tidak lebih pendek dari apa yang menutupi rambut dan kulit." (innama al-khimaru ma wara al-sya`r wa al-basyar).

Menutupi Muka

Khimar (jamak: khumur) sebenarnya merujuk pada penutup kepala, sehingga terjemahan ayat 24:31 yang lebih baik adalah, "dan untuk mengulurkan penutup kepala mereka (khumurihinna) sampai ke dada..." (24:31). Adalah penting untuk memahami kedua interpretasi terhadap perintah untuk “mengulurkan penutup kepala” di kalangan istri-istri Sahabat dan generasi penerus mereka, berdasarkan dua pandangan dari Keempat Mahzab, yaitu: menutupi semua atau membuka hanya bagian muka dan kedua tangannya. Di antara mereka ada yang mengulurkannya dari atas ke bawah, ada pula yang dari samping. Yang pertama menjadikan muka tertutup, sementara yang kedua membiarkan muka tidak tertutup menurut kehendaknya masing-masing.

Berikut ini terdapat 2 hadits yang menggambarkan penggunaan khimar (tabir muka) oleh istri-istri para Sahabat sebagai penerapan dari ayat yang dipetik di atas. Abu Hurayra ra melaporkan tentang percakapannya dengan ibunya, “Suatu hari Aku mendatangi Rasulullah saw dengan bercucuran air mata dan berkata, ‘Ya Rasulullah , Aku telah mengundang ibuku untuk masuk ke dalam Islam tetapi dia menolak. Hari ini Aku memintanya lagi, dan beliau mengatakan sesuatu yang buruk tentangmu. Mintakanlah kepada Allah untuk membimbing Ibu Abu Hurayra !’ Kemudian Rasulullah berkata, ‘Ya Allah ! Bimbinglah Ibu Abu Hurayra.’ Setelah dihibur dengan do’a Rasulullah tersebut Aku pun pulang ke rumah. Ketika Aku tiba di pintu, Aku mendapatkan pimtu itu terkunci. Mendengar langkahku, ibuku berkata, ‘Abu Hurayra, jangan masuk dulu.’ Aku dapat mendengar suara air.

Beliau membasuh tubuhnya lalu memakai jubah (dir') dan penutup kepala (khimâr), kemudian beliau membuka pintu dan berkata, ‘Abu Hurayra ! Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad saw adalah hamba dan utusan Allah !’ Suatu saat Aku kembali mendatangi Rasulullah saw dengan terharu Aku berkata kepadanya, ‘Ya Rasulullah , kabar gembira! Allah telah menjawab permintaanmu dan membimbing ibuku!’ Beliau memuji dan mengagungkan Allah, bersyukur kepada-Nya dan dan mengatakan hal-hal yang baik. Aku berkata,’Ya Rasulullah! Mintakanlah kepada Allah agar Dia menjadikan aku dan ibuku sebagai kekasih bagi hamba yang paling dicintai-Nya dan Dia menjadikan orang yang paling kami cintai.’ Rasulullah berdo’a, ‘Ya Allah! Jadikanlah hambamu yang kecil ini (maksudnya Abu Hurayra ) dan ibunya sebagai kekasih bagi hamba-Mu tercinta, dan jadikanlah orang-orang beriman sebagai kekasih mereka.’ Tak satu pun orang-orang beriman yang lahir ke dunia ini yang mendengar tentang diriku tanpa melihatku yang tidak mencintaiku.”

‘Aisya berkata, “Demi Allah, Aku tidak pernah melihat seorang wanita yang lebih baik daripada wanita-wanita kaum Anshar (yakni wanita-wanita di Madinah) atau lebih kuat dalam menegakkan Kitab Allah! Ketika Surat an-Nur diturunkan "dan untuk mengulurkan khumur' mereka sampai ke dada mereka" (24:31)—para suami pulang dan membacakan apa yang telah diturunkan Allah kepada mereka, masing-masing membacakannya kepada istrinya, putri, saudari dan kerabatnya. Tak satu pun di antara mereka yang tinggal diam, semuanya bangkit dengan segera dan merobek kain pembungkus pinggang mereka dan menggantinya dengan kain yang menutupi diri mereka dari kepala hingga tumit (i`jtajarat). Keesokan paginya mereka shalat dengan tubuh yang telah tertutup dari kepala hingga tumit (mu`tajirat)."

Dan Allah swt Mahatahu.
Dr. Haddad telah menulis dan menjadi tim penulis terhadap lebih dari 12 buku di bidang Jurisprudensi Islam; dan sekarang (pada waktu tulisan ini dibuat-red) beliau sedang menyelesaikan desertasinya di Damaskus. Artikel ini muncul atas budi baik The Muslim Magazine. Hak cipta dipegang oleh The Muslim Magazine.

Wa min Allah at taufiq

posted by Mevlana as Sufi at 7:33 AM 0 comments

Tuesday, August 10, 2004
Duduk di Belakang dalam Suatu Pertemuan
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
dalam Mercy Oceans (Book Two)


Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani k berkata bahwa semakin kalian memandang diri kalian rendah, lebih baik bagimu. “Aku adalah hamba Allah swt yang paling hina.” Maka Allah tidak akan membiarkan dirimu di tingkat itu, melainkan akan mengangkat derajat kalian. Hadits mengatakan bahwa orang yang merendahkan hatinya di hadapan Allah , maka Allah akan mengangkat derajatnya. Sebaliknya, orang yang menyombongkan dirinya di hadapan Allah akan dijadikan hina oleh-Nya. Ketika kalian datang ke suatu pertemuan, duduklah di barisan belakang dan tunggu sampai orang lain mengundangmu untuk maju. Orang yang sombong selalu kecewa, tetapi bagi orang yang rendah hati, tidak ada masalah jika tidak ada orang yang menunjukkan penghormatan yang pantas kepadanya. Ini adalah suatu karakter yang baik, hatinya tentram dan dia menghormati semua orang. Melalui ucapan seorang Mursyid, dokter yang sesungguhnya, begitu banyak hal yang diambil dari pundak kita.

Grandsyaikh berkata jika kalian menempatkan dirimu setara dengan benda-benda mati, seperti bangku, karpet, atau kendi, kalian akan merasa tentram. Jika kalian melihat diri kalian setaraf seekor keledai maka tidak mungkin kalian marah kepada orang lain yang berlaku kasar. Kalian akan terbebas dari segala masalah. Gunung yang tinggi selalu mempunyai cuaca yang keras dan selalu dihalau badai, tetapi tidak demikian dengan dataran rendah. Jika kalian menempatkan diri dalam level seekor keledai, Allah akan mengangkatmu ke derajat tertinggi.

Abu Bakar ash-Shiddiq ra orang nomor dua setelah Rasulullah saw mempunyai iman yang lebih besar dibandingkan dengan seluruh ummat yang lainnya. Beliau berkata, “Wahai Tuhanku, Aku tidak memandang diriku lebih berhak untuk masuk Surga atau cukup kuat untuk bisa bertahan di Neraka. Aku memohon ampunan dan nikmat-Mu.” Kata-kata Sultan adalah sultannya kata-kata.
posted by Mevlana as Sufi at 7:51 AM 0 comments

Mursyid Mempermainkan Ego
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
dalam Mercy Oceans (Book Two)
Mursyid Mempermainkan Ego, Jangan Memandang Orang yang Berdosa sebagai Binatang


Kita selalu membutuhkan pertolongan Awliya. Mereka adalah khalifah Allah di muka bumi. Mereka mempunyai kekuatan untuk menolong ummat manusia. Grandsyaikh Abdullah Fa’iz ad-Daghestani berbicara mengenai pengetahuan yang sangat berguna bagi kita. Pengetahuan itu datang melalui dua jalur. Pertama dengan cara mendengar dari luar dan menggunakannya untuk mengarahkan seseorang ke jalan tertentu. Tetapi beberapa pengetahuan berasal dari hati dan ini lebih kuat dalam mendorong seseorang meraih sasarannya. Dengan kata lain, jika perintah berasal dari luar, ego tidak akan memperhatikannya, tetapi berasal dari dirimu sendiri, dia mempunyai efek yang lebih besar. Ego tidak suka diperintah, tetapi jika berasal dari hati, kalian melihatnya sebagai terhormat. Kalian bisa saja mendengar begitu banyak pelajaran, tetapi kalian menunggu perintah itu untuk datang dari dirimu sendiri.

Kebenaran dan Bimbingan Ilahi ada bersama jalan yang kedua. Awliya bisa berbicara, tetapi mereka juga mengirimkan inspirasi ke dalam hati. Lalu orang berpikir mengenai pengetahuan yang datang, ”Aku memikirkan hal ini. “ Semakin banyak kita dimurnikan gelombang hikmah Ilahi dapat ditangkap oleh telinga hati kita. Rasulullah saw bersabda bahwa jika seseorang dapat menjaga kemurnian hatinya dan beribadah dengan tulus selama 40 hari, maka dia akan dapat menangkap hikmah Ilahi dalam hatinya dan bisa berbicara dengan penuh hikmah. Hikmah adalah inti dari pengetahuan.

Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani berkata, mungkin untuk seorang hamba, Allah swt mengajarkan dia, atau Rasulullah saw mengajarkan dia, atau mursyidnya mengajarkan dia dengan inspirasi. Bagi seorang dokter sangat penting memiliki inspirasi untuk membuat diagnosis. Semakin banyak seorang dokter mempunyai hati yang bersih, dia akan mudah memahami suatu penyakit dan menyarankan pengobatannya. Ini jika mereka berada di luar cinta terhadap uang, hanya berpikir untuk menolong orang dan untuk meringankan penderitaan, maka Allah akan menghilangkan sekat dari hati mereka dan mereka akan berhasil. Dengan menolong orang, Allah swt akan menolongmu. Mata harus berada di luar kecintaan terhadap uang, jika mereka memberi, ambil, jika tidak, jangan meminta.

Tetapi orang yang paling bersifat materialistik adalah dokter. Yang paling disenangi Allah swt adalah orang yang menolong orang lain. Itu adalah kehormatan bagi setiap orang. Setiap hari kita harus berniat untuk menolong orang lain, jangan menolong dirimu sendiri, maka Allah akan menolongmu dan pertolongan-Nya sudah cukup. Jika semua orang di dunia berkumpul untuk menolongmu, mereka tidak bisa melakukan seperti apa yang dilakukan-Nya. Dia memberi kesenangan, keamanan dan kebahagiaan. Kalian tidak bisa membelinya, itu hanya untuk orang-orang yang tulus. Ini adalah realitas. Suatu ketika seorang Wali melihat orang yang mabuk sedang terbaring di atas tanah dengan menyebut “Allah , Allah, Allah.”

Beliau mengambil sapu tangan dan mulai membersihkan mulutnya. “Wahai Tuhanku, Aku memohon ampun atas nama orang ini.” Beliau pergi ke suatu ruangan dan mendengar Suara Ilahi yang tertuju kepadanya, “Wahai hamba-Ku, engkau membersihkan mulutnya demi Aku dan Aku membersihkan hatinya untukmu.” Kemudian beliau mendengar seseorang berdo’a diluar dan menangis memohon ampun. “Siapa kamu?” “Apa yang kamu lakukan?” Aku adalah orang yang mulutnya engkau bersihkan.” Meningkatnya keimanannya berarti rahmat meningkat dalam hati, jangan memandang orang yang berdosa seperti binatang. Itu hanyalah pandangan luar dari orang-orang yang terpelajar. Para Awliya melihat dengan rahmat. “Perantaraanku adalah untuk para pendosa yang besar,” sabda Rasulullah saw.
posted by Mevlana as Sufi at 7:51 AM 0 comments

Jadilah Seorang Pendengar
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
dalam Mercy Oceans (Book Two)


Dengan “bismillah” kita bisa mulai. Tanpa “bismillah” tidak ada kekuatan Ilahi yang bisa membantu hamba-hamba-Nya. Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani berbicara mengenai sebuah perilaku yang baik bagi setiap orang, beliau mengatakan bahwa kita adalah ummat manusia. Suatu ketika seorang yang terpandang datang berkunjung, dalam hatinya dia merasa bahwa dia adalah sesuatu. Kita harus menggunakan bahasa yang lain untuk berbicara kepadanya daripada berbicara kepada orang yang berkata, “Saya bukan apa-apa.” Grandsyaikh berkata kepadanya, “Bicaralah kepada kami, atau izinkan kami untuk berbicara.” Dia menjawab, “Anda boleh bicara, saya mendengarkan.”

Apakah kalian pikir menjadi seorang pendengar itu adalah sesuatu yang mudah? Benar atau salah. Setiap orang bisa berbicara, karena itu adalah suatu kesenangan bagi dirinya. Ego senang untuk berbicara dan menonjolkan dirinya, tetapi seorang pendengar harus bersifat rendah hati. Grandsyaikh membalas kepada orang itu, “Wahai saudaraku, orang yang mau mendengar adalah orang yang tidak sombong.” Seorang pendengar selalu mendapatkan sesuatu. Seorang pembicara terlebih dahulu harus menjadi pendengar, kalau tidak maka kata-katanya akan menjadi racun dan membawa penyakit bagi yang mendengarkan. Dalam setiap agama dan kepercayaan, hal pertama yang diberikan kepada para pengikutnya adalah, “dimohon untuk tenang dan diam.” Jika seseorang tidak bisa memandang orang lain lebih tinggi darinya, dia tidak bisa menjadi seorang pendengar dan dengan demikian dia tidak bersifat rendah hati. Allah bisa memberi hikmah kepada siapa saja, jika kalian mendengarkan, kita bisa mendapatkannya dari orang itu.

Menjadi seorang pendengar adalah karakteristik utama yang dimiliki seorang Rasul, karena mereka semua mendengarkan malaikat Jibril as. Pendengar adalah pembeli sedangkan pembicara adalah penjual. Pembeli adalah orang yang mendapat sesuatu. Sebuah perilaku yang baik bagi semua Rasul dan Awliya serta para ulama adalah memiliki paling sedikit satu orang yang bisa didengarkan. Jika seseorang tidak menerima bahwa orang lain lebih tinggi darinya, berarti dia mempunyai level yang sama dengan Setan, yang berkata, “Di alam semesta ini tidak ada yang lebih tinggi dariku.” Seorang anak kecil yang duduk di bangkunya di sekolah bersama seorang anak di depannya berpura-pura mengendarai kereta kuda yang membawa mereka pergi ke Aleppo. Anak yang di depan bertindak sebagai kuda yang dikekang, dan seperti inilah orang-orang yang tidak mau mendengar, mengalami kemajuan.

posted by Mevlana as Sufi at 7:51 AM 0 comments

Samudra-Samudra Wahyu tanpa Batas
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
Siprus, 22 Mei 2002

A'uudzubillaahi minasy-syaithaanir rajiim. Bismillaahir Rahmaniir Rahiim. La hawla wa la quwwata illa bi-llaahi-l ‘Aliyu-l Azhim... Dengan Nama Allah swt, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Perkasa. Semoga Allah mengaruniakan suatu pemahaman yang baik kepada Saya dan kalian.

Grandsyaikh, semoga Allah merahmatinya, selalu berkata, "Jika seseorang sakit, tak ada lagi yang terasa di mulutnya." Mula-mula kehilangan cita rasa; semua yang kalian berikan padanya untuk dimakan atau diminum, ia akan berkomentar, "Tak ada rasanya". Seandainya kalian memberinya permen pun, ia akan berkata, “Tak berasa.” Kalian beri sesuatu yang masam, ia akan berkata, “Tak ada rasanya.” Kalian beri asin, ia akan berkata, “Tak ada rasanya.” Atau kalian beri dia makanan yang dimasak dengan sangat baik pun, ia akan berkata, “Pahit.” Apakah kalian akan berpikir bahwa makanannya yang pahit atau diakah yang telah kehilangan pengecapan lidah di mulutnya? Karena ia sedang sakit dan penyakitnya telah menghilangkan citarasa atau kemampuan untuk membedakan antara asin atau manis dan tak ada lagi yang terasa.

Karena itulah, kini orang-orang telah kehilangan perasaan akan hal-hal yang baik. Sehingga, jika kalian mengatakan suatu hal yang baik, mereka akan berkomentar, "Itu tidak baik." Jika kalian mengatakan kebenaran, ia akan berkata, "Kau adalah seorang pembohong!" Saat kalian berbicara, ia akan mengatakan kebatilan sebagai kebenaran, mengatakan kebenaran sebagai suatu kebatilan, kebohongan sebagai suatu kebenaran, dan kebenaran dikatakan sebagai kebohongan. Ini karena mereka telah kehilangan timbangan dalam akal pikiran mereka, sehingga tak dapat membedakan lagi. Karenanya, adalah sulit untuk menasihati orang-orang semacam ini, karena ketika kalian berbicara kebenaran, mereka akan datang dan berkata bahwa itu bukan kebenaran. Sehingga sebagian besar orang-orang yang shiddiq (benar dan jujur) serta orang-orang terpercaya menolak untuk mendatangi masyarakat, dengan berkata, "Tidak lagi". Ikan menginginkan air yang jernih, air yang bersih yang dapat ditinggali, tapi nyamuk menyukai air kotor, tempat yang kotor. Orang-orang Shiddiq mencari suatu rata-rata, kebersihan rata-rata yang di dalamnya mereka masih dapat temukan pemahaman yang baik, atau setidaknya mendapatkan sambutan yang baik dari pendengar mereka. Jika lingkungan seperti itu tidak ada, orang-orang Shiddiq ini berkata, "Mengapa kita datang pada orang-orang yang penuh dengan ketidakpahaman ini?" Pemahamannya adalah kesalahpahaman. "Untuk apa kita datang untuk menyia-nyiakan waktu berharga kita dengan mereka. Tidak!" Dan mereka pergi dan lari.

Oleh sebab itulah, mungkin kini di Timur maupun Barat, kalian akan temukan begitu banyak orang mengklaim bahwa diri mereka adalah orang-orang religius atau orang-orang mistik, atau termasuk dalam suatu mazhab tasawwuf, atau thariqah (jalan Sufi); mereka mengklaim bahwa diri mereka berada di surga, tapi sebenarnya mereka di bawah tanah, bahkan tidak termasuk dalam golongan orang-orang permukaan (orang-orang kebanyakan), yaitu orang-orang level pertama yang jauh lebih baik dari pengaku-pengaku tadi karena orang-orang level pertama ini tidak menipu. Sedangkan pengaku-pengaku tadi mengklaim sesuatu yang tidak pernah mereka capai. Mereka menipu orang-orang. Karena menipu orang, level mereka adalah di bawah level rata-rata orang atau orang-orang level pertama. Para pengaku dan pengklaim tadi jatuh turun. Ini adalah masalah besar dan terbesar bagi manusia. Dan para Shiddiqin yang berbicara hikmah melarikan diri dari orang-orang, karena Shiddiqin tidak suka menipu orang, sedangkan orang-orang zaman sekarang telah menerima tipuan, menerima kebohongan sehingga jika mereka melihat suatu hakikat kebenaran, justru malah lari darinya. Jika seseorang berasal dari golongan para Shiddiqin, dan mereka akan berkata, "Itu menipu kami" dan akan lari darinya.

Sekarang, dunia ini adalah suatu dunia yang kotor. Kalian tak dapat bicara pada orang-orang, kalian tak dapat menasihati mereka. Di Timur dan Barat, sudah sangat sulit untuk menemukan suatu kelompok sejati dari orang-orang yang tulus, yang benar-benar mencari kebenaran, dan kalian hanya akan menemukan jumlah mereka dapat dihitung dengan jari.

HANYA ALLAH

Siapa yang mencari kebenaran, Allah akan mengaruniakan hidayah-Nya, dan mereka akan menemukan Shiddiqin, Haqqaniyyun (Orang-orang yang benar) yang akan menyelamatkan ruh-ruh mereka. Adalah penting untuk menyelamatkan ruh-ruh kita. Menyelamatkan wujud fisik kita bukan hal yang penting. Jika kalian berusaha menyelamatkan wujud fisik kalian, berusaha melindunginya, mungkin kalian akan mencapai 70 tahun, 80 tahun, 90 tahun, 100 tahun. Tidak lebih, dan kalian tak dapat lagi menyelamatkan wujud fisik kalian yang habis. Itu tidak penting dan adalah tidak mungkin untuk merawat wujud fisik kita selamanya. Karena itu, yang terpenting adalah untuk menyelamatkan ruh kita. Dan orang-orang telah tertipu. Begitu banyak penipu, dan dari kegelapan muncullah pemikiran jelek di kalbu orang-orang. Mungkin orang-orang ini akan menemukan seseorang yang berkata kebenaran, tapi dalam hati dan kalbu mereka muncul pikiran jelek, yang berkata, "Mungkin orang ini berusaha menipu kita." Habis! Sudah tertutup jalan ini bagi mereka dan mereka terpenjarakan dalam wujud fisik mereka. Tak ada jalan untuk mencapai ruh mereka. Mereka sudah tertutup dan bahkan kalian tak akan menemukan satu lubang kecil pun untuk mencapai (ruh) mereka. Dan ini telah membuat orang-orang jatuh dalam masalah-masalah dan memotong jalan bagi mereka untuk menyelamatkan ruh mereka, karena pikiran negatif telah menjadi suatu penghalang bagi keselamatan mereka. Mereka tak dapat menjangkau tangan orang itu yang berkata, "Orang itu menipuku."

Semoga Allah mengaruniakan kita pemahaman untuk memahami kebenaran, dan kita telah ditawari untuk memelihara kebenaran dan untuk berusaha mencapai kebenaran, kemudian untuk berusaha bersama dengan kebenaran, dan kemudian untuk menjadi orang-orang yang benar, karena orang-orang Rabbani atau kelompok orang-orang langit, mereka haruslah orang-orang yang sangat bersih, orang-orang yang sangat benar, sebagaimana seorang raja memilih beberapa orang untuk berada di sekelilingnya, staf-nya adalah orang-orang pilihannya. Seorang sultan atau seorang raja tak akan membawa seseorang dari kaum awam untuk berada di sekitarnya, tapi ia akan meminta orang-orang terpilih untuk berada di sekitarnya. Dan raja-raja tak pernah menyukai orang-orang imitasi, palsu, tidak. Hanya orang-orang ningrat sejati, yang berada di hadapan hadirat sang raja. Dan Allah, Ia mencari orang-orang yang paling terpilih saja untuk berada di Hadirat Ilahiah-Nya.

Alkisah, seorang raja pernah berkata pada seseorang untuk berada di majelisnya dan orang tersebut menolak dengan beralasan, "Bagaimana Paduka meminta saya untuk bersama Paduka, untuk menjadi pelayan Paduka, sementara Paduka adalah hamba dari dua pelayan saya? Paduka bukan seorang pelayan, tapi Paduka adalah budak dari dua budak saya. Bagaimana mungkin Paduka memanggil saya untuk berada bersama Paduka? Maqam atau tingkat Paduka adalah tingkatan budak." Sang Sultan pun menjadi begitu marah, "Mengapa kau mengatakan hal ini? Aku adalah sultan dan kau menuduhku sebagai budak dari dua budakmu?" Dan orang itu menjawab, "Ya, Saya-lah yang mengatakan pada Paduka bahwa Paduka adalah budak dari kedua budak saya." "Kau tahu siapa aku?" "Saya tahu Paduka." "Kau takut padaku atau tidak? Jika kau mengetahui diriku bahwa Aku adalah sang Sultan, bahwa Aku adalah penguasa suatu kekaisaran yang tersebar dari Timur ke Barat, dan kau berkata seperti itu, dan kemudian kau berkata bahwa kau tidak takut padaku?" "Ya, Saya mengatakannya pada Paduka. Saya tidak takut pada Paduka, karena Paduka adalah seorang makhluk, dan Saya pun makhluk. Saya takut pada Pencipta." Atau, "Paduka adalah seorang makhluk seperti saya, karena itu Saya pun tidak takut terhadap makhluk, tidak!"

(Seseorang berada di hutan, sedang bekerja, dan tiba-tiba seseorang yang lain mengendarai seekor singa menuju orang pertama, dan ia pun menjadi amat takut, gemetaran. Dan di atas singa itu duduk seseorang dengan jenggot panjang dan memegang seekor ular seperti cambuk di tangannya. Dan ia disandangkan dengan keagungan oleh Allah. Dan orang pekerja di hutan tadi gemetar melihat singa dan penampilannya. Orang yang duduk di singa bertanya, "Kau takut (terhadap singa), sedangkan aku mengendarainya? Jangan takut, ia pun makhluk ciptaan sepertimu. Jangan takut.")

Raja itu pun berkata, "Bagaimana mungkin aku menjadi budak dari kedua budakmu? Aku tak pernah menerima ini!" "Ya, wahai raja." "Aku adalah seorang raja perkasa, kenapa kau berkata seperti ini, kau tidak takut padaku?" "Tidak, karena Paduka adalah budak dari kedua budak saya", demikian ia mengulang pernyataannya. "Kepadaku kau mengatakan ini? Aku tidak terima." Orang itu berkata, "Ya, Saya bersikeras untuk mengatakan ini, Saya tidak akan mengubahnya. Paduka adalah budak dari kedua budak saya. Satu dari dua budak itu adalah amarah dan yang kedua adalah syahwat keinginan. Paduka adalah budak. Amarah adalah budak saya. Saya tak pernah membiarkan ego saya untuk marah, tetapi Paduka tak mampu melakukan itu. Kini Paduka membuktikan sendiri bahwa Paduka adalah budak, karena apa yang saya tundukkan, amarah saya, tidak Paduka jaga. Karena Paduka sedang dalam bayangan amarah sekarang--ingin membunuh saya, untuk mengusir saya, dan itu adalah bukti bahwa Paduka adalah budak dari amarah Paduka. Dan juga Paduka adalah raja, tapi Paduka tak pernah mengusir ego Paduka jika ego Paduka meminta sesuatu, Paduka tak pernah mampu untuk menghentikan keinginan Paduka, syahwat keinginan fisik.

Apa yang ego Paduka, atau apa yang wujud fisik Paduka minta, maka Paduka pun menjawabnya, "Ya, siap". Paduka telah memerintah rakyat atas nama ego paduka, "Bawa ini padaku, bawa itu padaku, Aku suka ini, Aku benci itu, Aku mengirim itu, Aku membunuh ini" semua hal yang ego Paduka dan keinginannya perintahkan atas Paduka, maka Paduka pun memenuhinya. Sedangkan saya tak pernah mengikuti syahwat fisik saya, tidak! Paduka adalah budak dari keinginan fisik Paduka. Jika saya menemukan sesuatu untuk dimakan, ego saya tak pernah berkata, "Ini roti kering". Tidak, ia tetap bahagia. Tetapi, jika seseorang menaruh pada meja makan kerajaan Paduka sekerat roti kering, Paduka pun akan segera membunuhnya, karena ego Paduka berkata, "Aku bukanlah mereka yang suka makan roti kering, kalian harus membawakan padaku makanan segar yang lezat agar aku menikmatinya". Apakah Paduka hidup untuk menikmati diri Paduka sendiri, ataukah Paduka hidup untuk penghambaan pada Tuhan Paduka?" dan orang itu sedang berbusana kebesaran, kekuatan dari Kebesaran Langit milik Allah, dan sang Sultan pun mulai gemetaran "Jadi jangan katakan pada saya, 'Datang dan beradalah bersamaku, datang dan jadilah staf-ku.' Tidak. Saya tidak mau menerimanya."

Karena itulah manusia kini hidup untuk (pemenuhan) keinginan-keinginan fisik mereka belaka. Sebanyak mungkin mereka meminta untuk memuaskan apa yang ego mereka minta, karena mereka berpikir bahwa mereka diciptakan hanya untuk memenuhi keinginan-keinginan wujud bumi mereka. Mereka berpikir bahwa mereka diciptakan hanya untuk memenuhi keinginan-keinginan fisik mereka. Itulah sasaran utama, tujuan utama yang diinginkan manusia untuk dicapai di abad 21 ini. Tak ada lagi yang bertanya, "Untuk apakah kami telah diciptakan, dan apa yang diminta Pencipta kami dari diri kami?" Tak ada lagi yang bertanya seperti itu. Karena itu, orang-orang telah menjadi seperti raja tadi--budak dari amarah mereka. Jika mereka marah, mungkin akan membunuh satu sama lain. Jika suatu negara marah pada negara lain, segera ingin untuk menghancurkan negara itu. Dan setiap orang ingin menjadi Nomor 1 untuk makan dan minum, dan berpakaian, dan menikmati diri mereka sendiri. Karenanya, orang-orang telah habis, mereka akan saling membunuh satu sama lain. Hal-hal seperti itu adalah ajaran-ajaran setan, ajaran setani, dan orang-orang telah kehilangan jalan-jalan Surga, dan mereka jatuh ke bawah. Mereka di permukaan bumi dan sedang menuju ke bawah bumi. Oleh sebab itu, jangan beranggapan bahwa masalah-masalah akan selesai! Jika pembuat masalah sebanyak diri kita sendiri, jangan beranggapan bahwa kedamaian akan muncul.

Grandsyaikh selalu menceritakan suatu kisah dari Sayyidina Sulaiman as dan dari Khatmul Anbiya'saw. Suatu saat Raja Sulaiman as bergerak dengan pasukannya dan ia melihat bahwa matahari tertutupi oleh sesuatu. Ia berpikir bahwa awan mendung telah muncul. Kemudian ia menyadari bahwa itu adalah sekumpulan Hud-hud, burung yang diberkati yang pernah membawa surat suci Raja Sulaiman u kepada Ratu Saba', suatu jenis burung yang dikaruniai Allah dengan suatu mahkota di kepalanya yang berbeda dari burung-burung lain. Sekelompok besar burung Hud-hud ini bergerak, dan berada di atas Sayyidina Sulaiman . Beliau pun memanggil ketua mereka, dan ia pun datang dan berkata, "As-Shalatu was-salamu 'alaika, Ya Nabi Sulaiman ." "Wa 'alaikumussalam, kemana kalian terbang?" Sang ketua berkata, "Wahai Raja Sulaiman u, kami pindah dari tempat pertama kami ke tempat lain, tempat kedua. Kami ingin pindah dari tempat kami sekarang, mencari rumah baru, tempat baru." Sayyidina Sulaiman u berkata, "Kenapa kalian meninggalkan tempat kalian yang pertama? Ada masalah apa?"

Ia berkata, "Sekarang, tempat itu menjadi kotor, dan udara yang kotor, tidak ada udara yang bersih saat ini di tempat kami, bau yang tak enak, dan begitu banyak kotoran di tempat kami. Kami tak mampu menanggung semua ini lagi, dan kami ingin pindah." Dan Sayyidina Sulaiman as bertanya, "Hal itu yang membuat tempat kalian menjadi kotor, apakah hal itu menyertai kalian atau telah kau tinggalkan di sana?" Ia berkata, "Tidak, masih bersama kami." "Sekalipun kalian berganti 100 tempat, jika hal yang membuat tempat pertama kotor masih bersama kalian, kalian pun akan mengotori 100 tempat. Karena itu pergilah kembali ke tempat pertamamu, jangan buat kotor tempat kedua dan ketiga!" Sayyidina Sulaiman as mengusir mereka. Pembuat masalah ada bersama burung-burung itu. 'Jika itu bersama kalian, tak perlu untuk mengubah tempat, kemana pun kalian pergi akan membuat kotor. Kalian tak akan pernah membiarkan satu tempat tetap bersih.' Karenanya, orang-orang saat ini yang membuat masalah, atau pembuat masalah, jika masih bersama manusia sekarang, maka adalah tidak mungkin kedamaian akan muncul. Tak mungkin meraih kedamaian sampai orang-orang mengikuti aturan-aturan Ilahi.

Di mana pun mereka membuat kotor, kotor, dan kotor. Sebagaimana kemarin kami berkata, "Setan mengencingi mereka dan berkata, 'Bersihkan otak, cuci', tapi malah membuat lebih banyak kotoran." Jika orang-orang tidak meninggalkan ajaran-ajaran setani ajaran-ajaran setani adalah sumber utama masalah selama orang masih mengikutinya, mereka akan tetap menderita; mereka akan berperang satu sama lain. Setiap bangsa akan berusaha memusnahkan bangsa lainnya, setiap bagian dari dunia ini. Timur ingin memusnahkan Barat dan untuk tidak menyisakan seorang pun, dan bagian Barat dunia ini pun ingin untuk menguasai orang-orang Timur agar tidak berada di sana, bagian Utara dunia ingin untuk menghancurkan bagian Selatan dunia, dan bagian Selatan pun ingin melenyapkan bagian Utara dari dunia. Dan selama manusia tidak mengikuti ajaran-ajaran langit, sebaliknya malah mengikuti jejak setan dan ajarannya, mereka akan terjatuh, dan lebih banyak masalah, lebih banyak krisis, dan lebih banyak kesengsaraan, lebih banyak kutukan akan datang pada mereka, dan mereka pun tak akan terselamatkan.

Semoga Allah memberkati kita dan mengirimkan pada kita, orang-orang dengan kekuatan spiritual untuk mengoreksi pemimpin-pemimpin kita dan untuk meluruskan segala sesuatunya dalam masyarakat kita, untuk melenyapkan mikroba-mikroba berbahaya dan sel-sel kotor dan berbahaya dari orang-orang, kemudian mereka pun akan meraih kedamaian. Jika orang-orang Rabbani semacam itu tidak muncul, maka hari esok akan menjadi lebih mengerikan, mencemaskan, dan lebih berbahaya daripada hari ini, dan hari esok pun akan dipenuhi lebih banyak masalah, dan lusa pun lebih banyak masalah.
Semoga Allah mengampuni kita.

Bi hurmati-l Habib. Faatiha.

posted by Mevlana as Sufi at 7:51 AM 0 comments

Setiap Orang akan Bersama dengan Orang yang Dicintainya
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
dalam Mercy Oceans (Book Two)


Hari ini kita berbicara tentang cinta kepada Allah dan Rasulullah saw. Grandsyaikh Abdullah Fa’iz ad-Daghestani menyampaikan sebuah Hadits yang mengatakan bahwa suatu hari Rasulullah saw sedang memberikan ceramah, tiba-tiba seorang Baduy mendatangi pintu masjid dan berkata, “Wahai Rasul, kapan Hari Akhir itu tiba?” Rasulullah saw tidak menjawabnya sehingga dia bertanya lagi, tetapi pertanyaan kedua pun tidak dijawab. Rasulullah saw menunggu Allah swt untuk memberikan jawaban karena hanya Allah yang mengetahui kapan Hari Akhir itu tiba. Kemudian malaikat Jibril as mendatangi beliau dan berkata, “Tanyakan kepadanya apa yang telah dipersiapkannya untuk Hari Akhir.” Orang itu menjawab, “Muhammad saw, Aku mencintaimu dan Aku mencintai Tuhanmu, tidak ada lagi yang lain, hanya itu.”

Kemudian Jibril as berkata kepada Rasulullah saw, “Katakan kepadanya bahwa dia akan bersamamu dan bersama Allah seperti dua jari yang bersama. Setiap orang akan berkumpul bersama orang-orang yang dicintainya di Hari Akhir.” Ketika mendengar ini Abu Bakar ra bertanya, “Ya Rasulullah saw, apakah tidak diperlukan suatu perbuatan tertentu, apakah cinta saja cukup?” Beliau menjawab, “Tidak, wahai Abu Bakar ra, tidak ada persyaratan untuk melakukan perbuatan tertentu, yang paling penting adalah cinta. Setiap orang akan berkumpul bersama orang-orang yang dicintainya.”

Jika seseorang dikuasai egonya dan perbuatannya sangat jahat, tetapi dia mencintai orang yang shaleh, dan tidak mencintai orang-orang jahat atau kejahatannya sendiri, maka dia akan mendapat manfaat melalui cintanya itu. Ketika Abu Bakar ra mendengar jawaban ini, beliau shalat dua rakaat sebagai tanda bersyukur kepada Allah swt dan berkata, “Ya Rasulullah saw, Aku tidak pernah mendengar kabar gembira sebagus ini.” Lihatlah pada kerendahan hati Abu Bakar ra, tak seorang pun dapat mencapai maqamnya. “Sampai sekarang hatiku masih terikat dan tidak bisa kulepaskan. Sekarang haditsmu yang melepaskannya. Aku merasa puas, hatiku sangat tentram. Dalam hidup ini Aku merasa tidak sabar tanpa kehadiranmu. Aku berpikir, jika ada suatu perbuatan yang menjadi persyaratan agar bisa bersamamu di Surga, bagaimana Aku bisa bersamamu? Perbuatan apa yang bisa menandingi apa yang telah kau lakukan?” Dan apa perbuatan kita yang bisa menandingi perbuatan Abu Bakar ? Oleh sebab itu Rasulullah saw telah memberikan kata-kata yang manis kepada orang-orang. Dalam Islam tidak ada hal yang lebih tinggi daripada Cinta.

Langkah pertama bagi kita adalah berseru kepada orang-orang agar mencintai Tuhan kita. Dalam hal ini kita dapat bertemu setiap orang dari berbagai agama, setiap orang yang mempunyai keyakinan terhadap Allah. Jika pertemuan di sini cukup, maka persetujuan dapat menyusul secara bertahap. Yang kedua kita katakan bahwa Allah memerintahkan kita untuk mencintai semua orang baik secara umum. Secara individu, kita tidak bisa memaksakan seseorang agar saling menyukai satu sama lain, tetapi dia harus setuju terhadap prinsip untuk mencintai semua orang yang baik. Kebenaran selalu di atas, yang salah selalu terbenam dalam kegelapan.
posted by Mevlana as Sufi at 7:51 AM 0 comments

Meminta dan Menerima
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
Selasa, 16 April 2002, Damaskus, Syria


Tidak baik bagi seorang murid untuk bertanya pada Syaikh-nya. Saat kami berbicara, kalian akan menemukan jawaban-jawabannya melalui asosiasi-asosiasi (suhbat) kami. Pertama-tama, kalian harus berusaha untuk bersama dengan Allah , dan siapa yang ingin bersama Allah haruslah suci. Dan kesucian dimulai dengan mengatakan, "A’uudzu bi-llaahi minasy syaithaanir rajiim", karena siapa yang bersama Setan adalah kotor; dia tak dapat bersama Allah . Allah tidak akan menerima orang itu. Dan setan selalu ingin mendekati kalian; ia suka untuk selalu menyertai kalian, sehingga ia tidak akan membiarkan kalian bersama Allah. Untuk apa setan mengejar-ngejar manusia? Untuk menaklukkan manusia, menduduki hati mereka, agar mereka tidak lagi mampu berpikir tentang Allah karena telah terduduki oleh setan. Ini adalah sebuah gelas. Jika ia penuh, kalian tak dapat menaruh apa pun lagi ke dalamnya. Jika hati kalian dipenuhi oleh setan bagaimana mungkin ia bisa untuk Allah ? Adakah ruang tersisa di hati kalian? Tidak mungkin. Karena itulah Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya agar mereka meninggalkan setan, agar mereka mengusirnya, sehingga hati sang hamba akan siap dan sedia bagi Allah .

Mereka berkata tentang hidup abadi kita, semua Grandsyaikh; dan semua ajaran-ajaran mereka adalah dari Rasulullah . Mereka hanyalah berusaha untuk menyiapkan para hamba demi kehidupan yang abadi, untuk keabadian. Mereka berkata bahwa adalah tidak penting (apa yang kalian minta), sehingga Saya pun bertanya pada kalian tentang apa yang kalian minta dari saya, karena kalian meminta (seperti) apa yang diminta seekor semut (dari seorang manusia), semut itu meminta sekeping kecil jerami atau roti atau hal-hal kecil semacam itu, meminta untuk ditunjukkan hal-hal tadi, dan mungkin sambil berkata, "Aku lapar, wahai manusia, hamba dari Tuhanku". Seekor semut hanya meminta hal-hal itu dari manusia, karena kapasitasnya adalah untuk itu. Dan jika Grandsyaikh membiarkan (kalian) untuk meminta ini atau itu, hal ini tidak lain hanya seperti semut-semut yang meminta tadi. Bahkan seluruh dunia ini hanyalah bagaikan sekerat kecil roti bagi seekor semut.

Karena itulah para Grandsyaikh ingin agar mereka yang datang dan menerima, dari hadirin, (untuk meminta) buat kehidupan abadi, keabadian. Jangan meminta apa pun. Duduklah dan dengar, simaklah. Jika kalian mendengar dan menyimak, maka kemudian kalian boleh bergerak dan berbuat. Jika kalian hanya mendengar dan menyimak, kalian tak dapat melakukan apa pun? Kalian meminta Allah dan ridha-Nya, dan itulah tujuan tertinggi bagi hamba-hamba. Seorang hamba hanya boleh bertanya, "Apakah Kau senang denganku?" Yang boleh diminta seorang hamba adalah hanya agar tuannya senang dengannya. Dan target tertinggi, sasaran bagi hamba-hamba adalah untuk mencapai keridhaan Allah, untuk membuat Tuhan mereka senang atas mereka. Tak lebih dari itu.

Sebagaimana Allah berkata pada Penutup para Nabi saw di malam Isra' Mi'raj, ketika beliau berada di Hadirat Ilahi, "Apa yang kau minta, wahai kekasih-Ku dan hamba-Ku yang paling terpuji? Jika cinta-Ku bersamamu--apa yang kau minta? Segalanya adalah untukmu. Aku senang denganmu dan untuk memberimu apa pun yang kau minta dan lebih dari itu, tak ada yang tahu." Seorang hamba harus mampu mengikuti jejak langkah Rasulullah saw, agar ia mampu mencapai suatu tingkatan, yang sesuai dengan tingkatan yang diinginkan dan dikaruniakan Allah baginya- karena tak ada yang mampu mencapai tingkatan Rasul. Tetapi, bagi setiap orang, ada tingkatan-tingaktan dan maqam yang tersedia bagi mereka. Menurut tingkatan mereka masing-masing, Allah memberi dengan Kebesaran-Nya, sesuai dengan tingkatan hamba-hamba-Nya, dengan bertanya, "Wahai hamba-Ku, apa yang kau minta? Akan Ku-karuniakan kepadamu dan apa yang kau minta tidak berarti apa-apa (dibandingkan dengan) apa yang Ku-berikan kepadamu."

Karena itulah kami berusaha untuk memberikan sesuatu pada orang-orang untuk mendapatkan suatu pemahaman baru. Pemahaman lama adalah untuk masa lalu, sedangkan manusia zaman ini, manusia abad ini, membutuhkan ceramah dan asosiasi semacam ini agar tertarik. Kekuatan ini kini sedang menyala. Tadinya mati, dan kini muncul, dan kekuatan ini akan terus bertambah, tidak berhenti, tidak berkurang, tapi terus bertambah. Karena itu, ini adalah kabar baik buat kalian sebagai suatu permulaan.
Kami telah dikirim ke Damaskus dan asosiasi (suhbat) kami saat ini di Damaskus tidaklah seperti di Siprus, Turki, Inggris, Timur atau Barat, karena menurut penampakan-penampakan Ilahiah yang muncul di Damaskus, yaitu tajalli-Nya memang berbeda dari yang lain. Tidak dapat dibandingkan. Dan kalian berdatangan dari jauh untuk mencapai dan mendengar hal-hal semacam ini. Kini, ia menjadi lebih berpengaruh pada kalbu dan pikiran kalian, lebih dari sebelumnya, karena waktu sedang berjalan, suatu perubahan pasti terjadi di muka bumi. Periode tirani, kegelapan dari kebodohan seperti malam yang tengah berlalu, dan kini siang hari, fajar tengah mulai memberikan cahayanya dan cahaya itu tak akan dapat dihentikan. Semua tirani telah meninggalkan Allah dan membuat manusia menyembah mereka, bukan Allah. Dan manusia tengah berada di kegelapan malam, tak mengetahui apa itu hakikat. Mereka bersama tiran-tiran ini, tapi kini akan menjadi jelas dengan siapa mereka dan apa yang telah mereka lakukan. Dan semua perwakilan Setan dan pendukung-pendukung kerajaan saitan di muka bumi akan gemetar oleh cahaya-cahaya baru dari hari yang baru, periode yang baru, yang akan mencapai ke Sayyidina Mahdi as dan 'Isa as. Semoga Allah mengaruniai kita kesempatan bersama mereka pada waktu itu nanti. Berdo’alah untuk ini. Semoga Allah mengampuni kita.

* Khutbah ini telah ditranskripkan dan bahasa pertama Maulana bukan bahasa Inggris
(dari the-heart.net)


posted by Mevlana as Sufi at 7:51 AM 0 comments

Mengenakan Turban/Sorban
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
dalam Mercy Oceans (Book Two)


Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani berkata kepada Saya, “Wahai Nazhim Efendi , di masa Rasulullah saw gelar shiddiq hanya diberikan kepada Abu Bakar ra di antara 124.000 sahabat. Shiddiq adalah derajat tertinggi bagi Awliya. Sekarang kita tinggal di akhir zaman. Allah swt membuka Samudra Rahmat-Nya dan gelombang raksasa melanda ummat Rasulullah saw. Jika seseorang mengenakan segulungan turban di atas kepalanya, dia akan diberi ganjaran setara dengan Shiddiq. Untuk setiap gulungan berikutnya, ganjarannya semakin berlipat.”

Grandsyaikh kita, Abu Ahmad As-Sughuri menggunakan kain sepanjang 37 hasta untuk turbannya, Saya menggunakan 15. Setiap sunnah sangat berharga di masa sekarang. Sebelumnya tidak terlalu penting untuk mengenakan turban, karena semua telah memakainya. Alhamdulillah, Allah memberi kita mahkota Islam untuk dikenakan di kepala kita. Tidak ada penutup kepala yang lebih baik dibandingkan turban. Setiap Rasul mengenakannya dengan bentuk yang sangat indah dan berlainan satu sama lain. Puji syukur kepada Allah atas nikmat ini.

posted by Mevlana as Sufi at 7:51 AM 0 comments

Muhiy-id-Din dan Malaikat
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
dalam Mercy Oceans (Book Two)


Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani bercerita tentang Syaikh Muhiy-id-Din yang melakukan perjalanan dengan sebuah kapal di tengah laut yang mengamuk. Beliau menulis dalam sebuah kertas, “Wahai laut, engkau harus tenang karena lautan yang besar berada padamu.” Kemudian beliau menjatuhkan kertas itu ke dalam laut dan dengan segera laut menjadi tenang. Tiba-tiba seekor ikan yang besar muncul dan berkata, “Wahai Muhiy-id-Din , Aku mempunyai sebuah pertanyaan, jika seorang wanita mempunyai suami yang tiba-tiba berubah menjadi batu, apakah dia harus menunggu selama 3 bulan (masa idah dalam perceraian) atau 4 bulan dan 10 hari (masa idah dalam kematian)?” Muhiy-id-Din k tidak menjawab, tetapi beliau mengerti bahwa pertanyaan itu muncul karena beliau telah menyebut dirinya Laut yang Besar.

Segera beliau melakukan sujud dan memohon ampun. Itu bukan ikan yang biasa, tetapi malaikat yang dikirim Allah untuk mengajarinya bahwa dalam setiap tingkat pengetahuan ada tingkatan yang lebih tinggi lagi dan tidak ada batasnya. Kalian tidak bisa menemukan batasan bagi ilmu pengetahuan. Untuk setiap kesombongan yang kalian lakukan, akan datang sesuatu untuk menunjukkan betapa lemah dirimu. Allah dapat memberi lebih dari yang kalian miliki kepada seseorang. Allah menghinakan dan menghancurkan Namrud dengan seekor nyamuk yang lemah. Rasulullah bersabda, “Mungkin saja seorang yang lusuh dan berdebu yang tidak disukai oleh orang lain, jika dia meminta kepada Allah, do’anya akan dikabulkan.”

Ini mengajarkan kepada kita agar menjadi orang yang rendah hati terhadap Tuhan kita. Orang yang rendah hati selalu berada dalam keselamatan di dunia dan akhirat. Jangan tunjukkan kekuasaanmu atau jabatanmu, atau kekayaanmu kepada orang-orang. Mungkin saja semuanya akan diambil dari dirimu dan diberikan kepada orang lain. Jangan memandang rendah orang lain karena Allah akan merendahkan kalian dan menaikkan derajat yang lain. Itu adalah atribut-Nya, Dia Maha Menaikkan dan Maha Merendahkan.

bihurmati habib, fatihah
posted by Mevlana as Sufi at 7:51 AM 0 comments

Jangan Melihat Kesalahan Orang Lain / Bagaimana Cara agar Terbebas dari Karakter Buruk
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
dalam Mercy Oceans (Book Two)


Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani berkata bahwa semua nasihatnya bagaikan peluru senapan, yang diberikan kepada kalian untuk digunakan melawan musuh. Tetapi kalian hanya mengambil dan menyimpannya. Padalah kami memberimu untuk digunakan, itulah maksud kami. Kami memberimu peluru untuk berbagai macam sasaran, ada yang dekat dan ada pula untuk sasaran di balik gunung. Namun demikian, tetap saja Grandsyaikh berkata, “Aku tidak menemukan orang yang menjaga nasihatku.” Saya berharap kalian semua memperhatikan nasihatnya.

Grandsyaikh bertanya apakah yang tidak disukai oleh Allah dan Rasulullah saw? Kalian harus tahu, dan bila sudah tahu, jagalah dirimu dari hal itu. Beliau menjawab bahwa yang tidak disukai Allah dan Rasulullah saw adalah membicarakan kesalahan orang lain. Allah swt telah melarang hal ini. Ini adalah sebuah dosa besar dan merupakan perbuatan terburuk yang dilakukan oleh seseorang. Kalian juga mempunyai kesalahan, setiap orang mempunyai banyak kesalahan, dan kalian harus mempertanggungjawabkan kesalahan kalian kepada Allah . Jadi mengapa kalian melihat kesalahan orang lain? Kalian harus menghilangkan kesalahan kalian sendiri.

Bila seseorang melihat kesalahan orang lain, rasa hormat kepadanya akan hilang dari dalam hatinya, dan kecintaan terhadapnya pun akan musnah. Oleh karena itu, hal ini sangat dilarang. Begitu banyak kesalahan yang dilakukan orang lain, sehingga bila kita memperhatikannya semua, maka semua orang akan menjadi musuh kita. Hal ini akan memecah belah ummat, kemudian Setan akan menangkap kita. Islam menyerukan agar kita membangun rasa cinta dan hubungan yang kuat di antara sesama manusia, saling melindungi dari kejahatan dan memperkuat keimanan. Dengan demikian, kita diperintah kan untuk beribadah secara berjamaah sehingga iman kita akan menjadi lebih kuat.

Grandsyaikh berkata bahwa kita harus berhati-hati karena Setan akan berusaha membuat ibadah kita tidak diterima. Ibadah kita tidak diterima bila kita meminta suatu imbalan setelah melakukannya. Kita harus memohon agar ibadah itu hanya untuk mendapat keridhaan Allah semata. Ketika seluruh keinginan ego telah hilang, maka seseorang bisa disebut hamba Allah. Mencari imbalan dalam beribadah bagaikan orang yang menyembah berhala. Ketulusan berarti hanya mengharapkan ridha Allah .

Begitu banyak orang yang beribadah kemudian melakukan keinginan egonya. Ini berarti bahwa mereka adalah hamba Allah dan juga hamba Setan. Itu adalah jalan yang berbahaya. Sampai kita menjadi bersih dari karakter buruk, kita tidak dapat terbebas dari Setan, dunia ini, ego kita, dan hasrat untuk menonjolkan diri. Sampai kalian tahu di mana kalian menapakkan kakimu, apakah di jalan yang benar atau salah, hati kalian masih perlu diluruskan. Kalian harus tahu dan menyadari di mana kalian meletakkan kakimu. Dalam tidur yang singkat bisa saja terjadi bencana yang berbahaya. Oleh sebab itu kita perlu untuk selalu mengulang kalimat syahadat, untuk menempatkan diri kita di jalan yang benar.

Sampai kita terbebas dari karakter buruk, kita tidak bisa memperoleh iman yang sejati, dan jika tidak ada iman yang sejati, maka tidak ada kehidupan yang sejati, kehidupan yang kekal. Siapa pun yang bisa mewujudkan kehidupan sejati di dunia ini, maka dia akan hidup di makamnya, tubuhnya tidak akan berubah menjadi debu. Itu adalah tanda dari Allah bahwa dia telah meraih kehidupan sejati. Bagaimana kita dapat membebaskan diri dari karakter buruk? Salah satu karakter buruk adalah berbangga hati. Iblis diusir dari Kehadirat Ilahi karena kebanggaannya. Jika seseorang tidak cukup rendah hati untuk menerima pelajaran dari seseorang, berarti dia merasa bangga. Kalian harus memiliki guru thariqat untuk menunjukkan kepadamu bagaimana melaksanakan syariah dalam dirimu. Guru itu belajar dari Syaikhnya bagaimana menggunakan syariah pada dirinya. Tidak ada ahli bedah yang tidak pernah menyaksikan operasi pembedahan, tetapi hanya belajar lewat buku-buku.

posted by Mevlana as Sufi at 7:51 AM 0 comments

Tidak Ada Ciptaan Allah yang Sia-Sia
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
dalam Mercy Oceans (Book Two)


Saya mendengar Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani berkata bahwa Allah swt tidak menciptakan sesuatu tanpa hikmah tertentu di belakangnya. Setiap makhluk, bahkan atom pun tanpa kecuali mempunyai manfaat tertentu. Bisa jadi atom itu yang melengkapi alam semesta. Apa hikmah di balik seekor nyamuk yang menyebabkan gatal-gatal bagi manusia? Dengan gatal-gatal ini, Allah menghilangkan gatal-gatal di neraka. Setiap masalah bagi seseorang berasal dari dosa yang tidak dapat diampuni tanpa melalui masalah itu. Atau bisa juga masalah itu timbul untuk meningkatkan iman kita, karena dengan adanya masalah itu kita dituntut agar bisa lebih bersabar sehingga kita mendapat cahaya keimanan yang lebih banyak.

Tidak ada yang diciptakan dengan sia-sia. Setan juga diciptakan dengan manfaat tertentu bagi kita, karena tanpa memeranginya kita tidak akan meraih suatu peningkatan atau derajat yang tinggi. Allah tidak memberi kita sesuatu yang tidak sempurna. Semuanya diciptakan demi kelengkapan manusia. Semua yang kalian lihat di alam semesta ini merupakan sebab untuk kesempurnaan. Di alam semesta ini terdapat suatu keseimbangan sedemikian rupa sehingga jika ada satu keluarga serangga yang hilang, maka keseimbangan alam akan terganggu. Sekarang para ahli Biologi menyebutnya dengan istilah ekologi, dan itu menunjukkan bahwa kata-kata Grandsyaikh didengar.

posted by Mevlana as Sufi at 7:51 AM 0 comments

Hadir Sepenuhnya
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
dalam Mercy Oceans (Book Two)


Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani berkata bahwa jika kalian ingin mendapat manfaat dari suatu pertemuan, kalian harus menghadirkan tubuh dan hatimu secara keseluruhan. Tetapi kebanyakan orang bagaikan kendi yang kosong, duduk. Pengetahuan Ilahi tercurah jika hati kalian ikut hadir, berarti jika kalian mendengar dengan telinga bathin, maka kalian akan mendapat Kekuatan Ilahi. Grandsyaikh berkata bahwa bila dalam suatu pertemuan ada seseorang yang menggaruk kepalanya, maka orang yang berbicara akan turun tujuh derajat. Dia bisa kehilangan curahan Kekuatan Ilahi. Kadang beberapa orang berbicara sendiri-sendiri, sementara yang lain menoleh ke pintu untuk melihat siapa yang datang atau pergi, yang lainnya lagi melihat jam, sehingga Kekuatan yang diperolehnya semakin lemah. Grandsyaikh selalu merasa tertanggu dengan semua itu. Jika kalian peduli, hati Saya berada di tangannya, dan beliau selalu berhubungan dengan Rasulullah saw, dan Rasulullah saw berada dalam Kehadirat Ilahi.

Grandsyaikh berbicara mengenai dua orang murid di kampung halamannya. Yang pertama sedang melaksanakan khalwat, sedangkan yang kedua atas perintah Syaikhnya suatu hari datang untuk mengajak saudaranya berjalan keluar dari desa tersebut. Mereka berdua berjalan sambil ngobrol mengenai pentingnya instruksi spiritual. Akhirnya mereka tiba di lapangan tempat orang pertama melakukan khalwat. Ketika mereka mendekat, orang yang berkhalwat melirik ke sekeliling lapangan. Salah seorang di antara mereka berkata, “Wahai Saudaraku, kembalilah pada pengasinganmu, engkau mengabaikan mutiara demi lapangan.” Rentang masa perhatian kita sangat pendek. Seorang psikolog mengatakan, pertama lima belas menit, kemudian meningkat sampai puncaknya, lalu menurun. Grandsyaikh menasihati agar kita tidak melakukan pertemuan lebih dari 3 jam, walaupun orang-orang yang hadir bisa bertahan atau merasa tertarik. Semakin singkat, semakin banyak manfaat yang bisa diperoleh, apalagi di masa sekarang.

posted by Mevlana as Sufi at 7:51 AM 0 comments

Muhiy-id-Din dan Malaikat
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
dalam Mercy Oceans (Book Two)


Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani bercerita tentang Syaikh Muhiy-id-Din yang melakukan perjalanan dengan sebuah kapal di tengah laut yang mengamuk. Beliau menulis dalam sebuah kertas, “Wahai laut, engkau harus tenang karena lautan yang besar berada padamu.” Kemudian beliau menjatuhkan kertas itu ke dalam laut dan dengan segera laut menjadi tenang. Tiba-tiba seekor ikan yang besar muncul dan berkata, “Wahai Muhiy-id-Din , Aku mempunyai sebuah pertanyaan, jika seorang wanita mempunyai suami yang tiba-tiba berubah menjadi batu, apakah dia harus menunggu selama 3 bulan (masa idah dalam perceraian) atau 4 bulan dan 10 hari (masa idah dalam kematian)?” Muhiy-id-Din k tidak menjawab, tetapi beliau mengerti bahwa pertanyaan itu muncul karena beliau telah menyebut dirinya Laut yang Besar.

Segera beliau melakukan sujud dan memohon ampun. Itu bukan ikan yang biasa, tetapi malaikat yang dikirim Allah untuk mengajarinya bahwa dalam setiap tingkat pengetahuan ada tingkatan yang lebih tinggi lagi dan tidak ada batasnya. Kalian tidak bisa menemukan batasan bagi ilmu pengetahuan. Untuk setiap kesombongan yang kalian lakukan, akan datang sesuatu untuk menunjukkan betapa lemah dirimu. Allah dapat memberi lebih dari yang kalian miliki kepada seseorang. Allah menghinakan dan menghancurkan Namrud dengan seekor nyamuk yang lemah. Rasulullah bersabda, “Mungkin saja seorang yang lusuh dan berdebu yang tidak disukai oleh orang lain, jika dia meminta kepada Allah, do’anya akan dikabulkan.”

Ini mengajarkan kepada kita agar menjadi orang yang rendah hati terhadap Tuhan kita. Orang yang rendah hati selalu berada dalam keselamatan di dunia dan akhirat. Jangan tunjukkan kekuasaanmu atau jabatanmu, atau kekayaanmu kepada orang-orang. Mungkin saja semuanya akan diambil dari dirimu dan diberikan kepada orang lain. Jangan memandang rendah orang lain karena Allah akan merendahkan kalian dan menaikkan derajat yang lain. Itu adalah atribut-Nya, Dia Maha Menaikkan dan Maha Merendahkan.

bihurmati habib, fatihah
posted by Mevlana as Sufi at 7:51 AM 0 comments

Bak Pegunungan Himalaya
Kadang-kadang Saya adalah orang yang sederhana dan ‘mudah’, kadang-kadang bak Pegunungan Himalaya—tak seorang pun yang mampu melaluinya.”
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
Siprus, 25 Mei 2002


Destur ya Sayidi, Meded. Meded, ya Sulthanul Awliya'. Meded, ya Rijalullah.
Bismillahir Rahmanir Rahim, Dengan Nama Allah, Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.
Kita hidup adalah untuk Allah swt. Siapa yang hidup untuk Allah akan terhormat. Siapa yang hidup bagi dirinya sendiri, untuk egonya, maka dia telah melakukannya untuk Setan. Meded ya Sulthanul Awliya.

Kita telah diperintah, dan misi utama kita adalah untuk memerangi kejahatan dan kemungkaran. Adakah suatu agama yang keberatan dengan kata-kata saya ini? Saya bertanya, "Setiap agama, setiap nabi datang untuk apa?" Untuk menyingkirkan kejahatan, karena kejahatan adalah kesultanan setan dan pekerjaannya. Iblis mendukung kejahatan untuk menegakkan kesultanan setani di mana-mana, sedangkan orang-orang Rabbani yang merupakan orang-orang suci datang untuk menyelamatkan manusia dari tangan-tangan setan dan untuk menyelamatkan mereka agar tidak jatuh ke dalam samudera-samudera kemungkaran. Siapakah yang tak setuju dengan ini? Maka dia pasti seorang agen Setan. Orang-orang religius sejati, mu'min sejati harus menerima ini sebagai tujuan dan cita-cita mereka, untuk membersihkan seluruh dunia dari kejahatan dan untuk kembali merengkuh kekuatan kerajaan Langit, karena kerajaan setani di muka bumi selalu ingin memerangi kerajaan Langit. Manusia tak akan pernah meraih apa pun dari nikmat Ilahiah di sini dan di akhirat, hingga mereka memahami hal ini.

Kini, kita hidup di abad 21. Orang-orang, sarjana-sarjana dan ilmuwan mereka, mereka semua mengamati sekeliling diri mereka dan melakukan penelitian atas segala sesuatu. Mereka melakukan penelitian atas alam, dan alam terdiri atas bebatuan, lautan-lautan, tanaman, dan hewan. Manusia dikelilingi oleh tiga dunia, dunia benda mati, dunia tanaman, dan dunia hewan. Dunia benda mati terdiri atas batu-batu dan lautan. Sarjana dan ilmuwan telah melakukan riset mendalam atas dunia ini, dan mereka menulis ratusan ribu buku, ratusan volume, ribuan volume buku, yang dengannya mereka memenuhi perpustakaan-perpustakaan, sehingga tak mungkin bagi seseorang untuk menjangkau dan untuk mempelajari seluruh apa yang tertulis di sana. Tak mungkin. Dan berusaha untuk membuat sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin adalah suatu kebodohan. Siapa yang mengejar sesuatu yang tak mungkin, dan siapa yang meminta untuk menjadikan suatu yang tak mungkin menjadi mungkin, maka mereka pastilah orang-orang yang dungu. Tak mungkin tak dapat menjadi mungkin. Daya ingat seseorang, otak seseorang, tak dapat menampungnya, dan daya pikir seorang manusia tak akan dapat membuat sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin.

Kemudian setelah apa yang kita katakan sebagai dunia yang tak hidup ada pula dunia yang lain. Dunia tanaman. Berjenis-jenis tumbuhan dan tanaman yang tak terhitung jumlahnya. Kalian tidak mengetahui nama-nama mereka, tapi setiap tanaman pasti memiliki identitasnya masing-masing. Pasti! Karenanya, ribuan bahkan tak terhitung jumlahnya jenis-jenis tanaman yang tidak kita ketahui. Yang kita ketahui hanyalah pohon pinus, pohon pinus merah, eucalyptus, pohon hujan, pohon almond, pohon ek. Saya berkata bahkan Syaikh Hisyam pun ketika ia datang ke kebun saya, ia bertanya kepada saya, "Apa ini dan apa itu?" Sepuluh jenis tanaman di kebun kami. Bahkan Syaikh Hisyam Effendi yang adalah seorang "Syaikh Ensiklopedia" masih bertanya kepada saya, "Apa ini?" Saya jawab, "Ini pohon kentang." Dan ia berkata, "Saya belum pernah melihat pohon seperti itu." (jawab Saya) "Ya, kau harus menunggu 6 bulan di sini, sampai engkau lihat (buah) kentangnya bermunculan di situ, seperti pohon tomat." Ia saat itu berpikir bahwa tomat tumbuh di pohon seperti kentang.

Begitu tak berhingganya dunia tanaman. Tak terhitung! Tak seorang pun memiliki kepala yang sanggup mengetahuinya. Tak seorang pun dapat mengetahui semuanya. Dan mungkin telah ditulis ribuan buku tentang tanaman yang tak seorang pun mampu mengingatnya di dalam otaknya. Bahkan, sekalipun kemudian manusia menemukan dan membuat suatu sistem, yang kalian sebut komputer. Komputer pun tak mampu menjangkau dan menyimpan seluruh pengetahuan (tentang tanaman) ini. Komputer bekerja, dan kemudian berkata, "Cukup bagiku, tidak lagi!" Karena komputer pun memiliki limit dan batasannya. Dan manusia malah berusaha menaruh apa yang ada dalam otak mereka ke dalam komputer. Apa untungnya kalian menyimpan semuanya dalam komputer. Maka, itu adalah buat komputer, dan bukan buat kalian. Tetapi, manusia demikian bangga dengan komputer-komputer mereka. Tidak, itu bukan buat kalian, itu (yang disimpan ke dalam komputer-red) adalah untuk mesin itu.

Setelah itu, muncul pula dunia tak terbatas lainnya, dunia hewan. Uuf! Suatu dunia yang memiliki tingkatan lebih tinggi dari dunia bebatuan dan dunia tanaman; itulah dunia hewan. Dalam dunia hewan, pada setiap tahap (perkembangannya-red) muncul pula kesempurnaan yang lain. Bukan suatu permainan atau gurauan semacam yang dikemukakan Darwin. Ia mengemukakan teorinya hanya lewat cerita-cerita dongeng, dan seluruh universitas mengajarkan teori evolusi. Suatu teori tak masuk akal yang pernah dikemukakan orang, di mana ia mengatakan manusia berasal dari kera. Dan beberapa kera yang tengah ditawan di kebun binatang pernah saya lihat dalam keadaan sedang duduk dan berpikir. Saya bertanya kepada mereka, "Apa yang kau pikirkan?" Ia (kera) berkata, "Saya berpikir kalau suatu saat nanti Saya dapat menjadi seorang manusia. Bagaimana jika Saya dapat (menjadi manusia)?" (Saya bertanya) kepada gorilla yang sedang duduk, atau simpanse, atau orang utan, "Apa yang kalian pikirkan, wahai temanku?" (Mereka menjawab), "Wahai Syaikh-ku, kami berpikir jika seandainya suatu saat kami bisa menjadi seorang manusia, dan kami pikir kami tak akan mampu menanggung beban sebagai manusia." "Ya!"

Begitu banyak hal tak berguna memenuhi Timur dan Barat, Utara dan Selatan, pada setiap pusat yang mengklaim dirinya sebagai pusat pengetahuan. Tidak, sepanjang mereka percaya pada Darwin, maka pusat-pusat itu adalah kutub-kutub kedunguan, karena mereka mencari dan mempercayai sesuatu yang tak pernah terjadi. Karena itulah, Darwin selalu melihat lukisan/foto dirinya sendiri dan merenung. Saat melihat lukisan dirinya, "Apa yang kau pikirkan?" "Aku mencoba mencari dari jenis monyet apakah aku berasal. Kakek moyangku mungkin adalah orang utan." Maka Saya berkata, "Anda tidak terlalu mirip seperti orang utan; bagi saya, Anda lebih mirip dengan gorilla yang demikian buruk. Saya pikir Anda tidaklah lebih jelek dari gorilla." Maafkan saya karena Saya menceritakan hal ini sebagai suatu lelucon, tetapi ini adalah suatu kenyataan. Saya menyesal bahwa universitas-universitas yang mengklaim diri mereka sebagai pusat pengetahuan malah percaya pada teori yang demikian bodoh itu, dan lebih-lebih menempatkannya sebagai nomor satu dari yang lain dan menjadikan yang lain didasarkan atas teori evolusi Darwin ini.

Itu adalah suatu hal yang amat memalukan bagi pusat-pusat ilmu, bagi universitas-universitas dan bagi kementerian-kementerian pendidikan dan seluruh pemerintahan, cela terbesar dan juga alasan terbesar untuk turunnya kutukan dari Langit, yang telah membuat Allah menjadi amat murka atas mereka.

Kini kita beralih dari pembicaraan tentang teori evolusi ini dan kembali kepada apa yang kita bicarakan semula. Dunia Hewan. Kalian tak mampu menjangkaunya. Mari kita mulai dari kupu-kupu. Jika kupu-kupu saja ada ribuan jenisnya, dan ada ribuan desain pola sayap mereka, maka bagaimanakah ini terjadi? Saya baru berkata tentang satu jenis hewan, yang merupakan anggota dunia hewan. Bagaimana pula dengan yang lainnya? Kalian pikir, kepala kita dapat mengetahui semua ini, sambil melakukan riset tentang hal ini, lalu ribuan dan ribuan buku ditulis? Apa untungnya?

Dan kemudian muncul dunia kita: manusia. Dunia manusia adalah yang terhebat dan paling sempurna. Mungkin ia adalah titik puncak kesempurnaan. Namun, sekalipun dunia manusia adalah yang paling maju dan ciptaan yang paling sempurna di muka bumi, hanya sedikit orang yang meneliti mereka. "Mengapa Anda katakan hal ini, oh, Syaikh?" Ya, saya mengatakan hal ini atas otoritas yang ada pada saya, karena, ya, memang orang-orang telah melakukan riset pada wujud fisik badan manusia, yang merupakan eksistensi mereka sebagai materi. Riset mereka hanya terbatas pada bagian materi yang kita sebut sebagai wujud fisik manusia. Mereka hanya berhenti di situ, dan menulis ribuan dan ribuan buku tentang wujud fisik manusia. Tetapi, di luar keberadaan fisik kita yang telah memberikan kita wewenang untuk menjaga segala sesuatu di muka bumi ini dan menggunakannya untuk kepentingan kita, kita tidak memberikan nilai pada riset-riset tentang sisi lain dari keberadaan kita. Bahwa keberadaan fisik kita adalah bagaikan sebuah pesawat terbang, kita hanya melihat pesawatnya, tapi kita tidak melihat siapa pengemudinya, siapa pilotnya. Ya, suatu pesawat Boeing, pesawat Boeing paling maju, 747? Kita memperhatikan dan mengatakan bahwa jika pesawat ini membawa 500 penumpang, dan segala sesuatu di dalamnya, terbang naik 10 mil, 20 mil ke atas, kemudian terbang dengan kecepatan 1000 km/jam, maka kita terpesona. Kita kagum hanya pada materi teoretis dari pesawat itu, tapi kita tak pernah bertanya, "Bagaimana ia bisa terbang? Dengan sendirinya? Bagaimana itu mungkin?"

Kini mereka datang dengan Samsonite (merek tas mewah-red) mereka seperti karavan, datang ke sini. Krunya datang. Jika tak ada orang-orang ini di dalamnya, material ini tak akan dapat bergerak dari tempat awalnya. Orang-orang hanya perhatian pada penerbangan dan pesawatnya, tapi tidak peduli pada siapa yang membuatnya terbang, siapa yang mengemudikannya. Wujud fisik kita berada dalam suatu kesempurnaan, tapi bagaimana sebenarnya ia bekerja? Bagaimana kita melihat dan memandang? Bagaimana kita mendengar dan menyimak? Bagaimana kita mencium dan memahami, bagaimana kita mengecap, merasakan dan memahaminya? Bagaimana tangan-tangan kita bergerak naik dan turun, bagaimana tubuh kita berlari dan berhenti? Bagaimana bentuk fisik kita telah bekerja untuk berkembang biak? Apa itu? Bagaimana ia akan berubah? Tak ada yang bertanya hal-hal itu. Dan suatu rasa malu yang besar bagi seluruh pusat-pusat ilmu: universitas dan akademi, karena mereka tidak pernah menanyakan hal itu: siapa Dia? Tak ada yang bertanya tentang kepribadian dan identitas hakiki dari manusia. Ini adalah cela terbesar manusia yang hidup di abad 21 ini, dan aib terbesar! Hendaknya mereka malu telah menyangkal segala sesuatu yang bersifat tak dapat disentuh, tak dapat dilihat atau dirasakan atau didengar atau dicium. Sarjana dan ilmuwan abad 21 telah memenjarakan diri mereka sendiri dalam kerangkeng panca indera mereka. Tak pernah mereka tertarik pada apa-apa yang berada di luar jangkauan panca indera mereka. Dan mereka akan mati di dalamnya dan habis di dalamnya, tak pernah meraih apa pun.

Sudah cukup! Cukup untuk seluruh manusia, bagi seluruh pusat-pusat ilmu, universitas, akademi, semua orang-orang terpelajar, sarjana, dan ilmuwan. Ini sudah cukup bagi mereka, lebih dari cukup! Tak seorang pun dapat membawa suatu jawaban atau keberatan atas hal ini. Kadang-kadang Saya adalah orang yang sederhana dan 'mudah', kadang-kadang bak pegunungan Himalaya tak seorang pun mampu melaluinya. Semoga Allah memaafkan saya dan memberkati kalian.

posted by Mevlana as Sufi at 7:51 AM 0 comments

Pentingnya Latihan Hindari Argumentasi
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
dalam Mercy Oceans (Book Two)


Sebuah Jalan adalah jalan dengan perilaku yang baik. Setiap orang harus mempelajari perilaku yang baik sehingga dia akan menjadi orang yang baik. Orang bisa memiliki sifat-sifat yang baik atau sifat-sifat buruk. Menurut fitrahnya, setiap orang tanpa didukung latihan mempunyai karakteristik yang buruk. Ego sangat kuat pada awalnya. Agar memiliki karakteristik yang baik kalian harus mengambil alih kekuasaan dari tangan egomu. Jika kalian telah membiarkan diri kalian berada dalam genggamannya maka kalian akan menjadi pribadi yang buruk. Oleh sebab itu, pada saat yang bersamaan Allah menciptakan manusia pertama. Dia menjadikannya sebagai seorang Nabi. Manusia pertama adalah Nabi yang pertama sehingga dia bisa mengajarkan anak-anaknya perilaku dan karakteristik yang baik.

Manusia membutuhkan latihan, oleh sebab itu Allah memberikan orang tua untuk mendidiknya ketika mereka masih bayi dan anak-anak. Tetapi latihan dari Rasul adalah latihan yang paling penting. Yang lainnya hanya mengajarkan kalian untuk memenuhi keinginan ego. Rasul mengajarkan kita untuk menyelamatkan kita dari keinginan ego, karena keinginan ego tidak ada batasnya, dia akan terus meminta dan meminta terus, tidak akan ada batasnya. Dengan mengikuti keinginan ego kita akan merasa lelah dan akan mati dalam keadaan lelah pula. Rasul mendidik kita untuk berhenti pada batas-batas tertentu, menjaga seseorang dari kerja yang tak berakhir dan penuh keletihan. Mereka mengajarkan kita tentang maksud dari hidup ini, mereka menunjukkan tujuan kita. Siapa pun yang mengikuti jalan ini akan memiliki sifat-sifat yang baik karena didikan Rasul merupakan suri tauladan yang baik bagi semua orang. Kini Rasul-Rasul itu telah tiada, namun deputi mereka dapat ditemukan jika orang mencarinya. Mereka mengajarkan orang untuk menyelamatkan diri mereka dari serangan ego.

Sekarang salah satu perilaku baik adalah untuk mendengar dan beraksi: obat untuk diambil. Orang yang sakit tidak meletakkannya di meja dan meninggalkannya begitu saja. Perilaku baik adalah dengan bertindak. Mendengar setiap orang yang berbicara kepada kalian juga suatu perilaku yang baik. Perilaku yang buruk adalah berargumentasi. Jika kalian 100% benar, secara konkret benar, tetap saja tidak perlu berargumen. Ini merupakan hal yang terlarang. Jika kalian melihat bahwa orang itu ingin mengetahui mana yang benar, baru kalian boleh bicara. Ada suatu pintu untuk dimasuki. Tetapi jika kalian melihat bahwa orang itu hanya ingin berargumentasi, kalain sebaiknya meninggalkannya, karena dia tertutup. Cukup katakan kepadanya, “begitu ya!” Tidak pernah ada manfaat dari berargumentasi, orang hanya akan saling bermusuhan karenanya. Inilah arti dari ayat, “Lakum diinukum waliya diin,” “Bagimu agamamu dan untukku agamaku.” Argumentasi memadamkan cahaya Iman dalam hati kita. Mungkin beberapa kata akan datang kepadamu yang belum pernah kalian pikirkan sebelumnya dan menyebabkan Imanmu menurun.

Derajat tertinggi dari perilaku baik adalah jangan berargumen dan jangan berkata, tidak, betapa bodohnya.” Tidak ada persahabatan setelah berargumentasi, hati menjadi dingin. Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani berkata bahwa Grandsyaikhnya tidak pernah menyangkal kata-kata orang lain bahkan dari hadapan orang-orang yang tidak pandai berbicara. Tetapi kemudian ketika beliau berbicara di depan sekelompok orang, beliau akan merujuk ke permasalahan itu dan orang-orang yang terkait akan mengetahuinya, “Ah, ini untukku.” Lalu mereka akan mempertimbangkan ucapannya. Setiap orang ingin dihormati. Itu berarti jangan tunjukkan gigimu seperti anjing. Manusia tersenyum.
posted by Mevlana as Sufi at 7:51 AM 0 comments

Mengikuti Contoh yang Sempurna
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
dalam Mercy Oceans (Book Two)


Pelajaran ini diperuntukkan untuk seorang tamu yang berkata bahwa dia tidak memerlukan seorang guru yang masih hidup tetapi dengan memurnikan dirinya dia dapat berhubungan dengan ‘Inner Guide’ (Pembimbing dalam dirinya-red). Untuk pemurnian diri kita memerlukan bimbingan. Kita mempunyai jiwa tetapi ditemani pula dengan ego. Mereka bertempur terus sampai akhir hayatnya. Kita perlu mempelajari metode dari seorang guru untuk memerangi ego. Tidak ada orang yang menjadi dokter hanya dengan membaca buku. Orang harus berlatih untuk menjadi seorang ahli bedah, bahkan untuk mencabut gigi pun demikian. Kita memiliki karakteristik buruk.

Kita harus mengetahui bagaimana cara mengeluarkannya. Untuk itu kita memerlukan seseorang yang bisa memberikan kita atribut yang baik, yang datang tidak dengan membaca tetapi melalui teman-teman seseorang. Dengan melihat teman itu kalian bisa mengetahui karakternya. Karakter buruk dapat menular seperti penyakit. Oleh sebab itu Allah swt mengutus Rasul-Rasul bagaikan obat. Rasul bukanlah malaikat, mereka berasal dari manusia dan mengetahui sifat-sifat manusia. Mereka menunjukkan bagaimana kita bisa memurnikan diri kita. Siapa pun yang duduk bersama mereka akan menyerap karakter yang baik. Kita membutuhkan paling sedikit seorang teman di jalan kita, sebagaimana Nabi Musa as meminta saudaranya, Harun as sebagai Rasul dan menolongnya untuk berbicara.

Tanpa kekuatan spiritual kita tidak dapat membedakan apakah inspirasi kita baik atau buruk. Rasul mempunyai kekuatan untuk meletakkan cahaya untuk membedakan apa yang memasuki hati kita. Kita berada di bawah kendali dua kekuatan besar, yaitu: kemarahan dan syahwat. Ketika mereka meletakkan godaan di dalam hati kita, godaan itu sangat menggiurkan dan kita tidak menyadarinya. Jika berada dalam kendali mereka, kita berada pada level binatang. Jika kita bisa mengendalikan mereka maka kita berada di level manusia. Kita membutuhkan suatu metode dan bimbingan untuk mengikuti jalan Rasul. Banyak sekali godaan Setan yang bermain dengan manusia, menunjukkan jalan yang buruk dan membuat mereka berpikir bahwa itu adalah jalan yang baik. Mereka mempunyai banyak cara daripada yang dapat kalian pikirkan.

Tidak ada dua orang yang mempunyai garis kehidupan yang sama. Ini berarti, kita mempunyai tujuan tertentu, jalan hidup yang bersifat pribadi. Setiap orang mempunyai suatu tujuan, tetapi tidak semua orang dapat mengenalinya, ada kebutuhan untuk memiliki seorang pemandu. Al-Qur’an menyebutkan bahwa kita dapat mengambil petunjuk dari bintang-bintang. Mereka mengandung begitu banyak pengetahun dan kekuatan rahasia di mana tidak ada jalan untuk memahami luasnya hubungan di antara mereka dengan tujuan kita. Jika seseorang tidak dapat melihat untuk menerima panduan, maka dia harus mempunyai radar. Seluruh bangsa sekarang memilikinya untuk alasan keamanan. Mereka menunjukkan kepada kita apa yang akan datang. Seorang Mursyid adalah sebuah radar.

Saya menasihatkan agar kalian percaya kepada seseorang. Sulit sekali untuk percaya terhadap realitas yang tidak tampak tetapi kalian bisa percaya kepada seseorang. Siapa yang meminta bimbingan, dia harus percaya kepada seseorang, dan kepercayaan itu akan berkembang menjadi suatu keyakinan. Percaya adalah pemurnian hati. Jika awalnya kalian percaya kepada seseorang, maka kalian bisa percaya kepada semuanya. Tanda dari suatu pemurnian adalah percaya dan yakin kepada setiap orang, bahkan jika bertanya kepada seorang anak kecil, kita bisa berkata, “Oh, hal itu benar!” Pasti ada seseorang di mana dapat kalian percaya kepadanya.
posted by Mevlana as Sufi at 7:51 AM 0 comments

Asma Allah “Huu”
Haji Gibril Fouad Hadad
Tanya Jawab Tentang Dzikir HUU

Tanya:
Sidi, jika Anda punya waktu, apa yang dimaksud dengan dzikir "Huu", baik secara literal maupun secara spiritual (sebagaimana dalam dzikir Naqsybandi) dan bagaimana asal usul penggunaannya? Atau info apa pun yang mungkin Anda punya tentang HUU.
Ma'as Salamah. Jazakallahu khair. Wa `alaykum as-Salam wa rahmatullah wa barakatuh

Jawab :
Saya mendengar Mawlana berkata di rumahnya di Siprus, di bulan Rajab 1422,
Ada empat macam manifestasi-manifestasi (at-tajalliy), yaitu: Essensi (Dzat) Ilahiah, Sifat-sifat Ilahiah, Nama-nama Ilahiah, dan Perbuatan atau Aksi Ilahiah. Nama dari Dzat Murni (adz-Dzat al-baht) adalah HUU ("Dia") sementara ALLAH adalah Nama komprehensif (Jami') untuk seluruh Nama-nama dan Sifat-sifat. Suatu wujud ciptaan adalah suatu manifestasi untuk suatu Nama atau di bawah pengawasan dari satu di antara Nama-Nama Ilahiah, yang dimunculkan melalui wujud ciptaan itu.

Artinya, tidak ada suatu wujud makhluk ataupun sekejap pun dari waktu, yang sama antara satu dengan yang lainnya. Dari Esensi Murni (Dzat) muncul Sifat-sifat dan Nama-nama, sementara dunia-dunia dan alam muncul dari Fi'il (Perbuatan). Sedangkan bagi HUU, "Dia" tidak pernah nampak atau muncul karena Dia adalah ash-Shamad, "Yang Maha Berdiri Sendiri, Kekal, Dan Tempat Bergantung segala sesuatu, Kekuasaan yang Abadi, Dia Yang Tidak Memerlukan Interior maupun Tempat dan Arah, dan segala sesuatu dari ciptaan-Nya hidup dan wujud melalui sifat (Samadiyyah)-Nya ini". Karena itu adalah tidak mungkin bahkan bagi satu partikel terkecil pun untuk wujud di luar sifat-Nya ini. Jika sifat ini diatributkan pada selain-Dia, maka itu akan menjadi syirik.

Ke-Esa-an (al-Ahadiyya)

Beliau mengatakan bahwa samudera Sifat-Sifat menunjukkan pada Esensi (Dzat) tanpa menjadi Dzat itu sendiri. Allah berfirman dalam Surat Al-Ikhlash: "Katakanlah: Dia-lah Allah , Yang Satu!" kemudian Ia berfirman pula, "Dan tak ada yang serupa dengan-Nya, seorang pun" (kufuwan ahadun) dalam bentuk nominatif (kata benda-red), dan Ia tidak mengatakan, "Dan Ia tidak memiliki keserupaan dengan apa pun" (kufuwan ahadan) [dalam bentuk akusatif]. "Ahad" kedua menunjuk pada Sifat-Sifat dan pada suatu kenyataan bahwa sifat-sifat tersebut tidak cukup untuk mendeskripsikan-Nya secara sempurna. Jadi, jika Sifat-Sifat saja tidak cukup, padahal Sifat-sifat (Atribut) juga adalah pre-eternal dan abadi, maka bagaimana pula makhluk-makhluk ciptaan (dapat menyamai-Nya)?

Was-Salam, Hajj Gibril
Qasyoun@ziplip.com
posted by Mevlana as Sufi at 7:51 AM 0 comments

Pentingnya Meninggalkan Hal-Hal yang Terlarang dan tidak Disukai
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
dalam Mercy Oceans (Book Two)


Ini adalah nasihat Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani mengenai satu hal yang penting dalam Islam, yaitu menjaga hukum Allah swt dan menghindari diri dari segala hal yang terlarang. Islam menawarkan dua jenis perintah, pertama apa yang harus kita lakukan dan kedua, apa yang tidak boleh kita lakukan. Yang terpenting di antara keduanya adalah meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah . Meninggalkan suatu larangan lebih baik dari pada menunaikan ibadah Haji sebanyak 50.000 kali. Itu berarti, kalian bisa bersabar untuk beribadah tetapi tidak sabar dalam menjaga batasan yang telah ditetapkan Allah swt. Jika kalian kembali dari ibadah haji yang ke-50.000 tetapi masih melihat pramugari pesawat dengan penuh syahwat maka semuanya akan sia-sia. Jika kita bersabar dalam beribadah, malaikat menuliskan pahala kita, tetapi bila kita menunjukkan ketahanan terhadap suatu larangan, maka Allah swt akan memberikan balasan yang tak hingga.

Allah swt memerintahkan kita untuk beribadah, sebanyak mungkin. Shalat lima kali sehari adalah cukup dan jika kalian bisa melakukan lebih dari itu, itu lebih baik. Tetapi untuk hal-hal yang dilarang, kalian harus menghindari semuanya. Ada dua tingkatan menyangkut hal-hal yang dilarang, yaitu haram (terlarang) dan makruh (tidak disukai). Sekarang ummat Muslim mendapat dukungan dari Setan untuk melakukan hal-hal yang makruh. Itu adalah penyakit yang buruk di kalangan Muslim. Siapa yang tidak menyukai hal-hal tersebut? Allah swt dan Rasulullah saw.

Kita diperintahkan sekuat tenaga untuk menolak segala keburukan yang tidak disukai Allah dan Rasulullah saw. Jika seseorang mempertahankan benteng luar maka harta di dalamnya akan selamat. Setiap tindakan yang terlarang mempunyai efek buruk terhadap iman kita, mereka menghancurkan iman kita. Ada 500 kebaikan yang dapat kita lakukan sebisa mungkin. Ada 800 larangan dan karakteristik buruk yang harus kita tinggalkan semua, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi. Lebih buruk lagi jika kalian bersembunyi dari orang-orang dan melakukan hal terlarang. Kalian tidak tersembunyi dari Allah. Menjaga diri ketika sedang sendiri adalah lebih baik sebab kalian bersama Allah dan kita harus menjaga penghormatan kita kepada-Nya melebihi yang diberikan kepada orang-orang.

Barang siapa yang menjaga ikatan dengan Allah swt, maka Tuhannya akan memberikan kekuasaan di alam semesta ini. Rasulullah saw bersabda, ”Siapa yang patuh kepada Allah , maka kepatuhan kepadanya adalah hal yang paling utama.” Inilah kekuasaan itu. Suatu ketika seseorang berjalan di padang pasir dan melihat seorang pria datang ke arahnya dengan mengendarai harimau dan memegang ular yang sangat berbisa di tangannya seperti memegang pecut. Orang itu berkata, “Wahai saudaraku, bagaimana engkau melakukannya?” Dia menjawab, “Aku mendapat perintah dari Sultan.” Buatlah dirimu agar patuh kepada Allah swt maka Dia akan menjadikanmu sebagai penguasa dunia. Sekarang kita akan berhenti di sini jika kita mempunyai akal. Tetapi jika kita orang yang bodoh, kita harus berbicara mengenai hal lainnya.

posted by Mevlana as Sufi at 7:51 AM 0 comments

Hei Keledai!
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
dalam Mercy Oceans (Book Two)


Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani bercerita mengenai Grandsyaikhnya Syaikh Abu Ahmad as-Sughuri yang merupakan seorang Wali Kutub alam semesta selama 40 tahun. Tak seorang pun dapat meraih derajat kewalian sebelum mencapai derajat rendah hati. Hal ini maksudnya jelas: menolak segala jabatan untuknya, tidak mempunyai jabatan, bagaikan bumi di bawah kaki semua orang. Jika tidak ada bumi tak seorang pun bisa berdiri. Wali membawa semua orang. Syaikh Abu Ahmad berkata mengenai egonya, “Jika para pengikutku dan orang-orang desa mengenalku seperti aku mengenalinya, mereka tidak akan mengizinkan aku tinggal bersama mereka, bahkan mereka akan melempariku dengan batu dan mengusirku.”

Begitu rendah hati, beliau melihat dirinya sebagai orang yang mempunyai ego terburuk, dan berpikir, “Allah menjaga egoku, tetapi tetap saja dia yang terburuk.” Beliau memandang derajat tinggi yang disandangnya berasal dari Allah semata, bukan dari dirinya sendiri. Abu Bakar ash-Shiddiq ra mempunyai derajat tertinggi di antara semua ummat setelah Rasulullah saw. Beliau adalah orang yang paling benar dan jujur dalam iman dan keyakinannya. Rasulullah bersabda, “Jika iman seluruh ummatku ditimbang dengan imannya Abu Bakar , maka imannya Abu Bakar akan lebih berat.”

Tetapi Abu Bakar berkata kepada dirinya, “Wahai Shiddiq yang tidak patuh, dalam pandanganku, apapun yang mereka katakan, kamu harus bertaubat dan memohon ampun.” Di mana kita ketika memandang diri kita sendiri? Derajat terendah adalah derajat yang tertinggi. Abu Yazid berkata, “Tak seorang pun dapat mencium realitas iman kecuali dia memandang level egonya lebih buruk daripada Fir’aun, Namrud, Setan dan Abu Jahal.” Kita mungkin akan berkata, “Baiklah, Aku terima. Aku memang seperti itu, egoku yang terburuk.” Tetapi ada sejumlah ujian untuk itu. Jika ada yang memanggil kita dengan sebutan, “Hei Keledai!” kemudian kita merasa geram kepada mereka dan menyahut, “apa!”, berarti kita telah membuktikan bahwa kita memang keledai.

Menghormati semua orang adalah tugas kita, ini adalah ajaran agama kita. Jalan Sufisme yang sejati memerintahkan kita untuk menghormati semua orang. Seseorang bisa saja tidak peduli dalam jalannya atau mempunyai karakter yang tidak baik dan bisa jadi akan menyerangmu. Kalian tidak perlu untuk turun ke tingkatannya dan berkelahi dengannya. Syaikh Saadi Syirazi , seorang penyair Sufi bercerita dalam suatu kisah. Suatu ketika ada seseorang yang digigit seekor anjing. Dia tidak bisa tidur semalaman karena kesakitan. Anaknya bertanya apa yang telah menimpa dirinya. Dia berkata “Hari ini seekor anjing menggigitku,” anak itu bertanya, “Mengapa engkau tidak menggigitnya kembali?” “Oh anakku, Aku bisa saja menahan sakitku, tetapi Aku tidak akan menjadi anjing seperti dia.” Ketika kita menerima bahwa ego kita bagaikan binatang buas, kalian tidak akan marah dengan siapa pun. Itu adalah kerendahan hati dan merupakan dasar bagi pembangunan karakter baik.

posted by Mevlana as Sufi at 7:51 AM 0 comments

Beberapa Pertanyaan dan Jawabannya
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
Siprus, 23 Mei 2002


Setiap perbuatan adalah untuk kehormatan dari Rasulullah SAW dan untuk memberikan kehormatan pada Rasulullah saw berarti jalan untuk memberi kehormatan pada perintah-perintah samawi. Perintah-perintah suci dari langit, yaitu perintah-perintah suci dari Allah , Penguasa Langit. Kini, kita sedang duduk dalam suatu majlis suci, ini bukan suatu ruang pengajaran, dan bukan pula suatu ruang kelas dalam universitas atau sekolah, tetapi ini adalah suatu tempat sederhana untuk orang-orang biasa, dan kita tidak mengklaim apa pun kecuali untuk mengatakan bahwa Saya ada pada tingkat pertama/awal dari orang-orang yang paling sederhana, karena orang-orang yang paling sederhana adalah orang-orang yang paling rendah hati. Dan adalah lebih mudah bagi Saya untuk duduk bersama orang biasa, dan dengan orang-orang sederhana dan orang-orang rendah hati.

Dan suatu keberuntungan yang baik bahwa Tuhan Penguasa alam telah mengirimkan ke majelis kita, seorang hamba-Nya dari Amerika yang datang dengan beberapa pertanyaan. Saya berharap bahwa ini adalah suatu tanda yang baik untuk suatu kebangkitan agar terkirim dari suatu universitas terkenal di Amerika bagi orang-orang hingga tingkatan terendah dari suatu kelompok manusia. Dan ia membawa beberapa pertanyaan. Dan kita mengetahui berdasarkan kitab-kitab suci bahwa Allah , Sang Pencipta, mengaruniakan hikmah-hikmah-Nya sesuka Dia. Tidak ada suatu kondisi yang dapat memaksa Tuhan segenap langit agar Ia mengaruniakan hikmah-Nya, pada seseorang yang memiliki kondisi tersebut. Tidak. Mungkin saja, Ia mengaruniakan hikmah-Nya pada seseorang yang tak terpelajar. Atau Dia mungkin mengaruniakan hikmah-Nya pada seorang penggembala sederhana. Dan Dia pun mungkin mengaruniakan sebagian hikmah Ilahiah-Nya pada seorang laki-laki tua atau pada seorang perempuan, atau pada seseorang yang tak dikenal. Dan hikmah itu berasal dari dan sesuai dengan ajaran-ajaran para Nabi, karena ajaran-ajaran mereka adalah wahyu samawi, diturunkan dari Langit. Jika seseorang meminta untuk mengetahui sebagian hikmah, Allah swt Tuhan Semesta Alam mungkin akan mengaruniakan pada siapa pun sebagian dari hikmah-hikmah-Nya dan Ia mungkin akan berbicara pada orang tersebut, memberikan padanya sebagian dari hikmah-hikmah.

Demikian pula dengan Mr. Daniel, yang datang dari universitas mana? Johnson University? John bahagia? (John is happy?) Happy University? (John Hopkins University). Tak apa-apa, itu adalah suatu universitas besar. Saya menganggap ini penting agar ia pun menjadi senang. Selain itu, Mr. Daniel juga datang dengan pakaian yang rapi, dan ego saya juga sangat senang. Eh, kita akan lihat. Kini, ia telah membawa demikian banyak pertanyaan. Saya tidak mengklaim bahwa Saya akan bisa menjawab atau tidak. Hal ini adalah sesuatu yang tergantung pada markas dunia spiritual kami, apakah mereka akan memberi jawaban (atau tidak). Dan mereka berharap agar jawabannya nanti akan bermanfaat bagi orang-orang, dan memberikan jawaban-jawaban yang sesuai dengan tingkat pemahaman kita. Sekarang mari kita mengucapkan Bismillahi Rahmani-r Rahim. Dia boleh bertanya sekarang apa yang telah ia siapkan. Apakah Anda mempersiapkan sendiri pertanyaan-pertanyaan ini ataukah universitas Anda yang menyiapkannya? Professor Daniel-lah yang mempersiapkannya. Bismillah!

Sebagai seorang pemimpin agama, bagaimana hal ini mempengaruhi hidup Anda, dan mempengaruhi hubungan Anda dengan Tuhan dan kemampuan Anda untuk....?

Ini adalah suatu pertanyaan yang hingga sekarang belum pernah ditanyakan kepada saya, dan ini adalah suatu pertanyaan yang bagus, karena orang-orang dari universitas adalah orang-orang radikal dan mereka berusaha mencari "akar-akar" (catatan penerjemah: kata 'radikal' memiliki asal kata yang berarti 'akar', dan tidak selalu berkonotasi 'keras'), tidak hanya melihat pada apa yang muncul di muka bumi atau cabang-cabang saja, melainkan tertarik juga untuk tahu tentang akar, tentang badan, karena cabang-cabang ini telah mengambil apa yang mereka perlukan. Ya, jika seseorang mengklaim dirinya sebagai anggota dunia ruh/spiritual, maka jalan-nya, jalurnya haruslah terhubung dengan jalur-jalur para Nabi, yang mereka ini (para Nabi-red) memang adalah penduduk (terhubungkan dengan-red) Langit. Semua Nabi. Hal ini karena kenabian (nubuwwah) berarti hubungan dari bumi ke Langit, atau dari Langit ke bumi.

Jika seseorang mengklaim bahwa dirinya adalah seorang nabi, jika seseorang mengklaim memiliki nubuwwah, ia harus membawa bukti bahwa dia memang terhubung dengan Langit. Karena itu, kapan pun dalam sejarah, ketika seorang nabi datang atau seorang nabi diutus pada kaumnya, mula-mula kaumnya akan bertanya kepadanya, "Siapa kamu?" Dan ia pun akan berkata, "Saya seorang nabi, saya datang dari Hadirat Ilahi dari Rabbul 'Alamin, Tuhan Semesta alam." Dan orang-orang dari kaumnya akan bertanya lagi kepadanya, "Apa bukti yang engkau bawa?" Dan ia pun berkata, "Saya memiliki bukti-bukti yang memberi Anda tanda bahwa Saya memang berasal dari, atau Saya memang terhubung dengan dunia spiritual, atau Saya memang terhubungkan dengan Langit." Dan mereka pun berkata, "Lakukan ini, lakukan itu!"

Seluruh nabi-nabi pastilah membawa beberapa mu'jizat, karena mu'jizat adalah bukti-bukti kenabian seseorang. Tanpa membawa suatu mu'jizat, kita akan berkata, "Tidak, dirimu mirip dengan kami, kau tidak memiliki hubungan dengan Langit, karena penduduk Langit pasti dapat melakukan sesuatu dengan kekuatan spiritual mereka, dapat melakukan keajaiban. Jika kau dapat melakukan hal ini bagi kami, kami akan percaya bahwa kau benar-benar diutus oleh Tuhan seluruh Langit." Karena itulah, setiap orang dari para Nabi memiliki jalur-jalur tertentu pada ummat mereka, seperti pada Bani Israel, yang terdiri atas 12 suku. Hanya satu suku yang dari dalamnya datang para Nabi, tidak dari suku-suku lainnya. Dari suku-suku yang lain mungkin muncul raja-raja atau golongan lain, tapi kenabian hanyalah lewat satu jalur dari 12 suku-suku itu, tidak pada yang lain. Mereka telah mendapat anugerah dan dipilih untuk tujuan itu, yaitu untuk terhubung dengan Langit. Dan siapa saja yang mendapati mereka, akan mendapatkan pula (melalui mereka) cahaya-cahaya Langit. Demikian pula dengan kita saat ini, kita hidup di abad 21, namun jalur-jalur (transmisi, isnad) para Nabi dengan cahaya-cahaya mereka mengalir pada orang-orang, hanya saja cahaya-cahaya itu tertutupi (tak nampak-red). Terbungkus, cahaya-cahaya itu terbungkus, sebagaimana kawat-kawat ini (yang terbungkus oleh isolasi plastik di kulit luarnya-red). Kawat-kawat ini memiliki cahaya-cahayanya tetapi jika Anda tidak menyambungkannya dengan lampu, mereka tidak akan menampakkan cahayanya.

Jika Anda tidak menaruh suatu mesin, Anda tak akan dapat melihat bahwa kawat tersebut memiliki kekuatan yang luar biasa. Tetapi, jika Anda juga tidak memiliki lampu atau sembarang mesin, maka kami akan berkata kepada Anda, "Silakan coba!" Jika Anda berkata bahwa itu hanyalah kawat biasa, Saya akan berkata, "Pegang kawat itu!" Anda berkata bahwa ini dan itu adalah sama. Tidak, tidaklah sama. Peganglah, maka Anda akan tahu. Karena itu, setiap kali seseorang mengklaim bahwa dirinya memiliki koneksi dari Langit, bahwa mereka benar-benar terhubung dengan Langit, maka mereka pun harus memiliki suatu bukti untuk mendukung klaimnya.

Sekarang, siapa saja, jika Anda bertanya kepada saya, "Apa jalan Anda, sehingga Anda mengklaim suatu koneksi?" Kami pun akan menjawab, "Saya memiliki koneksi itu dengan menjangkau pada Syaikh saya, dan Syaikh saya menjangkau pada Syaikh-nya, dan dari saya terus ke atas hingga ke Penutup para Nabi saw, Nabi terakhir. Ada 40 awliya' dan semuanya adalah para wali (kekasih Allah ) dan Syaikh Sufi, menjangkau hingga Sayyidina Muhammad saw, dan dari beliau, Bismillahir Rahmaanir Rahiim, dari Nabi : Nabi saw, Shiddiq , ... (sambil mengucapkan seluruh Mata Rantai Emas Grandsyaikh Naqsybandi hingga ke) Sayyidi wa Maulayi Sultan-ul-Awliya' Syaikh 'Abdullah ad-Daghestani . 39 orang hingga mencapai saya, Saya adalah yang ke-40. Demikianlah, tanpa ada yang terputus di jalur ini. Karena itu, jalan saya, sebagaimana telah saya katakan pada Anda, adalah hubungan spiritual melalui orang-orang terkenal ini, semua dari mereka, datang hingga sampai ke saya, dan Saya adalah pelayan mereka, tidak yang lain. Merekalah raja-raja, saya hanyalah pelayan, sebab seorang pelayan sudah cukup untuk orang-orang ini, tidak perlu raja-raja. Jika raja-raja datang, pastilah jumlahnya banyak.

Terdiri atas apakah aturan-aturan sehari-hari Anda dan bagaimana Anda menerapkan disiplin dalam hidup Anda?

Kapan saya menikah? Ketika saya berumur 30 tahun. Katakan padanya untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Dengan bahasa apa ia berbicara?

Apa praktek sehari-hari Anda?
Apa yang dimakan manusia, saya pun memakannya. Apa yang Anda tanyakan, coba ulangi sekali lagi?

"Diet" religius adalah milik para Mufti, sedangkan Saya adalah orang thariqat. Itu adalah untuk Mufti. Untuk apa Anda bertanya tentang syari'at, tentang aturan-aturan Islam yang sudah umum diketahui para ulama, dan di antara ulama-ulama pada level atas ada Mufti. Kami berkata bahwa ia mengetahui dengan baik hal-hal itu. Sedangkan cabang saya adalah thariqat, jalan yang menuju ke langit. Saya tahu akan hal ini. Syari'at mempersiapkan manusia. Seperti halnya ketika seseorang yang akan pergi diberangkatkan dengan roket, ke luar angkasa, orang-orang ini sudah disiapkan, tapi untuk mengirimkan mereka (ke luar angkasa) dan untuk menjaga mereka tetap baik, ada seseorang yang bertugas untuk itu. Jika orang tersebut mengatakan, "Oke, masuklah", maka mereka pun pergi ke atas. Syari'at adalah aturan-aturan langit, yang mempersiapkan manusia menuju jalan ke Langit (thariqat-red). Saya melihat, apakah sudah disiapkan? Kalau sudah siap, baru kemudian kami boleh mengirimkannya. Sebagaimana pula seorang inspektur dalam stasiun kereta--memeriksa tiket. Lalu menyobeknya? "Masuk, masuk". Mereka pun boleh pergi dengan kereta. Anda mengerti bahasa Inggris saya? Bahasa Inggris Shakespeare tidaklah sama dengan bahasa Inggris Anda.

Bagaimana Anda menenangkan seseorang yang tengah menderita?

Sebagian besar dari penyakit mereka sekarang adalah penyakit-penyakit yang biasa disembuhkan di rumah sakit jiwa. Mereka butuh rumah sakit jiwa. Manusia abad 21, satu demi satu perlu datang kepada saya, karena saya adalah direktur rumah sakit jiwa internasional. Saya harus memeriksa, apakah seseorang sehat, lalu Saya dapat merawat mereka menurut derajat penyakit jiwa mereka, karena ada demikian banyak jenis-jenis penyakit jiwa. 70 macam penyakit mental. Anda pernah dengar tentangnya? Ada setidaknya 70 macam kegilaan, Anda paham? Saya tahu 70 macam itu. Jika seseorang datang, Saya hanya melihatnya (untuk tahu akan penyakit jiwa-nya-red). Sekarang, dalam zaman kita saat ini, dari sebelumnya hanya 70, kini telah berkembang menjadi 700 macam jenis penyakit jiwa. Dan yang Saya lakukan adalah membawa mereka kembali pada akar, yang akan tumbuh sebagai cabang-cabang kegilaan. Dan kami berusaha untuk membawa mereka kepada ukuran mereka yang sebenarnya, karena orang-orang saat ini, keseluruhannya, telah keluar dari ukuran mereka yang sesungguhnya. Ada suatu jenis penyakit jiwa di mana seseorang melihat dan memandang dirinya sendiri sebesar dunia ini. Seperti balon.

Saya membukanya, dan mengeluarkan mereka. Balon ini datang, datang, dan datang. Saat datang dalam ukuran sebenarnya, habis. Dan ini adalah suatu penyakit kejiwaan yang amat parah. Tiap orang ingin untuk menjadi besar, setiap orang meminta untuk menjadi Sang Nomor 1, untuk menjadi seorang Namrudz, dan berkata, "Saya adalah tuhan." Jadi, itulah tugas saya: jika mereka datang, dan mereka melihat diri mereka sendiri bagaikan raksasa, maka saya setiap harinya akan membuat diri mereka lebih kecil, lebih kecil, dan lebih kecil. Itulah tugas saya, membawa orang-orang kepada ukuran mereka yang sebenarnya. Dan kegilaan macam inilah yang telah membawa kekacauan tak berujung bagi manusia.

Apa yang Anda katakan kepada seseorang yang sakit, atau seseorang yang tengah bersedih, untuk menenangkannya?

Itu bergantung pada (jenis) kegilaan mereka. Saya melihat, dan kami mendapatkan (jenis kegilaannya). Kami tidaklah seperti dokter yang berbuat seperti ini, "Buka mulutmu...". Tidak, Saya hanya melihat, dan Saya tahu dan paham pada tingkat berapa kegilaannya. Kemudian, sedikit demi sedikit, langkah demi langkah kami menjalankan perawatan pada mereka... Di sini, begitu banyak orang terpelajar datang kepada saya, dalam keadaan "tidak waras". Saat mereka datang, mereka harus menjadi seperti orang biasa kebanyakan, pada tingkat pertama. Mereka tak dapat mendongakkan kepala mereka ke atas (yaitu berlaku angkuh-red) selama Saya di sini. Saat mereka tunduk patuh, barulah kami dapat melakukan perawatan padanya. Selesai. Dan 40 hari adalah cukup bagi mereka, untuk membawa mereka pada ukuran mereka yang sebenarnya. 40 hari adalah cukup.

Selama hidup Anda, siapakah yang secara khusus Anda hormati dan apa yang secara khusus Anda hormati dari mereka?

Guru saya. Jika guru saya tidak ada, jika beliau tidak selalu menyertai saya, Saya bukan apa-apa. Saya ada beserta beliau, dan kekuatan saya mengalir pada saya melalui diri beliau. Begitu banyak kran, dan setiap kran terhubung ke suatu sumber mata air atau pusat-pusat air. Setiap orang mendapatkan air mereka dari tempat-tempat yang berbeda, dan Saya pun mengambil kekuatan spiritual saya atau kemampuan dan kapasitas saya dari Grandsyaikh saya. Saya berada di jalurnya.

Apa yang menjadi kesengsaraan spiritual terbesar dalam hidup Anda dan bagaimana Anda meresponnya? Apa yang telah menjadi tantangan terbesar dalam hidup Anda?

Hal tersulit bagi saya adalah ego (nafs) saya. Dan halangan tersulit di depan manusia adalah ego mereka. Ego tak pernah bertanya apakah ia memerlukan perbaikan atau tidak. Ego selalu mengklaim, "Saya sempurna dan mereka tidak sempurna." Karena itu, dari awal hingga akhir Anda harus memerangi ego Anda, agar ia menyerah dan menerima bahwa dirinya tidaklah sempurna. Kesempurnaan adalah bagi ruh-ruh kita. Kesempurnaan manusia tidaklah berdasarkan atas ego mereka, karena ego berasal dari dunia hewan, milik bumi, sedangkan kesempurnaan manusia adalah lewat ruh-ruh mereka, karena ruh berasal dari Langit. Tetapi, selalu saja ego kita berada di depan ruh kita dan berkata, "Saya sudah sempurna." Mengapa Anda berada dalam kesempurnaan? Apa kesempurnaan Anda? Apakah dapat mengangkat beban yang berat ke atas adalah suatu kesempurnaan? Dapat berlari--itukah kesempurnaan? Untuk melompat itukah kesempurnaan? Berenang--itukah kesempurnaan? Untuk membunuhi orang-orang, itukah kesempurnaan? Makan berlebihan, minum berlebihan, bersenggama berlebihan, itukah kesempurnaan? Tidak, itu semua bukan kesempurnaan! Ego kita selalu berkata, "Oh, sang juara, mengangkat, bergulat, atau bertinju." Demikian pikir mereka. Semua itu hanyalah dari ego! Apa itu? Itukah kesempurnaan bagi manusia?

Sayangnya, manusia mengejar kebodohan itu. Itu semua bukanlah kesempurnaan. Mereka hanya membuat-buat kesempurnaan. Kesempurnaan, kesempurnaan sejati hanyalah bagi ruh, dan mereka berlarian mengejar sifat-sifat yang menjadi milik binatang? Menyelenggarakan Olimpiade! Apa itu olimpiade, untuk apa ini? Orang-orang telah menjadi dungu saat ini, gila. Orang-orang abad 21, berlarian dari satu Olimpiade ke Olimpiade yang berikutnya. Apa itu? Itukah kesempurnaan? Memberikan medali, berbuat seperti ini, bertepuk tangan, kebodohan apa itu? Orang-orang telah kehilangan kesempurnaan sejati manusia yang dimilikinya lewat ruh-ruh mereka. Mereka mengejar ego, dan ego selalu datang dan berkata, "Saya sempurna." Sempurna untuk apa? "Karena saya dapat berlari 100 meter. Rekor baru, Juara." Ini adalah bodoh. Kebodohan macam apa itu? Bagaimana orang-orang dapat mencapai kedamaian dengan kebodohan macam itu. Kedamaian membutuhkan kesempurnaan. Kedamaian datang dari kesempurnaan dan orang-orang malah berlari menuju arah yang lain. Ego selalu melawan ruh. Ruh ingin pergi ke atas, ego meminta untuk turun ke bawah. Ini jelas bagi Anda, Anda mengerti?

Teks suci do’a mana yang memiliki makna spiritual terbesar bagi diri Anda?

Sebagaimana telah saya katakan kepadanya, kami berusaha untuk membawa manusia menuju jalan Surga. Dan target sejati kami adalah untuk menyelamatkan manusia dari tangan-tangan egonya. Ego dapat diumpamakan seperti gurita. Anda tahu gurita? Di laut. Gurita memiliki banyak tangan, jika menangkap sesuatu seperti ini. Tidak mungkin untuk menyelamatkan seseorang yang dibelit gurita, jika Anda tidak memotong semua tangan gurita itu. Anda tak dapat menyelamatkannya. Dan ego adalah seperti gurita yang menutupi mereka, selesai. Jika tak seorang pun dari luar menolong mereka, mereka akan habis. Sang gurita akan memakan mereka. Dan demikian pula ego kita memakan diri kita, dengan cara yang mengerikan.

(Membaca semua juz), karena kami memiliki Kitab Suci, 30 juz, dan setiap juz memberikan suatu kekuatan untuk menyelamatkan manusia dari tangan-tangan gurita ego mereka. Karena itulah, kami menggunakan ke-30 juz, setiap 30 hari sekali (maksudnya mengkhatamkan 30 juz Quran setiap 30 hari-red) sekali lagi, sekali lagi.

Apakah maksud dari eksistensi manusia, tujuan dari hidup manusia?

Anda boleh bertanya pada Sang Pencipta. Anda bisa bertanya kepada Ia yang menciptakan manusia. Anda dapat bertanya? Ego Anda akan berkata, "Maksud dari penciptaan adalah untuk menikmati diriku sendiri dengan makan, minum, dengan Olimpiade, dengan segala sesuatu--itu adalah maksud penciptaan." Bagaimana dengan ruh Anda? Tak ada ruh. Saya di sini? Saat Saya ada di sini, Anda tak dapat bicara tentang ruh. Kapan Saya seharusnya berbicara? Saya tidak tahu. Anda mengerti?

Apa yang menjadi komponen-komponen praktis dari suatu hidup yang suci?

Hidup sejati adalah dengan ruh-ruh kita. Ego akan habis dan musnah dengan kematian, sedangkan ruh-ruh kita tak akan pernah musnah dan lenyap. Jadi, hidup yang bahagia, hidup yang kekal, dan kekekalan adalah bagi ruh-ruh kita, bukan buat wujud fisik kita. Karena itulah, manusia mestilah mencari kehidupan kekal mereka, tapi halangan terbesar di hadapan mereka adalah ego. Dengan ego, manusia tak akan pernah mencapai kekekalan.

Apa yang menjadikan suatu hidup suci?

Dengan menyelamatkan diri Anda dari tangan-tangan ego. Jika Anda telah selamat dari ego dan tangannya, Anda akan meraih suatu hidup yang suci. Hidup yang suci hanya melalui Langit, bukan di atas bumi. Karena itulah, orang-orang suci berada di Langit, manusia lain di atas bumi.

Apa yang menjadi pesan utama Islam kepada Muslim dan yang lainnya?

Seperti sudah saya katakan. Kami tidak membuat suatu perbedaan di antara manusia. Semua manusia memiliki badan yang dilengkapi dengan ego dan ruh. Dan ratusan ribu nabi-nabi telah datang, yang mereka inginkan hanyalah menyelamatkan manusia dari tangan-tangan gurita ego, dan membuat mereka bebas untuk naik ke Surga, ke kekekalan, menuju maqam kekekalan mereka. Jadi, tidak ada perbedaan antara kenabian (nubuwwah) dan nabi-nabi. Target utama setiap nabi adalah untuk menyelamatkan manusia dari tangan ego mereka, akan tetapi manusia selalu memperlakukan mereka dengan keburukan, dan berkata, "Kami tidak mau melakukan ini, kami bahagia dengan ego kami, dengan kesenangan-kesenangan fisik kami, kami bahagia. Mengapa engkau menyuruh kami ke jalan yang lain?"

Non-Muslim memiliki ego, Muslim pun memiliki ego, Non-Muslim mempunyai ruh, Muslim pun mempunyai ruh. Setiap orang yang membebaskan ruh mereka telah mencapai tujuan atau gelar sejati mereka. Jangan pernah memberikan otoritas (pengaruh/ kekuasaan-red) kepada manusia, jika mereka tidak berusaha untuk menyelamatkan diri mereka sendiri terlebih dahulu.

Jadi, kami tidaklah memerangi Non-Muslim, kami berperang melawan ego-ego yang mencegah manusia mencapai maqam surgawi mereka, atau mencegah mereka meraih dasar hidup kekal mereka. Tidak, kami bukanlah musuh dari siapa pun, bukan! Musuh kami, musuh bersama kita adalah ego-ego kita. Mengapa Saya harus memerangi Anda? Untuk apa? Itu adalah suatu kebodohan. Saya hanya ingin menyelamatkan Anda dari tangan-tangan ego Anda agar Anda menemukan jalan Anda menuju hidup yang kekal.

Adakah suatu kebajikan esensial, sifat-sifat baik yang menjadi pokok di mana kebajikan lainnya bergantung?

Semuanya akan menjadi jelek dan memburuk, jika Anda mengikuti ego Anda. Anda harus menyingkirkannya, karena ego meracuni hidup kita. Jika Anda tidak menyingkirkan ego Anda, hidup Anda di sini dan di akhirat akan teracuni. Karena itu, yang terpenting adalah memerangi ego kita, untuk menyingkirkannya dan berusaha untuk melakukan apa yang ruh Anda perintahkan.

Bagaimana Anda melawan ego Anda sendiri?

Itu adalah ajaran-ajaran Langit, yang tidak dapat Anda pelajari di universitas mana pun. Tidak! Universitas hanya membesarkan ego kita, memberi gelar--doktor, magister, professor. Ini dan itu. Gelar-gelar itu hanya menyenangkan ego kita, membuat ukuran ego menjadi semakin dan semakin besar. Kami ingin untuk membuat ukuran ego menjadi makin kecil, kecil, kecil, sampai sini.

Apa yang Anda yakini di dunia ini?

Sang Pencipta tak pernah berubah, dan Langit/Surga pun tak pernah berubah. Apa yang menjadi atribut Sang Pencipta, tak ada yang berubah, sedangkan segala sesuatu kini hari demi hari, jam demi jam, tengah berubah. Yang tak berubah adalah hakikat-hakikat. Di luar hakikat-hakikat, segala sesuatunya akan berubah. Suatu laut adalah laut yang sama, tapi gelombang dan ombak membuatnya selalu berubah di permukaannya, tetapi samudera-samudera adalah tetap. Tak ada perubahan. Tapi Anda harus melihat permukaannya, yang selalu diubah oleh angin setiap saat. Sedangkan samudera, hakikatnya adalah tsabit, tetap, keyakinan.

Anda bahagia dengan jawaban-jawaban ini? Anda boleh mengarang suatu buku. Jika ada orang yang keberatan dengan buku itu (yang berisi jawaban-jawaban Maulana Syaikh Nazhim-red), maka Saya di sini. Terbuka bagi Anda, dan semoga Anda juga beruntung untuk menemukan seorang wanita yang cantik sebagai istri.

Anda mengerti atau hanya duduk seperti monyet? Kini, Anda akan pergi berkeliling untuk bertanya kepada banyak orang tentang hal-hal ini? (Pemimpin-pemimpin dari komunitas-komunitas agama)

Anda boleh bertanya pada siapa pun, itu adalah timbangan yang benar, yang kami berikan pada Anda, untuk menemukan apakah itu benar atau tidak. Anda boleh membandingkannya, Anda tak akan pernah gagal, tidak. Gunakan meteran ini, timbangan, ukurlah, ini cukup bagi Anda, jangan khawatir. Berapa umur Anda?

Dua puluh satu!

Saya pikir Anda berumur 15 tahun. Anda tahu dia (Syaikh Hisyam)? Ia adalah seseorang dari markas besar. Saya bukanlah apa-apa, sedangkan dia adalah sesuatu. Terima kasih. Allah telah mengirim Anda kepada saya agar Saya mengatakan sesuatu yang belum pernah Saya katakan sebelumnya
posted by Mevlana as Sufi at 7:51 AM 0 comments

Pentingnya Membersihkan Tubuh
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
dalam Mercy Oceans (Book Two)


Suatu hal yang paling penting di setiap agama adalah menjadi bersih lahir dan bathin. Membersihkan seluruh tubuh adalah perintah Allah swt bagi semua orang. Ini berasal dari suatu keyakinan di mana gunung tidak dapat menanggungnya, tetapi manusia menerimanya dan salah satu keyakinan yang paling penting adalah membersihkan diri dari kotoran (najis). Kalian harus mandi setelah berhubungan intim dengan istri atau setelah mengalami mimpi basah. Hal ini berlaku di semua agama dan menjadi hal yang tidak berubah dan tidak bisa diubah. Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani k berkata bahwa jika seseorang mandi sekali sehari maka dia akan memperoleh kekuatan bagi jiwa dan raganya.

Hanya dengan melakukannya secara teratur, dalam 10 tahun dia bisa menempuh jarak yang normalnya ditempuh dalam waktu 20 tahun. Mandi juga memberikan ketenangan jiwa dan kedamaian dalam hati. Kalian harus berwudhu sebelum melakukan shalat. Wudhu memberikan kekuatan spiritual dan cahaya kepada kita. Grandsyaikh diperintahkan untuk melakukan 5 tahun khalwat dan dalam sehari beliau mandi enam kali dengan air yang diambil dari mata air dan dibawa di atas kepalanya, bukan dengan menentengnya. Kekuatan bukan berasal dari otot, tetapi dari jiwa yang aktif dan bahagia.

posted by Mevlana as Sufi at 7:51 AM 0 comments

Perhatikan Sisi Baik Seseorang
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
dalam Mercy Oceans (Book Two)


Ini adalah nasihat Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani kepada kita, para pengikut thariqat, dan orang-orang yang mengaku religius, atau bagi orang-orang yang berkata, “Aku adalah manusia, oleh sebab itu Aku harus menjaga salah satu perilaku baik yang terbaik, yaitu berpikir dalam hati mengenai kebaikan orang.” Sebaliknya, bila kita memikirkan perihal buruk tentang seseorang maka kita akan mendapat suatu akhir yang buruk. Allah senang bila kita mempunyai pikiran yang baik terhadap orang lain. Baik dan buruk dapat ditemukan dalam diri seseorang, keduanya siap untuk beraksi. Baik atau buruk reaksi yang ditimbulkan tergantung pada perlakuan kalian terhadapnya. Misalnya, jika Saya menghormati kalian, kalian akan merasa senang dan menunjukkannya kepada Saya. Kita perlu melihat orang dari sisi baiknya sehingga sisi itulah yang akan tampak.

Bila kalian berpikir positif tentang seseorang berarti perlakuan dirimu terhadapnya akan menjadi baik. Perlakuan yang baik adalah dengan memberi hormat. Jika kalian melakukannya paling tidak kalian akan menghindari kejahatan dalam dirimu. Kejahatan bisa timbul dari siapa saja. Ini adalah suatu nasihat yang keras. Kita harus memberi hormat kepada semua orang, karena setiap orang mempunyai sisi baik. Allah menyukai bila hamba-Nya dihormati, walaupun mereka adalah para pendosa, karena Allah memberi anak-anak Adam u kemuliaan yang tidak terhingga dalam Kehadirat Ilahi. Kalian tidak akan menemukan seorang ayah yang senang bila anaknya dihina, walaupun anak itu merupakan salah satu anak yang ternakal. Jika seorang ayah berkata, “Anakku nakal.” Saya harus mengatakan, “Akar yang baik, cabangnya juga baik, jangan khawatir, itu hanya soal kedewasaan.” Dia akan merasa senang terhadap Saya. Semua ayah seperti ini.

Suatu ketika Sayyidina ‘Ali ra sedang berada di atas mimbar di sebuah masjid dan berbicara mengenai anaknya, Hasan ra yang telah kawin-cerai berkali-kali. (Hikmah Ilahiah di balik perkawinan ini adalah bahwa sekarang banyak keturuan Rasulullah saw di dunia. Mereka adalah rahmat bagi ummat ini. Seorang keturunan Rasulullah e yang hidup di suatu kota akan menghindarkan kota itu dari kutukan.) ‘Ali ra berkata kepada orang-orang agar tidak menyerahkan anaknya untuk dinikahi Hasan ra. Tetapi semua orang malah menawarkan anaknya dan berkata, “Ambillah anak saya walau hanya sehari.” ‘Ali ra pun merasa senang.

Dari keburukan kita, kita melihat keburukan orang lain. Setiap orang mempunyai karakter yang baik. Kita harus memalingkan perhatian kita kepada sisi baik itu. Dalam Surat al-Rahman dikatakan, “Tidak ada balasan untuk kebaikan melainkan dengan kebaikan pula”
posted by Mevlana as Sufi at 7:51 AM 0 comments

Monday, August 09, 2004
Jihad
Jihad Suatu Konsep Islam yang Salah Dipahami
Fatwa Maulana Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani, ketua ISCA
dan Syaikh Seraj Hendricks, Mufti Cape Town, Afrika Selatan
(diambil dari http://islamicsupremecouncil.org/)


"Tidak perlu ditekankan lagi, bahwa Islam sangat menjunjung nilai-nilai rasio, keseimbangan, dan tanggung jawab dalam pelaksanaan urusan-urusan duniawinya. Tak ada yang diputuskan sekehendak hati saja dalam penentuan hukum yang berkaitan dengan urusan-urusan perang, perdamaian, hubungan internasional dan aturan hukum. Dalam bidang ini, ada banyak kesamaan antara hukum Islam dengan sistem hukum yang saat ini dipraktekkan di seluruh dunia. Selain adanya kemungkinan tinggi bahwa sistem-sistem hukum itu banyak dipengaruhi oleh warisan hukum Islam, kesamaan ini dapat pula dijelaskan dengan adanya fakta bahwa perlindungan dan pengesahan hak-hak asasi manusia adalah batu pondasi utama dalam perundang-undangan Islam."

Masyarakat internasional telah menyepakati, lewat institusi Perserikatan Bangsa-Bangsa, akan adanya hak-hak dan kepentingan manusia, yang selama ini selalu ditekankan dalam Islam. Ini tidaklah mengejutkan jika orang mengetahui akan realisme dasar, rasionalitas, dan pragmatisme dari hukum Islam. Sekalipun demikian, selama ini kritik-kritik terhadap Islam, selalu menekankan bahwa Islam dan Muslim adalah keras dan intoleran terhadap komunitas selain mereka. Kritik-kritik ini mengacu pada ayat-ayat Quran yang menyeru orang beriman untuk memerangi orang kafir, kemudian mereka menunjukkan adanya perang-perang di zaman permulaan Islam dan konfrontasi berikutnya antara kaum Salib (Crusaders) dan kaum "Saracen" atau "Moor", dan sekarang stereotipe kontemporer dari "teroris" Arab.

Harus dicatat bahwa banyak Orientalis yang tidak setuju dengan pensifatan seperti ini. Banyak di antara mereka yang justru memiliki pandangan yang berbeda. Lebih banyak ilmuwan masa kini yang telah meninggalkan sepenuhnya pendekatan Orientalisme masa lalu yang dipenuhi dengan hal-hal emosional. Sekalipun demikian, anggapan bahwa Islam masih dilihat sebagai sesuatu yang mengancam, fanatik, keras dan asing, masih terlihat sekali di media-media dunia. Dalam merumuskan jawaban atas semua masalah ini, adalah penting untuk memfokuskan lebih dahulu pada definisi umum dari Islam, agar kita tidak jatuh pada kesalahpahaman tentang Jihad dan posisinya dalam agama ini. Ungkapan umum bahwa Islam adalah suatu "way of life" (jalan hidup) sudah menjadi demikian usang hingga titik di mana kita dapat berlaku tanpanya. Islam lebih akurat dilukiskan sebagai "menegakkan kerajaan langit di muka bumi."

Pernyataan terakhir tersebut harus dipahami secara hati-hati untuk menghindari penjelasan yang dangkal atau literalisme menyesatkan yang banyak terdapat dalam pemikiran kontemporer tentang Islam. Adalah jauh dari cukup, untuk sekedar mengutip dalil-dalil tertulis, sebagai suatu cara menunjukkan pemahaman, akan suatu subjek tertentu dalam agama ini. Tidak pula cukup, menggunakan teks-teks Quran dan Sunnah Nabi saw, tanpa pengetahuan mendalam akan situasi kemanusiaan dan aspek budaya di saat mana teks-teks tersebut diturunkan dan diterapkan untuk pertama kalinya, demikian pula pengetahuan akan urutan-urutan ayat-ayat berdasarkan turunnya atau penghapusan (nasikh mansukh).

Dengan kata lain, konteks dan situasi saat turunnya Quran dan Hadits adalah krusial dalam penentuan syarat-syarat yang berkaitan dengan Jihad. Suatu kesalahan untuk menghakimi Islam dan Muslim, atas jenis "Jihad" yang telah jatuh menjadi korban dari tendensi-tendensi ideologis. Kritik atas hal ini harus pula menyadari adanya interpretasi "Jihad" yang dibesar-besarkan dan terkadang dipaksakan oleh beberapa "reformisme religius" yang menjadi-jadi saat ini. Mereka (reformis yang menjadi-jadi) ini telah mengabaikan aspek-aspek utama dari warisan intelektual Islam, secara selektif menekan figur-figur penting (dalam Islam) dan tak mengindahkan sejarah Islam tanpa cela berupa keberpegangan pada standar-standar hukum dan keadilan pada urusan-urusan negara.

Jihad dalam Sejarah dan Hukum

Sekarang, marilah kita melihat karakter Jihad secara lebih menyeluruh sebagaimana muncul dalam sejarah dan hukum Islam. Jihad dalam bahasa Arab berarti "berjuang untuk mencapai suatu tujuan". Dus, asumsi umum, bahwa Jihad berarti perang, adalah salah. Dalam kenyatannya, Jihad, menurut makna teknisnya, memiliki beberapa cabang, yang salah satunya adalah bentuk perang dari Jihad. Ibn Rusyd, dalam Muqaddimaat-nya, membagi Jihad menjadi empat macam, yaitu: "Jihad dengan hati; Jihad dengan lidah; Jihad dengan tangan dan Jihad dengan pedang."

(1) Ia mendefinisikan "Jihad dengan lidah" sebagai "Untuk menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran, sebagaimana jenis Jihad yang diperintahkan Allah pada kita untuk dilakukan atas orang-orang Munafik dalam firman-Nya, "Wahai Nabi saw! Berjihadlah atas orang-orang kafir dan orang-orang munafik" [9:73]. Nabi saw pun berjuang melawan orang-orang kafir dengan pedangnya dan melawan orang-orang Munafik dengan lidah." Said Ramadan Buti, seorang ulama Orthodoks kontemporer dari Syria mengatakan, dalam karyanya tentang Jihad dalam Islam,

(2) "Bahkan sebelum beliau saw melakukan Jihad dengan pedang melawan kaum kafir, tidak ada keraguan bahwa sebelumnya, Nabi saw telah menyeru orang-orang kafir ini dengan damai, melakukan protes atas kepercayaan mereka dan berjuang untuk melenyapkan pemahaman mereka yang salah akan Islam. Ketika mereka telah menolak solusi apa pun, bahkan malah mendeklarasikan perang melawan beliau dan dakwah beliau, dan memulai perang, saat inilah tidak ada alternatif kecuali untuk membela diri dan memerangi balik."

(3)Salah satu bentuk Jihad, yang biasanya tidak dilihat dalam persaingan saat ini untuk menulis 'headline' yang bernilai berita, adalah Jihad dalam menyajikan pesan-pesan Islam--dakwah. Tiga belas tahun dari 23 tahun misi kenabian Rasulullah e murni hanya berisi Jihad tipe ini. Berlawanan dengan kepercayaan yang populer saat ini, kata Jihad itu sendiri beserta bentuk-bentuk terkait dari kata akarnya banyak disebut dalam ayat-ayat Makkiyah dalam konteks non-kombatif (non perang).

Jihad Perang (Jihad Qital) dalam penggunaan teknisnya dalam syari'ah Islam berarti "deklarasi perang atas kekuatan-kekuatan non-Muslim yang suka perang dan agresif atau terhadap sesama Muslim yang melanggar batas". Jihad tidaklah bisa diputuskan secara serampangan oleh sembarang orang. Prinsip-prinsip dari Jurisprudensi Islam menyatakan bahwa aksi-aksi seorang pemimpin haruslah dibimbing oleh kepentingan-kepentingan ummat dan kepentingan-kepentingan secara kolektif, dalam beberapa kasus, harus didahulukan daripada kepentingan-kepentingan individual.

Jihad dan Penyebaran Islam

Allah berfirman dalam Quran, "Serulah (semua) pada Jalan Tuhan-mu dengan bijaksana (hikmah) dan pengajaran yang indah; dan berdialoglah bersama mereka dengan cara-cara yang terbaik dan penuh kasih: karena Tuhan-mu lebih mengetahui, siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan siapa yang beroleh petunjuk" [16:125]. Menyeru orang pada Islam dan membuat mereka akrab dan kenal dengannya dalam berbagai aspeknya lewat dialog dan persuasi yang baik adalah TIPE PERTAMA JIHAD dalam ISLAM, berlawanan dengan khayalan yang mempercayai bahwa Jihad hanya ada dalam bentuk peperangan (qital). Ini disebutkan dalam Quran, di mana Allah berfirman, "maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah (berjuanglah) terhadap mereka dengannya (al-Quran) dengan jihad yang besar" [25:52]. Di sini kata "berjuang" , digunakan dengan makna berjuang memakai metode khutbah-lidah dan nasihat/peringatan dan untuk gigih di dalamnya, sekalipun adanya penolakan keras kepala dari orang-orang kafir terhadap kepercayaan dan prinsip-prinsip Islam.

Imam Nawawi dalam kitabnya al-Minhaj, ketika mendefinisikan Jihad dan berbagai kategorinya yang berbeda-beda, berkata, "Salah satu dari tugas kolektif ummat secara keseluruhan (fardu kifayah) adalah untuk mengajukan protes secara sah, untuk memecahkan masalah-masalah keagamaan, dan juga untuk mempunyai ilmu tentang syari'ah (hukum Ilahi), dan untuk menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran (amar ma'ruf nahi mungkar)". (4)

Penjelasan mengenai Jihad dalam kitab karangan Imam al-Dardir yaitu Aqarab al-Masalik, bahwa Jihad adalah menyebarkan pengetahuan akan Hukum Ilahi (syari'ah, red.) menyeru pada kebaikan dan melarang kejahatan. Beliau menekankan bahwa adalah tidak diizinkan untuk melompati kategori Jihad ini untuk langsung menerapkan Jihad Perang, beliau berkata, "Tugas [Islami] pertama adalah untuk menyeru (dakwah) orang-orang untuk masuk dalam naungan Islam, sekalipun seandainya mereka pernah diceramahi oleh Nabi saw sebelumnya".(5) Pendapat serupa, dikemukakan Imam Bahouti dalam bab Jihad di kitabnya Kashf al-Kinaa, dengan menunjukkan adanya kewajiban keagamaan kolektif (kifayah) yang harus dilakukan ummat Islam sebelum mengambil bentuk Jihad perang, antara lain berkhutbah dan memberikan pendidikan tentang agama Islam, menghilangkan segala macam ketidakpastian/keragu-raguan akan agama ini; dan mengusahakan tersedianya semua keahlian dan kualifikasi yang dibutuhkan orang-orang dalam aspek keagamaan, sekuler, kepentingan fisik dan finansial karena hal-hal ini diperlukan untuk pengaturan hidup di dunia ini maupun untuk kehidupan yang berikutnya. Artinya, di sini dakwah, yaitu melakukan aktivitas-aktivitas penyebaran Islam dan pengetahuan tentangnya yang terkait, adalah batu utama dari 'bangunan' Jihad dan aturan-aturannya. Karenanya, suatu usaha untuk membangunnya tanpa 'batu' utama ini hanya akan merusak makna dan hakikat Jihad itu sendiri (6).

Menghilangkan semua kesalahpahaman dan stereotipe akan citra Islam yang dipunyai non-Muslim, kemudian membangun suatu hubungan saling percaya dan bekerja sama dengan mereka dengan cara-cara yang dapat diterima oleh cara berpikir mereka, semua adalah bentuk-bentuk utama dari Jihad. Demikian pula, menegakkan suatu masyarakat yang kuat dan suatu negara yang dapat memenuhi semua kebutuhan fisik warganya, yang dengannya tercipta kondisi-kondisi di mana pesan dakwah akan terdengar, bukannya tenggelam dalam hiruk pikuk dan rutinitas sehari-hari, semua hal-hal ini adalah suatu kebutuhan dan merupakan suatu blok dasar bangunan dari konsep Jihad. Pondasi-pondasi ini merupakan pelaksanaan perintah Quran, "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung." [3:104]. Sebelum hal ini terpenuhi, Jihad pun belum dilaksanakan.

Pemindahan Agama secara Paksa?

Jadi pondasi dari Jihad adalah penyebaran Islam (dakwah). Suatu pertanyaan yang sering diajukan adalah apakah Islam memaklumi dan mengajarkan konversi (usaha pemindahan agama) non-Muslim secara paksa dan bersenjata. Ini adalah suatu citra yang terkadang disebarkan oleh ilmuwan Barat dan jika Anda bertanya pada seorang ulama Muslim, tentu saja hal ini akan disangkalnya secara serius sebagai tidak benar sama sekali. Quran secara jelas menyatakan "Tidak ada paksaan dalam agama, telah jelas jalan petunjuk dari kesesatan" [2:256] dan [60:8]. Dalam ayat ini, kata "rusyd" atau "jalan petunjuk" mengacu pada seluruh domain kehidupan manusia, tidak hanya pada ritual dan teologi Islam!

Tidak perlu diperdebatkan lagi adanya fakta bahwa Arabia pra-Islam adalah suatu masyarakat yang tersesat yang didominasi sukuisme dan kepatuhan buta pada adat. Kebalikannya, kejelasan Islam dan penekanannya akan bukti-bukti logis dan rasional sudah cukup untuk membuatnya tersebar tanpa kekerasan. Ayat ini memberikan suatu indikasi kuat bahwa Quran menentang dengan tegas penggunaan cara paksa dalam kepercayaan keagamaan. Allah juga mengingatkan Sayyidina Muhammad saw dalam firman-Nya, "Ingatkan mereka, karena engkau hanyalah seseorang yang memberi peringatan." [88:21]. Allah menyuruh orang-orang beriman, untuk menaati aturan-aturan Islam, "Taatlah pada Allah, dan taatlah pada Rasul-Nya, dan berhati-hatilah (atas syetan): jika kau berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanah Allah) dengan terang" [5:92]. Teranglah dengan ayat ini, bahwa tugas Rasulullah hanyalah untuk menyatakan dan menyampaikan pesan wahyu; adalah bergantung pada tiap individu untuk menerima dan mengikutinya.

Syarat-syarat Jihad Perang

Penguasa, atau Imam, bertanggung jawab sepenuhnya pada rakyat dan aparat hukum mereka, yang utamanya diwakili oleh para ulama. Posisi dari hukum adalah HANYA pada suatu waktu di mana dapat dibuktikan secara logis bahwa:
·Ada perlawanan secara agresif terhadap Islam; dan,
·Ada usaha terorganisir untuk mengusir Muslim dari tanah wilayah sah milik mereka; dan, ada pengorganisasian militer untuk memusnahkan mereka (kaum Muslim).

Pada saat seperti itulah sang penguasa dapat menyatakan dan melaksanakan ketentuan Jihad. Adanya seorang pemimpin dari kaum Muslim, seorang Imam, untuk mendeklarasikan Jihad Qital, adalah suatu persyaratan. Dalam al-Mughni, Ibn Qudama menyatakan "mendeklarasikan Jihad adalah tanggung jawab Imam dan merupakan keputusan hukum independen darinya" (7). Al-Dardir mengatakan, "Pernyataan Jihad dilakukan dengan penugasan Imam pada seorang pemimpin" (8). Abu Bakr Al-Jazaa'iri menyatakan bahwa pilar-pilar Jihad antara lain adalah: "Suatu NIAT yang TULUS dan bahwa ia dilakukan di belakang seorang Imam Muslim dan di bawah panji bendera-nya dan dengan izinnya. Tidak diizinkan bagi mereka untuk berperang bila tidak ada Imam".
Demikian pula, penguasa, atau pemimpin politik dari suatu negara, memiliki kekuasaan untuk meratifikasi perjanjian-perjanjian damai, jika perjanjian-perjanjian itu konsisten dengan kepentingan-kepentingan Muslim. Wajib militer hanya dibatasi pada laki-laki muda yang sehat dengan syarat mereka memperoleh izin orang tuanya untuk berperang. Pengecualian akan hal ini adalah apabila musuh telah memasuki perbatasan-perbatasan suatu negara Muslim, saat itu Jihad menjadi wajib tanpa syarat atas setiap laki-laki yang mampu.

Persyaratan Islam dalam Meratifikasi Perdamaian

Allah berfirman "Masuklah dalam perdamaian sepenuhnya dan jangan kau ikuti langkah-langkah setan" [2:208]. Nabi bersabda, setelah menegakkan negara Islam di Madinah, bahwa jalan dari kaum Muslim adalah satu. Tak boleh ada satu kelompok pun dapat menyatakan perang atau bertempur, tak ada pula satu kelompok dapat melakukan perdamaian olehnya sendiri, tapi seluruh ummat Muslim-lah yang mesti membuat perdamaian. Suatu perjanjian damai dapat diputuskan oleh pemimpin negara/ummat, dan semua unsur dari negara/ummat diikat oleh keputusan itu, tanpa melihat apakah pemimpin itu ditunjuk atau terpilih. Keputusan final adalah tergantung pada sang penguasa setelah ia berkonsultasi dengan lainnya.

Jika suatu negara tidak memiliki pemimpin, maka negara itu mesti memilihnya, atau semua negara dan bangsa-bangsa tetangganya harus datang bertemu dan sepakat atas suatu pakta dengan suatu negara asing mana pun. Ini berlaku baik untuk perdamaian, maupun untuk perang. Tak seorang individu pun atau suatu kelompok diperbolehkan maju sendiri ke depan dan mendeklarasikan sendiri suatu Jihad: hal yang demikian akan menjadi suatu Jihad yang palsu. Semua bangsa Muslim dan pemimpin-pemimpin mereka harus datang dan bertemu untuk memutuskan perang atau damai, dan hanya inilah proses yang dapat diterima (untuk penentuan keputusan Jihad atau perdamaian, red). Secara alamiah, setiap komunitas memiliki hak untuk membela diri dan dalam kasus Islam, di mana agama adalah dimensi utama dari eksistensi manusia, perang dalam rangka mempertahankan negara menjadi suatu amalan religius. Ketidakpahaman atas hal ini dalam Islam, yaitu aspek non-sekularismenya; telah pula menyumbang pada ketakutan bahwa ketika Islam berbicara tentang perang, maka itu selalu berarti perang untuk mengkonversi (agama, red.). Ini mungkin benar untuk budaya-budaya lainnya, tapi Islam harus diizinkan untuk berbicara tentang dirinya sendiri.

Al-Dardir berkata tentang ini, "Jihad menjadi suatu kewajiban ketika musuh menyerang [Muslim] dengan tiba-tiba" (9). Said Ramadan al-Buti menunjukkan bahwa berperang dalam kasus seperti ini adalah kewajiban dari seluruh komunitas itu. Ini berdasarkan pada sabda Nabi saw, "Ia yang terbunuh ketika mempertahankan miliknya; atau dalam pembelaan diri, atau untuk agamanya, adalah seorang syahid" (10). Sudah jelas dari Quran dan sumber-sumber lain bahwa perjuangan bersenjata melawan kaum Musyrikin diperintahkan secara hukum dalam konteks situasi-situasi yang spesifik setelah Nabi berhijrah dari Makkah ke Madina. Di Madinah, beliau melakukan suatu perjanjian dengan Yahudi dan suku-suku Arab di kota itu, yang menerima beliau sebagai pemimpin dari komunitas mereka (di kota Madinah, red.). Dalam lingkungan basis operasi (dakwah) yang baru terbentuk inilah, di bawah pengaturan undang-undang Ilahiah dan kepemimpinan Nabi , Islam memperoleh status sebagai suatu negara dengan wilayahnya dan kebutuhan untuk melindungi kepentingan-kepentingannya. Pada saat itulah perintah Allah diturunkan mengizinkan adanya Jihad (Perang), tapi ini muncul hanya setelah:

Ø Penolakan keras dari pemimpin Makkah (saat Nabi sudah berada di Madinah) untuk mengizinkan penyebaran Islam secara damai di Makkah. Inilah pada kenyataannya yang menjadi alasan paling mendasar untuk Jihad bersenjata.
Ø Penyiksaan terus-menerus yang tak kunjung reda atas Muslim yang tertinggal di Makkah setelah hijrahnya Nabi ke Madinah memicu pemberontakan bersenjata atas kepentingan-kepentingan Quraisy di Hijaz.
Ø Penduduk Makkah sendiri telah memulai kampanye militer melawan kaum Muslim di Madinah dengan tujuan tunggal untuk memusnahkan Islam.
Ø Perjanjian-perjanjian keamanan kunci telah dilanggar secara sepihak oleh beberapa suku yang tadinya bersekutu dengan Nabi , yang memojokkan beliau pada suatu posisi yang lemah.

Kondisi-kondisi ini untuk Jihad yang melibatkan perjuangan bersenjata dinyatakan secara jelas dalam Quran: "Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas" [2:190] dan "Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janji -nya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama kali memulai memerangi kamu?" [9:13]. Gambaran yang muncul di sini adalah bahwa perintah berperang diberikan berkaitan dengan kondisi-kondisi tertentu. Dus, deklarasi perang bukanlah suatu perkara yang sembarangan sama sekali. Suatu implikasi lebih jauh dari hal ini, sebagaimana dikemukakan mazhab Hanafi, adalah bahwa perang saat itu dinyatakan oleh Nabi sebagai kepala dari negara Islam, dan karenanya tak seorang pun dapat mendeklarasikan Jihad secara sah kecuali seorang penguasa yang merupakan kepala sebuah negara Islam. Tugas itu terletak pada pundak kepemimpinan religius/politik untuk menentukan apakah kondisi-kondisi untuk Jihad telah dipenuhi dan kemudian untuk memberikan fatwa yang tepat.

Dalam waktu-waktu sesudahnya, kaum Muslim terlibat dalam peperangan untuk menegakkan "Pax Islamica" atau Orde Islami. Orde hukum dan politik haruslah lahir dari perintah Ilahi (Quran, Sunnah, dll.). Hal ini menjamin hak-hak setiap individu dengan tetap mewaspadai semua tendensi psikis gelap dari manusia dan karenanya mencegahnya dari melakukan perbuatan-perbuatan anti-sosial, agresi politik, hingga ke tindak-tindak kriminal paling umum. Untuk hal inilah Quran menyeru orang-orang beriman untuk pergi ke depan mempertahankan mereka yang hak-hak dan kemerdekaannya telah diinjak oleh tirani tak terkendali, dari orang-orang zalim dan pasukan penakluk musuh, atau mereka yang dicegah dari mendengarkan secara bebas firman Allah yang disampaikan pada mereka oleh para da'i dan pendidik. Allah berfirman, Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita, maupun anak-anak yang semuanya berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!’". [4:75]

Tidak ada bukti kuat bahwa kaum Muslim pernah berniat atau mencoba memaksakan ritual dan kepercayaan Islam yang spesifik. Sejarah Spanyol, India, dan daerah Balkan adalah bukti konkret akan hal ini. Ide, yang umum dipostulasikan di media, bahwa Islam bermusuhan terhadap non-Muslim hanya semata-mata karena mereka non-Muslim, adalah suatu kekeliruan konsepsi yang besar (11). Di luar kondisi-kondisi yang dilukiskan di atas, tidak ada alasan valid untuk bersikap bermusuhan pada mereka karena Quran menyatakan, "Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." [60:8] Yang diacu dalam ayat ini adalah kepada non-Muslim secara umum.

Ayat ini menyebutkan suatu prinsip fundamental dalam Islam berkaitan dengan hubungan Muslim/Non-Muslim. Muslim dianjurkan untuk berbuat baik dan adil terhadap pemeluk agama dan kepercayaan lain kecuali dalam dua keadaan; pertama, jika mereka mengeluar kan kaum Muslim dari tanah mereka yang sah, dan; kedua, jika mereka berlaku bermusuhan terhadap kaum Muslim atau menunjukkan niatan yang jelas untuk melakukan hal itu (al-hirabah) disebabkan agama mereka dengan niatan kuat untuk menghancurkan keseluruhan ummat Islam. Dalam kasus yang kedua itu, adalah kewajiban dari Pemimpin Muslim untuk mendeklarasikan Jihad sebagai suatu aksi bela diri untuk menolak serangan-serangan semacam itu.

Jihad di antara Muslim

Jihad, dalam kasus pertikaian internal (Muslim), hanya muncul ketika dua kondisi ini ada: seorang Imam yang adil memerangi pemberontakan yang tak dapat dibenarkan; dan kaum Muslim berperang mendukung sang Imam melawan pihak yang memberontak. Dalam Islam, kesetiaan dan ketaatan pada pemerintah adil yang berkuasa adalah suatu kewajiban. Harus pula dicatat bahwa pemberontakan-pemberontakan melawan pemerintah yang sah dan khususnya pemerintahan politik, hanya demi pemberontakan itu sendiri, maka pemberontakan seperti ini tidak memiliki tempatnya dalam konsepsi Jihad. Dalam zaman relativisme seperti sekarang ini, semangat pemberontakan nampaknya telah menembus setiap lapisan masyarakat. Sekalipun demikian, Islam dan prinsip-prinsipnya tak boleh dibuat tunduk pada trend-trend kultural semacam ini.

Di beberapa kelompok "Islamis" kontemporer, Jihad telah diadaptasikan pada konsep Marxis atau Sosialis tentang pemberontakan revolusioner yang ditujukan untuk menggulingkan pemerintahan suatu negara. Dalam suatu lingkungan ideologi-ideologi politis dan revolusioner, yang seringkali amat materialistik, Islam secara tak terhindarkan telah tereduksi menjadi tak lebih dari sekedar filosofi sosial. Reduksionisme ini sama saja dengan kesalahpahaman yang dalam akan fungsi esensial dari Islam, yaitu untuk memalingkan “wajah” manusia dari dunia yang tak harmonis dan penuh ilusi menuju pada suatu kedamaian dan ketenangan akan kesadaran dan visi Ilahiah (Ketuhanan). Jihad internal (ke dalam nafsu sendiri), sebagaimana telah kami singgung di awal essai ini, memiliki peran kunci dalam hal ini.

Pemberontakan pada Penguasa

Ulama Ibn Nujaym berkata, “Tidaklah diizinkan adanya lebih dari satu pemimpin negara (Imam) dalam satu periode waktu. Hakim mungkin ada banyak jumlahnya, bahkan di satu negara, tapi pemimpin hanya satu.” (12) Al-Bahjouri mengatakan, “Adalah suatu kewajiban untuk taat pada pemimpin, sekalipun ia adalah seseorang yang tidak adil atau tidak tepercaya atau bahkan jika ia telah melakukan dosa atau kesalahan.” (13) Mazhab Abu Hanifah mengatakan bahwa kepala negara, Imam, tidak dapat dipecat karena berlaku fasiq (14). Hudzaifa bin al-Yaman y meriwayatkan suatu hadits di mana ia berkata, “Nabi saw bersabda, ‘Akan ada setelahku, pemimpin-pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak mengikuti sunnah-ku, dan akan ada di antara mereka manusia-manusia yang hatinya seperti setan dalam tubuh seorang manusia’. Aku kemudian bertanya pada Nabi saw, ‘Apa yang mesti Aku lakukan jika Aku hidup pada waktu itu?’ Beliau menjawab, ‘Dengarkan dan taatlah pada penguasa, bahkan jika ia mencambuk punggungmu dan mengambil uangmu, dengarkan dan taati.’” (15)

Dalam riwayat lain, Auf bin Malik y berkata, “Wahai Nabiyallah saw, apakah Anda menganjurkan kami untuk memerangi mereka?” Beliau menjawab, “Jangan! Jangan memerangi mereka selama mereka tidak mencegahmu melakukan shalatmu. Dan jika kau melihat mereka sesuatu yang tidak kau sukai, bencilah perbuatan mereka itu, tapi jangan kau benci diri mereka. Dan jangan kau tarik tanganmu dari ketaatan pada mereka.”(16) Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abdullah ibn al-Abbas y, “Jika seseorang membenci penguasanya, ia harus bersabar, karena jika ia melawan penguasa dengan suatu pemberontakan atau tingkah laku merusak sekalipun hanya dengan sejengkal tangan dan kemudian mati, maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah dan berdosa.”

Teks-teks sumber ini adalah bukti yang jelas bahwa barangsiapa hidup di bawah pemerintahan tertentu haruslah taat pada penguasa itu dan hidup dengan damai. Mereka dilarang untuk mengangkat senjata melawannya. Pemberontakan atau kekerasan oleh suatu kelompok terhadap penguasa ditolak secara tegas oleh Islam, dan dilarang oleh Nabi dan akan menjadi suatu sebab kematian di jalan jahiliyyah. Dus, Islam menganggap pemberontakan terhadap penguasa sebagai suatu ketidakadilan. Hadits-hadits ini menegaskan bahwa seseorang mesti bersabar terhadap penguasa/ pemerintahnya, sekalipun jika penguasa itu melakukan tekanan. Hadits-hadits ini mengacu pada pemimpin suatu negara, dan bukan pemimpin suatu kelompok kecil. Karena itulah, kelompok-kelompok yang memberontak dengan kekerasan melawan rezim pemerintahan mereka adalah terlarang dalam Islam dan dianggap sebagai illegal dan berdosa.

Sebenarnyalah, jalan yang benar untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan seorang pemimpin adalah menurut suatu hadits “Jihad terbesar adalah ketika seseorang berkata kebenaran di hadapan seorang penguasa tiran.” (17) Perlu dicatat di sini bahwa hadits tersebut tidak menyebutkan sama sekali tentang melawan sang penguasa, melainkan memuji siapa yang mengoreksi penguasa dengan kata-kata. Oposisi bersenjata dan dengan kekerasan atas suatu rezim pemerintahan tidak akan pernah dianggap sebagai suatu Jihad di jalan Allah, sekalipun hal ini diklaim oleh banyak kelompok. Sayang sekali, saat ini kita melihat begitu banyak individu dan kelompok yang mencap penguasa dan pemerintahan mereka sebagai kafir atau murtad, untuk menjustifikasi tindakan mereka mendeklarasikan jihad atas pemerintah, dengan memberi alasan bahwa hal ini karena pemerintahannya tidak memerintah dengan apa yang diwahyukan pada Nabi . Lebih buruk lagi dari hal ini, adalah mereka bertindak lebih jauh dengan menteror dan membunuhi pejabat-pejabat pemerintah, anggota-anggota angkatan bersenjata dan petugas pelayanan masyarakat, semata-mata karena mereka adalah target yang mudah. Kelompok-kelompok ini menggunakan suatu ideologi “militan Islami” untuk membenarkan aksi yang kejam seperti itu, dengan menyatakan bahwa penguasa, pemerintah, dan pejabat-pejabatnya sebagai kriminal-kriminal yang menghalangi jalan “Islam yang benar”, yang harus dilenyapkan. Dus, mereka yang sebenarnya tak berbuat kejahatan apa pun, yang sekedar mencari penghidupan dan membina keluarga mereka, seperti para pejabat dan petugas kementerian dan departeman, pejabat provinsi dan kota dan polisi, menjadi target dari ideologi ekstremis ini. Kelompok-kelompok seperti itu tidak ragu untuk membunuh mereka dalam serangan-serangan mendadak, meneror seluruh negara dengan membom di sana sini dan melukai orang tak bersalah.

Jika penguasa bertindak salah, tidak diizinkan untuk mencapnya sebagai murtad, tidak pula diizinkan mengindoktrinasi ummat untuk menggunakan militansi untuk melawannya. Pada zaman Nabi saw setelah Fat-hu Makkah (penaklukkan Makkah), seorang sahabat bernama Hatib ibn Abi Balta, menolong sebagian musuh dengan mendukung mereka secara ekstensif dan memberikan informasi rahasia pada mereka. Mungkin tidak ada saat ini orang yang mendukung penguasa tiran seperti Hatib mendukung orang-orang kafir saat itu. Ketika ia ditanya akan motifnya, Hatib menjawab, “Wahai Nabi Allah ! Janganlah terburu-buru menghakimi diriku. Aku dulu adalah orang yang berhubungan erat dengan kaum Quraisy, tapi aku tidak termasuk dalam suku ini, sementara para muhajir (sahabat yang hijrah) lain bersamamu, mereka memiliki keluarga-keluarga mereka di Makkah yang akan melindungi keluarga tanggungan mereka dan harta milik mereka. Karenanya, aku ingin untuk menutupi ketiadaan hubungan darahku dengan mereka itu dengan cara melakukan kebajikan bagi mereka sehingga mereka mau melindungi tanggungan-tanggunganku. Aku melakukannya sama sekali bukan karena kufur atau murtad tidak pula karena mengutamakan kufur atas Islam.” Nabiyullah saw bersabda, “Hatib telah mengatakan padamu kebenaran.” (18)

Kita lihat di sini bahwa Nabi , sekalipun sadar sepenuhnya akan tindakan-tindakan Hatib, tidak pernah menganggapnya di luar naungan Islam, tidak pula beliau menimpakan hukuman atasnya. Berkenaan dengan Hatib dan dukungannya pada orang-orang kafir, Allah menurunkan ayat berikut, “Wahai orang-orang beriman! Janganlah kau ambil musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman setia: akankah kau tawarkan pada mereka kasih sayang sementara mereka mengingkari kebenaran yang telah datang padamu, dan mengusir Rasul dan dirimu sendiri karena kamu beriman pada Allah , Tuhanmu?” [60:1]. Sekalipun ayat ini menegur Hatib, menunjukkan bahwa ia salah, Allah tidak menganggapnya keluar dari iman, melainkan tetap menegurnya dengan sebutan kehormatan Wahai orang yang beriman”, sekalipun tindakannya dianggap membantu musuh-musuh Islam.

Ini memberikan bukti bahwa bahkan jika seseorang membantu suatu rezim yang tidak mendukung Islam, dia tak boleh disakiti sebagaimana Nabi pun tidak menghukum apa pun atas Hatib. Orang mungkin akan heran betapa saat ini begitu banyak kelompok yang dengan mudah mencap orang-orang yang bekerja di pemerintahan sebagai pemberontak dan murtad, dan mengeluarkan pernyataan kejam untuk membunuh mereka. Pekerjaan orang-orang itu bagi pemerintahan mungkin hanya sekedar untuk mata pencaharian mereka, atau malah untuk membangun suatu jembatan kepercayaan bagi masyarakat Islam, untuk menjamin suatu hubungan yang lebih baik di masa depan atau pemahaman yang lebih baik akan Islam. Perbuatan-perbuatan ekstrim seperti pernyataan untuk membunuh dan lain-lain tadi, sama sekali tidak berdasar pada Islam, dan didasarkan pada suatu ideologi ekstremis yang jauh menyimpang dari jalan tengah yang selalu dianjurkan dalam agama Allah yang diberkati ini.

Jihad Internal

Islam bukanlah sekedar agama retorikal belaka, ia didasarkan atas persatuan, cinta dan perbuatan yang rasional. Segera setelah wafatnya Nabi, Islam menyebar ke luar dari pusatnya di bumi, Ka’abah, suatu simbol iman yang tak tergoyahkan. Jihad adalah dinamika dari perluasan ini. Jihad secara keluar, melembagakan kekuatan Islam atas kebatilan dan kezaliman, sementara Jihad secara ke dalam mewakili suatu metode kebangkitan spiritual dan perbaikan nafs. Dengan mengacu pada hal inilah, Nabi e pernah bersabda sekembalinya dari pertempuran, “Kita sekarang kembali dari Jihad kecil ke Jihad yang lebih besar, Jihad melawan nafs.” (19) Nabi dilaporkan telah pula bersabda dalam Haji Perpisahan, “…Pejuang di Jalan Allah adalah ia yang berjihad melawan dirinya sendiri (jahada nafsah) demi untuk menaati Allah .” (20)

Sarana dalam Jihad Qital, yaitu pedang, diadopsi dan diinternalisasi oleh Islam sebagai suatu simbol karismatik dari alat perang suci. Ia menyimbolkan sifat-sifat kekuatan dan kewaspadaan, sesuatu yang tak bisa ditinggalkan oleh seorang pesuluk (penempuh jalan) spiritual dalam perjalanannya menuju pencerahan dan visi. Simbolisme ini secara mendalam telah menginspirasi seniman dan pengrajin Muslim. Sebagai contoh, dalam kaligrafi, orang akan menemukan motif pedang tercetak dalam emas dan perak sebagai huruf awal dari kesaksian iman, syahadah. Bukti historis, dan praktek saat ini mengindikasikan bahwa simbol ini seringkali menjadi feature utama dari event kultural di dunia Islam, seperti tarian daerah di mana pedang berkilat diayunkan sambil menyanyi dan bergerak menurut suatu ritmik dari resitasi dzikir Sufistik.

Allah berfirman dalan Quran suci, “Mereka yang berjuang demi Kami, Kami akan bimbing mereka menuju jalan Kami” [29:96]. Dalam ayat ini, Allah menggunakan turunan dari akar linguistik kata “Jihad” untuk mendeskripsikan mereka yang pantas memperoleh hudan/petunjuk/bimbingan, dan Allah telah membuat petunjuk itu bergantung pada Jihad melawan keinginan-keinginan batil dari jiwa. Karena itulah, orang yang paling sempurna adalah mereka yang berjuang paling gigih melawan desakan egois dari nafs-nya demi (menaati) Allah. Jihad yang paling wajib adalah Jihad melawan sisi paling dasar dari nafs, melawan keinginan (Hawa’), melawan syetan, dan melawan dunia yang rendah. Sufi besar Al-Junayd k berkata, “Mereka yang berjuang melawan keinginan hawa nafs-nya dan bertaubat demi Allah, akan dibimbing menuju jalan ketulusan (Ikhlas). Seseorang tidak bisa berjuang melawan musuh luarnya (yaitu dengan pedang) kecuali ia yang berjuang melawan musuh-musuh dalamnya (nafs dll.) Kemudian siapa saja yang telah dikaruniai kemenangan atas mereka akan pula menang atas musuh luar-nya, dan siapa yang dikalahkan musuh-musuh dalam dirinya, musuhnya akan mengalahkannya.”

Dzikir: Mengingat Allah swt

Nabi saw bersabda, “Maukah kalian aku beritahu sesuatu yang terbaik di antara amal-amal, merupakan amal salih terbaik di hadapan Tuhanmu, meninggikan derajatmu di akhirat kelak, dan membawa keutamaan lebih banyak daripada mengeluarkan emas dan perak di jalan Allah, atau berperan serta dalam Jihad dan membunuh atau terbunuh di jalan Allah ?” Mereka menjawab, “Ya, mau!” Beliau bersabda, ”Mengingat Allah (DzikrulLah).” (21)

Dus, orang akan menemukan bahwa prinsip-prinsip Jihad Spiritual didasarkan atas pelenyapan sifat-sifat buruk, egois, dan buas dari nafs lewat latihan spiritual (riyadhah ruhaniyyah) dan penguasaan dzikir, mengingat Allah. Dzikir ini ada banyak bentuknya: setiap mazhab atau tariqah Sufi memfokuskan pada suatu bentuk latihan spiritual yang berbeda untuk mendorong salik (sang pencari) mencapai Hadirat Ilahi. Metode-metode ini bervariasi mulai dari dzikir pelan individual hingga dzikir dalam suatu kelompok. Perjuangan ruhaniah inilah yang menaikkan manusia dan menanamkan dalam dirinya perasaan berhubungan dengan Penciptanya, dan perspektif yang benar dalam berhubungan dengan semua makhluk, selalu menyerukan cinta di antara manusia dan berjuang di jalan Allah demi terciptanya saling pemahaman antara komunitas-komunitas yang berbeda dari semua kepercayaan dan agama yang ada. Dengan Jihad spiritual/ ruhaniah inilah pengaruh dari nafs yang egois pada ruh sang pencari (salik) akan hilang dan meningkatkan maqamnya dari depresi, kecemasan dan kesendirian menuju seseorang yang penuh kebahagiaan, kepuasan, dan persahabatan dengan Yang Maha Tinggi.

Catatan Kaki
(1) Muqaddimaat, Ibn Rushd (dikenal di dunia Barat sebagai Averroes), hal. 259.
(2) Jihad in Islam, Muhammad Sa'id R. Al Buti, Dar al-Fikr, 1995.
(3) Jihad in Islam, Muhammad Sa'id R. Al Buti, Dar al-Fikr,1995.
(4) lihat al-Minhaaj, (Metode), al-Nawawi, hal. 210.
(5) Al-sharh al-saghir, Imam al-Dardir.
(6) Kashf al-kina'a, Mansour bin Yunes al-Bahhouti, hal. 33.
(7) Al-Mughni, Vol. 9, hal. 184.
(8) Al-Sharh al-Saghir oleh al-Dardir, Vol. 2, hal. 274.
(9) Ibid.
(10) riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi.
(11) Pengecualian tunggal atas hal ini adalah pendapat Imam Syafi'i, yang berpendapat bahwa ayat "maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sungguh Allah I Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [9:5] dan ayat "Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah I dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah I dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (Islam), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka (Yahudi, Kristen dan Majusi), sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk." [9:29], mendukung suatu kondisi bahwa Jihad adalah perang terus-menerus atas non-Muslim sampai mereka bertaubat dan menerima Islam atau jika tidak membayar jizyah." Tetapi, mayoritas fuqaha (ahli hukum) berpendapat melawan pendapat ini, dengan mengutip ayat berikutnya sebagai bukti "Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah I, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui." [9:6]. Imam-Imam yang lain berpendapat dari ini bahwa selama mereka patuh dan berkehendak untuk hidup dengan damai bersama kaum beriman, kewajiban Ilahiah kita adalah untuk memperlakukan mereka dengan damai, meskipun mereka mengingkari Islam. Ayat berikutnya, "Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin, kecuali orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidilharam (yaitu di al-Hudaibiyah)? maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa." [9:7] adalah suatu perintah untuk menjaga kewajiban-kewajiban pakta perjanjian dengan perhatian yang sangat cermat, dan agar tidak melanggarnya kecuali jika orang-orang tak beriman melanggarnya lebih dahulu. Ini diulang dalam ayat berikutnya "Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin yang lain), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (tidak menetapi perjanjian)". [9:8] di mana Allah nmemerintahkan kita untuk tidak membuat perjanjian dengan musuh tak beriman yang melanggar sumpah-sumah mereka dan memiliki niat untuk menyergap kaum Muslim. Seandainya tujuan Jihad adalah untuk memerangi seluruh orang-orang tak beriman, maka tentu tidak akan ada kebutuhan akan pakta perjanjian dan tidak akan ada pembedaan di antara musyrikin yang setia dan memegang janjinya dengan mereka yang berkhianat. Berdasarkan argumen-argumen para ulama ini, mayoritas menyimpulkan bahwa perang fisik bukanlah suatu kondisi permanen atas orang-orang tak beriman, tetapi hanya ketika perjanjian-perjanjian dilanggar atau suatu agresi telah dilakukan atas teritorial Muslim (dar al-Islam) oleh orang-orang tak beriman. Di lain pihak, dakwah pada Islam, adalah suatu jihad kontinu, dilakukan terus-menerus, berdasarkan hadits, "Aku telah diperintah untuk melawan orang-orang sampai mereka menyatakan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad saw adalah utusan-Nya, menegakkan shalat, dan membayar zakat. Jika mereka melakukan semua itu, darah dan harta mereka dijamin dan dilindungi atas namaku kecuali jika dibenarkan oleh hukum-hukum Islam. Kemudian perhitungan atas mereka akan dilakukan oleh Allah." (Bukhari dan Muslim). Said Ramadan Buti dalam "Jihad in Islam", menjelaskan hadits ini secara detail, menunjukkan bahwa, berlawanan dengan pendapat minoritas, berjuang di sini tidak mengacu pada perang melainkan untuk berjuang dalam bentuk dakwah, menceramahi, memperingatkan dan menegakkan prasarana negara yang dengannya dakwah Islam terlindungi. Ini tidaklah berarti memaksa seseorang menjadi Muslim di ujung sebilah pedang, dan berbagai contoh dapat dikutip dari sejarah hidup Nabi saw yang menunjukkan bahwa beliau tak pernah memaksakan pemindahan agama, tidak pula hal ini dilakukan penerus-penerusnya. Said Ramadan Buti menjelaskan bahwa ulama-ulama bahasa dari hadits, menunjukkan bahwa kata yang digunakan Nabi saw pada kenyataannya bermakna "melawan" dan bukan "membunuh". Dalam bahasa Arab, kata ini digunakan dengan makna membela diri terhadap seorang penyerang atau seorang zalim, dan tidak digunakan dengan arti menyerang atau membunuh.

(12) Al-Ashbah wal-nadhair, Ibn al-Nujum, hal. 205
(13) Syarah Sahih Muslim, vol. 2, Al-Bahouri, hal. 259.
(14) Syarh al-aqaid an-nasafiyya, Imam Abu Hanifa hal. 180-181.
(15) Sahih Muslim.
(16) Sahih Muslim. Hadits-hadits lain dengan maksud serupa antara lain: 1) "Akan ada atas kalian pemimpin-pemimpin yang akan kau kenali tapi tidak kau setujui, siapa yang menolak mereka adalah bebas, siapa yang membenci mereka adalah selamat, berlawanan dengan mereka yang senang dan menaati mereka”, mereka (para sahabat) bertanya, “Tidakkah kami mesti memerangi mereka?” Beliau e menjawab, “Tidak, selama mereka masih shalat.” 2) "Pemimpin-pemimpin kalian yang terbaik adalah mereka yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, kalian berdoa bagi mereka dan mereka berdoa bagi kalian. Pemimpin-pemimpin kalian yang terburuk adalah mereka yang marah atas kalian dan kalian marah atas mereka dan mengutuk mereka dan mereka mengutuk kalian.” Kami bertanya, “Ya Rasulallah e tidakkah kami mesti menyingkirkan mereka karena hal tersebut?” Beliau menjawab, “Tidak, selama mereka menegakkan shalat bersama kalian.”

(17) Diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudri dalam Abu Dawud dan Tirmidzi.
(18) Sahih Bukhari.
(19) Ghazali, dalam Ihya'-nya, al-`Iraqi berkata bahwa Bayhaqi meriwayatkannya dari Jabir dan berkata bahwa ada kelemahan pada rantai transmisinya (isnad). Menurut Nisa'i dalam al-Kuna ini adalah suatu perkataan dari Ibrahim ibn Ablah.
(20) Tirmidzi, Ahmad, Tabarani, Ibn Majah, dan al-Hakim.
(21) Diriwayatkan dari Abu al-Darda' oleh Ahmad, Tirmidzi, Ibn Majah, Ibn Abi al-Dunya, al-Hakim, Bayhaqi, dan Ahmad juga meriwayatkannya dari Mu`adh ibn Jabal y.

Wa min Allah at taufiq

posted by Mevlana as Sufi at 8:53 AM 0 comments

Bagaimana Kita Melindungi Anak-anak kita
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
Mercy Oceans on the Bridge to Eternity


Banyak di antara saudara dan saudari kita yang mengkhawatirkan anak-anaknya dan mereka bertanya kepada saya, “Apa yang bisa kami lakukan?” Saya melihat bahwa orang tua membiarkan anak-anaknya tinggal di rumah dan mereka memberi pendidikan di rumah, karena mereka takut bahwa masyarakat akan menyakiti mereka sehingga mereka bisa kehilangan anak-anaknya. Jadi apa yang bisa kita lakukan? Mereka berpikir jika mereka menjaga agar anak-anak tetap berada di rumah, dan jika mereka tidak mempunyai TV di rumah mereka dan jika mereka memberinya pendidikan yang keras, itu akan lebih baik. Orang yang telah dewasa mengetahui apa yang berlangsung dalam kehidupan ini dan mereka mempunyai perlindungan. Mereka dapat melindungi diri mereka agar tidak terpengaruh dengan masyarakat dan kebodohan serta aktivitas yang buruk. Saya melihat masyarakat Dar-ul-Salam di New Mexico, di mana hanya ada 2 atau 3 keluarga yang hidup bersama anak-anaknya. Padahal itu dibangun untuk menampung ratusan bahkan ribuan Muslim dan untuk hidup dalam kehidupan yang Islami. Ini bukan suatu ide yang baik. Lebih baik kalian membawa keluarga kalian untuk keluar dari negeri ini dan pergi ke tempat yang lebih aman, jika kalian takut anak-anak kalian akan kehilangan Imannya. Bawa seluruh anggota keluarga ke tempat yang lebih baik di mana masyarakatnya tidak seperti di barat. Atau jika kalian ingin tinggal di sini dan kalian ingin mencoba melindungi anak-anak dengan mencegah mereka melihat TV, video, sinema, teater, majalah dan koran, maka kalian hanya akan bisa melakukannya untuk waktu yang singkat saja, sampai anak-anak mencapai usia dewasa. Atau paling tidak sampai mereka berusia 9 atau 10 tahun. Setelah itu sangat sulit bahkan hampir mustahil untuk mencegah mereka.

Jadi, seperti kisah yang disebutkan dalam al-Qur’an bahwa Allah menguji tentara Saul dan berkata kepada mereka, “Kalian akan mencapai sungai dan hanya diizinkan untuk minum seteguk air.” Hanya sedikit orang yang dapat mengontrol diri mereka dan dapat mematuhi Perintah Ilahi yang Suci. Jadi mereka menceburkan diri mereka ke dalam sungai itu untuk minum dan minum… dan mereka tidak pernah puas! Mereka yang hanya mengambil seteguk air merasa puas. Sekarang, kembali ke generasi muda yang sedang tumbuh, jika kalian berusah mencegah mereka, 100% kalian tidak akan bisa melakukannya. Jadi berikanlah mereka sedikit dan katakan, “Cukup!” lalu tinggalkan mereka sesuai dengan kehendak Allah. Jika kalian mencegah 100% tidak akan ada hasilnya, kalian justru akan mendapat hasil yang sebaliknya. Seperti ketika kita menggunakan vaksin untuk mencegah penyakit, kita letakkan racun yang sama ke dalam darah dan itu akan mempersiapkan daya tahan tubuh. Kadang-kadang kita akan menderita sakit yang ringan setelah vaksinasi, yang kemudian akan sembuh dan tubuh akan siap terhadap serangan berikutnya.

Bahkan dengan video dan TV banyak sekali racunnya, tetapi kita tidak harus melarangnya secara total, hasilnya malah sebaliknya. Jika kalian merasa senang untuk membuka satu jendela, bukan pintu, maka lakukanlah. Anak-anak kalian dapat melihat lewat jendela itu dan ikut merasa senang, dan mungki dengan Kehendak Tuhan, mereka akan merasa jenuh. Seperti halnya orang-orang yang jenuh dengan menonton TV dan video. Hikmah Ilahi yang membuat orang merasa jenuh. Karena jika seseorang memakan makanan yang istimewa setiap hari, dia akan merasa jenuh. Jadi kalian melihat bahwa Allah memberi kita begitu banyak kenikmatan yang dapat kita manfaatkan. Kita tidak hanya memperoleh jerami, seperti binatang, atau gandum, atau barley atau rumput…tidak, tetapi segalanya! Sehingga hamba Allah tidak akan merasa jenuh. Kalian dapat melakukannya seperti yang terjadi selama Perang Teluk, orang-orang duduk sejak pagi hingga petang menonton CNN. Hari kedua mereka berkata, “Apa itu CNN?” dan pada hari ketiga mereka merasa jenuh dan tidak ingin lagi mendengar soal itu. Dan CNN yang kita lihat tidak hanya dalam bahasa Inggris, mereka membuat terjemahannya ke dalam bahasa Turki yang kadang-kadang bagian awalnya hilang, kadang pula bagian akhirnya yang hilang. Sungguh terjemahan yang aneh. Tak seorang pun yang memahaminya. Bukannya mengatakan bahwa Amerika dibombamdir, mereka malah mengatakan bahwa Iraq yang dibombardir… Sungguh suatu terjemahan yang bodoh.

Jadi biarkan jendela itu terbuka. Karena jika kalian membuat situasi yang istimewa untuk anak-anak, mereka akan bertanya, “Mengapa? Apa alasannya sehingga kami tidak boleh pergi ke sekolah? Kami juga ingin mendapat teman…” Dan setelah beberapa lama mereka akan melarikan diri dan mulai berbohong sehingga akan lebih buruk keadaannya. Jadi, jika kalian ingin mengajarkan mereka di rumah, itu boleh saja, tetapi jika kalian dapat mengontrol mereka ketika mereka pergi ke sekolah, maka itu lebih baik. Itu adalah sesuatu yang merupakan karakteristik ego kita, yaitu sibuk dengan segala sesuatu dengan cepat lalu kembali dengan perasaan jenuh. Jika kalian menerapkan disiplin yang ketat mereka akan mencoba melompatinya. Buatlah sesederhana mungkin dan itu akan lebih mudah bagimu dan bagi anak-anakmu. Jika kalian tidak merasa puas dengan situasi yang terjadi, maka bawalah anak-anak kalian ke tempat yang lebih baik di mana akan lebih mudah. Di sini sangat sulit untuk menjaga agar mereka selalu bersamamu. Ketika mereka tumbuh, mereka akan melarikan diri dan sangat sulit bagi kalian untuk menemukan mereka.

Karena banyak sekali pusat-pusat setani yang mengincar generasi muda, baik anak lak-laki maupun perempuan. Banyak sekali Setan yang memburu mereka. Jadi berusahalah untuk membuat mereka percaya akan keberadaan Allah sampai mereka menginjak usia yang cukup untuk melakukan wudhu mereka, lalu katakanlah, “Ya Tuhanku, Aku telah melakukan apa yang bisa kuperbuat, sekarang Aku memohon kepadamu untuk melindungi mereka. Aku telah menyerahkan mereka kepada-Mu.” Dan kami berharap mereka akan mendapat perlindungan.

Wa min Allah at taufiq


posted by Mevlana as Sufi at 8:53 AM 0 comments

Jihad Al-Nafs (Berjuang Melawan Ego)
Maulana Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani
Jihad Al-Nafs (Berjuang Melawan Ego)
Imam Nawawi dalam Bustan al-‘Arifin (Taman Orang-Orang Arif), Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1405/1985, halaman 53-54 (dari www.sunnah.org)


Syafi'i rahimahullah berkata, "Hanya orang yang tulus/ikhlas (mukhlis) yang mengetahui akan kemunafikan (riya')." Ini berarti tidak mungkin untuk mengetahui hakikat kemunafikan dan melihat citra-citra tersembunyinya kecuali bagi seseorang yang benar-benar mencari (arada) ketulusan. Orang tersebut berjuang dalam waktu lama (yajtahidu azmanan) mencari dan merenungkan dan menguji secara mendalam dalam dirinya sendiri sampai ia mengetahui esensi dari kemunafikan. Ini tidaklah terjadi pada setiap orang. Sesungguhnyalah, ini hanya terjadi pada orang-orang khusus (al-khawass). Tetapi, bagi seseorang untuk mengklaim bahwa dirinya tahu apa kemunafikan (riya') itu, maka ini benar-benar kelalaian baginya. Saya akan menyebutkan dalam kitab ini, suatu bab, insya Allah, didalam mana engkau akan melihat suatu jenis keajaiban yang akan menyejukkan mata kalian. Untuk mengilustrasikan bagaimana
tersembunyinya riya' dan kemunafikan, kami hanya membutuhkan untuk meriwayatkan riwayat berikut ini dari Guru dan Imam Abu al-Qadim al-Qushayri [syaikh para sufi], rahimahullah, dari kitab 'Risalah'-nya dengan isnad yang telah kami sebutkan sebelumnya.

Beliau berkata, "Aku mendengar Muhammad ibn Al-Husayn berkata, Aku mendengar Ahmad ibn 'Ali ibn Ja'far berkata, Aku mendengar al-Hasan ibn 'Alawiyya berkata, Abu Yazid [al-Bistami], rahimahullah, berkata, Selama dua belas tahun aku menempa nafsu/ego-ku (haddadu nafsi), kemudian selama lima tahun aku menjadi cermin dari hatiku (mir'atu qalbi), kemudian selama setahun aku mencari apa yang berada di antara kedua-nya (hati dan nafsu, red.), dan aku melihat di sekelilingku suatu sabuk yang nampak (yaitu sabuk kekufuran=tanda jubah seorang dzimmi). Maka, aku berjuang untuk memotongnya selama dua belas tahun dan kemudian melihatnya lagi, dan aku melihat di sekelilingku suatu sabuk tersembunyi. Maka aku berusaha memotongnya lagi selama lima tahun, sambil memperhatikan bagaimana memotongnya. Kemudian tersingkapkan bagiku (kusyifa lii) dan aku melihat makhluk ciptaan dan melihat bahwa mereka semua mati. Maka aku mensalatkan (janazah) mereka.

Saya (Imam Nawawi) berkata, “Jika riya' atau kemunafikan adalah demikian sulit dimengerti dan misterius bagi seorang guru tanpa tanding dalam jalan ini (yaitu tasawwuf), maka cukup jelas bagi kita betapa tersembunyi dia berada dalam diri kita.” Ungkapan beliau, "Aku melihat mereka mati" adalah puncak dari nilai dan keindahan, dan jarang ditemukan dalam ungkapan-ungkapan selain kata-kata Nabi e, yang di dalamnya kaya akan makna-makna. Saya akan menguraikan secara singkat akan maknanya. Itu berarti setelah beliau berjihad demikian lama dan keras (lammaa jaahada hadzihi al-mujahada) dan ego-nya telah terdisiplinkan (tahadzdzabat) dan hati-nya tersinari (istanara qalbuhu), dan ketika beliau telah menaklukkan (istawla) ego-nya dan mengendalikannya (qaharaha) dan memperoleh kekuasaan mutlak atasnya (malakaha mulkan tamman), dan ego itu telah tunduk sepenuhnya pada beliau, pada saat itu beliau melihat pada seluruh makhluk ciptaan dan menemukan mereka dalam keadaan mati dan sepenuhnya tak berdaya, mereka tak dapat menyakiti tak dapat pula memberi manfaat; mereka tak dapat memberi tak dapat pula menahan pemberian; mereka tak dapat menghidupkan tak dapat pula mematikan; mereka tak dapat menyampaikan tak dapat pula mmemutus penyampaian; mereka tak dapat mendatangkan tak dapat pula mengambil; mereka tak dapat membahagiakan tak dapat pula membuat sedih; mereka tak dapat menganugerahkan tak dapat pula mencabut; mereka memiliki bagi dirinya sendiri tak bermanfaat tak pula bermudharat, tidak mati tidak pula hidup, tidak pula bangkit.

Inilah, kemudian, yang mengkarakterisasi manusia sebagai mati, seperti mayyit, mereka dianggap mati dalam semua hal tersebut diatas, mereka tidak ditakuti tidak pula diharapkan, apa yang mereka punyai tidak diharapkan, mereka tidak pantas dipamerkan tidak pula untuk disanjung, seseorang tidak berkepentingan dengan mereka, mereka tidak dicemburui tidak pula diremehkan, cacat-cacat mereka tidak disebut tidak pula kesalahan mereka dikejar-kejar dan dibuka, seseorang tidak dengki atas mereka tak pula beranggapan bahwa apa yang telah mereka terima sebagai karunia Allah I adalah banyak, dan mereka dimaafkan dan dimaklumi atas kekurangan mereka, sekalipun hukuman legal (al-hudud) diterapkan pada mereka menurut Syari'at. Tetapi, penerapan hukuman seperti itu tidak meniadakan apa yang telah kami sebut sebelumnya, tidak pula hal itu meniadakan usaha kita untuk menutup-nutupi kesalahan mereka tanpa meremehkan nilai kesalahan itu sendiri.

Dengan cara inilah, makhluk "yang mati" dipandang. Dan jika seseorang menyebut manusia dengan cara tidak terhormat, kita melarangnya melakukan hal itu, seperti juga kita akan melarangnya jika ia akan mengutak-atik seseorang yang telah mati. Kita tidak melakukan apa pun demi mereka, tidak pula kita membiarkan Dia bagi mereka. Dan kita tidak pula menghentikan diri kita dari berbuat ketaatan pada Allah , demi mereka (menghadiahkan pahala untuk mereka), sebagaimana pula
kita melakukan amal untuk orang yang telah wafat, dan kita tidak berlebihan dalam memuji mereka. Dan kita tidak pula mencintai pujian mereka bagi kita, tidak pula membenci penghinaan mereka, dan kita tidak membalas mereka. Kesimpulannya, mereka seolah-olah tidak ada (tidak eksis) dalam semua hal yang kami telah sebutkan. Mereka sepenuhnya berada dalam perhatian dan hukum Allah. Siapa pun yang berhubungan dengan mereka dengan cara seperti itu, ia telah menggabungkan kebaikan dari dunia yang akan datang (akhirat) dengan kebaikan dunia rendah (dunia saat ini, red.) Semoga Allah Yang Maha Pemurah mengaruniakan kepada kita keberhasilan dalam mencapai ini. Sedikit penjelasan ini adalah cukup untuk sedikit menjelaskan perkataan Abu Yazid al-Bistami--rahimahullah. Barakah dan Salam semoga terlimpah atas Nabi saw yang disucikan, keluarganya dan sahabat-sahabatnya.

Ghazali tentang Jihad Al-Nafs

Diterjemahkan dari bagian-bagian berikut ini dari Ihya' 'Ulum al-Din' [Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama], (dari www.sunnah.org)

a) Definisi-definisi, pada permulaan "Kitab syarh 'aja'ib al-qalb"
[Kitab Penjelasan Misteri Hati], b) Bagian berjudul: "Pasukan-pasukan Hati" di buku yang sama, c) Bagian berjudul: "Dominasi setan atas hati lewat bisikan [al-
waswas]" di kitab yang sama, d) Bagian berjudul: "Bukti-bukti..." dari "Kitab riadat al-nafs wa tahdzib al-akhlaq wa mu'alajat amrad al-qalb" [Kitab tentang
Pelatihan nafsu dan pendisiplinan akhlak dan penyembuhan penyakit-penyakit hati].

a) Makna dari nafs,

Nafs memiliki dua arti. Pertama, nafs berarti kekuatan amarah dan syahwat seksual dalam manusia... dan inilah penggunaan yang paling banyak ditemukan di antara ahli tasawwuf [sufi], yang menganggap "nafs" sebagai kata komprehensif untuk seluruh atribut kejahatan dalam diri seseorang. Karena itu, mereka berkata, seseorang mesti berperang dengan nafsunya dan mengalahkannya (la budda min mujahadat al-nafs wa kasriha), sebagaimana diacu dalam hadits, "A`da `aduwwuka nafsuka al-latii bayna janibayk" [Musuh terbesarmu adalah nafsumu yang terletak di antara tulang panggulmu]. Al-'Iraqi berkata bahwa hadits ini diriwayatkan Bayhaqi dari Ibn 'Abbas dengan rantai periwayatan mengandung Muhammad ibn Abd-al-Rahman ibn Ghazwan, salah satu di antara para pemalsu.

Makna kedua dari nafs adalah jiwa atau ruh, hakikat dari manusia itu sendiri, dirinya, dan kemanusiaannya. Tetapi, nafs ini dilukiskan secara berbeda bergantung pada kedudukan dan posisi-posisinya yang berbeda. Jika nafs itu telah tenang dalam perintah dan telah meniadakan dari dirinya gangguan yang disebabkan serangan gencar hawa' (keinginan syahwat), ia disebut "jiwa yang tenang" (al-nafs al-mutmainnah)... Dalam makna nafs yang pertama (paragraf sebelumnya), nafs tidak menggambarkan dirinya akan kembali ke Allah karena ia telah menjauhkan dirinya dari-Nya, nafs semacam itu berasal dari golongan setan. Tetapi, ketika nafs itu belum memperoleh ketenangan, melainkan masih dalam perlawanannya terhadap kecintaan akan keinginan syahwat dan berkeberatan atas syahwat itu, maka nafs semacam ini disebut "jiwa
yang menyalahkan dirinya sendiri" (al-nafs lawwamah), karena ia memarahi pemiliknya atas kelalaiannya dalam pengabdian kepada Tuannya (Allah). Jika nafs itu menyerahkan dirinya dan taat sepenuhnya pada panggilan syahwat dan setan, ia dinamakan "Jiwa yang menyeru pada kejahatan" (al-nafs al-ammara bi al-suu'), yang bisa dianggap sebagai nafsu atau ego dalam arti/makna yang pertama.

b) Allah memiliki pasukan dan prajurit yang Ia tempatkan dalam hati dan ruh dan alam-alam lain milik-Nya, dan tak ada yang mengetahui sifat asli dan jumlah mereka sebenarnya selain Dia... [Imam Ghazali melanjutkan dengan menjelaskan bahwa anggota- anggota tubuh, lima indera, kehendak, naluri, dan kekuatan emosi dan intelektual adalah di antara prajurit-prajurit itu.] Ketahuilah bahwa dua prajurit amarah dan syahwat seksual dapat dikendalikan sepenuhnya oleh hati... atau sebaliknya membangkang dan memberontak melawan hati sepenuhnya, sampai mereka memperbudak hati. Saat itulah hati akan mati dan hati akan berhenti dari perjalanannya menuju kebahagiaan abadi. Hati memiliki pula prajurit-prajurit lain, pengetahuan ('ilm),
kebijaksanaan (hikmah), dan refleksi (tafakkur) yang menolongnya mencari kebenaran, karena mereka adalah dari golongan Tuhan yang melawan dua prajurit sebelumnya (sahwat dan amarah) yang masuk dalam golongan setan.

Allah berfirman, "Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?" (25:43) dan "...tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga)" (7:176) dan tentang orang yang mengendalikan hawa nafsunya, Allah berfirman, "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)!" (79:40-41).

Ketahuilah bahwa tubuh adalah seperti sebuah kota dan akal dari seorang manusia dewasa adalah seperti seorang raja yang menguasai kota itu. Semua kekuatan indera eksternal maupun internal yang dapat ia kendalikan adalah seperti prajurit dan pembantu-nya. Nafsu/ego yang menyeru pada kejahatan (nafs ammara), yaitu syahwat seksual dan amarah, adalah seperti musuh yang menantangnya dalam kerajaannya dan berusaha membantai rakyatnya. Tubuh, dus, menjadi seperti kota garnisun atau pos terdepan, dan ruh/jiwa adalah seperti pengawal yang ditempatkan di dalamnya. Jika ia berperang melawan musuh-musuhnya dan mengalahkan mereka, dan memaksa mereka untuk mengerjakan apa yang ia kehendaki, ia akan dipuji ketika ia kembali ke hadirat Allah , sebagaimana Allah telah berfirman, "Mereka yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka. Allah meninggikan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat" (4:95).

c) Pikiran-pikiran yang menyetir keinginan seseorang terbagi dua macam yang terpuji, dan ini diesbut "inspirasi" (ilham), dan yang tercela, dan ini disebut "bisikan" (waswasa). Hati dimiliki bersama oleh seorang setan dan seorang malaikat... Malaikat menyertai seorang makhluk yang diciptakan Allah untuk memberinya manfaat, menganugerahkan ilmu, penyingkapan kebenaran, janji akan pahala, dan perintah akan kebaikan. Setan menyertai seorang makhluk dalam rangka hal-hal yang berkebalikan dari hal-hal di atas... Waswasa melawan ilham, setan melawan malaikat, kesesuaian (tawfiq) melawan kekecewaan (khidhlan). Nabi bersabda, "Ada dua dorongan dalam jiwa, satu dari seorang malaikat yang menyeru pada kebaikan dan menegaskan kebenaran; siapa saja mendapati ini, hendaklah ia tahu bahwa itu adalah dari Allah, dan pujilah Dia. Dorongan yang lain berasal dari musuh yang menyebabkan keraguan dan penyangkalan akan kebenaran dan melarang kebaikan; siapa pun mendapati hal ini, hendaklah ia segera berlindung pada Allah dari setan yang terkutuk." Kemudian beliau membaca ayat, "Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan..." (2:268) [diriwayatkan Tirmidzi: hasan; Nisai; 'Iraqi tidak men-dha'if-kannya].

Hasan al-Basri berkata, "Dua pikiran berjalan dalam jiwa, satu dari Allah, satu dari musuh. Allah menunjukkan rahmat atas seorang hamba yang berpegang pada pikiran yang datang dari-Nya. Hamba itu merangkul pikiran yang datang dari Allah, sambil ia melawan pikiran yang datang dari musuhnya. Untuk melukiskan daya tarik bersama pada hati antara dua kekuatan ini, Nabi saw bersabda, "Hati seorang mukmin terletak di antara dua jari ar-Rahman (Yang Maha Pemurah)" [Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Ibn Majah]. Jari-jari itu bermakna pergolakan dan keraguan di dalam hati... Jika manusia mengikuti ajakan amarah dan syahwat, dominasi setan muncul dalam dirinya lewat keinginan sia-sia [hawa] dan hatinya menjadi sarang dan kontainer setan, yang memberi makan ke hawa. Jika ia berperang melawan keinginan-keinginannya, dan tidak membiarkan mereka mendominasi nafsunya, meniru karakter para malaikat, saat itulah hatinya menjadi tempat peristirahatan para malaikat dan mereka menyinarinya...

Nabi saw bersabda, "Tidak ada di antaramu yang tidak disertai seorang setan" Mereka berkata: "Bahkan pada dirimu, Ya Rasulallah?!" Beliau bersabda, "Bahkan pada diriku, tetapi Allah telah menolongku mengalahkannya dan ia telah menyerah padaku, sehingga ia tidak lagi menyuruhku melainkan pada kebaikan" [Muslim]... Tolak-menolak yang terjadi antara prajurit-prajurit malaikat dan prajurit-prajurit setan terjadi terus-menerus dalam perang atas hati, sampai hati ditaklukkan oleh salah satu dari dua sisi itu yang akan menegakkan negaranya dan bersemayam di sana... Dan kebanyakan hati telah diduduki oleh prajurit-prajurit setan, yang memenuhi hati-hati itu dengan bisikan-bisikan yang menyeru seseorang untuk mencintai dunia fana ini dan meremehkan alam akhirat yang akan datang.

d) Nabi saw bersabda, “al-mujahidu man jahada nafsahu fi ta'at Allah 'azza wa jall” [Pejuang adalah ia yang berperang melawan egonya dalam menaati Allah I; Tirmidzi, Ibn Majah, Ibn Hibban, Tabarani, Hakim]... Sufyan al-Thawri berkata, "Aku tidak pernah berurusan dengan sesuatu yang melawanku lebih kuat dari ego/nafsu-ku sendiri; suatu saat ia bersamaku, saat yang lain melawanku"... Yahya ibn Mu'adz al-Razi berkata: "Perangilah ego-mu dengan empat pedang latihan, makan sedikit, tidur sedikit, bicara sedikit, dan bersabar ketika orang menyakitimu... Maka ego akan berjalan pada jalur ketaatan, seperti seorang pengendara kuda yang berlari dalam medan perang."

Wa min Allah at taufiq

posted by Mevlana as Sufi at 8:53 AM 0 comments

Sendiri
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
Sohbet, Oktober 2002


Madad yaa Rija’ullah, destur yaa Sulthan al-Awliya. Kita memohon dukungan suci, dukungan surgawi, dan dukungan Ilahi. Dukungan suci dari para Awliya, dukungan surgawi dari Rasulullah saw dan dukungan Ilahi dari Allah.

Kalian harus tahu bahwa kalian telah diciptakan sebagai seorang diri. Kalian tercipta dari rahim ibu seorang diri dan kalian datang sendiri. Kalian pikir, kalian tidak sendirian karena kita duduk dengan begitu banyak orang, tetapi sesungguhnya kita sendiri, masing-masing dengan dirinya sendiri. Ketika kalian bekerja, kalian sendiri, makan sendiri, tidur sendiri, sakit sendiri. Bahkan ketika kalian bersama ratusan orang, tetap saja kalian sendirian di antara mereka, tidak ada yang bersamamu. Kalian sendiri dan terbaring sendirian. Dia seorang diri, di bawa ke dalam peti matinya, sendiri lalu dikubur, dia sendirian dalam kuburnya.

Ini adalah hal yang penting, kebanyakan orang tidak memperhatikan kenyataan ini. Jangan katakan bahwa kalian bersama istri atau anak kalian. Setiap orang bersama dirinya sendiri dan dia seorang diri. Sekarang jika seseorang berada dalam keadaan sehat dan mapan, dia berpikir bahwa dirinya tidak sendiri tetapi ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam dirinya baik dalam usaha maupun kesehatannya, barulah dia menyadari bahwa dirinya sendirian. Seorang suami tidak bisa bersama istrinya, begitu pula sebaliknya. Mungkin ketika kemapanannya menghilang, orang-orang akan pergi darinya. Mereka mengelilinginya ketika dia kaya, dia menjadi seorang tokoh yang terpandang, tetapi ketika dia kehilangan semua itu, dia akan menyaksikan bahwa orang-orang terdekat, bahkan keluarganya pun akan meninggalkannya dan tidak suka bersamanya lagi. Mereka berkata, “Kita harus membawanya ke rumah sakit atau panti jompo, kita harus mengirimnya ke sana karena di sana terdapat banyak orang tua lainnya sehingga dia akan lebih bahagia. Kita tidak dapat menanggung beban berat ini lagi.” Ketika masih sehat, mereka mengelilinginya dengan berdesak-desakan, tetapi ketika dia kehilangan kemapanannya, mereka semua pergi, karena menurut mereka tidak ada lagi yang bisa didapat darinya, jadi lebih baik tinggalkan saja dia sendiri. Pada saat itu, kesendirian akan terasa lebih jelas, tertutama pada diri orang-orang kafir. Ketika dia datang ke panti jompo, orang-orang akan bertanya, “Siapa anda?” dan dia menjawab, “Aku adalah si ini,… si itu.” “Apakah anda mempunyai anak?” “ya, dulu pernah” “masih hidup?” “ya” “di mana mereka?” “di rumah, mereka mengirim aku ke sini… sekarang aku sendirian.”

Itulah paham materialisme, atheisme, humanisme, sosialisme, feminisme, yang mengantar orang-orang ke titik seperti itu. Semuanya adalah ide palsu dan ajaran setan. Perintah surgawi berbunyi, “Wahai hamba-Ku! Berlakulah dengan lemah lembut kepada orang tuamu, anak-anakmu, tetanggamu dan seluruh ummat manusia.” Itulah Islam. Sementara pandangan yang anti terhadap Islam berkata, “Tidak, kami tidak terima.” Mana yang lebih sempurna bagi Islam? Islam membawa kesempurnaan. Tetapi atheisme, komunisme, humanisme, sosialisme, feminisme, dan lain-lain semuanya tergolong bathil. Itu adalah jalan yang palsu. Jika kalian dalam keadaan sehat dan mapan, mereka menyambutmu dengan baik. Jika tidak, mereka mengirim kalian ke panti jompo, rumah sakit, rumah sakit jiwa atau penjara agar ‘bahagia.’ Hanya Islam yang membawa keramahan yang sempurna bagi semua orang, bagaimana mereka harus bersikap antar sesama manusia. Dan ketika orang tua mereka sekarat, dengan cepat mereka memanggil petugas pemakaman untuk datang dan mengurus segala persiapan baginya, kemudian mereka minta diberitahu bila semuanya sudah siap agar mereka bisa berbaris di belakang peti mati jenazah menuju kuburannya. Dengan pakaian hitam dan sapu tangan putih di tangan mereka, baik pria maupun wanita menunjukkan kesedihan mereka… “Oh! Kami menangis…” “Oh Ayah… oh Ibu.” Mereka membuat karangan bunga dan menuliskan kata, “Ayah” dan di karangan lainnya dengan tulisan “Ibu”. Ha ha ha ha!

Itulah paradaban mereka!

Karena ajaran setan mengajarkan jalan yang paling buruk. Ajaran setan berlawanan dengan ajaran surgawi dan orang-orang yang kesepian akan mengerti bahwa mereka begitu kesepian dan sendiri sehingga mereka berpikir bahwa mereka akan meninggal sebelum ajalnya tiba atau memohon agar mereka dihindari dari situasi buruk semacam itu pada saat ajalnya. Mereka mempunyai anak dan cucu tetapi tidak ada yang datang dan menyapa. Mereka hanya menipu ibu dan ayah mereka dengan menetapkan suatu hari sebagai ‘hari Ibu’—memberi bunga di hari itu dan berkata, “Bu, ini adalah harimu.” Dan dalam setahun terdapat pula satu hari untuk Ayah. Itulah peradaban mereka. Dan Islam memerintahkan kalian untuk merawat orang tuamu, menjaga sikap hormat terhadap mereka, karena Allah memberi berkah-Nya kepada mereka. Allah berfirman, “Berkah-Ku berada pada orang tua. Rawatlah mereka di rumahmu sehingga berkah-Ku juga tercurah padamu.” Jika kalian mengirim orang tua kalian ke panti jompo, berkah itu akan terputus, mungkin tidak ada lagi keluarga yang diberkahi. Oleh sebab itu sekarang masalah keluarga meningkat, bukannya berkurang. Tetapi ajaran setan berkata, “Tidak! Bawa pergi mereka, agar hanya ada yang muda-muda.”

Orang tua sudah dekat dengan kematian dan anak-anak muda itu membawa pergi mereka, dan sekarang ummat Muslim juga mempelajari ajaran setan itu dari masyarakat Eropa, dari negara-negara Barat. Dan mereka segera membawa orang tua yang sakit dengan ambulans ke rumah sakit sehingga mereka tidak meninggal di rumah. Orang tua-lah yang telah membangun rumah dan mengisinya dengan segala macam perabot. Anak-anak mereka bahkan tidak dapat mengantarkan orang tua mereka dua jam hingga ajalnya. Mereka berkata, “Tidak, tidak baik bagi seseorang untuk meninggal di rumah, biarkan mereka dibawa ke rumah sakit lalu ke kuburan. Itulah peradaban.

Kutukan menimpa peradaban semacam itu. 70 kali kutukan bagi orang yang mengatakan bahwa itu adalah peradaban. Kemanusiaan telah berakhir, yang ada hanyalah robot. Tidak ada perasaan dan tidak ada keramahan satu sama lain. Mungkin orang-orang yang lebih dekat mengerti bahwa mereka sendirian. Sekarang begitu banyak orang yang tidak merasakan hal ini. Mereka berkata, “Tidak masalah, kita tidak sendirian.” Tetapi setelah beberapa saat mereka akan mengerti bahwa mereka sendirian. Tetapi kemudian mereka akan diambil dari tempat tidur mereka, dari keluarga mereka, dari anak-anak mereka, diambil secara paksa,… berteriak dan menangis, tidak bahagia untuk pergi tetapi dengan paksaan mereka diambil dan dibawa ke tempat lain, tempat yang liar sampai ajal mereka.

Oleh sebab itu dewasa ini, rahmat telah terputus dari surga. Rahmat hanya datang sebagai beberapa tetesan bagi alasan tertentu dan ditujukan kepada orang-orang tertentu. Rahmat tidak datang secara umum tetapi hanya secara khusus kepada orang-orang dan tempat-tempat tertentu. Oleh sebab itu di masa kita, orang-orang yang masih hidup tidak mempunyai rasa sayang kepada orang lain. Jika mereka tidak sayang terhadap orang tua dan orang lain, bagaimana dengan orang-orang lainnya, bangsa lain? Jika mereka tidak merawat orang yang lemah dan berpaling kepada yang lain bagaimana kalian bisa percaya bahwa mereka mempunyai rasa kasih sayang terhadap sesuatu dalam hatinya? Hati mereka tidak berisi kasih sayang. Hati mereka seperti batu dan tidak satu pun yang dapat memasukinya. Seluruh krisis adalah akibat dari kutukan yang timbul karena orang-orang tidak memberikan kasih sayangnya bahkan kepada orang-orang terdekatnya sekalipun. Kasih sayang itu telah hilang dan azab yang pedih menimpa mereka. Di mana-mana kalian dapat menemukan tanda kemurkaan Allah . Selama 3 atau 4 bulan belakangan, Saya mendengar teriakan, “banjir!… banjir!… banjir!” Hujan turun dan menghanyutkan ratusan orang dan rumah-rumah, menenggelamkan begitu banyak sawah, benda-benda yang biasa mereka makan atau gunakan. Itulah akibat yang terjadi karena kita tidak mempunyai rasa kasih sayang terhadap orang yang lemah dan Allah memberi mereka hukuman untuk itu. Bangsa Eropa mengaku bahwa mereka adalah orang-orang yang paling beradab, bahkan melebihi bangsa Amerika. Mereka mengatakan hal ini tetapi seluruh banjir menimpa mereka di musim panas ini. Setiap tempat terendam air, sungai meluap hingga ke atas jembatan dan menghacurkan apa saja. Ratusan orang tenggelam tetapi mereka mengatakan hanya 20-25 orang saja, tidak! Ratusan orang hanyut terbawa arus dan ratusan dari ribuan binatang terbawa dan ratusan rumah tua, mebel dan buku-buku serta segala macam benda yang mereka jaga selama berabad-abad dihanyutkan oleh banjir. Itu bukanlah tanda bagi rahmat! Itu bukanlah tanda bagi kepuasan atau ridha Allah. Itu berarti Allah murka terhadap mereka, khususnya bangsa Eropa.

Negara-negara Eropa, mengapa banjir menerpa mereka? Selama bertahun-tahun ini tidak terjadi. Sekarang kejadian itu menimpa mereka. Itu adalah tanda kemurkaan Allah karena bangsa Eropa mengejar jalan yang penuh kepalsuan dan mengumandangkan kata ‘demokrasi’, itu adalah ide palsu; mereka mengatakan ‘kemanusiaan’, tetapi tidak ada kenyataannya. Komunisme yang paling buruk. Sosialisme paling buruk. Kapitalisme paling buruk. Setiap ‘isme’ muncul dan itu membuat Allah murka dengan mereka karena Allah telah mengirim mereka peraturan Ilahi-Nya untuk mengatur agar manusia hidup dengan damai dan penuh kebahagiaan tetapi mereka menolaknya, mereka menentang aturan Allah. Dan sekarang Allah menghantam mereka dengan pecut; Allah memecut mereka, tetap saja mereka tidak berkata, “Oh Allah! Oh Tuhan kami! Oh Tuhan kami, kami mohon ampun.” Mereka tidak mengatakannya. Saya tidak pernah mendengar bahwa orang-orang datang ke gereja dan katedral di Eropa untuk berkata, “Kami bertaubat ya Rabbi, ampunilah kami.” Tidak! Orang-orang berkata bahwa banjir itu terjadi secara alamiah,… itu adalah kejadian alami. Kita harus mengamati apa itu kejadian alami.

Semoga Allah mengampuni kita. Hal ini datang. Saya tidak pernah berpikir untuk berbicara mengenai hal ini, tetapi Grandsyaikh kita mengirim asosiasi seperti ini kepada Saya untuk disampaikan kepada seluruh ummat manusia sehingga ketika mereka ditanya di hadapan Tuhan, “Apakah ada peringatan yang datang kepadamu?” Mereka akan berkata, “Ya! Tetapi kami tidak mempedulikan peringatan itu.” Mereka berkata bahwa semua kejadian ini adalah gejala alam. Tidak! Itu bukanlah gejala alam, dia berasal dari sisi Tuhan, dari Allah. Semoga Allah memaafkan saya dan memberkati kalian. Bi hurmatil habib, bi hurmatil Faatihah.

Wa min Allah at taufiq

posted by Mevlana as Sufi at 8:53 AM 0 comments

Pengakuan Iblis
Ibnu Arabi dalam Syajarotul Kaun


Diriwayatkan dari Mu'adz bin Jabal , dari Ibnu Abbas ra yang berkisah, “Kami bersama Rasulullah saw di rumah salah seorang sahabat Anshar, di mana saat itu kami tengah berada di antara jama'ah. Lalu terdengar suara orang memanggil dari luar, ‘Wahai para penghuni rumah, apakah kalian mengizinkan aku untuk masuk, karena kalian membutuhkan aku.’ Rasulullah saw bertanya kepada para jama'ah, ‘Apakah kalian tahu, siapa yang memanggil dari luar itu?’ Mereka menjawab, ’Tentu Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Lalu Rasulullah menjelaskan, ‘Itu adalah iblis yang terkutuk-semoga Allah melaknatnya.’ Kemudian ‘Umar ra meminta izin kepada Rasulullah saw sambil berkata, ‘Ya Rasulullah, apakah engkau mengizinkan aku untuk membunuhnya?’ Beliau menjawab, ‘Bersabarlah wahai ‘Umar, apakah engkau tidak tahu bahwa ia termasuk makhluk yang tertunda kematiannya sampai batas waktu yang telah ditentukan (hari kiamat)? Akan tetapi sekarang kalian diperbolehkan untuk membukakan pintu baginya. Sebab ia telah diperintahkan untuk datang ke sini, maka pahamilah apa yang ia ucapkan dan dengarkan apa yang akan ia ceritakan kepada kalian.’”

Ibnu Abbas berkata, “Kemudian pintu dibuka, lalu ia masuk ke tengah-tengah kami. Ternyata ia berwujud seperti orang tua bangka yang buta sebelah mata. Janggutnya tujuh helai dan panjangnya seperti rambut kuda. Kedua kelopak matanya terbelah ke arah atas (bukan ke samping). Sedangkan kepalanya seperti kepala gajah yang sangat besar, dan gigi taringnya memanjang keluar seperti taring babi. Sementara kedua bibirnya seperti bibir kerbau. Ia datang sambil memberi salam, ‘Assalamu'alaika ya Muhammad saw, Assalamu'alaikum ya jamaa'atal muslimin.’ Nabi menjawab,’Assalamu lillah ya la'iin (Keselamatan hanya milik Allah wahai makhluk yang terkutuk). Aku dengar engkau mempunyai maksud tertentu kepada kami. Apakah keperluan itu wahai iblis?’ ‘Wahai Muhammad , Aku datang ke sini bukan karena kemauanku sendiri, melainkan karena terpaksa,’ tutur iblis. ‘Apa yang membuatmu terpaksa harus datang ke sini wahai makhluk yang terkutuk?’ tanya Rasulullah saw. Iblis menjawab, ‘Telah datang kepadaku seorang malaikat yang diutus oleh Allah swt Yang Maha Agung. Utusan itu berkata kepadaku, ”Sesungguhnya Allah memerintahkan engkau untuk datang kepada Muhammad sementara engkau adalah makhluk yang rendah dan hina. Engkau harus memberi tahu kepadanya, bagaimana engkau menggoda dan menipu anak cucu Adam as. Lalu engkau harus menjawab segala apa yang ditanyakan Muhammad dengan jujur.

Maka demi Kebesaran dan Keagungan Allah , jika engkau menjawabnya dengan bohong, sekalipun hanya sekali, sungguh Allah akan menjadikan engkau, debu yang akan terhempas oleh angin kencang, dan musuh-musuhmu akan merasa senang.’ Wahai Muhammad , maka sekarang Aku datang kepadamu sebagaimana yang diperintahkan kepadaku. Maka tanyakanlah apa saja yang engkau inginkan. Kalau sampai Aku tidak menjawabnya dengan jujur, maka musuh-musuhku akan merasa senang atas musibah yang akan Aku terima. Sementara tidak ada beban yang lebih berat bagiku daripada senangnya musuh-musuhku atas musibah yang menimpa diriku.’ Rasulullah mulai melempar pertanyaan kepada iblis, ‘Jika engkau menjawab dengan jujur, maka ceritakanlah kepadaku, siapa orang yang paling engkau benci?’ Iblis menjawab dengan jujur, ‘Engkau, wahai Muhammad saw, adalah orang yang paling aku benci, berikutnya adalah orang-orang yang mengikuti agamamu.’ ‘Lalu siapa lagi yang paling engkau benci ?’ tanya Rasulullah saw. ‘Seorang pemuda yang bertakwa di mana ia mencurahkan dirinya hanya untuk Allah swt,’ jawabnya. ‘Siapa lagi?’ tanya Rasulullah saw. Orang alim yang wara' (menjaga diri dari subhat) lagi sabar,’ jawab iblis. ‘Siapa lagi?’ tanya Rasulullah. ‘Orang yang senantiasa melanggengkan kesucian dari tiga kotoran (hadats besar, kecil, dan najis-red),’ tutur iblis. ‘Siapa lagi?’ tanya Rasulullah.

Orang fakir yang senantiasa bersabar, yang tidak pernah menuturkan kefakirannya kepada siapa pun juga dan juga tidak pernah mengeluh atas penderitaan yang dia alami,’ jawab iblis. ‘Lalu siapa lagi wahai iblis?’ tanya Rasulullah. ‘Orang kaya yang bersyukur,’ tutur iblis. ‘Bagaimana kondisimu apabila umatku menjalankan shalat?’ tanya Rasulullah. ‘Wahai Muhammad , Aku langsung merasa gelisah dan gemetar,’ jawab iblis. ‘Mengapa, wahai makhluk yang terkutuk?’ tanya Rasulullah. Sesungguhnya apabila seorang hamba bersujud kepada Allah sekali, maka Allah akan mengangkatnya satu derajat. Dan apabila mereka berpuasa, maka Aku terikat sampai mereka berbuka kembali. Apabila mereka menunaikan manasik haji, maka Aku menjadi gila. Apabila mereka membaca al-Qur'an, maka Aku akan meleleh seperti timah yang dipanaskan dengan api. Apabila mereka bersedekah, maka seakan-akan orang yang bersedekah tersebut mengambil kapak lalu memotongku menjadi dua,’ jawab iblis.

Kemudian Rasulullah meneruskan pertanyaannya, ’Wahai makhluk terkutuk, siapa teman dudukmu?’ ‘Orang yang suka makan riba,’ jawab iblis. ‘Lalu siapa teman dekatmu?’ tanya Rasulullah. ‘Orang-orang yang berzina,’ jawabnya. ‘Siapa teman tidurmu?’ tanya Rasulullah. ‘Orang yang mabuk,’ jawabnya. ‘Siapa tamumu?’ tanya Rasulullah . ‘para pencuri,’ jawabnya. ‘Siapa utusanmu?’ tanya Rasulullah . Tukang sihir,’ jawabnya. ‘Apa yang menyenangkan pandangan matamu?’ tanya Rasulullah . Orang yang bersumpah dengan talak,’ jawab iblis. ‘Siapa kekasihmu?’ tanya Rasulullah. Orang yang meninggalkan shalat jum'at,’ jawabnya. ‘Apa yang menjadikan tubuhmu meleleh?’ tanya Rasulullah. ‘Tobatnya orang yang bertobat,’ jawabnya. ‘Apa yang menjadikan tubuhmu panas?’ tanya Rasulullah. ‘Banyaknya istighfar kepada Allah baik di waktu siang maupun malam,’ jawabnya. ‘Apa yang membuatmu merasa malu dan hina?’ tanya Rasulullah. ‘Sedekah secara rahasia,’ jawabnya. ‘Apa yang mengendalikan kepalamu?’ tanya Rasulullah. ‘Memperbanyak sholat berjama'ah,’ tuturnya. ‘Siapa yang paling membuatmu bahagia?’ tanya Rasulullah . ‘Orang yang sengaja meninggalkan sholat,’ tuturnya. Demikianlah penuturan iblis kepada Rasulullah e yang harus kita pahami dan cermati bersama.

Wa min Allah at taufiq

posted by Mevlana as Sufi at 8:53 AM 0 comments

Kekuatan Spiritual Hati
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
Mercy Oceans on the Bridge to Eternity


Thariqatuna as-sohbet wa khayru fi jami’at—thariqat kita berdasarkan asosiasi bersama Syaikh dan kebaikan terletak pada kebersamaan. Inilah yang menjadi akar thariqat kita. Allah menjadikan Syah Naqsyband k sebagai pilar utama dari Thariqat Naqsybandi yang mulia, dan sebagai salah satu pemandu yang membawa orang-orang menuju Kehadirat Ilahi, sehingga mereka tidak akan tersesat dalam perjalanannya menuju Kehadirat Ilahi atau ajaran-Nya. Beliau berkata, “Kami mengajarkan orang-orang sehingga mereka tidak kehilangan jalan, dan usaha mereka tidak akan sia-sia.”

Ini adalah jalan pintas, jalan yang aman dan menyenangkan. Setiap orang menempuh suatu perjalanan. Mereka bergerak dengan dirinya sendiri atau waktu yang membuat mereka berjalan. Banyak sekali orang yang tidak bergerak dan hanya digerakkan oleh waktu. Dan setiap saat mereka bisa mencapai akhir perjalanannya, karena setiap awal pasti mempunyai akhir. Suatu hari nanti pergerakan manusia akan berhenti dan mereka akan menemukan diri mereka berada di depan dua pintu masuk. Pada salah satu pintu itu tertulis “Jalan menuju Surga,” yaitu jalan yang digunakan untuk mencapai Kehadirat Ilahi. Pada pintu masuk kedua tertulis, “Jalan menuju Neraka,” siapa yang melangkahkan kakinya ke sana berarti dia akan masuk Neraka. Tidak ada keselamatan di sana. Itu adalah akhir yang mengerikan.

Hari demi hari kita semakin mendekatinya… satu hari telah berlalu. Satu hari telah berkurang, dan akhirnya kita akan sampai di kedua pintu masuk itu. Thariqat Naqsybandi membawa orang-orang ke suatu arah di mana tujuan akhir mereka adalah Surga. Itu adalah jalan Rasulullah saw dan para Awliya serta para penerusnya yaitu para Sahabat. Jalan itu adalah jalan yang sulit bagi ego kita, tetapi menyenangkan bagi jiwa kita. Segala yang menyulitkan ego pada akhirnya akan memberi kenikmatan kepada kita. Sebagian besar orang dibawa ke jalan yang kedua, dan Setan berjalan di depan mereka diiringi bala tentaranya. Siapa yang mengikuti mereka, akhirnya akan mencapai pintu Neraka… Mengapa mereka mengikuti jalan itu? Mereka mengikutinya sebab ego mereka menikmati jalan itu…

Jika kalian tidak menggunakan kemauan kerasmu, ego akan membawa kalian ke arah yang membahayakan itu… Setiap asosiasi dalam thariqat kita membuat orang memperhatikan hal itu, sehingga mereka tidak mengikuti egonya, tetapi mengikuti jalan para Awliya dan Rasul. Setiap asosiasi bersama Syaikh memberikan kekuatan spiritual kepada jiwa kita, sehingga kita bisa menggunakan kemauan keras kita untuk melawan keinginan ego. Jika kalian tidak mengambil kekuatan spiritual itu, sulit sekali untuk mencegah kalian mengikuti ego. Oleh sebab itu kita membutuhkan orang-orang yang memiliki kekuatan spiritual dan yang bisa memberi dukungan untuk spiritualitas kita sehingga kita bisa berkata kepada keinginan fisik kita atau kepada ego, “Tidak, Aku tidak akan mengikutimu, Aku mengikuti jalan para Awliya dan Rasul!”

Setiap asosiasi memberikan kekuatan secara rahasia ke dalam jiwamu. Apakah kalian mengetahuinya atau tidak, sadar atau tidak sadar, itu tidak menjadi masalah. Tetapi kekuatan ini pasti akan diberikan dalam setiap asosiasi. Dan apa yang kita katakan atau kita dengar adalah tidak terlalu penting,. Apa yang kita bicarakan di sini? Jika Saya membaca koran, itu tidak menjadi masalah… kalian berada di ruang operasi, dan kalian dilindungi… Yang penting adalah menghadiri asosiasi bersama Syaikh, dan kekuatan spiritualnya akan diberikan kepada semua orang… Ketika kalian duduk di sini, berkah datang dari Surga, dari Allah dan berkah itu membuat kalian menjadi kuat. Kita bisa membicarakan apa saja dalam asosiasi ini, dan itu tidak menjadi masalah. Kalian mendengarnya atau tidak, kalian membuat dirimu mematuhinya atau tidak, tidak jadi soal. Tetapi untuk hadir di sini, menghadiri asosiasi Thariqat Naqsybandi akan memberimu kekuatan spiritual, membuat jiwamu lebih kuat daripada ego kalian. Kekuatan spiritualmu akan meningkat sehingga bisa digunakan untuk melawan egomu dan kalian bisa berkata, “Apa yang dikatakan oleh Syaikh, Aku tidak bisa mengingatnya.” Syaikh tidak tertuju pada pikiranmu. Ulama dan para cendikiawan yang berurusan dengan pikiranmu. Yang menjadi sasaran para Awliya adalah jiwamu. Oleh sebab itu, suatu saat ketika kalian menghadapi sesuatu apa yang ditangkap dan dijaga oleh jiwamu akan sampai pada dirimu saat itu juga dan memberimu kekuatan jiwa.

Oleh sebab itu asosiasi bersama Syaikh adalah pilar utama dalam Thariqat Naqsybandi. Kita selalu berada dalam pengawasan spiritual Syaikh. Tetapi tubuh fisik kita juga mempunyai hak untuk bertemu dengan beliau, paling tidak setahun sekali… bisa juga setiap minggu, atau setiap bulan atau sekali dalam 40 hari, tetapi jangan lebih dari 40 hari tidak menghadiri asosiasi. Periode ini akan membuat orang bergerak menuju tujuannya, yaitu Surga. Kini, di masa sekarang, jumlah orang yang diberi otorisasi semacam itu akan semakin berkurang. Jika mereka tidak diberi otorisasi, dan mereka hanya meniru saja, mereka juga bisa memberi kekuatan, tetapi ketika orang yang mempunyai otorisasi melakukan asosiasi, kekuatan penuhnya akan memasuki hatimu, dan hati itu adalah maqamnya Sultan atau Singgasana Sultan. Kekuatan Sultan akan mengalir di seluruh tubuhmu dan akan membawanya sesuai dengan arah dan tujuannya.

Jika kalian tidak menemukan orang untuk berasosiasi, dua orang murid dapat juga melakukannya. Mereka bisa berkata, “A’udzubillahi minasy syaythaanir rajiim, bismillahir rahmaanir rahiim,” kemudian salah seorang di antara mereka mengucapkan, “Laa ilaha illallah,“ sedangkan yang lainnya, “Muhammad Rasulullah ,”… dan berdo’a, “Ya Tuhan Kami! Kuatkanlah kami pada jalan-Mu yang lurus, jalan para Nabi dan Awliya. Lindungilah kami dari godaan dan tipu daya Setan!”… beberapa menit sudah cukup, kemudian rahmat akan tercurah dan melindungi mereka. Semoga Allah memberkatimu dan melindungi tubuh dan jiwamu agar tidak terjerumus ke tangan Setan. Semoga Dia memberi jalan bagi mereka yang telah terjerumus ke dalamnya dan menyelamatkan mereka… dan kita memohon kekuatan sejati bagi Thariqat Naqsybandi untuk mengumpulkan orang dan bergerak menuju Kehadirat Allah swt. Fatihah.

posted by Mevlana as Sufi at 8:53 AM 0 comments

‘Tak Ada yang Benar-benar Eksis
"Ini adalah Sebuah Stasiun Tenaga "
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani k


Apakah mungkin bagi seekor semut untuk bisa memahami seekor lebah? Apakah mungkin bagi seekor kucing untuk bisa memahami seekor anjing? Jika kucing bukan anjing, dia tidak dapat mengetahui posisi asli dari seekor anjing. Seekor anjing akan paham mengenai anjing, seekor kucing akan paham mengenai kucing. Setiap orang akan memahami tingkatan mereka masing-masing. Seekor semut tidak dapat memahami manusia. Semua yang diketahuinya adalah bahwa jika dia mendarat di bawah kaki manusia, maka dia akan mati. Dia tahu bahwa kita adalah makhluk besar yang bergerak, tetapi dia tidak dapat memberikan suatu deskripsi. Hanya manusia yang dapat memahami manusia lainnya. Bahkan seorang pria tidak mengenal wanita sebagaimana wanita yang juga tidak mengetahui 100% mengenai pria, karena mereka sepenuhnya adalah makhluk yang berbeda. Jadi bagaimana mungkin bagi manusia untuk memahami Penciptanya? Hanya pencipta lain yang dapat melakukannya. Tetapi tidak mungkin ada dua pencipta. Kebesaran Sang Pencipta adalah bahwa Dia mengetahui segalanya, setiap detail dari ciptaan-Nya.

Satu dibagi dengan tak hingga adalah nol. Itu berarti tidak ada yang eksis. Setiap bagian dari tubuh kalian dapat dibagi sampai titik nol. Bilangan tak hingga dikali dengan nol adalah nol. Apa yang kita lihat pada kenyataannya tidak ada, yang ada hanya bayangan. Kalian melihat ke dalam cermin dan kalian pikir itu adalah kalian, tetapi pada kenyataannya itu adalah bayangan kalian. Setiap bagian yang eksis dapat mencapai ke titik di mana dia tidak dapat dibagi lagi. Sang Pencipta dalam Samudra Hikmah yang Mahaluas dan dengan Samudra Kehendak-Nya menciptakan alam semesta yang tak terhingga, begitu juga dengan dunia, hamba, dan segala macam ciptaan lainnya. Dia memanggil mereka, “Jadilah!” dan mereka pun muncul. Jika Dia memerintahkan mereka untuk pergi, mereka akan lenyap dalam Samudra-Nya yang Mahaluas. Tak seorang pun yang dapat menolak Kehendak-Nya.

Manusia harus sadar bahwa mereka bukanlah apa-apa. Ketika mereka mengakui hal ini, mereka akan kehilangan perasaan bangganya yang sebelumnya mencegah mereka untuk melayani Tuhannya. Bahkan sekarang orang-orang tidak lagi mempunyai suatu pengetahuan yang paling sederhana mengenai Sang Pencipta, meskipun mereka tidak mempunyai suatu eksistensi yang nyata! Apa yang ada dalam cermin bukanlah dirimu! Sebuah foto tidaklah eksis, walaupun terlihat seperti itu. Apa pun yang kalian lihat adalah bayangan, bukan apa-apa! Dalam peristiwa Isra Mi’raj, Allah berfirman kepada hamba yang paling dicintai-Nya, “Aku akan membuatmu sebagai cermin Diriku!” Itulah sebabnya kita mengucapkan, “La illaha illa'Llah, Muhammadur Rasul Allah saw!” Sebuah televisi tidak akan berarti tanpa monitor, sebab tanpa monitor tak ada yang dapat dilihat. Sama halnya dengan Muhammad saw, adalah satu-satunya yang dapat menyajikan maksud ini. Tanpa penciptaannya, tak ada yang akan tercipta. Di tahun-tahun mendatang, di millennium kedua, realitas Allah itu akan tampak. Ini seperti sebuah pesta di mana gajah yang datang akan mengambil bagiannya, begitu pula dengan seekor semut. Ini adalah stasiun tenaga dan setiap orang yang datang ke sini akan mengambil bagian mereka, baik sadar maupun tidak.

Wa min Allah at taufiq

posted by Mevlana as Sufi at 8:53 AM 0 comments

Jihad al-Akbar
Maulana Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani dalam Islamic Beliefs and Doctrine According to Ahl al-Sunna: a Repudiation of “Salafi” Innovations


Referensi dan rujukan ke hadits di atas (hadits tentang kembalinya Rasulullah e dari jihad asghar ke jihad akbar-red.) mencakup beberapa paragraf jika dikutip. Nampaknya memang, penyandarannya pada Nabi, Salla Allahu 'alayhi wa Sallam, adalah lemah, tapi maknanya dapat disarikan pula dari sumber-sumber lain dari Hadits dan Quran. Sebagai catatan, Imam Nawawi telah mengatakan, sebagaimana dikutip dari posting sebelumnya: [Ulama dari kalangan Muhaddits, fuqahaa, dan lainnya berkata, “Adalah diizinkan dan dianjurkan untuk beramal berdasarkan hadits lemah (dha'if), yang tidak difabrikasi, yang berkaitan dengan fadhilah dan keutamaan amal, penganjuran dan peringatan (targhib wat tarhib). Tetapi, jika berkaitan dengan hukum seperti masalah halal dan haram, jual dan beli, pernikahan dan perceraian, dan selain dari itu, maka tidaklah boleh dipakai hadits lemah kecuali jika berkaitan dengan pengambilan alternatif teraman (setelah tak adanya dalil-dalil yang lebih sahih-red) dalam hal-hal tersebut.” Allah berfirman, “Mereka yang berjuang (berjihad) demi Kami, akan Kami bimbing mereka ke dalam jalan-jalan Kami” (29:96). Allah dengan demikian telah membuat petunjuk atau bimbingan (Hudan) bergantung pada jihad. Karena itulah, orang-orang yang paling sempurna adalah mereka yang berjuang paling gigih demi-Nya, dan di antara jihad yang paling wajib (afrad al-jihad) adalah jihad terhadap ego, jihad atas hawa nafsu, jihad atas setan, dan jihad atas dunia yang rendah (jihad al-nafs wa jihad al-hawa wa jihad al-shaytan wa jihad al-dunya). Siapa saja yang berjihad melawan keempat hal ini, Allah akan membimbing mereka menuju jalan-jalan kebaikan-Nya yang menuju pada Surga-Nya, dan siapa saja yang meninggalkan jihad, maka ia telah meninggalkan petunjuk sebesar ia telah meninggalkan jihad.

Al-Junayd berkata (dalam menafsirkan ayat di atas-red), "Mereka yang berjihad atas hawa nafsu mereka dan bertaubat demi Kami, Kami akan membimbing mereka pada jalan Ketulusan, dan seseorang tak akan dapat berjihad melawan musuhnya di luar dirinya (yaitu dengan pedang) kecuali ia yang telah berjihad melawan musuh-musuh ini dalam dirinya. Kemudian, siapa yang telah menang atas musuh-musuh dalam dirinya akan pula menang atas musuh-musuhnya (di luar), dan siapa yang kalah oleh musuh-musuh dalam dirinya, maka musuh di luar dirinya akan mengalahkannya." (dikutip oleh Ibn Qayyim al- Jawziyya, al-Fawa'id, ed. Muhammad 'Ali Qutb, Alexandria: dar al-da'wa. 1412/1992, halaman 50).

Kompetisi dan berlomba diizinkan dalam meraih keunggulan dalam ibadah. Dalam rangka inilah, Allah menerangkan tingkatan-tingkaan di antara hamba-hamba-Nya yang beriman dalam Kitab-Nya, dan ini pun dijelaskan dalam berbagai hadits. Pahala jihad adalah sedemikian tinggi sebagaimana dijelaskan oleh Hadits Nabi bahwa, jika ia dapat, ia akan minta Allah untuk menghidupkannya kembali sehingga ia dapat mati kembali sebagai syahid berkali-kali. Sekalipun demikian, berkaitan dengan isu ini, pengingat Allah (Adz-Dzakirin) ermasuk ulama-ulama sempurna yang mengetahui (ma'rifat) akan Allah ('Arifin) adalah lebih mulia daripada mujahidin. Sebagai contoh, sekalipun
Zayd bin Haritsah dan Khalid bin Walid adalah jenderal-jenderal besar, kematian mereka tidaklah dirasakan seberat kematian Abu Musa al-Ash'ari atau Ibn 'Abbas (dua sahabat yang merupakan 'ulama besar dan 'arifin), jika diukur dari kerugian yang dirasakan oleh ummat Islam sebagai akibat kematian sahabat-sahabat tersebut. Untuk alasan inilah, Nabi secara eksplisit menyatakan superioritas para mudzakkirin dalam dua hadits sahih di bawah ini,

Nabi salla-Allahu 'alayhi wasallam bersabda, "Maukah kalian kuberitahu sesuatu yang terbaik di antara semua amal, merupakan amal salih terbaik di mata Tuhan kalian, meninggikan derajat kalian di akhirat, dan memiliki keutamaan lebih besar daripada membelanjakan emas dan perak di jalan Allah, atau berperan serta dalan jihad dan membunuh atau terbunuh di jalan Allah ?" Mereka (para sahabat) berkata, "Ya, mau!" Beliau bersabda, "Dzikr Allah (Mengingat Allah )". Diriwayatkan dari Abu al-Darda' oleh Ahmad, Tirmidzi, Ibn Majah, Ibn Abi al-Dunya, al-Hakim yang menyatakannya sahih, dan adz-Dzahabi mengkonfirmasikan kesahihannya, Bayhaqi, Suyuti dalam al-Jami' al-Saghir, dan Ahmad juga meriwayatkannya dari Mu'adz bin Jabal. Beliau juga bersabda, "Meski seseorang menebas orang-orang kafir dan musyrikin dengan pedangnya sampai pedang itu patah, dan ia benar-benar terselimuti dengan darah mereka, Al-Mudzakkirin (Para Pengingat Allah I) ada di atas mereka satu derajat." Diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri oleh Ahmad (3:75), Tirmidzi (#3376), Baghawi dalam Syarh al-Sunna (5:195), Ibn Katsir dalam Tafsirnya (6:416), dan lain-lainnya.

Hadits tentang Jihad melawan Nafsu (Ego)
Ahli Hadits Mulla 'Ali al-Qari meriwayatkan dalam kitabnya al-Mawdu'at al-kubra, juga dikenal sebagai al-Asrar al-Marfu'a,

Suyuti berkata bahwa al-Khatib al-Baghdadi meriwayatkan dalam "Sirah"-nya dari Jabir, “Nabi saw kembali dari salah satu peperangannya sambil bersabda, ‘Kalian telah tampil ke depan dengan cara terbaik untuk tampil ke depan, kalian telah kembali dari jihad yang lebih kecil kepada jihad yang lebih besar.’ Mereka berkata, ‘Dan apakah jihad yang lebih besar itu?’ Beliau menjawab, ‘Perjuangan (Mujahadat) hamba-hamba Allah atas hawa nafsu mereka.’” Ibn Hajar al-'Asqalani berkata dalam Tasdid al-Qaws, "Perkataan ini tersebar luas, dan ini adalah perkataan Ibrahim ibn Ablah menurut Nisa'i dalam al-Kuna. Ghazali menyebutnya dalam Ihya' 'Ulumuddin-nya dan al-'Iraqi berkata bahwa Bayhaqi meriwayatkannya dari Jabir dan berkata, “Ada kelemahan dalam rantai periwayatannya.” Dikutip dari `Ali al-Qari, al-Asrar al-Marfu`a (Beirut 1985 ed.) hal. 127.

Al-Hafiz (Penghafal puluhan ribu hadits-red), Ibn Abu Jamra al-Azdi al-Andalusi (wafat 695 H) berkata dalam kitab Syarah Bukhari-nya yang berjudul Bahjat al-Nufus,
'Umar meriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang pada Nabi saw meminta izin untuk pergi berjihad. Nabi bertanya, "Apakah orang tuamu masih hidup?" Ia menjawab bahwa mereka masih hidup. Nabi saw kemudian menjawab, "Jika demikian berjihadlah untuk memenuhi hak-hak mereka." (fihima fa jahid). Dalam hadits ini ada bukti bahwa Sunnah Rasul dalam memasuki Thariqah (jalan) dan menjalani disiplin diri adalah untuk melakukannya di bawah bimbingan seorang ahli, sehingga ia akan ditunjukkan jalan yang terbaik baginya untuk diikuti, dan tersahih untuk penempuh jalan tersebut. Karena ketika sahabat itu ingin pergi berjihad, ia tidak memuaskan dirinya dengan pendapatnya sendiri dalam masalah itu, tapi mencari nasihat dari seseorang yang lebih berilmu daripada dia dan lebih ahli. Jika ini kasusnya untuk Jihad kecil, bagaimana pula untuk Jihad Akbar?

(dari Ibn Abu Jamra, Bahjat al-Nufus Sharh Mukhtasar Sahih al-Bukhari 3:146.)
Ibn Hibban meriwayatkan dalam Sahih-nya (Sahih Ibn Hibban-red) dari Fadala ibn Ubayd, Nabi salla-Allahu 'alayhi wasallam bersabda dalam Haji Wada' (Haji Perpisahan), “... Mujahid adalah orang yang berjihad atas dirinya sendiri (jahada nafsah) demi untuk mematuhi Allah.” diriwayatkan pula oleh Tirmidzi, Ahmad, Tabrani, Ibn Majah, al-Hakim, dan Quda'i. Ahli hadits kontemporer Shu'ayb al-Arna'ut mengkonfirmasikan bahwa sanad riwayatnya sahih dalam edisi Sahih Ibn Hibban-nya 11:203 (#4862). Al-Haythami meriwayatkan versi berikut ini dalam bab Jihad al-Nafs dalam Majma' al-Zawa'id dan menyatakannya sahih, ”Orang yang kuat adalah bukan ia yang mengalahkan orang, orang yang kuat adalah ia yang mengalahkan dirinya (ego atau nafsunya) sendiri (ghalaba nafsah).”

Wa min Allah at taufiq

posted by Mevlana as Sufi at 8:53 AM 0 comments

Meditasi Sufi
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani


Dewasa ini banyak guru yang mengajarkan metode meditasi kepada kalian. Tetapi biasanya mereka tidak berdasarkan pada agama Kristen, Yahudi atau Islam, banyak orang yang berpikir bahwa meditasi merupakan metode yang diturunkan dari agama lain. Tetapi bukan itu yang menjadi masalahnya. Meditasi adalah suatu metode yang telah diberikan kepada manusia pertama, dengan wahyu pertama, kepada Rasul pertama. Apa manfaat dari meditasi dan bagaimana kita mencapai keadaan yang diinginkan? Dalam semua kitab suci, baik Taurat, Injil maupun al-Qur’an disebutkan bahwa meditasi adalah suatu metode untuk mencapai Hadirat Ilahi. Ketika kita sampai berhadapan dengan Sang Pencipta, kita akan meninggalkan segalanya. Tidak ada yang tersisa kecuali jiwa kalian. Jika Saya mencoba untuk mendatangi dan memukul kalian dengan sebilah pedang, kalian tidak akan terluka. Dalam keadaan itu, tidak ada yang dapat menyentuh kalian secara fisik, karena tubuh akan memasuki jiwa kalian. Dalam keadaan normal yang terjadi adalah kebalikannya, jiwa kita terperangkap dalam tubuh. Dalam keadaan meditasi yang sempurna, jiwa kalian menutupi tubuh dan kalian menjadi ruh. Suatu ketika ada seorang Grandsyaikh, Syaikh Abdul Qadir al-Jilani k. Ketika beliau bermeditasi, beliau terus mengucapkan, “Ana al-Haqq! (Akulah Kebenaran!)” Orang-orang di sekitarnya merasa tersengat dengan pernyataan ini sehingga mereka mulai menyerangnya dengan pedang, tetapi tidak terjadi apa-apa padanya. Mereka tidak dapat menyentuhnya.

Ketika Maulana Rumi sedang berada dalam meditasi yang sesungguhnya, beliau akan berputar dan tubuhnya terangkat ke udara. Beliau mempunyai hubungan penuh dengan Hadirat Ilahi. Menurut pengetahuan tradisional kita, meditasi mempunyai beberapa tahapan sebelum mencapai posisi puncak. Jika kalian menjaga aturan tersebut, meditasi yang sejati dapat kalian alami setiap saat. Setiap orang harus berusaha untuk tetap melaksanakan segala aturan yang berlaku dalam agamanya, yang pertama adalah memuji Tuhan sebagaimana yang diajarkan oleh Rasul kepada kita. Kemudian kita dapat duduk di tempat yang tenang, lebih baik lagi jika ruangan itu gelap, lalu tutupi dan tarik diri dari segala yang berada di sekitar kita. Kita sepatutnya tidak mendengar atau merasakan sesuatu, melainkan hanya berpikir bahwa kita sedang berada dalam satu kesatuan dengan Wujud Allah dalam Hadirat-Nya. Walaupun hanya berlangsung selama 5 menit, meditasi akan memberikan kekuatan kepada kita. Hal ini nantinya akan meningkat dan menciptakan elang perdamaian di luar merpati perdamaian. Bahkan jika seorang teroris melihat kalian, dia akan tersungkur. Dengan meditasi kalian dapat memperoleh kekuatan yang luar biasa. Jangan berpikir ini adalah sesuatu yang mudah. Ini adalah kekuatan yang paling penting yang telah dianugerahkan kepada ummat manusia.

bihurmati habib, fatihah
posted by Mevlana as Sufi at 8:53 AM 0 comments

Keajaiban Terbesar
Maulana Syaikh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani
Adalah keajaiban terbesar ketika hamba Allah swt, tetap berada dalam keadaan mustaqim
Senin, 29 April 2002


Ada 7 Raja Jin di sekeliling Uwais al-Karani, melindungi Syam. Syukur dan Dzikir adalah wajib bagi semua orang… Adzkuruni adzkurkum, wasykuruli wa la takfurun. Itu adalah suatu perintah. Orang lupa karena dunia dan egonya. Dzikir membimbing mereka. Ada yang disebut Dzakirin dan Sahibul Irsyad. Sahibul Irsyad atau Mursyid memberi cahaya dari Malakut kepada mereka yang berada dalam kegelapan. Rasulullah saw bersabda, “Waspadalah kepada orang-orang yang beriman karena mereka berjalan dalam cahaya Allah dan melihat yang terbuka dan yang tersembunyi, karena mereka tidak mempunyai hijab (penghalang) lagi.

Pada Hari Kiamat orang-orang akan bertanya kepada mereka yang mempunyai cahaya, bagaimana mereka bisa mendapatkannya, karena mereka membutuhkannya di dalam kegelapan. Tetapi itu sudah terlambat. Seorang hamba harus meraihnya di sini. Oleh sebab itu Allah menurunkan kitab dan memberi cahaya kepada Rasululullah saw. Barang siapa yang meraih cahaya itu maka dia menjadi orang yang beriman sedangkan yang lain tetap berada dalam kegelapan dan kekafiran. Para Sahabat mengambil cahaya itu dari Rasulullah saw, para Tabiin mengambilnya dari para Sahabat dan seterusnya. Orang-orang yang suci membawa Cahaya Ilahi, Nurullah. Sampai sekarang, Allah tidak meninggalkan ummat tanpa cahaya, dan hal ini akan terus berlangsung hingga Yaumul Qiyama. Setiap orang menerima cahaya sebanyak yang dia butuhkan dari orang-orang suci.

Setiap orang membutuhkan nasihat. Sehingga jika kalian melakukan langkah yang salah, kalian akan ingat kembali dan kembali lagi. Tetapi semua orang ingin hidup seperti yang diinginkan oleh ego mereka tanpa melihat Kehendak Allah. Oleh sebab itulah bencana menimpa ummat. Semoga Allah memberi kita bimbingan: Allaahummahdina fima hadayt…(Do’a Qunut). Allah tidak memberi 'izz kepada musuh-musuh-Nya. Kita membaca do’a ini setiap pagi, tetapi kita tidak memikirkannya. Kita tertidur dan kita berada dalam bayangan, bukan dalam 'izz. Yahudi hidup sesuka mereka dan kita meniru cara berpakaian mereka. Semoga Allah membimbing kita kembali ke jalan yang benar dan mengirimkan seorang yang membawa kita kembali kepada syari’ah. Kita harus menunjukkan kekuatan kita—banyak sekali negri Muslim… mereka tidak memberi bilangan yang benar kepada Muslim. Ada 2 milyar dan mereka mengucapkan syahadat 5 kali sehari

Kamis, 2 Mei

Allah senang melihat hamba-hamba-Nya bergembira dan bersyukur, tidak merasa tertekan, tetapi masruran, ferhane, puas dengan orang-orang. Mengapa orang-orang tidak bahagia? Kita diciptakan sebagai manusia, bukan sebagai binatang, tetapi orang-orang tidak senang dengan Tuhannya. Berpikirlah mengenai orang yang berada di rumah sakit, yang hanya bernapas dan makan melalui selang… Orang tidak mengambil pelajaran dari apa yang terjadi di Palestina. Berpikirlah tentang Sayyidina Yusuf as yang dijebloskan ke dalam penjara secara tidak adil, tetapi akhirnya keluar dan menjadi raja. Berpikirlah terhadap semua nikmat Allah swt yang kalian terima dan bersyukurlah kepada-Nya. Orang-orang Yahudi selama 40 tahun berada di padang pasir sebagai hukuman terhadap kekufuran mereka. Mereka bergerak melingkar… Rasa syukur akan meningkatkan nikmat Allah . Masalah dalam belajar adalah bahwa orang lupa kapan otak bekerja dengan baterai. Tetapi jika seorang hamba melayani Tuhannya selama 40 hari dengan ketulusan, maka Allah akan memberikan kebijaksanaan melalui ucapannya. Di mana pengetahuan Abu Bakar y, yang hanya meneruskan 30-40 hadits? Beliau meneruskannya dari hati untuk didengar. Dalam Islam tidak ada istilah Doktor Syari’ah”. Itu adalah gelar dari bangsa Yahudi, yang ada hanyalah ulama.

Minggu, 5 Mei 2002

Sohbet dari orang-orang yang shaleh membawa para hadirin kepada kesempurnaan, kemal, setiap orang diantarkan ke maqamnya. Hanya Allah yang memiliki kesempurnaan yang mutlak. Setan selalu berkeinginan untuk memecah-belah manusia, sebaliknya Allah ingin menyatukan mereka, tetapi orang-orang tidak mengikuti-Nya. Allah ingin menyatukan hati, tetapi ummat tidak mau mendengarkan firman-Nya, oleh sebab itu Allah tidak menolong mereka… Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengerti dan menerapkan pengetahuan mereka.

Kamis, 9 Mei 2002

Uwais al-Karani (para Awliya dimakamkan di dekatnya) tidak tidur, beliau hidup, di perut bumi. Awal mula kufur adalah keyakinan bahwa di dalam kuburnya, orang tidur dalam jangka waktu yang tak terhingga. Artinya, kalian tidak pernah bangkit lagi. Ketika kalian tidur—berakhirlah sudah, kalian tidur dan tidak pernah bangun lagi. Itulah pola pikir orang-orang yang bersifat materialis dan atheis. Sekarang orang-orang mengikuti gaya hidup orang-orang Barat, dan mereka memberi ide-ide bodoh yang tidak masuk akal kepada orang-orang, membuat mereka tidak percaya kepada sesuatu yang berasal dari Surga. Mereka menyangkal keberadaan Rasul, kitab-kitab suci, dan segala yang berasal dari Surga. Dan itu adalah gaya hidup baru, sesuatu yang baru di mana Muslim juga berkata, “Tidur di sini selamanya, kalian tidak akan bangun, kalian tidak akan kembali lagi. Kesempatanmu (firsat hayati) sudah berakhir, dan kalian berada di jalan yang tidak berujung. Kalian pergi dan baru saja terpisah dari kami dan kami tidak akan pernah bersamamu lagi.” Dan ini membuat orang-orang bertambah sedih, tidak bahagia, tidak punya harapan, dan jatuh ke dalam kegelapan dan akan berakhir di sana, dia tidak akan datang bersamamu lagi. Setiap kejahatan berasal dari negri-negri Barat dan semua ide buruk berasal dari para filusuf. Mereka mempunyai khayalan dan imaginasi, mereka membayangkan dan mengatakan sesuatu dan orang-orang yang tidak berpikir dengan cepat mengejar mereka dan berkata, Engkau benar,” dan setiap gagasan yang berasal dari filusuf itu bertentangan dengan semua keyakinan surgawi. Mereka menggunakannya dalam berbagai hal, bekerja dengannya sampai ide itu membuat pengaruh pada pikirannya. Mereka menggunakan surat kabar, majalah, TV, media penyiaran, bioskop, film, sinema, dan segalanya.

Ide itu mereka tempatkan sebagai racun, dan lebih istimewanya lagi mereka mengontrolnya, mereka berusaha untuk mengontrol segalanya, termasuk di bidang pendidikan. Sejak awal mereka sudah memberikan ide-ide mereka kepada murid-murid sekolah dasar hingga sekolah tinggi dan universitas. Dan ketika mereka lulus, mereka menjadi atheis, tidak percaya kepada sesuatu yang bersifat spiritual. Mereka bagaikan batu atau kayu dan robot, mereka hanya makan, minum dan bekerja. Di luar ide-ide ini mereka tidak pernah sanggup memikirkannya. Pikiran mereka menjadi rusak terhadap segala sesuatu yang berasal dari Surga. Mereka menjadi robot tanpa perasaan, pikiran atau pemahaman, karena mereka terjebak dalam sifat materialistik mereka dan mereka berada dalam kegelapan. Matahari tidak pernah menyinari mereka lagi di siang hari. Dan malam hari akan menjadi lebih buruk bagi mereka. Lewat kegelapan mereka semakin ketakutan dan tidak punya harapan dan kesedihan yang mendalam menutupi mereka.

Itu adalah awal hukuman bagi orang-orang yang menyangkal spiritualitas dalam ummat manusia dan makhluk spiritual dalam ummat manusia. Itulah yang menjadi sumber semua krisis, masalah, kesulitan, dan penderitaan yang dialami manusia. Itulah alasan utamanya. Tidak ada jalan untuk menyelamatkan mereka dengan aspek material. Mereka tidak dapat melakukan apa pun. Berlari, seperti orang yang terjatuh ke dalam sumur yang dalam—dia tidak dapat melakukan apapun kecuali menangkap apa yang dikirimkan kepadanya, misalnya seutas tali, dia bisa menangkapnya dan mungkin saja dia bisa dikeluarkan. Jika dia tidak mengambil apa yang dikirimkan kepadanya itu, dia tidak akan bisa menyelamatkan dirinya dan selamanya akan berada di sana, tinggal di sana sampai mati. Itulah alasan bahwa Allah mengirimkan tali surga-Nya kepada ummat manusia agar mereka menangkap dan menjaganya, sehingga mereka bisa keluar dari segala krisis, kesulitan, penderitaan dan masalah. Biang masalah yang sejati adalah orang-orang atheis. Pertama, mereka membuka pintu bagi semua bangsa dan masyarakat umum sehingga orang-orang mengejarnya. Ketika orang berduyun-duyun mendatanginya, tiba-tiba pintu itu tertutup, seperti orang-orang Mesir di masa lampau yang membawa mumi fir’aun, mereka masuk dan meletakkan mumi itu di sebuah ruangan yang telah disiapkan. Ada sebuah pintu masuk yang dibangun secara khusus agar mereka bisa memasukinya. Ketika mereka meninggalkan tubuh itu di sana, mereka lalu bergerak dari suatu tempat yang telah mereka persiapkan, sentuhan membuat bebatuan datang dan menutup ruangan di mana tergeletak tubuh fir’aun itu. Jadi tak seorang pun yang tahu bagaimana mereka bisa masuk, karena keempat dindingnya terlihat sama, tidak tahu dari dinding yang mana mereka masuk untuk meletakkan tubuh itu. Kadang-kadang mereka juga membawa ratu bersamanya. Ratu itu juga mengalami hal yang sama dan mati di sana. Pengikut Setan ini, orang-orang atheis, menempatkan orang-orang sedemikian rupa dan mereka menutup pintu keluar dari segala tempat sehingga orang-orang yang bersama mereka tidak dapat menemukan jalan keluar dan akan mati di sana. Oleh sebab itu kita katakan bahwa biang masalah yang utama adalah orang-orang atheis. Mereka semua menyangkal segala hal yang diturunkan dari langit. Mereka seperti bebatuan yang tidak pernah mengerti posisi surgawi, dan orang-orang mendatanginya, mereka menempatkan orang-orang itu di dalamnya, dengan ide-ide mereka, sampai akhirnya sudah terlambat bagi orang-orang itu untuk menyadari bahwa mereka telah tertipu. Sekarang semua orang di dunia tengah terjebak, bagaikan fir’aun yang diletakkan di ruangannya; orang-orang terjebak melalui jebakan orang-orang atheis.

Sepanjang mereka masih atheis, tidak ada jalan untuk menyelamatkan mereka. Mereka akan mati di sana dan tidak akan bahagia dan selamat, jalan satu-satunya, jika mereka dapat meraih tali yang dikirimkan dari Surga, barulah mereka bisa selamat. Semuanya akan mati, lima di antara enam orang akan tewas, karena semuanya terjebak dalam penjara materialis. Mereka percaya kepadanya dan akan mati di sana. Tidak ada jalan kecuali dengan meraih tali yang telah dikirim dari Surga. Sepanjang mereka masih menyangkal, mereka akan mati. Itulah Keadilan Ilahi. Sejak awal Muharram 1423 satu per satu semuanya akan dibersihkan. Yang pertama akan mati adalah ketua-ketua mereka sementara markas besarnya akan diambil satu per satu. Kita berada di bagian permulaan sekarang. Kalian dapat menyaksikan kejadian yang terjadi di mana-mana. Kejadian itu akan berlangsung lebih banyak lagi sampai mereka semua mati—barulah krisis akan selesai. Sekarang mereka berada dalam kegelapan, mereka berada dalam penjara bersama mumi fir’aun. Mereka senang untuk datang. Mereka berpikir bahwa mereka dapat mengatasi segalanya hanya dengan aspek material. Mereka akan melihat apa yang akan terjadi pada mereka. Mereka akan mati. Ini adalah sebuah ringkasan bagi semua manusia dan sekaligus peringatan. Jika mereka bangkit sebelum memasuki penjara itu mereka akan bisa diselamatkan. Tetapi bila mereka masuk dan ditempatkan bersama fir’aun di sana… fir’aun menipu orang dengan mengatakan, “Aku adalah Tuhanmu, Aku akan menyelamatkanmu.” Dan dia tidak pernah menyelamatkan dirinya sendiri. Dan orang-orang bodoh yang mengikutinya sekarang menunggu kapan fir’aun akan bangkit dan menyelamatkan mereka. Dan tiba-tiba dinding itu runtuh menimpa orang-orang yang mengharapkan sesuatu darinya sehingga mereka juga akan terkubur di sana. Semoga Allah melindungi kita agar tidak bersama fir’aun, tiran, setan, tetapi agar kita bersama orang-orang yang mulia, para Nabi dan Rasul serta Awliya, dan agar kita senantiasa mempertahankan jalan mereka. Siapa yang minta agar dirinya diselamatkan, dia harus mengikuti jalan orang-orang suci, Awliya dan Anbiya, serta Rasulullah yang paling mulia, Sayyidina Muhammad saw.

Wa min Allah at taufiq

posted by Mevlana as Sufi at 8:53 AM 0 comments

Menjadi Hamba Allah yang Baik
Maulana Syaikh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani
Rabu, 24 April 2002

As-salamu alaykum… Syukur Allaha, Syukur kepada Allah Kita memohon kepada-Nya agar kita menjadi hamba yang patuh. Setiap orang adalah hamba Allah, bahkan Setan pun termasuk hamba-Nya juga, tetapi dia adalah hamba yang jahat, dan barang siapa yang mengikuti jejaknya, maka dia termasuk hamba yang jahat. Nama-nama hamba yang jahat tertulis pada sebuah daftar dan karena mereka bukan hamba yang baik maka mereka akan dihukum. Hamba yang jahat adalah hamba yang tidak patuh. Mereka patuh kepada Setan tetapi tidak patuh kepada Allah . Hamba yang baik adalah hamba yang menghormati dan menjalankan perintah Allah. Mereka adalah hamba yang patuh, hamba yang baik dan merupakan hamba Allah. Hamba yang tidak baik adalah hamba Setan.

Satu hal yang harus diingat oleh setiap orang adalah bahwa mereka harus berusaha untuk menjadi hamba yang baik, jangan menjadi hamba yang jahat. Setiap orang harus mencoba mengikuti jejak Rasul, khususnya Rasul terakhir Sayyidina Muhammad saw. Kita tidak berkata bahwa kita adalah orang-orang yang tidak berdosa, tidak. Orang-orang yang bersih dari dosa hanyalah para Rasul dan juga Awliya yang telah mencapai maqam di mana mereka dilindungi dari godaan Setan sehingga mereka bersih dari dosa. Tetapi orang-orang biasa seperti kita adalah para pendosa, tidak ada yang dapat mengatakan bahwa dirinya selalu bersih tanpa dosa, ‘Saya melakukan segala hal sesuai dengan tuntunan Allah kepada saya.’ Tidak ada yang dapat mengaku bahwa ‘Saya bukan pengikut Setan’ 100%. Mungkin 99% kalian tidak mengikutinya tetapi 1% saja kalian mengikutinya maka kalian bisa jatuh dan melakukan perbuatan dosa. Ayah dari semua ummat manusia, Sayyidina Adam as, jatuh ke dalam sebuah dosa, satu dosa, hanya sekali. Beliau tidak bersalah, melainkan seluruh generasi yang dibawa di punggungnya, generasi yang baik dan jahat. Dan para Awliya berbicara dari ajaran Rasulullah yang sangat mulia bahwa Sayyidina Adam as tidak akan melakukan hal yang bertentangan dengan perintah atau nasihat Allah , tetapi dari generasinya yang kafir, yang tidak patuh, para pendosa, dan orang-orang yang jahatlah yang menggerakkannya melakukan dosa itu. Bahkan Adam tidak sanggup menghentikan dirinya sendiri, sebab milyaran generasinya yang akan muncul ke dunia ini dan akan menjadi orang-orang kafir, pengikut Setan, antek-antek Setan, para pembuat kerusakan, pendosa, orang-orang munafik, mereka semua mendorongnya dan beliau tidak dapat menghentikan dirinya, seperti halnya angin yang kencang mendorong kalian seperti ini… Mereka yang memakannya, bukan Adam .

Oleh sebab itu kita semua adalah para pendosa, tetapi Allah menjadikan Taubat dan Istighfar untuk membersihkan hamba-hamba-Nya. Karena setiap orang yang berbuat dosa akan menjadi kotor, dia tidak bersih dan dengan cepat akan menjadi orang yang kotor. Allah berfirman, “Barangsiapa yang tidak menerima eksistensi Allah dan Ke-Esaan-Nya, adalah orang yang kotor.” Dan Allah memerintahkan Rasul-Nya, “Jangan membiarkan mereka untuk mendekati Rumah Suci-Ku di Makkah al-Mukarama. Jangan biarkan mereka datang ke sini sekali lagi. Mereka semua adalah orang-orang yang kotor. Suruh mereka pergi.” Setiap dosa membuat orang menjadi kotor. Mereka harus bersih. Begitu cepatnya… Setiap orang yang merasakan atau mengetahui bahwa dia telah melakukan kesalahan atau pelanggaran terhadap perintah Allah , dia harus mengucapkan, "Taubat Yaa Rabbi, Astaghfirullah, baru saja Aku mengikuti Setan dan sekarang Aku menjadi kotor, Aku memohon ampun.” Sampai ampunan datang kepada kalian, kalian adalah orang-orang yang kotor dan ampunan itu datang bila seorang hamba mengucapkan “Astaghfirullah, Taubat yaa Rabbi, Taubat yaa Rabbi, Astaghfirullah.” Yang berarti, “Wahai Tuhanku, baru saja Aku mengikuti Setan dan Aku melakukan perbuatan yang salah, Aku telah berdosa. Sekarang Aku memohon ampun, Aku akan meninggalkan perbuatan itu, Aku tidak akan mengikutinya lagi, Aku berpaling kepada-Mu, Wahai Tuhanku ampunilah aku.” Dan Dia mengampuni.

Rasulullah saw pernah bersabda, “Suatu kali Setan merasa sangat menyesal, dan dia berkata, ‘Aku berusaha untuk menjerumuskan anak-anak Adam ke dalam dosa agar mereka semua habis.’ Jika seseorang jatuh ke dalam dosa berarti dia baru saja menghancurkan dirinya sendiri, seperti yang terjadi akhir-akhir ini di mana orang meletakkan sesuatu pada tubuhnya lalu benda itu meledak dan ikut menewaskannya, menghancurkan dirinya sendiri. Dan dosa-dosa itu membuat anak-anak Adam menghancurkan Iman dan kepatuhan serta ibadah mereka, tidak seperti orang yang menghancurkan dirinya secara fisik, tetapi sungguh, bila seseorang melakukan suatu perbuatan dosa, dia menghancurkan kepatuhannya dan kehidupan spiritualnya akan berakhir. Setan berkata, ‘Sebagaimana ketika Aku membuat mereka menghancurkan Iman, penghambaan, dan kepatuhan mereka; mereka juga menghancurkan aku ketika mereka mengucapkan, ‘Astaghfirullah, Tubtu wa rajatu ila-llah’.

Wahai Tuhanku, Aku memohon ampun, Aku melakukan kesalahan dan Aku menyesal, Aku memohon ampun, berikanlah ampunan-Mu kepadaku dan peliharalah Aku dalam lindungan-Mu, tempatkanlah Aku dalam area perlindungan-Mu.’ (Ketika mereka mengucapkan ini) Setan akan benar-benar menyesal. Dia akan mengeluh terhadap anak-anak Adam, dia begitu lelah untuk membuat mereka bersamanya di Neraka, menjadikan mereka kotor, dan orang yang kotor tidak akan mendapat rahmat, tetapi dia mengeluh, ‘Aku begitu lelah, dan ketika mereka berkata, ‘Wahai Allah, Astaghfirullah, Aku telah melakukan kesalahan, ampunilah aku’, maka semua pekerjaanku sia-sia, Aku kehilangan segalanya.’ Oleh sebab itu wahai para pengikut, kita memohon untuk mengikuti jejak Awliya, penerus Rasulullah . Para Awliya menjadi Awliya karena mereka mengikuti jejak Rasulullah saw. Siapa yang mengikuti jejak Rasulullah saw, dia akan menjadi Wali, Awliya. Jika tidak, mereka bukan Awliya. Kita berusaha untuk mengikuti langkah para Awliya, karena langkah mereka adalah langkah para Rasul. Jika kalian ingin menyelamatkan diri kalian secara fisik dan spiritual dan selamanya, maka ikutilah langkah para Awliya. Kita begitu lemah untuk mengikuti langkah para Rasul, karena dibutuhkan Iman yang kuat sehingga kalian bisa berpijak di jalur yang benar dengan mantap. Jika kalian tidak mempunyai 'qadama sidqin', kalian belum memiliki langkah yang benar, kalian tidak dapat melangkah di jalan yang benar, tidak bisa. Jalan yang benar menuntut langkah yang benar. Langkah yang benar dilakukan oleh kaki yang benar. Kaki yang benar adalah milik hati yang benar, jika hati kalian tidak benar, dia tidak bisa memerintahkan kaki kalian untuk berpijak dengan benar.

Oleh sebab itu perhatikanlah—seseorang yang mempunyai langkah yang benar, ikutilah mereka. Siapa pun dia, kalian boleh mengikutinya. Jika tidak, kalian akan mengikuti langkah Setan dan siapa pun yang mengikuti Setan, dia akhirnya akan sampai ke Neraka. Dan lewat Neraka, dia akan menyesal, tetapi itu sudah terlambat, habis sudah. Sekarang kalian disambut dengan tangan terbuka di kota yang suci ini, mungkin baru pertama kali kalian mengunjunginya, dan itu adalah suatu kehormatan, jika kalian berbicara mengenai kehormatan tanah ini, kita tidak akan menyelesaikannya hingga kiamat. Ini adalah daerah yang paling suci bagi ummat Muslim, Syam-u-syarif. Awwalu syam, akharu syam--Hari Perhitungan (hisab) akan berada di sini, semua Awliya dan Anbiya datang ke sini, seluruh mukmin datang ke sini, seluruh ummat manusia, ketika bangkit dari kuburnya, pasti akan datang ke sini. Beberapa dari mereka akan datang dengan mengendarai Burak. Beberapa di antara mereka dibawa dengan pecut dan tongkat, beberapa orang akan dibawa dengan muka mereka, malaikat yang membawa mereka ke sini. Bersyukurlah bahwa kalian bisa mencapai tanah yang suci dan dirahmati ini, rahmatullah--jika datang kepada orang yang kafir, akhirnya dia akan mati dalam keadaan Muslim. Semoga Allah mengampuni Saya dan memberkati kalian semua dan menjadikan pertemuan kita sebagai pertemuan yang suci dan kita semua diizinkan untuk bertemu Imam Mahdi di sini untuk mengambil bayat dari beliau di bawah bendera suci Rasulullah saw. Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Aziiz Allah…….Karim Allah…….Subhan Allah….Sulthan Allah…

Berusahalah untuk menjadi hamba Sang Sultan… Sultan yang abadi. Dari masa pra keabadian hingga masa yang abadi Dia adalah Tuhan Pemilik Surga, Allah . Berusahalah untuk menjadi terhormat dengan pelayanan kepada-Nya. Berikanlah waktumu lebih banyak untuk mengabdi kepada-Nya, kurangi waktumu untuk dunia, jadikan dia rendah, dan tingkatkan penyembahanmu kepada Allah , agar bisa merasakan kerajaan dan kedaulatan-Nya yang abadi… demi kemuliaan hamba Allah yang paling mulia, Sayyidina Muhammad saw, dan untuk kemuliaan semua Nabi dan Awliya, khususnya karena kita berada dalam huzur, kehadiran yang suci, dari Uwais al-Karani dan seluruh Anbiya dan Awliya, untuk kemuliaan mereka semoga Allah swt memberikan kita… Faatiha.

posted by Mevlana as Sufi at 8:53 AM 0 comments

Ketika Adzan kita Menyentuh Mata
Mengapa Kita Mencium Ibu Jari dan Menyentuh Mata
(dari Haqqaonline.com)


Qurrat aynayya bika Yaa Rasulullaah (Engkau adalah cahaya mataku, Yaa Rasulullaah)
Sebuah Hadits dalam Daylami yang diriwayatkan oleh Hazrat Abu Bakar ash-Shiddiq menyatakan bahwa Rasulullah Muhammad saw bersabda, “Ketika Muadzin mengucapkan, Muhammadur Rasulullah, jika seseorang mencium kedua ibu jarinya dan mengucapkan Ash-hadu anna Muhammadan abduhu wa Rasuluh, radhi-tu bil-laahi Rabban wa bil-Islami diin-an wa bi Muhammadin sall-Allahu alaihi wa sallama Nabiyyan, perantaraanku menjadi halal baginya.” Hadits syarif lainnya menyatakan, “Aku akan mencari dan menemukan orang yang meletakkan kedua ibu jari ke matanya ketika mendengar namaku disebut dalam adzan dan aku akan membawanya ke surga di Hari Pembalasan.”

Seorang ulama dari madzhab Hanafi, al-Tahtawi yang menulis buku Mara al-Falah di bawah pengawasan al-Quhistani, dalam catatannya mengatakan, "Adalah mustahab untuk meletakkan kedua ibu jari ke matanya dan berdo’a, Qurrat aynayya bika yaa rasul-Allaha! Allaahumma matti’ni bi-s-sami wa l-basri. Ketika Muadzin mengucapkan nama Rasulullah saw untuk yang kedua kalinya dalam adzan karena Rasulullah e akan membawa orang yang melakukannya ke dalam surga.”

posted by Mevlana as Sufi at 8:53 AM 0 comments

Tanah adalah Ibumu
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani


Segala sesuatu yang mempunyai awal pasti mempunyai akhir. Kalian meminta Saya untuk tinggal. Tetapi jika Saya berada di sini selama 20 tahun, bukannya 20 hari dan itu akan berakhir pada hari ini, maka itu sama saja. Dalam hidup ini, inilah yang harus terjadi. Tidak ada yang bersama terus selamanya, bahkan anak dengan keluarganya, tetangga, teman, dan kerabatnya, atau murid dengan Syaikh, dan pelajar dengan gurunya, semuanya akan berpisah suatu saat. Kita dapat melanjutkannya dalam hati. Kita selalu bersama dalam jiwa kita, walaupun tidak secara fisik. Jiwa mengatakan kepada kita bahwa kita semua adalah hamba Allah. Kita semua adalah ciptaan-Nya. Walaupun pakaian kita berubah, posisi asli kita tidak akan berubah. Kami tidak memberikan kuliah, Saya bukan profesor, Saya hanyalah orang biasa, seperti halnya dengan semua Rasul. Mereka duduk di tanah bersama orang-orang miskin, budak, wanita, dan anak-anak… Kita talah diciptakan dari tanah dan kita harus berusaha agar lebih dekat dengan tanah. Ini akan memberi kalian karakter yang baik dan membuat kalian lebih rendah hati. Jika kalian duduk di kursi yang asing, kalian akan berpikir bahwa kalian adalah orang yang penting. Dekat dengan tanah memberi manfaat terhadap tubuhmu. Ilmuwan mengatakan kepada kita bahwa banyak sekali bakteri di sana. Makin dekat kalian ke tanah, makin akrab kalian dengannya.

Mereka akan mengejar orang-orang yang melarikan diri dari mereka. Seperti halnya anjing, jika kalian akrab dengannya, mereka juga akan akrab denganmu. Dewasa ini orang-orang tinggal di gedung pencakar langit, jauh dari permukaan tanah. Mereka berada dalam bangungan berbeton dikelilingi plastik dan logam. Mereka melarikan diri dari alam dan segala macam penyakit akan mengejar mereka. Mereka ingin tahu dari mana asalnya kanker. Itu disebabkan karena orang jauh dari alam. Bersahabatlah dengan tanah! Kalian telah diciptakan dari tanah dan akan kembali ke tanah. Jika bukan sekarang, mungkin besok, atau setelah satu minggu, satu bulan, satu tahun, atau bahkan 100 tahun. Kalian tidak dapat melarikan diri. Kalian akan kembali ke tanah. Jangan melarikan diri dari tanah, dia adalah ibumu. Jika kalian lebih dekat dengan tanah, dia akan mengubah sifat kalian menjadi lebih baik. Dia akan menjadikan wajahmu lebih bersinar, dan menghilangkan kegelapan dalam dirimu. Bakteri yang mengganggu akan meninggalkanmu dan kalian akan berada dalam kedamaian dan kenyamanan. Inilah sebabnya mengapa Rasul biasa duduk di tanah. Tetapi sekarang orang ingin terlihat elegan. Secara fisik kalian mendapat manfaat dengan duduk di atas tanah, lebih-lebih secara spiritual. Spiritualitasmu akan meningkat, karena kalian akan menerima untuk menjadi orang yang rendah hati. Tidak ada yang dapat mengembangkan spiritualitasnya tanpa mempunyai sifat rendah hati. Orang yang paling rendah hati adalah orang yang paling tinggi spiritualitasnya. Karakteristik yang menghalangi spiritualitas adalah kesombongan. Setan berada di posisi tertinggi ketika dia bersifat rendah hati, tetapi ketika dia menjadi sombong, dia terpuruk ke posisi paling rendah. Kualitas terbaik bagi seorang hamba adalah menjadi orang rendah hati. Siapa pun yang ingin mencapai maqam surgawi yang tinggi, dia harus menerima bahwa dirinya bukanlah apa-apa. Jika kalian ingin selamat, kalian harus membuang bebanmu. Di masa lalu ketika kapal menyebrangi selat yang sempit, orang-orang akan membuang muatan mereka ke luar kapal. Jika kalian ingin mencapai maqam surgawi, kalian harus membuang bebanmu ke luar. Bagian yang paling berat dari diri kalian adalah ego, yang menuntut kalian untuk menjadi sesuatu, dia tidak pernah mengorbankan dirinya. Korbankanlah dia! Bila kalian telah melakukannya, kalian akan mencapai Surga dan menjadi seperti cahaya tanpa tubuh fisik yang menjadi penghalang. Dia dapat membawa kalian dari bumi ke Surga.

Wa min Allah at taufiq

posted by Mevlana as Sufi at 8:53 AM 0 comments

Armageddon
Maulana Syaikh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani
Siprus, Oktober 2002.


Tidak ada waktu untuk bepergian dan berkunjung. Suatu saat nanti tidak ada lagi pesawat, kapal, dan kereta. Setelah akhir Oktober dan awal November Saya tidak akan memegang tanggung jawab terhadap para pengunjung. Itu sulit sekali. Mungkin akan terjadi Armageddon, dan berjuta-juta orang akan tewas. Tadi malam berita tentang peperangan itu telah tiba, bukan dari senat Amerika, bukan, tetapi dari Surga. Perang terakhir yang sangat mengerikan akan berlangsung, berbahaya, mengerikan, sungguh suatu perang yang sangat mengerikan, perang terakhir. Setelah itu, tidak ada lagi perang, itu adalah perang yang sangat besar, Armageddon.

Oleh sebab itu Saya tidak ingin seseorang datang dan pergi seperti ini, itu, seperti ini dan itu. Sebaiknya tak seorang pun datang, setiap orang harus tahu. Itu adalah perintah surgawi yang datang dan apa yang dikatakan oleh Rasulullah saw mengenai hari-hari tersebut, itu pasti… Saya tidak dapat mencegah peristiwa yang akan terjadi, tidak, setiap orang harus bersama keluarganya, ayah bersama anaknya, suami bersama istrinya, tinggal di rumah mereka. Lihat apa yang terjadi bila tidak dilindungi. Jutaan orang tanpa alasan yang jelas datang dan pergi. Bahaya mengintai orang yang berada di luar karena mereka tidak mempunyai perlindungan. Jika seseorang datang untuk suatu kepentingan, itu tidak apa-apa, mungkin dia akan dilindungi. Jika tidak, jika mereka tidak mempunyai alasan yang jelas atau kepentingan tertentu, mereka berada dalam bahaya. Saya menyambutnya tetapi Saya harus mengatakan kepada semua orang untuk menjaga hal-hal yang diperlukan.

Perang ini tidak akan berlangsung lama, dia akan berakhir dalam 3 bulan, atau paling lama 6 bulan. Kalian harus berusaha untuk menyimpan persediaan makanan dan minuman yang diperlukan (selama kurun waktu itu). Segalanya akan berhenti. Jika pusat mengalami kehancuran, tidak ada lagi listrik, tidak ada yang akan bekerja, orang-orang terbaring sekarat karena mereka tidak mendapatkan makanan dan segala keperluannya. Oleh sebab itu, kalian harus menyimpan perbekalan paling sedikit untuk 1 bulan. Uang kertas tidak akan bernilai. Belilah sesuatu atau tukarkan dengan emas, belikan makanan dan segala yang diperlukan. Jika seluruh kota padam, tidak ada lagi pasar, semuanya akan berhenti, tidak ada lagi mobil, kalian harus memikirkan hal ini. Tidak ada waktu untuk bepergian ke seluruh penjuru dunia mulai awal November. Sampaikan ceramah ini ke semua orang di segala tempat.

Kemarin telah berlalu, abad-abad berikutnya dalam bayangan sekarang. Tidak ada lagi kemarin untuk hari ini. Tak seorang pun dapat meminta agar hidupnya sama. Masa depan sangat mengerikan. Tak seorang pun yang meminta—hidup sia-sia, memberikan hidupnya kepada Setan, mendatangkan kutukan dari Surga… Mereka tidak dapat menggapai apa yang mereka lakukan kemarin. Abad kedua puluh telah berakhir. Ini adalah batas kekufuran, tindakan setani. Ide-ide setani harus disingkirkan, ide-ide palsu itu berlawanan dengan hukum surgawi dan bumi. Sekarang peraturan surgawi datang dan pergi. Tidak ada lagi toleransi—habis sudah. Aturan surgawi, tidak ada kesempatan untuk memperbaharui apa yang mereka lakukan sebelumnya. Habis sudah! Itu adalah gempa bumi yang sangat besar tetapi bukan gempa bumi normal yang membawa kehancuran bagi negri-negri terbesar. Huuuuu...!

Huuuuuu...! Tujuh puluh negri akan hancur tahun ini. Siapa yang bersama Allah akan dilindungi. Setiap orang yang memohon perlindungan kepada Allah akan dilindungi. Sebaliknya siapa pun yang tidak mengejar perlindungan Allah akan dihancurkan. Tidak ada waktu untuk menguburkan (mayat yang tewas), bahkan tubuh mereka pun tidak bisa dikenali. Tidak ada yang mengenal, mereka akan terkubur dan berakhir, oleh sebab itu senjata yang mengerikan telah disiapkan. Seluruh negri berusaha untuk menghancurkan ummat manusia tetapi itu hanya berlangsung singkat lalu berakhir.
Haqq akan datang. Semoga Allah swt memberkati kalian dan memaafkan Saya. Faatihah.

Wa min Allah at taufiq

posted by Mevlana as Sufi at 8:53 AM 0 comments

Friday, August 06, 2004
Siapakah Kita, Ahl as-Sunna wal-Jama’ah?
Siapakah Kita, Ahl as-Sunna wal-Jama’ah?
Maulana Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani ,
ketua As-Sunna Foundation of America (ASFA)


Saudara-saudara yang terhormat, para ‘ulama dan saudari-saudari yang dimuliakan, Saya ingin mengatakan bahwa selain para ‘ulama, kita juga mempunyai Imam Senad, yang bertanggung jawab terhadap masyarakat Bosnia di Amerika dan Imam mereka. Kita menyambut mereka karena beliau baru saja tiba dari perjalanannya ke Bosnia dan beberapa negara lainnya. Semoga Allah memberikan pertolongan dan dukungan kepadanya.
Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bahwa malam ini kita berada di sini untuk Sayyidina Abdul Qadir Jilani , Ghawts Azam. Ghawts Azam berarti Busur-Perantara. Beliau adalah seorang perantara bagi manusia di Hadirat Muhammad saw yang pada gilirannya Rasulullah menjadi perantara di Hadirat Allah. Allah berfirman dalam suatu hadits (qudsi) bahwa ada beberapa orang “yang dapat menjadi perantara di Hadirat-Nya, melalui Izin-Nya.” Dewasa ini kita harus mengatakan bahwa suatu hadits adalah hadits yang “otentik”, karena sekarang banyak sekali kemunafikan. Sebelum nya, kita tidak perlu mengatakan hadits itu “otentik”. Segera setelah kalian bilang hadits, setiap orang akan mengerti bahwa itu adalah sebuah hadits. Kita adalah Ahl as-Sunnah wal Jama’ah dan kita harus meyakini apa yang telah diajarkan dan diberikan oleh Ahl as-Sunnah wal Jama’ah kepada kita. Tidak seperti pseudo-‘ulama sekarang yang merasa bahwa mereka sudah sangat tinggi posisinya. Semoga Allah melindungi Islam dari orang-orang yang munafik.

Saya sangat bergembira bahwa pada hari ini Saya berada di sini, di sebuah Muslim Center, di mana setiap orang datang secara bersama-sama untuk beribadah kepada Allah . Hanya Allah yang patut disembah dan Sayyidina Muhammad saw yang patut dipuji. Sayangnya sekarang sebagian besar orang kebingungan dalam hal menyembah dan memuji. Jika kita bilang bahwa kita memuji Nabi Muhammad e, mereka bilang kita menyembahnya. Jika kita memuji Syaikh, mereka juga bilang bahwa kita menyembahnya. Jika kalian bertanya kepada seorang anak Muslim dengan suatu pertanyaan sederhana, Siapa Allah?” “Siapa yang menciptakanmu?” dia akan berkata, “Allah.” “Siapa yang kamu sembah?” Dia akan berkata, “Allah” Kita tidak pernah mengatakan kepada anak-anak, “Katakanlah Muhammad .” Kita tidak pernah melihat seorang anak yang mengatakan, “Aku memuji Nabi Muhammad .” Dari mana mereka membawa ideologi baru ini, bahwa jika kalian memuji Sayyidina Muhammad “terlalu banyak” kalian bersalah telah melakukan dosa syirik? Allah memerintahkan kita untuk memuji Nabi Muhammad!

Dalam Islam tidak ada pemilihan. Dari mana mereka membawa ide demokrasi ini? Tidak ada demokrasi dalam Islam! Islam adalah bay’at kepada amir, pemimpin. Ketika kalian menyerahkan tangan kepada amir, dia akan memeliharamu. Dari mana kalian mendapat istilah “dewan perwakilan!?” dan para “direktur” dan beberapa nama-nama lain yang menonjol ini? Kalian bukanlah apa-apa melainkan hanya anak kecil—duduk dan berpikir bahwa kalian adalah seorang faraoh. Allah akan memperhitungkan segalanya. Dan Allah akan bertanya kepadamu tentang hal ini di Hari Pembalasan nanti. Kalian menentang Allah dan para Awliya-Nya. Bahkan guru-guru kalian, para ‘ulama kalian, guru Ibnu Taymiyyah dalam bukunya, Fatawa al-Kubra, beliau mengutip hadits suci dari Rasulullah, Allah berfirman, “(ini dari guru kalian Ibnu Taymiyyah) SIAPA PUN YANG MENENTANG WALI, AKU AKAN MENYATAKAN PERANG TERHADAPNYA!” (dari keramaian terdengar suara “Allahu Akbar!”).

Ini adalah guru kalian, bukan guru kami. Walaupun beliau seorang muhaddits yang baik, seorang faqih yang baik, dan ahli dalam bahasa Arab, ‘aqidahnya telah mengalami korupsi. Mereka berkata bahwa ‘aqidah Qadiri, Naqsyabandi, Rifa’i, Chisti telah terkorupsi. Tidak, ‘aqidah merekalah yang terkorupsi (Allahu Akbar!). Karena ‘aqidah kita merupakan sumber, dia adalah inti dari Ahl as-Sunnah wal Jama’ah, ‘aqidah para Sahabat dan Rasulullah. Dan itu merupakan keadaan ihsan.
‘Aqidah kita tidak terkorupsi. Tidak seperti mereka, kita tidak berkata bahwa Allah duduk di sebuah kursi. Kita tidak berkata bahwa Allah menghadap arah tertentu. Kita tidak berkata bahwa Allah mempunyai tubuh. Tidak! Kita mengatakan, “Dia bersamamu, di mana pun kamu berada.” Siapa yang lebih baik, siapa yang lebih kuat, siapa yang lebih berkuasa, Allah atau Setan? Setan selalu bersamamu di mana pun, jadi apakah Allah tidak bersamamu? Mereka berkata, “Tidak, Allah tidak bersamamu, Pengetahuan-Nya yang bersamamu.” Tidak. Kalian tidak bisa menuduh orang lain sebagai musyrik atau kafir. Mereka berkata bahwa kamu harus mengatakan “tawhid uluhiyyah” atau “tawhid rubbiyyah.” Sekarang mereka telah menemukan terlalu banyak tawhid. Kita berkata, “La ilaha illallah.” Inilah yang kita ketahui. Sekarang mereka berkata, “Tidak, kamu harus mengatakan ‘tawhid uluhiyya’ dan ‘tawhid rubbiya.’” Tawhid uluhiyya adalah mengucapkan “La ilaha illallah,“ kemudian tawhid rubbiya adalah mengucapkan “La ilaha illallah”. Rasulullah tidak berkata, “Ucapkanlah ‘La ilaha illallah’ dan ‘La ilaha illallah.’ Rasulullah berkata, “La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah.”

Apa yang kita ucapkan? “Kita adalah Ahl as-Sunnah wal Jama’ah.” Sebagian orang mengikuti Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Qayyim. Ahl as-Sunnah wal Jama’ah adalah pengikut keempat Imam Mahzab dalam Islam. Ibnu Hajar Asqalani, As-Subki, Imam Nawawi merupakan penganut ‘aqidah ‘Asyari dan mereka adalah Sufi. Mereka mempunyai imam, mereka mempunyai syaikh. Bahkan Ibnu Taymiyyah sendiri mempunyai seorang Syaikh—Abdul Qadir Jilani k. Beliau melakukan bay’at di tangan Syaikh Abdul Qadir Jilani k melalui enam generasi. Bagaimana kalian menyangkal tasawwuf? Para pengikut Ibnu Taymiyyah, pergilah dan baca buku beliau. Bukankah Ibnu Taymiyyah telah mendedikasikan dua volume (Fatawa Al-Kubra volume 10 dan 11) yang berisi uraian tentang tasawwuf dan pencarian jalan menuju Allah melalui para Awliya? Setiap buku terdiri atas 700 halaman sehingga totalnya 1400 halaman, dan setiap kata melukiskan Sufisme, dan beliau berkata, “Tasawwuf adalah keadaan ihsan yang dalam al-Qur’an dilukiskan sebagai tazkiyyat-an-nafs.” Tetapi karena istilah tasawwuf diturunkan dari empat akar yang berbeda, dia menjadi tasawwuf. Satu akar berasal dari suff--wool, dan satu lagi dari suffa--spons yang lunak. Kemudian beliau menyebutkan bahwa Allah berfirman, “Siapa pun yang menyakiti salah satu waliku, Aku akan menyatakan perang terhadapnya.” Ibnu Taymiyyah banyak menyebutkan bahwa awliya berada pada level yang berbeda. Beliau mendefinisikan tasawwuf sebagai salah satu dari tiga tipe yang berbeda. Sebagian orang adalah mustaswifiin—mereka tidak mengerjakan apa-apa yang berhubungan dengan tasawwuf, namun mereka menggunakannya untuk mencari uang—ini adalah satu sisi. Yang lain menggunakan tasawwuf untuk mendapatkan ketenaran, ini juga satu sisi yang lain. Tetapi ada mutasawwifa yang benar-benar berada di jalan Ahl as-Sunnah wal Jama’ah, di jalan Sayyidina Muhammad. Mereka mendapat ma’rifah—mereka adalah orang yang berilmu pengetahuan dan inilah sufi yang dijalani oleh Ibnu Taymiyyah.

Ibnu Taymiyyah adalah salah seorang pengikut thariqat Qadiri, dan dalam kedua bukunya beliau menyebutkan dua orang pengikutnya, Saqqati k dan Junayd k. Beliau juga menguraikan tentang Sayyidina Abu Yazid al-Bistami k dari thariqat Naqsyabandi. Kemudian dari pihak wanita beliau menyebutkan Rabia al-‘Adawiyyah k. Dan beliau memberi penjelasan tentang apa yang tidak dimengerti orang tentang ucapan para awliya, dan memaklumkan ungkapan mereka (syatahaat). Beliau merasakan bahwa orang-orang ini ketika menyampaikan ajarannya, mereka berada dalam keadaan ma’rifat, dalam keadaan fana, dan dalam suatu keadaan yang kasyf. Beliau bahkan mengakui adanya keadaan kasyf (pandangan spiritual) dalam bukunya Fatawa Al-Kubra yang berjumlah 37 volume. Kalian yang berbahasa Arab, bacalah volume 10 dan 11, kalian akan menemukannya.

Jadi, kepada siapa kita harus takut? Kita harus mengatakan yang haqq melawan yang baathil. Allah berfirman dalam al-Qur’an yang suci, “Mereka yang mengingat Allah , dan mereka yang berdzikir.” Dan Dia berkata, “mereka,” dalam bentuk jamak. Dia tidak berkata secara individual, Dia berkata jama’ah, dan itu dikatakan dalam al-Qur’an yang suci. Jadi apa yang menjadi masalah di sini? Tidak ada masalah. Bukankah Allah telah memerintahkan kita, “Bershalawatlah kepada Rasulullah dan pujilah dia.”? Jadi jika kita berdiri dan memuji Rasulullah, bukankah ini perintah Allah dalam al-Qur’an yang suci? Kita berdiri dan mengucapkan, “As-salamu ‘alayka ya ayuhan-Nabi, as-salamu ‘alayka ya Rasulullah, as-shalat was-salamu ‘alayka ya Habibullah, wa-shalatu was-salamu ‘alayka ya Syafi’ullah, was-shalatu was-salamu ‘alayka ya Nabi-ullah.” Alhamdulillah kita berdiri dan memberi salam.

Siapa bilang bahwa Rasulullah tidak mendengar kita? Bukankah Rasulullah bersabda, Siapa pun yang memberi salam kepadaku, Aku akan mendengarnya, siapa pun yang memberi salam kepadaku dari tempat yang jauh, Aku akan menerima salamnya”? Kita berada jauh dari Madinah—jika kita memuji Rasulullah, beliau akan menerima pujian itu dengan segera. Dan Allah memerintahkan beliau, “Jika seseorang memujimu, berikan balasannya.” Dan Allah berfirman, “Siapa pun yang memuji Rasulku Muhammad, Aku akan membalasnya 10 kali lipat.” Bukankah Rasulullah bersabda, “’Amal ummatku akan dipersembahkan kepadaku di makamku.”? Beliau tidak membatasinya siang atau malam—keadaan ini berlangsung terus-menerus, tanpa pernah berhenti. Rasulullah selalu dalam keadaan mengamati ‘amal seluruh ummatnya. Jika perbuatan kita baik, beliau berdo’a kepada Allah , jika perbuatan kita buruk, beliau memohon kepada Allah untuk mengampuni perbuatan kita. Apa lagi yang kalian harapkan dari Rasul kita? Beliau selalu dalam keadaan beraksi. Rasulullah bersabda, “Allah telah melarang bumi untuk memakan daging para Rasul.” Rasulullah selalu dalam keadaan beraksi—ini berarti beliau dalam keadaan terus-menerus beraksi dengan tubuhnya di makamnya. Dan makam itu adalah Riyadzul-Jannah, makam beliau adalah Kebun Surga bagi Rasulullah .

Para pengikut mahzab Salafi berkata bahwa Rasulullah duduk dalam makamnya, 6 kali 3 kaki. Tidak. Makam itu adalah sebuah Surga yang sangat luas sehingga tidak ada orang yang mengetahui batasnya. Bisa jadi lebih luas dari alam semesta ini. Jadi jika beliau dianugerahi tugas untuk selalu mengamati perbuatan ummatnya dan beliau selalu dalam keadaan beraksi, itu berarti beliau selalu berada dalam cahaya yang kontinu. Dan beliau bersabda mengenai peristiwa ‘Isra Mi’raj, “Aku melihat Musa shalat di makamnya.” Bagaimana beliau melihat Musa u—shalat, berdiri, duduk atau berbaring? Pandangan macam apa yang beliau miliki? Itu adalah suatu realitas! Rasulullah bersabda, “Aku melihat Musa u berdiri, shalat di makamnya.” Jika Rasulullah mengatakan berdiri, shalat di makamnya (beliau tidak mengatakan bahwa Nabi Musa berdiri “tanpa tubuh tetapi dengan jiwanya,” tidak, beliau berkata, “berdiri, shalat di makamnya”, jadi kita harus memahaminya secara harfiah, sebagaimana Salafi berkata bahwa kalian harus memahami segala sesuatu secara harfiah. Jadi kita juga melakukannya kali ini. Bagaimana kalian berdiri dan shalat? Tunjukkan kepada Saya, biarkan salah seorang melakukannya. Dengan tubuhnya, dan itulah sebabnya mengapa Allah memberikan para Awliya sebuah stasiun yang tidak pernah diberikan kepada orang lain. Khususnya kepada mereka. Tidak seorang pun yang dapat mencapai level itu.

Sayyidina Muhammad saw adalah Rasul penutup, beliau adalah Rasul pertama dan sekaligus Rasul terakhir. Beliau mencakup segalanya, seperti dua kutub, dua magnet. Satu magnet positif, yang lain negatif, keduanya tarik-menarik. Menarik alam semesta ini secara bersamaan. Kenabian beliau adalah sejak awal, itulah sebabnya Sayyidina Muhammad bersabda, jika kita mempunyai akal yang bisa mengerti, “Aku adalah seorang Rasul ketika Adam u masih berwujud antara tanah liat dan air,” dan “ Aku adalah Rasul penutup.” Jadi beliau lebih tua dari masa sejak awal penciptaan hingga akhir penciptaan. Penciptaan itu terletak di antara kedua kutubnya. Beliau adalah kutub magnet yang mengendalikan segalanya, dengan izin Allah kepada Sayyidina Muhammad. Dan itulah sebabnya Allah berfirman, “Jika bukan untukmu, Aku tidak akan menciptakan semuanya.”

Jika kalian Arab, alhamdulillah. Itu adalah salah satu yang patut disyukuri sebab Rasulullah saw adalah Arab. Kehormatan kita sebagai orang Arab berasal dari kehormatan Rasulullah , Sayyidina Muhammad saw. Dan beliau bersabda, “Tidak ada perbedaan antara Arab dan non-Arab kecuali dalam hal ketaqwaannya.” Kalian datang ke sini untuk memperingati dan merayakan seorang yang telah Allah berikan kekuatan spiritual—Sayyidina Abdul Qadir Jilani . Dan dengan melakukannya, kalian juga diberi kehormatan dan cinta kepada Sayyidina Muhammad sebab Sayyidina Abdul Qadir Jilani k adalah cucu beliau.

Sebelum Saya akhiri, Saya ingin mengatakan bahwa, alhamdulillah, Allah akan melindungi ummat ini. Dan kita berada di jalur yang benar. Kita senang untuk mengucapkan, “Semoga Allah membagi apa pun pahala yang Dia berikan dalam pertemuan ini demi kemuliaan dan pujian kepada Nabi Muhammad , dan apapun berkah yang diberikan Allah kepada Sayyidina Abdul Qadir Jilani k dan seluruh aliran Sufi, seluruh orang spiritual, dan seluruh Ahl as-Sunnah wal Jama’ah. Semoga Allah membagi kita dengan berkah yang diberikan kepada Sayyidina Abdul Qadir Jilani k, dan berkah kepada Sayyidina Muhammad saw. Dan kita memohon kepada Allah untuk membawa seluruh hati kembali kepada Ahl as-Sunnah wal Jama’ah. Menjadi satu hati dalam kesatuan. Insya Allah. Faatiha.

Wa min Allah at taufiq

posted by Mevlana as Sufi at 11:20 PM 0 comments

11 Prinsip Thariqot Naqsbandi
11 Prinsip Thoriqot Naqsbandi

Asas-asasnya 'Abd al-Khaliq adalah:

1. Hush dar dam: "sadar sewaktu bernafas". Suatu latihan konsentrasi: sufi yang bersangkutan haruslah sadar setiap menarik nafas, menghembuskan nafas, dan ketika berhenti sebentar di antara keduanya. Perhatian pada nafas dalam keadaan sadar akan Allah, memberikan kekuatan spiritual dan membawa orang lebih hampir kepada Allah; lupa atau kurang perhatian berarti kematian spiritual dan membawa orang jauh dari Allah (al-Kurdi).

2. Nazar bar qadam: "menjaga langkah". Sewaktu berjalan, sang murid haruslah menjaga langkah-langkahnya, sewaktu duduk memandang lurus ke depan, demikianlah agar supaya tujuan-tujuan (ruhani)-nya tidak dikacaukan oleh segala hal di sekelilingnya yang tidak relevan.

3. Safar dar watan: "melakukan perjalanan di tanah kelahirannya". Melakukan perjalanan batin, yakni meninggalkan segala bentuk ketidaksempurnaannya sebagai manusia menuju kesadaran akan hakikatnya sebagai makhluk yang mulia. [Atau, dengan penafsiran lain: suatu perjalanan fisik, melintasi sekian negeri, untuk mencari mursyid yang sejati, kepada siapa seseorang sepenuhnya pasrah dan dialah yang akan menjadi perantaranya dengan Allah (Gumusykhanawi)].

4. Khalwat dar anjuman: "sepi di tengah keramaian". Berbagai pengarang memberikan bermacam tafsiran, beberapa dekat pada konsep "innerweltliche Askese" dalam sosiologi agama Max Weber. Khalwat bermakna menyepinya seorang pertapa, anjuman dapat berarti perkumpulan tertentu. Beberapa orang mengartikan asas ini sebagai "menyibukkan diri dengan terus menerus membaca dzikir tanpa memperhatikan hal-hal lainnya bahkan sewaktu berada di tengah keramaian orang"; yang lain mengartikan sebagai perintah untuk turut serta secara aktif dalam kehidupan bermasyarakat sementara pada waktu yang sama hatinya tetap terpaut kepada Allah saja dan selalu wara'. Keterlibatan banyak kaum Naqsyabandiyah secara aktif dalam politik dilegitimasikan (dan mungkin dirangsang) dengan mengacu kepada asas ini.

5. Yad kard: "ingat", "menyebut". Terus-menerus mengulangi nama Allah, dzikir tauhid (berisi formula la ilaha illallah), atau formula dzikir lainnya yang diberikan oleh guru seseorang, dalam hati atau dengan lisan. Oleh sebab itu, bagi penganut Naqsyabandiyah, dzikir itu tidak dilakukan sebatas berjamaah ataupun sendirian sehabis shalat, tetapi harus terus-menerus, agar di dalam hati bersemayam kesadaran akan Allah yang permanen.

6. Baz gasyt: "kembali", " memperbarui". Demi mengendalikan hati supaya tidak condong kepada hal-hal yang menyimpang (melantur), sang murid harus membaca setelah dzikir tauhid atau ketika berhenti sebentar di antara dua nafas, formula ilahi anta maqsudi wa ridlaka mathlubi (Ya Tuhanku, Engkaulah tempatku memohon dan keridlaan-Mulah yang kuharapkan). Sewaktu mengucapkan dzikir, arti dari kalimat ini haruslah senantiasa berada di hati seseorang, untuk mengarahkan perasaannya yang halus kepada Tuhan semata.

7. Nigah dasyt: "waspada". Yaitu menjaga pikiran dan perasaan terus-menerus sewaktu melakukan dzikir tauhid, untuk mencegah agar pikiran dan perasaan tidak menyimpang dari kesadaran yang tetap akan Tuhan, dan untuk memlihara pikiran dan perilaku seseorang agar sesuai dengan makna kalimat tersebut. Al-Kurdi mengutip seorang guru (anonim): "Kujaga hatiku selama sepuluh hari; kemudian hatiku menjagaku selama dua puluh tahun."

8. Yad dasyt: "mengingat kembali". Penglihatan yang diberkahi: secara langsung menangkap Zat Allah, yang berbeda dari sifat-sifat dan nama-namanya; mengalami bahwa segalanya berasal dari Allah Yang Esa dan beraneka ragam ciptaan terus berlanjut ke tak berhingga. Penglihatan ini ternyata hanya mungkin dalam keadaan jadzbah: itulah derajat ruhani tertinggi yang bisa dicapai.

Asas-asas Tambahan dari Baha al-Din Naqsyabandi:

1. Wuquf-i zamani: "memeriksa penggunaan waktu seseorang". Mengamati secara teratur bagaimana seseorang menghabiskan waktunya. (Al-Kurdi menyarankan agar ini dikerjakan setiap dua atau tiga jam). Jika seseorang secara terus-menerus sadar dan tenggelam dalam dzikir, dan melakukan perbuatan terpuji, hendaklah berterimakasih kepada Allah, jika seseorang tidak ada perhatian atau lupa atau melakukan perbuatan berdosa, hendaklah ia meminta ampun kepada-Nya.

2. Wuquf-i 'adadi: "memeriksa hitungan dzikir seseorang". Dengan hati-hati beberapa kali seseorang mengulangi kalimat dzikir (tanpa pikirannya mengembara ke mana-mana). Dzikir itu diucapkan dalam jumlah hitungan ganjil yang telah ditetapkan sebelumnya.

3. Wuquf-I qalbi: "menjaga hati tetap terkontrol". Dengan membayangkan hati seseorang (yang di dalamnya secara batin dzikir ditempatkan) berada di hadirat Allah, maka hati itu tidak sadar akan yang lain kecuali Allah, dan dengan demikian perhatian seseorang secara sempurna selaras dengan dzikir dan maknanya. Taj al-Din menganjurkan untuk membayangkan gambar hati dengan nama Allah terukir di atasnya.



posted by Mevlana as Sufi at 11:20 PM 0 comments

Bay’at, Ikrar Kesetiaan, Inisiasi
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
dalam on the Bridge to Eternity


Bay’at adalah pernyataan secara sadar terhadap suatu hubungan antara Guru dengan muridnya. Murid ‘membiarkan’ Syaikh dan Gurunya bekerja atas dirinya; dia menerima dirinya sebagai murid dan pengikut Syaikhnya demi kemajuan spiritual menuju tujuannya. Murid meletakkan tangannya di atas tangan Guru atau pada tongkat atau jubahnya. Orang lain juga dapat terhubung dengan jalan meletakkan tangan kanannya pada bahu kanan orang yang berada di depannya.

Guru mengucapkan, “A’uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim. Bismillaahir rahmaanir rahiim Innal ladziina yubaayi’uunaka innama yubaayi ‘uunallaaha yadullaahi fauqa aidiihim, fa man nakatsaa fa innamaa yankutsu ‘alaa nafsihi wa wan awfaa bi maa’aahada ‘alayhullaaha fa sa yu’tiihi ajran ‘azhiimaa [al-Fath 48:10]. Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu itu, sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan (kekuasaan) Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya, niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya dan barang siapa yang menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar.

Rabbina billahi rabbal, wabil islaamidina. Wabi Sayyidinaa wa nabiyyina Muhammad Shalallahu ta ‘alaa alayhi wassalam Rasuula wa Nabiyya. Wabil Qur’ani kitaabaw Wallahu wa ‘alaa ma naqulu wakiil. Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin. Wa qabi nabi Sayyidinaa Syaykh Muhammad Nazhim al-Haqqani, Qud watallana illaa mahabbatin Nabiyyi Shalallahu ta’alaa alayhi wassalam wa illaa ta’li minal thariqal Islaam, Wa thariqal Nabiyyina Sayyidinaa Muhammad Shalallahu ta’alaa alayhi wassalam wa thariqah syari’ah wa sunnan Nabawiyah wa syarifah.

Allahu Allahu Allahu Haqq
Allahu Allahu Allahu Haqq
Allahu Allahu Allahu Haqq

Ilaa Hadrati Nabiyyi (e) wa–aalihi wa shahbihil kiraam, wa ilaa arwaahi ikhwanil Anbiyaa’i wal Mursalina, wa Khudamaa’i syaraai’ihim, wa ilaa arwaahil a’immati’il Arba’a, wa ilaa arwaahi Masyayikhinaa fith thariiqatin Naqsybandiyyatil Aaliyyah, khaashatan ilaa ruuhi imamith thariqati Sayyidinaa Syaah Baha-uddin Naqsyband, wa ilaa khaashatan Sayyidinaa Syaykh Abdul Khaaliq al Ghujduwaani, wa ilaa Sulthanul Awliya Sayyidinaa Syaykh ‘Abdullah Fai’iz ad-Daghistaani, wa ilaa Sayyidinaa Syaykh Muhammad Nazhim al Haqqani, al Faatihah.”

Syaikh Nazhim k ketika berada di Damaskus, Syria berkata, “Grandsyaikh telah memberi otoritas dari Rasulullah e kepada saya untuk seluruh cabang Thariqat Naqsybandi di seluruh penjuru Timur & Barat; agar mereka datang dan memperbaharui ikrar mereka di hadapan kami. Oleh karenanya, ikrar tersebut adalah sebuah deklarasi bagi semua pengikut Naqsybandi, yang jumlahnya mencapai ratusan, bahkan jutaan: orang merasa takut akan jumlahnya. Tetapi mereka salah paham bahwa kita mengejar Dunya, padahal tidaklah demikian—kita hanya mengharapkan ridha Allah semata—satu-satunya jalan yang benar bagi seorang hamba adalah mengharapkan ridha dari Tuhannya. Kita tidak menggunakan kekuatan spiritual untuk kehidupan (di dunia) ini tetapi kita menggunakannya untuk mencapai maqam yang lebih tinggi di Surga. Oleh sebab itu, tidak ada rasa takut pada diri jutaan pengikut Naqsybandi, mereka (orang-orang) harus merasa puas dengan para pengikut Naqsybandi. Kita adalah Muslim Naqsybandi, target kita hanyalah mencapai ridha Allah , Tuhan Pemilik Surga—tidak ada yang lain. Siapa yang senang terhadap kita, mereka boleh datang—selamat datang—siapa yang tidak, mereka boleh pergi sesuka hati mereka.

Setiap orang di seluruh penjuru di Timur dan Barat harus memperbarui thariqat mereka melalui Grandsyaikh mereka—dan beliau memberi izin kepada saya—atas nama Grandsyaikh, Saya memberi bay’at kepada setiap orang yang mengikuti Thariqat Naqsybandi—menerima, itu adalah untuk kebaikan mereka—siapa yang menolak, mereka boleh tinggal di mana pun mereka berada, mulai sekarang sampai Hari Pembalasan nanti. Saya berharap apa yang telah ditanam oleh Grandsyaikh di Damaskus akan segera tumbuh—musimnya telah tiba, musim untuk berkembang di seluruh Timur dan Barat serta Utara dan Selatan—di mana-mana orang akan mencari jalan menuju Allah.”

Wa min Allah at taufiq

posted by Mevlana as Sufi at 11:20 PM 0 comments

Tugas Sufi Center
Mawlana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
Munich, Jerman


Kalian jangan membuang-buang waktu dengan bertengkar dengan sesama pengikut Naqsybandi. Ini merupakan salah satu tipu daya Setan untuk membuat kalian lemah. Saya ingin agar kalian mengerahkan kekuatan kalian terhadap orang lain. Kalian seharusnya tidak saling menuduh satu sama lain mengenai segala hal dan menyebabkan keresahan. Itu adalah hal yang bodoh. Orang ingin dibimbing menuju jalur yang benar oleh kalian, menuju kebenaran dan realitas—mereka haus akan hal itu. Kalian tidak boleh duduk bersama mengatakan satu sama lain apa yang harus dilakukan atau tidak (dilakukan). Itu bukanlah yang kita inginkan. Saya senang ketika para pengikut saya mengumpulkan orang-orang yang merasa tertarik dengan mereka, juga ketika mereka melakukannya di rumah. Kalian dapat mengikatnya setelah itu dan mengumpulkan mereka. Lihatlah Burhanadin—dia merangkul banyak orang dengan tangannya, itulah hal yang penting. Adalah tidak penting bila lima orang duduk di suatu tempat dan berdzikir di sana hanya untuk menghabiskan waktu mereka.

Pergi dan berburulah! Itulah yang penting--menjadi seorang pemburu, bukannya berkelahi antar sesama kalian. Tidak, pergi dan berburulah. Kumpulkan orang lebih banyak. Selamatkan jiwa mereka! Bantu dan berilah dukungan masing-masing untuk tujuan ini. Adakanlah jamuan minum teh, atau makan. Piknik, ceramah, seminar dari waktu ke waktu. Tujukan energimu ke dunia luar, bukan untuk berkelahi satu-sama lain, sia-sia! Jangan membuat sebuah lembaga ‘religius’, tetapi dirikanlah sebuah lembaga sosial untuk melaksanakan kegiatan-kegitan sosial. Buatlah segala sesuatu yang tidak haram dan disukai banyak orang. Budayakan kegiatan berkuda, (karena) banyak orang yang senang menungganginya. Dirikanlah sebuah perpustakaan sehingga orang dapat berkunjung dan melihatnya. Jangan menetapkan suatu tarif masuk. Buatlah acara jamuan minum teh atau pesta kebun di mana orang bisa datang dan mendengar. Organisasikan suatu pameran agar orang bisa datang dan melihat-lihat. Berikan makanan gratis setiap minggu atau setiap bulan agar orang datang secara teratur. Organisasikan penjualan mobil atau sepatu untuk menarik minat orang banyak. Buatlah pameran dengan topik yang beraneka-ragam untuk menarik perhatian orang, kalian harus menggunakan akal kalian sedikit. Kalian cukup mengadakan kegiatan-kegiatan semacam itu untuk menarik perhatian orang.

Kalian dapat mendirikan sebuah taman kanak-kanak, sehingga ibu-ibu yang bekerja dapat meninggalkan anak-anak mereka di sana. Organisasikan sebuah tempat pertemuan bagi orang-orang tua di mana mereka dapat berkumpul di siang hari dan bersantai. Bahkan pemda pun akan membayar kalian untuk hal tersebut. Banyak sekali aktivitas semacam itu. Buatlah koleksi burung yang bagus-bagus, koleksi bunga, tanaman untuk dijual atau seperti taman di mana orang dapat duduk untuk melihatnya. Banyak sekali kemungkinannya, ratusan kemungkinan. Adakan kelas sore untuk menjahit, buatlah pameran bertema Oriental, India, Turki, Kristen,… Inilah hal-hal yang sebaiknya kalian lakukan, bukannya duduk (di Berlin) dan bertengkar satu sama lain. Organisasikan suatu bazar setiap minggu di mana orang dapat membeli berbagai barang dari gudang. Buatlah iklan, buatlah tanda-tanda di jalan, sehingga orang-orang yang sedang mengendarai kendaraannya bisa berhenti dan membeli sesuatu. Tempat semacam itu bisa menjadi tempat yang indah. Buatlah koleksi perangko, pameran foto, koleksi buku. Bawalah berbagai barang dari kulit, kayu atau produk kerajinan tangan lainnya

Katakan kepada orang-orang bahwa kalian memiliki sebuah kuil, sinagoga dan sebuah masjid. Siapa yang mau, boleh datang. Mereka akan datang. Sekarang, orang tidak perlu macam-macam untuk bisa senang. Jika itu gratis, banyak sekali yang akan datang. Kalian harus berusaha melakukan apa yang Saya katakan ini dan kalian harus mencari orang yang ahli untuk hal itu. Jangan dilihat bahwa dia seorang Muslim atau tidak. Bila dia tertarik, ajak dia untuk datang. Tempat itu harus merupakan sebuah tempat bagi kebaikan ummat manusia tanpa ada perbedaan mengenai agama atau ras, melainkan bagi orang-orang di negeri ini. Gunakan kebiasaan-kebiasaan lama yang baik dari orang-orang Inggris; pakaian mereka dan rumah mereka. Dengan segala hal yang kalian lakukan—usahakan agar generasi muda tertarik dengan sejarah mereka, pakaian tradisional mereka dan tradisi-tradisi yang baik sehingga semua itu tidak hilang di masa yang sulit. Buatlah suatu wadah yang damai bagi orang tua dan generasi muda, untuk segala jenis orang. Dan apapun yang kalian butuhkan, Allah akan mengirimnya untuk kalian. Dia akan mengirim banyak penolong. Jika kalian mulai melihat lebih dalam, pintu-pintu akan terbuka.

Buatlah sebuah lapak: sewa atau beli sebuah lahan yang luas di mana kalian dapat meletakkan segala macam barang yang tidak dibutuhkan lagi; lori, mobil, atau mebel,… tulislah, “Kami siap untuk mengambil barang apapun dengan gratis.” Dengan demikian, setiap pintu akan terbuka. Kalian dapat mengatakan bahwa ini adalah sedekah yang bisa menolong orang miskin di seluruh dunia. Seperti Bapak Pierre di Paris—dia bahkan lebih terkenal daripada presiden. Usianya sudah lebih dari 90 tahun tetapi dia sangat senang untuk menolong orang sehingga dia sangat terkenal di Prancis. Setiap orang yang ingin menyingkirkan suatu barang cukup meneleponnya dan dia akan mengambilnya. Mulailah dengan membuat suatu ruangan untuk menaruh barang-barang seperti halnya di ruang bawah tanah kalian, ambillah segala macam barang yang dibuang orang, barang-barang itu pun akan memperoleh nilainya yang baru. Juallah makanan yang sehat. Segala sesuatu yang baik bagi orang dan yang membuat mereka tertarik. Kalian dapat melakukan berbagai hal di sini. Allah akan memberi kesuksesan kepada kalian. Adakan kemping bagi anak-anak. Kalian harus mengatakan kepada orang tua mereka bahwa kalian tidak akan membiarkan sesuatu di tanah yang akan membahayakan mereka, baik fisik maupun spiritual. Kita tidak menginginkan hal itu. Kita akan melakukan yang terbaik untuk menghentikan kebiasaan mengkonsumsi narkoba. Kita tidak dapat melakukannya sekaligus, tetapi mereka bisa datang dan secara bertahap kita akan menghilangkan kebiasaan itu dari mereka.

Saya tidak suka bila seseorang datang dan mengeluh tentang seseorang yang lain. Grandsyaikh baru saja mentransmisikan; demi kehormatan Syaikh, kalian seharusnya tidak membawa berita buruk baginya. Kalian seharusnya tidak datang kepadanya dan membuatnya khawatir mengenai suatu hal. Itu adalah perilaku buruk. Kalian harus berusaha untuk membawa berita baik baginya untuk membuatnya gembira sehingga beliau akan berdo`a untuk kalian, karena jika Syaikh kalian senang dengan kalian, maka Grandsyaikh pun akan senang dengan kalian. Itu berarti Rasulullah saw juga senang dan demikian pula dengan Allah. Itulah sebabnya kalian sebaiknya jangan membawa berita buruk kepada Syaikh kalian, ini sangat penting, kalian sangat membutuhkan nasihat ini.

Kalian bisa datang dan mengatakan kepada saya bahwa seseorang telah mengucapkan Syahadah. Bahwa seseorang telah datang kepada kalian dan dia merasa senang. Bahwa kalian telah mengadakan jamuan minum teh dan semua orang merasa senang. Kami telah memberikan ini, itu kepada seseorang. Dia sangat bergembira. Kami telah memberi sedekah, makanan, teh. Kami telah bertemu seorang bishop, pendeta, kami telah memperlihatkan rasa hormat kepada para pejabat di kota ini dan mereka senang dengan kami karena telah membantu mereka untuk menegakkan kehormatan di kota ini. Kami telah mengunjungi rumah sakit, penjara, institusi psikiater untuk memberi harapan di masa depan kepada orang-orang di sana. Kami telah menikahkan si A dengan si B. Kami telah mengumpulkan baju-baju bekas dan mengorganisasi kegiatan bazar amal. Kami telah melakukan kerjasama dengan restauran ini, itu untuk mengambil semua sisa makanan mereka untuk diberikan kepada orang-orang miskin. Kami menyajikan sup kepada orang miskin setiap hari. Hanya saja, jangan membiarkan suatu kotoran tertinggal di sana.

Orang yang datang dan ingin tinggal selama beberapa hari harus tampil bersih sebisa mungkin. Setidak-tidaknya orang tidak akan menyingkir dari mereka. Jangan membiarkan orang gila datang, dan juga orang-orang yang akan menyakiti orang lain melalui perbuatan dan penampilan mereka. Jika seseorang bersikeras untuk bertingkah laku sedemikian sehingga orang akan membenci institusi kita, kalian harus melapor pada polisi untuk menyingkirkan orang itu. Orang-orang yang bersih saja yang boleh masuk, mereka yang terlihat rapi. Orang yang kotor, mabuk, orang-orang gembel dengan wajah yang buruk tidak diperbolehkan masuk. Singkirkan mereka semua. Kita tidak menerima orang-orang yang abnormal. Orang-orang yang normal dipersilakan datang, orang-orang dengan perilaku normal. Orang yang mengganggu orang lain tidak termasuk. Dan berikan kehormatan sesuai dengan apa yang patut mereka terima menurut level mereka. Barang siapa yang datang untuk menginap selama tiga hari atau lebih, dia harus membayar sejumlah uang yang sepadan, karena mereka akan mendapat sarapan, teh dan makanan. Kalian dapat mengkombinasikan sarapan dan makan siang, lalu kembali menyajikan makanan setelah sore.

Kalian harus mencari makanan apa yang murah, namun cocok untuk para tamu. Khususnya ketika kalian mengorganisir sebuah seminar, kalian harus mencari makanan apa yang sesuai. Kalian harus memperhatikan apakah mereka merasa nyaman, dan jagalah agar segala sesuatunya tetap bersih. Orang yang paling miskin di antara kita pun harus membayar sesuatu ketika mereka masuk ke dalam tempat ini. Empat atau delapan pound…untuk mensupport tempat ini demi keyakinan dan demi kebenaran untuk melatih generasi yang baik dengan perilaku yang baik. Setiap orang, khususnya para pengikut saya, harus berusaha memberikan dukungan finansial untuk tempat ini. Tidak hanya mengharapkan sesuatu darinya, tetapi paling tidak memberikan sedikit kontribusi. Mereka tidak sepatutnya datang dan memperlihatkan isi kantongnya yang kosong. Siapa pun yang datang harus memberikan sesuatu bagi tempat ini, bagi tempat yang suci ini. Berapa banyak yang dapat diberikan oleh orang miskin--itu tidak penting, bahkan jika mereka hanya membawa beberapa kayu, atau menjaga tanaman, bersih-bersih… tetapi mereka harus melakukan sesuatu, tidak hanya meletakkan kaki mereka dan berjalan berkeliling. Mereka dapat melakukannya di waktu senggang, tetapi siapapun yang tinggal di sini paling sedikit 2 jam setiap hari harus melakukan pekerjaan fisik bagi tempat ini. Dan mereka harus turut ambil bagian dalam shalat berjamaah, paling sedikit sekali sehari.

Siapa yang Seharusnya Mengatur dan Memberi Perintah? Siapa yang Bertanggung Jawab?
Ini adalah sesuatu di mana kalian harus melakukannya sendiri. Siapa pun yang ingin memberikan sebagian besar waktu mereka. Saya melihat begitu banyak saudara kita yang hanya tidur-tiduran tanpa bekerja, hanya menunggu istri mereka melayani mereka. Mereka tidak melakukan ini atau itu. Ini adalah jenis orang yang harus disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan dasar di tempat seperti ini sehingga mereka tetap fit secara fisik maupun spiritual.

Letakkan sederet lampu di sekeliling tempat ini dan nyalakan di malam hari. Pada malam-malam yang suci bagi Muslim dan Kristen, seluruh tempat ini harus diterangi. Lampu-lampu kecil seperti itu sangat murah dan mereka tidak memboroskan listrik. Tempat ini harus bersinar seperti sebuah bintang sehingga setiap orang merasa penasaran apa yang terjadi di sini. Beberapa orang harus melayani pengunjung dengan baik. Jika kalian dapat menemukan salah seorang dari Utara, Selatan, Timur dan Barat, siapa yang mempunyai bakat untuk pekerjaan itu dan siapa yang pikirannya bekerja dan tidak cepat merasa lelah, berikan tugas itu padanya. Dirikan tempat untuk memperbaiki piano. Berikan pelajaran bermain piano. Mengapa tidak? Begitu banyak orang yang akan tertarik. Buatlah iklan. Buatlah film di sore hari dengan video. Kalian bisa mempunyai ide-ide yang lebih banyak daripada ini. Segala sesuatunya mungkin dan pemerintah dapat memberikan dana bantuan jika kalian dapat memberi kontribusi dalam hal kesehatan dan pendidikan. Ada ruang yang cukup untuk semua itu. Buatlah pusat psikiater yang gratis, pusat penyembuhan gratis. Kalian dapat memperoleh sampel gratis dari produsen obat dan berikan secara gratis kepada mereka, makin banyak kalian membantu orang lain, makin banyak cahaya yang kalian dapatkan. Allah mencintai kalian bila kalian menolong orang lain. Buatlah ruangan bersalin yang gratis, lengkap dengan bidannya. Sebuah tempat yang bersih dengan seorang bidan dengan lima atau sepuluh tempat tidur untuk kelahiran alami tanpa operasi caesar, orang akan sangat gemetar.

Jika mereka ingin memberikan sesuatu, mereka dapat memberikannya. Jika mereka dapat melakukan kelahiran alami, orang mungkin akan memberikan kontribusi sebesar 4000 pound. Banyak sekali hal yang dapat kalian lakukan. Lakukanlah yang terbaik untuk orang lain dan jangan khawatir. Semoga Allah memberi kalian kesuksesan sesuai dengan niat baik kalian. Jangan menghentikan imajinasi kalian dari segala kemungkinan yang dapat kalian lakukan. Bahkan jika kalian hanya dapat melakukan 1% saja, itu merupakan sebuah kehormatan dan sangat berguna bagi kemanusiaan. Saya tidak meminta kalian untuk melakukan 100%. Ambillah segala sesuatu yang dibuang orang dan gunakan barang itu atau berikan kepada negara lain sebagai suku cadang dan buatlah hal itu sedemikian rupa sehingga pemerintah akan mendukung kalian dan tidak menarik pajak. Kalian harus mendaftarkan tempat ini sebagai sedekah bagi kemanusiaan.

bihurmati habib, Fatihah
posted by Mevlana as Sufi at 11:20 PM 0 comments

Mengenai Hadits Rasulullah SAW
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
dalam Mercy Oceans: the Teaching of `Abdullah Fa`iz ad-Daghestani


“Ini adalah apa yang diajarkan oleh Grandsyaikh kepada saya,” kata Maulana. “Hadits-hadits Rasulullah saw adalah sama dan mempunyai derajat yang sama, sebagaimana al-Quran. Kita harus menghormati hadits-hadits tersebut seperti halnya kita menghormati ayat-ayat suci al-Quran. Di dalam ayat al-Quran terdapat suatu keterangan. Di dalam hadits, Rasulullah saw tidak berbicara untuk dirinya sendiri, tetapi berdasarkan wahyu yang diturunkan dari Allah. Jika Allah tidak mengizinkan nya, Rasulullah tidak akan mampu mengucapkannya. Oleh sebab itu, kita harus menghormati kata-kata Rasulullah seperti halnya kita menghormati ayat-ayat suci al-Quran.”

Seseorang bertanya, “Apakah ini berarti bahwa kita harus berwudhu sebelum membaca kitab hadits, seperti halnya ketika kita ingin membaca al-Quran?” Maulana menjawab, Jika kita ingin mendapatkan hikmah dari suatu buku keagamaan, kita harus membacanya dalam keadaan berwudhu. Tanpa wudhu, kita tidak berada di jalur yang benar. Rasulullah menasihati kita agar selalu menjaga wudhu karena itu adalah senjata Muslim dalam menghadapi Setan. Setan tidak bisa mendekati orang yang mempunyai wudhu.” “Rasulullah menerangkan al-Quran berdasarkan kapasitas pemahaman kita,” Syaikh melanjutkan, “karena al-Quran adalah firman Allah, sedangkan hadits adalah sabda Rasulullah . Rasulullah adalah manusia seperti kita, sehingga ucapannya (sabdanya) lebih mudah dimengerti oleh kita. Oleh sebab itu, beliau menerangkan hal-hal yang tersirat dalam al-Quran kepada kita.”

Seorang murid bertanya, “Bagaimana kita mengetahui bahwa suatu hadits otentik?” Syaikh Nazhim menjawab, “Jika seorang ‘alim yang jujur berkata atau menulis dalam suatu buku mengenai hadits-hadits tertentu, maka kalian harus mempercayainya. Misalnya, al-Ghazzali menulis banyak buku berisi banyak hadits. Beberapa orang menganggap beberapa haditsnya lemah, tetapi kita tidak sependapat dengan pemikiran ini. Kita yakin bahwa Imam Ghazzali adalah seorang ‘ulama besar, ‘ulama ‘king size’. Beliau bukanlah seorang ‘ulama biasa, beliau jujur dan dapat dipercaya. Oleh sebab itu, kita percaya terhadap semua hadits yang beliau tulis.”

“Jika kalian menemukan seorang cendikiawan yang dapat kalian percayai, maka kalian harus percaya terhadap semua hadits yang dikatakannya kepada kalian. Ini adalah jalan bagi seorang murid dan juga orang awam terhadap suatu hadits. Tetapi para Awliya, di mana Allah telah memberi mereka cahaya, mereka berbeda. Mereka dapat mendengarkan pembicaraan seseorang dan melihat apakah ada cahaya yang terpancar dari ucapannya. Dengan demikian, mereka dapat mengetahui apakah ucapannya benar. Begitu pula ketika Awliya itu membaca, mereka dapat melihat hadits-hadits yang sahih itu memancarkan cahaya. Hadits-hadits tersebut adalah ucapan Rasulullah e yang turun dengan cahaya dan dipenuhi cahaya. Bila seseorang dapat melihat cahaya ini, dia tidak memerlukan opini orang lain bilamana hadits tersebut kuat atau lemah.”

“Begitu banyak ‘ulama yang menyangkal hadits ini atau itu sementara para Awliya mengatakan bahwa hadits itu semuanya benar. Jadi, kita harus menerima hadits dari orang-orang yang mempunyai cahaya Iman dalam hatinya dan menunjukkan kebenaran bagi kita. Demikian juga, jika suatu buku mempunyai hadits Rasulullah, kita menerimanya sebagai tanda penghormatan kepada Rasulullah . Jika itu merupakan hadits yang tidak benar, tidak ada kewajiban bagi kita bila kita menerimanya. Ini adalah adab yang tinggi. Jika seseorang berkata, ‘Ini adalah sebuah hadits,’ kita mempercayainya sebagai tanda penghormatan kepada Rasulullah .”

Seseorang bertanya, “Jadi, sampai kita meraih pengelihatan seperti yang dimiliki oleh para Awliya, kita harus menerima semua hadits sebagai hadits yang sahih?”
“Ya,” kata Maulana, “jika kalian tidak melakukan hal ini, kalian tidak bisa maju, tidak bisa! Jika kita membacanya dalam sebuah buku, mendengarnya dari seorang ‘ulama atau dari seseorang, sebagai tanda penghormatan kepada Rasulullah e, kita harus mempercayainya.” Seorang murid berkata, “Maksudnya kita tidak boleh menanyakan sumbernya?” Maulana menjawab, “Tidak, hal itu tidak baik. Untuk menyetujui atau mengatakan ‘baiklah’ adalah lebih baik. Tetapi untuk melakukan hal ini memang sulit. Mengatakan ‘baiklah’ adalah suatu tanda hati yang bersih. Jika hati seseorang tidak bersih, dia akan bertanya, ‘dari mana (hadits) ini? dari mana (hadits) itu?’ banyak sekali pertanyaan yang muncul! Itu menandakan bahwa hatinya tidak bersih. Semakin banyak dia bertanya, semakin banyak hatinya dipenuhi dengan keraguan.”

“Apakah banyak koleksi hadits yang sahih?” “Banyak sekali,” kata Maulana. “Semuanya sahih. Buku apa pun yang menulis hadits Rasulullah harus kita percayai. Ini adalah jalan saya.” “Tetapi apakah sekarang Maulana sudah sampai pada titik di mana Maulana dapat melihat cahaya yang terpancar dari suatu hadits yang sahih?” tanya seorang murid. Syaikh menjawab, “Ahh, ya. Tetapi kalian tidak dapat meraih titik itu sampai kalian mempercayai semua ucapan yang mengatakan bahwa itu adalah sebuah hadits. Cara ini akan membawa kalian ke titik tersebut, di mana kalian dapat melihat cahaya. Sangat sulit untuk menerima hal ini.”

Wa min Allah at taufiq

posted by Mevlana as Sufi at 11:20 PM 0 comments

Khatam Khwajagan
Mawlana Shaykh Muhammad Hisham Kabbani


Ada beberapa variasi bacaan dalam Khatam Khwajagan sebagaimana yang disebutkan dalam literatur Naqsybandi, termasuk variasi yang dilakukan oleh Syaikh ‘Abdul Khaliq al-Gujdawaani , Imaam Rabbaani Syaikh Ahmad al-Faruqi asy-Syirhindi, dan Maulana Khalid al-Baghdadi. Yang biasa kita lakukan adalah yang biasa dilakukan oleh Maulana Syaikh Nazhim k atau deputinya. Ketika merujuk pada istilah Khatam Khwajagan, sebenarnya yang dimaksud hanyalah bacaan berikut:

1. Niyyat
2. Kalimat Syahadat
3. Istighfaar
4. Raabithatu-Syariifah
5. Faatihah-Syariifah
6. Shalawaatu-Syariifah
7. Alam Nasyrah-asy-Syariifah
8. Ikhlaasu-sy-Syariifah
9. Faatihah-Syariifah
10.Shalawaatu-Syariifah
11.Salah satu ayat al-Quran (biasanya Surat Yusuf ayat 101)
12.Ihda (do’a kepada Rasulullah e, para Sahabat yang mulia, kepada ruh para Anbiya dan Rasul, orang-orang yang menegakkan Syariat mereka, kepada keempat Imam Madzhab dan para Masyaikh Thariqat Naqsybandi yang mulia, khususnya kepada keluarga mereka) lalu al-Faatihah.

Bacaan Khatam No.5-10 dilakukan dalam hati. Namun kadang-kadang Syaikh juga melakukannya dengan suara keras (mungkin karena mayoritas yang hadir tidak familiar dengan bacaan ini, atau telah menjadi kebiasaan, Wa-Llahu ‘alam). Bacaan dzikir selanjutnya (mulai dari Faa’lam annahu, Laa ilaaha ill-Allah, dst) dilakukan untuk menghormati thariqat yang lain sebagaimana yang telah diterangkan oleh Syaikh Nazhim . Itulah sebabnya kita tidak akan menjumpai variasi dalam bacaan dzikir yang pertama, tetapi kadang-kadang kita mendengar Syaikh Nazhim atau deputinya melakukan variasi bacaan di bagian kedua. Versi yang sering kita lakukan adalah versi pendek dari Khatam Khwajagan. Maulana Syaikh Nazhim pernah berkata bahwa beberapa di antara murid Syaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani biasa melakukan Khatam Khwajagan 3 kali sehari. Hal ini menunjukkan bahwa secara individu, seorang murid thariqat dapat melakukan Khatam Khwajagan kapan saja, namun untuk melakukannya dalam kelompok, dia harus mempunyai otoritas dari Syaikh.

posted by Mevlana as Sufi at 11:20 PM 0 comments

Mengenai Dzikir HUU
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani

Mawlana berkata di rumahnya di Cyprus, di bulan Rajab 1422: Ada empat macam manifestasi-manifestasi (al-tajalliy): Essensi (Dzat) Ilahiah, Sifat-sifat Ilahiah, Nama-nama Ilahiah, dan Perbuatan/Aksi Ilahiah. Nama dari Dzat Murni (adz-Dzat al-baht) adalah HUU ("Dia") sementara ALLAH adalah Nama komprehensif (Jami') untuk seluruh Nama-nama dan Sifat-sifat. Suatu wujud ciptaan adalah suatu manifestasi
>untuk suatu Nama atau di bawah pengawasan dari satu di antara Nama-Nama Ilahiah, yang dimunculkan melalui wujud ciptaan itu. Artinya, tidak ada suatu wujud makhluq ataupun sekejap pun dari waktu, yang sama antara satu dengan yang lainnya. Dari Esensi Murni (Dzat) muncul Sifat-sifat dan Nama-nama, sementara dunia-dunia dan alam muncul dari Fi'il (Perbuatan).

Sedangkan bagi HUU, "Dia" tidak pernah nampak/muncul karena Dia adalah al-Samad, Yang Maha Berdiri Sendiri, Kekal, Dan Tempat Bergantung segala sesuatu, Kekuasaan yang Abadi, Dia Yang Tidak Memerlukan Interior maupun Tempat dan Arah, dan segala
sesuatu dari ciptaan-Nya hidup dan wujud melalui sifat (Samadiyyah) Nya ini". Karena itu adalah tidak mungkin bahkan bagi satu partikel terkecil pun untuk wujud di luar sifat-Nya ini. Jika sifat ini diatributkan pada selain-Dia, maka itu akan menjadi syirik.

Ke-Esa-an (al-Ahadiyya)

Beliau mengatakan bahwa samudera Sifat-Sifat menunjukkan pada Esensi (Dzat) tanpa menjadi Dzat itu sendiri. Allah berfirman dalam Surat Al- Ikhlas: "Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Satu!" kemudian Ia berfirman pula, "Dan tak ada yang serupa dengan-Nya, seorang pun" (kufuwan ahadun) dalam bentuk nominatif (kata benda, penj.), dan Ia tidak mengatakan, "Dan Ia tidak memiliki keserupaan dengan apa pun" (kufuwan ahadan) [dalam bentuk akusatif]. "Ahad" kedua menunjuk pada Sifat-Sifat dan pada suatu kenyataan bahwa sifat-sifat tersebut tidak cukup untuk mendeskripsikan-Nya secara sempurna. Jadi, jika Sifat-Sifat saja tidak cukup, padahal Sifat-sifat (Atribut) juga adalah pre-eternal dan abadi, maka bagaimana pula makhluk-makhluk ciptaan (dapat menyamai-Nya)?

WasSalam ,Hajj Gibril, Qasyoun@ziplip.com

Tentang "HUU"

Kutipan dari kitab Fawatih al-Jamal karya Syaikh Abul Janab Najmuddin al-Kubra yang dikutip Mawlana Syaikh Hisham di bukunya "Naqshbandi Sufi Way: History of Saints of the Golden Chain" bab tentang Syaikh 'Abdul Khaliq al-Ghujdawani, sub judul tentang "Hosh dar Dam" (Bernafas dengan Sadar):

"Dzikir mengalir dalam tubuh setiap makhluk hidup dengan adanya keperluan pada setiap makhluk hidup itu untuk bernafas - sekalipun tanpa kehendak/sadar- sebagai suatu tanda ketaatan, yang merupakan bagian dari penciptaan mereka. Melalui nafas mereka, bunyi dari "Huwa" yang merupakan Nama Ilahiah dari Allah ditimbulkan pada
setiap penghembusan dan penarikan nafas, dan ini merupakan suatu tanda dari Dzat Ghaib (Essensi Tak Terlihat), yang menekankan Kemahaunikan Allah. Karena itulah sangat penting untuk menjaga "hudhur" (kehadiran hati) saat bernafas, untuk memahami
hakikat Esensi dari Sang Pencipta."

"Nama 'Allah' yang mencakup keseluruhan 99 Nama-nama dan Sifat-sifat, terdiri atas empat huruf, alif, lam, lam, dan ha (Allah). Ulama Sufi mengatakan bahwa Esensi Ghaib Absolut dari Allah Tabaraka wa Ta'aala (Yang Mahatinggi dan Mahaagung) diungkapkan oleh huruf terakhir yang divokalkan dengan alif, menjadi 'Huwa'. Huruf lam pertama adalah untuk maksud Identifikasi. Huruf lam kedua adalah untuk maksud penekanan. Menjaga nafas Anda dari kelalaian akan membawa anda pada Muhadharah (Hudhur, kehadiran hati) yang sempurna. Muhadarah sempurna akan membawa pada Musyahadah (Visi) sempurna. Dan Musyahadah sempurna akan membawa Anda pada Manifestasi (Tajalli) sempurna dari 99 Nama dan Atribut Allah.

Allah membimbing Anda pada manifestasi dari 99 Nama dan Atribut-Nya beserta seluruh Atribut-Nya yang lain, karena telah dikatakan, "Sifat-Sifat Allah berjumlah seperti banyaknya nafas-nafas dari manusia-manusia." (yaitu tak berhingga jumlahnya, penerj.). Harus diketahui oleh setiap orang bahwa menjaga nafas dari kelalaian adalah sangat sulit bagi seorang salik (pencari, penerj.). Karena itu, mereka harus menjaganya dengan memohon ampunan (istighfar), karena permohonan ampunan akan mensucikannya dan membersihkannya dan menyiapkan sang salik akan tajalli sejati dari Allah di mana pun."

posted by Mevlana as Sufi at 11:20 PM 0 comments

Kebenaran Tentang Ba’iyat
Mawlana Shaykh Muhammad Hisham Kabbani
Suhbat, 07-07-2003, Jakarta, Indonesia


Audhu billâh min ash-shaytân ir-rajîm Bismillâh ir-rahmân ir-rahîm
Nawaytul arbâ`în, nawaytul `itikâf, nawaytul khalwat, nawaytul
riyâda, nawaytus salûk, nawaytul `uzla fî hâdha al-masjid.
"`Ati-Allâha wa ati`ur-Rasûla wa ulil-amri minkum" – "Hai orang beriman! Ta’ati Allâh, dan ta’ati Rasul, dan mereka yang diberi kewenangan di antara kamu." [ QS 4:59]. Dan ta’at kepada Nabi Muhammad (s.a.w.) adalah ta’at kepada Allâh swt. Dia bersabda : man yut`i ar-rasûl faqad ata` Allâh. "Dia yang ta’at kepada Rasul, ta’at kepada Allâh" [QS 4:80]. ay wada` ar-rasûl mumathilan `anhu. yumathil rabbil `alamîn. Dia bersabda “Barangsiapa ta’at kepada Nabi sungguh ta’at kepada Allâh. Itu artinya Dia menaruh Nabi (s.a.w.) mewakili Diri Nya di Tempat Nya. Itu berarti bahwa tiada jalan untuk mendapat keta’atan kepada Allâh tanpa keta’atan kepada Nabi (s.a.w.). Itu artinya bahwa tiada pintu kepada Allâh tanpa pintu kepada Nabi (s.a.w.). Itu artinya tiada jalan untuk memasuki Surga tanpa Nabi (s.a.w.). Itu artinya bahwa tiada jalan menjadi Muslim tanpa mengatakan Muhammadu Rasûlullâh. Meskipun sekiranya engkau mengatakan lâ ilâha ill-Allâh jutaan kali, tiada jalan menjadi Muslim tanpa menyebut Muhammadun Rasûlullâh.

Maka Kebesaran apakah yang Dia berikan kepada Nabi Muhammad (s.a.w.). Busana apa yang Dia pakaikan kepada Nabi dari asma ‘ul-husna Allâh, tak seorang pun yang tahu. Jika seorang raja memiliki seorang putera, yang juga seorang putera mahkota, apa yang diperbuatnya untuk anaknya itu ? Jika sang raja mau pergi ke tempat lain, anaknya itu yang mewakilinya (menjalankan tugas sehari-hari ?). Dan sang raja tidak akan bahagia jika anaknya hanya berpakaian yang biasa-biasa saja, tetapi dia akan mendadani-nya dengan busana yang diberi dekorasi (tanda kebesaran) dan dengan berbagai medali di dadanya untuk membuatnya nampak sangat berbeda (anggun). Sehingga ketika Sang Putera Mahkota menampakkan dirinya (ke publik), wow, semua orang merasakan hormat dan kemuliaan kepada Sang Puter Mahkota.

Ini adalah (yang dilakukan) raja bagi anaknya, seorang manusia. Apapun yang diberikan raja kepada anaknya, suatu hari akan berakhir. Apakah ayahnya itu akan meninggal atau anaknya yang mungkin meninggal dan semua itu menjadi hilang. Tetapi apa yang Allâh Al Hayyu, berikan kepada Nabi (s.a.w.) tidak akan mati (hilang ?). Apa yang Allâh swt berikan kepada Sayyidina Muhammad (s.a.w.) adalah tetap hidup (abadi). Dia bersabda, inna alladhîna yubây`ûnaka innamâ yuba`yûnallâh – "Lo! Mereka yang berba’iyat kepadamu (Muhammad), berba’iyat kepada Allah. Tangan Allah berada di atas tangan mereka." [QS 48:10].

Qâla man yubâ'yaaka Yâ Muhammad, faqad bayâ`nî. Dia bersabda, "Barangsiapa memberimu ba’iyat ya Muhammad, (berarti) membuat ba’iyat kepada Ku." Itu artinya ketika para Sahabat membuat ba’iyat kepada Nabi Muhammad (s.a.w.), berarti Nabi (s.a.w.) hilang ke dalam Hadirat Ilahi. Hanya Allâh yang berada di situ. Indamâ qâla inna alladhîna yubâ`ûnaka. [Ketika Dia berkata, "Barangsiapa memberimu ba’iyat…"] Dia membuat sebuah konfirmasi tentang sesuatu. Itu adalah sebuah konfirmasi yang berarti itu harus ditunjukkan kepada orang itu. Jika mereka membuat suatu konfirmasi, mereka harus menunjukkan suatu bukti nyata (jelas, lengkap) : seperti ketika mereka membuat percobaan di laboratorium sains. Mereka harus membuat bukti lengkap apa yang telah dilakukan Allâh. fa Hûa yaqûl, inna alladhîna yubâ`ûnaka... melihat dengan bukti, bukan hanya dari kata-kata, tetapi dengan melihat haqîqat, kebenaran. Mereka yang memberimu ba’iyat mereka memberikannya kepada Allâh. Itu artinya pada saat itu, ketika para Sahabat meletakkan tangan mereka bersama Nabi (s.a.w.), mereka berada dalam Hadirat Ilahi, dia membawa mereka kepada Hadirat Ilahi, al-hadarat al-ilahiyya. Mereka berada di sana.

Para Sahabat tidak lagi melihat apa-apa, tetapi mereka berada dalam al- hadarat al-ilahiyya, mereka berada dalam hadirat Ilahi Allâh. Di dunia, jika kamu berada dihadapan seorang raja, engkau tidak lagi melihat dirimu. Wow, kamu bilang, ini adalah raja. Di Indonesia, ada seorang raja pada suatu waktu. Dua ratus juta manusia dibawah raja itu. Apa kamu ini jika dibandingkan dengan 200 juta itu ? Bukan apa-apa. Lalu apa yang kamu pikir ketika kamu berada di dalam Hadirat Raja Di Raja yang Hidup Abadi, yang menciptakan para raja ? Dia yang menciptakan mereka dan membuat mereka memerlukan makan dan minum. Itu artinya mereka juga memerlukan pergi ke kamar kecil. Dengan itu semua Dia membuat para Sahabat sampai di Hadirat Ilahi. Ketika mereka sampai di sana langsung mereka mencapai maqam al-fana'.

Fanâ'un fillâh fana'un fir-rasûl, salla-Allâhu alayhi wa sallam. Mereka tidak lagi melihat diri mereka, mereka hanya melihat Allâh swt melalui mata Nabi (s.a.w.). Itulah mengapa ketaatan mereka kepada Nabi (s.a.w.) adalah 100%. Mereka patuh kepada Nabi (s.a.w.) 100%. Ketika mereka meletakkan tangan mereka dengan Nabi (s.a.w.) untuk ba’iyat, segera setelah tangan mereka menyentuh tubuh sucinya, para Sahabat (serta merta) beradar dalam Hadirat Ilahi. Untuk alasan ini, bila kita memberi ba’iyat kepada seorang wali, serta merta ketika kita menyentuh tasngannya, dia meletakkan kita di Hadirat Nabi (s.a.w.). Itulah sebabnya ketika kita memberi ba’iyat kita katakan Allâhu Allâhu Allâhu Haqq. Walî itu meletakkan kamu di hadirat Nabi (s.a.w.) dan Nabi (s.a.w.) meletakkan kamu di Hadirat Allah, meletakkan kamu di Hadirat Ilahi untuk membakar habis kamu, untuk membakar habis ego mu, sehingga kamu tidak lagi memiliki keinginan kecuali yang diinginkan Allâh atas dirimu.

Ketika kita membaca Sûrat al-Ikhlâs, kita katakan qul Hû Allâhu âhad. [katakan :] qul ya Muhammad. Hû al-ghayb ul-mutlaq alladhee lâ yurâ. Hû. Katakan Hû yang tak dapat dilihat, Dia yang tak dapat dikenali, Dia yang tak dapat dimengerti: yaitu Allâh. Dia yang tak dapat dimengerti, Dia yang tak dapat dilkenali, Dia yang tak dapat dilihat. Yang Satu itu adalah Allâh. Jadi ketika kita mengatakan Allâhû, kita mengatakan itu dalam cara yang bertentangan (berlawanan), kita katakan Allâh Hû. Dalam Sûrat al- Ikhlâs kita katakan Hû Allâh. Yang Satu yang tak dapat dilihat adalah Allâh. Kita tahu Allâh tetapi kita tidak tahu Hû. Allâh tahu Hû. Itulah sebabnya Dia meletakkan Hû pada awalnya (dalam Surat Al Ikhlash). Dia meletakkan Hû didepan Allâh. Hû mewakili Dhâtullâh, Sang Inti. Allâh mewakili asma. Disitu ada Sang Pencipta yang tidak diketahui siapapun, satu yang disebut oleh Allâh sebagai Hû. Ketika kita melakukan ba’iyat, (kepada) Satu yang kita tahu dengan nama Allâh adalah Hû. Begitulah kiranya mereka menelusuri jejak kembali, mereka membawa kita kembali, awliyâ-ullâh kepada Hadirat Ilahi, Hû.

Jadi ketika kita mengatakan Allâh Hû mereka membawamu kepada Hadirat Ilahi. Dan ketika kamu megatakan Haqq, itu artinya kamu meng-konfirmasi bahwa sesungguhnya ruh kamu dapat melihat, namun diri kamu tidak dapat melihatnya. Dan apa yang kamu lihat hanyalah Busana (attributes) Allâh swt, Dia mendadani kamu, tanpa mengetahui Sang Inti, tidak satupun dapat mengetahui Sang Pencipta. Dan itu semua dilakukan, melalui Inna-Allâhdeena yuba`yunaka innama yuba`yunAllâh. Janganlah berpikir terdapat jalan untuk mencapai Allâh swt tanpa (melalui) Nabi (s.a.w.). Dia adalah khaliphatullâh fil ard. Bukan hanya di dunia ini saja, tetapi di seluruh penjuru alam semesta ini. Apapun yang diciptakan Allâh, Muhammadu Rasûlullâh adalah khalipha. Dia adalah wakil Allâh untuk semua ciptaan. Itulah mengapa dia (s.a.w.) mengatakan, "Âdam wa man dûnahu taht liwayî yawma al-qiyâma" – "mereka berada di bawah panji-panji (bendera) saya : mereka harus mendatangiku untuk membawa mereka ke Surga." Dia mengatakan, Anâ sayyida waladi âdama wa lâ fakhr. - "Saya adalah majikan bani Adam dan saya tidaklah berbangga." Apa pula ini, "Anâ sayyida waladi âdama?" Dan Allâh bersabda, Wa laqad karamnâ banî âdam. – "Kami memuliakan bani Adam" [QS 17:70].

Dan Allâh bersabda, Alam taraw ann Allâha sakhara lakum mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ard. - "Tidakkah engkau lihat bahwa Allah telah menaklukkan kepadamu segala sesuatu di langit dan di bumi …?" [QS 31:20] Itu berarti bagi bani Adam, segala sesuatu di langit dan di bumi adalah di bawah mereka. Maka itu berarti, karena dia adalah majikan bani Adam, dan semua berada di bawah mereka ini (bani Adam), maka itu berarti bahwa tidak ada satupun dapat berada di atas Nabi (s.a.w.)Ada malaikat yang berada di bawah perintah Nabi (s.a.w.). Ketika engkau mengambil ba’iyat dari seorang murshid, murshid haqîqî, murshid sungguh, para malaikat tadi menjadi saksi dan mereka membuat awrâd (dzikir) untuk kepentingan kamu sampai dengan Hari Pengadilan. Ketika engkau memutuskan untuk mengambil ba’iyat dari murshid sejati itu, dan tidak dari seorang yang pura-pura menjadi murshid dan bukan pula seorang yang dianggap orang sebagai murshid. Murshid sejati ini jarang, di dunia ini hanya terdapat 124,000 awliyâ-ullâh, hanya itu saja. Jika engka menemui seorang murshid haqiqi, ketika engkau memutuskan untuk mengambil ba’iyat darinya, pada saat itu, para malaikat (sejumlah yang bilangannya tidak dapat kamu bayangkan) itu dianugerahkan kepadamu untuk melayanimu. Bagaimana caranya melayani kamu? Apakah engkau berpikir ketika engkau menerima ba’iyat, engkau datang dengan baju kotor seperti itu dan tubuh kotor dan hati kotor, dalam Hadirat Nabi (s.a.w.) ?

Serta merta para malaikat itu akan merubah penampilan mu sepenuhnya seperti pada saat (kamu ditanya di alam ruh) "Alastu bi-rabbikum" dalam menerima ba’iyat dengan Shaykh dan Shaykh membawamu kehadirat Nabi (s.a.w.) dan Nabi (s.a.w.) membawamu ke dalam Hadirat Allâh swt. Jika engkau (hendak) menemui orang, engkau akan mandi sehingga tidak bau. Apakah kamu berpikir ketika orang-orang berdatangan dengan berlari untuk mengambil ba’iyat, dengan tubuh yang tidak dibersihkan dan baju kotor adalah cara yang benar untuk mengambil ba’iyat? Tidak. Haa. Segera setelah engkau mengucapkan "saya mau di- ba’iyat" bahkan dalam baju kotor dan hati kotor, segera setelah kamu datang kesitu, para malaikat itu, dengan sentuhan mereka, mereka menyiram (semprot) kamu dengan busana dan dandanan cantik ini dan pada saat itu kamu kelihhatan seperti seorang yang lain, seperti manusia berpenampilan malaikat yang memakai baju surgawi; duduk bersama murshid itu. Murshid itu juga merubah penampilannya, kepada gambaran spiritualnya, sebagaimana dia terlihat di hadapan para awliyâ dan Nabi (s.a.w.), dan membawa kamu bersama segenap para malaikat tadi dalam busana yang telah mereka berikan kepadamu, sebagaimana dikatakan dalam hadits, "mâ jalasa qawman yadhkurûnallâh illa hafathum al-mala'ika wa gashîyahum ar-rahmat wa dhakarahumullâha fî man `indah." – "Tiada akan sekelompok orang yang duduk, yang meengingat dan menyebut Allâh, kecuali para malaikat akan mengelilingi mereka, dan mereka akan diselimuti rahmat dan Allâh akan mengingat mereka diantara mereka yang berada dalam Hadirat Nya."

Ba’iyat seperti itu merubah kamu. Sehingga kamu menjadi seorang manusia tetapi memiliki kuasa malaikati surgawi – jadi ketika engkau berbaju kuasa malaikati ini, ketika engkau memasuki Hadirat Ilahi engkau tidak pingsan, engkau tidak menghilang. Karena engkau menjadi sebuah cahaya, dan sebuah sumber cahaya. Apa yang berada dalam hati awliyâ, kami tidak dapat mengatakan semuanya. Mereka tidak mengijinkan kamu mengatakan semuanya, bila tidak engkau akan tenggelam. Namun ada sebuah berita gembira bagi kita semua, bahwa dengan baraka guru murshid kita Shaykh Muhammad Nazim al-Haqqani, kita berada dalam kategori (golongan) itu. Aminn, Fatihah

posted by Mevlana as Sufi at 11:20 PM 0 comments

Posisi Thariqat Naqshbandi
Syaikh Muhammad Nazim al Haqqani
Dalam Mercy Oceans Book Two


"Syaikh yang sejati, bukanlah mereka yang menyebut dirinya sendiri sebagai Syaikh. Seluruh Syaikh yang termahsyur, seperti: Abdul Qadir Jilani, Rumi , Darqawi , Rifa’I mereka semua mengetahui posisi sebenarnya dari thariqat Naqshbandi. Sekarang apabila seseorang berada dalam satu aliran thariqat, mereka bisa saja mengambil thariqat Naqshbandi dan tetap bebas menjalankan amalan-amalan sebagaimana biasanya dalam menjalankan amalan thariqat Naqshbandi.Dengan hanya melakukan amalan thariqat Naqshbandi saja sebetulnya sudah cukup.Tidak menjadi masalah meskipun kalian berasal dari thariqat lain kemudian pindah dan mengikuti thariqat Naqshbandi. "Beberapa orang merasa khawatir bahwa Syaikh mereka akan marah jika mendengar ternyata muridnya telah menganut thariqat kedua. Apabila ia seorang Syaikh sejati, maka tidak mungkin ia akan marah? Seorang Syaikh yang sejati harus mengetahui apakah muridnya akan bersama dia di Hari Perjanjian (pada awal penciptaan) kelak atau tidak. Seorang penggembala akan mengenal baik keadaan biri-birinya, meskipun satu dalam seribu, meskipun biri-biri itu semuanya berwarna putih. Dia memiliki cahaya di matanya dan dapat mengenal mereka semua tanpa membuat kesalahan.

Di dalam thariqat tidak akan terjadi kedukaan apabila seorang murid meninggalkan dan pergi kepada Syaikh yang lain. Seorang Syaikh akan berkata: ”Kami berterima kasih kepada Syaikh pertama yang telah melatihnya sampai dia bertemu Syaikh yang sejati”. Abu Yazid berkata, “Selama melakukan pencarian, Aku bertemu 99 Syaikh sebelum Aku bertemu Grandsyaikh Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Shiddiq.”Kalian bisa
bertemu dengan banyak Syaikh dan melakukan suatu amalan, tetapi tidak akan menemukan kepuasan sampai akhirnya kalian menemui Grandsyaikh kalian, lalu seperti sungai yang bertemu samudera. Begitu banyak Syaikh yang hanya menjadi pelatih, sampai akhirnya Grandsyaikh memanggilmu. Bukan melalui surat, dari hati ke hati, di sana banyak sekali jalan. Jika seorang Syaikh Naqshbandi memberi thariqat, beliau harus
memberitahu muridnya siapa Grandsyaikh di thariqat Naqshbandi saat itu dan beliau harus mengarahkan kepadanya.

"Setiap Syaikh harus menunjuk satu orang deputi. Maulana Khalid al-Baghdadi menunjuk Syaikh Ismail,tetapi banyak sekali cabang thariqat Naqshbandi yang menghilangkan namanya dari silsilah dan dengan demikian juga kehilangan rahasia Grandsyaikh. Sekarang banyak sekali Syaikh Naqshbandi yang berada di Damaskus, Aleppo, dan Homs tidak dapat menemukan penerusnya.Kecuali bagi Grandsyaikh
kita, tidak ada seorang pun yang ditunjuk sebagai deputi. Hal ini karena kita mempunyai Syaikh Ismail didalam silsilah kita" Begitu banyak orang telah datang ke Damaskus dari berbagai negeri asalnya untuk mengunjungi kami. Beberapa di antara mereka sudah terikat dengan seorang Syaikh dan mengikuti thariqat tertentu. Mereka meminta bay’at yang baru. Salah satu dari mereka, Syaikh Salahuddin mengalami konflik mengenai hal ini dalam batinnya. Kami harus memperjelas hal ini bagi setiap orang di seluruh dunia agar mereka mengetahui apa itu thariqat, apa itu Syaikh, berapa banyak jumlah mereka dan bagaimana hubungan mereka satu sama lain.

Allah akan bertanya kepada setiap orang di Hari Akhir nanti, “Apa yang kamu bawa hari ini, wahai hamba-Ku?” Apakah kamu membawa Qalb-us-Saliim, hati yang murni, hati emas yang mulia?”Allah meminta setiap orang agar mempunyai hati yang bersih. Dan kalian hanya bisa mendapatkannya melalui thariqat. Mereka yang tidak menjalani thariqat hanya akan memenuhi hidupnya dengan kehidupan luar, menjauhkan hatinya.
Ada 41 aliran thariqat, 40 di antaranya diturunkan melalui hati Imam‘Ali dan yang satu lagi adalah thariqat Naqshbandi berasal dari Abu Bakar as-Shiddiq. Rasulullah mempunyai 124.000 sahabat. Siapakah sahabat terdekatnya? Beliau adalah Abu Bakar . Rasulullah bersabda, “Seluruh hal yang Allah percayakan kepadaku di malam ‘Isra, Aku telah tanamkan dalam hati Abu Bakar .” Sayyidina Ali telah dihubungkan dengan Abu Bakar sedemikian rupa sehingga Sayyidina Ali mendapat gelar Kota Pengetahuan. Hal ini dikenal sangat baik di antara para Syaikh pemegang thariqat yang sebenarnya. Mereka semua menhormati thariqat Naqshbandi sebagai yang pertama.

Begitu banyak orang dari Barat yang berdatangan sekarang, diundang melalui hatinya untuk bertemu dengan Grandsyaikh. Mata rantai Masyaikh berakhir pada satu titik. Grandsyaikh adalah mata rantai terakhir didalam Mata Rantai Emas dan beliau memegang posisi tersebut, Saya (Syaikh Nazim-red) hanyalah hambanya. Untuk Masyaikh Naqshbandi, kita semua menunggu mereka untuk memperbarui bay’at-nya terhadap kita, jika tidak, mereka hanya menyematkan gelar di diri mereka sendiri. Imam Mahdi dan ketujuh wazir besarnya, 40 kalifa, 99 termasuk 40 orang yang berada di sisi wazir dan 313 Mursyid besar semua berada didalam thariqat Naqshbandi. Di masa ini tidak ada kekuatan bagi thariqat lain untuk membawa seluruh orang mencapai tujuan akhirnya. Oleh sebab itu semuanya diundang untuk memperbarui bay’at melalui Grandsyaikh dan kemudian semua akan merasakan adanya perbaikan didalam dirinya. Di masa kita, ada sekitar 1000 Syaikh Naqshbandi, tetapi hanya satu Grandsyaikh. Untuk membawa mereka semua, kemudian siapakah yang akan menjadi Imam? Bayangkan 124.000 sahabat dibawa, siapakah yang akan menjadi Imam? Abu Bakar as Sidiq RA .

Wa min Allah at taufiq

posted by Mevlana as Sufi at 11:20 PM 0 comments

Berkumpullah bersama Hamba-Hamba Allah
Maulana Sulthanul Awliya’ Syaikh Muhammad Nazhim ‘Adil al-Haqqani
Berkumpullah bersama Hamba-Hamba Allah yang Shaleh
Selasa, 27 November 2001, Lefke, Siprus Turki

Semoga Allah menjadikan kita bersama dengan hamba-hamba-Nya yang baik di dunia dan akhirat. Suatu barakah untuk memiliki tetangga yang baik. Di dunia, tetangga mungkin akan berubah ketika kalian pindah atau ketika mereka pindah. Tetapi, di kuburan, tidak ada perubahan. Dahulu, orang-orang demikian berhati-hati dengan tetangga mereka di akhirat. Sebagai contoh, mereka memilih menjadi tetangga (dimakamkan) dengan Abu Ayyub Al-Ansari (sahabat yang pindah dan wafat di Turki), seorang sahabat besar Nabi sawb yang suci, karena di makamnya rahmat selalu tercurah. Dan pada Hari Pembalasan, mereka akan berkumpul di bawah benderanya. Dengan cinta mereka (para sahabat) kepada Nabi, mereka memohon ampunan, syafa'at, untuk tetangga-tetangga mereka, dan itu tidaklah sulit buat mereka. Dan ada begitu banyak (makam) Sahabat di Istanbul. Juga suatu barakah untuk tinggal di dekat masjid karena hujan rahmat juga tercurah di situ sepanjang waktu, dan kalian mendapat bagian dari rahmat itu. Ada suatu doa untuk meminta hal ini, “Subhana Rabbi-l Aliyyi-l A'la-l Wahhab... Allahummah syurnaa fii zumrati-sh shaalihiin”. Tetapi para Hoca dan Imam hari ini tidak ada lagi yang tahu bagaimana berdoa dan apa yang mesti didoakan.

Ketika suatu saat Jibril as mendatangi Rasulullah, dia berkata, “Aku akan datang sekali lagi kepadamu untuk mengambil ruhmu.” Dan Nabi bertanya apakah setelah itu dia akan datang lagi ke dunia. “Ya”, jawabnya, “Aku akan datang lagi empat kali. Tetapi, setiap kali datang, Aku akan mengambil sesuatu dari dunia. Yang pertama adalah keadilan, kemudian rahmat dari hati, lalu Aku akan mengambil rasa malu, dan akhirnya ilmu pengetahuan, sehingga tidak ada lagi ‘Alim dan orang akan dibiarkan tersesat.” Setiap orang berbicara, berkhutbah, tetapi mereka tidak memberikannya dari hati mereka kepada hati orang-orang, dan pembicaraan mereka tidak mempunyai manfaat. Di masa lalu, mereka beramal tanpa banyak bicara, tetapi saat ini mereka bicara dan menghancurkan apa yang telah mereka buat, karena mereka tersesat dan mengabaikan.

Mereka tidak lagi mengajarkan anak-anak mereka tentang Pencipta mereka, mereka tidak ajarkan Nama-Nya, Allah. Karena itu, semua pelajaran menjadi tidak bermanfaat. Dan mereka tidak lagi tahu bagaimana shalat dan berdoa. Allah mengajarkan kita untuk memohon agar beserta orang-orang yang shaleh karena itu adalah keselamatan bagi kita. Hamba-hamba yang jahat menarik bala' dan bala' itu menimpa semua yang mengikuti mereka. Kutukan dari surga dan dari langit menimpa mereka. Tidak ada lagi pemerintahan saat ini yang mengikuti shalihin. Rahmat dan barakah datang pada masjid-masjid, tetapi orang-orang tidak memasukinya lagi. Mereka sedemikian terbebani dengan kutukan-kutukan, hingga mereka tidak memasukinya...

Komputer Allah sedang bekerja. Orang-orang ditandai. Jika hubungan kalian dengan Allah baik-baik saja, kalian tidak perlu takut... Saya takut atas pulau ini (Siprus), karena orang tidak lagi bersyukur dan mereka selalu mengeluh, tidak mengucapkan syukur, bahwa mereka telah hidup dengan damai sejak 27 tahun, mereka tidak shalat atau puasa, tidak menghormati Allah , Nabi-Nya dan hari-hari suci...

posted by Mevlana as Sufi at 7:25 PM 0 comments

Berlindung dari Kendali Setan
Maulana Sulthanul Awliya’ Syaikh Muhammad Nazhim ‘Adil al-Haqqani
Berlindung dari Kendali Setan
Senin, 10 Desember 2001, Lefke, Siprus Turki


Jika kalian bekerja untuk Allah, kalian akan sukses dan menunggangi dunia. Jika tidak, dunialah yang akan menunggangi kalian. A'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim, Bismillaahir rahmaanir rahiim … Apakah yang menjadi sebab kegagalan manusia?… Kita mengucapkan A'uudzu … agar Setan tidak mempunyai kesempatan untuk mempengaruhi kita. Jika kalian tidak mengatakan ini, dia akan menunggangi kalian, dan segala sesuatu yang kalian kerjakan menjadi setani, bukannya rahmani, karena jika kalian tidak mengucapkan A'uudzu …, kalian memberikan kendali pada Setan.

Betapa besar kekuatan yang ada dalam kata-kata ini A'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim! Jika orang-orang tahu dan mengerti, dalam 40 hari dunia ini akan terselamatkan… Saat ini, segala sesuatu adalah setani--orang-orang minum dan berjudi, dan minum (khamr) adalah ibu dari segala macam sifat buruk. Seseorang yang mabuk melakukan segala sesuatu yang buruk dan kotor; dia tidak lagi memiliki kekuatan kehendak untuk mengendalikan dirinya sendiri, sehingga Setan memperalatnya untuk segala macam kejelekan dan kekotoran. Minum (khamr) menghancurkan dan melemahkan badan, dia membuat badan tak berguna untuk dunia dan untuk akhirat. Dan berjudi membuat seseorang kehilangan segalanya, karena dia selalu berharap untuk menang, dia tak dapat berhenti dan dia mempertaruhkan semua yang dia miliki. Suatu penyakit yang menjijikkan. Dan di negara ini, mereka memperbolehkannya. Setiap orang kehilangan kecuali mereka yang tidak berjudi, yang tidak minum. Dan hal-hal itu adalah haram, tetapi pemerintah kita menghalalkannya.

Siapa yang lupa untuk mengucapkan A'uudzu… akan ditunggangi Setan, Setan akan memperalatnya dan menghabisinya. Dan mereka memperlihatkan Setan pada kita sebagai teman baik kita. Barat telah menjadikan Setan sebagai teman baik mereka, pemandu mereka. Dan penyakit yang sama tengah datang melanda kita yang di Timur. Begitu banyak ‘Muslim’ berada di bawah kendali Setan. Mengapa Amerika menentang kita? Jika kita menjadi seperti apa yang Allah minta bagi kita, perkaranya tidak akan menjadi seperti saat ini. Tetapi, mereka hanya menyalahkan yang lain. Apakah dunia Islam tak bersalah, apakah mereka semua malaikat? Tidak, karena perbuatan setani merekalah kita mendapatkan situasi saat ini, dan tidak ada yang menyadari hal ini. Mereka minum dan berjudi. Mengapa mereka tidak pergi melawan Cina? Di Cina ada 1 miliar orang, sedang Muslim 1.5 miliar. Tetapi Cina disatukan di bawah perintah seorang laki-laki. Dunia Islam tidak memiliki nilai, karena mereka tidak tersatukan…

Menurut suatu sabda Rasulullah saw, dunia Islam adalah seperti satu badan, dan jika satu bagian darinya sakit, maka seluruh badan akan terganggu dan tidak merasa tenang. Kalian pun demikian, jika kalian sakit kepala atau sakit gigi, seluruh badan kalian akan terganggu. Rasulullah e mengatakan hal ini kepada Muslim. Sekarang, orang-orang Arab berpikir bahwa mereka nomor 1 dan bahwa mereka memiliki tanggung jawab terbesar. Apakah mereka tidak membaca Hadits ini? Mengapa mereka tidak berkata pada Muslim bahwa mereka (ummat Muslim) telah menyimpang dari jalan yang lurus? Yang selalu mereka salahkan hanya Amerika. Amerika bukanlah suatu negara Islam, tetapi 25-30 juta Muslim tinggal di sana, dan yang menjaga negara itu adalah emas orang-orang Arab di sana… Apakah dunia Islam tidak punya heybet lagi? Tak ada yang di sana, tak ada khalifah, kepada siapa orang-orang dapat memberikan bay’at-nya. Dan mereka semua adalah Muslim-Muslim ‘reformasi’, mereka ingin untuk memperbaharui segala sesuatu dari sisi luar. Sudahkah kalian memperbaharui diri kalian sendiri dan membebaskan diri kalian dari perbudakan Setan? Kalian hanya mengubah alamat, atau rumah--tetapi kalian belum membebaskan diri kalian sendiri dari Setan untuk kemudian berserah diri kepada Allah! Mereka meninggalkan shalat, meninggalkan wudhu, dan menyebut ini suatu ‘reformasi’--mereka menginginkan suatu agama yang baru. Dan semua ‘pembaharuan’ ini adalah bid’ah. Mereka tidak mau menerima suatu disiplin. Mereka tidak menyukai jalan tradisional yang lama, tasbih, shalawat, jenggot. Mereka tidak suka bahwa kita tidak memakai televisi…

Senjata-senjata milik Muslim tidaklah berguna untuk melawan Amerika--tetapi, mereka tidak mau meminta pertolongan dari orang-orang suci, mereka memerangi orang-orang suci dan menghancurkan makam-makam para Sahabat… Kini, berita terbaru adalah bahwa mereka menyalahkan orang Arab untuk semua fitnah dan mereka mengatakan, “Kami tidak akan membeli minyak dari mereka lagi (dari Arab), tetapi dari Rusia…” Jika kalian ingin melakukan jihad--mengapa kalian tidak pergi dan membebaskan Jerusalem? Sejak 40 tahun yang lalu anak-anak melempar batu di sana… Mengapa Bin Laden pergi ke Afghanistan? Dia ingin menjadikannya sebagai Wahhabi. Karena itu Allah mengirimkan Amerika untuk melawannya. Amerika adalah hamba Allah. Setan pun adalah hamba, tetapi hamba yang jelek… Allah tidak akan menolong orang yang berbuat fasad (kerusakan)…

posted by Mevlana as Sufi at 7:25 PM 0 comments

Tentang Disiplin
Maulana Sulthanul Awliya’ Syaikh Muhammad Nazhim ‘Adil al-Haqqani
Rabu, 12 Desember 2001, Lefke, Siprus Turki



Seseorang sedang berteman dengan Setan. Ketika Fajar datang, dia tidak shalat. Dia berkata, “Aku akan mengerjakan shalat nanti.” Saat tengah hari (Zuhur) tiba, dia menunda shalatnya, sore hari (‘Ashar), dan malam hari pun tiba, dia berkata, Mungkin Aku akan shalat sebelum Aku tidur.” Akhirnya, dia tidak shalat sama sekali. Tidurnya seseorang yang tidak shalat adalah seperti tidurnya mayat dan baunya amat tidak sedap. Malaikat Rahmat pun tidak mau mendekatinya. Ruhnya tidak bisa naik (saat tidur itu), tetapi tetap terpenjara dalam kegelapan dunia. Sekelompok orang yang lain tidur setelah tengah malam dan bangun saat hari telah siang. Tidur seperti ini pun menyebabkan sakit. Tak seorang pun mesti tidur lebih dari 8 jam. Bila seseorang tidur lebih dari 8 jam, tubuhnya akan mulai menghabiskan energinya sendiri, dan hal ini akan membuat orang itu tak mampu bangun sama sekali. Sementara itu, segolongan orang lainnya tidak dapat tidur sama sekali, kecuali hanya jika mereka menggunakan pil. Dan pil valium (untuk obat tidur-red) adalah racun murni--yang juga menghabiskan energi tubuh dan merusak sistem saraf.

Masalah-masalah yang ada pada orang-orang ini adalah karena mereka hidup tanpa disiplin. Dan tidak akan ada disiplin tanpa Islam. Bagi semua orang seperti ini, dunia adalah bala’, mereka dalam keadaan terkutuk. Tidak peduli siapa mereka dan bagaimana “pentingnya” mereka, hidup mereka telah teracuni. Siapa pun yang lari dari disiplin, akan jatuh dari barakah menuju pada jurang yang penuh kutukan. Dan disiplin hanya ada dalam Islam, bukan pada sistem atau agama lain, karena Islam-lah yang memerangi nafs, ego, atau kedirian. Agama atau sistem lain mungkin menunjukkan suatu disiplin dari luar, tetapi itu pun berasal dari ego, karena ego ingin membuat disiplin menurut kemauannya sendiri. Itu adalah bala’ yang tengah memusnahkan setiap orang, baik secara individu maupun bersama. Tanpa disiplin, segala sesuatu hanya datang dari ego. Manusia menolak ukuran-ukuran yang Allah turunkan, hukum-hukum-Nya, dan mereka ingin membuat hukum-hukum mereka sendiri menurut keinginan dan kehendak mereka sendiri. Dan semua hukum-hukum ini (buatan manusia) bertentangan dengan kemanusiaan, karena mereka semua adalah imitasi, tidak sejati, dan tidak benar.

Manusia meminta kebebasan, segala sesuatu harus seperti yang mereka inginkan. Siapakah dari orang-orang itu yang hidup tanpa disiplin, yang dapat mengatakan bahwa dia dapat melakukan segala sesuatu yang dia inginkan dalam hidupnya? Jika ada yang dapat mengatakan seperti itu, maka mereka adalah pembohong. Mereka hidup seperti binatang-binatang buas dan liar di hutan belantara. Dan kedengkian tengah memakan mereka--wanita cenderung lebih mudah dengki kepada sesama wanita. Ahlu-Dunya tidak akan pernah menemukan kedamaian dan ketenangan dalam hidup mereka. Selalu sesuatu datang pada mereka dan mengganggu mereka, selalu akan ada sesuatu yang terjadi pada mereka. Berhati-hatilah! Ingatlah akhir hayat Abu Jahal. Dia mempunyai segala sesuatu, tetapi dia tidak pernah tenang sepanjang hidupnya. Dia begitu sombong. Dan pada akhirnya dia dilempar ke dalam suatu sumur kering bersama 70 orang lainnya. Saat Rasulullah e datang ke sumur tersebut, beliau melihat ke bawah dan bertanya, “Apakah telah kamu jumpai akhir yang dijanjikan Allah kepadamu?” Para sahabat terheran dan bertanya, “Tetapi dapatkah mereka mendengarmu, Ya Rasulullah saw?” “Ya”, jawab beliau, “Mereka dapat mendengarku seperti kalian mendengarku sekarang. Dan mereka mengatakan bahwa benar, mereka telah mendapati akhir yang Allah telah janjikan kepada mereka.”

Lihatlah pada orang-orang yang telah menerima disiplin- mereka semua adalah Sulthan-Akhirat, dan mereka terhormat dan dihormati oleh orang-orang hingga sekarang. Ada heybet pada makam-makam mereka. Mereka telah mendapatkan bahkan lebih dari apa yang mereka harapkan (sebagaimana Allah telah berjanji pada mereka suatu balasan yang belum pernah didengar manusia dan belum pernah dilihat oleh seorang pun). Ada makam seorang suci di Siprus yang selalu terhormat dan dihormati, bahkan sebelum masa Dinasti Utsmaniyyah (Kekaisaran Ottoman). Dan setelah masa Ottoman pun, orang-orang Inggris tetap menghormatinya. Mereka biasa pula menembakkan Salut untuk Hala Sultan. Siapakah yang mengajar mereka untuk melakukan semua ini? Inilah kehormatan bagi para Sulthan-Akhirat itu. Semua bala’ di dunia saat ini adalah karena tidak ada lagi disiplin--orang-orang menjadi terkutuk… Yaa Muhauli hauli wa-l akhwal, hauli haalina ilaa ahsani haal… Kita memohon, “Wahai Allah, Engkau mengubah keadaan kami, Engkau dapat mengubahnya hanya dalam sekejap, turunkanlah rahmat, kasih sayang, dan hujankan pula rahmat itu ke dalam hati orang-orang, agar kutukan hilang dari mereka, dan mereka menjadi berdisiplin lagi. Jika tidak, mereka tidak akan lagi menemukan kebaikan…” Manusia telah habis, orang-orang sudah seperti sampah, teracuni. Semoga Allah mengirimkan rahmat-Nya bagi kita, Dia-lah Qadir, Muqtadir, Yang Mahakuasa, Yang Mahakuat… Wahai Allah I, kirimkan pada kami sang Sulthan, sang Padischah. Kami tak punya kekuatan untuk melakukannya. Engkau-lah yang harus mengirimkannya.

Dan kita mengucap “A'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim, Bismillaahir rahmaanir rahiim”, agar dikaruniai barakah dari basmalah. Dengan basmalah seonggok batu diubah menjadi burung yang hidup… Sohbet ini amatlah penting… Setan tidak akan membiarkan orang-orang menerima disiplin.

posted by Mevlana as Sufi at 7:25 PM 0 comments

Bangun, Berdzikir, dan Bacalah Basmalah!
Maulana Sulthanul Awliya’ Syaikh Muhammad Nazhim ‘Adil al-Haqqani
Ahad, 25 November 2001, Lefke, Siprus Turki

Wahai Orang-orang yang tertidur--bangunlah dan lakukan dzikir untuk Allah swt, Daim Allah swt! (Maha Kekal Allah ) Ada dua macam tidur: yang pertama adalah tidur tanpa kesadaran (unconscious), dan yang kedua adalah tidur dengan sadar (conscious)…
Tanpa mengucap “Bismillaahir rahmaanir rahiim” sesuatu menjadi buruk, bagaikan tanpa kepala. Tidak mengucapkan Basmalah akan membuat kalian bersama Setan, bukan bersama Allah . Siapa yang mengatakan “Bismillaahir rahmaanir rahiim” berarti berujar, Wahai Allah, Aku memohon kepada-Mu untuk bersama dengan-Mu!” Sebab setiap krisis yang ada saat ini disebabkan karena orang telah lupa untuk mengucapkan Basmalah, dan karenanya mereka melupakan Allah . Apa pun yang mereka lakukan tidak akan berhasil. Dan para malaikat mengutuk mereka yang meninggalkan Allah . Ta’ziman wa taqdiran. Betapa Allah telah memberi kita suatu kekuatan dengan Basmalah! Kekuatannya tanpa batas, kalian dapat melakukan apa pun dengannya, dia adalah samudera kekuatan yang tak berujung… Tetapi orang-orang zaman sekarang lebih bergantung pada mesin-mesin dan mereka mengukur kekuatan mereka dalam daya kuda (horse power). Mereka menggunakan motor yang lebih kuat atau yang lebih lemah untuk mesin-mesin mereka, bergantung pada jenis aplikasi yang akan mereka buat. (Seperti itu pula) bergantung pada tujuan dan berapa banyak dibutuhkan, ketika seseorang menggunakan Basmalah, kekuatan akan dikirimkan dari samudera kekuatan tanpa batas. Karena itu ada beberapa orang yang mungkin bermain dengan dunia seperti bermain dengan suatu bola, ketika mereka mengucapkan Basmalah, atau malah mereka dapat membuat bulan untuk berputar dengan kekuatan spiritual mereka… Dia (Basmalah) adalah suatu sumber yang telah dibuka bagi kita. Siapa yang tidak mengambil darinya, tidak ada keberhasilan baginya, tidak akan memperoleh pertolongan.

Kekaisaran Ottoman pernah berkuasa selama 700 tahun. Kini orang-orang melenyapkan segalanya hanya dalam waktu 80 tahun… Untuk berkuasa bukanlah permainan seorang anak. Ottoman menghormati al-Quran Suci dan mereka shalat dan berdoa… Kini mereka tidak tahu apa-apa lagi tentang agama dan keadilan atau kasih sayang. Mereka telah menyingkirkan Basmalah. Dengan hak apa? Dan kita adalah cucu-cucu dari Ottoman. Mereka (Ottoman) biasa menulis Basmalah di mana pun. Kini tidak ada lagi dasar atau pondasi. Semua jalan telah ditutup. Kekuatan yang membuka jalan dalam thariqat juga datang lewat Basmalah. Gunakan “Bismillaahir rahmaanir rahiim” untuk apa pun juga, tak peduli apa pun yang kalian lakukan, dan kalian akan selalu kuat! Jika tidak--baik Amerika maupun Rusia tak akan mampu menolong kalian… Jika segala sesuatu berlanjut seperti sekarang di negara ini (Turki), dalam waktu dekat mereka akan mencetak nota 50.000.000 Lira atau bahkan lebih dari itu… Tetapi kita berharap bahwa situasi tidak akan melebihi nota 20.000.000 Lira… Setelah 2002, peta dunia akan berubah… Kalian belum melihatnya sekarang--bagaikan langit ketika tertutup awan… Daerah Timur Tengah adalah daerah paling berharga di dunia-- Syam (Syria, Damaskus, Yordan, Palestina) dan sekitarnya dipenuhi dengan Baraka, demikian sabda Nabi e, termasuk Bait-ul Maqdis. Peta dunia, negara-negara dan pemerintahan-pemerintahan akan berubah, dan orang-orang juga akan berubah, hingga Muharram. Saya menunggu tampilnya suatu kekuatan yang dahsyat, yang akan menghancurkan kufr dan zhulm.

Siapa yang memohon untuk melakukan kebaikan, mesti menggunakan “Bismillaahir rahmaanir rahiim”, sebagai individu pribadi, dan secara bersama, sebagai suatu bangsa. Jika tidak, kalian tidak akan mampu berbuat apa pun. Semoga Allah mengkaruniakan kita akhir yang baik. Kita mengucapkan Basmalah dan percaya kepada Allah. Namrud pernah bertanya pada Nabi Ibrahim u, “Di manakah bala tentara Tuhanmu?” “Tunggu saja, mereka tengah datang”, jawab Ibrahim u, dan suatu awan hitam besar yang penuh dengan nyamuk mendekat, dan mereka menghabiskan seluruh pasukan Namrud. Itu adalah kehendak Allah. Dan kemudian ada pula petir yang datang dari langit, mendatangi orang-orang… Datang, tetapi telinga tak dapat mendengar apa-apa, dan orang-orang berjatuhan mati…

Semoga Allah menyelamatkan kita dari api neraka. Ya Muhauli hauli wa-l ahwal, hauli haalina ilaa ahsani haal! Fatihah

posted by Mevlana as Sufi at 7:25 PM 0 comments

Makna Syahadat
Maulana Sulthanul Awliya’ Syaikh Muhammad Nazhim ‘Adil al-Haqqani
Kamis, 6 Desember 2001, Lefke, Siprus Turki


Makna dari syahadat adalah, “Ya Rabbi, wahai Tuhanku, Aku meninggalkan Setan dan mereka yang besertanya di belakangku dan Aku palingkan wajahku kepada-Mu.” Wajah berarti keberadaan seluruhnya dari seseorang dengan ketulusan dan tanpa kemunafikan atau syirik, tanpa mengatributkan apa pun kepada-Nya, Pencipta langit dan bumi, Yang Ada sebelum apa pun yang Dia ciptakan. Segala sesuatu dalam mulk-Nya (kerajaan-Nya) dan malakut-Nya memiliki penciptaannya masing-masing, juga suatu tujuan, suatu hikmah, suatu rahasia masing-masing. Jika kalian menanam suatu bibit tertentu, hanya pohon tertentu yang akan tumbuh melalui rahasia tertentu yang terkandung dalam bibit tersebut. Dalam bibit zaitun (olive) terdapat rahasia pohon zaitun.

Lihatlah ‘Azhimat dari Allah! Bibit terkecil pun memiliki fitrah-nya sendiri, kejadiannya yang khusus (konstitusi privat, pengaturan alami). Dengan rahasianya yang tersendiri pula, atom-atom bergabung. Dan elektron-elektron juga mempunyai rahasianya yang lain. Segala sesuatu diciptakan sebagai suatu contoh dan bersifat unik, Allah tidak menciptakan sesuatu yang sama, itu bukan atribut-Nya, tetapi segala sesuatu selalu bersifat baru, menurut fitrahnya yang lain dan berbeda. Siapakah yang menanam pohon-pohon liar di gunung-gunung? Siapakah yang menaruh binatang-binatang di sana? Allah menciptakan alam ini dari awalnya. Karena itu kita berkata, “Aku palingkan wajahku menuju Pencipta langit dan bumi, Allah”, dan kita berkata, “Subhanaka, Allaahumma, wa bi hamdika wa tabaraka ismuka”… Siapa yang mengucapkan syahadat, berarti mengatakan bahwa dia tidak menghadapkan wajahnya pada siapa pun selain Allah.

Pada hari ini, Jumat, Allah mengundang para penghuni Surga menuju ‘Hasinat-ul Quds’, suatu maqam di Kekuatan-Nya. Kata-kata ini tidak dapat diterjemahkan… Setelah bahasa Arab, bahasa Persia adalah bahasa yang paling kaya dan paling berharga yang biasa dipelajari orang-orang dulu. Siapa yang dapat membaca dan mengerti haruslah mempelajari kedua bahasa ini. Mereka adalah seperti dua sayap. Orang-orang berada pada dua level: beberapa adalah terpelajar, dan yang lain tidak terpelajar. Ada halk edebiyati dan adapula divan edebiyati--literatur umum dan literatur khusus. Darwis Yunus k adalah seseorang yang menceramahi orang umum kebanyakan. Dia pernah berbicara tentang kincir air. Dan dia memang seperti itu-- mengambil dan memberikan kepada orang-orang dari sumbernya, seperti seorang ibu yang terkadang mengunyah terlebih dahulu makanan untuk membuatnya mudah dimakan oleh sang bayi, yang belum memiliki gigi. Dengan cara seperti ini pulalah, sang bayi mendapatkan sebagian rahasia sang ibu pula. (Saat ini, para ibu tidak lagi melakukan hal ini, dan anak-anak tumbuh dewasa sebagai orang-orang yang liar berangasan…) Yunus k dan Awliya lainnya terinspirasi oleh Haqq.

Orang-orang tidak tahu lagi perbedaan antara kepala dan kaki. Dan tidak setiap orang akan menjadi kepala. Jika seandainya semua menjadi kepala, tetap akan ada perbedaan, karena beberapa kepala adalah kosong… Tak ada seorang pun yang seperti orang lainnya. Ada yang terpelajar dan tidak terpelajar, guru dan murid, orang berilmu dan orang lalai. Kalian tak dapat mencampur segala sesuatunya. Pada susu terdapat krim dan air, tidak semuanya adalah krim. Tanpa susu, tidak ada krim, tetapi krim akan terapung di bagian atas. Itu adalah sebuah pelajaran. Rasulullah diutus kepada suatu ummat yang lalai. Saat ini, ilmu pengetahuan telah ada dan maju, dan mereka berpikir bahwa mereka adalah orang-orang yang demikian terpelajar, tetapi mereka tidak memahami makna dari ilmu atau pengetahuan itu. Siapa yang mengucapkan syahadat berarti mengucapkan bahwa dia akan menghadapkan wajahnya kepada Allah, dan bahwa dia tidak menghadapkan wajahnya pada selain-Nya setelah itu.

Jadi, pada setiap Jumat ada undangan Tuhan untuk hamba-hamba Allah. Para malaikat mengumumkan, “Dia adalah Malik-ul Mulk, Allah dzal Jalaal mengundang hamba-hamba-Nya untuk menuju Dar-ul Salam.” Jika kita ingin berbicara tentang peristiwa ini, kita membutuhkan waktu satu minggu untuk melukiskan Kesultanan-Nya dan keindahan-keindahan di dalamnya…. Dan setiap undangan memiliki tajalli yang lain dan keindahan yang berbeda pula ragam dan macamnya. Setiap orang diterima berdasarkan tingkatan dan maqamnya. Saya pernah diundang oleh beberapa Sultan, dan pada meja-meja mereka pada setiap kursi tertulis sebuah nama. Orang-orang duduk berdasarkan tingkat dan pangkat mereka, dan seperti ini pula undangan Tuhan. Kemudian Allah akan menyediakan makanan dan pakaian… Kemudian Allah menunjukkan kesempurnaan-Nya kepada orang-orang beriman yang wajahnya bersinar seperti matahari-matahari ketika mereka melihat kepada-Nya. Untuk beberapa orang, hanya sejumput cahaya yang dibukakan baginya, karena mereka akan terbakar jika dibukakan seluruhnya. Mereka hanya meraih tingkat tertentu saja semasa hidupnya di muka bumi dan mereka tidak mampu membawa lebih banyak cahaya. Jika mereka diberi lebih banyak lagi, ‘sekring’ (fuse) mereka akan terbakar… Ketika Jamaal dan Jalaal, keindahan dan kesempurnaan Allah dibukakan pada hamba-hamba, mereka tak akan mampu memalingkan lagi wajah mereka…

Jadi, makna dari syahadat adalah untuk menghadapkan wajah seseorang pada Allah, dan untuk membuat jarak dari Setan--untuk memotong ikatan yang mengikat seseorang dengan Setan, sehingga Setan tak mampu mendekat lagi. Itulah makna syahadat. Mengucapkan A'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim, mengingatkan diri kita akan makna ini, sehingga Setan tidak lagi menyimpan harapan terhadap kita. Ketika dia mencoba mendekat, mengucapkan A'uudzu… memisahkan kita darinya. Siapa yang dapat mengucapkan ini selama 40 hari, Setan akan melepaskan diri darinya dan Setan akan mengatakan pada pengikut-pengikutnya untuk tidak mendekati kalian lagi, karena tidak ada lagi harapan bahwa mereka akan mampu mempengaruhi kalian lagi. Setelah itu, Setan akan datang setiap 40 hari lagi untuk memeriksa apakah dia (Setan) dapat melakukan sesuatu lagi atau tidak (untuk menggoda kalian). Dan jika kalian berkata, “Kau ada lagi? A'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim!” Dia akan melarikan diri… Mengucapkan syahadat berarti mengakui ketuhanan Allah dan kehambaan diri kita, untuk mengakui Dia sendiri saja, untuk hidup bagi-Nya dan untuk bekerja bagi-Nya… Seseorang tak akan dapat memuaskan egonya dan menjadi hamba Allah pada waktu yang bersamaan…

Turunkan hujan, ya Allah, dan buatlah hati orang-orang menjadi lunak… Oh Allah, siapakanlah hati kami untuk pertemuan dengan Sayyidina Mahdi u. Kirimkan beliau dan pasukannya itu saja cukup! Semoga kesultanan Setan terhancurkan dan Sayyidina Mahdi as datang. Fatihah

posted by Mevlana as Sufi at 7:25 PM 0 comments

Bersyukur Sebagai Manusia
Maulana Sulthanul Awliya’ Syaikh Muhammad Nazhim ‘Adil al-Haqqani
Jumat, 14 Desember 2001
Khutbah Jumat di Guzelyurt, Siprus Turki


Alhamdulillah wa syukrulillah, terima kasih tak terhingga bagi-Nya, yang telah menciptakan kita sebagai keturunan Adam as, ummat Ibrahim as dan ummat Muhammad saw. Dia telah mengkaruniakan kita rahmat dan nikmat ini. Setiap makhluk ciptaan-Nya memiliki nilai masing-masing; mulai dari benih atau partikel terkecil hingga galaksi bintang-bintang yang terbesar, semua senang dan bahagia atas terciptanya diri mereka masing-masing, dan mereka bertasbih kepada-Nya atas nikmat itu. Hanya manusia, yang untuknyalah segala sesuatu itu diciptakan, enggan untuk memuji Penciptanya. Padahal dia-lah yang semestinya pertama-tama harus berterima kasih dan bersyukur. Tetapi, orang-orang kini sudah tidak lagi mempunyai citarasa spiritualitas pada diri mereka. Yang mereka lakukan hanya makan, minum, dan melakukan kesenangan-kesenangan duniawi yang semu. Tetapi, mulai saat ini, hari demi hari mereka akan kehilangan citarasa atas ‘kesenangan-kesenangan’ mereka

posted by Mevlana as Sufi at 7:25 PM 0 comments

Kehormatan Manusia sebagai Hamba Allah swt
Maulana Sulthanul Awliya’ Syaikh Muhammad Nazhim ‘Adil al-Haqqani
Sabtu, 17 November 2001, Lefke, Siprus Turki

Kita bukanlah kaum ekstrim atau orang-orang yang fanatik, Tetapi jalan kita adalah jalan pertengahan, tidak melenceng ke kanan maupun ke kiri. Berjalanlah lurus. Siapa yang pergi ke satu sisi saja, tidaklah sempurna. Ada kepala, dan ada kaki, tidak setiap orang akan menjadi kepala. Tetapi, tanpa kaki, kepala pun tidak bisa berjalan. Allah telah menciptakan segala sesuatu dengan sempurna, Kalian harus melihat dan memahaminya. Tetapi, manusia ingin melakukan semaunya di muka bumi ini, seperti Fir’aun dan Namrud. Mereka tidak ingin menghormati Allah. Di abad 18 dan 19, manusia terjatuh ke dalam lautan fasad (kerusakan) dan kekotoran. Dimulai di Perancis dengan revolusinya, lalu menyebar ke seluruh Eropa dan dari sana datang kepada kita. Air kotor mengalir dan karenanya, dunia saat ini seperti yang tampak pada saat ini. Saluran-saluran telah rusak di sana-sini, sehingga tak bisa diperbaiki lagi, dan tak seorang pun yang dapat menyelamatkan dirinya dari air kotor ini. Dan demokrasi adalah suatu penipuan.

Melihat diri sendiri lebih baik dari orang lain adalah haram, bathil. Tak ada suatu kaum atau bangsa yang lebih baik dari lainnya. Semua diciptakan oleh Allah. Di hadapan-Nya, orang yang menghormati dan mencintai-Nya paling dalamlah yang paling diterima oleh-Nya... Tidak pantas untuk memanggil diri sendiri Muslim--sudahkah kalian menjadi Muslim yang sejati? Sudahkah kalian berserah diri kepada Allah dan mengorbankan ego kalian seperti Nabi Ibrahim as yang siap untuk mengorbankan anaknya, yang dia cintai melebihi apa pun? Bulan ini telah dimulai dengan kekuatan yang hebat. Dan segala sesuatu yang terjadi dapat kalian temui dalam al-Quran yang suci- karena setiap huruf dalam al-Quran adalah seperti suatu samudera makna. Untuk apakah ada kisah tentang Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as? Kita adalah dari generasi (dzurriyyat) Adam as, bangsa (millat) Ibrahim u, dan ummat Muhammad e. Tetapi mereka (orang-orang yang percaya bahwa kera adalah nenek moyang manusia) demikian bangga untuk datang dari kera. Mereka mungkin adalah keturunan kera--tetapi kita adalah anak Adam u dan dari bangsa Ibrahim u, dan ini adalah kehormatan bagi kita. Beliau adalah Khalilullah, sahabat Allah , dan beliau siap untuk mengorbankan apa yang paling disayanginya, dan Ismail u pun siap untuk mengorbankan dirinya sendiri, Canim feda olsun, sagte er. Allah tidak ingin kita menjadi budak dari ego kita sendiri, tetapi untuk mengabdi kepada-Nya. Kalian dapat melakukannya? Untuk apa orang saat ini hidup? Mereka hidup untuk memuaskan ego mereka sendiri--baik orang-orang penting maupun orang-orang biasa. Begitu banyak batu-batu biasa--di manakah batu permata berada?

Imam Rabbani (Syaikh Ahmad al-Faruqi as-Sirhindi k), seorang Syaikh besar Naqsybandi, pernah berkata, “Kehebatan adalah bagi orang yang menyelamatkan dirinya dari perbudakan egonya.” Untuk apa kita berpuasa? Puasa adalah penyembahan, pengabdian, dan sarana terbaik untuk menyelamatkan orang dari perbudakan syahwat mereka. Semua Nabi menggunakan puasa dan mengajari ummat mereka untuk berpuasa. Balasan dari Allah untuk puasa adalah tak terbatas, karena puasa mengubah kalian dari hamba ego menjadi hamba Allah. Jadi jangan mengatakan “Aku hebat!” Allah sendirilah yang hebat, dan Dia memberikan keagungan bagi mereka yang bisa melarikan diri dari egonya. Dan kita membuka dan menutup mata kita untuk melayani ego kita. Manusia abad 21 adalah hamba-hamba ego mereka, dan Setan adalah guru pertama mereka.

Setiap orang ingin belajar. Tak ada lagi orang yang ingin mempelajari ketrampilan, tak ada lagi yang ingin menjadi penggembala, peternak, atau petani. Tak ada yang menghormati mereka lagi, setiap orang ingin menjadi orang besar dan orang penting. Tetapi, ada kepala dan ada kaki. Di Rusia, mereka telah mencoba, dan mengatakan bahwa mereka semua sama, dan semua mesti memerintah. Mereka membunuh Tsar dan menempatkan diri mereka sendiri dalam istana. Stalin membunuh 80 juta orang dan membersihkan Asia Tengah dari Muslim. Tak setiap orang akan memerintah, karena siapa lalu yang akan mereka perintah? Pohon-pohon? Keledai? Anjing-anjing? Mereka tidak butuh pemerintah. Tetapi egomania, yaitu ilusi untuk menjadi penting dan hebat, adalah perbudakan pada ego. Padahal mungkin sudah tidak ada lagi manusia hebat yang sejati.

Di masa lampau, manusia bekerja dengan cahaya iman. Tetapi, manusia sekarang berada dalam kegelapan dan tidak mampu melihat lagi, ke mana mereka pergi atau melangkah. Tak ada lagi yang melihat. Pikiran dan karsa manusia telah turun hingga ke tingkat nol, dan Setan telah membuat manusia hina dalam penyembahan kepada ego mereka. Siapa kemudian yang hidup untuk Allah? Bangsa Saudi? Bangsa Turki? Bangsa Mesir? Pakistan? Manusia adalah hamba dari Tuhannya. Bulan ini telah mulai dengan Azhimat, berjagalah! Pintu penyembahan adalah puasa, perang terhadap ego, yang selalu ingin berbuat semaunya. Katakanlah kepada ego kalian, “Tidak, Aku tidak mau menjadi pelayanmu lagi, Aku berpaling kepada Allah , Aku tidak akan mendengarmu lagi!” Siapa yang berkata demikian akan terselamatkan, dan yang lainnya akan pergi. Setiap pagi, Saya makan sahur dan memohon pertolongan untuk berpuasa. Jika Allah memberikan bantuan-Nya, dengan satu telan, Saya dapat berpuasa 40 hari. Ya Allah , masukkan kami dalam Tajalli Lutf-Mu (rahmat, karunia ketuhanan, dan nikmat), bukan azab-Mu (murka Tuhan). Fatihah

posted by Mevlana as Sufi at 7:25 PM 0 comments

Berlarilah menuju Allah , bukannya Ilusi Dunia
Maulana Sulthanul Awliya’ Syaikh Muhammad Nazhim ‘Adil al-Haqqani
Berlarilah menuju Allah , bukannya Ilusi Dunia
Rabu, 28 November 2001, Lefke, Siprus Turki

Hari-hari berlalu demikian cepat dan kita tengah mendekati suatu jembatan... Untuk siapakah kita hidup? Kita memulai dengan ucapan bismillaahir rahmaanir rahiim dan percaya kepada Allah . Setiap hari adalah suatu jalan dan kita tidak berhenti. Setiap orang berlari menuju sesuatu, berusaha untuk mencapainya. Setiap orang memiliki ilusi, mimpi, suatu ideal atau tujuan. Tetapi, beberapa orang berada dalam kedamaian, mereka seperti anak-anak, sejak pagi hingga malam bermain, tak pernah khawatir atau berpikir tentang hari esok. Dan jika kalian tidak menjadi seperti seorang anak lagi, kalian tidak akan menemukan kedamaian. Tetapi setiap orang khawatir akan sesuatu, dan Setan membuat setiap orang sibuk. Dia memegang suatu gambar di depan kita, dan kalian berlari mengejarnya. Di malam hari, ketika kalian pulang ke rumah dalam keadaan lelah, kalian tidak mencapai apa pun. Dan hal ini tidak ada akhirnya. Satu ilusi diikuti dengan ilusi berikutnya. Hal ini terhubungkan dengan ego. Setan menangkap kita dengan keinginan-keinginan ego dan memperalat kita. Dia mengatakan kepada kita bahwa inilah tujuan kita dan jika kalian mencapainya, kalian akan berada dalam kedamaian. Tidak pernah! Apa pun yang kalian raih, selalu ada tujuan berikutnya.

Dan manusia yang telah diberi kehormatan oleh Allah, melayani ego-nya yang hina, makhluk yang paling terhormat membiarkan dirinya tertipu dan berlari mengejar ilusi. Kalian harus berlari menuju Allah, bukannya menuju dunia, karena kalian tak akan pernah menangkapnya. Tetapi, barangsiapa yang berlari menuju Allah, dunia akan berlari mengejarnya dan dia tidak akan kehilangan apa pun. Manusia diciptakan untuk melayani Haqq, Allah, dan Allah menciptakan dunia untuk melayani manusia. Tetapi mereka berkata bahwa tujuan kita adalah dunia dan untuk memuaskan ego. Seperti inilah mereka menipu kita. Dan kita membuat rencana untuk hidup kita, kita ingin maju, selalu bertambah, dan tak ada yang berkata bahwa ada kematian, bahwa kita akan mati. Rumi berkata tentang hal ini, “Setiap orang berlari menuju suatu ilusi dan tak ada dua orang yang memiliki ilusi yang sama dalam hati mereka.” Seperti inilah, tak ada yang memiliki nilai. Tetapi, kita seharusnya menemukan Haqq dan mendapatkan nilai melaluinya. Tanpa mencapai Dia, kalian tidak akan mempunyai nilai apa pun. Dan begitu banyak yang mati tanpa memiliki nilai apa pun. Mereka berada dalam kebathilan dan sirna. Tetapi dalam Hadirat Tuhan tidak ada kebathilan. Para Nabi datang untuk menyelamatkan orang-orang dari kebathilan dan membawa mereka menuju Allah , untuk memisahkan mereka dari ego mereka. Dan barangsiapa yang melayani egonya akan selalu menentang para Nabi karena mereka tidak ingin meninggalkan pelayanan mereka kepada ego mereka.

Karena itulah Wahhabi menentang para Wali, yang telah mencapai Allah. Mereka merusak makam-makam para Wali dan menginginkan orang-orang melupakan hal ihwal para Wali. Dan begitu banyak Muslim yang bodoh mengikuti mereka. Kalian harus menemukan orang yang telah mencapai Allah , jika tidak, bagaimana kalian ingin mencapai-Nya? Tetapi, mereka adalah mitra bagi Setan dan mereka ingin teman-teman mereka untuk dihormati, bukannya para Wali. Dan Allah memberitahukan dalam al- Quran yang suci tentang para Wali, “Mereka yang tidak bersedih dan tidak pula cemas” (“Laa Khaufun 'alayhim wa laa hum yahzanun”). “Bagi mereka kabar yang baik.” Untuk apakah Allah menurunkan ayat ini?

Jika Bin Laden adalah seorang Wali, tentu dia akan dapat mengalahkan Amerika tanpa senjata. Seorang Mutasarrif Shahib dapat menghabisi mereka dengan Jin-jinnya... Begitu banyak orang berguguran. Di manakah kekuatan kalian? Apakah kalian meminta pertolongan dari para Wali? Di Hijaz kalian hanya mencari emas dan berbisnis, kalian tidak bertanya tentang Wali, di mana mereka. Jika seandainya tidak ada para Wali, akankah Allah menurunkan ayat ini? Tetapi, mereka mengingkari segala sesuatu dalam Kitab Suci, maka segalanya menjadi musnah. Mereka memanggil orang lain untuk mencari pertolongan dalam masalah Bin Laden. Tanpa para Wali, segala sesuatu berada dalam kebingungan, dan kalian akan tersesat. “Para Sahabat bagaikan bintang-bintang,” sabda Nabi saw. Setelah mereka, siapakah yang akan menunjukkan jalan? Ada seseorang, tetapi mereka tidak meminta untuknya. Maka, mereka akan habis dengan ilusi-ilusinya--semua negara akan habis.

posted by Mevlana as Sufi at 7:25 PM 0 comments

Syukur
Maulana Sulthanul Awliya’ Syaikh Muhammad Nazhim ‘Adil al-Haqqani
Sabtu, 1 Desember 2001, Lefke, Siprus Turki

A'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim, Bismillaahir rahmaanir rahiim... Allaahumma ahsin aqibatana fi umurana kulliha... Semoga Allah mengkaruniakan kita akhir yang baik (husnul khatimah). Sayang sekali dan merupakan ketidakberuntungan jika kita mendapatkan akhir yang buruk (su'ul khatimah) setelah menjalani hidup yang baik. Orang-orang hidup dalam kenikmatan dan kemudian saat itu muncul kebangkitan yang buruk--maka apakah yang tertinggal dari kesenangan mereka sebelumnya?

Ya Allah , buatlah seluruh urusan kami berada dalam kebaikan, begitu pula dengan akhir kami, sehingga kami dapat meninggalkan dunia ini dalam kebahagiaan. Kita harus berdoa untuk itu. Kita mendapat ilham dari al-Quran yang Suci, Allah berfirman di situ, “…qalilan ma tasykurun” sedikit di antara mereka yang bersyukur. Dan Allah telah memberikan kepada kita segalanya--penglihatan dan pendengaran, suatu ruh dan sebuah hati untuk memahami, dan Dia tidak memberikannya kepada makhluk-makhluk lainnya. Sedemikian besar nikmat dan pemberian Allah , tetapi manusia selalu mengeluh dan tidak berterima kasih. Mereka tidak mengatakan, “Syukur, ya Rabbi!” “Wahai hamba-hamba-Ku,” Allah berkata, “kalian tidak bersyukur kepada-Ku kecuali sedikit di antara kalian. Sebagian besar dari kalian berbuat kufur dan tidak bersyukur, malah serakah. Apakah yang akan kalian lakukan seandainya Aku ciptakan kalian sebagai seekor serangga atau seekor keledai? Atau seekor tikus yang hidup di saluran pembuangan air? Tidakkah kalian bahagia telah diciptakan sebagai seorang manusia? Apa lagi yang kalian inginkan? Katakan, dan akan Ku-berikan untuk kalian.” Apa yang kalian lakukan jika kalian diciptakan dalam keadaan buta? Untuk indera penglihatan, kita berhutang terima kasih, syukur, siang dan malam kepada-Nya. Allah berkata, “Aku berikan kepada kalian jiwa dan hati serta segala sesuatu di dalamnya, apa lagi yang kalian inginkan?” Dan mereka membawa begitu banyak anak kepada Saya dengan lubang di jantungnya dan harus dilihat. Mengapa kalian tidak berterima kasih? Tetapi, orang-orang hanyalah manusia dari penglihatan luar, di dalam, mereka seperti binatang-binatang buas. Karena itulah seluruh bala’ (musibah) ini datang kepada mereka. Orang-orang mendustakan Allah , mereka tidak mau tahu tentang-Nya, mereka tidak menghormati perintah-perintah-Nya dan mempermainkan kenikmatan dari-Nya. Dan mereka pikir tidak ada yang mencatat semua yang mereka lakukan. Tunggu hingga Bayram, perayaan ‘Ied, tunggu hingga Natal dan Tahun Baru orang Kristen! Tahun depan seluruh malapetaka akan datang kepada orang-orang. Untuk apa mereka berperang? “Tidakkah telah Aku beri kalian segalanya? Apa yang tak ada?” Allah bertanya. Maka kalian akan mendidik satu sama lain, yang satu akan memerangi yang lain. Apa yang terjadi di Afghanistan hanyalah hal yang kecil setelah ini miliaran orang akan mati dalam badai yang akan datang… Itulah Murka Tuhan, dan Allah akan mengirimkan lapar dan dahaga kepada orang-orang. Ada ummat sebelumnya yang mencari daging di pekuburan untuk dimakan.

Rahmat dicurahkan dari langit bagi manusia, tetapi mereka malah mengirimkan tingkah laku buruk mereka sebagai rasa terima kasihnya. Mereka mencoba untuk mengubah orang-orang menuju jalan kufur, bukan menuju jalan syukur… Semoga Allah mengirimkan kita Shahibuz Zaman. Fatihah

posted by Mevlana as Sufi at 7:25 PM 0 comments

Jangan Ikuti Setan dan Wanita
Maulana Sulthanul Awliya’ Syaikh Muhammad Nazhim ‘Adil al-Haqqani
Jangan Ikuti Setan dan Wanita
Sabtu, 8 Desember 2001, Lefke, Siprus Turki


Ey rahmati bol Padischah… Wahai Engkau Sultan yang penuh dengan barakah…
Turunkanlah hujan! Kisah tentang semut dan Nabi Sulaiman u. Ketika Nabi Sulaiman u melewati jalan yang dipakai semut, beliau mendengar semut yang mengeluh perihal tentara beliau, yang membunuh begitu banyak semut. Semut itu berkata, “Seandainya Aku memiliki kekuatan, akan kuhabisi anak Adam u.” Nabi Sulaiman u mendengar perkataan ini dan beliau tersenyum seraya memaafkannya atas perkataannya yang seperti itu. Semut itu berbicara dengan berani seperti itu karena dia sedang bersama istrinya dan dia ingin pamer dan unjuk kekuatan. Dan sang istri semut menyukai hal ini.

Semoga Allah menjauhkan Setan dari kita! A'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim… Kalimat ini adalah senjata yang amat kuat untuk membombardir Setan. Setan selalu berusaha melindungi dirinya dari serangan semacam kalimat A'uudzu… (taawudz). Hanya saja, dia tidak menyerah. Setan berkata, “Mungkin saja ini cuma gurauan. Mari kita coba lagi. Saat ini dia tengah bersama istrinya, coba kita goda istrinya untuk berbuat fasad.” Ketika kalian bersama istri kalian, kalian lemah dan mudah untuk ditipu. Adam u tidak tertipu pada mulanya. Tetapi karena Hawa, yang datang menggoda, beliau mendengar padanya sesaat dan kemudian memakan sepotong kecil dari buah apel larangan… Jangan “mendengarkan” istri kalian di rumah, pada keluhan-keluhannya, keinginan dan kemauannya yang tak pernah habis. Jika kalian mendengar dan menurutinya, kalian masuk dalam bahaya. Semua masalah datang, karena laki-laki mendengar dan menuruti istri-istri mereka… Setan tidaklah lebih kuat daripada kita, Tetapi karena ego kitalah, kita menjadi lemah. Dan Setan berusaha membawa manusia jauh dari iman, ketulusan dan kelurusan, dan dari berbuat kebaikan. Dia berusaha untuk menjauhkan kita dari beramal baik yang akan membawa kita dekat kepada Allah I.

Negara kita telah turun sampai nol dan Setan demikian senang…. Semua Hoca telah memakai tanda kufur saat ini--cravatte, dan mereka tidak lagi diizinkan untuk memelihara jenggot, hingga mereka terlihat seperti wanita. Bahkan di Eropa pun para pendeta tidak m